Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
“Lihatlah bukti kebodohannya itu, Bu,” sambung Dlori lagi, “Muniri anaknya itu memang telah membuat rumah. Harus kita akui bahwa rumahnya itu lumayan bagus lah. Lantainya berkeramik. Dinding depannya juga dipoles keramik. Keramik lantainya warna putih, tetapi sayangnya putih polos: Seandainya saja keramiknya itu kembang-kembang, dan warnanya tidak putih mencolok mata seperti itu, dan segaris dengan warna dindingnya, harus aku akui bahwa rumah itu akan lebih indah dipandang mata. Kamar tidurnya tiga. Juga ada kamar mandi di dalamnya. Muhaya pernah mengatakan begitu tentang rumah anaknya itu. Tentu dia berkata dengan cara yang amat bangga. Tetapi dengarkan aku, Bu!” kini Dlori berucap dengan cara yang lebih tegas, lebih tegar, “Apa arti sebuah rumah yang didirikan untuk kemudian ditinggalkan? Apa arti bersusah-payah membangun rumah yang hebat dan megah, tetapi sang pembangun tak menempatinya, bahkan memilih bertempat tinggal di gang sempit di rumah petakan yang dikontrak di Jakarta sana, Bu?”
“Oalah, Bu, Bu,” sambung Dlori lagi, “orang seperti itu bukan orang yang sukses. Sebaliknya, orang yang seperti itu adalah orang yang tidak bisa menikmati jerih-payahnya sendiri. Rumah mewahnya itu tak berarti sama sekali, padahal setiap orang yang membangun rumah memiliki satu tujuan, hidup dengan nyaman, tinggal dengan tenang dan bahagia, di dalam rumah itu. Rumah adalah tujuan orang bekerja dan menikah. Entah di kota, entah di desa, orang yang menikah hidup berumah tangga, dan belum memiliki rumah, maka mereka akan berusaha memiliki rumah. Bila mereka belum bisa memiliki rumah, mereka bisa menyewa. Mereka akan bersedih bila sepanjang umur hanya bisa menyewa rumah, membayar kost, atau mengontrak rumah. Pasti ada rindu yang amat sangat di kedalaman hati mereka untuk bisa memiliki rumah. Pasti itu, Bu. Lalu, buat apa rumah yang didirikan begitu hebat dan begitu mudah seperti rumah Muniri yang menjadi kebanggaan Muhaya jika rumah itu tak ditempati sama sekali?”
“Anak itu,” lanjut Dlori, “hanya pulang setahun sekali. Itu pun saat lebaran. Selama satu atau dua hari—dan paling lama seminggu—Muniri dan istrinya dan anak-anaknya baru bisa menikmati istirahat dan tidur di rumah yang dibangunnya sendiri. Lepas lebaran, mereka meninggalkan rumahnya sendiri dan kembali ke rumah petakan yang disewanya. Begitukah orang yang sukses, Bu? Tidak. Sekali-kali, tidak. Mereka bukan orang sukses. Mereka orang bodoh dengan ayah dan ibu yang bodoh!”
Mendengar penuturan sang suami yang panjang lebar dan sungguh-sungguh seperti itu, tercenunglah Zulfin. Apa yang dikatakan suaminya itu masuk ke telinganya, berputar-putar di pikirannya, dan akhirnya mendarat di hatinya. Dengan pelan, ia pun mengangguk-angguk. Ada rasa lega yang datang setelah itu, membuatnya tersadar bahwa saat ini ia tengah duduk berhadap-hadapan dengan suaminya di antara anak-anaknya.
Zulfin mengusap air matanya.
Zulfin mengelus-elus rambut Harun dan Aisyah, bergantian.
Dan akhirnya, Dlori menyelesaikan kekisruhan jiwa istrinya saat ini dengan berkata, “Tentang yang lain, lebih baik kita dengar apa yang dikatakan Haji Ridlwan, Bu. Beliau itu haji. Orang yang beragama. Ilmu agamanya pasti tinggi. Kalau kita ingin mendengar nasihat dan petuah, kepada beliaulah kita layak mendapat nasihat dan petuah. Tentang hidup kita, Bu. Juga tentang para tetangga kita.”
