Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Entah disadarinya atau tidak, ia telah memilihkan nama-nama yang sangat baik untuk kedua anaknya. Kedua-dua nama anaknya itu adalah nama-nama nabi: Nabi Harun dan Nabi Musa. Di dalam sejarah, kedekatan keduanya seringkali digambarkan secara menarik oleh baginda Rasulullah saw ketika menggambarkan kedekatan diri beliau dengan keponakan sekaligus menantunya, Ali bin Abi Thalib. Di hadapan para sahabat, Rasulullah saw sering berkata bahwa dirinya terhadap Ali seperti Harun di hadapan Musa, hanya saja setelah beliau tak ada nabi dan rasul lagi. Dlori dan istrinya memang tidak tahu hal itu sebab memang tidak ada yang memberi tahu. Tak juga diberitahu Haji Ridlwan, “tempat” mengadu dan mencari tahu, khususnya soal-soal keagamaan.
Tetapi lelaki sepuh, sang empunya cerita—hingga di bagian ini—tahu tentang hal itu. Kiyai Na’im itu, ilmunya sesepuh usianya. Banyak hal yang ia tahu dan tidak diketahui orang lain, apalagi pasangan-pasangan muda seperti Dlori dan istrinya. Karena itu, entah dari mana ide nama itu muncul, Dlori menamai anak pertamanya dengan Harun dan anak keempatnya dengan nama Musa. Bahkan, ketika tengah bercanda di malam hari saat hujan deras menghajar atap rumahnya, ketika anak-anak telah terlelap dalam tidur dan mimpinya masing-masing, sembari memeluk istrinya dengan hangat dan manja, Dlori pernah berkata kepadanya, “Yang, jika anak kita nanti laki-laki lagi, akan kuberi nama dia sebagai Rahim.”
Sesungguhnya, romantisme pasangan suami-istri itu seakan tak pernah pudar. Cinta dan kasih mereka selalu terjaga dan tak pernah berkurang. Tidak seperti kebanyakan pasangan lain. Sering terjadi, cinta dan kasih sayang suami-istri begitu dalam dan menggebu-gebu di awal-awal pernikahannya, lalu melambat memudar, untuk kemudian layu seiring tahun berganti tahun. Awalnya panggil “yang”, atau “ayang” lalu disingkat “ay” atau “yayang”; akhirnya panggilan berubah: “Buk” atau “Pak”, lalu “kau” atau “kamu”. Tidak demikian halnya dengan Dlori dan istrinya. Kadang mereka memang saling panggil “Pak” atau “Buk”, tetapi itu tak mendominasi panggilan kepada masing-masing. Selebihnya, dan paling sering, mereka saling memanggil “istriku sayang” atau “suami sayang”, “mas” atau “dik”, “cinta” atau “sayang”. Panggilan “pak” atau “buk” berlaku hanya ketika hati mereka gelisah. Dan itu telah terbukti!
Ada saat di mana hati keduanya benar-benar terbakar cinta setelah asmara terlebih dahulu memasukkan keduanya ke dalam kobarannya. Saat-saat itu ialah saat-saat seperti ini: Malam yang dingin dan menggigilkan. Suara hujan yang mencacah atap, percikannya bertalu-talu laksana saling memukul dan laksana hendak saling mendahului. Langit menderaskan kucuran hujan seakan memacu cinta dan kasih yang dalam di antara keduanya. Karenanya, tercetuslah pernyataan seperti itu.
“Nama itu tidak terlalu buruk untuk anak kelima nanti, istriku sayang…”
Tetapi Zulfin diam.
Zulfin tak menanggapi. Ia hanya merekatkan lengan tangannya ke dalam pelukannya, tubuhnya sendiri membelakangi suaminya. Tetapi wajahnya menyunggingkan senyum. Ia senang suaminya memanggil seperti itu di malam yang dingin dan hujan seperti ini. Tetapi anak kelima? Ia masih diam. Tak menanggapi.
“Aku akan membuat satu kamar lagi untuknya. Rumah kita perlu kita perluas lagi. Rumah ini akan ramai dengan kehadiran anak-anak kita, sayangku…” Dlori terjebak pada bayang-bayangnya sendiri. Bayang-bayang yang ia ciptakan di benaknya saat ini.
“Kau pengin anak lagi, mas?” kali ini Zulfin bertanya.
“Tentu saja.”
“Tetapi sumpah, mas. Aku cepak melahirkan. Kau sih enak-enak melulu…”
“Tetapi kau senang kan kalau kita punya anak lagi?”
“Kau tak pernah melahirkan, mas, tak tahu rasanya melahirkan. Bila kau tahu dan bisa merasakannya, kau tak akan pernah mau melahirkan!”
“Kau bercanda, sayang…”
“Aku tak bercanda, mas. Jika orang mengatakan bahwa seorang ibu yang melahirkan itu sama artinya dengan mempertaruhkan nyawa, itu benar, mas. Kami, kaum ibu, mempertaruhkan nyawa kami demi anak-anak kami.”
“Ah, kau tetap bercanda, sayang.”
“Bercanda bagaimana?”
“Lebih sakit menjadi laki-laki daripada menjadi perempuan. Dan laki-laki konsisten dengan sikapnya.”
“Kau bicara soal apa, mas?”
“Soal mana yang lebih sakit dan mana yang konsisten. Kami, laki-laki, memang tak pernah melahirkan. Tetapi kau, perempuan, tidak pula merasakan sakitnya di-khitan. Betul nggak?”
