Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Tutuplah Telingamu

📅 02 July 2026 📚 Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 13 menit baca 📑 Bab 7

Seperti kata pepatah, biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Seperti itu pulalah sikap Dlori menanggapi orang-orang yang berkasak-kusuk tentang kehidupan kekeluargaannya. Dlori tak terpengaruh. Hati dan perasaannya tak tersentuh. Baginya cukup jelas: Mendengarkan orang yang menilai dan memandang buruk tentang kita sedangkan kita tak seperti penilaian dan pandangan buruk itu adalah tindakan bodoh sebodoh-bodohnya. Dan Dlori tak mau sebodoh-bodohnya itu.

Lidah manusia sangatlah tajam. Untuk menumpulkannya, kita hanya perlu mendiamkannya. Karena itu, alih-alih Dlori menanggap-nanggapi kasak-kusuk yang tidak jelas itu—karena kasak-kusuk memang selalu tak jelas ujung pangkalnya bukan?—, ia lebih giat bekerja lagi. Ia keluarkan segenap daya dan upayanya untuk mendapatkan hasil panen yang lebih melimpah lagi. Tak segan-segan, ia menyewa sawah seorang warga dari desa sebelah selama satu tahun. Ia pun menyewa ladang dari desa yang lain. Kebetulan, orang yang disewa sawahnya itu memang tengah membutuhkan biaya yang cukup besar untuk keperluan pengobatan anaknya yang sakit keras.

“Sakit apakah, Paklik?” tanyanya, ketika itu.

“Ndak tahu, Pakde. Aku sudah berikhtiar ke sana ke mari, tapi ndak sembuh-sembuh juga. Badannya selalu panas. Panasnya ndak turun-turun. Bahkan aku juga telah pergi ke dukun—katanya anakku kena teluh, Pakde. Astaghfirullah….”

“Lalu apa yang bisa aku bantu, Pakdlik?”

“Ah, seandainya saja Pakde mau menyewa sawahku….,”

Orang itu tak melanjutkan perkataannya. Hatinya sepertinya memang tengah dihimpit kesedihan dan penderitaan oleh sebab memikirkan sakit anaknya. Hatinya sedih. Hatinya bingung. Perasaannya gundah, sangat-sangat gundah. Tetapi dalam situasi yang sulit seperti itu, pikiran Dlori lancar bekerja. Lancar selancar-lancarnya!

Yups…

Ini adalah kesempatan.

Kesempatan emas!

Momentum yang tepat untuk berbisnis!

Otak bisnisnya pun jalan. Sejalan-jalannya. Orang itu membutuhkan uang untuk pengobatan anaknya, dan dia sendiri membutuhkan sawah itu demi anak-anaknya. Orang itu datang menawarkan sawahnya, dan menilik suasana hati dan kenyataan yang tengah dialaminya, dia bisa menekan harga sewa pada tingkat yang rendah serendah-rendahnya!

Tercapai kesepakatan!

Walau, bagi pemilik sawah itu, uang yang didapatkannya tak seberapa. Sungguh, dalam situasi “normal” dan “biasa-biasa saja”, misalnya jika anaknya tak sakit keras dan membingungkan seperti sekarang ini, tentu dia tak akan sudi menyepakati kesepakatan tidak tertulis itu. Dlori bisa dianggapnya sangat merendahkannya. Menghinanya. Tetapi apa hendak dikata? Nyawa anaknya lebih penting dari nilai uang itu sendiri. Dan, walau dengan berat hati, diterimalah uang yang tak seberapa itu. Dan lebih baik bagi kita untuk tidak mengetahui berapa persisnya jumlah uang tersebut. Kita tak perlu tahu, sebab itu akan melukai hati dan perasaannya.

Lain halnya dengan Dlori. Ibarat kata, pucuk dicinta ulam pun tiba. Barangkali ia pun ingat kalimat tinggi dari kitab suci yang senantiasa didengung-dengungkan Haji Ridlwan:

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. ath-Thalaq: 2-3).

Ya, bagi Dlori, Tuhan telah memberinya jalan kemudahan melalui orang yang memiliki sawah itu. Demi anak-anaknya, Tuhan telah membuka dan memperluas pintu rejekinya. Hatinya pun semakin berbunga-bunga manakala ladang yang lumayan luas milik seorang warga dari desa tetangga pun disewakan kepadanya. Pemilik ladang itu satu desa dengan pemilik sawah. Ketika pemilik ladang menyampaikan kesulitan yang tengah dialaminya, pemilik sawah pun menyarankan pemilik ladang agar menyewakan ladangnya pada Dlori.

