Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Ketika itu sebuah bintang jatuh dari langit. Sebagian orang, terutama kaum tua, percaya bahwa kejatuhan itu adalah pertanda, ayat-ayat alam tentang ayat-ayat kehidupan. Konon, di mana tempat jatuhnya bintang itu, di situlah yang dijatuhi akan mendapatkan berkah. Rejekinya akan lancar. Hidupnya akan sukses. Pangkatnya akan naik. Atau menjadi orang yang terpandang. Tentu saja ilmu pengetahuan yang lebih maju tak membenarkan pembacaan pertanda seperti itu. Bintang jatuh itu sesungguhnya bukan bintang. Seandainya ada bintang yang jatuh, tentu kiamat terjadi. Matahari adalah bintang, dan ukurannya jauh lebih besar dari bumi. Jangankan matahari jatuh menabrak bumi—jaraknya yang sangat dekat dengan bumi saja bisa membakar bumi. Bintang yang dikatakan itu sesungguhnya adalah meteor. Benda langit yang berekor. Dan ini adalah fenomena alam. Bukan fenomena ayat-ayat seperti yang mereka maksudkan.
Tetapi begitulah sebagian orang Siwalan berkeyakinan. Mereka yang melihat “bintang jatuh” itu pun saling berkata satu sama lain. Saling bertanya. Saling berharap. Sepertinya, ia jatuh di atap rumah Haji Ridlwan, kata seseorang. Tidak, orang lain pun membantah. “Ia tak jatuh di sana. Ia jatuh di atas rumah Lik Kumasi.”
“Ah, bukan,” disanggah lagi. “Bukan di rumah Lik Kumasi. Aku melihat ia melesat di atas bukit.”
“Kalian salah semua,” seseorang menyanggah pula. “Ia jatuh di atas rumah Dlori!”
Entah benar entah tidak (walau faktanya semuanya tidak benar), “bintang jatuh” di malam Jumat itu pun menjadi bahan perbincangan yang paling menarik dan paling baru. Keesokan harinya, yakni hari Sabtu, seseorang yang tadi malam melihat jatuhnya benda angkasa itu di atas atap rumah Haji Ridlwan penasaran dan akhirnya pergi ke rumah Haji Ridlwan dan menatap-natap atap rumahnya.
Tak ada apa-apa.
Tak tampak bekas apa-apa.
Orang lain yang meyakini bahwa benda itu jatuh di atas atap rumah Kumasi pun tergopoh-gopoh mendatangi rumah itu, melihat atapnya, dan tak menemukan pertanda apa-apa.
Ketika ada orang yang menganggap bahwa benda itu jatuh di atas atap rumah Dlori, pertanda yang tadinya dianggap baik berubah menjadi buruk, hanya karena semata-mata benda itu jatuh di rumah Dlori.
Kenapa harus rumah Dlori?
Kenapa bukan rumah yang lain?
Daripada rumah Dlori, lebih baik rumah Muh. Tohar, Muhaya, atau Kumasi!
Begitulah.
Kau menolak sesuatu bukan karena sesuatu itu keliru, melainkan sesuatu itu benar, tetapi kau tak menginginkan hal itu terjadi. Dan begitulah mereka itu. Mereka menolak akan “turunnya berkah” dari langit hanya karena bintang itu jatuh di atas atap rumah Dlori.
Entahlah…
Yang jelas, tak ada kejadian apa pun yang terjadi keesokan harinya setelah tadi malam ada bintang jatuh seperti itu. Keadaan tampak seperti biasa. Warga tetap menggarap sawah dan ladang. Anak-anak tetap berangkat ke sekolah. Anak-anak kecil tetap bermain-main dan bersenang-senang. Dlori tetap dengan pekerjaan dan bisnisnya itu.
Yang mungkin berubah—setelah bintang jatuh itu—adalah Zulfin. Petuah dan nasihat Haji Ridlwan diimbuh nasihat yang diberikan Nurjanah sepertinya betul-betul menancap kuat di kedalaman hatinya, berurat-berakar menyelusuri jiwanya. Wajah Zulfin tampak tenang. Tak ada cemberut. Hatinya tak silang sengkerut. Sebaliknya, semakin dekat dengan saat kelahiran, semakin mendekatlah ia ke haribaan Tuhan. Ia bangun di tengah malam untuk melaksanakan tahajud, selain untuk meninabobokan kembali si kecil Umi yang terbangun. Ketika dulu ia tidak tahu bagaimana cara menutup telinga agar tak mendengar kasak-kusuk para tetangga, ia dapati bahwa telinganya “sudah tuli” dengan sendirinya tanpa harus ditutup-tutupi! Kafilah akan tetap berlalu, walau anjing terus menggonggong-gonggong. Seminggu setelah bintang jatuh itu, ada beberapa kejadian yang terjadi hampir bersamaan. Ketika itulah, Zulfin melahirkan anak keempatnya dengan selamat.
***
Berkah dari langit sepertinya memang deras mengucur kepada Dlori dan istrinya itu. Ini tak dapat ditolak-tolak. Tak dapat ditampik-tampik. Kelahiran anak keempat mereka—yang berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Musa—diiringi dengan kelimpahan rejeki yang semakin luas. Lihatlah hasil melon-nya itu. Lihat pula buah jeruk yang ranum-ranum kuning-hijau segar itu. Hasil melon-nya tiga kali lipat dari tahun lalu. Buah jeruknya adalah hasil uji cobanya ketika itu, dan pastilah dia akan mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat dari modal ditambah biaya sewa ladang itu. Belum lagi padi, kacang tanah, jagung, dan singkongnya. Siapa pun warga akan cemburu atau iri melihat hasil-hasil panennya. Jika iman dan keyakinan Haji Ridlwan tidak kuat, bisa terjadi ia pun akan iri melihat buah jeruk dan melon dan padi dan lainnya tadi.
Betapa bahagia hati Dlori dan Zulfin.
Harun pun begitu gembira melihat kehadiran adiknya yang ketiga.
Aisyah selalu ingin mencium si jabang bayi merah seakan tak sabar untuk menggendongnya, dan menimang-nimang adik barunya. Sesungguhnya Harun telah kuat menggendong Musa. Tetapi Aisyah masih terlalu kecil untuk itu. Aisyah masih tiga tahun. Umi satu tahun setengah. Umi seringkali cemberut melihat kakaknya Aisyah ingin selalu dekat dengan Musa. Bibir Umi yang belum fasih mengungkapkan isi hatinya mewakilkan kedua matanya yang tampak tidak senang harus berebut dengan sang kakak untuk bisa mendekati Musa, untuk bisa mendekapnya pelan dan sayang.
