Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

L a b r a k

📅 02 July 2026 📚 Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 17 menit baca 📑 Bab 11

Muhaya baru diberi tahu beberapa hari setelah Wuryani menulis surat itu, dan ia ternyata mendukung langkah istrinya itu. Isi surat istrinya itu sempat menjadi bahan pembicaraannya beberapa kali dengan istrinya. Ketika Wuryani memberitahu, Muhaya membenarkan ini dan itu seraya menyayangkan kenapa istrinya itu tak menambah kalimat dengan ini atau itu yang lain. Tetapi surat sudah dikirim. Dua minggu kemudian, anak yang terkasih, anak yang tersayang, anak yang sukses di Jakarta itu sebagai pedagang kelapa di Pasar Kebayoran Lama, pulang bersama anak dan istrinya. Ikut menyertainya pula adiknya, Usman. Dengan gagah, Muniri menyetir mobilnya sendiri—mobil Espass warna metalik. Di pagi ketika anak-anak sedang berangkat sekolah, kaum laki-laki tengah berangkat ke ladang atau sawah, dan dapur di beberapa atap rumah warga mengepul-ngepul, mobil itu terpacu pelan menyusuri jalan utama desa.
“Mas Mun pulang….!”
“Muniri pulang….!!”
Ada orang yang berteriak seperti itu. Bulum, itulah mobil satu-satunya yang diketahui milik warga Siwalan, milik Muniri anak Muhaya dan Wuryani itu. Beberapa ibu pun sempat melongok di pintu, atau menarik kain horden dan melihat ke jalan. Benar saja, mobil itu sangat gagah melintas pelan di depan mereka. Beberapa orang yang bisa cepat berpikir segera menghubung-hubungkan kepulangan Muniri dengan kejadian beberapa waktu silam. Mereka menangkap sinyal-seru tentang apa yang bakal terjadi.
Ketika mobil melintas di depan rumah Dlori, Lik Soyi-lah yang pertama-tama melihat mobil itu. Seperti biasa, ia telah memandikan Musa. Telah pula selesai menyiapkan hidangan untuk majikan dan anak-anaknya yang lain. harun telah diantar ke PAUD oleh ibunya. Aisyah bermain boneka di dalam—Umi melihat dengan cara yang lucu dan menggemaskan boneka plastik milik kakaknya itu. Wajah Lik Soyi menegang. Kulit tengkuknya mendadak merinding. Majikan laki-laki telah berangkat ke ladang. Membopong Musa, Lik Soyi segera masuk ke dalam rumah, menutup pintu di belakangnya.
Muhaya tengah memberi makan dua kerbaunya di kandang. Ketika mendengar suara mobil anaknya itu semakin mendekat, Muhaya seakan lupa dengan rumput di tangannya. Rumput itu terlepas, dan jatuh berserakan. Sebuah klakson yang dibunyikan Muniri menggopoh-gopohkan Muhaya untuk menyambutnya. Wuryani yang masih tiduran di kamarnya langsung tersentak mendengar bunyi klakson itu. Telinga perempuan separoh tua itu memang sudah sangat terlatih untuk mendengarkan setiap bunyi, terutama bunyi klakson mobil anaknya. Seketika ia terperanjat bangun dari tidurnya. Tak memedulikan rambutnya yang panjang dan acak-acakan dan memutih, mencincing-cincing kain panjang yang dikenakannya, Wuryani keluar dari kamar. Begitu ia sampai di luar rumah, ketika ia melihat mobil anaknya itu, air matanya langsung jatuh dan jeritannya laksana anak kecil—Padahal Muniri dan yang lain belum turun dari mobilnya!
Siang harinya, di hari yang sama, setelah ba’da zuhur sekitar jam setengah dua, menantunya yang berprofesi sebagai polisi datang. Menantu terbaiknya ini datang mengendarai motor Honda Tiger 2002. Tubuhnya yang tinggi dan gagah semakin tampak gagah dengan motor yang dikendarainya itu. Tak banyak orang yang kenal, memang, terhadapnya di Siwalan ini. Menantu Muhaya itu jarang berkunjung ke rumah mertuanya. Hanya sedikit di antara para tetangga yang tahu dan mengenal menantu Wuryani ini, terlebih melihat motor yang dikendarainya!
Seperti terhadap Muniri, istri dan anaknya, juga terhadap Usman, Muhaya menyambut kedatangan Bagus. Ketika itu Wuryani tengah bertelekan bahu Muniri, begitu manja, seakan dia adalah anaknya dan Muniri adalah ibunya. Bilamana melihat kedatangan Bagus yang terkasih, perempuan separoh tua itu bangkit. Sekali lagi, air matanya keluar. Isak tangisnya mulai terdengar.
“Ceritakan, Bu, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Ibu bisa kurus sekurus ini? Siapakah perempuan yang telah menghinamu itu, Bu. Bilamana memang ia pantas untuk diberi pelajaran, aku akan memberinya pelajaran. Jangan bersedih lagi, Bu. Jangan menangis lagi seperti itu, Bu. Hatiku sakit melihat air mata yang tumpah itu. Aku datang memenuhi panggilanmu, Bu!” ucap Bagus mengawali pembicaraan setelah selesai mandi, menyeruput teh tubruk, dan mimakan beberapa cemilan yang terhidang di atas meja. Lengkap sudah di sekeliling meja itu. Dan akan lebih lengkap lagi jika kedua anaknya yang lain beserta keluarganya masing-masing bisa berkumpul seperti ini.
Muniri duduk di antara Muhaya dan istrinya. Anaknya dipangku kakeknya. Usman duduk di sebelah kiri bapaknya. Bagus duduk di sebelah kiri Usman. Dan Usman duduk sembari memegangi tangan ibu mertuanya yang masih sesenggukkan sekan tak puas dengan air mata yang tertumpah selama ini.
“Biar bapakmu saja yang bicara,” ucap Wuryani terbata-bata. Dengan ekor matanya, dia “memerintah” Muhaya untuk menceritakan semuanya dan kejadiannya, “aku tak sanggup lagi bercerita. Sakit. Hatiku sangat sakit!” Ia juga berkata, kalau nanti ada yang kurang dari cerita bapaknya, ia akan menambah bagian-bagian yang kurang itu.
Bua berceritalah Muhaya:

