Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Pabila Rahim sampai di tepi ceruk, mendadak ia hentikan langkah. Matanya berbinar-binar. Suara-suara ciblek itu menjengkelkan, tetapi sekaligus menggemaskan. “Kali ini akan kutangkap kau!” seru Rahim tertahan.
Rahim meletakkan sabitnya di atas rumput. Juga cangkulnya. Lantas ia mengendak-endap di belakang pohon beringin. “Kutangkap kau! Kali ini pasti kutangkap!” Rahim berseru-seru sendiri, di kedalaman hati. Ia tak ingin ciblek-ciblek itu lepas lagi. Sebelumnya, seminggu yang lalu, rencana telah dibuatnya, telah pula dilaksanakan. Dari anyaman bambu, ia sudah membuat kurungan burung. Dan ciblek-ciblek itu sasarannya. Ia ingat kata-kata Pardi dua hari yang lalu:
“Kau harus diam. Langkah-langkahmu harus kau jaga. Mengendap-endap. Jangan sampai terdengar. Apalagi sampai didengar ciblek, kau harus jaga langkah-langkah kakimu sehingga tak terdengar oleh telingamu sendiri. Dekatilah pelan-pelan. Panjat pohon tanpa suara. Tahan nafasmu. Lalu tangkap dengan tangan kananmu!”
Itulah ‘teori’ menangkap ciblek yang telah diajarkan Supardi si penggembala ternak desa Siwalan. Kemarin teori itu gagal dipraktekkannya. Pagi ini, Rahim tak ingin gagal lagi.
Bak seperti ular, meliuk pelan, memeluk batang beringin, menjaga agar suaranya tak terdengar oleh para ciblek yang masih bersahut-sahutan. Beberapa saat kemudian, tampak Rahim telah bertengger di salah satu dahan. Tubuh mungilnya tertutup rerimbunan daun. Siapa pun orang yang ada di bawah pohon, tak akan menyadari jikalau ada Rahim yang tengah bersembunyi di atas sana. Tak juga Pardi yang sudah duduk di dekat ternak-ternaknya yang sedang merumput di atas ladang. Rahim semakin merasa aman di atas dahan persembunyiannya. Dan ia yakin, ciblek-ciblek menjengkelkan-menggemaskan itu pasti akan tertangkap. Kalau tak bisa semua, satu pun boleh juga!
Rahim bersaksi.
Dahan dan ranting bergoyang-goyang.
Rahim menahan nafas. Kepada salah satu ciblek yang nangkring di dekatnya itu, Rahim mengulurkan tangan. Dan dengan sebuah gerakan khusus, secepat kilat Rahim berusaha mencengkeram burung itu.
Tak kena!
Ciblek bersuit-suitan.
Rahim semakin memburu.
Lupa bahwa ia tengah nangkring di atas dahan.
Rahim meloncat, terbang dengan tangan terbuka. Jarak tangan kanannya dengan salah satu ciblek tinggal sedetik, sekelebat saja. ciblek terbang. Rahim pun terbang. Ciblek menjerit-jerit mengitari dedunan Beringin. Dan Rahim jatuh ke dalam ceruk.
“Hahaha…..”
Supardi berdiri di atas tempat duduknya. Mentertawai Rahim yang timbul tenggelam di dalam jelaga. Pardi memburunya, lalu bersama tawanya ia berdiri di tepi ceruk.
“Gagal lagi, gagal lagi!” Supardi berseru-seru.
Dengan susah payah, Rahim menepi. Membawa nafasnya yang tersengal-sengal. Mukanya merah padam. Pun sedikit pucat. Wajahnya itu tak menampakkan rasa kesal pada ciblek-ciblek. Sebaliknya, Rahim kali ini ikut tertawa. Terbahak-bahak.
“Besok kuajari membuat perangkap,” ucap Pardi tatkala Rahim telah duduk disampingnya. Kaosnya basah, juga celana pendeknya. Pun seluruh tubuh, kepala, dan rambutnya.
“Ajari sekarang, mas,” pinta Rahim.
“Besok saja,” jawab Pardi.
“Kenapa besok?”
“Karena hari ini aku sangat sibuk.”
“Ada tugas?” Rahim ingat kata ‘tugas’ ini yang diucapkan kakak-kakaknya berkali-kali, dan ia menggunakannya untuk bertanya pada Pardi.
“Sebentar lagi aku harus membawa kambingku ke kandang, kerbauku ke sungai.”
“Oh….”
“Kau sendiri kenapa siang baru datang?”
“Masih pagi, mas. Belum siang…”
“Tetapi aku sudah dari tadi di sini. kambingku sudah kenyang. Kau sudah sarapan?”