Sang ibu tersenyum melihat tingkah anak-anaknya itu.
“Mbak Aisyah bobok di sebelah kanan,” ucap sang ibu, bijak, “Mbak Umi di sebelah kiri ya? Tapi awas, jangan berisik. Nanti adik kalian bangun.”
Aisyah mengangguk.
Umi mencium kening Musa.
Harun menatap kedua adiknya itu di ambang pintu. Matanya berbinar-binar. Harun sangat senang dengan adik keempatnya itu, sebab sang adik berjenis kelamin sama dengannya. Laki-laki. Sudah lama Harun menginginkan adik laki-laki. Dan kini, Musa tengah tidur di depan matanya. Diam-diam, dengan caranya sendiri, Harun merasa bangga akan kelahiran Musa. Tetapi ia juga sangat mencintai dan menyayangi dua adik perempuannya.
Kepada Harun, sang ibu selalu mewanti-wanti, dan ia begitu sangat percaya kepada anak sulung laki-lakinya ini, “Jagalah adik-adikmu ya, mas? Jangan biarkan mereka berisik. Kasihan Musa. Kau anak pertamaku, nak. Kau akan menjadi kebanggaan kami—juga kebanggaan adik-adikmu. Kelak, kau akan sukses dan kaya, duh anakku, Harun.”
Harun mengangguk.
Anggukan itu khusus untuk permintaan ibunya untuk menjaga adik-adiknya. Bukan untuk perkataan ibunya yang lain-lain itu, yang memang tak dipahaminya. Zulfin pun selalu mengandalkannya di saat sang ibu ini tengah mencuci, misalnya, atau menanak nasi di dapur, menggoreng tempe atau tahu, juga menggoreng bandeng atau lele, juga mempersiapkan kopi untuk ayah mereka, juga mempersiapkan makanan untuk para pekerja di sawah dan ladang.
Sungguh, rumah yang tak terlalu besar itu begitu ramai dengan suara anak. Riuh rendah suara anak-anak itu sangat menghibur dan menenangkan hati. Benar, sungguh-sungguh benar, jika dikatakan bahwa anak adalah permata: Tak ada yang tidak suka melihat permata, juga memilikinya. Anak adalah hiburan bagi pandangan kedua mata. Anak adalah penyejuk jiwa. Ketika engkau lelah, letih, dan lesu, terjerat dalam masalah hidup dan beban yang melingkupi, pulanglah dan pandanglah anak-anakmu yang kecil-kecil itu, dan rasakan getaran damai dan ketenangan jiwamu yang memancar dari wajah mereka.
Terkadang, memang, anak-anak itu ribut, saling bertengkar, tetapi mereda dengan sendirinya. Pernah Umi melempar bola bekel dan tepat mengenai kening Aisyah hingga membuat Aisyah menangis menjerit-jerit. Umi mengira bola bekel itu tidak menyakiti, atau mengira, di bola matanya, kening Aisyah kakaknya adalah tempat sasaran yang menyenangkan untuk dilempari bekel. Harun pun berusaha mendamaikan kedua adiknya itu. Dengan caranya sendiri, Harun meminta Umi meminta maaf pada Aisyah. Tanda-tanda kepemimpinan memang telah tampak pada diri anak sulung itu.
Kebahagiaan keluarga itu memang tampak sangat nyata. Rejeki mengalir deras. Keadaan rumah terus diperbaiki. Cat di dinding yang sudah luntur diperbarui lagi, dicat lagi dengan warna yang mencerahkan. Genting-genting diganti dengan yang baru. Lantai semen sudah diganti dengan keramik. Dan kini, demi meringankan beban-beban pribadinya sebagai seorang ibu, Zulfin mempekerjakan Lik Soyi sebagai pembantu rumahnya. Janda tanpa anak itu dimintanya bekerja membantu di dapur, mencuci baju, menyapu dan membersihkan rumah, dan pekerjaan-pekerjaan sejenis. Juga diminta belanja ke pasar, membeli gula ke warung, mengantar sarapan ke ladang dan sawah. Satu sisi, menjadi ringanlah beban Zulfin. Sisi lain, menjadi bahagialah hati Lik Soyi sebab diberi gaji untuk pekerjaan-pekerjaannya itu. Gaji yang lumayan. Gaji yang menggiurkan.
Berapakah gajinya itu?
Inilah bahan pergunjingan berikutnya.
Bagi warga di sekitarnya.
Terutama mereka yang hatinya dicacah iri dan dengki.
Menambah deret kasak-kusuk selanjutnya!
Suatu ketika, setelah menahan rasa penasarannya berhari-hari, setelah mencari-cari dan mencuri-curi kesempatan selama ini tetapi tak kunjung datang jua, akhirnya, di sebuah siang yang agak sepi, ketika melihat Lik Soyi berjalan dari warung Mbah Kamiyem membawa barang belanjaan, Wuryani, istri Muhaya, dengan sengaja menghadang Lik Soyi di jalanan yang agak sepi. Dari kejauhan, begitu melihat Lik Soyi, wajah perempuan yang sudah menua itu tampak tegang. Sorot matanya sinis dan tajam. Hatinya sangat sakit melihat perikehidupan Dlori dan Zulfin. Hati Wuryani yang memang tinggi hati, memang memandang perempuan separoh baya itu dengan pandangan sinis dan rendah.
Betapa tidak rendah?
Baginya, Soyi tak selevel dengannya. Soyi hanyalah janda. Soyi yang tak punya anak. Artinya: Soyi yang mandul. Soyi yang rumahnya hanya gubuk kecil di mana tak ada perabot yang berharga sama sekali di dalam gubuk kecilnya itu untuk dilihat atau dikagum-kagumi atau diperbincangkan dengan cara menyenangkan dan penuh simpati. Soyi itu-tak-berguna. Menjadi “babu” adalah derajatnya, derajatnya yang rendah, dan sangat memukul hati karena ia sudi menjadi “babu” di rumah Dlori!
Dengan wajahnya yang angkuh, sorot matanya yang sinis, Wuryani, berkata: “Heh, darimana kau?”
Tanpa pura-pura, dengan sikapnya yang selalu santun kepada siapa pun, dan hatinya yang tanpa prasangka apa pun, Lik Soyi menjawab, “Saya dari warung.”
“Apa di tanganmu itu?”