Pada suatu hari, di masa yang telah lalu—begitu Muhaya mengawali ceritanya—orang-orang telah mendengar kesuksesan kalian sebagai anak-anakku. Di Siwalan ini, tak ada orang yang tak memuji kalian, menghormatiku sebagai orang tua, dan merasa cemburu kepada ibumu yang sukses mendidik, membesarkan, dan mensukseskan kalian. Sesungguhnya, tak ada orang yang sukses tanpa usaha, dan tanpa doa dari orang tua, terutama doa dari seorang ibu. Kalian adalah anak-anakku yang bisa dibanggakan, juga membanggakan hati orang tua. Bilamana kuungkap kesuksesan kalian di hadapan orang, tentu aku tak berlebihan melakukannya, dan itu tak bisa disebut sebagai kesombongan, apalagi keangkuhan. Bukankah begitu?
Orang yang mengatakan bahwa dirinya sukses dan kenyataannya memang sukses, lantas apakah bisa disebut menyombongkan diri? Haji Ridlwan seringkali berkata: Muhammad itu utusan Allah. Di hadapan orang-orang kafir seperti Abu Lahab dan Abu Jahal, Muhammad mengatakan bahwa dirinya adalah nabi dan utusan Allah. Lantas apakah perkataan Muhammad yang seperti ini bisa disebut sebagai kesombongan diri?
Tidak, sekali-kali tidak.
Muhammad tidak menyombongkan diri.
Begitu pula aku dan ibumu ketika mengatakan kepada orang-orang tentang kesuksesan yang telah kalian capai. Tetapi dasar hati manusia yang mudah rapuh dan guncang, ada saja yang menganggap kami—aku dan ibumu—sebagai orang yang angkuh dan sombong. Salah satu dari orang yang demikian itu adalah Dlori dan istrinya, Zulfin. Kau tahu rumah mereka, di seberang jalan di depan masjid at-Taqwa kita. Diam-diam, Dlori dan Zulfin merasa iri kepadaku. Menurut sumber yang sangat layak untuk dipercaya, Zulfin selalu berkata yang tidak-tidak tentang ibumu. Zulfin bersekutu dengan suaminya untuk meniru kesuksesan kalian sekaligus untuk merendahkan dan menghina kami. Mereka, anak-anak tolol dan angkuh itu, selalu berkata buruk tentang kami dan kalian. Terutama tentang kau, Mun. Tentang kau dan rumah yang telah kau bangun itu. Mereka menganggap bahwa percuma kau membangun rumah itu sementara kau tak menempatinya dan justru memilih ngontrak di rumah kecil gang sempit di Jakarta. Kau, juga kepada kami, akhirnya mereka anggap sebagai orang yang serakah, menjeretkan leher di kehidupan dunia, dan abai terhadap agama!
Tiap tahun, Zulfin melahirkan anak. Kini anaknya empat. Sawah dan ladangnya memang luas. Panen jeruk dan melon-nya memang mengagumkan—harus aku akui itu. Tetapi semua orang di Siwalan ini tahu bahwa Dlori adalah orang yang sangat kejam, zalim, dan pembunuh. Dlori itu pembunuh! Dia sukses dengan cara seperti itu. Dia menyewa ladang dan sawah milik orang Seworan dengan harga yang sangat murah sebab dia tahu pemiliknya sedang butuh uang; Syam untuk mengobati anaknya yang sakit, Muji untuk mengobati ibunya yang sakit. Anak Syam dan ibunya Muji akhirnya tak tertolong, meninggal dunia, karena kekurangan uang. Dlori-lah penyebabnya.
Ketika ibumu bermaksud baik hendak mengingatkan perilaku Dlori dan istrinya yang seperti itu, Zulfin malah tak bisa menerima. Semua orang menjadi saksi tentang apa yang terjadi di depan Warung Mbah Kamiyem saat itu….