Zulfin pun mengangguk-angguk.
Ringan sudah beban yang dirasakannya itu.
Kepada Harun dan Aisyah, sang ibu yang masih tampak cantik dan memikat ini pun menyuruh keduanya untuk bermain-main lagi di halaman. Hapus air mata kalian, ucapnya. Kalian tak boleh menangis, tak boleh bersedih. Kalian harus menjadi orang. Menjadi orang hebat. Menjadi orang sukses yang tak bodoh. Kalian anak-anakku yang hebat. Terbanglah, kalian. Hiburlah hati kalian dengan kegembiraan di luar sana.
Wajah Harun pun berubah.
Begitu pula wajah Aisyah.
Keduanya pun keluar rumah.
Dlori bangkit menuju dapur.
Zulfin memejamkan mata. Perih perutnya semakin terasa perih.
***
Beberapa hari kemudian, sembari menggandeng istrinya, juga membawa lengkap ketiga anaknya, Dlori melangkah menuju rumah Haji Ridlwan. Antara rumahnya dan rumah Haji Ridlwan terhubung dua jalan. Jalan yang pertama adalah jalan utama, jalan yang membentang di rumah rumah itu. Jalan yang kedua adalah jalan setapak, melalui belakang rumahnya, menyusuri kebun agak lengang, melalui samping sumur yang berada di kebun Muh. Tohar. Melalui jalan setapak inilah Dlori mengajak istri dan anak-anaknya menuju rumah sang haji.
Rumah Haji Ridlwan sendiri tergolong besar. Itu adalah rumah bergaya Solo, dengan pendopo yang sangat luas tanpa satu pun kamar di sana. Rumah joglo. Terdiri dari dua rumah yang disambungkan menjadi satu. Biasanya, model rumah seperti ini adalah model perluasan. Awalnya, rumah hanya berdiri tunggal—ketika didapati tanah masih luas, didirikanlah bangunan baru yang persis seperti bangunan rumah sebelumnya, lalu keduanya disambung menjadi satu dengan satu pintu yang menjadi penghubungnya. Bangunan yang kedua ini dibiarkan kosong begitu saja. Haji Ridlwan pun membiarkan rumah pendoponya itu masih berlantai tanah. Lantai semen baru terlihat di dalam rumah di bangunan yang belakang, yang berkamar-kamar itu.
Rumah Haji Ridlwan yang terletak paling selatan di antara rumah-rumah warga yang lain memiliki suasana yang asri. Walau terkesan terlalu besar bagi jumlah penghuninya yang sedikit—Haji Ridlwan hanya tinggal bertiga di rumah itu; bersama istri dan anak bungsunya yang masih sekolah di SMA. Rumah itu menghadap ke utara, menyamping jalan yang agak kecil menuju bukit Siwalan. Di belakang rumah, tampak sekali tanah-tanah berundak perbukitan dengan pepohonannya yang besar dan kecil. Pagi hari, cerecau burung-burung di pepohonan itu sangat jelas terdengar dari dalam rumah ini. Juga suara air terjun di kejauhan sana, ketika senja membawa hening, curahan air dari ketinggian dan hantamannya ke bebatuan terdengar sayup-sayup hingga ke rumah ini.
Haji Ridlwan memang sosok yang belum terlalu tua, tetapi tidak juga bisa digolongkan muda. Umurnya dibanding umur istrinya terpaut jauh. Itu demikian sebab istrinya itu adalah istri keduanya. Haji Ridlwan bukan berpoligami, walau dia tidak menolak prinsip pernikahan poligami, sebab prinsip poligami memang prinsip dari Tuhan, ajaran Islam dari Allah SWT, yang tak mungkin ditolak-tolak. Istri keduanya itu diperistri setelah istri pertamanya meninggal dunia. Istri keduanya itulah yang melahirkan anak keenam Haji Ridlwan, yang kini masih tinggal serumah. Anak-anaknya yang lain telah tinggal di tempat-tempat yang berbeda. Ada yang menjadi ustadz, ada yang sekedar guru ngaji biasa. Ada pula yang menekuni bisnis. Setahun sekali, rumah besar ini sangat ramai oleh kehadiran semua anak dan cucunya, dengan kisah hidup dan cerita kehidupan masing-masing. Kehidupannya rukun, walau tidak bisa dikatakan sepenuhnya damai. Riak-riak sering pula terjadi, sebab hidup bukanlah benda mati.
