Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Setelah Kiyai Na’im duduk sekian lama di atas batu itu, pikirannya mengembara menyaksikan kehidupan pasangan suami istri itu melalui alam batinnya, ia akhirnya berdiri, menuruni batu berukuran besar itu. Matahari semakin naik ke atas, dan sepertinya Kiyai Na’im tak tergerak untuk kembali ke sawah Bandi. Ia merasa sudah lama beristirahat, sementara para pekerja yang lain—termasuk pula Dlori ayah Rahim—sudah kembali membolak-balik tanah. Dirasakannya perutnya semakin perih, dan karena itu ia memilih untuk pulang ke rumah. Dibiarkannya cangkulnya masih berada di sawah milik Bandi. Nanti, ketika hari telah senja dan para pekerja telah kembali ke rumah, ia baru akan mengambil cangkulnya itu, lalu mampir ke rumah Bandi untuk meminta maaf atas hari ini.
Sembari pelan melangkahkan kaki, pikiran sang kiyai kembali melayang-layang, mencermati kehidupan pasangan suami istri itu, miburifati berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam kehidupan mereka.
Dan beginilah kisah selanjutnya.
***
Kasak-kusuk mulai terdengar di sana-sini, tentang Dlori dan istrinya juga anak-anaknya. Kali ini tidak lagi seputar hasil-hasil panennya dan buah segar nan ranum melon yang membuat iri sesiapa yang memandangnya. Memang harus diakui, untuk soal bekerja, bertani, menanam melon, dan memetik hasil, Dlori tak ada duanya. Haji Mukhtar yang tanahnya lebih luas saja tak mendapatkan hasil yang lebih banyak daripada jerih-payah Dlori. Tetapi bukan dalam hal ini kasak-kusuk itu terdengar. Kasak-kusuk mana berkaitan dengan kelahiran-kelahiran yang dialami Zulfin, istrinya.
Di Siwalan ini, hanya ada beberapa keluarga yang memiliki banyak anak. Misalnya Muh. Tohar. Anaknya lima. Dan sudah besar-besar. Bahkan, Muh. Tohar telah memiliki banyak cucu. Anak pertamanya, Umi, memiliki dua anak. Umi dan suaminya kini tinggal di Bali. Umi menjadi PNS, mengajar di sebuah SMA N di sana, sedang suaminya PNS di lingkungan Departemen Agama. Anak pertamanya, Dimas, kini sudah SMA. Anak keduanya, Layla, baru masuk TK.
Anak kedua Muh. Tohar juga perempuan. Namanya Ibti. Suaminya asli Banyuwangi. Sang suami adalah tukang kayu. Bengkel kerjanya adalah seluruh rumah dan halamannya. Setiap hari suaminya itu bekerja membuat berbagai perabot rumah seperti lemari, meja, kursi, dipan, dan lain sebagainya, dan hampir semuanya terbuat dari kayu jati. Ibti sendiri menjadi buruh di sebuah pabrik di Semarang. Setiap sabtu petang, suaminya menjemputnya. Dan setiap senin pagi setelah subuh, suaminya mengantarkannya.
Anak ketiga Muh. Tohar juga perempuan. Namanya Mahmudah. Suaminya orang Bolo. Sepertinya nasib kehidupan Mahmudah dan suaminya itu tak sebagus kedua kakaknya. Sang suami buruh kasar, khususnya jika dibandingkan dengan suami Ibti dan suami Ummi. Suaminya pernah bekerja menjadi kuli bangunan di Jakarta, menjual buah-buah di Pasar Palmerah, lalu beralih profesi sebagai penjual bakso dan mie ayam. Tetapi dia terkenal ulet. Dan Mahmudah bahagia. Mahmudah pun ikut membantu suaminya itu. Kini, ia dan suaminya dan kedua anaknya membuka usaha mie ayam di Bali, tak jauh dari tempat tinggal kakak pertamanya.