Sampai di bagian itu, kembali berderai-derai air mata Wuryani. Dia mengambil alih perkataan suaminya, dan dengan terbata-bata dan menahan sesak di dada, dia ceritakan tentang tamparan yang sangat kejam dan keras itu. Tamparan yang tidak hanya melukai pipinya, tetapi juga menggores dan menyayat-nyayat hatinya.
***

Pekerjaan bisa menjadi penentu. Ketika orang bijak mengingatkan agar kita menjadikan pekerjaan sebagai alat untuk memerdekakan jiwa, tak sedikit orang justru membelenggukan jiwanya pada pekerjaannya. Kalau sudah seperti itu, pekerjaan akan menguasai jiwamu, dan kau akan menjadi seperti apa pekerjaan itu.
Dan Bagus adalah seorang polisi…
Di Siwalan ini, menjadi polisi adalah barang yang sangat langka. Tak ada satu pun warga yang “bisa” menjadi polisi. Itu adalah pekerjaan yang mahal. Yang hebat. Yang wah.
Juga, yang menakutkan!
Yang dihormati.
Disegani.
Memerindingkan bulu kuduk.
Tak ada orang yang bisa menjadi polisi, di desa ini, juga tak ada orang yang mau berurusan dengan polisi. Hukum. Tilang. Semprit. Peluit. Pelanggaran. Teror. Bom. Bedil. Penjara. Polisi!
Tubuhnya yang tinggi, gagah, kekar, dan rambutnya yang cepak serta wajahnya yang tampak garang itu berjalan dalam diam sembari menuntun sang ibu menuju rumah Dlori. Ketika itu, matahari sudah bergeser jauh di langit barat, para petani pulang dari sawah dan ladang ke rumah masing-masing. Baru saja Haji Ridlwan menyelesaikan panggilan adzan-nya di masjid at-Taqwa, memanggili hamba-hamba Tuhan agar segera memenuhi seruan Tuhannya. Tiga lelaki tua dan dua orang nenek tengah memasuki halaman masjid. Dlori pun bersiap-siap hendak menuju ke masjid, mengerjakan sholat asar. Ia baru saja menutup pintu ketika dilihatnya Wuryani digandeng oleh menantunya itu masuk ke dalam halaman rumahnya. Seorang lelaki dari arah barat melihat hal itu. Sri Rejeki yang kebetulan tengah berdiri di dekat jendela kaca melihat pula pemandangan itu. Sri Rejeki bisa meramalkan apa yang akan segera terjadi. Keinginannya untuk ikut sholat berjamaah di masjid menjadi sirna, tergantikan oleh langkah-langkah kakinya yang bersicepat memberi tahu beberapa tetangga.
“Asslamu’alaikum!” keras sekali Bagus mengucapkan salam itu kepada Dlori. Sorot matanya tajam. Menukik. Menusuk ulu hati.
Dlori menelan ludah sebelum ia menjawab, “Wa’alaikumslsm wr wb.”
Dlori mendesah, sadar akan maksud dan tujuan kedatangan Wuryani dan menantunya itu.
