Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Menerima Tawaran

📅 01 July 2026 📚 Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 14 menit baca 📑 Bab 3

Dengan punggung tangan kanannya, Kiyai Na’im mengelap air mata yang sempat menetes di pipi. Bungkusan plastik yang berisi nasi itu masih menggantung di tangannya. Rahim belum menyadari kedatangan lelaki yang sudah sepuh itu. Sekali lagi, Kiyai Na’im menoleh ke belakang, memandang kejauhan ke arah sawah tempat ia bekerja tadi, lalu berjalan pelan mendekati Rahim.

“Nak….,” sapanya.

Rahim menghentikan ayunan cangkulnya, lalu membalikkan tubuhnya, mengelap keringatnya, dan memandangi orang tua yang juga memandanginya itu.

“Mbah….,” itulah panggilan Rahim kepada Kiyai Na’im. Ia tidak memanggil orang tua itu dengan ‘kiyai’. Ia memang tidak tahu bahwa orang itu adalah kiyai. Bahkan, di bawah sana, di desa, hanya segelintir orang yang memanggil orang tua sepuh itu dengan panggilan kiyai. Segelintir orang itu pun dari kalangan yang semuanya sudah berusia lanjut. Selebihnya, tak ada yang tahu bahwa Na’im adalah seorang kiyai—yakni dalam pengertian sebagaimana segelintir orang yang sudah lanjut usia memanggilnya demikian.

Rahim memandangi bungkusan plastik berwarna hitam yang dipegang oleh Kiyai Na’im itu. Pandangan matanya menunjukkan bahwa ia ragu dan penasaran. Di balik bola matanya itu, tersirat harapan bahwa apa yang sedang dipegangi Kiyai Na’im adalah seperti apa yang menjadi angan-angannya saat ini. Nasi. Dan lauk-pauk. Itulah harapan yang tersembunyi di balik pandangan mata Rahim terhadap bungkusan itu.

Seraya tersenyum, Kiyai Na’im menyodorkan bungkusan plastik itu kepadanya Rahim. Rahim tampak bingung. Dilepaskannya cangkul yang dipeganginya itu, lalu berjalan pelan menuju ke tepi ladang.

“Untuk saya?” Rahim bertanya pada Kiyai Na’im, dan dijawab dengan anggukan kepala. “Itu apa, mbah?” Sekali lagi Rahim bertanya.

“Nasi….,” singkat Kiyai Na’im menjawab. Dan jawaban itu memburatkan sinar cerah di wajah Rahim. Ia ambil bungkusan plastik itu dari tangan Kiyai Na’im. Kini, tampak dengan jelas kedua lengannya yang mungil itu. Mungil dan kotor dengan tanah. Dan kurus. Dan memerah karena terpanggang sinar mentari. Dan gemetaran. Kiyai Na’im memandangi lengan bocah yang segera duduk begitu saja di atas rumput.

“Cuci dulu tanganmu, nak,” ujar Kiyai Na’im pabila melihat Rahim segera saja membuka bungkusan plastik seakan sudah tak sabar untuk menyantap nasi dan lauk-pauknya sehabis-habisnya. Kiyai Na’im sendiri duduk di sampingnya. Rahim meletakkan bungkusan plastik, lalu berjalan menuju ke selokan yang letaknya tidak jauh dari ladang milik ayahnya itu.

Beberapa saat kemudian, Rahim sudah kembali, lalu duduk bersila di atas rumput, di samping kiri Kiyai Na’im. Sejauh ini, Kiyai Na’im terus memandangi wajah bocah itu. Rahim sendiri kembali membuka bungkusan plastik itu. Dari dalamnya, ia keluarkan sebungkus nasi yang dibungkus daun jati. Harum daun jati berisi nasi dan lauk-pauk itu semakin membuat perut Rahim merasa kosong, merasa sangat lapar. Ketika daun jati itu dibuka, ternyata di bawah lipatannya ada daun pisang yang membungkus nasi. Dan ketika daun pisang itu dibuka, nasi putih beserta lauk-pauknya mendatangkan senyum di bibir Rahim. Seiris tempe goreng, tahu bacem yang berukuran agak besar, sambal kelapa yang dicampur dengan kudapan dan ikan asin sungguh membuat bola mata Rahim membesar. Membuat tangan kanannya segera bekerja.