Ketika itu Haji Ridlwan tengah duduk di halaman rumah bersama istrinya, Nurjanah. Seperi biasa, anaknya sedang bermain ke temannya di entah. Dlori datang memapah istrinya, diikuti kedua anaknya. Haji Ridlwan dan istri berdiri menyambut. Zulfin menyerahkan bungkusan plastik, oleh-oleh alakadarnya kepada nyonya rumah.
“Ini apa, dik, kok repot-repot segala,” ucap istri sang haji, berbasa-basi, sembari menerima bungkusan itu dari tangan Zulfin.
“Ah, bukan apa-apa kok, Mbak. Sekedarnya aja…”
“Ya Allah, dik. Terimakasih ya? Terimakasih…”
Zulfin mengangguk.
Ia pun mengajak Zulfin masuk. Ia menggandeng ibu muda yang tengah hamil besar itu. Haji Ridlwan pun meminta Dlori masuk. Harun dan Aisyah mengikuti.
Haji Ridlwan menyalakan lampu di pendoponya itu.
Suasana menjadi tambah terang, walau sore belumlah memanggil senja. Haji Ridlwan terus mengajak tamunya itu masuk ke ruang yang dalam. Di ruang dalam itu, ada lantai berbentuk panggung, lumayan luas, tempat tertata dampar-dampar berukuran kecil dan panjang. Lepas magrib, anak-anak akan memenuhi lantai panggung ini, mengaji al-Qur’an pada pak haji.
Setelah sekian lama, Nurjanah telah menghidangkan teh dan cemilan ala kadarnya, dan terjadi perbincangan yang seru antara Haji Ridlwan dan Dlori soal sawah dan ladang, pepohonan dan bukit Siwalan, serta pengajian-pengajian rutin yang diadakan di desa, Dlori menyampaikan maksud kedatangan yang sesungguhnya. Dlori meminta nasihat dan petuah Haji Ridlwan tentang omongan para tetangga, juga tentang kesombongan-kesombongan dan keangkuhan-keangkuhan seseorang seperti Muhaya.
Secara pribadi, Haji Ridlwan dan istrinya memang telah mendengar pergunjingan-pergunjingan itu, kasak-kusuk itu. Dan secara pribadi, ia dan istrinya tak pernah tertarik untuk menanggapi atau mendengar lebih jauh pergunjingan yang seperti itu. Baginya, menggunjing bukan hanya semata-mata perkara yang tidak ada manfaatnya, tetapi, yang lebih penting dan utama, perkara yang dilarang oleh Allah SWT untuk dilakukan. Bila Allah melarang sebuah perkara, maka perkara itu pasti tidak baik dan memiliki pengaruh yang buruk atau jahat dalam kehidupan.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) bisa jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) bisa jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, bua mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Hujuraat: 11)
Dan juga firman-Nya:
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya, api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. al-Humazah: 1-9)
Haji Ridlwan sangat paham, juga sangat memahami, bahwa tiap orang itu tidak bisa memandang perkara dengan cara pandang yang sama, dan bahkan niscaya berbeda dalam memandangnya. Ajaran Islam itu memang jelas, bahkan sangat-sangat jelas. Allah melarang kita untuk mengolok-olok, menggunjing, atau mencela. Hukum ini sudah jelas. Tetapi kenapa banyak orang melanggarnya? Kenapa banyak orang mudah menggunjing? Mudah mengolok-olok? Mudah mencela? Padahal, mereka sudah sering diberi nasihat dan peringatan? Padahal, mereka juga sudah sering mendengar betapa Allah SWT melarang mereka melakukan hal itu? Sungguh, Haji Ridlwan tidak memiliki jawaban yang pasti untuk itu. Haji Ridlwan tak mengerti. Mungkin hati mereka mengeras. Mungkin hati mereka membatu. Mungkin mereka hanya mendengar nasihat dan peringatan itu, tetapi tak bisa melaksanakannya. Mungkin mereka justru merasa memperoleh kenikmatan dan kepuasan dari dalam pergunjingan, olok-olok, dan celaan. Wallahu a’lam.