Tetapi seakan tak pernah terjadi insiden antara istri dan ibu mertua Bagus itu, Dlori berusaha ramah dan mengembangkan senyum. Adatnya orang yang jarang sekali ketemu, dan juga sebagai sesama warga, Dlori menyambut mereka berdua—khususnya Bagus—dengan ungkapan, “Wah, kapan datang nih, mas? Lama sekali kita tak bertemu. Semakin sukses saja tampaknya. Mari, mari, silahkan masuk…”
“Nggak usah basa-basi!” ketus suara Bagus mendamprat Dlori.
Dlori tercekat.
Wajahnya berubah agak pucat.
“Mana istrimu? Zulfin itu! Suruh dia keluar, atau aku akan masuk demi ibuku!”
Sejenak Dlori tampak kebingungan. Dari balik jendela kaca, kedua kaki Lik Soyi gemetaran. Bentakan Bagus cukup jelas terdengar dari dalam rumah. Lik Soyi masuk ke dalam kamar Zulfin. Zulfin sendiri tengah berusaha menyusui Musa. Ketiga anaknya mengelilinginya.
“Dik, ada Wuryani di luar. Dia datang bersama menantunya….,” rasa takut dan khawatir nyata terbayang di wajah Lik Soyi.
“Aku tidak takut!” seru Zulfin sembari bangkit dari pembaringan. Musa menangis. Bayi itu tampak sangat haus dan kelaparan. Kebutuhannya tak bisa terpenuhi ibunya. ASI tak keluar dari putting sang ibu.
Harun dan Aisyah saling pandang.
Tak mengerti.
Bingung.
Umi tampak cuek. Bola matanya berbinar-binar memandangi wajah Musa dan mendengar tangisannya. Zulfin menyuruh Lik Soyi menggantikan perannya. Botol susu telah diisi. Lik Soyi meraih botol itu dan segera memberikannya untuk Musa. Zulfin keluar dari kamar. Harun dan Aisyah mengikuti.
Di luar, tiga orang bapak dan seorang ibu terlihat berbincang di ambang halaman masjid. Sesungguhnya mereka tengah berpura-pura berbincang ini dan itu, ke sini atau ke situ, sedangkan perhatian sesungguhnya tertuju pada Wuryani, Bagus, dan Dlori. Dari sini, mereka mendengar celoteh Wuryani yang semakin lama semakin terdengar tidak karuan. Wuryani ingin menuntut balas. Tamparan harus dibalas dengan tamparan. Perempuan muda harus diajar etika dan sopan santun. Bila tak bisa dinasihati baik-baik, hukum akan menyeretnya—melalui keperkasaan menantunya.
Orang-orang itu mendengar.
Bingung.
Tertarik.
Ingin mendekat.
Tetapi bingung.
Haji Ridlwan terus memanggil orang-orang untuk sholat berjamaah. Tembang puji-pujian dilantunkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Juga untuk keluarganya yang suci dan terberkati:

Ya Rasulullah
Salamun ‘alaik
Ya rafi’assa
Niwad darajii

Duh Gusti Allah
Murbeng Dumadi
Kawulo pasrah
Nunggal sawiji

Urip iku mong sadremo mampir ngombe
Ora liyo bakal mulih saklawase
Mring Pangeran Kang Ikhlas Welas asihe
Moho Rohman lan Rahim tumprap makhluke