“Jangan lupa berdoa….,” Kiyai Na’im mengingatkan ketika ia melihat Rahim hendak memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

Merona pipi Rahim yang sudah kemerah-merahan itu mendengar peringatan Kiyai Na’im. Senyum simpul menghias wajahnya. Senyum-senyum malu. “Hehe…lupa….,” ujarnya.

“Jangan lupa.”

“Iya…”

Lalu Rahim membaca doa makan. Membacanya keras-keras sembari matanya tak lepas-lepas menatap nasi di depannya itu. Usai membaca doa, Rahim pun makan dengan lahapnya. Rahim lupa bahwa di sampingnya ada seseseorang, seseorang yang telah renta, seseorang yang telah memberikan nasi bungkus itu, seseorang yang seharusnya ia tawari untuk makan bersama-sama.

Kiyai Na’im tersenyum.

Kiyai Na’im mibulumi.

Sungguh.

Dan sungguh, sesungguhnya Kiyai Na’im sendiri belum makan. Belum sarapan. Seperti terhadap ayah Rahim dan para buruh tani lain yang berada di bawah sana, Kiyai Na’im biasanya memang tak akan sarapan di rumah sebab sarapan akan diantar oleh istri Bandi. Telah nyata dan umum di desa ini, sesiapa yang diminta bekerja menggarap sawah bua ia akan berangkat sepagi benar seakan tak ingin melihat pekerja lain mendahuluinya. Alangkah aneh sarapan dua kali di waktu yang berdekatan! Selain hal yang demikian itu mencerminkan akhlak yang buruk, juga merefleksikan nafsu yang mengangkangi adat-istiadat yang berlaku. Seorang warga akan mudah mencap sebagai tindakan yang tidak sopan, perilaku dari orang yang “menyembah perut”—abdul buthun, dan malah menurunkan gairah bekerja. Dengan tatanan seperti ini, Kiyai Na’im berangkat kerja dengan keadaan perut kosong. Kosong dalam arti yang sepenuh-penuh kosong.

Kosong karena rumahnya memang kosong.

Kiyai Na’im tinggal sendiri, dan itu sudah berlangsung belasan tahun—bahkan ketika Rahim belum lahir, juga semua kakaknya itu. Istri sang kiyai sudah lama mendahuluinya menghadap Ilahi Rabbi, sementara anak-anaknya seakan telah lupa bahwa mereka memiliki seorang ayah yang bernama Na’im. Sardi, anak pertamanya, tinggal di Jakarta. Su’aeb, anak kedua, malah merantau ke Sumatera, tepatnya di Tulang Bawang, Lampung. Su’aeb telah bahagia hidup di sana, di antara kebun singkongnya yang sangat luas. Surtini, anak ketiga, bahkan menjadi janda di Kalimantan—suaminya meninggal dalam kecelakaan kerja di pabrik kilang minyak, entah di Kalimantan mana. Dari ketiga anaknya itu, seandainya saja masih ada yang mengingat bahwa mereka masih memiliki orang tua bernama ayah bernama Na’im, bua anak itu hanyalah anak pertamanya, Sardi. Tetapi Sardi lebih banyak lupa daripada ingatnya terhadap ayahnya sendiri. Sardi telah punya rumah di Jakarta. Sardi juga telah punya tiga orang anak. Rumahnya yang berbentuk kotak, berlantai dua, di sebuah gang di daerah Utan Panjang, seakan tak pernah mau ditinggalkannya. Juga pekerjaannya, juga pekerjaan istrinya. Sardi menarik ojek. Istrinya membuka warung kecil-kecilan di gang itu. Rumah dan pekerjaan Sardi dan istrinya, telah mampu membuat mereka lupa daripada ingat ada seorang ayah di kampung halamannya! Rahasia hidup Kiyai Na’im tak ada yang tahu. Tak ada tahu tentang anak-anaknya itu, kecuali dirinya sendiri, dan juga sang empunya cerita. Kiyai Na’im sesungguhnya bukan berasal dari desa Siwalan ini. Kelak, kalian akan tahu siapa dan bagaimana Kiyai Na’im di mata warga sesungguhnya.