“Itu beda, mas. Di-khitan itu tak sakit. Apalagi memakai obat bius. Ah kau terlalu mengada-ada, mas…”
“Di-khitan itu sakit, dik. Makanya kami, kaum laki-laki, tak pernah mau mengulanginya lagi.”
Dlori tertawa, dan hampir saja tawanya itu membangunkan si kecil Musa. Zulfin mencubit lengannya, mengaduh-kan mulut Dlori. Lalu ia mencium kening istrinya itu. Mencium lama. Lalu mengecup bibirnya. Apa yang terjadi tak perlulah lagi dibahasakan melalui kata-kata. Biarlah itu urusan mereka berdua. Urusan suami istri. Di malam-malam yang dingin dan menggairahkan ini…
***
Perbicangan mesra dan romantis seperti itu terjadi sudah lama, beberapa bulan lalu. Dan itu seperti menjadi perbincangan indah mereka yang terakhir. Hari-hari belakangan ini udara seakan terasa sesak dan menyesakkan. Kemurniannya seakan terus tercemari oleh pergunjingan dan kasak-kusuk warga. Bila dikatakan bahwa mulut perempuan itu berbisa, setidak-tidaknya itu tampak pada mulut Barokah, Jumilah, dan Wuryani. Bisa ular itu bermacam-macam. Tetapi “bisa” yang “keluar dari mulut” Wuryani paling membunuh dan mematikan.
Kabar tentang kematian anak Syam dan ibunya Muji memang telah menyebar ke mana-mana. Bahkan, sebagian warga Siwalan, saat itu, ikut berbela sungkawa ke rumah duka. Tetapi saat itu mereka tak menghubung-hubungkan kematian keduanya dengan soal sewa-menyewa lahan sawah dan ladang. Mereka, seperti juga hampir semua warga di Seworan, menganggap kematian itu seperti kematian yang sudah sering terjadi. Tak lebih. Tak kurang. Manakala, entah-dari-siapa-yang-mulai, muncul kasak-kusuk bahwa kematian anaknya Syam dan ibunya Muji berhubungan dengan kesulitan keuangan oleh sebab Dlori menyewa dengan harga murah sawah dan ladang itu, maka, seperti awan yang mencucurkan hujan, kasak-kusuk itu cepat menyebar, seperti hujan yang memukul-mukul tanah dan dedaunan. Sampailah kasak-kusuk itu ke telinga orang-orang Siwalan. Rumah Kumasi, yang kebetulan terletak paling timur dan paling ujung bersebelahan dengan rumah paling barat warga Seworan, tersambar kasak-kusuk itu, lalu meletuplah api yang keluar dari bibir Jumilah.
Jumilah berkata, kepada tetangga sebelahnya, “Apa yang aku bilang kini terbukti. Tidak hanya Zulfin yang membuat malu kita sebagai orang Siwalan dengan kelahiran anak-anaknya. Anaknya masih cindil-cindil begitu sudah melahirkan anak lagi. Huft…, dasar perempuan hobi bunting. Sebentar lagi, pasti dia bunting lagi. Lihat saja.”
“Tetapi apa benar yang kamu katakan tentang sewa itu?”
“Haalaaaah, tak hanya aku yang bilang, dik. Semua orang juga tahu. Dlori itu pembunuh. Jeruk dan melon-nya itu berhasil dengan menumbalkan anaknya Syam dan ibunya Muji!”
“Apa maksudmu, Mbak Yu?”
“Mosok ndak tahu maksudku, dik? Dlori tahu Syam dan Muji lagi butuh duit. Lagi kepepet. ‘Kalau mau segini ya aku ambil, kalau ndak ya silahkan cari orang lain yang mau!’ Pasti begitu cara dia menekan Syam dan Muji, dik. Jeruk dan melonnya itu ndak berkah, dik. Itu kata Mas Kumasi, suamiku. Jangan lupa, dia guru agama, dik. Dia tahu agama. Dia bilang, hasil panen jeruk dan melon-nya Dlori itu sama sekali ndak berkah. Sebab dihasilkan secara kotor dan malah mengantarkan kematian orang-orang yang tak bersalah!”
Tetangga itu mengangguk-angguk.
Entah mengerti…
Entah hanya mengangguk-angguk belaka.
Entahlah.
Yang jelas, tak berapa lama kemudian, kasak-kusuk seperti itu telah menyebar ke mana-mana. Beterbangan tak teratur. Seperti burung. Lalu hinggap di atap rumah Barokah. Ketika itu Barokah tengah duduk di serambi depan rumahnya, duduk bersama suaminya, merenungi anak-anaknya yang jauh-jauh tempat tinggalnya. Umi di Bali—Kapan dia mau pulang, nengok dirinya dan bapaknya? Mahmudah juga di Bali—Oh, mudah-mudahan bisnis mie ayam-nya sukses. Aziz? Anak itu memang ulet. Pagi menjadi guru, sore harinya jualan mie ayam di Bandung. Anakku yang satu ini, satu-satunya anak laki-lakiku, memang tak mau kalah dengan kakak-kakaknya. Samsul pun begitu—menantuku itu seperti tak lelah-lelahnya bekerja membuat kursi, meja, dan lemari. Sebentar lagi Miratul lulus sekolah. Dia akan kuliah di Jogja. Oh….