“Tetapi harganya murah,” tetapi pemilik sawah itu mengingatkan.

“Semoga dia mau menyewa dengan harga yang lebih tinggi,” harap pemilik ladang.

“Ilahi amin. Semoga begitu, dik.”

“Mau gimana lagi, mas. Masalahku sama seperti masalahmu. Kita ini orang miskin, tetapi Allah semakin menguji kita dengan sakit orang-orang yang kita sayangi. Anakmu sakit. Ibuku stroke. Kita harus bagaimana lagi? Aku tidak mau berhutang. Hutangku sudah banyak. Aku tidak mungkin bisa berhutang lagi. Ingin rasanya aku jual ladang itu, tetapi, kau tahu, ladang itu penting bagi keluargaku. Sawahku sempit, mas. Sawah kita sempit.”

“Jangan berputus asa, dik. Allah pasti bersama kita!”

“Aku tidak berputus asa, mas. Aku hanya bingung dengan rencana Allah dalam hidupku yang seperti ini.”

“Allah tidak punya rencana, dik. Kau jangan keliru. Allah hanya berkehendak. Kehendaknya adalah Diri-Nya itu sendiri. Jangan sampai keliru. Dan kehendak-Nya selalu baik, sebab Dia Mahabaik. Selalu berprasangka baik kepada Allah itulah yang harus kita lakukan, dik.”

“Semoga aku bisa seperti itu, mas.”

“Amin, Amin. Ya, Rabb al-‘alamin.”

Datanglah pemilik ladang itu menemui Dlori di sawah pemilik sawah. Ketika itu Dlori tengah membuat rencana tentang sawah yang telah disewanya itu. Seandainya sawah seluas ini ditanami melon semua, duh…betapa hebatnya.

Tanpa basa-basi yang berarti, pemilik ladang langsung mengutarakan maksudnya. Mengutarakan maksud hatinya dipenuhi dengan harapan yang tinggi kepada Dlori agar Dlori memiliki hati yang baik untuk menerima tawarannya.

Dlori tidak langsung menanggapi tawaran itu.

Sepertinya, Dlori berpikir agak keras mengenai hal ini. Ladang berbeda dengan sawah. Ladang tak mungkin ditanami melon, sebab pengairan di sana tak secukup pengairan di sawah. Ladang paling bisa ditamani seperti biasa; singkong, kacang tanah, jagung, atau kedelai. Dlori terus berpikir. Terus mencari. Mencari-cari kira-kira akan menguntungkan atau tidak bila dia menerima tawaran itu.

“Tolonglah saya, mas. Demi ibu saya,” pemilik ladang itu mengiba.

Dlori mendesah, seakan tak mendengar ibaan itu.

Pemilik ladang menghela nafas, menelan ludah. Di pelupuk matanya, tergambar jelas wajah ibunya yang pucat pasi—jari jemari tangannya yang bengkok, lengannya yang menekuk, begitu pula dengan kedua kakinya. Hendak tumpah rasanya air matanya saat ini, tetapi ia sadar bahwa ia tengah berhadapan dengan seseorang. Dan seseorang itu, saat ini, seperti Tuhan yang diharapkannya dapat membantu.

Mendadak cahaya terbit di pikiran Dlori. Ia telah menemukan jalan. Ia akan terima tawaran itu, dan ia akan tanami ladang itu nanti dengan tanaman yang “tidak seperti biasa”. Tetapi ia adalah pebisnis, begitu ia mengatakan tentang dirinya sendiri saat ini. Pemilik ladang itu sendiri yang datang menemuinya untuk menawarkan ladanganya. Pemilik ladang itulah yang membutuhkan, dan dia bisa dikatakan sebagai tidak membutuhkan. Yang membutuhkan menawari yang tidak membutuhkan, maka yang membutuhkan harus mengikuti aturan yang tidak membutuhkan. Begitulah bisnis. Permufakatan culas.

Karena itu, setelah berkisar-kisar ke sana ke mari seakan-akan merasa keberatan untuk menyewa ladang itu, tercapailah kesepakatan itu. Dan kau, sekarang, harus tahu bahwa harga sewa ladang berbeda dengan harga sewa sawah. Harga sawah lebih mahal daripada harga ladang. Kau sendiri akhirnya akan tahu, betapa murah Dlori menyewa ladang itu….

