Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Kiyai Na’im baru saja turun dari musholanya yang sepi. Jemarinya masih memutar-mutar biji tasbih seiring langkah kakinya yang pelan menuju ke rumah. Bulan menggantung separo di langit sebelah timur. Malam belumlah larut karena isya’ baru saja lewat, tetapi di sini keadaan begitu lengang, begitu sepi. Suara jengkerik dan gangsir sudah mulai bertalu-talu, juga belalang daun yang kerikannya memekakan telinga—suaranya paling nyaring di antara binatang malam. Nada-nada burung hantu terdengar setiap beberapa ketukan seolah Tuhan memang khusus menciptakan burung ini untuk nada yang demikian itu. Suaranya jauh di sebuah ketinggian pohon, entah di sudut yang mana. Ilalang bergoyang-goyang dibelai angin, ke kiri ke kanan, seakan tengah menyenandungkan lagu rindu dan zikir cinta kepada Rabb-nya.
Di Siwalan ini, memang, tak ada yang memanggil lelaki tua itu dengan sebutan “kiyai”. Itu sudah terang-benderang. Itu telah nyata sekali. Hanya Muniri, ya…, hanya dia yang memanggilnya seperti itu. Selebihnya, semua orang memanggilnya dengan sebutan “mbah”: Mbah Na’im. Perikehidupannya sendiri juga tak terlalu ada yang menggubris. Bahkan tak ada yang peduli. Dan hanya si empunya cerita saja yang peduli!
Hidupnya memang sangat sederhana. Di mata warga, kedatangannya ke Siwalan ini, belasan tahun yang silam, juga penuh misteri. Ia datang seorang diri, membeli sebuah ladang berukuran kecil dari salah seorang penduduk, lalu di atasnya ia dirikan rumahnya itu. Rumahnya itu, adalah gubuk ini. Ada orang yang menganggap bahwa ia sebenarnya berasal dari desa Gagatan. Ada yang mengatakan dari Repaking. Ada yang bilang dari Tegal Jadin. Yang sulit diterima akal, ada yang bilang bahwa Mbah Na’im berasal dari suatu daerah yang subur dan hijau di dekat danau yang airnya jernih dan bening dengan ikan-ikannya yang banyak. Ini sulit diterima akal sebab di wilayah ini tak ada gambaran tempat seperti itu. Kemisterian asal-usul ini adalah satu-satunya hal yang pernah menjadi bahan pergunjingan warga Siwalan untuk sekian lama, di awal-awal tahun kedatangannya itu. Selebihnya, tak ada yang berbicara tentangnya, sebab memang tidak ada yang menarik untuk dibicarakan tentangnya.
Ia mencangkul ladang, seperti para penduduk yang lain. Ia pun membeli sepetak tanah di dekat gubuknya itu, lalu di atasnya, dengan kedua tangannya sendiri, ia mendirikan mushola kecil. Tak ada orang yang membantunya saat itu, tetapi bukan karena warga tak ada yang mau membangun, melainkan karena tak ada yang menyangka bahwa bangunan itu akan difungsikan menjadi mushola. Bentuknya kecil, lebih kecil dari ukuran gubuknya. Dasarnya yang menjadi lantai adalah pelepah-pelepah bambu yang dihaluskan sedemikian rupa. Dindin-didingnya juga terbuat dari bambu tetapi dipelitur sedemikian rupa hingga terkesan kuat dan kokoh. Di samping kiri mushola, ia membuat tempat untuk berwudlu. Melalui pancuran air terbuat dari bambu pula, ia menggunakan tempat itu untuk keperluan lain; mandi, mencuci, menyirami kacang-kacangan, atau sayur-mayur yang menjadi tanaman sebagai penyambung hidup. Ia tidak merokok. Ia jarang tidur kalau tidak mengantuk sekali. Ketika malam, ia lebih sering menghabiskan waktu di mushola. Mushola itu—seperti halnya gubuknya—tak diterangi dengan listrik. Penerangannya dari lampu minyak. Memang, dulu pernah ada yang mewarinya untuk menyambung kabel listrik dari rumah warga yang terdekat, tetapi ia menolak.
Walau hidup terpencil seperti itu, Mbah Na’im tetap bergaul dan melebur dalam kehidupan masyarakat. Ia selalu akan hadir memenuhi undangan warga. Yasinan dan tahlilan selalu ia ikuti. Pengajian yang diisi oleh Haji Ridlwan selalu ia ikuti pula. Ketika ada warga yang sedang sakit, ia akan menengoknya. Ketika ada anak kecil yang memintanya untuk membuatkan layangan, ia akan membuatkannya. Karena itu, ketika hari minggu atau hari-hari biasa usai sekolah, banyak anak kecil yang datang ke gubuknya untuk dibuatkan layangan atau mainan lain. Mbah Na’im melayaninya dengan hati yang senang. Entah sudah berapa layangan yang dibuatkannya untuk anak-anak, juga seruling bambu, juga kitiran dari daun kelapa, juga mobil-mobilan, juga bedil-bedilan. Anak-anak sangat senang mengelilinginya seakan tak ada batasan umur antara anak-anak itu dengannya.
Suatu ketika, di senja hari, pernah ada anak yang tiba-tiba menjerit-jerit histeris. Anak itu, bersama beberapa anak laki-laki lain, baru saja meninggalkan air terjun di lereng bukit sana. Kehebohan terjadi. Haji Ridlwan mengatakan bahwa anak itu telah diganggu makhluk halus. Ia berkata begitu sebab mantri suntik di Siwalan ini menyerah untuk bisa mengobatinya. Anak itu kejang-kejang. Matanya membelalak-belalak seperti ketakutan. Orang tuanya bingung dan sedih. Ketika Mbah Na’im datang, sekali lagi anak itu menjerit keras, lalu tak sadarkan diri. Mbah Na’im membelai wajahnya. Warna pucat di wajah itu sirna. Sebentar kemudian, anak itu sadar dari pingsannya. Di bening hati dan kesederhanaan jiwanya, Mbah Na’im memang merasa bahwa anak itu tengah diganggu. Sesama makhluk Tuhan dilarang saling menganggu, begitu ujar hatinya ketika itu. Dengan mengucap basmalah, sholawat, dan melafalkan doa-doa tertentu, kedatangan Mbah Na’im seakan mengejutkan makhluk halus itu, dan dengan sendirinya minggir, mundur, pergi, dan tak pernah kembali.