“Bu nanti akan mengirimiku makanan, mas…”
“Baiklah, sebab aku sudah makan. Habis tak tersisa…”
“Iya, mas…”
“Jangan sedih lagi, dik,” ucap Pardi. “Kita memang berbeda dari mereka. Dulu, saat seumuranmu, aku juga pernah sangat sedih tak bisa sekolah. Akhirnya kusadari bahwa kambing dan kerbau lebih menarik bagiku…”
“Tapi aku tak punya kambing. Apalagi kerbau…”
“Tak mengapa. Kau punya cangkul dan sabit…”
“Iya, mas….”
“Kita masih bisa bersenang-senang. Aku bisa menggambar, dan bisa kuajari kau menulis puisi…”
“Apa itu puisi, mas?”
“Kata-kata indah…”
“Darimana mas Pardi belajar…”
“Dari kambing dan kerbauku…”
“Hebat sekali, mas!”
“Bua jangan bersedih.”
“Iya, mas…”
“Kulihat tadi, ladangmu hampir selesai kau cangkul, dik…”
“Iya, mas.”
“Kapan-kapan kubantu kau mencangkul di sana…”
“Teribuasih…”
“Ayo bekerja. bajumu basah? Matahari akan mengeringkannya.”
Pardi berdiri.
Rahim pun berdiri.
Pargi menuju ternak-ternaknya kembali. Rahim meraih sabit dan cangkulnya, menatap sebentar ke arah rerimbunan beringin, menggeleng-gelengkan kepala. Rahim tersenyum. Sebentar kemudian, ia melangkah ke ladang.
***
Matahari sudah merangkak naik, tetapi sinarnya begitu panas terasa saat ini. Berkali-kali Rahim mengusap keningnya yang basah dengan ujung kaos putihnya yang telah kumal dan dekil itu. Dua setengah jam yang lalu baju dan celananya basah karena ia tercebur ke dalam ceruk, tetapi keringat yang mengalir di wajah, leher, dan punggungnya kini membasahi kaosnya, merembet ke dalam celana pendeknya.
Bibirnya tampak pucat. Keringat yang sempat menetes ke atas bibirnya dia biarkan masuk ke dalam mulutnya seakan menjadi air yang bening dan sejuk dan ditelan masuk ke dalam kerongkongannya. Lengannya yang kecil tak sebanding dengan gagang cangkul yang digenggam kedua tangannya. Gagang cangkul itu rupanya lebih besar dari lengan mungilnya. Dengan sekuat tenaga, ia angkat tinggi-tinggi gagang cangkul itu, lalu ia tancapkan sekuatnya ke dalam tanah. Berkali-kali. Di bawah sinaran mentari sejak tadi pagi, ditemani kesendirian dan aliran keringatnya itu. Sesungguhnya kerongkongannya telah kering. Lapar pun telah menusuk-nusuk. Tetapi ia ingat bahwa ibunya akan membawakan sarapan untuknya. Ingatan itu membuatnya semakin giat mengayunkan cangkul.
Hari ini memang hari Senin. Tepatnya Senin Wage. Mulai hari ini, ayahnya diminta Lik Bandi untuk membantunya mengerjakan sawah. Padi-padi telah tua dan menguning, dan panen tahun ini sepertinya melimpah ruah. Tikus, wereng, dan burung-burung kecil sepertinya enggan mengganggu padi. Air irigasi juga lancar. Lik Bandi, seperti warga yang lain, telah mulai lagi mencangkuli sawahnya, membolak-balik tanah, lalu menebarinya dengan benih padi, yang seterusnya nanti diharapkan tumbuh subur dengan air yang cukup, lalu menunggu panen lagi. Sawah Lik Bandi yang luas itu tak mungkin dicangkul sendiri, dan ayahnya diminta Lik Bandi untuk membantu mencangkulinya. Bersama dengan beberapa warga yang lain, juga orang tua yang telah berambut putih itu—Kiyai Na’im itu, dilihat dari ketinggian ladang ini, tampak ayahnya sibuk bekerja di sawah di bawah sana.
Dan Rahim harus bersendiri mencangkul ladang ini!
