Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Ya Ilahi,
Pemilik seluruh rahasia langit dan bumi, Penguasa waktu yang tak terukur, Penyimpan misteri yang tak terjamah. Di hadapan-Mu, aku hanyalah debu yang bergetar, sebutir pasir yang tersesat di gurun ketidaktahuan, setetes embun yang menguap di tengah teriknya kehampaan.
Kebodohan adalah jubah yang menyelubungi jiwaku, menutupi mata hatiku dari cahaya-Mu yang abadi. Ia menyakitiku bagai bisa ular yang meracuni relung-relung kalbu, melahirkan rintihan, lalu rintihan itu berubah menjadi gugatan yang mengguncang keyakinan.
Aku merintih dalam keraguan kepada-Mu; aku menggugat kebesaran-Mu di saat lidahku membeku oleh terik siang, namun larut dalam umpat di kelamnya malam. Wahai Dzat yang mencintai jiwa-jiwa terluka dan pedih, siramilah dengan kasih-Mu kembang jiwaku yang layu ini, agar dari tanah hatiku yang gersang, tumbuh kembali mawar keyakinan yang bersemi, menatap wajah-Mu yang menakjubkan.
Engkaulah sumber segala pengetahuan. Bumi hanyalah bejana tempat segala yang hidup dan mati, yang bergerak dan diam, yang nyata dan tersembunyi, berputar dalam tasbih tak henti kepada-Mu. Tanah yang retak oleh terik matahari pun merintih kerinduan, sebagaimana telaga yang memantulkan cahaya rembulan—keduanya bersujud pada-Mu. Adakah rahasia hidup yang luput dari pengetahuan-Mu?
Tidak.
Tidaklah mungkin.
Segala sesuatu terjadi atas kehendak-Mu, dan kepada-Mu semuanya akan kembali.
Dalam hening malam ini, ya Ilahi, izinkan aku menyuarakan keraguanku sebelum keyakinan itu tiba. Sebab—sebagaimana kata para bijak—keraguan adalah anak tangga menuju pemahaman yang lebih dalam tentang-Mu.
Aku terpenjara dalam tabir ketidakpastian. Di tengah kegelisahan dan kesunyian hidupku, jiwaku terus dihantam gelombang tafsir dan pendapat tentang kebenaran-Mu. Aku melihat mereka yang menari dalam kejahilan, menyangka itu adalah kebenaran. Aku mendengar rintihan mereka yang pura-pura pedih di depan umum, tetapi tertawa lebar dalam kesendirian.
Dusta dan kemunafikan telah bersekutu, dipeluk oleh nafsu, keserakahan, dan keangkuhan. Dan mungkin—hanya azab pedihlah yang sanggup menghentikan persekongkolan jahat ini. Seperti di masa purba, ketika peradaban mencapai puncak gemilang, istana-istana menjulang, mahkota emas berkilau, tetapi dibangun di atas pondasi nafsu, dusta, dan kezaliman. Lalu Engkau gulung peradaban itu hingga musnah. Lalu Kau bangkitkan lagi kehidupan baru. Demikianlah roda zaman berputar: mencapai puncak, lalu dihancurkan.
Aku telah membaca lembaran-lembaran kisah tentang tragedi dan kepedihan, air mata dan darah, kehidupan dan kematian. Salah satunya: kisah Bahtera Nuh dan banjir besar yang menghancurkan. Dalam renungan dan keheningan jiwaku, aku yakin bahwa tragedi itu benar adanya—meski diceritakan dengan cara yang tak sama. Lidah bangsa seperti lidah orang-orang yang mencecap manisnya batang tebu dengan tingkat rasa yang berbeda-beda.
Aku membayangkan Nuh—lelaki tua yang teguh, yang matanya memancarkan ketabahan sekaligus kepedihan. Aku membayangkan bahteranya—kapal raksasa yang dibangun di atas bukit—mungkin pula di dataran gersang atau di tengah padang pasir, di tengah cemooh dan tertawaan kaumnya.
Aku membayangkan seruannya yang ditertawakan, ejekan, lemparan batu, dan roti busuk. Wahai Tuhanku, jiwaku mendadak terbang melintasi dimensi ruang dan waktu. Sebuah pertanyaan mengusik: Adakah di antara kaum itu yang sebenarnya mendengar panggilan suci, namun terlambat untuk masuk ke dalam perahu? Aku takut membayangkannya. Dan ketakutan itu sempat membungkam jari-jariku untuk merangkai kata.
