Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Kepulangan Muniri

📅 02 July 2026 📚 Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 12 menit baca 📑 Bab 13

Bagus telah lebih dahulu pulang ke rumahnya di Semarang. Dia berangkat pagi-pagi benar, lepas subuh tadi. Bagus pulang dengan hati yang kacau dan bimbang. Menurutnya, perkara pertengkaran antara ibu mertuanya dengan Zulfin sesungguhnya adalah perkara yang memalukan. Tetapi dia tidak ingin membuat malu ibu mertuanya dengan menunjukkan dan menjelaskan kepadanya bahwa bertengkar karena masalah iri hati tentang harta-benda dan kebanggaan diri itu adalah perkara yang memalukan. Mungkin memang ada bagian-bagian tertentu yang benar dari ibuk mertuanya itu dibandingkan dengan Zulfin. Sebaliknya, ada pula pada diri Zulfin yang benar dan karena itu ibuk mertuanya keliru. Akan tetapi, menghina-dina, merendahkan, mecaci-bui, mengunggul-unggulkan, membangga-banggakan, menghamburkan kata-kata kotor adalah perkara lain, perkara yang tidak baik, perkara yang memalukan. Terlebih, pertengkaran itu di hadapan umum, di hadapan khalayak, di hadapan warga. Dalam hal yang demikian ini, Bagus tak ingin terlibat, tak ingin memihak. Sebelum pulang tadi, ia hanya memohon pada ayah mertuanya agar ibuk diberi pengertian agar menjadi orang yang sabar.
Muhaya mengangguk-angguk, tetapi itu bukan anggukan setuju! Bukan karena ingin membenarkan permohonan Bagus yang seperti itu hingga ia mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengangguk karena ia menghormati menantunya yang polisi ini. Itu saja. Selebihnya, permohonan sang menantu itu tak dihiraukannya.
Bagus sendiri tidak memperpanjang kata-kata. Ia tak ingin memberi masukan atau memohon pada ibuk mertuanya untuk bersabar. Dari ayah mertuanya itu, Bagus baru tahu bahwa ibuk memang orang yang gampang marah, gampang naik pitam. “Darahnya tinggi,” ujar bapak mertua. “Bisa-bisa ibukmu jantungan.”
Bagus pulang setelah memberi sejumlah uang untuk orang tua-mertuanya.
Tinggallah Muniri, istrinya, anaknya, dan Usman.
Ketika siang, Usman masih saja memikirkan perubahan yang terjadi pada diri sang kakak. Tetapi Muniri bungkam. Muniri diam. Tetapi Usman bukanlah Muniri, yang pandai menyembunyikan isi hati, pandai pula berdamai terhadap dirinya sendiri. Usman tahu bahwa ibuk dan bapaknya turut andil dalam kesalahan ini—kesalahan yang memalukan ini. Terutama ibuknya, Usman tahu sang ibu terlalu berlebihan, sangat emosional, pemarah, tak sabaran, dan kurang bisa menjaga lisan. Hal-hal ini membuat Usman tak bisa diam sekarang. Ketika Muniri tengah pergi menemui Dlori, Usman menghamburkan kata-kata ketidaksukaan dan keberatan terhadap sikap kedua orang tuanya, terutama ibuknya.
Bua terjadilah “pertempuran” itu.
Seru.
Ramai.
Kakak iparnya, Zaenab, berkali-kali harus meminta adik iparnya ini untuk bersabar, untuk tidak berseru-seru. Wuryani sendiri justru merespon ketidaksukaan dan keberatan anak bungsunya ini dengan cara yang tak kalah seru, tak kalah kencang dalam teriakan-teriakan.
“Kau malah menyalah-nyalahkan ibumu,” ujarnya. “Kau juga salahkan bapakmu. Harusnya kau bangga punya bapak dan ibuk seperti kami. Bukan malah menyalah-nyalahkan seperti ini.”
“Aku tidak menyalahkan, Buk,” bantah Usman. “Aku hanya mengingatkan ibuk.”
“Apa hak-mu mengingatkan orang tua, heh? Kau yang aku lahirkan, bukan kamu yang melahirkanku.”