“Aku tak habis pikir dengan Dlori itu, Pak,” ucapnya kepada sang suami. “Kok tega dia berbuat seperti itu? Kasihan Syam. Kasihan pula Muji. Seharusnya Dlori tak setega itu. Tak ada orang yang mau menyewakan sawah miliknya dengan harga yang murah sekali, kalau memang tidak sangat terpaksa. Dlori tahu Syam butuh uang untuk mengobati anaknya. Jika Dlori memiliki hati, selain dia akan menyewa sawah milik Syam dengan harga yang pantas, tentu dia akan sedikit membatu pengobatan anaknya. Jika dia seperti itu, hasil panennya tak hanya berkah di mata Tuhan, tetapi juga semakin berlimpah. Sayang sekali hatinya tertutup nafsu. Tidak salah bila ada yang bilang dialah pembunuh sejati anak-nya Syam dan Mbok Lah itu!”
“Hushh….,” Muh. Tohar tampak keberatan dengan ucapan Barokah. Dipandanginya istrinya itu dengan sorot tajam. Tubuh Muh. Tohar yang kecil dan sudah menua itu seakan lebur oleh bola matanya yang membesar. Barokah mendesah, terdiam. Muh Tohar melanjutkan, “Kita ini sudah tua, Bu. Tak perlu mencampuri lagi urusan-urusan seperti itu. Jangalah kau menjadi seperi Jumilah, lebih-lebih Wuryani. Tak baik itu, Bu. Tak baik…!”
“Aku kan hanya ngomong apa yang aku dengar dari orang-orang, Pakne…”
“Tetapi tak perlu kau tambah-tambahi seperti itu, Bu…”
“Mana yang aku tambahi?”
“Tentang hatinya yang tertutup nafsu itu. Juga tentang bunuh-membunuh itu—seperti orang yang ndak punya agama saja kamu ini to, Bu, Bu…”
“Kan aku hanya menyimpulkan dari apa yang aku lihat, yang aku dengar. Kita ini dididik untuk hidup sederhana. Agama juga mengajarkannya begitu. Kata Haji Ridlwan, jangan sampai kita menjadi orang yang serakah. Bukan kah begitu di pengajiannya yang kemarin malam itu? Orang yang serakah itu berarti orang yang ingin hidup bermegah-megahan. Ingin sukses dengan segala cara, termasuk menyewa sawah dan ladang dengan harga yang murah, tak peduli pemiliknya lagi kepepet demi anak dan ibunya. Aku ndak salah to kalau bilang Dlori itu hatinya tertutup nafsu. Orang yang serakah adalah orang yang hatinya tertutup nafsu.”
“Iya, benar…”
“Lha itu kamu membenarkanku, Pakne…”
“Tetapi kita kan ndak pernah tahu hati orang, Bune? Kata orang: Gunung di seberang lautan tampaklah di mata, tetapi isi hati orang siapa yang tahu! Jangan lupakan itu, Bune.”
“Ah, kamu itu ngomong apa to, Pakne, Pakne.., ndak mudeng aku.”
“Lebih baik kita berdoa untuk kesuksesan, kesehatan, dan keselamatan anak-anak kita, Bune. Aku kangen Dimas, cucuku. Ah, lebaran masih lama. Dia pasti sudah besar sekarang.”
“Aku juga kangen, Pakne. Anak kita—Umi dan Mudah—hanya pulang sekali ketika lebaran. Kita sudah tua, kita ndak tahu kapan akan mati. Aku ingin dekat dengan mereka di akhir-akhir hidupku yang seperti ini.”
“Ngomong apa to kamu ini, Bune, Bune. Sudah, ndak usah diterusin!”
Barokah diam.
Kedua matanya menerawang.
Muh. Tohar sibuk dengan rokok linthingannya.
Pada saat yang hampir bersamaan, beberapa ratus meter dari rumah Muh. Tohar, keributan terjadi di depan warung Mbah Kamiyem. Pemicunya siapa lagi kalau bukan “si mulut berbisa” Wuryani. Ah, sungguh ironis perempuan separoh tua itu. Tubuhnya memang kecil—citra perempuan Jawa tulen, walau tidak semuanya begitu. Rambutnya panjang, dan selalu digelung, dan sudah banyak beruban. Bibirnya coklat-hitam dan tipis. Orang bilang bahwa pemilik bibir yang tipis biasanya banyak bicara, dan itu sangat tepat dialamatkan untuk bibir Wuryani. Tipis-coklat-dan hitam. Bola matanya yang telah hilang kebeningannya itu, berganti coklat berbintik-bintik dan berserat-serat seperti kilat, seakan-akan berlomba-loma dengan bibirnya untuk membisiki hati dan pikirannya membuncahkan kalimat-kalimat tak suka, iri, dan dengki. Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Dlori.
Mbah Kamiyem berdiri di balik pintu warungnya. Pintu itu terdiri dari dua daun, atas dan bawah, dan ia berdiri sambil menyedakukan kedua tangannya di bagian atas daun pintu yang bawah. Surti berdiri di pintu luar sebelah kiri, memiring tubuhnya dari hadapan Mbah Kamiyem. Di tangan kanannya tergenggam sambun mandi dan sabun colek warna kuning—Ia datang ke warung Mbah Kamiyem hanya untuk membeli keduanya, dan itu sebenarnya tak membutuhkan waktu yang lama, tetapi ia berlama-ama di situ mendengar ocehan Wuryani yang berdiri di sebelah Sri Rejeki yang duduk menopang dagu, di emperan warung Mbah Kamiyem itu. Jadilah ketiga orang itu—Mbah Kamiyem, Surti, dan Sri Rejeki, pendengar setia dari “ceramah-ceramah” Wuryani.
