Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Pagi ini terasa lembut sekali. Kabut putih masih berserak di sebelah selatan menjamah dedaunan dan membelai rerumputan. Angin timur berhembus lirih, dan bersamanya sinar mentari menerobos pepohonan. Wajah bukit Siwalan yang redup, pelan-pelan menjadi terang, menampakkan warnanya yang hijau, dengan beragam jenis pepohonan yang tumbuh di sana. Pada sebatang beringin dengan dedaunannya yang lebat di dekat sebuah ceruk yang airnya tak pernah mengering, sekawanan ciblek mulai berdendang riang. Burung-burung kecil yang punya nama latin Prinia Familiaris itu, di sini, di desa Siwalan ini, lebih sering disebut prenjak daripada ciblek. Seekor yang terbang berkisar-kisar mengitari buliran-buliran buah beringin di pucuk daun mengeluarkan suara ciklak…ciklak…pastilah ia adalah seekor pejantan. Suaranya langsung disambar oleh betinanya yang bertengger di ranting sebelah. Ciap…ciap…bunyinya. Jadilah paduan suara. Ciblek jantan memanggil, si betina menjawab. Ketika pagi, ciblek-ciblek itu selalu menyanyi di sini, bersahut-sahutan, berdendang-riang, berseri-seri. Desa dan bukit Siwalan seolah-olah akan mudah dikenali dari adanya senandung ciblek di pagi hari.
Ceruk Siwalan memang indah. Pohon beringin dengan batangnya yang besar itu menjaganya di sebelah kiri, seperti menempel pada salah satu jurang cadas tempat air berasal. Air bening keluar dari celah jurang, membentuk jelaga, cukup membenamkan empat ekor kerbau di dalamnya. Tetapi warga Siwalan bersepakat bahwa kerbau dan segala jenis ternak tak boleh menyentuh airnya. Tak juga empat ekor kambing dan dua ekor kerbau milik Supardi.
Sepagi ini, Pardi telah berendam di dalam ceruk, sementara ternak-ternaknya sedang merumput tak jauh dari sana. Hanya Pardi dan warga Siwalan yang boleh menggunakan ceruk. Dan ciblek-ciblek itu seperti tengah mengejek seorang bocah yang bernama Rahim, yang akhir-akhir ini selalu berusaha menangkapnya. Kemarin petang, terakhir kali Rahim mengintai dari balik beringin, mengendap-endap, memanjat pelan batang beringin itu. Ketika tangannya hampir berhasil menangkap salah satu ciblek, ciblek itu melesat terbang. Rahim kecewa. Ciblek teriak kegirangan.
Kurang lebih setengah kilo menuju ke utara, ketika matahari mulai memberikan sinarnya yang hangat, dan kabut pun rebah di atas tanah, beberapa anak kecil tampak berjalan menggendong tas punggung. Rupa-rupanya mereka hendak berangkat sekolah, berjalan menuju ke timur, menaiki tanjakan, dan gedung bercat kuning SD mereka seakan sudah menunggu sekian lama. Ini adalah Senin pagi, dan jalanan desa biasa dipenuhi anak-anak yang hendak berangkat sekolah. Berlawanan arah dengan mereka yang menuju arah timur, tiga orang pelajar SMP, dua orang pelajar SMA, hampir berbarengan berjalan menuju ke barat. Ketika mereka sampai di depan rumah bercat hijau muda, dinding separuh bagian atasnya terbuat dari papan, berpagar bambu, persis berseberangan dengan masjid, salah seorang pelajar itu berhenti, diikuti temannya.
“Aisyah…..!” dia memanggil sembari menatap pintu rumah itu. “Aisyah…!”
Beberapa saat kemudian, seorang gadis berkerudung putih berseragam putih abu-abu, keluar dari dalam rumah itu. Wajahnya tampak kusut di pagi yang memikat ini. Sepertinya ia merasa kesal pada kakaknya yang muncul kemudian.
“Mas Jahat…!” ia berkata, menggerutu, tanpa menoleh ke belakang.
“Besok aku ganti,” sang kakak menjawab.
“Aah, paling-paling bohong lagi.”
Wajah Aisyah berubah cerah begitu ia sampai di samping teman yang memanggilnya tadi. Kesal kepada sang kakak hilang seketika. Sekarang ia berjalan bersama mereka, tetapi ia tak mau berada di samping Harun, kakaknya. Para pelajar itu memenuhi jalan seakan tengah berjalan bukan di jalan utama desa. Ketika motor atau mobil hendak melintas, mereka baru minggir. Ah, begitulah mereka. Canda Aisyah dan teman-temannya mewarnai pagi. Dan bersama cekikikan dari bibir-bibir mungil itu, mereka menghilang di tikungan.