Tetapi malam ini, ketakutan itu telah pergi. Keraguan telah tercabut dari relung hatiku. Engkau telah membuka kembali kantong kesturi kata-kataku, dan kuharap aroma kisah ini menyebar ke seluruh penjuru, dari timur ke barat, utara ke selatan, sebagai wasilah untuk semakin mencintai dan meyakini-Mu.
***
Di tanah Mesopotamia, di antara dua sungai besar yang menghidupi peradaban, terbentang sebuah kota: Rawa Edin. Kota ini dibangun di atas rawa-rawa yang subur, dihubungkan oleh kanal-kanal yang berliku laksana ular perak, dipagari oleh hutan rimbun pohon kurma dan willow, juga bibir pelabuhan. Rumah-rumahnya didirikan di atas tiang kayu cedar, atau juga kurma, dindingnya dari bata lumpur kering, atapnya dari alang-alang yang dianyam dengan cermat. Rumah-rumah berbatu-bata merah—sebagiannya bertingkat-tingkat dengan balkon dan jendela-jendela kotak—menjadi rumah para bangsawan dan orang-orang kaya.
Di siang hari, kota ini berdenyut dengan aktivitas: Para pedagang berteriak menawarkan barang, perahu-perahu papirus melintas membawa hasil bumi, wanita-wanita menenun kain di beranda rumah, sementara anak-anak berlarian di sepanjang dermaga kayu. Pelabuhan Lagash berdenyut tiap hari, tempat bertemunya perahu-perahu dari negeri sekitar. Sungai Purattu mengalir jernih, warna airnya berkilauan ketika malam dipeluk cahaya bulan.
Namun, di balik gemerlap kehidupan sehari-hari, Rawa Edin menyimpan kegelisahan yang dalam. Kota ini dipimpin oleh para bangsawan dan imam yang sombong, yang menyembah dewa-dewa palsu yang dibuat dari batu dan emas. Mereka sering mengadakan pesta persembahan yang megah, menghabiskan kekayaan untuk sesajen yang tak berguna, sementara rakyat kecil hidup dalam kemiskinan dan ketakutan.
Di tengah kota inilah, hidup seorang pemuda bernama Ur Enki. Dia adalah anak yatim piatu yang hidup sebagai pengrajin kayu. Ayahnya meninggal karena terhimpit perahu di malam bencana, sedang ibunya meninggal karena penyakit demam berdarah, meninggalkannya sendirian di gubuk kecil di tepi rawa.
Meskipun miskin, Ur Enki memiliki jiwa yang mulia. Dia jujur, rendah hati, dan selalu mencari kebenaran. Dia tidak percaya pada dewa-dewa palsu yang disembah oleh orang-orang di kotanya. Dia merasa ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih hakiki, yang layak untuk disembah.
Ur Enki tidak sendirian. Ia memiliki sahabat: Namtar Sin, putra bangsawan yang gagah, tampan, dan kaya raya. Mereka bersahabat sejak kecil, bermain bersama di tepian sungai, berlari-larian di antara pohon tamarisk, berbagi mimpi dan rahasia. Persahabatan mereka tumbuh bak pohon kurma di padang pasir—akar saling mengikat, dahan saling melindungi. Namun, betapa sering persahabatan tulus diuji oleh ujian paling purba: cinta.
Dan cinta itu hadir dalam wujud Innana Eti—putri bangsawan yang cantik jelita, bijaksana, dan penuh belas kasih. Dia seperti teratai yang mekar di tengah rawa, cantik, lembut, tetapi berakar dalam pada lumpur yang gelap. Sebagai putri bangsawan, dia dipersiapkan untuk menjadi permata kekuasaan, dijodohkan dengan pria pilihan.
Tetapi jiwanya merindukan sesuatu yang lebih dari gemerlap dunia. Dia mencari cahaya—cahaya yang dilihatnya memancar dari dalam diri Ur Enki, cahaya yang sama yang diserukan oleh lelaki tua di atas bukit.