Sungguh, sebagai anak bungsu, seharusnya dia mendapatkan “hal-hal yang lebih” seperti yang didapat oleh anak-anak bungsu yang lain. Ilham, misalnya. Satu bulan yang lalu ayahnya telah membelikannya sepeda kayuh, sementara kakaknya merengek-rengek hingga mengancam akan minggat dari rumah agar dibelikan motor tetapi tak juga dipenuhi ayahnya, hingga detik ini. Begitu pula dengan Mahmud. Si gendut Mahmud itu punya tiga kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Tubuh Mahmud yang gendut itu harusnya lebih dari cukup menjadi bukti betapa bahagianya dia menjadi anak bungsu. Sungguh, ini bukan soal takdir: Bahwa tubuh Mahmud yang gendut itu sudah ditakdirkan dari sono-nya! Tetapi, kalaupun takdir, semua kakaknya itu tak ada yang memiliki tubuh gendut seperti itu. Menurut yang dia dengar, setiap hari Mahmud minum susu kental manis Indomilk warna putih yang ada gambar sapinya di dalam kotak di kalengnya itu. Kalau makan pun minimal memakai lauk telur goreng yang didadar atau dibikin mata sapi—sedang kakak-kakaknya cukup dengan tempe goreng atau bacem plus sambal gosrek cabe rawit hijau.
Lain halnya dengan si Nur. Demi mengejar ketertinggalan pelajaran-pelajarannya di sekolah, ayahnya mengirimkannya ke kota kecamatan. Nah, di dekat kantor kecamatan itu, tepatnya di sebelah kanannya, sudah lama dibuka kursus bimbingan belajar. Kalau tidak salah, kursus bimbel itu bernama Primagama. Para pengajarnya datang langsung dari Jogja. Di tempat itulah si Nur digembleng berbagai mata pelajaran. Harapannya, ayahnya tak akan melihat angka merah lagi di raportnya! Selama ini, angka merah itu terang menyala-nyala dan telah membuat kedua mata sang ayah pedih tiada terkira. Angka merah itu mengalahkan warna hitam yang hanya beberapa angka. Sungguh beruntung si Nur itu—anak bodoh yang amat beruntung!
Tetapi Rahim?
Kakak-kakaknya?
Harun telah duduk di bangku kelas 2 SMA, Aisyah fi kelas 1. Harun dan Aisyah sekolah di SMA N 1 Karanggede, yang terletak di desa Klari itu, dekat kantor koramil itu. Kakaknya yang ketiga, Umi namanya, menjadi juara di SMP-nya—kini ia duduk di kelas 3. Begitu pula dengan Musa yang duduk di kelas 2. Umi dan Musa satu sekolahan, SMP N 1 Wonosegoro. Setiap Senin seperti ini, mereka berempat keluar rumah dengan wajah yang ceria dan riang, berjalan beriring-iring menapaki jalan berbatu dan berkerikil, lalu dua puluh menit kemudian berpisah. Harun dan Aisyah naik bus ke arah kiri, menuju Klari; sedang Umi dan Musa naik bus ke arah kanan, menuju Wonosegoro.
Dan Rahim sendiri…?
Namanya memang Rahim.
Lengkapnya, Muhammad Rahim.
Begitulah ayahnya memberi nama, walau baru beberapa bulan terakhir ini dia tahu bahwa yang memberi nama Rahim itu ternyata bukan ayahnya, melainkan Kiyai Na’im: Kiyai mushola kecil yang bentuk bangunannya seakan-akan hendak ambruk itulah yang telah memberinya nama sebagai Rahim. Berbeda dengan semua kakaknya. Umi dan Aisyah nama yang terpilih ibunya, sedang Harun dan Musa adalah nama yang dipilih ayahnya.
Kulitnya seharusnya bersih dan kuning langsat seperti kakak-kakaknya itu. Seandainya Harun dan Musa tidak selalu berebut minyak rambut brisk dan memberinya sedikit dari minyak rambutnya, rambut Rahim akan hitam mengkilat, berbentuk ikal dan memikat mata. Ketika siang, mentari seringkali membakar kulitnya itu hingga warna kuning langsatnya tertutup dan berubah merah-menghitam dan bersisik. Kau mungkin pernah melihat anak-anak kecil bertelanjang dada mandi di kali di siang hari, dan kau perhatikan kulit anak-anak itu menjadi menyusut-mengkeriut dan bersisik—bua seperti itulah kulit Rahim di bawah matahari siang. Rambutnya yang ikal dan tampak sangat pas dengan bentuk wajahnya yang agak lonjong, karena cahaya mentari dan debu serta kotoran dan lumpur, membuat hilang elok rambut ikalnya, dan sangat kusut seperti benang-benang tak terawat dan tak terurus sama sekali. Itulah rambut ikal Rahim saat ini, sejak bertahun-tahun yang lalu.