Tetapi tak ada yang mampu menangkap rahasia aneh itu.
Tak pula anak itu.
Ketika sadar dari pingsannya, anak itu hanya tersenyum saja seakan tak pernah mengalami kejadian apa-apa. Tetapi Mbah Na’im tidak sadar bahwa di antara semua orang yang ada ketika itu, ada seorang remaja laki-laki yang memperhatikannya. Memperhatikannya dengan seksama. Bolehlah semua orang tak bisa menangkap isyarat agung itu, tetapi remaja ini mampu menangkapnya. Mbah Na’im bukan orang sembarangan. Secara zahir, Mbah Na’im baik kepada semua orang. Tak pernah membuat ulah, tak pernah mendatangkan prasangka. Tak pernah menyakiti hati siapa pun. Tak pernah mencuri jagung atau singkong sedikit pun. Senyumnya tulus, kasih dan sayangnya kepada anak-anak suci. Didorong rasa penasarannya yang semakin menggelegak sejak penyembuhan yang dilakukannya terhadap anak itu, remaja ini sering mencuri tahu kegiatan-kegiatan Mbah Na’im.
Ketika malam, remaja ini berjingkat-jingkat menyatroni gubuk Mbah Na’im. Ia mengintip ke dalam gubuk dari celah-celah dinding. Ia melihat Mbah Na’im sedang membaca di bibir meja. Buku yang lusuh. Bukan! Itu bukan buku. Itu kitab. Kitab yang lusuh. Warna kuningnya telah memudar. Tetapi tulisannya tak terlihat dari celah mengintipnya itu. Sekian lama Mbah Na’im menafakuri kitab itu, lalu menutupnya. Menghela nafas sejenak. Lalu berjalan membuka pintu, dan berjalan menuju ke mushola.
Sekarang remaja itu mengintipnya di dalam mushola melalui celah-celah dinding mushola. Ia melihat Mbah Naik mendirikan sholat. Sholat sunah. Dua rekaat. Berulang-ulang. Banyak sekali. Bahkan hingga sang remaja ini lelah berdiri memicingkan matanya. Tetapi hati remaja ini merasa puas: Mbah Na’im memang bukan manusia biasa!
Ketika remaja itu lulus dari sekolah, bukan kepada bapak dan ibuknya ia meminta saran dan pendapat, apakah hendak melanjutkan sekolah, atau merantau di kota. Ia langsung teringat Mbah Na’im. Di malam hati setelah isya’, datanglah ia ke gubuk Mbah Na’im.
Muniri itulah remaja itu!
Muniri itulah yang mengintip itu.
Muniri itulah yang mengetahui sedikit banyak rahasia batin Mbah Na’im itu. Kepadanya ia meminta saran dan nasihat yang sebaik-baiknya:
“Mbah, saya sudah lulus. Dan saya bingung. Ibuk mibusa saya untuk kuliah. Bapak menyuruh saya mengerjakan sawah. Saya tidak tahu, pilihan mana yang harus saya ambil, Mbah. Mohon nasihat dan sarannya, Mbah…” Muniri meminta.
Mbah Na’im memperhatikan wajah remaja yang satu ini dengan seksama. Sorot matanya tajam tetapi teduh, menusuk tetapi mendamaikan. Mbah Na’im mengangguk-angguk. Tetapi bukannya ia langsung menjawab pertanyaan Muniri, melainkan ia justru balik bertanya, “Nak, tahukah engkau kenapa kambing lebih baik daripada banyak manusia?”
Terkejut Muniri mendengar pertanyaan Mbah Na’im. Tetapi Muniri lantas tersenyum. Geli, rasanya. Pertanyaan itu menggelikan. Di buku pelajarannya di sekolah, di ceramah ustadz-ustadz di TV-TV, di ceramah-ceramah Haji Ridlwan, di pelajaran agama dari guru agama di sekolah, Muniri tahu—dan sangat setuju—bahwa manusia selalu lebih baik daripada binatang. Manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna. Manusia berbeda dengan binatang. Derajat manusia lebih tinggi daripada binatang.
Tetapi kenapa Mbah Na’im berkata bahwa manusia lebih baik daripada kambing, lalu meminta alasan kepadanya oleh sebab apa hal itu bisa terjadi?
Ah…
Aneh, Mbah Na’im ini.
Benar-benar aneh.
“Tahu tidak?” Mbah Na’im bertanya lagi.
Muniri pun menjawab, sesuai dengan yang diketahui dan disetujuinya, “Kambing tak berakal, manusia berakal. Manusia lebih baik daripada kambing, Mbah. Manusia adalah makhluk Allah yang sempurna.”
“Tahu darimana kau, nak?”
“Al-Qur’an mengatakan demikian, Mbah.”
“Mana ayatnya?”
“Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya. Bukankah begitu, Mbah?”
“Itu bentuk lahir atau batin?”
“Tentu saja lahir dan batin, Mbah.”
“Kalau lahir, iya. Di mataku, kau lebih gagah daripada kambing.”
“Mbah juga…,” membalas begitu, Muniri hampir tergelak tawa.
“Tetapi, batin?”
“Kalau manusia lebih baik daripada kambing, bagaimana dengan Rasulullah dan para sahabatnya itu, Mbah?” Muniri membela pendapatnya.
“Siapa yang berbicara tentang Rasul dan para sahabatnya, nak?”
“Mbah—sebab Mbah menyebut “manusia”.”
“Apa kau lupa pertanyaanku tadi, nak?”
Muniri mengulangi pertanyaan Mbah Na’im, “Nak, tahukah engkau kenapa kambing lebih baik daripada banyak manusia?” Lalu ia cengar-cengir.
“Sekarang jawablah,” pinta Mbah Na’im.