Anak keempat Muh. Tohar laki-laki—satu-satunya anak laki-laki (sebab anak bungsunya nanti perempuan, bernama Miratul). Namanya Aziz. Bagi Muh. Tohar dan istrinya, Aziz adalah kebanggaan melebihi permata. Memang, semua anaknya adalah kebanggaan, adalah permata. Tetapi ketiga kakaknya itu perempuan, dan dialah anak satu-satunya yang lelaki, yang akan menjadi pewaris kekayaan dan rumah orang tuanya, sebab ketiga kakaknya itu—secara adat yang berlaku—harus ikut suaminya masing-masing. Setelah dulu berhasil menguliahkan Umi hingga menjadi sarjana (sementara Ibti dan Mahmudah hanya tamatan SMA), Aziz pun disekolahkan hingga sampai bangku kuliah. Aziz pun menjadi sarjana. SAg, gelarnya. Sarjana Agama. O, hebatnya. Lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Salatiga. Dan akhirnya menjadi guru negeri di SMA swasta. Aziz baru saja jatuh cinta. Gadis itu, si lesung pipit berkulit hitam manis berambut panjang itu, begitu memikat hatinya. Melalui pertemuan singkat hati pun berpaut, dan cinta pun bersemi. Sungguh, betapa sederhananya cinta. Cinta yang suci. Nafsu tak melingkupi.
Anak kelima Muh. Tohar adalah Miratul tadi. Dia kini telah duduk di bangku SMA. Kelas satu. Sekolahnya itu adalah tempat sang kakak mengajar. Karena itu, Miratul selalu merasa lebih jika dibandingkan siswa-siswi yang lain. Setidak-tidaknya, sendainya saja ada siswa bedebah yang akan menghambur-hamburkan cinta kepadanya, bua sang kakak akan siap meladeninya!
Demikian itulah kehidupan Muh. Tohar bersama anak-anaknya. Anaknya memang banyak. Jumlahnya memang lima. Keluarga lain yang memiliki anak banyak tak lebih dari lima. Rata-rata empat. Seperti Haji Ridlwan dan Haji Mukhtar sendiri. Seperti juga Muhaya dan istrinya, Wuryani. Kumasi sendiri punya dua anak. Jarak umur anak pertama dan anak keduanya tiga tahun. Jarak ideal. Menurut anggapan sebagian besar warga.
“Tetapi lihatlah Dlori dan Zulfin!” begitu seru seorang tetangga kepada tetangganya di suatu senja. Dia adalah istri Kumasi terhadap istri Muh. Tohar. Istri Kumasi tampak masih muda, masih segar. Berbeda dengan istri Muh. Tohar yang telah memiliki banyak cucu. Soal kasak-kusuk, merekalah jagonya di antara jago-jago yang lain. Tetapi soal kenekatan dan emosi, mereka kalah dari Wuryani. “Umi saja belum disapih, eee…sekarang sudah bunting lagi. Astaghfirullah…”
Jumilah, istri Kumasi itu, menggeleng-geleng. Barokah, istri Muh. Tohar, tak bereaksi. Sepertinya ia tidak tertarik membincangkan Zulfin dan Dlori, sebab semua orang di desa ini sudah tahu betapa mudahnya Zulfin hamil, betapa mudahnya Zulfin punya anak. Jarak satu anak dengan anak berikutnya rata-rata hanya satu tahun. Jarak memalukan. Jarak menggelikan.
“Satu tahun—bayangkan!” lanjut Jumilah tanpa memedulikan diamnya Barokah. “Duh, Gusti. Apa yang ada dipikiran Mbak Zulfin itu? Apa dia tidak malu kepada tetangga? Setahun lahir, lalu hamil, lalu melahirkan, hamil lagi, melahirkan lagi. Mbokde Kah…,” ujar Jumilah kepada lawan bicaranya itu, “sepertinya aku capek nyumbang terus ke Mbak Zulfin itu. Bayangkan saja, saat Harun lahir—Mas Dlori membuat acara hajatan gede-gedean. Mbokde tentu masih ingat kan? Dia mengundang KH. Duri Azhari, Kiyai lucu asal Semarang itu. Ingatkan, Mbokde? Betapa lucu ceramahnya. Ceramah kok berjalan ke sana ke mari padahal sudah disediakan podium. Ah, ngomong apa to aku ini, Mbokde. Malah ngomongin KH. Duri Azhari segala. Aku nyumbang beras sepuluh kilo saat itu, Mbokde. Ditambah gula pasir dua kilo, teh dua bungkus. Duh, semoga Mbak Zulfin tak lupa sumbangan pertabuu saat kelahiran Harun anak pertamanya itu. Dia tak boleh lupa. Dia harus mencatat itu dalam buku catatan sumbangan!”