Duh, andai cinta dan kasih sayang ia dapatkan dari kedua orang tuanya seperti cinta dan kasih sayang mereka kepada keempat saudaranya itu, dengan mudah orang akan mendapati betapa elok wajah Rahim; bening matanya, hitam melebihi pekat malam rambut ikalnya, indah senyumnya, manis lesung pipinya, kuning bersih kulitnya, wangi tubuhnya, lembut perasaannya, kuat tulang-tulangnya, dan cemerlang cahaya yang memancar dari wajahnya.
Tetapi sayang…
Dan alangkah sayang…
Rahim tak mendapatkan semua itu.
Seandainya saja takdir bisa diulang kembali, waktu bisa disorong menuju ke belakang, dan hati, pikiran, dan perasaan kedua orang tuanya berbeda seratus delapan puluh derajat tidak seperti saat ini, sungguh tak ada cemara elok nan ramping dan indah melebihi keelokan dan keindahan Rahim. Dua kakak laki-lakinya itu tak akan sebanding dengan rupa zahirnya, sedang dua kakak perempuannya terkalahkan oleh perangai lembut dan santunnya. Rahim tak akan mencangkul di pagi menjelang siang seperti ini; di hari pertama bernama Senin ini—Di hari ketika kakak-kakaknya dan semua anak seumurannya tengah berpacu dengan waktu, mengejar cita-cita, menjadi siswa-siswa dengan seragam dan sepatu serta tubuh-tubuh yang bersih-bersih dan wajah yang bersinar ceria.
Rahim tak mendapat semua itu.
Rahim seperti dikucilkan.
Dikucilkan dari dunia anak-anaknya sendiri.
Dikucilkan dari dunianya sebagai anak dari kedua orang tuanya, sebagai saudara dari saudara-saudaranya.
Bilamana tak ada yang mengucilkannya hingga saat ini, bua mereka adalah sinar matahari yang selalu membakar wajah dan kulitnya itu, juga angin yang sesekali berhembus sepoi-sepoi dari atas bukit hingga membuat tubuhnya tak terlalu tersengat mentari yang menyinarinya, juga pohon-pohon itu, elang yang mengepak-kepak di langit sana, juga kawanan bangau-bangau yang melintas dari selatan ke utara, air bening dan bersih yang mengalir dari air terjun di sebelah kirinya itu, serta kesunyian dan kesepian itu sendiri. Dan bilapun ada orang yang sangat memperhatikannya, bua itu adalah satu-satunya orang yang telah tua umurnya dan renta keadaannya. Kiyai Nai’im itu—seorang tetua desa yang tak pernah mendapatkan pengakuan dari siapa pun atas ketuaannya dalam olah batin dengan jiwa bijaknya.
Kembali Rahim mengusap peluh yang menempel di keningnya. Nafasnya terdengar terengah-engah. Tenggorokannya semakin mengering. Tadi ibunya berjanji akan mengiriminya makanan. Tetapi janji itu belum terpenuhi. Dan janji seperti itu sudah sering ia dengar. Dan dia pun sudah sangat hafal bahwa janji tinggallah janji. Janji hanyalah janji. Ibunya tak akan pernah mengiriminya makanan. Ayahnya pun seakan lupa keberadaannya di ladang ini. Bahkan mungkin ayah dan ibu kandungnya sendiri lupa bahwa mereka memiliki anak bungsu bernama Rahim!
Hanya Kiyai Na’im…
Ya, lelaki tua yang rambutnya sudah memutih semua itu yang memperhatikannya.
Seperti saat ini. Saat di mana kiriman makanan dari istri Lik Bandi telah datang di bawah sana. Ayahnya dan para pekerja yang lain sekarang ini tengah menyantap hidangan, dan pelan namun pasti Kiyai Na’im pergi menjauh.
“Mau ke mana, Ki?” seseorang bertanya.
“Istirahat di sana,” jawabnya. “Boleh kan?”
“Iya, silahkan, Ki…”
Ayah Rahim sendiri hanya tertunduk menyantap hidangan.
Dengan menahan pedih dan perih di hati, Kiyai Na’im melangkah tanpa dicurigai. Mengendap-endap di balik gundukan tanah, menoleh ke belakang memperhatikan apakah ayah Rahim dan para pekerja yang lain tengah memperhatikannya atau tidak, lalu ketika yakin bahwa mereka tidak memperhatikannya, ia pun melangkah kembali, menyusuri jalan setapak, menyibak dedaunan, melangkah pelan mendekati gundukan, terengah-engah sebelum akhirnya kedua matanya melihat punggung anak lelaki itu, yang masih membungkuk mengayunkan cangkulnya.
Kedua mata Kiyai Na’im berkaca-kaca….
***