Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Di mana pun, desas-desus selalu mencipta ruang untuk menilai benar dan salah. Desas-desus itu seperti bau kentut yang tak jelas siapa yang mengeluarkannya tetapi baunya telah menyebar ke mana-mana. Seperti itulah desas-desus tentang Dlori dan Zulfin tentang kelahiran anak-anak mereka yang berjarak sangat dekat itu. Dan semakin bertambah besar usia kehamilan Zulfin, semakin santer saja warga memperbincangkannya. Sebagian orang memandang sinis terhadap keluarga itu. Sebagiannya menanggapi secara biasa-biasa saja. Dan sebagian kecil bersimpati kepada mereka.
Desas-desus itu pun akhirnya sampai juga ke telinga Dlori dan Zulfin. Sebagai seorang suami dan laki-laki, tentu Dlori menanggapi secara berbeda dengan istrinya. Dlori adalah seperti kaum lelaki pada umumnya yang “tebal telinga” selain “tebal muka”. Itu adalah hal yang wajar, ujarnya kepada sang istri, bila para tetangga berbicara ini dan itu tentang kita.
“Di dunia ini,” kata Dlori pada Zulfin di suatu malam di saat ketiga anaknya sudah terlelap, “kita tidak bisa mengharap semua orang akan selalu baik pada kita, istriku. Tetapi tidak berarti semua orang itu jahat kepada kita. Ada orang baik. Pun ada orang jahat. Ada orang yang pura-pura baik tetapi sesungguhnya jahat. Ada pula orang yang tampaknya jahat walau hakikatnya baik. Engkau jangan terpengaruh omongan para tetangga yang tidak baik tentang kita—tentang kau dan anak-anakmu. Jangan pula mencari alasan kenapa mereka bisa menggunjing seperti itu. Mencari tahu alasan mengapa, justru akan menambah beban di pikiranmu saja. Tidak penting pula memikirkan apa tujuannya mereka menggunjing-gunjing seperti itu. Sudah kubilang bahwa hidup bertetangga, bermasyarakat, itu memang seperti ini. Ada yang baik, ada yang pura-pura baik. Ada yang jahat, ada yang pura-pura jahat. Itu harus kita terima apa adanya.”
Dlori melanjutkan, “Oh, Zulfin istriku..oh, ibu dari anak-anakku…, janganlah terlalu murung seperti itu. Di mana wajah istriku yang selalu ceria selama ini? Ingat, kandunganmu semakin membesar. Jangan cemas. Jangan bersedih. Jangan pula marah. Terhadap orang-orang yang menggunjing, kita tidak perlu membuka telinga kita untuk mendengarnya, sebab semakin terbuka telinga kita, itu sama artinya semakin menyakiti diri kita sendiri, menyakiti perasaan dan hati kita sendiri. Tutuplah telingamu dari pergunjingan itu! Tak usah mendengarkan. Tak usah kau dengarkan.”
“Tetapi, mas,” ujar Zulfin setelah sekian lama terdiam dengan pikiran yang gelisah dan termangu-mangu, “aku bohong bila aku bilang bahwa aku tak terpengaruh oleh omongan itu. Sakit, mas. Hatiku sakit. Mereka bilang aku tak tahu diri, tak tahu malu, sebab tiap tahun selalu melahirkan anak-anakku. Hatiku sakit, mas. Sakit sekali. Mereka bilang, aku selalu melahirkan tiap tahun seperti ini karena aku mengharap sumbangan mereka. Mas, adakah orang di dunia ini yang kaya dari sumbangan?”
“Ya, Allah. Kenapa kau terlalu jauh memikirkannya?”
“Jawablah…, beri hatiku rasa tenang.”
“Justru kau tak akan merasa tenang bila memikirkan omongan mereka, istriku.”
“Aku tak bisa, mas. Aku perempuan. Aku bukan kau dengan pikiranku. Aku hanyalah aku dengan hatiku. Aku punya perasaan, mas. Dan perasaanku sakit saat ini.”
“Lalu, menurutmu, apa yang akan kau lakukan untuk mengobati rasa sakitmu itu, istriku?”
“Aku tidak tahu, mas. Beri tahu aku.”