***

Seperti kata pepatah: Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Tetapi Zulfin bukan Dlori suaminya. Zulfin tidak bisa seperti itu. Sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, juga seorang istri yang tengah hamil besar mengandung anaknya yang keempat, ia juga seorang tetangga bagi para tetangganya. Ia memang lebih banyak diam di dalam rumah, tetapi kasak-kusuk itu seumpama hantu yang terbebas dari ruang dan waktu dengan sepasang bibirnya yang selalu menindas dan mengata-ngatainya. Harun telah berlarian ke sana ke mari, berteman dengan teman-teman kecilnya, mencari ikan atau menangkap capung di kebun. Harun pun tidak bisa berangkat ke PAUD lagi seiring dengan perut ibunya yang semakin membesar. Harun masih terlalu kecil untuk mengasuh adiknya, Aisyah. Terkadang Zulfin harus berteriak-teriak memanggil-manggil Aisyah dan menyuruhnya pulang ketika Aisyah lari terbirit-birit mengejar kakaknya yang bermain layangan.

Satu sisi, Zulfin kadang merasa berat dengan kehidupannya saat ini. Rasa berat itu bukan karena ia mulai merasa kewalahan dalam mencukupi kebutuhan-kebutuhan ketiga anaknya. Tidak. Sekali-kali tidak. Dalam masalah ini, rejeki yang diberikan-Nya tetap mengalir deras, mengucur bagai hujan di senja hari. Rasa berat yang menggelayuti jiwanya itu adalah rasa kewalahan dalam memberikan perhatian yang sama dan setimpal untuk ketiga anaknya. Si kecil Umi belum bisa berjalan, hingga saat ini. Ke mana-mana, Umi harus digendong atau dibopong. Tak seperti kedua kakaknya, Umi tak mendapatkan ASI yang cukup. Oh, sungguh kasihan sekali. Tetapi apa hendak dikata? Hari-hari kelahiran akan segera tiba. Suaminya tampak lebih giat bekerja, menghabiskan banyak waktu di sawah kalau tidak di ladang. Zulfin harus bekerja sendirian di rumah; mengawasi anak-anaknya, membuat sarapan, membuatkan kopi untuk suami terkasih, menenangkan Aisyah yang sering merasa jengkel dengan tangisan yang keras-keras, menemani Harun yang minta diajarkan huruf-huruf dan angka-angka, menidurkan Umi yang sulit tidur, dan seterusnya. Di pagi hari ketika adzan subuh baru saja terdengar, udara yang berhembus dingin dan masuk dari celah-celah dinding tak berpengaruh padanya. Subuh baru saja berlalu, namun keringat telah membasahi dahi dan tengkuk si ibu itu.

Di sisi yang lain, hantu kasak-kusuk itu benar-benar menghantuinya, membuatnya semakin enggan untuk duduk-duduk di luar rumah, bergabung dengan para tetangga, membahas gosip-gosip lokal, atau saling curhat tentang kehidupan sehari-hari. Sejak ia mendengar bahwa ada orang-orang tertentu dari para tetangga itu yang selalu saja membicarakannya, mulai bersemilah rasa tidak suka dan tidak senang kepada mereka. Kumasi dan Jumilah, istrinya, serta Muh. Tohar dan Barokah, istrinya, adalah dua keluarga yang rasa-rasanya tidak akan ia temui sepanjang hidup. Di mana-mana, kata beberapa tetangga, dua keluarga itu selalu membuka percakapan tentangnya. Menggunjing-gunjingkannya:

o Sebentar lagi kita harus nyumbang lagi…
o Sebentar lagi dia akan punya anak lagi
o Setahun sekali dia melahirkan bayi
o O, dasar perempuan yang hobi bunting dan bunting lagi
o Dst
o Dsb.

Belum lagi ditambah kesombongan dan keangkuhan dari ucapan-ucapan Muhaya dan istrinya, Wuryani, yang selalu membangga-banggakan kesuksesan anak-anaknya.

“Muniri, anakku yang pertama, baru saja membeli mobil baru lho!” ujar Wuryani, sangat bangga. Muniri memang anak pertamanya. Ia bekerja sebagai tukang kelapa di pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak lulus SMA, Muniri sudah merantau ke sana. Ia tak kuliah. Tak perlu kuliah, begitu keyakinan kedua orang tuanya. Kuliah tak bisa membuat orang menjadi kaya. Kuliah hanya menghambur-hamburkan uang saja. Lihat saja, betapa banyak sarjana menganggur-anggur, padahal orang tuanya telah menjual sawah dan tanah untuk membuatnya sebagai sarjana. Tanpa kuliah, buktinya Muniri bisa membeli mobil. “Bandingkan dengan Zidni itu—anak Pak Sholeh.” Ia meneruskan, “Sawah Pak Sholeh hampir habis kan sekarang? Dijual untuk apa coba, kalau bukan untuk membiayai kuliah Zidni? Tapi mana hasilnya? Sudah dua tahun anak itu nganggur. Tiap hari tiap malam, kerjaannya hanya ngelayap tak jelas. Hasil kuliahnya hanya menghabiskan uang dan sawah bapaknya saja! Oh, kasihan sekali….”