Tetapi abaikan itu dulu!

Kenyataannya, Kiyai Na’im dapat menerima kenyataan seperti itu. Sedih dan terlukakah hatinya oleh sebab anak-anaknya? Mungkin. Kita hanya bisa mengatakannya: Mungkin. Hanya mungkin, sebab wajah orang tua sepuh itu justru selalu menampakkan keadaan yang sebaliknya. Suatu saat di masa lampau, barangkali ada hari di mana Kiyai Na’im mungkin merasa sedih dan terluka, juga marah dan putus asa, meneriman kenyataan anak-anaknya tak pernah menjenguknya. Suatu malam di masa yang telah lalu, mungkin Kiyai Na’im pernah mencurahkan kemarahannya kepada anak-anak tentang mereka sendiri yang selalu dirinduinya itu; lantas, setelah waktu mengiris hari, hari menyorong bulan, dan bulan mengundang tahun, Kiyai Na’im akhirnya pasrah. Pasrah menerima kenyataan tentang ketiga anaknya itu. Air matanya mungkin seringkali jatuh di atas keriput kedua pipinya, tetapi air mata itu adalah air mata doa dari seorang ayah untuk kebahagiaan ketiga anaknya betapapun ketiga anaknya telah melupakannya sebagai ayahnya. Alih-alih sakit hati yang berakhir dendam kesumat kepada ketiga anaknya yang telah melupakannya itu, Kiyai Na’im justru membuka hati berdoa untuk kebaikan mereka, memasrahkan jiwanya kepada kehendak Ilahi.

Kita tak akan banyak menemukan orang seperti Kiyai Na,im itu, sebab hati dan jiwanya amatlah langka. Hati dan jiwanya amat mulia. Hati dan jiwa yang demikian ini hanyalah hati dan jiwa yang tunduk dan pasrah di hadapan kebesaran Ilahi. Hati dan jiwa yang seperti ini pulalah yang akan mampu menangkap isyarat-isyarat, tanda-tanda, dan buna-buna hidup dan kehidupan. Hati dan jiwa yang demikian inilah yang dimiliki Kiyai Na’im dan digunakannya untuk memandang apa yang sebenarnya tengah terjadi dan dialami oleh bocah yang tengah duduk menikmati sarapannya di sampingnya itu.

Mendesah sang Kiyai melihat Rahim terus melahap nasinya. Sayup-sayup, ada suara di kedalaman perut sang kiyai sendiri yang menandakan betapa kosongnya ia dan betapa ia mengharap haknya untuk diisi. Tetapi ia sadar bahwa Rahim lebih membutuhkan nasi bungkus itu daripada dirinya sendiri. Terlebih ketika Kiyai Na’im menyelami kehidupan bocah itu dibandingkan dengan kehidupan kakak-kakaknya. Kiyai Na’im tahu.

Tahu semuanya.

Sesuatu yang sangat besar akan terjadi di desa ini.

Sesuatu yang melibatkan bocah itu sendiri di hadapan kakak-kakaknya.
Sesuatu yang, sungguh, membuat bola mata Kiyai Na,im kembali basah saat ini. Saat-saat menatap lekat wajah bocah ini. Pikiran sang kiyai pun melayang-layang ke suatu masa dalam kehidupan Rahim dan kakak-kakaknya—suatu masa yang tidak diketahui oleh Rahim, tidak disadari oleh kakak-kakaknya, dan bahkan tidak dimengerti oleh kedua orang tua mereka sendiri!