Ocehan itu semakin lama semakin seru. Senja di warung Mbah Kamiyem sepertinya menjadi saat yang indah untuk berkata-kata. Tak jauh dari mereka, beberapa anak sedang bermain kelereng di tengah jalan. Di belakang rumah Mbah Kamiyem, dihubungkan dengan sepetak tanah yang dibiarkan kosong dengan beberapa tanaman bunga dan pohon-pohon rindang, tempik sorak suara para pemudi terdengar hingga ke sini: Mereka menyoraki para pemuda yang tengah bermain bola voli. Seorang pemuda terlalu keras mengembalikan lemparan bola, hingga memantul menabrak genting rumah Kumedi. Pecah. Kumedi keluar, dan, sambil berkacak-pinggang, mencari-cari pelakunya. Nafasnya mendengus-dengus.
“Maaf, Lik. Besok aku ganti,” seorang pemuda, merasa bertanggung jawab. Dijawab dengan dengusan Kumedi, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Kembali ke Wuryani.
Semakin senja, semakin keras ocehannya.
Semakin seru lagi ketika ada dua orang ibu datang ke warung Mbah Kamiyem untuk belanja. Ibu yang satu langsung membeli keperluan ini dan itu seraya telinganya mendengar ocehan Wuryani. Mbah Kamiyem harus menunda telinganya terlebih dahulu untuk melayani keperluan ibu itu. Beberapa saat kemudian, ibu itu melangkah pergi. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka. Wajah itu tegang. Geleng-geleng kepala. Sebentar kemudian, tubunya sudah lenyap di tikungan.
Ibu yang satunya bergabung dalam “jamaah kecil di senja itu”. Dia urungkan niat untuk berbelanja kebutuhan, memasang kedua telinganya untuk mengikuti ocehan. Setelah yakin darimana dan mau ke mana ocehan Wuryani itu, dia pun langsung menimbrung dan melompatkan kata-kata. Dan kata-katanya, memang, mulai berlompatan, meningkahi ocehan Wuryani.
Kata-kata tak enak tentang Dlori.
Juga tentang Zulfin.
“Zulfin itu iri,” celoteh Wuryani, “iri denganku. Iri anak-anakku.”
Surti menyahut, “Iya, kau benar.”
Ibu yang ikut nimbrung tadi, Sukinah namanya, menambah, “Bude Wur memang pantas untuk di-iri-kan. Anak-anak Bude memang sukses-sukses semuanya. Sudah sukses, masih semuanya lagi. Oalah, Zulfin, Zulfin. Masih muda tapi hobi bunting!”
“Lihat saja, sebentar lagi keluarga itu bobrok!” seru Wuryani semakin semangat. Semakin semangat karena dipompa ucapan Surti dan Sukinah. Mbah Kamiyem kembali bergabung setelah menghitung uangnya di laci meja.
“Aku selalu bilang, susah mengikuti jejak anak-anakku. Zulfin itu contoh perempuan yang tak baik. Tak mau belajar dari para orang tua. Anak-anaknya masih kecil. Cindil-cindil. Mau jadi apa anak-anaknya itu kelak? Mending kalau jarak umurnya jauh-jauh. Jeruk dan melon suaminya itu juga, ah…, lebih baik kalian tidak usah ikut-ikutan. Kalian tak perlu makan buah yang dihasilkan dari pembunuhan! Apa kalian pernah dikasih jeruk itu?”
“Tidak, Bude!” Sukinah, secepat kilat, langsung menjawab pertanyaan Wuryani. Kepada Surti, ia bertanya, “Kalau kamu, Lik?”
“Aku juga ndak dikasih…” jawab Surti.
“Apa aku bilang!” seru Wuryani, “sudah kejam, ndak mau berbagi lagi terhadap tetangga. Ya, Allah. Kok ada manusia seperti itu tinggal di desa kita!”
Duh, duh, aduh…
Entah ke mana arah pembicaraan Wuryani. Mulutnya memang berbisa, tetapi lidahnya juga bercabang. Baru saja dia berkata agar para pendengarnya itu tak mau ikut-ikutan, tak perlu makan budah dari [hasil] pembunuhan, katanya, tetapi tiba-tiba dia sudah berkata seperti itu: Menyalah-nyalahkan Dlori dan Zulfin oleh sebab tak mau berbagi kepada para tetangga! Ini seperti kata-kata bijak: Baik dianggap salah, salah pun dianggap salah. Tidak melakukan ini dianggap keliru, tetapi bila melakukannya pun tetap dinilai keliru.
Wuryani, Wuryani.
Apa maumu??
***
Sementara itu, kita tinggalkan sebentar Wuryani dan para pendengarnya yang semakin bertambah itu. Sepuluh menit yang lalu, Hidayah tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih mampir ke rumah Zulfin. Ketika itu, Zulfin tengah menimang-nimang Musa. Begitu mendengar apa yang dikatakan Hidayah tentang Wuryani dan para pendengarnya di depan warung Mbah Kamiyem, memerah-padamlah muka Zulfin. Nafasnya menjadi tersengal-sengal. Tangannya gemetaran. Hampir saja Musa terjatuh dari pangkuannya jika tidak diingatkan Hidayah. Zulfin segera memanggil Lik Soyi yang tengah memasak di dapur untuk makan malam. Panggilannya kali ini sangat keras, dan baru pertama ini Lik Soyi dipanggil secara keras seperti ini. Sembari mencincingkan rok panjang yang dikenakannya, Lik Soyi memenuhi panggilan majikannya.
Kepada Lik Soyi Zulfin segera menyerahkan Musa. Hidayah masih berdiri mematung. Lik Soyi menerima Musa di kedua tangannya. Amarah Zulfin sudah sampai di ubun-ubun. Amarah itu mengajak kedua kakinya untuk melabrak Wuryani dan para pendengarnya. Ia mengajak Hidayah ke warung Mbah Kamiyem.