Muniri menggeleng, menjawab, “Aku tidak tahu, Mbah.”
“Karena kambing itu tak pernah ingin menjadi manusia,” jawab Mbah Na’im.
“Tetapi siapa orangnya yang mau menjadi kambing, Mbah?”
“Pertanyaannya bukan siapa, naik.”
“Lalu…?”
“Bahkan banyak orang berlomba-lomba menjadi kambing.”
“Aku nggak ngerti, Mbah.”
“Suatu ketika kau akan mengerti, nak.”
“Lantas, hubungannya apa antara kambing dan kebingungan saya, Mbah?”
“Kau tak mau jadi kambing kan?”
“Tentu saja, Mbah.”
“Bua jadilah manusia.”
“Saya memang manusia, Mbah. Saya bukan kambing!”
“Jika kau tak hati-hati, kau akan jadi kambing. Bahkan serigala, Musang, anjing, babi. Mau seperti itu?”
“Tentu saja tidak, Mbah. Mbah ini aneh!”
“Bua ikutilah nuranimu, Nak…”
“Caranya?”
“Apa kata nuranimu, sekarang?”
Muniri tercenung. Kata nurani yang tentang apa?
Muniri bingung.
“Dengarkan nuranimu dulu, Nak.”
“Caranya…?”
Mbah Na’im mendesah. Dengan sabar dan tulus ia menjawab, “Ke mana hati mengajakmu. Tutuplah hatimu dari keinginan bapak dan ibumu. Bisa?”
Muniri memejamkan mata.
Beberapa lama.
Mbah Na’im menunggu. Biji-biji tasbihnya berpilin-pilin.
Muniri membuka mata. Matanya berbinar-binar. Lalu katanya, “Mbah, aku ingin merantau. Aku tak mau kuliah. Aku pun tak ingin menggarap sawah. Aku ingin merantau dan cari pengalaman. Aku tak mau jadi kambing. Aku ingin pasrah dalam perantauan!”
“Pergilah merantau, dan jadilah tukang kelapa.”
“Kenapa tukang kelapa, Mbah? Memang tak ada yang lebih baik untuk pekerjaanku nanti selain menjadi tukang kelapa?”
“Semua pekerjaan baik, nak. Bahkan bila kau menjadi babu sekalipun. Baik-buruknya pekerjaan bukan ditentukan apakah kau akan memakai sepatu atau tidak, nak. Bahkan seandainya kau pakai sepatumu untuk menginjak tangan pengemis dan peminta-minta, walau kau seorang direktur bahkan presiden sekalipun, kau menjadi buruk karena pekerjaanmu!”
Muniri mengangguk-angguk.
“Jadilah tukang kelapa yang baik, nak,” lanjut Mbah Na’im. “Yang selalu merunduk di hadapan Allah SWT!”
***
“Jadilah tukang kelapa yang baik, nak,” lanjut Mbah Na’im. “Yang selalu merunduk di hadapan Allah SWT!”
Bagi jiwanya, kalimat yang diucapkan Mbah Na’im menjadi jimat dengan beribu khodam yang ada di dalamnya. Muniri percaya dan yakin dengan nasihat Mbah Na’im itu. Setelah bisa membuat bapak dan ibuknya yakin dan percaya, berangkatlah Muniri merantau ke Jakarta. Kebetulan, ketika itu ada salah seorang tetangganya—Wawan—yang sudah terlebih dahulu menjadi penjual kelapa di Pasar Kebayoran Lama. Ke sanalah Muniri menuju. Ia tak malu ketika teman-temannya sesama lulusan SMA banyak yang meneruskan kuliah, untuk menjadi sarjana ini atau itu. Muniri ingin menjadi “sarjana buah kelapa” saja.
Wawan menerimanya bekerja menjadi pembantu dagang kelapa. Kepadanya Muniri belajar bagaimana secara cepat dan tangkas mengupas buah kepala, memecahkan batoknya, mengambil buahnya, memasukkannya ke dalam mesin pemarut, dan mengeluarkan hasilnya. Selama bekerja kepada Wawan, Muniri belajar banyak tentang kehidupannya sebagai tukang kelapa, pagi dan sorenya, siang dan malamnya. Dia pelajari bahwa dia harus bangun ketika pagi masih buta, bahkan ketika hari baru saja berganti. Pasar Kebayoran Lama sudah akan ramai walau waktu menunjuk angka satu atau dua. Di angka itulah dia harus ke pasar. Ketika adzan terdengar, dia meminta ijin pada Wawan untuk menjalankan sholat subuh di mushola yang berada di dalam pasar. Wawan sendiri, setelah sekian lama membantunya, tak pernah dilihatnya pergi ke mushola itu. Pelajaran ini membuatnya belajar: Menjadi tukang kelapa seperti Wawan ternyata membuatnya “lupa” mengerjakan sholat subuh.
Tetapi Muniri tak ingin lupa.
Muniri selalu ingat kalimat terakhir Mbah Na’im itu:
“Jadilah tukang kelapa yang baik, nak,” lanjut Mbah Na’im. “Yang selalu merunduk di hadapan Allah SWT!”
Tak membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan, dagangan buah kelapa Wawan semakin laris. Pembeli semakin banyak yang berlangganan kelapa kepadanya. Setelah yakin akan kemampuannya sendiri juga terkumpul cukup modal, Muniri meminta ijin dan persetujuan kepada Wawan untuk membuka usaha kelapanya sendiri. Wawan menyetujui, terlebih sudah ada dua pekerja baru yang siap menggantikan posisi Muniri. Bua sejak itulah, Muniri mandiri menjadi pedagang buah kelapa.
Tetapi tidak seperti Wawan.