“Ibuk benar. Maaf jika kata-kata membuat ibuk tak berkenan. Bukan maksudku untuk melukai perasaan ibuk. Aku hanya tidak ingin ibuk di hina-hina dan direndahkan orang lagi, karena itu jangan memancing masalah, Buk. Jangan sombong. Jangan membangga-banggakan diri. Mas Mun juga tidak suka bila ibuk sering berbicara ke orang-orang dengan cara sombong dan angkuh.”
“Apa katamu? Oalah, le, le. Kau kulahirkan apakah agar kau bisa menasihati ibukmu sendiri?”
“Maafkan aku, Buk.”
“Apakah kau ingin melihat ibukmu mati karena jantungan akibat ucapanmu sendiri?”
“Maafkan aku, Buk.”
Usman mengalah.
Bapaknya melenguh.
Ibuknya menangis-nangis.
Zaenab membelai-belai punggung ibuk mertuanya. Hatinya dicacah pilu. Senandung istighfar di hatinya itu bertalu-talu.
***

Di saat yang sama, hampir saja terjadi kesalah-pahaman antara Muniri dan Zulfin. Zulfin mengira, kedatangan Muniri ke rumahnya untuk membela Wuryani, ibunya.
“Tidak, mbak,” ucap Muniri, menjelaskan. “Justru saya ingin meminta maaf kepada Mbak Zulfin dan Mas Dlori, juga anak-anak.”
“Gampang sekali berkata begitu?” Zulfin memekik. “Ibukmu memang salah. Dialah yang harus datang kepadaku, dan menyembah kedua kakiku.”
Perih hati Muniri mendengar ucapan Zulfin. Tetapi Muniri tidak ingin terjebak dalam rangkaian kata-kata itu. “Mas Dlori di mana, Mbak?” dia bertanya.
“Di sawah!” jawab Zulfin sembari berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah sembari membanting pintu.
Muniri mendesah.
Muniri menghela nafas.
Muniri pun melangkah ke sawah, mencari Dlori.
***

Dlori sedang duduk bersama beberapa orang di pematang sawahnya. Orang-orang itu adalah para pekerja yang dimintanya untuk mempersiapkan lahan sawah demi bisa ditanam padi. Kepintarannya dalam bertani membuat Dlori tak lagi menanam melon di sawahnya itu, sementara hampir semua sawah milik para tetangga saat ini rame-rame mulai ditanami bibit-bibit melon. Prinsip ekonomi yang diketahuinya berdasarkan pengalaman sebagai petani dan bukan berdasarkan buku-buku: Tanamlah dengan sesuatu di saat banyak orang belum menanamnya, dan jangan menanam sesuatu yang sama di saat semua orang melakukannya. Harga bisa anjlok seketika bila semua orang menanam melon seperti ini. Dlori tidak memilih menanam melon, tetapi mau menanam padi kembali. Ketika dia tengah berbincang dengan para pekerjanya itulah Muniri datang mendekat.
Dlori melihatnya.
Para pekerja pun melihatnya.
Dan, para pekerja itu seumpama paranormal yang sanggup meramalkan apa yang bakal terjadi, mereka memilih untuk segera turun ke sawah kembali.
Dlori diam menunggu.
Muniri mengucapkan salam.
Dlori membalas salam itu.
Untuk beberapa detik, Dlori sempat dibuat terkejut dengan keramahan dan ketulusan yang terpancar dari ucapan salam anak dari “musuh” istrinya itu.
Mereka pun berbasa-basi sebentar, seakan-akan tidak pernah terjadi masalah antar dua keluarga itu. Muniri bersitanya jawab dengan Dlori soal sawah, ladang, padi, musim hujan, musim kemarau, banjir di Jakarta, kemacetan, dan lain sebagainya. Kadang dia tertawa lepas, dan disambut dengan tawa yang kikuk oleh Dlori. Kadang mereka saling diam, membuat terdengar dengan jelas suara kecipak air dan bunyi ayunan cangkul para pekerja itu. Dan…diam-diam, para pekerja itu menguping pembicaraan dua orang itu. Tangan mereka memang mengayun-ayunkan cangkul, punggung mereka membungkuk-bungkuk, tetapi kedua telinga mereka pasang lekat-lekat untuk mendengar pembicaraan Dlori dan Muniri!
