Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Kepada sahabatku, Ur Enki, yang jiwa dan raganya mungkin terpisah oleh jarak, namun tak pernah benar-benar jauh dari ingatanku,
Di tepian sungai Eufrat yang airnya berkilauan oleh mentari Mesopotamia, kita pernah berjanji di bawah langit yang tak bertepi, bahwa persahabatan kita akan tetap abadi, melebihi nama, melebihi darah, melebihi waktu itu sendiri. Aku menulis surat di atas tablet ini bukan hanya dengan stilus pipih dan segitiga dari buluh, tetapi dengan seluruh rasa rindu yang telah mengendap dalam dadaku, bagai debu yang menutupi patung-patung Dewa Enlil, Anu, dan Ishtar yang sepi.
Sudah terlalu lama kita terpisah. Sejak kepergian ayah dan ibumu—semoga arwah mereka beristirahat dalam damai—engkau memilih untuk menyendiri, mengurung diri dalam kesunyian, seakan-akan engkau merasa bahwa dunia ini tak lagi layak untuk dihirup. Aku memahami kesedihanmu, sahabat, karena bagiku juga, kepergian mereka adalah luka yang dalam. Mereka bagaikan orang tuaku sendiri. Namun, apakah engkau lupa, bahwa engkau masih memilikiku? Bahwa persahabatan kita adalah jembatan yang tak mungkin runtuh oleh badai duka sekalipun?
Ayahku, yang tak pernah berhenti menanyakan kabarmu, akan mengadakan pesta persembahan untuk para dewa di Zigurat Esgal-Ilu—dewa-dewa yang telah memberikan kemakmuran pada tanah Mesopotamia ini. Dewa-dewa yang telah mengikatkan benang persaudaraan pada jiwa kita. Pesta ini bukan sekadar perayaan biasa. Ini adalah malam di mana semua orang berkumpul: bangsawan, pemuka agama, para ksatria, dan juga rakyat biasa. Imam tertinggi kota ini, Nasaru Balet-ili, yang akan memimpin persembahan didampingi dengan para imam yang agung. Lampu-lampu minyak akan dinyalakan, dupa akan dibakar, dan nyanyian pujian akan dikumandangkan diiringi petikan kecapi yang menggetarkan dinding langit. Aku ingin engkau hadir di sana, Ur Enki. Aku ingin engkau kembali ke dunia yang pernah kita jelajahi bersama. Aku ingin melihat senyummu lagi, meskipun mungkin masih terselip duka di sudut matamu.
Tapi, ada satu hal lagi yang hendak kusampaikan—sesuatu yang membuat jantungku berdebar-debar karenanya. Ayahku—kata tahu dia—telah mengajakku berbicara tentang lirikan dan tatapan mata. Rupa-rupanya, ia selama ini mengamatiku, tepatnya mengamati setiap tatapan dan lirikan mata-mata gadis Rawa Edin kepadaku. Kau jangan tertawa, Ur Enki, sebab memang demikian adanya. Kata Enlil Bazi yang agung—ada seorang gadis yang cahayanya bagai mentari pagi yang menyinari kegelapan malam. Ia adalah putri dari keluarga bangsawan yang terhormat. Matanya bagaikan dua bintang yang jatuh dari langit, suaranya seperti alunan sungai Tigris yang menenangkan, dan senyumnya—ah, senyumnya mampu meluluhkan bukit dan bahtera lelaki tua gila.
Menurutnya, aku akan jatuh cinta padanya, sahabat, meski tanpa ku tahu siapa gadis itu adanya. Dan pada malam pesta nanti, ayah akan mengumumkan gadis itu sebagai pendamping hidupku.
Aku tahu, mungkin engkau akan tertawa. Namtar Sin, yang percaya diri dan tak mudah goyah, sekarang gemetar hanya karena memikirkan seorang gadis yang dipilih ayahnya. Aku tahu nama-nama gadis-gadis kota, dari kalangan bangsawan maupun pengusaha kaya. Gadis itu, pastilah satu di antara mereka. Ah, aku menjadi bertanya-tanya. Sejak mengetahui hal itu, Ur Enki, sepertinya aku mulai jatuh cinta. Dan cinta, sahabat—cinta adalah kekuatan yang tak bisa dilawan. Ia datang bagai angin yang tak bisa dilihat, tetapi dirasakan; seperti aroma bunga yang tak bisa dipegang, tetapi memabukkan.