“Ini gula dan teh. Juga tempe dan tahu.”
“Sini aku lihat!” tanpa meminta persetujuan, didorong hati yang dengki dan ingin selalu menguasai, Wuryani merebut bungkusan plastik itu dari tangan Lik Soyi, membuat sebagian kecil plastik itu robek. Lik Soyi diam. Hanya diam. Hanya menelan ludah. Dan hanya berdiri mematung. Termangu-mangu. Bingung. Sementara, dengan tangannya yang gemetar—menahan gemuruh hati yang geram—Wuryani pun membuka bungkusan plastik dan melongok isinya. Sejurus kemudian, ia pun berkata, “Katanya juragan-mu itu orang kaya, orang kaya kok belanja di warung. Apa ini? Beli tempe saja hanya sebatang. Lihat tahunya, jumlahnya sedikit—tahu sejumlah ini saja tak cukup bagi suamiku. Katanya orang kayak kok pelit! Dan gula ini, Ya Allah….”
Wuryani kembali menatap tajam wajah Lik Soyi.
Lik Soyi sendiri semakin kebingungan. Bingung bagaimana mau menanggapi. Bingung menanggapi apa. Dan untuk apa. Membenarkan omelan Wuryani? Diam saja? Ah…
“Heh…, bilang pada juraganmu yang sok kaya itu—gula “sebanyak” ini bagiku hanya cukup dua hari, tahu? Juga teh ini…, ya ampuuuun…, katanya orang kayak kok beli teh murahan seperti ini. Teh seperti ini hanya pantas untukmu! Ini ambil!!”
Wuryani menyorongkan bungkusan plastik itu kembali pada Lik Soyi.
Lik Soyi menerimanya. Bibirnya tetap terkatup rapat. Pikirannya kacau karena bingung dan tidak mengerti. Ada sedih yang menggumpal-gumpal kecil di kedalaman hatinya, tentang perempuan paroh tua itu, yang mengomel-omel tak karuan sendiri. Hatinya mengasihaninya, tetapi ada gumpalan pula di hati yang merasa tidak enak dan cenderung terhina dengan ucapan-ucapan Wuryani. Tetapi ia tetap diam saja.
Lik Soyi buru-buru hendak berlalu, tetapi tampaknya Wuryani masih ingin menahannya. Masih ingin melontarkan kata-kata pedas atau bernada menghina lagi. Dan benar saja.
“Heh, kamu dibayar berapa oleh mereka?”
“Maksud Mbok Wur?” bertanyalah Lik Soyi karena memang tak paham pertanyaan perempuan separoh tua itu.
“Kamu digaji berapa—hingga mau “mbabu” di rumahnya, heh?”
“Duh, saya tidak tahu Mbok Wur. Saya kan belum satu bulan kerja di sana.”
“Apa saja yang harus kamu kerjakan?”
“Ya biasa—mencuci, menyetrika, masak…”
“Juga menyapu, mengepel, belanja, ngirim makanan, mengantar ke sekolah. Oalah, Yi, Yi, itu pekerjaan berat. Apalagi anaknya banyak. Ya ampun, kau harus minta bayaran yang setimpal. Menurut perkiraanku, paling tidak, kau harus dibayar 3 atau 4 juta sebulan. Heh, kau harus tahu, pembantu rumah anakku Muniri saja, dia digaji 5 juta, padahal tak banyak yang harus dikerjakannya. Ngerti kamu?”
“Iya, Mbok Wur. Anak Mbok Wur memang sangat sukses. Permisi, Mbok. Saya harus segera kembali.”
Berkata begitu, Lik Soyi berlalu begitu saja dari hadapan Wuryani. Kali ini, Wuryani hanya bisa mendengus-dengus, seperti kambing yang lepas kencang berlari. Wajahnya tampak kecewa, tetapi Lik Soyi semakin berjalan jauh menjauhinya.
***
Sesampainya di halaman rumah, Harun dan Aisyah menyambut kedatangan Lik Soyi di depan pintu. Wajah kedua anak itu tampak senang, riang, bahagia. Mereka memang belum lama mengenal langsung perempuan separoh baya itu, tetapi tampak sekali menerima kehadirannya, dan menyukainya. Keadaan ini benar-benar membuat ibunya merasa ringan pekerjaannya, dan bertambah pula rasa bahagianya. Harun mengambil belanjaan plastik itu dari tangan Lik Soyi, sedang Aisyah menggandeng tangan kiri Lik Soyi dan masuk ke dalam rumah.
“Lik, nggak beli permen?” Aisyah bertanya.
Lik Soyi tersenyum.
Itu sudah diperkirakannya.
Dari selendang yang membelit pinggangnya, Lik Soyi pun mengeluarkan beberapa kembang gula, lalu memberikannya pada Aisyah. Itu adalah permen payung, dan itu pilihan yang tepat untuk Aisyah karena umurnya. Untuk Harun, Lik Soyi membelikannya permen karet. “Awas, jangan sampai ditelan,” ujarnya kepada Harun, mengingatkan.
Harun mengangguk.
Dari kamarnya, Zulfin berteriak, “Lik, ke sinilah.”
Harun meletakkan belanjaan itu di meja dapur. Ia pun kembali bermain dengan adiknya di halaman samping. Pipi kanan Aisyah tembem karena permen. Mulut Harun bergoyang-goyang, karena permen.
“Kamu ketemu siapa tadi, Lik?” Tanya Zulfin sembari menimang Musa. Firasatnya memang mengatakan bahwa Lik Soyi telah ketemu seseorang dan seseorang itu berkata-kata buruk tentangnya atau tentang keluarganya.
Pada detik ini, Lik Soyi tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia duduk di atas kursi di dekat majikannya itu. Tetapi, janda tanpa anak ini tidak merasa bahwa Zulfin adalah majikannya, sebab Zulfin pun tak mau menganggapnya sebagai pembantu, terlebih memandangnya sebagai babu. Sesaat, terngiang-ngiang kembali kata-kata Wuryani di benaknya itu. Kesombongan-kesombongan, kebanggaan-kebanggaan, dan keangkuhan-keangkuhan Wuryani yang ia dengar dari beberapa tetangga selama ini kini ia dengar dengan telinganya sendiri. Cara Wuryani berbicara, menilai, melihat, dan berucap, sungguh membuat hati terasa sesak, dan ketika rasa sesak itu reda, yang muncul adalah rasa sakit. Ucapan Wuryani tidak hanya menusuk Zulfin, tetapi juga, khususnya, menusuk orang seperti dirinya.
