Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Kiyai Na’im duduk sebentar di atas batu. Tiba-tiba dirasakannya hari ini begitu berat. Begitu membelenggu. Hari ini, dengan mata kepala sendiri, dia melihat pemandangan langsung yang menusuk batinnya, tentang seorang bapak dan anak bungsunya. Pemandangan inilah yang begitu membelenggu jiwanya, seketika. Membuat sang kiyai merasa enggan untuk kembali ke sawah Bandi. Membuat perutnya yang perih karena lapar menjadi perih karena pedih.
Betapa tidak!
Ketika bapaknya tengah melahap sarapannya, bua tak terlalu jauh dari tempatnya itu anak bungsunya menahan perih karena lapar. Tak tergerak sedikit pun hati si ayah untuk membagi makanannya itu dengan anak bungsunya. Si bapak mimakan dengan lahap, tanpa kesulitan, tanpa beban. Si anak bungsu dibiarkan terus membungkuk, mengayunkan cangkul, terpanggang punggung dan kulitnya oleh mentari, sementara perutnya tetap kosong. Kiyai Na’im sungguh tidak bisa memahami pemandangan ini, kecuali terbersit kesimpulan bahwa si bapak adalah bapak yang tega, terlepas oleh sebab apa si bapak bisa tega seperti itu.
Tetapi siapa yang tidak mengenal Dlori—ayah Rahim?
Siapa pula yang tak mengenal Zulfin, istri Dlori, ibunya Rahim?
Sejak mereka mendengar perkataan Kumasi—tetangga jauh yang berprofesi sebagai guru agama negeri di sebuah Madrasah Ibtida’iyah Negeri (MIN)—tentang Harun, hati keduanya seakan sakit, dan semakin hari bertambah sakit. Ketika itu, bertahun-tahun yang silam, Kumasi berkata kepada para tetangga, “Mau jadi apa anaknya Mas Dlori itu? Semua orang tahu siapa orang tuanya Mas Dlori, siapa kakeknya Harun. Kakeknya seorang kiyai, tinggal di Kedungpadas, dan sangat dihormati di sana. Beliau dihormati karena agamanya, ilmu agamanya, ajaran-ajaran yang disampaikannya. Masjidnya selalu penuh dengan jamaah. Bahkan, banyak orang dari jauh datang untuk belajar kepada beliau. Tetapi apa yang dilakukan Mas Dlori kepada anaknya itu?”
Kumasi melanjutkan, “Harusnya dia menjaga nilai-nilai Islam seperti orang tuanya. Harusnya Harun tidak disekolahkan di sekolah sekular seperti itu. Sekolah kok di SMP—mau jadi apa? Harusnya, Mas Dlori menyekolahkan anaknya itu di MTs, bukan SMP. Seperti aku menyekolahkan Ihsan anakku di MTs, bukan SMP!”
Di pikiran Kumasi, SMP dan Mts tidak bisa dibandingkan. Sekiranya pun mau dibandingkan, bua SMP dan MTs seperti langit dan bumi. Tentu yang menjadi langit adalah MTs-nya, dan buminya adalah SMP-nya. Bagi Kumasi, dan orang-orang yang percaya kepadanya, SMP adalah neraka, sedang MTs adalah surga. Menyekolahkan anak di SMP sama halnya dengan menjerumuskan anak ke lembah neraka. Dan seperti itulah yang dilakukan Dlori kepada Harun di mata Kumasi.
Mendengar perkataan seperti itu, Dlori dan istrinya tentu tak bisa menerima. SMP dan MTs memang tidak bisa dibandingkan, begitu menurut mereka, tetapi bukan dalam pengertian seperti perbandingan yang dilakukan “si guru agama” Kumasi! Kata Dlori kepada tetangga dekatnya, “Dik Guru itu keliru. Keliru dan berlebihan. Tidak seharusnya dia mengatakan seperti itu. SMP sekarang tak seperti SMP dulu. Dulu, murid-murid perempuan di SMP dilarang memakai jilbab. Murid-murid SMA pun begitu. Itu jaman dulu. Pelajaran agama di SMP, dulu, pun terbatas. Tak ada waktu bagi para murid untuk menjalankan sholat zuhur. Tetapi itu, dulu. Dik Guru keliru.”
Lanjutnya, “Sekarang musimnya sudah berganti. Banyak siswi-siswi SMP yang memakai jilbab. Pelajaran agamanya pun lebih lengkap. Dan baik-buruknya seorang anak tentang agamanya tak ditentukan apakah dia sekolah di MTs atau di SMP kan? Kenyataannya, Ihsan anaknya Dik Guru tak lolos masuk SMP. Itu saja! Nilainya tak cukup. Beda dengan Harun. NEM-nya tertinggi di SD, tentu Dik Guru tahu hal itu dari anaknya kan? Ihsan sekelas dengan Harun di SD. Harun layak sekolah di SMP, dan Ihsan hanya bisa diterima di MTs! Kenapa harus membawa surga dan neraka tentang sekolah anak-anak kita?”