Ada saat bagi Muniri berasyik-masyuk dengan buah-buah kelapanya itu, melayani para pelanggan dengan begitu santun dan ramah, menebarkan salam dan senyum, dan menolong sesama pedagang yang mengalami kesulitan, tetapi juga menangis tersedu-sedu di pojok Mushola: Mengerjakan kewajibannya sebagai muslim dan mendoakan sesama muslim yang ada di seantero Pasar Kebayoran Lama ini agar hati mereka diberi cahaya oleh Allah untuk merebahkan diri dan merunduk di hadapan Ilahi. Urusan mau sholat atau tidak, Muniri sadar, itu adalah urusan pribadi masing-masing. Muniri bisa berkata-kata, memperingatkan dan menyuruh orang-orang Muslim yang dia kenal di pasar ini untuk mengerjakan sholat. Tetapi Muniri tidak melakukan itu. Muniri hanya mencontohkannya, bahkan memperlakukan dirinya sendiri untuk mengerjakan sholat dan mendoakan mereka. Dengan cara seperti ini, hati Muniri semakin lembut. Ucapan-ucapan keras, lontaran kata-kata kotor, candaan yang sering melampaui batas, yang acap kali terdengar di mana-mana, tak mempengaruhi batinnya dan hatinya yang lembut ini. Dan Tuhan pun memberikan kesuksesan zahirnya. Muniri menikah dengan seorang “bidadari cantik” berhati lembut dan bersih berkerudung biru itu—salah seorang yang menjadi pelanggannya—dan bersamanya ia terus menekuni pekerjaannya sebagai tukang kelapa. Bersamanya pula, ia selalu rebah dan merunduk di hadapan Tuhannya.
Bua ketika ia seringkali mendengar kabar tentang bapak dan ibuknya di kampung, hatinya yang lembut itu menjadi sedih dan pedih. Ada jarak yang begitu dalam ia rasakan antara dirinya dan kedua orang tuanya. Jarak batin. Jarak spritual. Jarak suci. Tak lelah-lelah tak letih-letih Muniri mendoakan kedua orang tuanya dengan doa-doa terbaik. Surat yang ditulis ibuknya itu ia terima sekitar pukul sepuluh pagi, ketika ia dan istri baru saja mendirikan sholat sunnah.
Duh, anak-anakku.
Dengan air mata ibumu menulis surat ini untukmu, sedang ayahmu tengah tertidur pulas seakan tak peduli dengan kesakitan yang menimpaku. Ketahuilah, anak-anaku, seorang perempuan berhati gila, Zulfin istrinya Dlori yang kurang ajar, telah menyakiti hati ibumu. Dia tidak hanya menghina dan merendahkanku. Dia pun telah menampar pipiku. Ibumu sakit karenanya. Ayahmu diam saja.
Duh, anak-anakku…
Kepada siapa lagi seorang ibu akan menjerit bila bukan kepada anak-anaknya yang tercinta? Kini aku menjerit kepadamu dengan jeritan seorang ibu. Kini aku menangis kepadamu dengan tangisan darah seorang ibu. Tak ada yang mau membelaku, dan kini—atas nama ibumu—kuharap belamu. Segeralah pulang sebelum ibumu menemui ajal karena rasa sakit yang tak terkira! Balaskan rasa sakit ini agar arwahku nanti tenah di alam baka!!
Air mata Muniri mengalir deras setelah membaca surat ibuk. Ia seakan merasakan betapa sakit pipinya ditampar orang. Tetapi hatinya lebih sakit mendengar perkataan-perkataan ibuknya yang seperti itu. Zaenab, istrinya, menyentuh lengannya, senyum menghiburnya, dan mengalir kata-kata lembut dari sepasang bibirnya, “Mungkin kita harus meminta maaf kepada Mbak Zulfin dan suaminya itu, Mas. Demi kebaikan Ibuk dan Bapak. Demi hati mereka semua…”
“Uang simpanamu masih cukup-kah, dik?” Muniri, bertanya.
“Masih, mas. Kenapa?” Zaenab tak mengerti.
“Tahanlah separoh untuk kebutuhan,” jawab Muniri, “yang separoh kita sedekahkan.”
“Iya, mas.”
Usman yang juga berkesempatan membaca surat itu tampak tidak tahan membaca surat ibuk. Adik Muniri ini memang berbeda dengan sang kakak. Usman tergoda untuk meluapkan amarah seakan hendak pulang hari ini juga, lalu menendang wajah Zulfin. Tetapi dengan sabar dan sepenuh kasih, Muniri memberi pengertian dan menasihatinya. Hati Usman pun luluh.
Dua hari kemudian, kakak iparnya, Bagus, menghubunginya. Lalu, seminggu kemudian, Muniri mengajak Zaenab, anaknya, dan Usman pulang ke kampung.
***
Itulah Muniri.
Anak yang dibangga-banggakan dan disombong-sombongkan Muhaya dan Wuryani. Orang bilang: Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Tetapi orang lupa bahwa ada angin, ada kekuatan alam, ada faktor-faktor lain, yang bisa membuat buah melayang jatuh tetapi jauh dari pohonnya! Setidak-tidaknya, gambaran seperti itu ada pada diri Muniri dibandingkan hati dan jiwa kedua orang tuanya.
“Jadilah tukang kelapa yang baik, nak,” lanjut Mbah Na’im. “Yang selalu merunduk di hadapan Allah SWT!”
Kalimat Mbah Na’im itu telah membawanya ke Jakarta, telah menjadi jimat bagi kelembutan, ketulusan, dan kebeningan hatinya. Kini kalimat itu terngiang-ngiang kembali di benaknya, dan menuntunnya serta Usman melangkahkan kaki ke rumah Mbah Na’im.
Rumah, Kiyai Na’im….
***
Dari sini, lampu-lampu neon di jalan dan di beberapa titik dari pojok rumah warga tampak seperti bintang-bintang yang berpijar. Memang pemandangan ini tak bisa dibandingkan dengan kerlap-kerlip cahaya lampu di Jakarta ketika dipandang dari gedung yang tinggi. Tetapi hawa di sini lain, begitu berbeda, demikian agung. Jajaran bukit yang terbungkus gelap di belakangnya dengan hiasan sepotong bulan dan kerlap-kerlip bintang di langit adalah karya Tuhan yang tak terbandingkan. Pijaran kecil neon dan lampu-lampu di depannya itu seakan merunduk di kebesaran malam, rebah di ke-Maha-an Tuhan.