Babu.
B – A – B –U.
Betapa fasih dan menusuk Wuryani menganggapnya sebagai babu. Bahwa pembatu anaknya yang ada di Jakarta itu gajinya lima juta per bulan, dan bahwa dirinya harus meminta bayaran minimal 2 atau 3 juta dari Zulfin. Astaghfirullah….
“Kok malah diam to, Lik?” Zulfin bertanya lagi.
Lik Soyi tergagap. Setelah menarik nafas, Lik Soyi pun berkata, “Iya, dik. Saya tadi ketemu Mbok Wur…”
Mendengar nama itu, wajah Zulfin menegang. “Lalu?” tanyanya, “Apa saja yang dikatakannya? Dia menjelek-jelekkanku lagi, lik? Dia ngomong apa saja ke kamu? Ah, aku yakin, dia ngomong yang ndak-ndak. Benar kan, Lik?”
Lik Soyi mendesah lagi.
Ia ingin jujur, tetapi ingin pula berbohong.
Ia ingin berbohong karena tidak ingin memperpanjang urusan ini dan biarlah hanya dirinya sendiri sajalah yang tahu apa yang tadi dikatakan Wuryani. Tetapi kalau ia bohong, berarti ia tak jujur, dan berarti kasihan sekali Dik Zulfin ini. Dik Zulfin itu baik, terlepas bahwa ia telah mempekerjakannya sekarang. Sudah lama Dik Zulfin ini memang sering digunjing para tetangga. Ia tahu.
“Ngomong to, Lik…,” Zulfin sedikit memaksa.
“Tanpa harus saya bilang,” jawab Lik Soyi, “Dik Zulfin tentu sudah tahu. Orang seperti dia, apalagi yang akan dibicarakan selain menyombongkan anaknya.”
“Dia berkata apa tentangku, Lik?”
“Ndak ada, dik. Dia hanya mengata-ngatai belanjaan kita.”
“Apa katanya?”
“Dia bilang, tempe dan tahu yang aku beli ini terlalu sedikit, padahal anak-anakmu banyak. Teh yang aku beli ini murah, dan hanya layak untuk orang seperti saya. Dia bilang, saya hanya pantas minum teh seperti itu sebab saya babu. Dia pun bilang, pembatu Muniri setiap bulan dibayar 5 juta.”
“5 juta, lik?” Zulfin terperanjat.
“Katanya begitu.”
“5 juta…?” ucap Zulfin lagi, khusus kepada dirinya sendiri, bukan kepada Lik Soyi. Zulfin menarik nafas. Diam sejenak. Mata menerawang. Memandangi wajah Musa. Mengelus-elus kening Musa. Anak itu, yang kedua matanya terpejam, tiba-tiba menyunggingkan senyum. Membuat Zulfin, sejenak, lupa terhadap perbincangannya dengan Lik Soyi tentang Muniri dan 5 juta! “Lihat, lik,” serunya pada Lik Soyi, “barusan Musa tersenyum.”
Lik Soyi pun sempat melihat sisa-sisa senyum Musa.
Dan sungguh lucu dan mendamaikan dan membahagiakan melihat bayi dengan kedua mata terlelap tetapi sesungging senyum tampak di bibirnya itu. “Kau tahu kenapa bayi tersenyum dalam tidurnya, Lik?”
Lik Soyi menggeleng, dan menjawab, “Kau yang punya anak—aku tak punya pengalaman itu.”
“Hehe, sori, Lik. Jangan marah…”
“Ah, biasa sajaahh.”
“Malaikat tengah menyapanya hingga senyum menghias di bibirnya, Lik!” jawab Zulfin.
“Atau dia mungkin tengah bermimpi indah di alam sana, dik, bertemu malaikat itu?”
“Mungkin juga. Tak tahulah aku alasan sebenarnya. Tetapi melihat Musa tersenyum seperti ini, hatiku damai sekali, Lik. Dulu, Umi juga begitu. Malah, Umi masih sering seperti itu. Harun dan Aisyah pun mengalami hal yang sama. Lik, banyak anak mengajarkan banyak hal untukku. Harun punya sifat berbeda dengan Aisyah, bukan semata-mata Harun anak laki-laki dan Aisyah anak perempuan, Lik. Aku tahu, Harun akan tumbuh menjadi anak cerdas nantinya. Aku yakin itu, Lik! Sebab aku ibunya, dan aku bisa merasakan denyut nadi dan apa yang ada di hatinya. Dia akan menjadi kakak yang baik bagi adik-adiknya. Aku dan Mas Dlori hanya harus bisa mendampinginya sebaik-baiknya. Dan aku pun membutuhkanmu di sisiku, Lik. Aku akan kewalahan bila tak ada kau di sini.”
“Iya, dik. Itu sudah kewajibanku.”
“Terimakasih, Lik.”
“Aku yang harus berterimakasih kepadamu, Dik.”
“5 juta?” mendadak Zulfin teringat kembali pertanyaannya yang terpotong ladi. Wajahnya berubah lagi. Ia lantas berkata lagi, “Lik, menjadi TKW di Hongkong saja—kalau kau sempat tanya pada Bu Ngademin—digaji 3 atau 4 juta per bulan, mana mungkin seorang pembantu di Jakarta digaji sampai 5 juta per bulan, Lik? Astaghfirullah, Mbok Wur itu kalau bohong kok ya kelewatan sekali. Tidak pake hitungan kalau ingin membangga-banggakan anaknya….”
“Ah, namanya saja orang angkuh, dik. Tetapi menurutku, orang seperti Mbok Wur itu ndak perlu ditanggapi, dik. Bikin capek hati sendiri, dik! Biarkan saja dia terus ngomong ngalor-ngidul membangga-banggakan keluarga dan anak-anaknya sekaligus menghina-hina orang lain. Kalau dia capek, toh nanti dia akan diam sendiri. Biarkan saja, dik. Nggak usah ditanggapi.”
“Kau benar, Lik. Aku hanya heran saja—kok ada manusia seperti itu ya, Lik?”
Lik Soyi tersenyum.
“Besok dia ngomong apa lagi ya?”
“Menurutku, orang seperti dia tak ngomong apa-apa, kecuali mengulang-ulang apa yang telah diomongkannya, dik. Orang seperti dia tak akan pernah puas dengan apa yang telah diomongkannya hingga dia mengulang-ulangnya.”
“Iya, aku setuju engkau, Lik.”
“Jadi sebenarnya membosankan sekali.”