***

Tak ada kehidupan yang lebih sederhana daripada kehidupan di desa. Kesederhanaan itulah yang memayungi kehidupan warga desa Siwalan dan sekitarnya. Masyarakatnya, umumnya, bekerja sebagai petani, menggarap sawah dan ladang. Lereng-lereng di bukit yang membentang di sebelah selatan desa adalah bukti tanpa memerlukan penjelasan melalui kata-kata lagi betapa sulit memisahkan antara alam dan kehidupan warga. Sawah yang menghijau ranau, jajaran pepohonan kelapa, sungai Serang yang mengalir bening dengan ikan-ikannya yang berkecipak menyedapkan mata untuk memandangnya. Di lereng-lereng bukit Siwalan, warga bercocok tanam. Pepohonan yang besar dan kecil tumbuh dengan subur, juga ilalang dan rerumputan. Beberapa jenis binatang—seperti ayam hutan, kijang, juga burung-burung—menambah pesona bukit Siwalan. Pada saat-saat tertentu, di malam-malam yang mencemaskan, terkadang warga mendengar suara binatang buas seperti serigala, anjing, atau harimau Jawa. Di sebuah wilayah sebelah timur bukit itu, memang pepohonan besar dan kecil tumbuh dengan subur melebihi wilayah lain. Konon, harimau Jawa itu tinggal di sana dan tempat itu sedikit asing bagi warga di bawahnya.

Mengolah tanah menjadi sumber kehidupan warga, sejak puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang silam. Ketika Islam belum berkembang di wilayah ini, masyarakat hidup dengan cara-cara Hindu atau Budha. Mencintai alam menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jiwa masyarakat ketika itu. Merusak alam adalah cara yang amat bodoh dan memalukan untuk berdiri berhadap-hadapan dengan Sang Penguasa Jagat Raya. Ketika Islam telah masuk dan ajaran-ajarannya menelusup ke jantung kehidupan, kecintaan terhadap alam tetap terpelihara. Berdamai dengan alam sama dengan menjadi seorang muslim. Karena itu, tidak mengherankan bila masyarakat di wilayah ini tetap menjaga kelestarian alamnya. Pepohonan dan bunga-bunga bisa tumbuh dengan subur dan lebatnya. Sumber-sumber air tersedia di berbagai titik. Dan air terjun itu, di sana, di lereng bukit sebelah barat, bukan hanya deras mengalirkan air, tetapi sekaligus bening airnya, dan banyak ikan-ikan yang hidup di bawahnya.

Dengan hasil-hasil pertanian yang berlimpah, warga tak merasa kekurangan. Dari padi, ketela, singkong, jagung, kacang-kacangan, juga ikan dan buah-buahan, warga bisa hidup. Orang-orang tua bisa menyekolahkan anak-anak mereka. Tak ada perbedaan yang cukup berarti antara kehidupan seseorang dengan yang lainnya. Rumah mereka, rata-rata, berbentuk sama dan terbuat dari bahan-bahan yang sama pula. Rumah-rumah itu hampir semuanya menghadap ke utara dan selatan. Bahkan, tak ada satu pun rumah yang menghadap timur atau barat. Bahkan rumah Haji Ridlwan yang terletak di sebelah timur jalan kecil menuju bukit, tetap menghadap ke utara. Dinding-dinding rumah sebagiannya terbuat dari papan. Genting-genting rumah pun sebagiannya dibuat sendiri. Kusnan dan Karmin adalah dua orang warga yang sampai saat ini masih bekerja membuat genting-genting itu. Dan baru akhir-akhir ini, beberapa warga membakar tanah dan menjadikannya sebagai bata merah. Hanya beberapa orang saja yang memiki rumah yang dinding-dindingnya terbuat semuanya dari bata merah.