Aku telah menyiapkan segalanya untuk malam nanti. Aku akan memakai jubah terbaikku, dengan hiasan emas dan perak. Maka kau harus datang. Harus menjadi saksi atas anugerah yang dilimpahkan ayah kepadaku. Jangan menolak undanganku ini, Ur Enki. Datanglah. Biarkan kita kembali seperti dulu, bahkan jika hanya untuk satu malam. Biarkan persahabatan kita kembali bersinar, dan biarkan cinta yang baru saja lahir dalam hatiku mendapat restu dari orang yang paling kuhormati.
Aku akan menunggumu di gerbang utara, tepat saat matahari mulai terbenam dan langit berwarna jingga. Jangan buat aku menunggu terlalu lama.
Selamanya sahabatmu,
Namtar Sin
***
Surat Innana pada Ur Enki
Kepada yang hadir dalam hening,
Yang hadir dalam lamunan di antara gemercik air kanal dan desir angin sore,
Yang wajahnya terukir selalu dalam ingatanku.
Ur Enki, adakah engkau masih mengingat senja di bawah gerbang air Ishtar?
Aku menggurat tulisan ini dengan hati yang berdebar-debar, seakan setiap huruf yang kuukir adalah rahasia yang seharusnya tetap tersimpan di balik dinding diam. Namun, ada sesuatu yang mendorong jari-jariku untuk bergerak, menyusun kata-kata yang mungkin tak pantas diucapkan, tetapi terlalu berat untuk dipendam sendiri.
Sudah lama kita tidak bertemu. Entah mengapa, engkau seakan menjauh dari pusat keramaian kota, memilih tinggal di pinggiran Rawa Edin yang sunyi, di mana suara air dan angin lebih nyaring daripada suara manusia. Entah mengapa, seakan engkau menjauhi semuanya, khususnya menjauhiku. Aku bertanya-tanya—apakah engkau baik-baik saja di sana? Apakah engkau masih sesekali memandang ke arah kota ini, ke arah kehidupan yang engkau tinggalkan?
Ke arahku?
Aku tidak berani mengatakan bahwa aku merindukanmu. Itu kata yang terlalu besar, terlalu berani untuk diucapkan oleh seorang gadis sepertiku. Tapi kadang, dalam kesendirian, aku teringat pada senja pertama di gerbang itu—saat engkau sedang duduk sendiri, memandang lautan. Aku mendekat. Aku menyapamu. Engkau seperti acuh tak acuh, namun dari situ dunia gelapku tiba-tiba terang.
Kini, ada sesuatu yang hendak kusampaikan. Keluargaku mendapat undangan untuk menghadiri pesta persembahan yang diadakan oleh keluarga Namtar Sin. Ayah dan ibuku bersikukuh bahwa ini adalah acara penting yang harus kami hadiri. Tapi, jujur saja, aku tidak begitu tertarik pada pesta-pesta semacam itu. Gemerlap lampu, bunyi genderang, dan nyanyian pujian bagi dewa-dewa—semua itu terasa begitu jauh dari jiwaku. Aku lebih suka diam di rumah, membaca puisi, atau sekadar memandang bintang-bintang dari balkon kamarku. Dan…aku lebih suka mengingat-ingat namamu….
Aku lebih suka mengingatmu.
Aku lebih suka hanyut dalam telaga kerinduan…kepadamu.
Tapi… ada satu hal yang membuatku berpikir. Katanya, pesta ini akan dihadiri oleh banyak orang—termasuk mungkin, oleh mereka yang sudah lama tidak terlihat. Aku pun bertanya-tanya dalam hati: apakah engkau juga diundang? Apakah engkau akan datang?
Aku tidak berharap banyak. Ini hanya pertanyaan yang hinggap di pikiran, lalu mengusik tidurku. Tapi andai kata engkau datang—aku akan memiliki alasan untuk hadir juga. Bukan untuk pesta itu, bukan untuk dewa-dewa, bukan untuk siapa pun—hanya untuk bisa memastikan bahwa engkau baik-baik saja, bahwa senyummu masih seperti yang kuingat, bahwa cahaya di matamu belum padam.
Jika engkau tidak datang—maka aku pun mungkin akan memilih untuk tetap di sini. Di kamarku, dengan lamunan dan pertanyaan yang masih menggantung.
Aku tahu surat ini mungkin mengganggu. Aku tahu ini tidak lazim. Tapi tolong, jangan anggap aku lancang. Aku hanya seorang gadis yang sedang mencoba memahami perasaan yang diborgol tali kerinduan.
Balaslah surat ini jika engkau mau—tapi jika tidak, biarkanlah ia menjadi rahasia antara aku, angin, dan waktu.
Dengan segala ketidakpastian,
Innana Eki
***