“Tetapi kenapa dia tak bosan-bosan ya, Lik?”
“Saya ndak tahu, dik. Mungkin, satu-satunya hal yang menyenangkan dan memuaskan hati bagi orang yang sombong adalah mengulang-ulang perkataan yang membanggakan dirinya sendiri.”
“Benar sekali menurutmu, Lik. Kau benar…”
“Mungkin, saya hanya bilang mungkin, dik.”
“Tetapi kau benar.”
“Lebih baik kita ndak usah membahasnya lagi…”
“Tetapi aku ingin tahu, apa yang bakal terjadi nanti, Lik?”
“Maksudmu, dik?”
“Jika suatu saat musibah menimpa anak-anak yang dibangga-banggakan itu, mungkin Mbok Wur akan gila, Lik!”
Lik Soyi mendadak diam. Wajahnya menegang. Bibirnya terkatup rapat. Ditatapnya majikannya itu yang menatap kejauhan, seakan pandangan matanya menembus dinding kamar ini, lalu di luar sana mendapati gambaran tentang Muniri atau anak-anak Mbok Wuryani yang lain mengalami celaka atau musibah, lalu ia melihat Mbok Wuryani menangis-nangis menjerit-jerit hingga mengguling-guling. Bibir Zulfin menyunggingkan senyum.
“Dik, maaf!” ujar Lik Soyi dengan mimik wajah yang tak berubah, “jangan membayangkan hal yang ndak-ndak. Bukan berarti saya lebih tahu atau sok atau lebih tua dan dewasa darimu, dik, menurutku kita tak boleh sembarangan berbicara. Sebaiknya kita biarkan saja Mbok Wur dengan kebanggaannya. Ingat, dik, kata-kata itu bisa menipu, bisa melukai, terutama diri kita sendiri…”
Zulfin mengangguk-angguk.
Tetapi senyum itu terus menghias di bibirnya seakan ia tak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pembantunya itu, dan seakan ia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Lik Soyi pun mohon undur dari kamar itu, menyiapkan makan siang untuk majikan dan anak-anaknya. Sekali lagi, Zulfin hanya mengangguk-anggukkan kepala, lalu perhatiannya tertuju pada wajah Musa yang tampak lelap dalam tidurnya.
***
Beberapa bulan sejak kelahiran Musa, ketika hampir semua hasil panen jeruk dan melon habis terjual dan hanya menyisakan sedikit, Dlori pun menikmati hasil jerih payahnya itu, membuat hatinya girang, membuat hati Zulfin tambah berbahagia juga, sekaligus membuat hati orang-orang yang diliputi dengki, iri, atau tak suka macam Muh. Tohar, Kumasi, dan Muhaya beserta istrinya masing-masing bertambah-tambah sakit. Dlori mendadak ingat dua orang yang diakuinya sedikit banyak berjasa atas kesuksesan panennya itu. Kedua orang itu adalah Syam dan Muji.
Syam adalah pemilik sawah yang disewanya itu.
Muji adalah pemilik ladangnya.
Dlori mengakui, tanpa kesediaan kedua orang itu menyerahkan lahannya masing-masing untuk disewa, atau, tepatnya, tanpa kedua orang itu datang menawarkan lahannya masing-masing untuk disewa, tak mungkinlah baginya bisa menikmati hasil panen jeruk dan melon yang melimpah-ruah seperti sekarang ini. Tak mungkinlah dia bisa sesukses dan sekaya sekarang ini—namanya berkibar-kibar seakan di tiang tertinggi di langit pedesaan Siwalan, juga desa-desa sekitar di kecamatan ini di kota ini. Rasa tak enak hati mendadak menderanya.
“Tak seharusnya aku menyewa lahan itu dengan harga yang murah sekali.”
Apakah aku begitu kejam?
Rasa tak enak hati itu bertabrakan dengan rasa yang lain.
“Aku tidak kejam,” ujarnya. Ini bisnis. Mereka datang kepadaku, bukan aku yang datang pada mereka. Mereka membutuhkanku, bukan aku yang membutuhkan mereka. Aku tidak harus merasa tidak enak hati dengan harga murah yang aku berikan kepada mereka. Seandainya tidak ada aku, bisa jadi mereka kesulitan untuk mendapatkan orang yang mau menyewa sawah dan ladang itu.
Hati Dlori sedikit merasa tertekan sebab—seperti halnya sebagian orang, terutama kaum ibu, yang suka menggunjing-gunjingkan istrinya—sebagian kaum laki-laki di Siwalan ini telah membicarakannya. Pak Somad, misalnya, mengungkapkan secara blak-blakan bahwa dirinya sangat kagum terhadap Dlori. Ungkapnya, “Di Siwalan ini, tak ada petani yang lebih sukses dan lebih pintar, kecuali Dlori. Dia berani. Dia nekat. Dan dia berhasil. Dulu, dia nekat menanam melon, padahal tak ada satu orang pun di antara kita yang berani mencoba-coba seperti dia. Kita takut gagal. Kita tak berani mencoba. Ketakutan kita mengalahkan harapan kita untuk berhasil. Tetapi Dlori tak takut gagal. Dlori berani mencoba. Dan Dlori tidak gagal. Dia sukses dengan melonnya itu. Sekarang, hasil panennya bertambah banyak. Bertambah sukses.”
Pak Somad juga mengatakan, “Setelah sukses dengan buah melonnya, Dlori lalu mencoba dengan buah jeruk. Kalian masih ingat, di antara kita malah ada yang mentertawakannya. Kita katakan: Tak mungkin ladang-ladang kita itu bisa ditanami jeruk. Lahan pertanian di sini tak cocok ditanami jeruk. Tanaman kita bukanlah jeruk. Nenek moyang kita menamani ladang ini dengan jagung, kacang, atau singkong. Jeruk ndak akan berhasil ditanam di sini. Kali ini, pasti Dlori salah perhitungan, dan pasti akan gagal. Begitu kan, di antara kita, dulu berkata-kata? Sekarang lihat! Panen jeruknya melimpah. Para pembeli justru berdatangan darimana-mana tanpa susah-susah Dlori menawar-nawarkan buah jeruknya. Ah, kita hanya besar mulut sembari merasa lebih tahu dan lebih berpengalaman darinya, dan akhirnya kita tidak mendapatkan apa-apa dan hanya bisa berkata betapa ranum jeruk-jeruknya!”