Muniri dan Usman melangkah pelan menuju pintu rumah Kiyai Na’im. Sudah seperti apakah beliau sekarang, itulah tanya hati Muniri saat ini. Ia mengucapkan salam. Suaranya bergetar. Suara serak Kiyai Na’im menjawab salamnya itu.
Pintu gubuk terbuka.
Keadaan yang agak gelap di tempat ini tak memungkinkan sang kiyai melihat dengan jelas siapa yang tengah bertamu ke gubuknya itu.
“Kiyai….,” sapa Muniri, lembut. Dia tak lagi menyapanya dengan panggilan “mbah”, seperti dulu.
“Siapa anak ini?” Kiyai Na’im bertanya.
“Saya Muniri, Kiyai. Ini Usman adik saya…”
“Muniri—si tukang kelapa itu?”
Muniri langsung bersimpuh di kaki Kiyai Na’im. Air matanya berloncatan. Ternyata Kiyai Na’im tidak melupakannya. Masih mengingatnya. Usman bingung. Tetapi ia mencium tangan Kiyai Na’im.
Kiyai Na’im mengajak keduanya masuk ke dalam gubuk. Usman langsung memandang ke segala sisi ruangan itu. Sebuah meja agak besar terletak persis di tengah-tengah ruangan. Lampu minyak terletak persis di tengah-tengah meja. Ada tiga kursi yang mengelilingi meja itu (mungkinkah keduanya baru saja dipersiapkan sang kiyai untuk kedua tamunya ini [?]). Ada juga meja kecil yang di atasnya terdapat tumpukan buku. Meja kecil itu terletak di salah satu sudut ruangan.
Kiyai Na’im mendudukkan kedua tamunya itu di kursi masing-masing. Diam-diam, Muniri memperhatikan wajah sang kiyai. Oh, tak banyak perubahan rupanya. Begitu hatinya membatin. Wajahnya itu masih seperti dulu, hanya ada gurat-gurat kecil tanda ketuaan. Rambut beliau udah memutih, tetapi masih lebat seperti dulu. Dan sorot matanya itu—ketika beliau memandangnya tadi—lebih dalam, lebih mengena di hati, lebih tulus, lebih mendamaikan.
Kiyai Na’im tak langsung duduk di kursinya. Wajahnya berubah sumringah. Mendadak tertebar bau singkong rebus dicampur gula ke ruangan ini. Usman mencium bau itu. Begitu pula Muniri.
“Ah, kebetulan sekali!” ucap Kiyai Na’im. “Aku telah memasak singkong. Kalian datang. Singkong rebus diberi gula merah tentu tak terlalu buruk bagi orang kota seperti kalian.”
Kiyai Na’im melangkah ke dapur.
“Biar saya bantu, Kiyai,” Muniri berkata, berdiri dari duduknya. Melangkah mengikuti kiyai.
“Boleh,” jawab Kiyai Na’im.
Usman mengikuti pula.
Dapur ini memang kecil. Tak banyak barang-barang atau benda-benda di dalamnya. Rak piring terbuat dari bambu itu hanya diisi dua atau tiga piring dan empat buah gelas. Beberapa sendok berada di sebuah wadah terbuat dari bumbungan bambu pula. Ada pintu keluar dari dalam dapur ini, menghubungkan sang kiyai ke belakang rumah. Di sebelah kirinya, ada kursi tua dan tampaknya masih sangat kuat. Mungkin, kursi itu digunakan Kiyai Na’im untuk sekedar duduk-duduk atau duduk-duduk sambil makan. Usman sempat membatin bahwa Kiyai Na’im itu “orang dari masa lalu”. Beliau “orang masa lalu” yang hidup di masa kini. Lihat saja, tak ada kompor minyak, alih-alih kompor gas. Tungku api terbuat dari tanah terletak persis di tengah dapur. Beberapa kayu bakar masih menyala di dalam tungku. Baranya merah menyala. Di atas tungku, di sebuah panci yang terbuka, bau singkong rebus semakin menyebar dari sana. Airnya bergolak-golak kental. Wangi sekali. Harum sangat. Seketika kerongkongan Usman seakan kosong, padahal tadi ia telah menyantap nasi sepiring penuh hidangan ibuknya.
Muniri mengambil dua buah piring dari rak.
Usman mengambil sebuah dan tiga buah sendok.
Dengan irus yang gagangnya tak terlalu panjang dan ujungnya sudah mengecil itu, Kiyai Na’im menuangkan singkong rebus ke masing-masing piring. Beberapa saat kemudian, mereka telah kembali ke ruang ruang depan. Dan sebentar kemudian, singkong rebus itu telah sempurna habis dari masing-masing piring.
Atas keinginan Kiyai Na’im, banyak hal yang diceritakan Muniri tentang pekerjaannya dan Jakarta. Jakarta yang banjir. Jakarta yang macet. Jakarta yang kotor. Jakarta yang pengap. Jakarta yang berasap. Jakarta yang bau. Bau busuk sampah dan kotoran. Tetapi, Jakarta yang digilai. Jakarta yang di-gandrung-i. Jakarta yang elok bagai perempuan bergincu. Kerling mata Jakarta membuat banyak orang tergoda-goda.
Kiyai Na’im mendengar dengan seksama.
Di bagian-bagian tertentu, Usman menambahkan cerita kakaknya tentang Jakarta. Tentang sekolah. Tentang perkelahian antar pelajar. Tentang bunuh-membunuh. Tentang pengemis. Tentang pengamen. Tentang kata-kata cabul para pelajarnya. Tentang tabrakan bus. Tentang pembakaran mobil. Tentang kengerian-kengerian.
“Adakah cerita yang tidak kusam?” Kiyai Na’im bertanya, setengah bercana. “Dari tadi Jakarta selalu saja terdengar suram…”
Muniri menjawab, “Ada, Kiyai—dan bahkan tidak terjadi di desa ini, kecuali ketika romadhon.”
“Sepertinya menarik,” komentar Kiyai Na’im, “apakah itu?”