“Ndak, ndak, dik. Aku harus segera pulang. Anakku yang kecil belum mandi,” ujar Hidayah mengemukakan alasannya untuk tidak mau diajak Zulfin. Zulfin pun melangkah sendiri ke warung Mbah Kamiyem.
Lik Soyi menggeleng-geleng. Sesuatu akan terjadi, pekik hatinya.
***
Sekiranya ada kau di situ, kau akan malu melihat adegan itu. Malu terhadap dirimu sendiri. Bukan apa-apa, karena adegan itu memang benar-benar memalukan, terutama bagi orang yang memiliki rasa malu—sepertimu. Tetapi kekisruhan seringkali menarik perhatian, dan keributan menarik keingintahuan, dan keinginantahuan memancing kaki-kaki untuk berjalan menuju pusat perkara. Dan begitulah yang terjadi.
Para pemuda yang tengah asyik bermain voli pun bubar. Para gadis yang tadi bertempik-sorak sudah lebih dahulu meninggalkan lapangan permainan. Kumedi kembali membuka pintu rumahnya, dan kali ini disertai anak-istrinya. Sebentar kemudian, depan rumah dan warung Mbah Kamiyem sudah menjadi lautan manusia. Ah, mungkin bahasa ini tak tepat sekali untuk mewakili. Namun, jalan di situ memang sesak suasananya. Seperti pasar malam, padahal sorenya tak ada tanda-tanda akan ada pasar di malam-nya. Tiba-tiba.
Tiba-tiba banyak orang yang datang.
Berkumpul-kumpul.
Berkerumun-kerumun.
Mengerubuti dua orang yang tengah saling melemparkan kata-kata, melancarkan caci-buian, saling mengunggulkan, saling menjatuhkan. Sekiranya kulit coklat kehitaman pipi Wuryani itu kuning-kecoklatan, pasti warnanya sekarang sudah merah kebiruan. Merah-biru karena tamparan. Ditampar Zulfin. Beberapa saat yang lalu. Keras sekali. Tetapi Wuryani tak mampu membalas. Ia sudah terlalu tua menghadapi kegairahan dan amarah perempuan muda. Tamparan itu dibalasnya dengan lompatan, lancaran, kilatan, dan serangan kata-kata.
Perempuan sundal.
Tak tahu malu.
Tak tahu diuntung.
Tak bisa bersopan-santun.
Tak pernah diajari hormat pada orang yang lebih tua.
Terkutuk.
Hobi bunting.
Hobi melahirkan.
Suamianya pembunuh.
Kejam.
Jeruk dan melon itu, akan melaknatmu.
Kalian pembunuh.
Yang kalian bunuh orang yang tak berdosa, tak bersalah. Neraka pantas untukmu. Sundal. Murahan. Licik. Kejam. Pembunuh.
Semakin keras caci-bui itu, semakin deras mengalir air mata Wuryani. Air mata sakit hati. Air mata benci. Air mata amarah. Air mata iri.
Di depannya, yang berkacak pinggang itu, Zulfin tak kalah garang. Air matanya pun menderai-derai. Hatinya benar-benar teluka. Tersakiti. Ia tak bisa menerima semua tuduhan dan caci-bui Wuryani. Ia tak bisa terima suaminya dikatakan sebagai pembunuh. Ia tak terima anak-anaknya dibawa-bawa, dihina-hina. Sungguh deras kalimat caci dan bui di hati Zulfin, tetapi bibirnya menjadi kelu untuk mengungkapkannya. Giginya hanya bergemerutuk. Tangan dan kakinya bergetar menahan emosi yang membakar jiwanya sehangus-hangusnya. Ingin rasanya ia Siwalaneng wajah perempuan separoh tua itu. Ingin pula rasanya ia cabuti rambutnya yang telah memutih itu, satu per satu. Kalau di dekat situ ada selonjor besi yang runcing, ingin rasanya ia tusuk dan odet-odet isi perut perempuan itu. Dan ingin rasanya ia betot jantungnya, lalu dimakannya hingga sedarah-darahnya.
Tetapi anehnya, alih-alih orang-orang yang mengerumuninya itu memisahkan adegan yang memalukan itu, justru mereka seakan menikmati pemandangan itu. Di antaranya, malah, ada yang tersenyum-senyum. Ada pula yang memerah pipinya mendengarkan lontaran kata-kata Zulfin. Mungkin ada orang yang diam-diam membenarkan kata-katanya itu, tetapi tidak mau mengakuinya, dan hanya merah pipinya itu yang mewakilinya.
Dari kejauhan, dari arah yang berbeda, dua orang berjalan mendekati kerumunan itu. Yang dari arah barat itu adalah Muhaya, sedang yang dari Timur itu adalah Lik Soyi sembari membopong Musa. Musa menangis-nangis. Wajah pembobongnya itu pun berleleran air mata. Kedua-duanya, Muhaya dan Lik Soyi, walau dari arah yang berlawanan, menuju satu tujuan. Keributan itu telah mereka dengar dari mulut ke mulut. Begitu mereka sampai di kerumunan, Muhaya langsung menyeret istrinya, membelah kerumunan, membawanya ke rumah.