Rumah-rumah yang sederhana itu seakan melambangkan pikiran-pikiran yang sederhana dari para penghuninya. Cukup adalah kata yang tak hanya dilisankan melalui kata-kata, melainkan menjadi perwujudan dari keadaan jiwanya. Engkau bisa makan, bisa menghidupi keluargamu, bisa menyekolahkan anak-anakmu, bisa rutin menjalankan sholat fardlu, meriuh-rendahkan malam-malam Romadlon dengan tarawih dan tadarus al-Qur’an-mu, memakai baju-baju yang baru di kala lebaran dan tak lupa menghidangkan berbagai jenis makanan yang hampir semuanya dibuat sendiri oleh tangan-tanganmu, bua demikian itulah arti cukup bagimu. Itulah bekal hidupmu. Dan hidupmu hanya untuk matimu. Dan matimu hanya untuk kembali menghadap Rabb-mu!

Bilamana engkau memegang prinsip dan cara hidup yang seperti itu, sesungguhnya tak ada beban bagimu sebab beban tak ada di dalam kesederhanaan, dan kesederhaan hanya ada dalam perasaan cukup itu. Hati dan jiwamu, jika demikian, akan menyatu dengan jiwa alam, dan jiwa alam hanya tunduk dan pasrah kepada kehendak Rabb-mu.

Tetapi tak sedikit orang justru ingin keluar dari prinsip dan cara hidup yang seperti itu seakan-akan prinsip dan cara hidup itu begitu membelenggu. Mereka mengangankan yang lebih: Lebih baik, lebih maju, lebih berkembang, lebih cukup, lebih sukses, lebih kaya. Harmoni pun menjadi hilang. Yang terjadi, pada akhirnya, kekacauan. Tidak hanya kacau terhadap hukum kesetimbangan alam, melainkan kacau terhadap diri mereka sendiri.

Tetapi siapa yang menyadari?

Keadaan itulah yang terjadi pada sebagian orang di desa itu. Entah siapa yang memulai, siapa yang memicu. Diam-diam, ada persaingan yang terselubung di antara mereka, tentang diri mereka sendiri, juga tentang anak-anak mereka! Jiwa sebagian orang, pada akhirnya, terbelenggu dalam persaingan terselubung itu!

***

Rahim telah selesai menyantap makannya. Ia pun telah selesai membersihkan tangannya. Kini wajahnya tampak cerah, walau keringatnya tetap deras mengucur. Tak ada yang tersisa sedikit pun di atas daun pisang di depannya itu, bahkan walau hanya sebutir nasi. Seakan Rahim tidak pernah menyentuh makanan selama berhari-hari dan sekiranya daun pisang itu bisa dimakan seolah hendak dimakannya juga.

Kiyai Na’im kembali tersenyum…walau perutnya terasa semakin perih.

“Mbah sudah makan?” tanpa pretensi apa pun, Rahim bertanya. Tangan kanannya mengelus-elus perutnya.

Kiyai Na’im hanya tersenyum.

Rahim menunggu jawaban.

Kiyai Na’im menjawab dengan tanya, “Rahim, kau mengaji pada siapa?”

Ditanya seperti itu, Rahim menunduk.

Menggeleng.

“Jadi kau tak mengaji?” Kiyai Na’im mengulang tanya.

Menggeleng lagi Rahim.

“Kakak-kakakmu?”

Rahim mendongakkan kepala, memandang kejauhan. Benaknya menangkap wajah kakak-kakaknya. Harun jarang mengaji al-Qur’an, walau ia bisa. Aiysah selalu mengaji, selepas magrib. Umi dan Musa selalu pergi ke rumah Haji Ridlwan, mengaji di sana bersama-sama.

Dan dirinya sendiri?

Kembali Rahim menunduk.

“Kau sudah bisa mengaji, kan?”

“Sedikit…,” Rahim menjawab.

“Sedikit bagaimana?”