Suaminya, Muhaya, tak kalah angkuhnya ketika berbicara tentang anaknya yang kedua, Usman. Katanya pada para tetangga, “Anakku Usman itu dikuliahkan oleh anak pertamaku, Muniri. Ya, Allah, padahal aku merasa tidak mampu menguliahkan Usman. Tetapi apa boleh buat, Muniri telah bertekad. Sebagai orang tua, aku hanya bisa bersyukur dan mendoakannya saja. Kini Usman hampir wisuda. Kakaknya membelikan sepeda motor untuk pergi ke kampusnya!”

Entahlah….

Kok bisa seperti ini:

Istrinya, dengan bangga mengunggul-unggulkan Muniri yang tidak kuliah tetapi bisa membeli mobil sembari mengkritik Pak Sholeh karena menguliahkan Zidni, tetapi suaminya mengunggul-unggulkan Usman yang saat ini hampir diwisuda…

Sakit. Hati Zulfin perih mendengar semua itu. Satu sisi dia mendengar prasangka buruk dan kasak-kusuk warga, sementara sifat dari prasangka dan kasak-kusuk selalu sama: Melebar dan meluas. Ke mana-mana. Kabar satu jengkal akan berubah menjadi berjengkal-jengkal. Berita satu meter menjadi berkilo-kilo. Semakin banyak yang membicarakannya, semakin lebar dan luas isinya. Sisi lain, dia mendengar kesombongan dan keangkuhan Muhaya dan istrinya yang selalu membangga-banggakan anak-anaknya.

Ketika semuanya dirasakannya semakin tak terkendali, tepat delapan bulan lebih lima hari, akhirnya Zulfin tak tahan lagi. Ia menangis sesenggukkan di hadapan anak-anak dan suami. Harun kebingungan melihat ibunya menangis. Sepasang bibir mungil Aisyah terkatup rapat, sementara bola matanya itu memandang heran dan bingung pada ibunya. Umi menangis-nangis di pangkuannya. Dlori hanya bisa menghela nafas. Menghela dengan panjang. Zulfin mencurahkan isi hatinya seakan ia tengah berbicara hanya berdua dengan suaminya saja tanpa didengar anak-anaknya (kelak, curahan isi hati sang ibu ini, menjadi jimat berharga untuk kesuksesan Harun, Aisyah, dan Umi!):

“Pak, aku sudah tidak tahan lagi,” kini panggilan mesra berupa “mas” atau “sayang” yang biasanya dia ucapkan teruntuk suaminya tercinta telah berganti dengan panggilan “pak”. Nanti suaminya juga akan memanggilnya dengan sebutan “bu”. “Para tetangga semakin menjadi-jadi Pak. Aku benci Jumilah itu. Mulutnya berbisa, Pak. Bisanya beracun. Ke mana-mana dia selalu menggunjingku. Oh, Pak. Lihatlah anak-anakmu ini. Mereka tak bersalah. Mereka anak kita dan bukan anak mereka. Mereka tak membesarkan anak kita dan kitalah yang membesarkannya. Mereka tidak salah. Hidup mereka adalah hidup kita. Kesedihan mereka adalah kesedihan kita. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita. Aku tak mau melihat mereka sengsara, sedih, atau berduka. Muhaya dan istrinya selalu membangga-banggakan kesuksesan anak-anaknya. Kau harus berjanji kepadaku, Pak, kau akan membuat anak-anak ini sukses. Kelak. Ketika mereka sudah besar. Kau harus berjanji kepadaku anak-anak kita bisa lebih sukses dari semua orang di desa ini. Berjanjilah kepadaku, Pak!”

Dlori tak segera menjawab.

Dlori menunduk sebentar.

Dlori menghela nafas.

Sepertinya, gagasan membuat anak-anaknya kelak menjadi sukses itu adalah gagasan yang tak perlu dikatakan lagi. Dlori merasa memang harus begitu. Sebab begitulah tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya. Tak perlu dikata-katakan seperti itu, istriku, seru hatinya.

Melihat suaminya belum membuka mulut, Zulfin kembali bercurah, “Pak, apa yang harus aku lakukan? Tolonglah aku. Kasihani aku. Perutku sakit, Pak. Mungkin sebentar lagi bayiku akan lahir. Tetapi hatiku lebih sakit dari perut ini, Pak. Apakah kita keliru sebab kita memiliki banyak anak?”