Sampailah Muniri pada inti kedatangannya.
Dlori diam mendengarkan, dengan seksama.
“Mas, saya tidak ingin menutup-nutupi lagi soal ibuk dan Mbak Zulfin. Saya datang kepadamu bukan untuk memperpanjang masalah itu, mas. Saya ingi memohon kerelaaan hatimu—dan juga Mbak Zulfin—untuk memberi maaf kepada ibuk. Atas nama seorang muslim, sebagai pribadi dan anak Bu Wuryani, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya sadar ibuk khilaf. Banyak kata-kata ibuk yang, pasti, menusuk hati dan perasaan Mbak Zulfin.” Muniri diam sejenak, menghela nafas, menatap kejauhan. Lalu melanjutkan, “saya akan terus berusaha memberi pengertian kepada ibuk tentang kekhilafan ibuk ini. Saya mohon kesabaranmu untuk memberi waktu pada saya agar masalah antara ibuk dan Mbak tidak berlarut-larut. Saya sedih melihat ibuk seperti itu. Saya pun pedih mendengar ibuk ditampar Mbak Zulfin. Tetapi tamparan itu, mungkin, terjadi karena Mbak Zulfin sudah tidak sanggup lagi menahan amarah. Demi Allah, saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Maafkanlah saya, mas. Maafkanlah ibuk saya. Maafkanlah bapak saya juga.”
Dlori memejamkan mata, meresapi kalimat-kalimat yang diucapkan Muniri. Benarkah apa yang dikatakannya ini? Hatinya bertanya. Benarkah ia tulus meminta maaf seperti ini? Atau, adakah dia memiliki maksud-maksud tersembunyi di balik kefasihan lidahnya berkata-kata?
“Ibu telah mendapatkan ‘hukuman’ berupa tamparan itu, mas,” Muniri menambahkan, memperjelas, “mungkin saat ini ibuk memang masih belum bisa menerima hal itu. Tetapi Mas Dlori tentu tahu bahwa orang itu bisa berubah. Dan seiring perubahan waktu, saya sangat berharap ibuk bisa menjadi lebih baik. Saya akan selalu berdoa untuk itu, mas. Saya pun akan berdoa untuk kebaikan hati Mbak Zulfin, juga Mas Dlori.”
Akhirnya Dlori mengangguk-angguk.
Mengangguk sepenuh sungguh.
Mereka bersalaman kembali.
Disaksikan para pekerja itu, juga bentangan sawah, kecipak air di parit, langit yang membentang tinggi, jajaran bukit Siwalan yang anggun dan menawan hati, malaikat-malaikat suci, dan Pemilik yang hidup dan yang mati, terciptalah perdamaian antara Muniri dan Dlori. Dlori sama sekali tak meragukan ketulusan dari semua yang dikatakan Muniri. Hatinya, menerima hati Muniri.
***

Heran. Itulah kesan Dlori tentang Muniri. “Anak” itu dibanding orang tuanya, Wuryani dan Muhaya, laksana jauh panggang daripada api. Berbeda. Sangat berbeda. Seperti langit dengan bumi. Tetapi, oh, tidak: Seperti langit dengan sumur—saking jauhnya. Muniri langitnya, Muhaya dan Wuryani sumurnya. Perkataannya halus. Sikapnya sopan. Senyumnya tulus. Tak ada kesan di wajahnya bahwa ia suka marah-marah, emosional, suka membentak, apalagi mencaci-bui. Ketika tadi kutatap bola matanya, mata itu bagai telaga teduh dan menghanyutkan. Bola matanya itu tampak basah. Secara jujur ia mengakui kekhilafan ibunya, juga bapaknya. Ia jujur bahwa ia juga merasa sakit akibat tamparan istriku, namun hal itu dikatakannya tanpa bermaksud menyakiti Zulfin dan hatiku.