“Ketika Romadhlon, Haji Ridlwan kan selalu menyeru-nyeru warga untuk sahur, lalu menyeru imsak jelang subuh? Terus, antara imsak sampai adzan subuh, Haji Ridlwan akan membaca al-Qur’an, sholawatan, atau puji-pujian. Nah, di Jakarta, kebiasaan seperti itu tak hanya terjadi ketika Romadlon saja, Kiyai.”
“Maksudmu menyeru-nyeru sahur itu?”
“Bukan, Kiyai.”
“Lalu…?”
“Setiap menjelang subuh, antara dua sepuluh sampai dua puluh menit, masjid-masjid di Jakarta selalu menyeru-nyeru ummat untuk bersiap-siap melaksanakan sholat subuh. Terkadang mereka membaca al-Qur’an, atau memutar kaset berisi bacaan al-Qur’an, atau sholawatan…hingga adzan subuh. Subhanallah, Kiyai. Nuansa agamanya sangat terasa. Saya bersyukur, di tengah-tengah kesibukan dunia yang begitu memikat di kota besar seperti Jakarta, masih ada hamba-hamba Tuhan yang mau menyeru panggilan subuh. Itu tak hanya dari masjid-masjid besar, Kiyai, bahkan sampai di mushola-mushola kecil di gang-gang.”
“Begitukah?”
“Iya, Kiyai. Subahanallah sekali…”
“Lalu yang dipanggil pada dateng nggak?”
“Nggak, Kiyai!” ini jawaban Usman. Dia memang polos. Ceplas-ceplos. Dan apa adanya.
“Ndak gimana?”
“Ya gitu dech. Mushola di gang dekat rumah Mas Muniri, selalu sepi dari jamaah ketika subuh—padahal Pak Hendri setiap menjelang subuh selalu berteriak-teriak melalui speaker, Kiyai! Banyak mushola yang seperti itu kok, Kiyai. Tak hanya mushola dekat rumah kok. Kadang saya malah nggak setuju dengan panggilan-panggilan seperti itu, Kiyai.”
“Kenapa ndak setuju?”
“Suara Pak Hendri itu jelek,” jawab Usman. “Sudah gitu, banyak sekali kesalahan-kesalahan buhroj ketika dia melantunkan sholawatan, Kiyai. Aku seringkali sebal mendengarnya. Sholawat nariyah-nya banyak yang kedodoran. Kadang aku pengin melabraknya ke mushola, tetapi kasihan dia sudah tua. Nanti salah paham. Nanti saya dikira sok tahu—sok menggurui.”
“Lho kenapa kamu tidak menggantikannya saja?” tanya Kiyai Na’im.
“Boro-boro, Kiyai. Nanti dikira saya merebut lahannya.”
“Merebut lahan gimana, maksudmu?”
“Kan Pak Hendri dibayar untuk itu, Kiyai. Kalau nggak dibayar, mana mau dia berteriak-teriak setiap menjelang subuh membangunkan warga untuk bersiap-siap sholat subuh?”
“Ah, kamu sok tahu aja, dik!” Muniri berkata.
“Emang gitu, kok,” jawab Usman. Lalu kepada Kiyai Na’im, “Dan saya sangat heran, Kiyai. Bahkan benar-benar nggak habis pikir. Saya pernah sholat maghrib di daerah Kemayoran, Kiyai. Di gang sempit. Di situ ada mushola kecil.” Lalu kepada Muniri, “Mas ingat kan rumah Kang Safar ada di sana?”
Muniri mengangguk.
Usman melanjutkan, “Nah, karena sudah terdengar adzan, saya pun segera mencari mushola terdekat. Kebetulan, yang terdekat itu ya mushola itu. Saya pun berwudlu, Kiyai. Lalu saya masuk ke mushola itu. Di dalam mushola, hanya ada tiga orang, Kiyai. Orang yang sedang membaca sholawatan itu, ternyata nanti adalah imam sholat maghrib kami. Setelah beberapa saat menunggu, ternyata tak ada jamaah lain yang datang, Kiyai. Akhirnya dia pun membaca iqomat. Kami pun segera sholat. Tetapi sumpah, Kiyai, saya tidak bisa sholat khusyuk sama sekali saat itu.”
“Emang kamu bisa sholat khusyuk, dik?” Muniri mencandainya.
“Ah, mas, jangan gitu lah. Kan jadi malu.” Lalu kepada Kiyai Na’im, “Kan tadi cuman ada tiga orang di dalam mushola itu, berempat dengan saya. Jadi, bumum-nya ada tiga kan? Nah, pikiran saya itu bingung, Kiyai, menyaksikan adegan imam saya ini.”
“Bingung bagaimana?” tanya Kiyai Na’im lagi.
“Kiyai tahu microphone kecil yang diselipkan di saku— untuk pengeras suara?”
Kiyai Na’im mengangguk.
Usman meneruskan, “Nah, imam maghrib saya itu memakai itu, Kiyai. Jadi suaranya bisa keras, tidak hanya terdengar di dalam mushola saja, tetapi, saya yakin, terdengar sampai jauh ke mana-mana. Orang saya bisa sholat maghrib di mushola itu tadi karena mendengar panggilan adzannya kok. Yang membuat hati saya bertanya-tanya—di sepanjang rukuk dan sujud saya—dengan maksud dan tujuan apa sehingga imam tersebut memakai pengeras suara? Saya selalu bertanya soal ini pada Mas Muniri, Kiyai. Tetapi jawabannya itu-itu saja.”
“Itu-itu saja gimana?” Kiyai Na’im bertanya.
Muniri menjawab, “Itu kan bagus, berarti sang imam peduli terhadap orang lain agar pada datang ke mushola, Kiyai?”
“Tetapi saya selalu membantah jawaban itu, Kiyai,” sergah Usman. “Sehabis sholat maghrib itu, saya sempat bertanya pada bumum tetangga saya, katanya memang setiap maghrib yang sholat di sini tak lebih dari tiga atau empat orang saja—kecuali saat sholat tarawih. Bua saya tidak setuju jawaban Mas Muniri, Kiyai.”