Tak berapa lama setelah Harun dan Aisyah berlalu dan hilang di tikungan, dari rumah yang sama muncul Umi dan adiknya, Musa. Seragam keduanya putih-biru menandakan mereka masih sekolah di tingkat SMP. Mulut Musa masih mengunyah-kunyah sisa-sisa sarapan pagi, membuat sang kakak memerah pipinya seraya berkata, “Kau ini sudah kelas dua, masih saja seperti anak kecil yang tak tahu malu.”
“Loh, emang kenapa mbak?” pura-pura dungu Musa bertanya.
“Tamu-mu itu suruh masuk!”
“Tamu….?”
“Nih….!” Dengan gemas Umi mengambil sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Musa. Lalu membantingnya keras-keras di atas tanah seakan membanting piring Rahim, adik bungsunya, karena saking kesalnya. Musa terkekeh. Tetapi mereka tampak sangat akrab. Sangat rukun. Rasa kesal Umi kepada Musa hanya sesaat saja, sebab wajahnya sudah kembali ceria seperti keceriaan bunga menyambut pagi. Sebentar kemudian, kakak-beradik ini pun telah hilang di tikungan.
Jalanan desa menjadi sepi. Bila ada satu dua orang yang tampak, mereka adalah warga yang hendak menuju ke sawah atau ladang. Sawah-sawah terbentang di utara desa, sedang ladang-ladangnya terbentang di selatan, menaik menjadi pemandangan bukit Siwalan. Memang ada sebagian sawah yang terletak di bawah ladang, dan berarti berada di selatan desa. Dari atas bukit, sawah di dekat ladang ini memikat pandangan mata. Tak perlu dikatakan bahwa aktifitas pagi di desa Siwalan selalu saja berupa warga yang pergi ke sawah atau ladang, meningkahi anak-anak mereka yang berjalan menuju ke sekolahnya masing-masing.
***
Dari rumah bercat hijau muda, dinding separuh bagian atasnya terbuat dari papan, berpagar bambu, persis berseberangan dengan masjid, rumah di mana Harun, Aisyah, Umi, dan Musa keluar dari dalamnya, cerita ini bermuara. Keempat anak itu memiliki seorang adik bernama Rahim. Dan tak seperti keempat kakaknya yang girang bersenandung riang menuju ke sekolah, si bungsu Rahim tak bersekolah. Bukan karena umurnya yang belum cukup, bukan pula karena akalnya yang bodoh, bukan pula karena tak memiliki minat untuk bernyanyi dan belajar menulis dan membaca. Masa ini bukanlah masa purba dimana anak-anak akan merasa aneh dan asing dengan apa yang disebut sebagai sekolah. Kecuali bagi orang tua yang akalnya tak tersentuh pengetahuan, semua anak akan merasa senang dengan sekolah. Pabila Rahim tak bersekolah, pasti ada sebab-sebab lain dimana bila sebab-sebab itu dipersatukan, akan menjadi jalinan kisah hidup Rahim. Ialah kisah hidup seorang bungsu yang harus selalu menerima kenyataan, dan di usianya yang masih bocah, ia harus melakukan tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan yang selayaknya dilakukan oleh para orang tua. Bahkan tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan itu jarang—amat sangat jarang—dilakukan sendiri oleh Harun dan Musa, kakak-kakak laki-lakinya!
***
Beberapa saat setelah sepi menubruk jalan, pintu rumah bercat hijau muda itu ditutup dari dalam. Yang menutup pintu itu adalah Rahim. Ia berjalan menuju ke jendela kaca, menatap keadaan luar, dengan pandangan mata yang menerawang. Sepasang bibirnya terkatup rapat, nafasnya turun-naik pelan, matanya mengerjap-kerjap seakan menahan dengan sekuat tenaga agar tak ada air mata yang tumpah dari sudut matanya. Ia tak mengenakan seragam, seperti kakak-kakaknya. Ia pun tak bersepatu. Bahkan kaos putih yang dipakainya itu tampak sangat kusam untuk mengawali hari senin yang memikat ini.
Bagi anak-anak yang lain, Hari Senin adalah hari yang baru dimana mereka akan segera bertemu dengan teman-temannya yang berasal dari mana-mana, bercanda tawa, mendengarkan pelajaran dari para guru, istirahat dan pergi ke kantin sekolah, dan kalau perlu bermain tinju, berkelahi tetapi rukun kembali. Tetapi bagi Rahim, hari Senin adalah hari yang berat. Amat sangat berat. Berat bagi seorang anak yang terlahir sebagai bungsu dari lima bersaudara, tetapi tidak bisa menjadi seperti anak-anak yang lain dan kakak-kakaknya.