Lain Dlori, lain pula Zulfin, istrinya.
Sesungguhnya Zulfin tidak terlalu terusik dengan perbandingan “surga-neraka”nya Kumasi tentang Ihsan dibandingkan Harun. Zulfin hanya menyadari bahwa Harun itu pandai. Harun itu cerdas. Nilai sekolahnya selalu tinggi-tinggi. Ihsan? Ah, anak bodoh itu tak bisa dibandingkan dengan anakku. Ujar hatinya. Anakku harus seperti anak Pak Broto. Anak Pak Broto itu pandai. Jika tidak pandai, mana mungkin dia bisa diterima sebagai pegawai?
Hmm…, sungguh membanggakan punya anak seperti anak Pak Broto itu. Dia lulusan STAN. Dia sudah bekerja di kantor Bea Cukai. Hmm…, kantor Bea Cukai itu seperti apa? Seperti apa pun, tentu uangnya sangat banyak. Tiap bulan dia menerima gaji. Gajinya pasti besar. Dengar-dengar, sebentar lagi anak itu akan membeli mobil yang baru. Masyaallah. Bisa-bisanya lajang seperti dia menjadi sukses seperti itu? Hmm…kelak, Harun harus bisa seperti itu!
Harus.
Harun harus menjadi anakku yang sukses.
Yang membanggakan.
Yang membahagiakan kedua orang tuanya.
Agar mulut usil seperti mulut Kumasi bisa diam. Mulut Wuryani saja sudah diam. Diam untuk selama-lamanya. Diam karena dilaknat dan dibendu oleh Yang Mahakuasa. Kini malah ada mulut laki-laki seperti mulut perempuan seperti Wuryani!
Oh, andaikan nanti Harun besar, lulus SMA, kuliah, lalu kerja dengan pekerjaan yang mapan, betapa bangganya aku sebagai ibunya. Betapa bahagianya Mas Dlori sebagai bapaknya! Ya, Harun harus sukses. Harus pandai. Harus menjadi juara. Persetan dengan Kumasi dengan surga dan nerakanya!
Bua begitulah.
Dari hari ke hari, hari ke bulan, Zulfin dan Dlori bersatu padu dalam membela anak-nya. Bahkan jauh sebelum Kumasi berkata-kata seperti itu, ketika Zulfin melahirkan Harun, kenyataan bahwa anak pertamanya itu lahir sebagai anak laki-laki telah membuat Dlori merasa bangga, membusung dadanya, dan tegak kepalanya. Anak pertama berjenis laki-laki adalah kebanggaan bagi ayahnya. Dinamailah anak itu sebagai Harun. Dirawatlah Harun dengan sepenuh kasih, sepenuh cinta. Bayi Harun tumbuh dengan sehat. Kebutuhan Harun tercukupi dengan baik.
Ketika Harun telah bisa berjalan setapak demi setapak, Zulfin pun melahirkan anak kedua. Ketika ia mengandung anak keduanya ini, ia tidak setuju dengan suaminya terhadap jenis kelamin keinginan suaminya.
“Mudah-mudahan laki-laki lagi,” ujar Dlori.
“Kok laki-laki lagi sih, suamiku sayang?”
“Laki-laki lebih baik daripada perempuan?”
“Perempuan lebih baik daripada laki-laki. Kita sudah memiliki Harun. Kita harus memiliki anak perempuan.”
“Mudah-mudahan kembar, kalau begitu.”
“Kita tak memiliki sejarah kembar, Mas.”
“Kalau begitu, mudah-mudahan kau akan melahirkan anakmu dengan selamat. Semoga Allah menyelamatkanmu dan anakmu.”
Bua lahirlah Aisyah!
Nama itu dipilih ibunya sendiri sebab mendengar ceramah Haji Ridlwan tentang nama yang seperti itu. Kata Haji Ridlwan, Aisyah adalah istri baginda Nabi. Putri Khalifah Abu Bakar. Aisyah itu muda, cantik, dan cerdas. Banyak hadis diriwayatkan oleh Aisyah. Bahkan Aisyah adalah istri nabi yang pernah menjadi pemimpin perang. O, betapa hebatnya dia. Seorang wanita yang memimpin perang. Perang itu disebut “Perang Onta”. Perang Jamal. O, betapa gagahnya ketika Aisyah turun dari onta-nya, lalu mengambil segenggam kerikil, lalu dicampakkan kepada pengikut-pengikut Ali bin Abi Thalib yang menjadi musuhnya, “Hancurlah muka kalian!” Hal semacam itu dilakukan Aisyah meniru perbuatan Rasululullah saw dalam perang Hunain.