“Lantas, menurutmu sendiri apa sebabnya?”
“Saya kok justru merasa imam tersebut menjadi orang yang sombong, Kiyai. Bahwa dia menjadi imam. Bahwa dia bisa membaca bacaan-bacaan sholat. Bahwa dia adalah pemimpin sholat, seakan-akan dia mengatakan, ‘Inilah aku. Imam di mushola ini. Dengarkanlah bacaan sholatku.’ Kok saya merasa seperti itu, Kiyai. Tetapi, lagi-lagi Mas Mun membantahku. Katanya, aku tak boleh su’udzon, Kiyai. Tetapi memang saya sulit menerima hal itu. Iya kalau mushola itu mushola gede. Istiqlal, misalnya. Kalau di masjid itu, ya pantas bila imam sholatnya memakai pengeras suara. Lha ini di mushola kecil je, Kiyai. Jamaahnya hanya tiga orang. Tak perlu memakai pengeras suara saja kami sudah sangat cukup mendengar bacaan sholatnya, dan kami akan mengikutinya. Kalau seperti ini, apa bukan sombong itu, Kiyai? Apa bukan ujub namanya?”
Kiyai Na’im tersenyum.
Muniri pun begitu.
Muniri selalu mendengar alasan-alasan adiknya itu, dan selalu seperti itu.
Kiyai Na’im menggeleng-geleng.
Melihat hal itu, Usman bertanya, “Jadi Kiyai tidak setuju apa yang saya katakan?”
Tanpa menjawab pertanyaan Usman, Kiyai Na’im berkata, “Terkadang, menjadi imam di gereja lebih indah dan agung daripada imam di mushola atau masjid.”
“Ma..maksud, Kiyai?” kali ini Muniri yang bertanya.
Usman pun diam menunggu perkataan Kiyai Na’im.
Bua berkatalah sang kiyai, “Pemimpin gereja dan ummatnya tidak pernah menganggu kita dengan ceramah dan nyanyiannya, tetapi kita seringkali menganggu mereka dengan ceramah, panggilan, dan puji-pujian kita.”
“Tetapi bukankah ini bagian dari dakwah, Kiyai?”
“Dakwah tidak akan membuat orang menjadi lari dan justru antipati terhadap kita. Menjadi benar itu satu perkara, tetapi cara yang keliru dalam menunjukkan kebenaran adalah perkara lain. Seseorang bisa mendekatimu sebab engkau benar, nak. Namun, bisa terjadi karena engkau benar, orang lain justru akan menjauhimu!”
Lalu, mereka pun terlibat dalam obrolan-obrolan yang ringan. Kadang, Kiyai Na’im menyelinginya dengan kisah-kisah dari masa lalu, yang bisa membuat Muniri dan Usman tertawa-tawa. Sebaliknya, Muniri dan Usman pun memperdengarkan kisah-kisah dari masa kini, yang sekali waktu membuat Kiyai Na’im terkekeh-kekeh.
Di luar, suara jangkerik dan gangsir semakin riuh. Semakin bertalu-talu. Burung hantu sudah tidak lagi terdengar. Suara air terjun di kejauhan terbawa angin. Dan sepotong bulan itu kini sudah hampir semakin tinggi di langit. Bintang-gemintang tak berubah kerlap-kerlipnya. Di atas bumi, di antara dedaunan dan pohon-pohon kecil, kunang-kunang menari-nari. Di bawah sana, atap-atap rumah penduduk telah menjadi bayangan-bayangan hitam. Lampu-lampu di dalam rumah sepertinya sudah dipadamkan.
Di dalam rumah, sebelum Kiyai Na’im mengakhiri perbincangan dengan kedua tamunya itu, ia berkata, “Nak, kalian masih muda. Terutama kamu, Usman. Perjalananmu masih panjang. Kau punya kakak yang baik, bahkan terbaik, dalam hidupmu. Bersyukurlah, dan selalu dengarlah nasihat-nasihatnya. Aku ada pertanyaan untuk kalian.”
“Apakah itu, Kiyai?”
“Ini soal hidup.” Jawab Kiyai Na’im. “Hidup itu seperti air di dalam gelas yang diletakkan di atas pasir—ketika air itu tumpah, apakah air itu hilang?”
“Iya, Kiyai,” jawab Muniri, “air itu hilang.”
“Betul, Kiyai,” Usman menambahkan, “air itu akan meresap ke dalam pasir, dan gelas itu menjadi kosong.”
“Gelas itu memang kosong. Ketika mati, kita terhadap dunia ini seumpama gelas yang kosong tadi,” papar Kiyai Na’im. “tetapi air itu tidak pernah hilang, nak. Bisa saja ia menyatu dengan pasir, atau berubah bentuknya, atau berubah warnanya. Yang pasti, air itu tak akan hilang—ia hanya tidak lagi tampak di matamu. Begitu pula hidup. Sesungguhnya mati hanyalah satu perpindahan dari satu hidup menuju hidup berikutnya, nak. Dari alam dunia, menuju alam akhirat. Mati hanyalah pintu; aku dan kalian akan melewatinya suatu saat nanti. Mungkin aku akan mendahului kalian, mungkin pula ibukmu yang mendahuluiku. Wallahu a’lam. Tetapi kita pasti akan melewati pintu itu. Bua ketika kita telah melewatinya, kita akan bisa lagi kembali ke sebelumnya. Apakah kalian mengerti?”
Mereka mengangguk.
Kiyai Na’im menambahkan, “Karena itu, ringankanlah hidupmu. Tak perlu kalian cari bekal sebanyak-banyak, karena bisa jadi kalian merasa keberatan dengan bekal yang banyak itu! Ringankanlah hidupmu, dan hidup orang-orang yang kalian cintai. Semoga Allah selalu memberkati.”
Usai berkata begitu, Kiyai Na’im bangkit dari tempat duduk.
Muniri dan Usman paham bahwa mereka sudah harus mengakhiri silaturrahmi ini. Mereka pun pamit, dan memohon doa restu sang kiyai untuk kebaikan dan kebeningan hidup mereka. Muniri menyelipkan sejumlah uang dalam sebuah amplop ke saku baju Kiyai Na’im. Dan Kiyai Na’im tak menolaknya. Kakak-beradik ini pun lantas memohon pamit.