Jumilah melanjutkan, “Saat Aisyah lahir, aku memang nyumbang Mbak Zulfin tak sebanyak sebelumnya. Panenku saat itu bisa dikatakan gagal. Iya, Mbokde—saat itu kita gagal panen. Tikus dan wereng menyerang padi-padi kita. Aku pun terpaksa nyumbang beras setengah bojok (5 kg). Tapi tetep pake gula pasir dan teh. Selain karena kita gagal panen saat itu, aku berpikir bahwa aku tak ingin memberati beban Mbak Zulfin bila nanti dia harus “mengembalikan” sumbanganku saat aku mengadakan hajatan. Ah, kapan aku bisa hajatan lagi? Duh, Gusti. Tapi coba apa yang terjadi, Mbokde? Belum pupus dari ingatanku akan sumbangan yang telah aku keluarkan untuk Mbak Zulfin. Eee…anak ketiganya lahir. Bahkan—sepertinya Mas Dlori memang tak punya rasa malu—mereka membuat acara hajatan gede-gedean, Mbokde. Kalau saja Ustadz al-Habsyi dari Jakarta itu tidak sibuk di hari yang telah ditentukan, tentu beliau akan datang ke desa kita memenuhi undangan Mas Dlori! Ya, Ampuunnn…berapa coba uang yang harus dikeluarkan untuk bisa mengundang ustadz sehebat beliau itu, Mbokde? Pasti jutaan kan? Ampun, ampun. Ketika sang ustadz tak bisa datang, Mas Dlori malah menanggap wayang semalam suntuk. Dalangnya Ki Manteb. Hmm…., aku tak suka wayang. Apalagi Mas Kumasi. Mas Kumasi selalu bilang: Wayang itu ajaran sesat. Itu bid’ah. Ah, entahlah apa maksud Mas Kumasi. Tetapi anehnya Mas Kumasi tergila-gila pada Ki Anom Suroto. Kalau di Seworan nanti ada tanggapan wayang dan dalangnya Ki Anom, mas Kumasi akan datang menonton. Ah, entahlah. Tetapi, hajatan yang besar seperti itu membuatku dan semua orang akan merasa malu bila menyumbang Mbak Zulfin dalam jumlah yang sedikit kan, Mbokde? Satu setengah bojok (15 kg) beras, Mbokde! Bayangkan. Ditambah teh, ditambah gula. Masyaallah. Dalam tiga tahun berturut-turut, aku telah mengeluarkan berkilo-kilo beras, berkilo-kilo gula, dan berbungkus-bungkus teh untuk Mbak Zulfin. Oh, Mbokde Kah—kau diam saja dari tadi. Katakanlah, berapa banyak kau telah menyumbangnya selama ini?”
Setelah diam dari tadi, diam mendengarkan curahan hati Jumilah, akhirnya Barokah membuka mulut, menjawab pertanyaannya, “Tak beda jauh dari sumbanganmu, Lah.”
“Jadi sebanyak itu?”
“Iya, sebanyak itu.”
“Padahal semua sumbanganku belum ada yang dikembalikannya, Mbokde?”
“Apalagi aku, Lah?” kali ini dengan nada agak tinggi Barokah berkata, “Aku tak bisa membayangkan bahwa aku akan bisa mengandung lagi, hamil lagi, punya anak lagi. Oh, aku sudah tua. Sudah keriput. Hanya tinggal menunggu kapan Gusti Allah akan menjemputku. Aku tak akan membuat hajatan-hajatan apa-apa lagi. Kalau sumbangan harus dikembalikan dengan sumbangan, aku pun bingung bagaimana Zulfin akan mengembalikan sumbangan kepadaku padahal aku tak mengadakan hajatan apa-apa.”
“Astaghfirullah, kamu benar, Mbokde. Adat kita, sebagai orang Jawa, sumbangan adalah hutang. Kita memberikan sumbangan pada seseorang yang memiliki hajat, berarti orang itu harus mengembalikannya saat kita membuat hajat. Ini aturan yang telah berlaku dari jaman dahulu kala, Mbokde. Sudah turun-temurun seperti itu. Entah bagaimana caranya Mbak Zulfin akan mengembalikan sumbangan itu kepadamu—aku ndak tahu. Sama sekali ndak tahu. Lagi pula, kenapa Mbokde tak seperti Mbah Jun atau Mbokde Mar saja: Tak menyumbang banyak-banyak sebab tak akan pernah membuat hajatan lagi?”
“Aku ndak enak kalau seperti itu, Lah. Aku kan bukan Mbah Jun atau Dik Mar?”
“Iya, juga….”