Mereka hanya mendengarkan apa yang dikatakan Somad dengan hati yang menggerundel. Mereka seperti membenarkan apa yang dikatakan oleh Somad, tetapi mereka seperti jengkel terhadap kenyataan itu. Jengkel terhadap diri sendiri. “Kenapa aku tak senekat Dlori kala itu,” seseorang membatin. “Seandainya aku mengikuti kenekatan Dlori…,” yang lain pun membatin.
“Ah, lebih baik aku ikuti cara Dlori itu,” akhirnya, kesimpulan seperti itu yang banyak dimiliki warga. Mereka ingin mengikuti jejak Dlori. Setelah panen ini, mereka akan menanam buah melon di sawah, dan menanam jeruk di ladang. Kalau Dlori bisa sukses seperti itu, ujar batin mereka, pastilah mereka akan bisa sukses pula.
Keinginan yang seperti itu tak saling disampaikan antara satu dengan yang lain. Mereka menyimpulkan sendiri-sendiri, di kedalaman hatinya, seakan tak ingin orang lain tahu terhadap kesimpulannya sendiri. Seakan pula, tak ingin ada orang lain yang akan meniru dan mengikuti jejak Dlori. Ini adalah ilmu rahasia meniru kesuksesan, dan karena rahasia maka orang lain tak boleh tahu!
Mereka saling mengangguk.
Tetapi, seseorang di antaranya ada yang berkata seperti ini, “Menurutku, Dlori itu kejam! Sukses sih sukses, tetapi kesuksesannya diperoleh dengan cara yang kejam.”
“Kejam bagaimana maksudmu, Kum?”
“Kau dengar,” jawab Kumasi, “dia sendiri pernah berkata tentang sawah dan ladang yang disewanya itu. Dia bilang bahwa dia telah menyewa sawah dan ladang itu dengan sangat murah. Tahu harganya berapa? Bahkan untuk beli sepuluh ekor ayam saja belum cukup. Oh, dengan cara yang licik Dlori menekan kedua pemilik sawah dan ladang itu. Mudah sekali ditebak kan? Syam dan Muji itu sedang membutuhkan duit. Duit itu mereka butuhkan untuk apa, itu tidak penting. Tetapi Dlori telah melakukan cara yang tidak islami—tidak mencerminkan sebagai seorang muslim. Dengan cara murah dia menyewa sawah dan ladang itu, sementara dia tahu bahwa dia akan berhasil. Oh, di mataku, kesuksesan Dlori tak ada harganya sama sekali. Kesuksesan yang diperoleh dengan cara zalim adalah zalim itu sendiri!”
“Tetapi ini kan bisnis, Mas Guru?” seseorang terdengar membela Dlori.
“Bisnis tidak seperti itu, kalau dia berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah.”
“Jadi begitu ya?”
“Begitulah.”
“Jadi dia salah?”
“Iya, di mata agama.”
“Tetapi dia sukses?”
“Itu tidak ada gunanya!” Kumasi berseru setengah jengkel.
“Salah sendiri Syam dan Muji mau dihargai murah seperti itu!” seseorang berkata setengah lirih, tetapi cukup terdengar di telinga Kumasi. Kumasi pun menampakkan wajah yang tidak suka, kesal, dan marah.
Kumasi menyahut, “Kau berkata seperti itu seakan-akan kau tak punya hati. Orang yang kepepet, tentu akan melalukan hal secara kepepet. Syam dan Muji barangkali tengah membutuhkan uang untuk keperluan yang sangat penting. Coba kalian pikir, adakah orang yang tidak terpaksa akan rela menyewakan sawah dan ladangnya dengan cara murah? Aku justru kagum sekaligus kasihan pada mereka itu. Aku kagum sebab mereka, dalam keadaan terpaksa, tidak menempuh jalan yang rendah dan hina. Mencuri, merampok, atau menjambret, misalnya. Mereka pun tidak berhutang. Mereka memilih merelakan sawah dan ladang mereka untuk disewa dengan harga yang murah. Dan aku kasihan terhadap mereka, sebab mereka justru dipertemukan orang yang licik seperti Dlori. Lalu Dlori pun mengambil keuntungan dari keterpaksaan yang mereka alami. Mengerti kau?”
Belakangan, baru diketahui bahwa kedua orang itu—Syam dan Muji—terpaksa menyewakan sawah dan ladang mereka demi mengobati anak dan ibunya. Anak Syam sakit keras, dan memerlukan biaya untuk mengobati anaknya. Ibunya Muji pun begitu. Mengetahui hal itu, lambat laun warga menyetujui apa yang pernah dikatakan Kumasi. Dan warga semakin setuju ketika perkataan Kumasi didukung oleh Muh. Tohar dan Muhaya. Kesimpulan pun kini bertambah jelas: Dlori kejam. Dlori zalim. Kesuksesannya diperoleh dengan cara yang kejam dan zalim!
Dan perkataan seperti itu, pada akhirnya, sampai juga ditelinga Dlori. Dlori pun bimbang. Dlori galau. Rasa itulah yang kemudian membersitkan keinginan di dadanya untuk mendatangi Syam dan Muji. Kepada keduanya, Dlori akan membagi sedikit rejeki dari hasil panen melon dan buahnya.
***
Satu bulan, sejak kegalauan dan keresahan itu, di suatu sore yang cerah, Dlori melangkahkah kaki menuju desa Seworan. Saku celana hitamnya tampak menggelembung. Dlori membawa sejumlah uang di dalam saku itu, untuk diberikan pada Syam dan Muji.
Matahari masih menggantung di langit sebelah barat. Sinarnya yang kuning-kemerahan menerobos awan gemawan. Sesekali, terdengar suara kutilang dari pepohonan. Ada juga suara burung hantu di kejauhan. Sesekali, Dlori menyapa dan disapa oleh para tetangga yang kebetulan melintas di jalan itu. Ketika seseorang bertanya hendak ke manakah ia, Dlori pun menjawab apa adanya. Orang itu pun mengangguk-angguk.
Rumah Syam tak jauh dari SD Inpres Seworan. Letaknya berseberangan dengan surau milik Kiyai Ahmad almarhum. Ada cerita yang mengharu-biru tentang surau Kiyai Ahmad berpuluh tahun yang silam, dan Dlori mendengar dari orang-orang yang mendahuluinya. Sesungguhnya Dlori sudah sering melewati jalan utama di samping surau itu—kini, surau itu sudah dibangun permanen, berlantai keramik, dan berhalaman luas—ketika ia pergi ke Seworan ini untuk urusan pertanian atau sekedar bersilaturrahmi pada orang-orang yang dikenalnya, tetapi entah kenapa kedua kakinya mengajaknya berhenti sejenak persis di samping surau itu. Dlori memperhatikan surau yang sepi itu. Tiba-tiba kulitnya merinding oleh sebab yang tak dipahaminya sendiri. Hatinya juga bergetar ketika memandangi surau itu—surau dengan sejarahnya yang mengharu-biru itu. Dlori berpaling.