Sang Kiyai mengantar mereka sampai di luar pintu gubuknya.
***
Ketika sampai di sumur di kebun Muh. Tohar, Muniri dan Usman tiba-tiba menghentikan langkah. Mereka mendadak terkejut terhadap diri mereka sendiri. Terkejut. Lalu sadar. Mereka pun berhenti. Lalu duduk di atas batu berukuran agak besar di sisi sumur itu. Di bawah temaramnya rembulan, kakak beradik ini saling diam, saling pandang.
“Bukankah kita dari rumah Kiyai Na’im, dik?”
“Bukankah memang demikian, mas?”
“Bukankah kita datang ke beliau untuk meminta nasihat beliau?”
“Bukankah memang begitu, mas?”
“Lalu nasihat apa yang tadi disampaikan beliau?”
“Sepertinya beliau tak memberi nasihat itu, mas. Kita terlalu banyak berbicara tadi. Bersendau-gurau sama kiyai.”
“Kau benar,” seru Muniri, “kau benar, dik. Kenapa kita bisa lupa seperti ini?”
“Mas sendiri nggak mengingat-ingat,” jawab Usman. “Aku kan adikmu, aku hanya menyertai langkahmu tadi. Kau yang mengajakmu menemui Kiyai Na’im untuk meminta nasihat tentang ibuk. Tetapi kenapa kau tiba-tiba lupa soal itu, mas?”
“Aku juga nggak tahu, dik. Masyaallah….”
“Apa kita kembali ke rumah beliau, mas—mumpung belum terlalu jauh. Belum lewat tengah malam pula.”
“Tetapi lihatlah,” Muniri menoleh ke arah gubuk Kiyai Na’im yang letakknya memang berada di atas itu. Usman pun melihat ke arah yang sama. Muniri berkata, “Sepertinya beliau sudah istirahat. Lampu minyaknya sudah dimatikan. Gubuknya sudah gelap.”
“Kenapa mas bisa lupa sih? Lupa tujuan utama sendiri!”
“Demi Allah, aku juga nggak tahu, dik. Aku nggak sadar. Padahal kita lama di sana tadi. Kita sudah berbicara banyak hal. Cobalah kau ingat-ingat, nasihat apa yang paling penting disampaikan Kiyai Na’im?”
Dan Usman pun mengingat-ingat. Merekam jejak perbincangan antara dirnya dengan sang kiyai tadi. Tentang Jakarta. Tentang mushola. Tentang berbagai-bagai hal. Lalu dia menjawab, “Pasti tentang pemimpin gereja tadi, mas. Itu nasihat yang sangat penting menurutku.”
“Yang lain…?”
“Tentang hidup dan gelas kosong, mas?”
“Tentang kita diminta untuk meringankan hidup kita, dik!” jawab Muniri terhadap adiknya, juga terhadap dirinya sendiri.
“Tetapi itu bukan nasihat, menurutku, mas. Itu teka-teki…”
“Teka-teki gimana?”
“Biasalah—kata guru agabuu gitu. Orang yang sepuh dan pintar dan dekat dengan Tuhan, katanya, penuh dengan teka-teki bicaranya, mas. Kita menyebutnya orang linuwih. Mas dulu telah membuktikannya. Itu bukan nasihat, mas. Itu teka-teki. Teka-teki yang harus kita pecahkan. Asyik sekali, ternyata, mas, mengobrol dengan Kiyai Na’im ini.”
Tetapi Muniri tak menanggapi perkataan adiknya.
Pikiran Muniri melayang-layang, berusaha mengingat-ingat ucapan Kiyai Na’im seutuh-utuhnya:
Gelas itu memang kosong. Ketika mati, kita terhadap dunia ini seumpama gelas yang kosong tadi, tetapi air itu tidak pernah hilang, nak. Bisa saja ia menyatu dengan pasir, atau berubah bentuknya, atau berubah warnanya. Yang pasti, air itu tak akan hilang—ia hanya tidak lagi tampak di matamu. Begitu pula hidup. Sesungguhnya mati hanyalah satu perpindahan dari satu hidup menuju hidup berikutnya, nak. Dari alam dunia, menuju alam akhirat. Mati hanyalah pintu; aku dan kalian akan melewatinya suatu saat nanti. Mungkin aku akan mendahului kalian, mungkin pula ibukmu yang mendahuluiku. Wallahu a’lam. Tetapi kita pasti akan melewati pintu itu. Bua ketika kita telah melewatinya, kita akan bisa lagi kembali ke sebelumnya. Apakah kalian mengerti?
Mendadak bulu kuduk Muniri berdiri. Kulitnya merinding. Tubuhnya gemetaran. Redupnya bulan tak memampukan Usman melihat perubahan itu di diri sang kakak. Padahal Muniri sedang menatapnya, menatap adiknya itu sepenuh lekat. Sementara sang adik tampak masih terus memikirkan perbincangannya tadi dengan Kiyai Na’im.
“Mas, apa kita kembali aja ke rumah Kiyai Na’im besok?” Usman bertanya.
Muniri menggeleng. Ujarnya, “Tidak, dik. Demi Allah tidak. Besok kita harus pulang. Besok aku akan menemui Mas Dlori dulu. Kita harus segera pulang ke Jakarta.”
“Kamu kenapa sih, mas? Suaramu bergetar seperti ini?”
“Sekarang ayo kita pulang,” ucap Muniri sambil berdiri.
“Mas, mas…!” ucap Usman sambil melangkah mengikuti sang kakak yang telah terlebih dahulu berjalan.
Hati Usman bertanya-tanya.
Namun, hati Muniri sudah terpaut pada suatu rahasia. Rahasia mana dapat ia ketahui dari ucapan Kiyai Na’im, dan membuat badannya semakin bergetar, dan jalannya tampak terhuyung-huyung. Tetapi Muniri tidak membagikan rahasia itu kepada adiknya.
***