Pembicaraan itu tak ada habis-habisnya. Dan Jumilah tidak sendiri, dan walaupun tidak banyak orang di Siwalan ini seperti Barokah. Di sana-sini, selama berhari-hari, banyak orang menggerutu secara diam-diam dan bersama-sama, memikirkan Zulfin dan menyayangkannya. Zulfin sudah hamil lagi. Hamil anaknya yang keempat. Persis setahun lebih sedikit dari kelahiran anaknya yang ketiga. Semua orang tahu—katakanlah begitu, sebab berita mudah sekali menyebar di Siwalan ini seperti mudahnya embun yang menetes di pagi hari—Umi masih menyusu, Ummi belum disapih, padahal air susu Zulfin tak mau keluar lagi. Penggerutuan hati banyak orang di Siwalan ini, terutama kaum ibu, menyangkut hal-hal berikut ini:
Pertama, Zulfin terlalu mudah hamil terlalu mudah melahirkan. Betapapun urusan hamil dan melahirkan itu urusan pribadi masing-masing, rasa-rasanya sangat disayangkan bila ada warga yang terlalu mudah hamil dan terlalu mudah melahirkan seperti itu. Entah siapa yang diikuti oleh Zulfin dan Dlori, mereka tidak berupaya untuk membatasi kehamilan dan kelahiran, bahkan seakan-akan membiarkan begitu saja Zulfin hamil dan melahirkan setiap tahun!
Kedua, jarak kelahiran yang pertama dengan yang selanjutnya terlalu dekat. Ini yang sangat sulit untuk diterima “akal sehat” warga. Bila terpaksa harus dibandingkan dengan Muh. Tohar dan istrinya di masa lalu, tentu Dlori dan Zulfin tak sebanding. Barokah melahirkan anak-anak dalam rentang yang lama. Jarak antara kelahiran Ummi dan Ibti tiga tahun. Jarak kelahiran antara Ihsan—anak pertama pasangan Kumasi dan Jumilah—dan Heni, juga, tiga tahun. Bagi ibu-ibu yang lain, paling tidak jarak kelahiran anak pertama dengan anak kedua dua tahun, bahkan ada yang empat tahun, bahkan lima tahun. Tak perlulah kita menyebut orangnya satu per satu.
Tetapi Zulfin?
Sungguh sulit diterima “akal sehat”!
Ketiga, berkaitan dengan masa depan anak-anak yang dilahirkannya. Ketika jarak umur anak yang satu dengan yang selanjutnya sangat berdekatan seperti itu, tentu akan sulit bagi orang tua untuk memberikan pendidikan masing-masingnya. Ya, Zulfin mungkin seorang ibu yang cekatan untuk mengasuh dan merawat anak-anaknya. Semakin banyak anak, tentu pengalamannya sebagai seorang ibu akan semakin bertambah luas. Tetapi soal pendidikan dan pembelajaran adalah soal lain. Semakin banyak anak bukan berarti semakin berpengalaman dalam mendidik dan membelajarkannya.
“Betul tidak, mbah?” tanya Kumasi pada Kiyai Na’im di sebuah kesempatan.
“Apanya, Kum?”
“Banyak anak itu berarti semakin pandai mendidik anak?”
“Kau guru agama-nya, Kum. Aku bukan. Kau lebih tahu,” jawab Kiyai Na’im.
“Menurutku, semakin banyak anak tak berarti semakin cerdas orang tua akan mendidik anak. Malah sebaliknya, orang tua justru akan disibukkan untuk mengurusi hal-hal lahir anaknya, misalnya soal makannya, bajunya, popoknya, tidurnya, minumnya, dan lain sebagainya. Orang tua dituntut untuk lebih sabar dan dewasa serta bijak menghadapi beragam karakter dan sifat anak-anaknya. Buah-buahan yang dipetik dari tangkai yang sama belum tentu sama rasanya. Begitu pula sifat-sifat anak walau dari orang tua yang sama. Aku tak melihat pada diri Mas Dlori dan Zulfin tentang anak-anaknya kecuali bahaya, Mbah. Terlebih, soal pendidikan agama mereka. Aku khawatir, Mas Dlori dan Zulfin terlena mengurusi hal-hal yang zahir dari anak-anaknya, hingga lupa untuk mengurusi batinnya.”
“Semoga tidak seperti itu, Kum.” Pendek Kiyai Na’im menjawab.
Tetapi cara berpikir Kumasi ditentang oleh Haji Ridlwan. Dalam suatu istirahat siang di tengah ladang ketika orang-orang terus membicarakan soal anak-anak Zulfin dan kehamilannya, Haji Ridlwan tak setuju dengan pendapat yang menyalahkan suami-istri yang memiliki banyak anak. Haji Ridlwan memang tidak secara langsung menunjuk kasus Dlori dan Zulfin—ia membahas persoalan ini dari sudut yang lebih luas, yakni sudut agama. Sebagai orang yang telah dua kali naik haji, guru ngaji, serta memiliki wawasan yang cukup terhadap kitab-kitab klasik, secara panjang lebar Haji Ridlwan mengungkapkan soal orang tua dan anak-anaknya.