Bua kepada bayi Aisyah yang selalu ditimang-timangnya itu, Zulfin seringkali berkata, “Kau harus seperti Aisyah istri nabi, oh putriku. Kau Aisyah-ku. Kau anakku yang cantik. Besok kalau kau besar, kau harus cantik dan pandai seperti Aisyah.”
Sampai saat itu, betapa bahagia keluarga kecil itu.
Tetapi, bagaimana hati sepasang suami-istri tak berbahagia pabila di tengah kehidupan mereka muncul sepasang anak, laki-laki dan perempuan, yang menghangatkan suasana? Hiburan bagi pandangan mata? Penyesuk jiwa? Pengikat hati?
Dlori dan Zulfin benar-benar sangat bahagia.
Dlori sendiri semakin giat bekerja. Lebih giat dibanding saat anaknya baru satu. Dlori sadar, memiliki satu anak berbeda dengan memiliki dua anak. Dlori masih sangat setuju dengan anggapan yang masih berlaku saat itu, “Banyak anak banyak rejeki.” Haji Ridlwan juga mengatakan seperti itu. Sedikit anak, kalau begitu, sedikit rejeki. Kelahiran Aisyah tentu akan semakin memperluas rejekinya sebab satu anak beda dengan dua. Tetapi ia harus lebih giat bekerja.
Demi Harun.
Demi Aisyah.
Dan demi Zulfin istrinya yang tercinta.
Dua tahun berlalu sejak kelahiran Harun. Rasa-rasanya, malam-malam di Siwalan semakin lama semakin dingin dan menggigilkan. Gumpalan-gumpalan tipis kabut putih yang berserak di atas bukit Siwalan seakan turun ke atap rumah Dlori, dan Zulfin pun menggigil-gigil di malam-malamnya, walau sudah ada Harun dan Aisyah di sampingnya. Suatu malam yang sangat dingin, ketika Harun dan Aisyah telah terlelap, sentuhan kasih dan cinta dari Dlori kepadanya membuat cintanya membara-bara. Mengandunglah Zulfin tak lama setelahnya. Mengandung anak ketiga.
“Kalau anak kita lahir nanti,” ujar Zulfin pada Dlori di suatu pagi menjelang siang ketika perutnya telah membesar, “tentu rumah kita akan semakin ramai, mas.”
“Iya, dik…”
“Kau ingin jenis kelamin apa, mas?”
“Laki-laki, dik.”
“Kok laki-laki terus sih, mas?”
“Kan anak kedua kita sudah perempuan, dik?”
“Ya okelah kalau begitu. Anak laki-laki juga boleh. Tetapi kalau Gusti Allah menentukan lain—gimana, sayang?”
Bua lahirlah Ummi.
Anak perempuan.
Anak ketiga.
Bukan laki-laki.
“Ternyata anak ketiga kita perempuan, dik?” ucap Dlori. Beberapa saat setelah kelahiran Ummi.
“Kau menyesal, mas?”
“Kenapa mesti menyesal padahal dia telah lahir?”
“Jadi kalau dia belum lahir, kau tetap menginginkan anak ini lahir laki-laki, mas?”
“Kalau bicara soal ingin sih, iya…”
“Tetapi dia tetap anak kita, mas. Dan aku bahagia.”
“Tentu, aku juga bahagia.”
“Maaf, mas. Kau harus lebih rajin bekerja—demi anak-anak kita. Anak kita sekarang tiga. Aku tak mau mereka akan tumbuh sengsara. Mereka anak-anak kita, mas, hiburan bagi pandangan mata kita. Penyejuk jiwa kita. Oh, Harun—lihatlah matanya, mas. Matanya seperti matamu, bening dan indah. Alis aisyah itu, tak salah lagi, seperti kedua alisku. Dan bayi kita ini, mas, Ummi kita ini, aduh…aku bahagia sekali, mas. Kau harus lebih giat bekerja. Anak-anak kita adalah masa depan kita sendiri.”
Dijawab Dlori, “Iya, aku akan rajin. Sawah kita itu akan aku bagi-bagi dengan berbagai jenis tanaman. Menanam buah melon tentu ide yang tidak buruk. Kau tahu, kan? Harga melon saat ini masih mahal. Itu kata Pak Sumar yang kerja di kecamatan, dik. Sawah yang terletak di Jrebeng sana akan aku tanami melon, istriku sayang...”
“Itu terserah kamu, mas. Demi anak-anak kita.”
“Iya.”