“Kau acuhkan saja omongan mereka.”
“Aku tidak bisa…”
“Tutup telingamu dari mereka.”
“Omongan itu telah masuk ke dalam hatiku, percuma aku menutup telinga.”
“Lalu kau ingin membalas menyakiti mereka, membalas rasa sakit dengan memberi sakit? Begitukah? Tetapi dengan cara apa?”
“Aku minta petunjukmu, mas.”
“Zulfin, istriku,” Dlori terus mencoba memberi pengertian. Dielus-elusnya perut Zulfin dengan sepenuh kasih. Zulfin sendiri menyandarkan punggungnya pada bantal. “Jangankan terhadap orang yang buruk, terhadap orang yang baik pun seringkali orang tak segan-segan menggunjingnya. Kau ingat kan Kiyai Rofi’i?”
“Rofi’i siapa, mas?”
“Mbah Rofi’i, yang meninggal lima tahun silam…?”
Zulfin mencoba mengingat-ingat.
Sambil terus memperhatikan wajah istrinya itu, Dlori melanjutkan, “Apa coba salah Mbah Rofi’i pada Pakde Tohar? Setahuku, tidak ada. Mbah Rofi’i tak pernah menyakiti hati siapa pun di desa ini, termasuk Pakde Tohar. Banyak orang bilang Mbah Rofi’i itu bukan semata-mata orang tua. Beliau orang linuwih. Mbah Na’im malah mengatakan beliau itu kiyai besar. Coba renungkan: Orang yang baik dan mulia seperti Mbah Rofi’i almarhum saja masih digunjing-gunjingan—apalagi terhadap kita, istriku?”
“Maksudnya gimana, mas? Aku sama sekali tidak paham…”
“Artinya, mau kita sukai atau tidak, pasti akan selalu ada orang yang suka menggunjing, pasti akan selalu ada orang yang bersikap buruk, walau kita tak pernah menyalahinya, walau kita tak pernah membuat persoalan dengannya.”
“Kenapa ada orang seperti itu, mas?”
“Karena hidup memang harus seperti itu.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Sebentar lagi kau akan melahirkan, dik. Itu adalah anak keempat kita. Percayalah—sebab aku pun percaya seperti yang dikatakan Haji Ridlwan—banyak anak pasti banyak rejeki. Yang hamil dan punya anak itu kau, dan akulah yang menghamilimu. Hehe…”
“Mas jangan bercanda dong…?”
“Bua hapuslah cemberut itu. Percayalah pada orang yang layak dipercaya seperti Haji Ridlwan. Dengarkanlah orang yang layak untuk didengar seperti beliau. Dan kita telah membuktikan kebenaran ucapan beliau itu—seperti juga kebajikan yang telah diajarkan nenek-moyang kita….,” sejenak, Dlori terdiam, pikirannya menewarang, menelan ludah, menghembaskan gundah, “ah, aku merasa bahwa rejekiku dari tahun ke tahun semakin luas, dik. Hasil panen kita tetap terjaga, dan bahkan semakin banyak. Ini karena anak-anak kita. Belum tentu, jika kita hanya memiliki satu anak, rejeki kita akan melimpah seperti ini. Sungguh aku bahagia dengan kehadiran anak-anak kita. Aku senang kita punya banyak anak. Lebih banyak, lebih baik.”
Zulfin mencubit hidung Dlori mendengar kalimat terakhir yang diucapkan suaminya itu. Gemas. Manja. Ujarnya, “Maumu yang enak-enak saja, mas…”
“Kan memang enak, dik?”
“Kau yang enak, aku kesakitan saat melahirkan.”
“Kesakitan, tetapi enak kan?”
“Ah, sudahlah. Pokoknya empat anak saja. Cukup.”
“Dua lagi, dik…”
“Nggak ah. Capek melahirkan…”
“Tetapi tidak capek membuatnya kan?”
“Ah, mas…”
“Aduh…,”
Dicubitlah pinggang suaminya. Mengaduhlah Dlori, dan suara aduhan itu sempat membuat si kecil Umi menggeliat. Dlori pun segera bangkit, memberi waktu dan kesempatan pada istrinya itu untuk melelapkan Umi kembali.
***