Rahim menunduk. Ingatannya melayang kembali. Yang diingat adalah saat terakhir kali ia merengek dan menangis, terbata-bata memohon pada bapaknya, “Aku ingin sekolah. Seperti mereka. Seperti kakak-kakak semua…”
Dijawablah permohonan Rahim itu dengan ucapan keras bapaknya, “Tempatmu bukan sekolah. Tapi di ladang sana! Tak ada sekolah buatmu. Tak ada guna….”
“Aku ingin sekolah,” Rahim masih merengek. Tetapi kali ini suaranya semakin lirih.
“Kau laki-laki—hapus air matamu!” teriak bapaknya lagi. “Memalukan. Apa perlu kuhajar kau supaya diam!”
Dan diamlah Rahim.
Diamlah ia seketika…
Burung-burung ciblek bolehlah mengejek-ejek karena sulit ditangkapnya. Tetapi mata yang melotot, ucapan yang keras, dan penolikan yang disertai sumpah-serapah dari bapaknya, membuat Rahim ciut nyali. Nyalinya yang memang kecil, sekecil tubuh dan sependek umurnya, membuat Rahim diam tak memohon lagi. Untuk selama-lamanya.
Puas dengan tatapan mata ke arah jalanan itu, Rahim beranjak dari dekat jendela, memasuki ruang tengah, lalu menuju dapur. Tak ada bapak. Juga tak ada ibu di sana. Tetapi Rahim tidak sedang mencari bapak atau ibunya di dapur. Ia berjalan ke meja di sudut dapur. Di atas meja itu, tutup makanan yang berwarna merah tua, menarik minatnya untuk dibukanya. Rahim mendesah pelan. Berharap-harap cemas. Berharap ia akan melihat masih ada sisa-sisa makanan untuknya sarapan. Tangan kanannya yang mungil itu pun segera membuka penutup. Lalu, yang dilihatnya hanyalah piring-piring kosong yang bertumpuk empat: Piring Harun, Aisyah, Umi, dan Musa. Di samping tumpukan piring, bakul tempat nasi tergeletak, dan hanya menyisakan nasi-nasi yang menempel di dinding bakulnya. Diangkatnya pelan piring-piring itu, seperti pengemis yang mencari-cari sisa makanan. Lalu, matanya berbinar. Wajahnya riang. Dilihatnya sepotong ikan asin tinggal kepalanya itu tergolek di tumpukan kedua.
Rahim duduk. Ia segera meraih bakul, dan dengan jari-jemarinya ia ambil butiran-butiran nasi dari dalamnya. Dikumpulkan. Pelan-pelan. Satu per satu. Sebentar kemudian, buliran-buliran nasi itu membentuk seperempat tinju kecilnya. Bukan ukuran yang banyak, walau untuk makan seorang anak. Tetapi Rahim senang. Ia pun siap menyantap sarapan.
Tetapi tiba-tiba, ibunya muncul dari pintu dapur. Memergoki Rahim yang makan dari piring kotor bekas kakaknya. Mata sang ibu memelotot. Diturunkannya ember, lalu didekatinya Rahim sembari menjerit:
“Otakmu kemana, heh!”
Nyali Rahim mengkerut kembali.
“Sudah tahu itu piring kotor,” seru ibunya lagi, “dasar menjijikkan.”
Sang ibu menyambar piring itu dari hadapan Rahim. Nasi yang tadi dikumpulkan Rahim dengan susah-payah, kini dihamburkan sang ibu ke atas lantai. Dengan ekor matanya, Rahim memandangi buliran-buliran nasi yang berserak itu. Sementara, mulut sang ibu mendesis-desis, menyambar jiwa Rahim dengan umpatannya. “Anak tak berguna. Cepat pergi sana!”
Rahim beranjak pelan dari tempat duduknya.
“Kalau kau lapar,” teriak ibunya lagi, “kalau kau mau makan, nanti kukirimi kau ke ladang!”
“Iya, bu,” jawab Rahim. Pendek.
“Dasar anak tak berguna!” seru ibunya lagi.
Rahim tak menjawab. Ia hanya melangkah ke dekat pintu.
“Menjijikkan sekali,” ucap ibunya lagi…
Dan Rahim mengambil sabit yang terselip di samping pintu.
“Sudah tahu piring kotor, mau dipakai untuk makan!” sang ibu mengulang gerutunya.
Kini Rahim keluar dari pintu belakang. Ia pun meraih cangkul yang teronggok di dekat tumpukan kayu.
“Anak tak berguna….,” suara sang ibu masih terdengar dari dalam dapur.
“Aku berangkat dulu, bu,” lirih Rahim berucap. Untuk ibunya, walau itu ditujukan bagi dirinya sendiri. Sesungguhnya sang ibu tak peduli apakah Rahim berpamitan atau tidak.
“Ndak usah pulang sekalian….,” masih juga terdengar sang ibu berseru-seru.
Kali ini, Rahim bersicepat pergi ke ladang. Tak ia hiraukan lagi umpatan ibunya….
***