Tangisan Musa membuat orang-orang segera membubarkan diri. Lik Soyi memohon-mohon agar Zulfin segera pulang. Kasihan Musa. Sejak dari tadi ia telah menangis-nangis. Barangkali ia tengah haus sehaus-hausnya. Tetapi, barangkali pula, hatinya yang masih bersih dan suci tersakiti oleh teriakan dan caci-bui ibunya kepada tetangganya. Hanya Tuhan Yang Mahatahu. Tuhan yang, melalui malaikat suci-Nya, mencatat adegan itu. Dikatakan pula oleh Lik Soyi kepada Zulfin, Umi pun menangis-nangis di rumah, mencari-cari ibunya. Semakin berleleran air mata Lik Soyi. Terlebih ketika ia melihat Harun menggendong Aisyah menuju tempat kejadian perkara.
“Ibuk, Ibuk….,” teriak Aisyah di gendongan kakaknya.
***
Sebelum kejadian itu, keadaan Siwalan seperti yang digambarkan dalam sebuah pepatah: Bagai api di dalam sekam. Bua ketika sekam dibongkar, api pun berkobar menyala-nyala. Iri dan dengki adalah benih yang tumbuh subur di ladang kebencian. Ketika benih itu dipupuk, kobarannya menjelma sakit hati, amarah, dan dendam. Kejadian di depan warung Mbah Kamiyem di senja itu memang sangat memalukan, dan tampak sepele. Bukankah di sembarang tempat, di desa-desa maupun di kota-kota, akan mudah dijumpai dua orang ibu yang saling berdiri berkacak pinggang, saling menuduh, mencaci, merendahkan, dan menghina dalam sebuah ajang pertengkaran? Akan tetapi, siapakah dia yang bertanya tentang apa yang akan terjadi pada salah satu dari dua ibu itu atau keduanya setelah terjadinya pertengkaran hebat antar keduanya?
Mungkin banyak yang bertanya.
Mungkin pula sedikit.
Mungkin tak ada yang peduli.
Cepat atau lambat, seiring perjalanan waktu dan hari pun berbilang bulan, mungkin, kedua ibu yang bertengkar tadi telah saling melupakan atau saling memaafkan. Mereka, mungkin, sama-sama saling menyadari kekhilafan masing-masing seiring dengan datangnya bulan suci Romadlon dan tibanya hari raya maaf-memaafkan. Mungkin, bila mengingat pertengkaran itu hingga keduanya lupa banyak orang melihat dan mengerubunginya, mereka akan menutup wajah sendiri, malu terhadap diri sendiri. Mungkin saja…
Siapa yang tahu?
Tetapi siapa yang peduli?
Siapa yang akan peduli bila terjadi sebuah pertengkaran berujung dendam dan sakit hati? Bahwa seiring perubahan waktu dan bulan pun berbilang tahun, sekam menyimpan bara-nya kembali dan suatu ketika akan berkobar api yang lebih terang menyala-nyala??
Seminggu lebih kejadian itu telah berlalu. Sebagian warga Siwalan bahkan tak ingin mengingat-ingat lagi kejadian yang sangat memalukan itu. Mereka menganggap, betapapun rasa iri ada di dalam hati mereka terhadap kesuksesan orang lain, sebuah pertengkaran sengit tentang iri dan saling menyombongkan diri di hadapan umum adalah aib. Aib bagi warga itu sendiri. Aib bagi Siwalan yang tercinta ini. Lebih baik kejadian itu tak perlu diingat. Namun, seandainyapun hendak diingat-ingat, lebih baik diingat dengan cara berbisik-bisik saja. Tak perlu terang-terangan. Tak perlu saling menyakiti secara langsung, bertemu muka, berhadap-hadapan.
Namun tidak semuanya mengambil sikap seperti itu. Masih saja ada orang-orang yang seperti dikatakan pepatah: Bagai mengail di air keruh. Tetap saja ada kompor di sana-sini. Satu sisi mengompori pihak yang satu, sisi lain mengompori pihak lawan. Mudah ditebak, mereka yang berdiri di pihak Wuryani adalah mereka yang sudah sering kita bicarakan hingga saat ini; Barokah dan Jumilah, ditambah Surti, dan diam-diam ditambah Sukinah.
Mbah Kamiyem?
O, orang tua itu lebih mengutamakan warungnya daripada memihak satu di antara dua. Mbah Kamiyem sudah terlalu tua untuk terlibat pertengkaran “anak-anak muda”, dan ketuaannya mengajarinya bahwa warung—sebagai satu-satunya sarana untuk menghidupi dirinya—harus dinetralkan dari orang-orang yang bertikai. Harapannya, agar warga tetap datang ke warungnya membeli kebutuhan ini dan itu, tak peduli dari pihak mana pembeli itu memberikan dukungan. Sungguh, setua Mbah Kamiyem ternyata menguasai politik dagang! Tetapi karena politik itu pula, di hadapan para pendukung Wuryani, Mbah Kamiyem tampak seperti ikut mendukung Wuryani.
Sementara itu, Lik Soyi yang selalu berada di belakang Zulfin kini mendapat dukungan Nurjanah dan Hidayah, dan diam-diam didukung pula oleh Sri Rejeki. Mbah Kamiyem? Karena politik itu kejam, di hadapan para pendukung Zulfin, Mbah Kamiyem tampak seperti ikut mendukung Zulfin.
Tetapi bagaimana dengan keadaan Wuryani dan Zulfin itu sendiri?
