Tidak semua anak bungsu lahir sebagai kesayangan keluarga.
Sejak membuka mata untuk pertama kali, Rahim justru menjadi anak yang tak pernah diinginkan. Ketika empat kakaknya berangkat sekolah dengan seragam rapi dan bekal penuh, Rahim memikul cangkul yang lebih berat daripada tubuh kecilnya. Saat mereka menikmati kasih sayang orang tua, ia hanya mengenal bentakan, hinaan, dan piring-piring bekas yang bahkan tak selalu boleh disentuhnya.
Ia dilarang sekolah.
Ia tak pernah diajari mengaji.
Bahkan rasa lapar pun harus dipendam seorang diri di tengah ladang yang membakar kulitnya.
Namun Rahim tidak pernah membenci. Di balik wajah kecil yang lusuh, ia menyimpan hati yang begitu bersih. Ia tetap memanggil ayah dan ibunya dengan penuh hormat, tetap berharap suatu hari mereka akan memandangnya sebagai anak, bukan beban.
Di saat seluruh dunia seolah menolaknya, hanya seorang lelaki tua bernama Kiai Na'im yang melihat cahaya luar biasa dalam diri bocah itu. Dari tangan renta sang kiai, Rahim mulai mengenal kasih sayang, ilmu, dan makna kehidupan. Perlahan, takdir yang selama ini tampak kejam mulai membuka rahasia besar yang selama bertahun-tahun disembunyikan.
Mengapa Rahim begitu dibenci oleh keluarganya sendiri?
Dosa apakah yang sebenarnya sedang ditanggung kedua orang tuanya?
Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, mampukah sebuah keluarga menebus luka yang telah mengering menjadi takdir?
Anak Bungsu yang Tak Dianggap adalah roman keluarga yang mengiris hati tentang ketidakadilan, cinta orang tua, pengorbanan, dan kekuatan doa seorang anak yang tak pernah berhenti mencintai mereka yang telah melukainya.
Sebuah kisah yang akan membuat pembaca marah, menangis, lalu belajar memaafkan.
Karena terkadang, anak yang paling sedikit menerima cinta justru tumbuh menjadi manusia yang paling mampu mencintai.