Dlori meneruskan langkah.
Dari arah sini, rumah Syam hanya tampak atapnya saja, berjajar bersama atap-atap rumah para tetangga. Dlori menapaki jalan turunan, menuju rumah Syam itu. Ketika ia sudah sampai di bawah, pada saat yang sama seseseorang keluar dari rumah sebelah kanan, tak jauh dari rumah Syam yang berada agak di belakang. Kasmin, namanya. Lelaki tua beranak tiga dan telah besar-besar itu hanya bertelanjang dada dan mengenakan kain sarung warna pudar. Ia duduk di atas bangku berbentuk panjang di emperan rumahnya. Ketika ia melihat kedatangan Dlori, ia pun bangkit seakan Dlori tengah menuju kepadanya dan hendak bertemu dengannya. Hal yang demikian ini adalah pemandangan yang sangat wajar. Sebagaimana warga yang lain, yang mendorong Kasmin berdiri seperti ini adalah ketulusannya—juga keramahannya sebagai seorang warga desa. Desa Seworan.
“Assalamu’alaikum…,” Dlori menyapa.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah…,” ia menjawab.
Dlori tersenyum.
Kasmin pun tersenyum.
“Wah, sedang santai nih, Pakde?”
“Iya, mau apa lagi coba, dik.” Kasmin mengajak Dlori duduk, dan walaupun tujuan Dlori ke sini untuk Syam, Dlori pun duduk menuruti tawaran itu.
“Kok sepi? Pada ke mana?”
“Ada, anak-anak dan mbok-nya ada di dalam.”
“Oh…”
“Dengar-sengar, semakin sukses saja Dik Dlori ini?”
“Ah, biasa saja kok Pakde.”
“Di sini rame lho, dik—orang-orang membicarakan kesuksesanmu dengan melon dan jeruk itu…?”
“Waduh, sampai segitunya ya, Pakde?” Dlori merasa sedikit tersanjung dengan ucapan Kasmin yang nadanya sungguh-sungguh itu. Jadi benar, bisik batinnya, orang-orang telah mendengar kesuksesan jeruk dan melonku.
“Kau memang hebat, dik!” ujar Kasmin lagi, kali ini dengan mata menatap mata Dlori seakan hendak mencuri tahu rahasia kesuksesan Dlori dari bola matanya itu. “Bahkan, yang aku dengan dari warga di sini, mereka hendak meniru kesuksesanmu, dik. Aku pikir, mereka memang harus begitu…”
“Meniru gimana maksudnya nih?”
“Iya, begitulah. Tahun ini, rame-rame mereka akan menanam jeruk dan melon. Bahkan ada yang mau mencoba menanam melati.”
“O, begitu.”
“Ya, begitulah. Bagaimana menurut Dik Dlori secara Dik Dlori ini kan sudah sangat berpengalaman dalam soal seperti ini.”
“Syukurlah kalau begitu, Pakde.” Jawab Dlori tanpa basa-basi. “Saya senang orang-orang tertarik untuk menanam jeruk dan melon. Tentang melati, hmm…itu memang layak dicoba. Dulu, orang-orang Siwalan itu sudah sering aku ajak untuk mencoba melon, mencoba jeruk juga. Tetapi ajakanku malah ditertawakan mereka. Mereka bilang, sawah kita tidak bisa ditanami melon. Pohon jeruk juga tidak akan bisa hidup di ladang. Mereka bilang seperti itu, sungguh, bukan karena sawah dan ladang kita seperti itu. Mereka hanya tidak berani mencoba saja. Mereka takut gagal, Pakde. Dan itu adalah penyakit—penyakit yang menggagalkan kesuksesan. Banyak dari kita yang tidak berani mencoba dan justru tenggelam dalam ketakutan yang dibuat sendiri. Perlu ada orang yang berani untuk mencoba. Saya sudah mencoba, dan saya berhasil. Saya senang bila ada warga di Seworan ini yang mau mengikuti jejak saya, Pakde…”
“Iya, dik. Malah banyak. Malah sebagiannya sudah mempersiapkan diri dari sekarang.”
“Tetapi jangan semua sawah ditanami melon, Pakde…”
“Kenapa?”
“Kita tetap masih butuh padi. Kita ini petani, dan seorang petani tak layak membeli padi. Seorang petani harus menanam padinya sendiri. Jangan sampai terjadi petani membeli padi karena tidak menanam padi sendiri padahal mereka memiliki sawah.”
“Kau benar, aku setuju. Oh iya, dik, maaf, jadi lupa. Saya minta mbok-nya anak-anak membuat minum untukmu. Mari kita masuk ke dalam…”
“Tak usah repot-repot, Pakde. Ibunya anak-anak tadi sudah membuatkan minum untukku. Saya sudah minum. Lagi pula, saya ingin ke rumah Dik Syam. Ada nggak dia, Pakde? Sepertinya rumahnya sepi. Pintu rumahnya ditutup seperti itu.”
Mendengar perkataan itu, wajah Kasmin berubah.
Dlori memperhatikannya.
Kasmin pun menatapnya.
“Ada apa, Pakde?”
“Syam dan istrinya tidak ada di rumah sekarang.”
“Ke mana mereka?”
“Ziarah.”
“Ziarah….?”
“Iya, ziarah.”
“Ziarah ke mana? Jawa Timur? Jawa Barat. O, syukurlah. Ziarah memang harus sering kita lakukan, Pakde. Kita meminta pada Allah dengan perantara para ulama, kiyai, atau syaikh yang telah pergi mendahului kita. Aku seringkali ingat kata-kata Haji Ridlwan. Menurutnya, ada sebagian pihak yang tidak memperbolehkan ziarah. Katanya, ziarah itu bisa membuat seseorang menjadi sesat. Ah, entahlah. Soal agama, aku tak banyak mengerti. Tetapi aku pikir, ziarah itu memang penting. Sangat-sangat penting. Bukankah begitu, Pakde?”
“Iya, aku setuju.”
“Jadi Dik Syam dan istrinya sedang ziarah ke mana?”