Jo podho ngono
Podho suloyo
Urip neng donyo
Rumungso biso

(Duh Gusti Allah
Penyebab segala ada
Saya memasrahkan diri
Tunggal bersatu

Hidup ini hanyalah sementara
Tidak lain akan kembali selamanya
Kepada Tuhan yang ikhlas belas kasih-Nya
Maha Rahman dan Rahim pada makhluk-Nya)

Suara serak Haji Ridlwan yang melantunkan kidung pujian dan sholawat nabi bersaling silang dengan suara Wuryani yang ditingkahi Bagus. Kedua suara yang amat berbeda itu saling menerkam, saling menerjang, saling menubruk, saling bertabrakan. Satu suara langit, satunya suara bumi. Yang satu mendendangkan cinta dan rindu, yang lain menjeritkan benci dan sakit hati. Satu mengajak kepada kebahagiaan kekal dan abadi, sedang yang satunya mempersoalkan urusan dunia. Oh, seandainya suraga dan neraka adalah gambaran bagi pemandangan itu, bua betapa tipisnya jarak surga dan neraka itu, bersandingan, berhadapan, bertemu dalam ruang dan waktu yang sama. Di tengah mereka, di antara dua tempat itu, tiga orang bapak dan seorang ibu tadi seperti mewakili dia-dia yang kebingungan melangkahkan kaki: Hendak segera masuk ke masjidkah, atau hendak mengikuti drama pertengkaran itu. Hendak meluruskan niat, atau hendak membalikkan arah.
“Kau terkutuk, Zulfin. Bumi dan langit dan segala isinya akan melaknatmu, sebab penghinaan dan tamparanmu pada orang tua sepertiku!” Wuryani seakan memperoleh seribu kekuatan untuk mendamprat Zulfin habis-habisan. Kehadiran Bagus disampingnya adalah jimat bagi jiwanya yang sempat lunglai.
“Kau yang terkutuk! Kau yang terlaknat!” Zulfin tak mau kalah.
Dan di dalam masjid, dendang suara Haji Ridlwan sampai di bagian:

Jo podho ngono
Podho suloyo
Urip neng donyo
Rumungso biso

“Anakku akan menghukummu. Kau akan diseret ke penjara.”
“Apa kau pikir aku takut? Seret saja kalau berani!” Zulfin berkacak pinggang. Menantang lawan bicara.
Terdengar lagi lantunan kidung Haji Ridlwan:

Ya Rasulullah
Salamun ‘alaik
Ya rafi’assa
Niwad darajii

Duh Gusti Allah
Murbeng Dumadi
Kawulo pasrah
Nunggal sawiji

Seru. Semakin seru pertengkaran itu. Bahkan membuat Bagus sendiri merasa bingung. Seorang ibu—walau “hanya” ibu mertua—memang sepantasnya untuk dibela. Tetapi sebagai polisi yang terdidik untuk curiga dan waspada, melihat masalah dari sudut yang sebaliknya, Bagus mempelajari persoalan dari sudut Zulfin. Walau ocehan, caci-bui, dan umpatan Zulfin tak kalah garangnya dengan yang dilakukan mertuanya sendiri, tetapi Bagus menangkap hal-hal yang berbeda dari apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu baik melalui isi suratnya maupun melalui kata-katanya langsung. Bagus menjadi bimbang. Apalagi disadarinya semakin muncul banyak orang di jalan di belakang punggungnya. Tetapi ia tetap tak bisa menerima perempuan itu menampar ibunya.
“Sudahlah, Zul,” ia pun berucap, mendiamkan mulut sang ibu mertua, “kau ini lebih muda. Tidak pantas orang muda berucap kasar pada orang tua. Apalagi kau pernah menampar Ibuk. Kau telah melakukan kekerasan.”
“Lantas kau mau apa?” Zulfin tak mengendorkan urat-uratnya. Dlori menatap ke sana ke mari tak tahu harus bersikap dan berbuat apa—ia hanya bisa mendesah-desah.
“Kekerasan itu bisa menjeratmu ke hukum!”
“Aku tak takut!” Zulfin menantang.
“Bukan masalah kau takut atau tidak. Jika aku mau, aku bisa menyeretmu sekarang juga ke kantor polisi. Aku tak bicara main-main, Zulfin. Aku tahu hukum, dan aku polisi!”
“Seret saja kalau begitu,” bantah Zulfin lagi, “kalau kau ingin menyeretku, kau seharusnya seret pula ibumu. Di hadapan semua orang, dia telah menghina dan merendahkanku. Bila kutampar pipi keriputnya itu, semata-mata aku ingin memberi pelajaran padanya. Sudah tua bangka tetapi tak sadar-sadar juga. Kenapa melotot? Marah? Mau membalas menamparku? Ini kalau kau berani. Mentang-mentang kau polisi, main seenaknya saja bicara seperti itu. Walau aku bukan polisi sepertimu, aku tahu orang yang memfitnah bisa aku seret pula ke kantor polisi!”
“Fitnah? Fitnah?” pekik Wuryani, marah dan tak mengerti. “Apa maksudmu dengan fitnah?” Lalu kepada menantunya, “Dengar itu, nak. Dia malah menuduhku memfitnahnya. Apa ndak kurang ajar perempuan seperti ini…”
“Ini ada apa? Ada apa ini?” tiba-tiba Haji Ridlwan telah berdiri di antara dua orang yang bertengkar itu. Sorban putihnya ia kalungkan ke leher. Ucapan istighfar terdengar berkali-kali dari mulutnya.
Ternyata para calon jamaah sholat asar mengurungkan niatnya untuk sholat berjamaah. Haji Ridlwan, setelah dilapori salah seorang warga, lebih memilih mendatangi Zulfin dan Wuryani yang terlibat pertengkaran. Haji Ridlwan ini seperti yang digambarkan dalam sebuah kalimat bijak: Menyelesaikan masalah ummat lebih harus didahulukan daripada ibadah mahdhah. Masih ada waktu untuk mengerjakan sholat asar, tetapi mendamaikan kedua pihak yang tengah bertengkar itu harus segera dilakukan.
“Kalau ada masalah, bisa dibicarakan baik-baik,” ujar Haji Ridlwan lagi. Lalu kepada Zulfin dan Dlori, “Dik, ini waktu asar. Lebih baik segera masuk dan mari kita sholat berjamaah. Tenangkan diri. Minta petunjuk sama Allah.” Lalu kepada Wuryani dan menantunya itu, “Mbak, tak baik bertengkar seperti ini di dekat masjid—rumah Allah. Seperti saranku pada Dik Zulfin dan Dik Dlori, lebih baik Mbak Wur pulang dulu. Semua masalah bisa diselesaikan secara baik-baik.” Lalu kepada Bagus, “Nak polisi. Aku minta pengertianmu tentang perkara ini. Ajaklah ibumu dan tenangkan hatinya. Jika kalian percaya kepadaku, insyaallah aku akan membantu menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, masih ada RT, RW, dan Pak Lurah di desa ini. Mari kita bubar, dan mari kita laksanakan sholat!”
Kalimat-kalimat itu diucapkannya secara lembut dan halus, tulus, dan sungguh-sungguh. Luluhlah hati orang-orang yang tengah bertengkar itu. Dlori segera menggandeng Zulfin masuk ke dalam rumah. Harun dan Aisyah masih sesunggukan saking takutnya menghadapi keadaan. Bagus menuntun ibunya pulang ke rumah. Haji Ridlwan, diikuti para calon jamaah sholat asar, segera melangkah kembali ke masjid. Dalam hati, tak henti-hentinya ia berucap istighfar, mengharap ampun dari Tuhan Rabbul ‘Izzati.
***