Hmm…
Dlori mendesah.
Terbayang jelas di pelupuk matanya bagaimana sikap dan perkataan kedua orang tua Muniri selama ini yang angkuh. Yang sombong. Yang suka membangga-banggakan. Yang suka merendahkan. Yang suka menghina. Yang suka melecehkan. Dia melakukan hal itu karena memiliki anak seperti Muniri itu. Akan tetapi, ternyata ia yang dibanggakan, ia yang diangkuhkan, ia yang disombongkan, ia yang kepadanya dan karenanya membuat kedua orang tuanya memandang hina, melecehkan, dan merendahkan orang lain, namun ia tidak seperti kedua orang tuanya.
Di dunia ini, aku mengenal orang-orang tua yang suka membangga-banggakan anaknya karena kesuksesan dan kekayaan anaknya itu, hal mana justru semakin membuat si anak menjadi besar kepala, angkuh, dan sombong. Tetapi Muniri sepertinya tidak seperti itu. Muniri berbeda. Muniri lain. Ada kesan bahwa ia justru tak suka dan benci bila dibangga-banggakan, disombong-sombongkan, atau diangkuh-angkuhkan orang tuanya.
Hmmm…
Muncullah perasaan bersalah pada diri Dlori kepada Muniri. Selama ini, ia mengira dan menganggap Muniri tak ubahnya seperti kedua orang tuanya itu karena menganggap setiap anak adalah cermin daripada orang tuanya. Hal itu demikian sebab mengalir dalam diri anak darah dari orang tuanya; sifat-sifat orang tua menurun kepada anaknya itu bersama aliran darahnya. Tetapi kenapa Muniri tidak seperti itu?
Benarkah ia tulus?
Benarkah ia jujur?
Ah, semoga saja dia memang seperti itu. Semoga sifatnya itu bisa dirasakan oleh nurani kedua orang tuanya. Oh, Mbok Wuryani, sekiranya kau ingin membangga-banggakan anakmu, seharusnya kau banggakan ketulusan dan kejujuran anakmu, bukan kekayaan dan kesuksesan hidupnya itu. Ketahuilah, dunia itu sementara dan tidak kekal. Harta benda bisa hilang dan musnah. Hari ini kau kaya, namun bisa terjadi kau akan menjadi miskin.
Dlori bangkit dari pematang itu. Setelah memberi saran ini dan itu kepada para pekerjanya, ia segera melangkahkan kaki, pulang ke rumah. Ia akan mengabarkan hasil pertemuannya dengan Muniri tadi kepada istrinya yang tercinta.
Sementara itu, Muniri sudah sampai di rumah. Zaenab menceritakan kepadanya tentang insiden yang terjadi antara ibu dan adiknya. Muniri menyayangkan terjadinya hal itu. Usman harus lebih sabar. Usman harus mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, tetapi mengalah untuk menang. Usman harus belajar bagaimana cara menghadapi ibunya yang emosional, pemarah, gampang naik darah. Jangan sampai terjadi sang ibu justru semakin merasa sakit hatinya oleh sebab ucapan-ucapannya, walau ucapan-ucapannya itu benar. Usman harus tahu itu.
Muniri pun pada akhirnya menemui ibunya yang—sejak pertengkaran dengan Usman—mengurung diri di dalam kamar. Usman sendiri tengah menemani bapaknya ke ladang. Zaenab tengah mempersiapkan makan siang di dapur. Anaknya bermain mobil-mobilan di dekatnya.
Setelah meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar, dan diijinkan, Muniri pun masuk ke dalam kamar ibunya. Di mata sang ibuk, Muniri memang berbeda dengan Usman. Mungkin karena Usman itu anak bungsunya, dan hal ini menjadikan anak itu suka bicara ceplas-ceplos. Muniri menyadari itu, dan karena itu ia memulai pembicaraan dengan ibuknya melalui pintu itu.