Bila ia ingat ketika itu diseret secara paksa oleh suaminya, Muhaya, ada rasa jengkel bukan kepalang pada dirinya. Hati kecilnya mengatakan kepadanya bahwa dia merasa malu kepada orang-orang yang melihatnya. Tetapi rasa jengkel itu terkalahkan rasa yang lebih besar lagi yang memukuli hatinya bertalu-talu, kepada Zulfin, dan Dlori, dan anak-anaknya. Sakit hatinya luar biasa. Baginya, Zulfin telah menginjak-injak harga dirinya. Muhaya ikut merasakan sakit itu, tetapi ia, walau suaminya, adalah laki-laki yang lebih kuat untuk menahan rasa sakit itu. Muhaya memang saat itu datang terlambat. Ia hanya tahu dari orang-orang yang mengatakan kepadanya bahwa istrinya itu ditampar keras oleh Zulfin. Tentu saja ada keinginan dalam diri Muhaya untuk membela istrinya, membalas tamparan dengan tamparan pula. Selain hal yang demikian itu dibolehkan oleh agama, begitu katanya, ia tak rela sang istri ditampar begitu rupa, apalagi oleh seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda. Baginya, ini adalah penghinaan serendah-rendahnya.
Keinginan untuk membalas itu harus ia telan mentah-mentah. Akal sehatnya tampaknya masih sehat. Sebagai laki-laki dan suami, tidak mungkin dia akan membalas tamparan terhadap seorang perempuan yang sedang bertikai terhadap istrinya. Apa kata orang-orang nanti? Tetapi Zulfin memang harus diberi pelajaran. Dan satu-satunya pelajaran yang bisa ia lakukan untuknya, demi istrinya, adalah mengobral kata-kata lagi, di hadapan khalayak Siwalan, bahwa Zulfin tak pernah dididik oleh orang tuanya apalagi oleh suaminya agar tidak bersikap kurang ajar dan menjaga etika dan sopan santun sebagai perempuan yang lebih muda dan hidup di desa! Dalam soal mengobral kata-kata, Muhaya tak kalah hebatnya dari Wuryani. Bedanya, suara Muhaya lebih lantang dan menggelegar serta lebih runtut dan terdengar masuk akal.
Akan halnya dengan Wuryani.
Bermalam-malam dia selalu menangis. Tamparan Zulfin yang dirasakan di pipinya itu seakan terus melekat erat. Tapak tangan Zulfin seolah tak mau lepas sedikit pun. Saat ia berdiri dan berjalan ke ladang, sumur, atau bertetangga, kelebatan tangan Zulfin seketika mendarat di pipinya. Saat ia duduk, terasa sakit tamparannya. Ketika ia berbaring di malam hari, rasa sakitnya berkali lipat hingga mengalirkan air matanya. Muhaya harus lebih bersabar lagi menghadapi istrinya ini. Ketika diajak berbincang tentang anak atau kebun dengan tujuan mengalihkan perhatian Wuryani agar tak mengingat-ingat tamparan itu, Wuryani justru menyeret perbincangan tentang Zulfin. Dan ketika Muhaya menanggapinya, tentu dengan tujuan menghibur dan mengurangi rasa sakit hatinya, justru Wuryani semakin menjadi-jadi. Umpatan, cacian, kata-kata kotor dan pedas berhamburan dari bibirnya. Mungkin Wuryani mencari kepuasan hati untuk mengurangi rasa sakit itu. Yang tidak ia sadari, justru cara itu menambah rasa sakit dan mengakarkan amarah dan dendam ke dasar ulu hatinya.
Wuryani kalah.
Kalah terhadap dirinya sendiri.
Hatinya yang sakit membuat fisiknya sakit pula. Kepalanya pusing-pusing dan nyeri sekali. Dunia seakan berputar pelan, lalu berguncang-guncang, dan langit seakan runtuh menimpuk kepalanya. Bua pada suatu malam yang pilu, dengan menahan gemetar tubuhnya, Wuryani bangkit menyobek beberapa kertas. Ia mencari-cari pulpen, tetapi yang dicari entah sembunyi di mana. Akhirnya ia menemukan pensil. Pensil berwarna hijau bertuliskan 2D itu. Di masing-masing kertas ia menulis surat yang sama: Untuk Muniri yang terkasih, dan untuk menantu-ku polisi yang tercinta:
Duh, anak-anakku.
Dengan air mata ibumu menulis surat ini untukmu, sedang ayahmu tengah tertidur pulas seakan tak peduli dengan kesakitan yang menimpaku. Ketahuilah, anak-anaku, seorang perempuan berhati gila, Zulfin istrinya Dlori yang kurang ajar, telah menyakiti hati ibumu. Dia tidak hanya menghina dan merendahkanku. Dia pun telah menampar pipiku. Ibumu sakit karenanya. Ayahmu diam saja.
Duh, anak-anakku…
Kepada siapa lagi seorang ibu akan menjerit bila bukan kepada anak-anaknya yang tercinta? Kini aku menjerit kepadamu dengan jeritan seorang ibu. Kini aku menangis kepadamu dengan tangisan darah seorang ibu. Tak ada yang mau membelaku, dan kini—atas nama ibumu—kuharap belamu. Segeralah pulang sebelum ibumu menemui ajal karena rasa sakit yang tak terkira! Balaskan rasa sakit ini agar arwahku nanti tenah di alam baka!!