Karena itu, alih-alih Haji Ridlwan memberi nasihat dan peringatan tentang para tetangga yang seperti itu kepada Dlori dan Zulfin, ia justru memberi nasihat dan peringatan kepada pasangan suami istri itu sendiri. Dengan caranya sendiri, cara tanya jawab pola Socrates [walau, tentu, Haji Ridlwan tak mengenal filosof Yunani yang satu ini di satu sisi, dan di sisi lain, menolak segala hal yang berbau filsafat], ia berusaha menanamkan keyakinan pada Dlori dan istrinya, tentang sikap bagaimanakah yang selayaknya dimiliki dalam menghadapi para penggunjing dan peng-kasak-kusuk itu.
Tanyanya, “Kalian muslim kan?”
Dlori menjawab, “Tentu saja kami muslim, Mas Haji.”
“Sebagai muslim, apa dasar hidup kalian?”
“Tentunya al-Qur’an dan Sunnah—seperti yang selalu Mas Haji ajarkan.”
“Seberapa penting al-Qur’an dan Sunnah bagi kalian?”
“Sangat penting, Mas Haji. Sangat-sangat penting.”
“Seberapa besar kalian percaya pada al-Qur’an dan Sunnah?”
“Sangat besar, Mas Haji. Sangat-sangat besar.”
“Kalau begitu kalian sadar bahwa Rasulullah saw itu nabi dan utusan Allah?”
“Tentu saja, Mas Haji. Kami muslim, beriman pada al-Qur’an dan Sunnah. Tentu kami sadar dan percaya bahwa Muhammad adalah nabi dan utusan Allah SWT.”
“Kalian yakin?”
“Tentu kami yakin.”
“Seberapa besar keyakinan itu?”
“Sebesar yang kami bisa, Mas Haji.”
“Kalian yakin bahwa apa yang dikatakan Nabi adalah benar?”
“Tentu.”
“Bagaimana, dik Zulfin?” kali ini, Haji Ridlwan bertanya langsung pada istri Dlori ini. Matanya mengisyaratkan harapan bahwa Zulfin akan memberikan keyakinan itu. “Bagaiman? Apakah engkau juga yakin bahwa apa yang dikatakan nabi pasti benar?”
“Mas Haji,” Zulfin menjawab, “saya ini orang yang bodoh. Saya bukan orang yang beragama baik seperti Mas Haji dan Mbak Nurjanah ini. Gusti Allah pasti baik, pasti benar. Rasulullah pasti baik, pasti benar pula. Rasulullah itu nabi dan utusan Allah yang terakhir. Tak ada nabi setelah beliau. Tak ada utusan selepas beliau. Itu yang diajarkan para orang tua kepada saya. Itu pula yang selalu Mas Haji ingatkan pada saya.”
“Jadi dik Zulfin yakin bahwa Rasulullah itu pasti benar?”
“Iya, saya yakin Mas Haji.” Jawab Zulfin disertai anggukan kepala oleh Dlori. Sepertinya Dlori merasa senang dengan jawaban istrinya itu, walau, jujur saja, hatinya sedikit bingung kenapa Haji Ridlwan bertanya-tanya seperti ini.
Lalu kepada Dlori dan Zulfin, Haji Ridlwan mengutip sebuah hadis yang berbunyi seperti ini, “Dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani, dia berkata: Seorang lelaki pernah datang (menemui) Rasulullah saw dan berkata: Sesungguhnya aku mendapatkan seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan (berasal dari) keturunan yang terhormat, akan tetapi dia tidak bisa punya anak (mandul), apakah aku (boleh) menikahinya? Rasulullah saw menjawab: “Tidak (boleh)”. Kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk kedua kalinya, maka Rasulullah saw kembali melarangnya, kemudian lelaki itu datang (dan bertanya lagi) untuk ketiga kalinya, maka Rasulullah saw bersabda: “Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur (banyak anak), karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya jumlah kalian) di hadapan umat-umat lain.” Lalu Haji Ridlwan bertanya kepada keduanya, “Kalau begitu, menurut Rasul, Rasul akan bangga terhadap suami-istri yang punya anak atau bangga terhadap perempuan mandul?”