“Saya belum bisa mengaji, Mbah!” akhirnya Rahim mengaku. Akhirnya Rahim berbicara. Berbicara seakan ia tak pernah berbicara berhari-hari, atau seakan ia tak mampu berbicara sama sekali selama ini.

“Apakah bapakmu tak mengajarimu?”

Rahim menggeleng.

“Apakah kakak-kakakmu juga tak mengajarimu?”

Rahim menggeleng lagi.

“Dan ibumu?”

“Ibu menyuruhku ngaji, tapi pada siapa, Mbah? Aku malu, aku tak bisa mengaji. Tidak mungkin aku mengaji di rumah Haji Ridlwan.”

“Kenapa tidak mungkin, nak?”

Rahim menatap wajah Kiyai Na’im sebelum ia menjawab seperti ini, “Mereka semua sudah bisa mengaji, saya belum bisa! Lebih baik saya tak usah mengaji. Biarlah. Mas Harun, Mbak Aisyah, Mbak Umi, dan Mas Musa sudah bisa mengaji. Bapak juga bisa mengaji. Ibu juga bisa. Mereka semua sudah biasa. Saya tak usah bisa. Tidak apa-apa….”

Kiyai Na’im mendesah. Ditatapnya bocah laki-laki itu dengan lembut. Disentuhnya bahunya. Ia pun bertanya, “Maukah kau mengaji denganku? Di mushola?”

Rahim tak percaya.

Kedua matanya menatap lekat wajah sang kiyai.

Rahim diam.

“Bagaimana…?” Kiyai bertanya lagi.

“Benarkah?”

“Tapi kau harus minta ijin bapak dan ibumu!”

Kini Rahim yang justru mendesah. Dia berkata, “Mbah, Mbak Umi dan Mas Musa selalu mengaji setiap habis maghrib di rumah Haji Ridlwan. Mas Harun kadang pergi entah ke mana. Katanya, Mas Harus sedang jatuh cinta sama Mbak Mun. Simbah tahu kan Mbak Mun? Itu…anaknya Lik Muslimin, Mbah? Mbah, cinta itu apa? Kenapa Mas Harus jatuh cinta pada Mbak Munawaroh ya? Aneh! Mbah, setiap habis magrib, bapak selalu memintaku untuk menginjak-injak punggungnya. Jadi tak ada waktu bagiku untuk mengaji, Mbah. Lebih baik aku tak usah mengaji…”

“Tapi kau bisa sholat kan? Sholat dengan benar?”

Rahim mengangguk.

“Dari siapa kau belajar sholat?”

“Mbak Umi yang mengajariku, Mbah.”

“Datanglah sore hari ke mushola—Mbah akan menunggumu di sana.”

“Benarkah, Mbah?”

“Tetapi kamu harus tetap meminta ijin bapakmu.”

“Kalau bapak tak mengijinkan?”

“Insyaallah, bapakmu akan mengijinkanmu.”

Rahim tersenyum.

Kiyai Na’im juga tersenyum.

Kiyai Na’im bangkit dari duduknya. Ia berkata pada Rahim bahwa ia harus kembali ke sawah. Ia pun berpesan pada Rahim agar segera meminta ijin pada ayahnya. Rahim mengikuti Kiyai Na’im dengan pandangan matanya, hingga tubuh orang tua sepuh itu menghilang di balik gundukan tanah.

Di langit, matahari semakin naik ke puncak. Angin seakan berhenti bertiup membuat terik mentari semakin menyengat kulit. Tetapi Rahim tampak telah terbiasa dengan sengatan itu. Rahim sangat takut pada ayahnya, walau ia lebih takut kepada ibunya. Ayahnya telah menyuruhnya untuk menggarap ladang ini, dan karena itu ke tengah ladang ia pun kembali. Ia tak ingin dimarahi. Betapapun ia merasa letih, ia tak akan berhenti mencangkul hingga sang ayah selesai bekerja. Lengan mungilnya kembali mengayun-ayunkan cangkul.

***

← Kembali ke Daftar Bab