“Seperti yang disabdakan Rasulullah,” ucapnya pada tiga orang yang duduk-duduk bersamanya sembari minum teh di ladang itu, ‘Nikahilah perempuan yang pecinta [yakni yang mencintai suaminya] dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab [banyaknya] kamu di hadapan umat-umat [yang terdahulu].’ Banyak anak itu ajaran Islam, saudara-saudara!” ucap Haji Ridlwan, agak lantang, seakan-akan ia tengah berdiri di atas podium dan memberi peringatan yang keras pada ummat manusia.
“Bahkan,” sambung Haji Ridlwan, “menurut sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah mendoakan sahabat Anas bin Malik dengan doa seperti ini: ‘Ya Allah! Banyakanlah hartanya dan [banyakanlah] anaknya dan berkahilah apa yang engkau telah berikan kepadanya.’”
Dalam riwayat yang lain, ujar Haji Ridlwan lagi, yang juga dikeluarkan oleh Imam Bukhari di kitabnya yang lain di luar kitab Shahih-nya yaitu Adabul Mufrad, Nabi mendo’akannya.
Ya Allah ! Banyakanlah hartanya dan anaknya, dan panjangkanlah umurnya dan ampunkanlah ia.
Dari hadits yang mulia ini kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad mencintai umatnya bila mempunyai banyak anak. Dengan demikian, bua Islam menganjurkan umatnya mempunyai banyak anak dengan maksud dan tujuan yang suci mengikuti Syari’at Rabbul ‘Alamin.
“Tetapi apa alasannya, Pakde Haji?” seseorang bertanya, ingin tahu.
Haji Ridlwan menjawab, “Semakin banyak jumlah ummat Islam, semakin gentarlah orang-orang kafir di dunia ini! Kuffar itu akan ketakutan dan cemas akan banyaknya kaum muslim.” Haji Ridlwan memandang kejauhan, menatap entah dengan pandangannya, seakan mungkin tengah melihat kaum kafir berlari tunggang-langgang melihat berjuta-juta muslim berdiri dengan tegap dan gagah berani. Sekian lama Haji Ridlwan menatap kejauhan itu, lalu tiba-tiba keningnya berkerut dan wajahnya menegang. Ujarnya kemudian, “O, celakah dia yang telah meneriakkan agar para orang tua membatasi anak-anaknya!”
Mendengar hal itu, seseorang yang duduk di sebelah kanannya, bertanya, “Yang Kang Haji ini maksud siapa?”
Haji Ridlwan menoleh kepadanya, menjawab, “Siapa lagi kalau bukan pejabat!”
“Maksudmu, pejabat orde baru?”
“Iya, Soeharto dan antek-anteknya itu. Soeharto mencekoki kaum muslimin dengan berbagai macam program KB (Keluarga Berencana) untuk membatasi kelahiran. Cukup dua saja, katanya! Laki-laki perempuan sama saja. Astaghfirullah…betapa bodohnya Soeharto dan antek-anteknya itu.”
“Tetapi bukan berarti tiap tahun harus melahirkan, Pakde?” tanya lagi.
Haji Ridlwan tampak tidak berkenan dengan pertanyaan itu. Ia pun menjawab dengan tegas, “Yang kau maksudkan tentu Dlori dan Zulfin, kan?”
“Iya, siapa lagi, Pakde?”
“Jadi kau salah-salahkan mereka?”
“Aku tak menyalahkan, Pakde. Aku hanya kurang mengerti setiap tahun kok melahirkan anak.”
“Apanya yang kurang kau mengerti?”
“Itu tadi.”
“Itu apa?”
“Melahirkan setiap tahun?”
“Apakah itu melukai perasaanmu?”
“Tidak sih, Pakde…”
“Kalau tidak, kenapa kau merasa keberatan sedangkan dia bukan istrimu yang melahirkan?”
Tak selesai.
Perbincangan itu pun menggantung. Seperti awan di atas sana. Hitam dan menggantung. Sepertinya hari memang akan segera hujan. Awan hitam itu akan berubah dan semakin bergulung-gulung. Diliputi suasana hati yang tak bisa dimengerti, akhirnya Haji Ridlwan dan ketiga orang itu saling memisahkan diri.
***