“Ke makam sana, dik. Dekat kali…”
“Loh, bukan ke makam wali to?”
“Bukaaaan….”
“Memang di makam sana ada makam kiyai besar? Atau wali, Pakde? Oh, astaghfirullah, aku lupa. Kiyai Ahmad kan dikubur di sana ya?”
“Bukan menziarahi makam Kiyai Ahmad, dik. Kamu ini gimana to?”
“Terus—makam siapa yang diziarahi?”
“Memang kamu belum mendengar?”
“Mendengar apa, pakde?”
“Baru tiga hari ini, anaknya meninggal dunia….”
“Apa…?”
“Sakitnya tak tertolong. Ndak ada biaya lagi. Ya Allah…., akhir-akhir ini memang berat rasanya. Belum juga sebulan Mbok Lah meninggal, kini sudah meninggal anaknya dik Syam itu.”
“Mbok Lah siapa, Pakde?”
“Mbok Lah…? Masak nggak tahu. Ibunya Muji….?’
“Innalillah wa inna ilayhi Raaji’un…”
***
Bagi orang yang suara hatinya masih berbisik dan didengarnya, rasa bersalah adalah hantu yang tidak hanya datang ketika malam, tetapi juga hadir ketika siang. Bahkan ketika hal itu telah berlalu setelah dua hari lebih seminggu. Uang yang tadinya hendak diberikan dalam jumlah yang sangat kecil seakan tak cukup mengobati rasa bersalah itu walau telah ditambah berjumlah-jumlah. Hatinya menjadi kecut ketika pemberian terakhir ditolak secara halus sembari dikatakan kepadanya, “Kami telah ikhlas, mas. Anak kami telah berpulang kepada Allah. Sekarang dia bisa mendoakan kami dari jarak yang sangat dekat dengan-Nya, bahkan tak ada lagi jarak antara dia dan Dia.”
Kata-kata menusuk, bagai jarum yang sangat tajam dan lancip. Hatinya bagai balon yang sekali tusuk langsung meletus. Syam menolak. Istrinya menunduk. Anak itu adalah anak satu-satunya. Satu-satunya yang pernah dimilikinya. Tetapi Sang Pemilik sejati telah mengambilnya. Dan sakit hanyalah cara-Nya agar Dia bisa segera bertemu dengan anak-Nya.
Akan halnya dengan Muji dan ibunya…
Mbok Lah, begitu warga Seworan biasa memanggilnya, telah terlalu lama mengidap stroke. Ada yang bilang komplikasi. Tetapi itu tidak penting bagi sebuah sebab yang mengantarnya ke alam baka. Banyak orang di Seworan itu, mungkin, menganggap kematian adalah kepastian. Tak lebih. Sesiapa yang hidup pasti bakal mati. Tak kurang. Yang mati tak akan pernah kembali, walau jerit tangis membumbung tinggi. Tetapi bagi Muji, kematian ibunya sungguh amat memilukan, begitu memerihkan. Muji kini sebatang kara, sesungguhnya hidup walau hakikatnya mati.
Syam dan Muji, sama-sama si kehilangan ini, sama-sama kehilangan orang yang dicintai karena keterbatasaan hidup. Persis seperti sebuah kisah di masa silam tentang seorang laki-laki yang baru saja menikah tetapi pernikahan itu telah diambang kehancuran karena tak ditopang ekonomi yang cukup sekaligus ia harus menghadapi kenyataan keras ayahnya sakit yang sangat keras. Sang ayah telah diobati ke mana-mana, tetapi kesembuhan tak juga datang. Hingga, suatu ketika di saat sang lelaki tengah berusaha menata hidup rumah tangganya, dia menemukan obat yang, konon, bisa menyembuhkan ayahnya. Begitu obat hendak diberikan pada sang ayah, sang ayah telah lebih dahulu meninggal dunia. Hati sang lelaki itu gugur.
Tetapi hati Syam dan Muji lebih berguguran lagi.
Seorang dokter dari kota yang sanggup meramu obat-obat herbal menawari Syam obat herbal buatannya. Tetapi Syam tidak sanggup lagi membeli karena obat itu mahal harganya. Begitu pula Muji. Bahwa mereka menyewakan sawah dan ladangnya masing-masing, sesungguhnya itu adalah jalan terakhir untuk membeli obat herbal itu. Katanya, dengan sekali atau dua kali minum lagi obat herbal itu, anak Syam kemungkinan akan terselamatkan. Setidaknya, nyawanya akan tertolong dan umur hidupnya lebih memanjang.
Tetapi takdir selalu ada di tangan Allah SWT.
Ketiadaan biaya telah mengantar dua orang yang sama-sama mereka cintai itu ke alam baka. Syam pasrah. Muji kehilangan daya.
Tetapi orang-orang segera menyalahkan Dlori sebagai penyebab kematian dua orang yang dicintai masing-masing itu. Bagi mereka, Dlori-lah sesungguhnya pembunuh itu! Dlori tidak hanya menjelma, di mata orang-orang itu, sebagai orang yang mendapatkan kesuksesan secara kejam dan zalim, melainkan juga sebagai pembunuh.
Ya, pembunuh.
PEMBUNUH!
Sebuah kata yang, mungkin—dan memang—terlalu berlebihan. Tetapi tidak mampu untuk dicegah dilemparkan ke hadapan mukanya. Diam-diam, rasa simpati warga kepadanya tentang kesuksesan jeruk dan melonnya berubah menjadi benci. Dan rasa benci itu menyekutu dengan iri dan dengki. Ujian dan cobaan yang baru ini datang lagi ke dalam hidup Dlori. Menyebabkannya sedikit berputus asa. Membuat istrinya kembali termangu. Sakit. Pedih. Perih. Kini, tidak hanya persoalan banyak anak dan jarak kelahiran yang sangat dekat yang kembali digunjing-gunjingkan warga Siwalan, tidak pula hanya soal sumbang-menyumbang yang cukup membebani sebagian orang, terutama mereka yang rejekinya seret, tetapi juga, dan lebih utamanya, keluarga itu—Dlori dan istrinya—dianggap sebagai keluarga yang kejam, yang zalim, yang membunuh!
Di titik ini, barangkali Dlori dan istrinya lupa akan kata-kata bijak dari orang-orang terdahulu: Dan daun pun pasti akan berguguran. Dan pohon pun pasti akan tumbang. Jika tidak tumbang karena ketuaannya, ia bisa tumbang karena kekuatan alam. Dlori dan Zulfin tengah mengalaminya….
***