Innana tidak mencintai Ur Enki karena kekayaan—sebab ia tak memilikinya. Ia mencintainya karena kemurnian jiwanya, ketulusan hatinya, keberaniannya untuk meragukan—dan dalam keraguan itu, justru menemukan keyakinan.
Cinta mereka lahir dari kesadaran, bukan nafsu; dari pengakuan kebenaran, bukan kepatuhan pada tradisi. Namun, cinta semacam ini jarang berjalan mulus. Pada suatu malam, di tengah pesta persembahan untuk dewa-dewa yang bisu, Enlil Bazi, ayah Namtar—dengan penuh percaya diri—memperkenalkan Innana sebagai gadis yang akan dipinang putranya. Ia tak tahu bahwa di balik senyum sahabatnya, tersimpan gejolak cinta yang sama. Ia tak dengar bisikan hati yang saling memanggil antara dua jiwa yang seharusnya bersatu.
Malam itu menjadi titik balik. Di bawah langit bertabur bintang yang diam, tiga hati berdetak dalam irama berbeda: Ur Enki, dengan cinta yang dibayangi keraguan dan kemiskinan; Innana, dengan jiwa terbelah antara kewajiban dan kerinduan; Namtar, dengan kebanggaan yang mulai tercabik oleh curiga. Datang pula seorang budak perempuan jelita, Lilitu, menambah runyam hati, dan makin mencabik-cabik suasana. Awalnya Lilitu diperdaya untuk mendekati Ur Enki, dan dengan keanggunan dan kecantikannya memperdaya Ur Enki, namun jiwa Lilitu berubah dengan kesejatian cinta yang tulus kepadanya.
Dan di atas segalanya, seperti bayangan yang mengawal langkah manusia, berdirilah lelaki tua di bukit—Nuh, sebagaimana ia dikenal dalam kitab-kitab suci—sedangkan penduduk Rawa Edin menyebutnya Ziusudra. Ia bukan sekadar pembuat bahtera; ia adalah simbol penolakan terhadap kemunafikan, suara yang melawan kebohongan yang telah mapan. Setiap pukulan palu pada kayu bahtera adalah detak jantung keyakinan yang tak tergoyahkan—keyakinan akan datangnya badai penyuci bumi.
Penduduk Rawa Edin menertawakannya. Melemparkan kata-kata hina dan roti busuk. Menganggapnya gila, lalu menganggap Ur Enki gila karena memilih berdiri di sisinya dan gila karena cinta. Tetapi, dalam diam, banyak dari mereka sebenarnya takut—sebab dalam hati, suara kecil berbisik:
Bisa jadi lelaki tua itu benar.
Dan benarlah cinta Ur Enki.
Maka dimulailah kisah ini—bukan hanya tentang empat manusia, tetapi tentang iman dan keraguan, kebenaran dan kebohongan, air mata dan darah, dunia fana dan langit abadi. Cinta Ur Enki dan Innana adalah cinta yang diterkam badai—badai prasangka, badai sosial, badai hati—dan akhirnya, badai air yang datang dari langit dan bumi, sebagai wujud penghakiman terakhir. Dalam tikaman badai, cinta mereka saling berpelukan.
Inilah kisah tentang bagaimana cinta bisa menyelamatkan, tetapi juga menghancurkan; tentang bagaimana persahabatan bisa menjadi pengampunan, tetapi juga bara dendam; tentang bagaimana manusia, dalam kelemahannya, justru menemukan kekuatan untuk berdiri di hadapan takdir.
Ini adalah kisah Ur Enki—kisah cinta yang ditikam badai, kisah jiwa yang mencari cahaya dalam kegelapan, kisah tentang sebuah kota di atas rawa yang harus menghadapi air yang menyapu segala dosa dan kesombongan.
Maka dengarkanlah…
Dengarkanlah bisik angin yang membawa rintihan,
Dengarkanlah debur air yang membawa cerita,
Dengarkanlah detak jantung yang masih bergetar dalam pusaran waktu—sebab inilah awal dari sebuah kisah abadi. Semoga kisah ini menjadi cermin, pelita, dan pengingat bagi siapa pun yang membacanya— bahwa cinta dan iman tak pernah benar-benar mati, meski diterpa badai sekalipun.
***