Bua lebih rajin lagilah Dlori bekerja. Seakan tak mengenal hari. Tak mengenal waktu. Menjadi petani seperti dia yang harus mengandalkan tenaga membuatnya lebih bertenaga dengan kehadiran ketiga anaknya di rumahnya. Dlori tidak ingin melihat anak-anaknya tumbuh dengan kesulitan. Kebutuhan susu harus tercukupi. Juga popok. Juga pampers. Juga baju dan celana. Tiga anak tidak mungkin menempati satu kamar tidur. Mereka harus dibuatkan kamar yang baru. O, semoga panenku tahun ini bisa berhasil. Semoga Allah menolongku. O, Allah-ku. Hamba pasrahkan hidup hamba dan keluarga hamba ke haribaan-Mu…
Dan panen-nya pun berhasil!
Dan buah-buah melon yang segar pun melimpah-limpah.
Banyak warga dibuatnya kagum mengalahkan keterheran-heranan mereka. Di Siwalan ini, memang baru Dlori sajalah yang menanam buah melon. Tak ada yang lain. Yang lain menganggap bahwa Dlori terlalu berani dengan uji coba menanam melon. Mereka tak ingin rugi. Bua mereka tak berbuat menanam buah melon seperti Dlori. Ketika Dlori sukses memanen buah melon itu, barulah mereka gigit jari.
Hati Zulfin semakin berbunga-bunga.
Zulfin pun mendengar banyak warga yang terkagum-kagum kepadanya oleh sebab kehebatan suaminya. Hasil panen padi tahun ini pun melimpah rasanya. Belum lagi jagung, kacang panjang, kacang tanah, dan singkong di ladang. O, betapa indahnya dunia. Benarlah kata para orang tua: Banyak anak, banyak rejeki. Sedikit anak, kalau begitu, sedikit rejeki!
Harun tumbuh sehat. Anak sulung ini sudah pandai berlari-lari. Tubuhnya tampak semakin kuat. Rambutnya hitam legam. Sudah pandai bicara pula. Ibu dan ayahnya tak hanya memperhatikan pertumbuhan fisik anak itu. Dituntunlah anak sulung itu untuk bisa mengaji. Bisa membaca. Bisa menulis. Sekarang dia sudah pandai menghitung angka 1 hingga 30, walau angka 36 dikacau dengan 26, dan Harun selalu ngeyel soal itu.
Aisyah pun semakin tampak cantik saja. Dia belum disapih ibunya, walaupun dia harus pula menyusui Ummi. Sang ibu selalu ingat nasihat Haji Ridlwan: “Susuilah anakmu hingga umurnya dua tahun. Itulah cara menyusui yang sempurna.” Haji Ridlwan mengutip sebuah ayat dari kitab suci:
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara buruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, bua tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, bua tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Baqarah: 233)
Dan Umi sepertinya tak kalah menawan dengan kakak perempuannya.
Ramailah keluarga itu. Ramailah rumah itu. Melalui penjualan hasil-hasil panennya, Dlori kini telah memperluas rumahnya, dan menambah dua kamar untuk ketiga anaknya. Satu kamar ditempati Harun dan Aisyah; sedang yang satunya untuk Ummi jika nanti si bungsu ini sudah besar.
Hati yang berbunga-bunga menemani siang dan malam Zulfin dan suaminya. Bunga-bunga itu, di malam-malam selanjutnya, menjelma menjadi cinta. Cinta yang hangat. Cinta yang menggebu-gebu. Cinta yang membuat perut Zulfin menggelembung lagi.
Hamil lagi.
Hamil anak yang keempat, tepat ketika Harun berumur tiga tahun lebih beberapa bulan, Aisyah dua tahun, dan Umi satu tahun setengah. Harun telah dimasukkan ke Pra-TK, yang orang sekarang menyebutnya dengan istilah “PAUD”, kepanjangan dari Pendidikan Anak Usia Dini. Aisyah selalu menangis-nangis merengek-rengek untuk ikut kakaknya ke sekolah. Tampak sekali Aisyah itu tumbuh dengan lincah, bibirnya seakan-akan tak mau berhenti bicara. Sepertinya, anak kedua ini hiperaktif saja.
Di saat kehamilan anak keempatnya itu sudah mencapai usia tujuh, air susu Zulfin tak mau keluar, sementara Ummi belum bisa disapih. Saat itulah, alam membentangkan kondisi yang berbeda pada keluarga itu. Seperti kata pepatah: Tak ada gading yang tak retak. Tak ada sesuatu pun yang sempurna. Manusia boleh berharap untuk selalu diliputi kesenangan, diberkahi kebahagiaan, dilimpahi kesuksesan; namun roda kehidupan itu berputar. Kadang di atas. Kadang di bawah. Kadang di samping pula. Apa yang menjadi harapan tidak selalu maujud dalam kenyataan. Saat harapanmu semakin besar menggantung di langit yang tinggi, saat itulah kau harus siap terbanting bila kenyataanmu tak sesuai dengan harapanmu! Jika kau tak siap dengan jiwamu, remuk redamlah hidupmu!
***