***
Tak kurang-kurang Lik Soyi mencoba menghibur hati Zulfin. Tak kurang pula Nurjanah dan Sri Rejeki menambah hiburan itu. Lik Soyi berkata kepada Zulfin, “Dik. Sudahlah. Hapus air matamu. Apa kau tak merasa kasihan kepada anak-anakmu? Lihatlah Harun. Lihat pula Aisyah. Mereka sedih. Mereka kebingungan. Tangismu membuat hati keduanya pilu. Harun tak mau makan. Aisyah pun begitu, itu karena kau tak mau menyentuh makanan itu. Kau biarkan hatimu digerogoti rasa sakit, padahal kau tahu dia yang bersalah, dan kau benar. Dia keliru. Hatinya tergelapkan oleh dunia, sedang kau justru hendak menyeret hatimu ke kegelapan itu. Duh, Dik Zulfin. Entah aku ini ngomong apa, tetapi aku tak rela kau menjadi seperti ini. Hanya karena kau dihina dan direndahkan oleh Wuryani seakan menjadi hilang duniamu, menjadi musnah harga dirimu, padahal kau sudah tahu dari dulu Wuryani memang seperti itu. Bahkan tidak hanya kau yang tahu, semua orang juga tahu Wuryani memang seperti itu. Sudahlah, dik. Kasihan anak-anakmu. Mereka meminta perhatianmu, jangan kau abaikan itu dan justru kau sibuk mengurusi kesakitan hatimu itu. Anak-anakmu lebih penting daripada menumpahkan kekesalan batinmu tentang perempuan itu! Lihatlah, Musa—apa kau tak memperhatikannya? Musa menjadi lain sejak kau labrak perempuan itu. Duh, Dik. Eling, Dik. Nyebut pada Gusti Allah. Nyebuuuutt…..!”
Zulfin diam.
Sepasang bibirnya terkatup rapat.
Kedua matanya masing menerawang.
Sorot matanya itu; hanya benci yang tampak dari sorot mata yang seperti itu.
Di lain hari, Nurjanah, istri dari Haji Ridlwan itu, juga menambahkan, “Dik. Dihina dan direndahkan orang memang sakit. Itu aku tak memungkiri. Aku percaya bahwa kau memang sakit karenanya. Tetapi, membalas sakit hati dengan cara mibui, mencaci, menghina, dan merendahkan, itu sama sekali tak akan mampu mengobati rasa sakit hatimu. Sebaliknya, itu akan menambah rasa sakit di hatimu, dan rasa sakit itu justru akan semakin mendorongmu untuk lebih mibui, mencaci, menghina, dan merendahkan lagi. Percayalah padahku, dik. Ketika hati merasa sakit hati, saat itulah hati tengah kosong. Kekosongan hati mudah sekali disusupi setan dan iblis. Tetapi saat itu pula hati bisa diisi dengan amalan yang bagus, dengan akhlak yang bagus. Di depanmu ada dua pilihan: Akankah kau membiarkan setan dan iblis mengisi hatimu, atau kau pilih sabar sebagai akhlak terpujimu. Jika kau bersabar, Allah akan menolong-Mu sebab itu adalah janji-Nya, janji seperti di kitab suci yang tak pernah dusta. Tetapi jika kau seperti ini terus, hatimu akan semakin rapuh. Kau tidak hanya menyakiti diri sendiri, tetapi juga menyakiti hati orang-orang yang mecintaimu. Sungguh benar yang dikatakan Lik Soyi. Dan dengarlah apa nasihat suamimu.”
Sri Rejeki, orang paling sederhana di antara Nurjanah dan Lik Soyi, mengimbuhkan, “Aku tak pandai berkata-kata, Dik. Ikutilah nuranimu saja….”
Sering terjadi, hati yang dicengkeram amarah dan sakit hati tak akan mempan dengan nasihat dan petuah. Bahkan dua ekor kucing pun yang tengah me-meong-meong saling berhadapan, saling menguji kekuatan, saling bersiap hendak menerjang, tak merasa takut dengan manusia yang menggusahnya. Itu “sekedar” kucing, apalagi hati manusia. Apalagi hati yang rapuh seperti hati Zulfin ini. Betapapun sang suami menyayangkan kejadian itu, menghela nafas dan meminta sabar seperti yang dinasihatkan Nurjanah, betapapun hati lelaki itu juga sakit karena Wuryani, terlebih setelah mendengar “khotbah-khotbah Muhaya sepanjang jalan”, Dlori ingin agar istrinya itu mempunyai sabar. Percuma menanggapi Wuryani. Percuma melayaninya. Wuryani adalah jenis seorang ibu yang sudah tak memiliki rasa malu, jiwanya keras, dan hatinya membatu.
“Sudahlah, dik. Susuilah Musa. Beberapa hari ini kau tampak menjauhinya. Kasihan dia. Kembalilah pada anak-anakmu.”
Zulfin masih lebih memilih diam.
Memilih bungkam.
Ada rasa puas, memang, karena ia telah berhasil menampar pipi Wuryani. Itu, baginya, adalah tamparan yang sangat keras. Telapak tangannya sampai terasa panas dan sakit ketika itu. Dan itu adalah hukuman yang pantas diterima Wuryani. Mengingat itu, ia bisa tersenyum. Tersenyum puas. Tersenyum lega. Tetapi ia sama sekali tak bisa menerima penghinaan itu, perendahan itu—kata-kata itu. Di tengah bungkamnya ia di hadapan “para penasihat” dan suaminya yang terkasih, sesungguhnya Zulfin tengah mencari cara bagaimana caranya bisa membungkam mulut berbisa dan lidah bercabang milik Wuryani.
Duh Gusti, jerit hatinya, tolong balaslah rasa sakit ini…
Berilah pelajaran yang pantas untuk orang seperti Wuryani.
Tolonglah, hamba. Bila Kau cabut nyawanya, itu akan lebih baik untuknya daripada hidup hanya untuk merendahkan dan menghina. Hamba berdoa kepada-Mu, Duh Gusti. Hamba menyeru-Mu.
***