Dijawab keduanya, hampir berbarengan, “Tentu yang punya anak.”
“Banyak anak atau sedikit anak?”
“Tentu yang banyak anak.”
“Itu kata siapa?
“Kata Rasulullah.”
“Jadi kalian percaya Rasul atau tidak?”
“Percaya.”
“Bahwa yang dikatakan Rasul pasti benar?”
“Iya.”
“Jadi kenapa kalian justru mendengar para tetangga yang kasak-kusuk, tetapi tidak mendengar kebenaran yang diucapkan Rasul?”
Mereka diam.
Haji Ridlwan melanjutkan, “Ibarat kata, di hadapan kalian itu ada Rasul dan ada para tetangga. Kalian tahu, Rasul itu pasti benar. Kalian juga tahu, para tetangga suka menggunjing kalian. Yang digunjing para tetangga sudah dijawab Rasul. Bukankah yang harus kalian dengar, yang harus kalian ikuti, itu Rasulullah saw?”
“Iya, Mas Haji.”
“Maka biarkan saja para tetangga itu berbicara. Mereka punya mulut. Tetapi kalian punya Rasul. Mantapkanlah hati kalian pada Rasul, sebab yang dikatakan Rasul pasti benar. Anak-anak adalah rejeki. Banyak anak juga akan mendatangkan rejeki. Banyak anak berarti akan menjadi kebanggan Rasulullah, kelak, di hari kiamat. Janganlah ragu lagi!”
Mereka mengangguk.
Haji Ridlwan menambahkan, “Dan jika kalian selalu ingin menanggapi omongan para tetangga, kalian akan merasa lelah sendiri. Jangan membuang-buang tenaga untuk menanggapi kasak-kusuk orang. Percuma. Gunakan tenaga kalian untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT!”
Mereka pun mengangguk lagi.
Dan kali ini, Nurjanah istri Haji Ridlwan menambahkan, khususnya kepada Zulfin, “Dik, memang macam-macamlah orang itu. Ada yang senang, ada yang tidak senang. Ada orang yang cinta, ada pula yang benci. Ada yang mengasihi, ada pula yang iri. Macam-macamlah mereka itu. Benar yang diucapkan Mas Haji barusan, kita akan lelah sendiri bila menanggapi orang yang tidak senang, benci, atau iri terhadap kita. Buang-buang tenaga. Yang terpenting bagimu, dik Zulfin, didiklah anak-anakmu sebaik mungkin. Jadikanlah anak-anakmu sebaik mungkin. Tidak mungkinlah orang akan selalu iri atau menggunjing seumur-umur. Kalau mereka capek, mereka akan diam sendiri. Sementara itu, lebih baik kau buktikan bahwa kau mampu! Kau mampu menjadi ibu yang terbaik buat anak-anakmu. Kelak, mereka akan terdiam manakala melihat anak-anakmu menjadi anak-anak yang baik, sukses, membanggakan, dan membahagiakan kedua orang tuanya. Bungkamlah kritikan dengan bukti. Dan buktikan bahwa dirimu mampu!”
Perkataan Nurjanah itu meresap ke lubuk sanubari Zulfin yang terdalam. Membuat wajahnya yang tadi tampak murung menjadi berubah. Perkataan itu panjang lebar, tetapi diam-diam ia berjanji akan menyerap perkataan itu ke dalam jiwanya sendiri.
Kini Zulfin mendapatkan kemantapan hati.
Wajah suaminya itu pun menunjukkan kepuasan yang sangat berarti.
Tak lama kemudian, seiring jatuhnya senja dari balik jendela, Dlori dan istrinya pun pamit. Haji Ridlwan dan istrinya mengantarkannya sampai ke halaman, mengiringkan mereka dengan doa-doa yang terbaik.
***