Di waktu yang hampir bersamaan, sembari duduk di bawah pohon sonokeling dengan daun-daunnya yang rimbun, angin berhembus pelan ditingkahi pemandangan air terjun yang aliran airnya tampak seperti ular berwarna putih itu di kejauhan, Usman mengatupkan sepasang bibirnya rapat, mendengar penuturan dari kakak tercintanya. Wajah Muniri tampak murung. Si anak sukses pemilik Espass satu-satunya di Siwalan ini, yang dibangga-banggakan dan disombong-sombongkan oleh kedua orang tuanya, tampak begitu gelisah, takut, dan cemas. Matanya menerawang. Menembus jajaran pohon, menukik melintasi bukit.
Setelah sekian lama diam, Umas berkata, “Tetapi dia ibu kita, mas. Tetap saja aku tak rela ibu disakiti.”
Muniri menoleh pada adiknya itu, dan menjawab, “Kau benar, Us. Seakan-akan tamparan itu kita rasakan—pipi kitalah yang ditamparnya. Tetapi kau harus mengerti, tak ada akibat tanpa ada sebab. Dan sebab itu bukan terletak pada Mbak Zulfin, tetapi terletak pada ibu kita. Tamparan itu akibat, bukan sebab.”
“Bagaimanapun, aku nggak bisa terima ibuk ditampar seperti itu, mas…”
“Lantas kau mau apa? Mau seperti Mas Bagus—melabrak Mbak Zulfin? Duh, Dik. Dengarlah. Seperti yang sering aku bilang di rumah, ibu itu selalu berlebihan dalam menanggapi masalah. Ibuk selalu membangga-banggakan anak-anaknya. Dulu, aku sudah berkali-kali bilang jangan suka membanggakan. Jangan menyombongkan diri. Kita tidak layak dibangga-banggakan, sebab tak ada kebanggan sama sekali dalam harta benda dan kekayaan materi. Aku memang beli mobil, tetapi tujuanku bukan untuk menyombongkan diri. Kita membutuhkan mobil itu di Jakarta, apalagi saat lebaran kita memerlukannya untuk pulang ke sini. Coba kau pahami masalah ini baik-baik, dik. Kebiasaan ibuk itu selalu mengulang-ulang kata-katanya di hadapan orang. Ya kalau orang yang diajak berkata-kata itu suka, lha kalau tidak? Tidak semua orang bisa menghargai jerih payah orang lain. Dan tidak semua orang memiliki pandangan yang sama terhadap satu perkara. Cara ibuk mengungkapkan keberhasilan kita, aku yakin, terlalu berlebihan. Bua, oleh sebab ibuk sendirilah bila beliau dianggap sombong oleh para tetangga. Aku perih harus mengakui kenyataan ini, dik. Perih sekali. Tetapi masalahnya memang bukan ada pada Mbak Zulfin—masalahnya terletak pada diri ibuk sendiri.”
“Dan bapak…”
“Iya, dan bapak…”
“Lantas kita harus bagaimana?”
“Kita harus menemui seseorang, mumpung kita pulang.”
“Siapa mas?”
“Orang yang pernah menasihatiku, dulu, agar aku bekerja menjadi tukang kelapa.”
“Mbah Na’im?”
“Iya, Kiyai Na’im.”
“Apa dia pantas disebut kiyai, mas?”
“Bagiku, beliau adalah kiyai.”
“Kita perlu bicara sama bapak kalau begitu?”
“Jangan.”
“Kenapa, mas? Kan demi kebaikan ibuk dan bapak sendiri?”
“Justru karena demi kebaikan ibuk dan bapak, sebaiknya kita temui Kiyai Na’im dengan cara diam-diam.”
“Kapan?”
“Nanti malam.”
“Terus nanti kalau Bapak atau Ibuk tanya?”
“Kita jawab saja, kita mau jalan-jalan menikmati malam.”
“Kau benar, mas. Oh, aku rindu suasana seperti ini—terlebih malam-malamnya. Di Jakarta tak ada suara gangsir dan jangkerik di malam hari.”
“Bersama suara jengkerik dan gangsir itu, kita akan bersilaturrahmi ke rumah kiyai.”
“Oleh-oleh…?”
“Tak sempat, kita kasih sejumlah uang saja untuk beliau.”
Mereka pun bersepakat. Untuk beberapa saat, mereka masih berbincang-bincang di bawah pohon rindang itu. Udara yang bersemilir mendamaikan hati yang dilanda resah. Ketika ingat bahwa suara iqomat sudah lama berlalu, Muniri pun segera mengajak adiknya itu untuk turun. Hatinya berharap tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi antara ibunya dengan Zulfin. Diam-diam hati Muniri menyerukan permohonan, “Duh, Gusti. Terangilah hati ibu dengan cahaya cinta-Mu….”
***

← Kembali ke Daftar Bab