Goyah.
Sedikit goyah.

Hati Zulfin sedikit goyah karena kasak-kusuk itu. Keyakinannya bahwa banyak anak banyak rejeki agak bergeser oleh sebab kasak-kusuk itu. Karenanya, ia bertanya seperti itu.

Tetapi Dlori bingung.
Sangat bingung.

Sesungguhnya masalah yang dialami istrinya ini adalah masalah yang sama. Tentang orang-orang yang sama. Soal kasak-kusuk. Soal pergunjingan. Soal omongan buruk para tetangga. Sedangkan ia telah berusaha memberi pengertian pada istrinya itu, dan hal itu sudah ia lakukan berulang kali: Bahwa di dunia ini kita tidak bisa mengharap semua orang akan selalu baik pada kita. Tetapi tidak berarti semua orang itu jahat kepada kita. Ada orang baik. Pun ada orang jahat. Ada orang yang pura-pura baik tetapi sesungguhnya jahat. Ada pula orang yang tampaknya jahat walau hakikatnya baik. Jangan berusaha mencari alasan kenapa mereka bisa menggunjing seperti itu. Mencari tahu alasan mengapa, justru akan menambah beban di pikiran saja. Tidak penting pula memikirkan apa tujuannya mereka menggunjing-gunjing seperti itu. Terhadap orang-orang yang menggunjing, kita tidak perlu membuka telinga kita untuk mendengarnya, sebab semakin terbuka telinga kita, itu sama artinya semakin menyakiti diri kita sendiri, menyakiti perasaan dan hati kita sendiri.

Dengan bahasa yang sama, mendekati sama, hampir sama, atau berbeda tetapi memiliki kandungan makna yang sama, Dlori selalu berusaha memberi pengertian yang seperti itu kepada Zulfin. Namun ternyata, Zulfin memang tak mudah untuk diberi pengertian. Cara istrinya memandang dan menanggapi persoalan memang berbeda dengan caranya sendiiri. Zulfin tidak bisa dipaksa memiliki tanggapan dan cara pandang yang sama dengannya. Perasaan Zulfin lebih halus dan dalam dari perasaannya. Zulfin perempuan, dan dia laki-laki. Dlori tak menolak bahwa ia pun sesungguhnya sedikit banyak terpengaruh oleh apa-kata-tetangga. Ia pun telah mendengar Muhaya dan istrinya seringkali mengunggul-unggulkan anak-anaknya. Dlori pun berusaha memberi pengertian lagi pada istrinya dengan cara yang berbeda, melalui bahasan tentang Muhaya dan istrinya dan anak-anaknya.

“Bu,” ucapnya setelah sekian lama diam, sementara Harun dan Aisyah terdiam. Bingung kedua anak itu, tampak sekali dari wajah mereka. Air mata Aisyah tak sebasah air mata Harun sang kakak. Mereka duduk saling merapatkan badan di antara ayah dan ibunya itu, “kita tahu siapa Muhaya dan istrinya itu. Bahkan tidak hanya kita, semua orang di desa ini juga tahu siapa mereka. Mereka itu akan selalu begitu: Mengunggul-unggulkan anak-anaknya yang sukses-sukses itu. Mereka akan selalu membangga-banggakan anak-anak mereka. Muniri telah sukses. Muniri telah punya mobil yang baru. Di desa ini, Muniri telah membangun rumah bertembok tebal bercat warna hijau berkeramik putih. Usman dikuliahkan Muniri. Usman dibelikannya sepeda motor. Rodhiyah jadi istri polisi, mereka tinggal di Semarang. Rumah mereka juga gedongan. Bla-bla-bla, Bu….”

Dlori melanjutkan, “Tetapi, Bu—tahukah engkau arti kesuksesan itu? Tahukah engkau siapa yang sukses dalam hidup itu sebenarnya? Bu, kau harus sadar bahwa Muhaya dan istrinya itu hanyalah contoh dari banyak orang bodoh yang tak menyadari kebodohannya. Mereka tidak sadar bahwa mereka itu bodoh. Tetapi kalau mereka diberi tahu bahwa mereka itu bodoh, tentu mereka akan sakit hati. Kita harus berhati-hati dengan orang yang bodoh, Bu: Orang yang bodoh itu kalau dipuji-puji dan disanjung-sanjung akan besar kepala; tetapi kalau dikritik dan dinasihati, akan sakit hati. Terhadap orang bodoh, tutuplah telingamu dan janganlah bergaul dengannya.”

***

← Kembali ke Daftar Bab