Ucapnya, “Buk, Usman itu “masih kecil”. Kalau dia berbicara ceplas-ceplos seperti itu, tidak kulihat pada dirinya kecuali sifat-sifat ibuk sayang. Sebagai bungsu, Usman mungkin sudah merasa dimanja. Jadi ya…, maafkanlah dia, Buk. Maafkanlah dia…”
“Dia telah menyakiti hatiku, Le,” sang ibu berkata.
“Dia tidak bermaksud seperti itu, Buk. Aku tahu. Di Jakarta, aku sudah berusaha mendidiknya sebaik-baiknya. Ibu harus tahu bagaimana kehidupan anak-anak muda di Jakarta itu. Alhamdulillah, Usman tak terpengaruh pergaulan bebas anak-anak muda Jakarta.”
“Nasihatilah adikmu agar tidak melawan orang tuanya.”
“Insyaallah, Buk. Akan aku lakukan. Sekarang ibuk tenangkan diri. Sudah minum obat belum, Buk?”
Bu Wuryani mengangguk. “Istrimu sudah memberikannya untukku. Anak baik. Istrimu itu amat baik. Aku bangga kepadanya.”
“Doakan kami, Buk.”
“Iya. Jadi, apakah kau benar-benar akan pulang sore ini?”
“Iya, Buk. Aku akan pulang. Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu, Buk?”
“Apa…?”
“Ibuk jangan banyak keluar rumah.”
“Kenapa…?”
“Buk, di Siwalan ini kita tidak tahu siapa-siapa tetangga yang mencintai kita. Kita juga tidak tahu pasti, siapa-siapa tetangga yang membela Zulfin dan suaminya. Demi Allah, aku memohonmu, Buk. Jangan sampai terjadi salah paham lagi. Aku akan sedih bila ibuk disakiti lagi. Hatiku tak akan tenang. Tentu hal ini akan berpengaruh pada pekerjaan dan kehidupanku di Jakarta. Buk, aku mohon. Kalau memang tidak ada keperluan-keperluan yang penting, lebih baik ibuk lebih banyak di rumah saja. Supaya aku bisa tenang di Jakarta, dan supaya lebih mudah bagiku untuk menasihati Usman agar tidak melawan orang tua. Aku mohon ya, Buk?”
Berkata begitu, Muniri menggigit bibirnya. Bola matanya basah. Hatinya bertarung melawan hatinya sendiri. Bahasanya sederhana, lembut, dan halus. Apa yang disampaikannya itu sesungguhnya adalah “nasihat” teruntuk ibuknya, tetapi terkesan “tanpa menasihati”. Ucapannya adalah ucapan seorang guru, tetapi tak terkesan menggurui.
Sungguh, apa yang datang dari hati akan sampai ke hati pula walau ketahanan di dalam hati tergantung pada hati masing-masing. Muniri memeluk ibunya. Sang ibuk pun merengkuh dalam pelukannya.
“Aku masih berat sebenarnya untuk melepasmu pulang ke Jakarta, le. Aku masih kangen. Aku masih ingin kau tinggal beberapa hari lagi.”
Muniri tersenyum. Dengan lembut ia hapus titik-titik air mata sang ibuk yang jatuh di pipi. Ujarnya, “Insyaallah, aku akan sering pulang menengok ibuk—dan bapak.”
“Ya sudah kalau begitu. Bapakmu telah menyiapkan beras untukmu. Di Jakarta, harga beras pasti mahal. Aku juga telah membelikanmu ikan asin kesukaanmu. Kuajari Zaenab cara memasak ikan asin kesukaanmu itu. Cucuku suka pisang ambon kan? Jangan terlalu keras bekerja, le. Jaga kesehatanmu.”
Muniri mengangguk.
Sekali lagi, ia memeluk ibunya.
***

Dan waktu pun terus berjalan…
Anak tercinta, anak tersayang, harus kembali ke Jakarta. Muhaya melepas anak-anaknya itu dengan sedih. Dan air mata Wuryani kembali berderai-derai. Usman meminta maaf kembali kepada ibuk dan bapaknya—keduanya pun mengangguk-angguk seakan telah lupa insiden pertengkaran tadi pagi menjelang siang.
“Hati-hati di jalan, le,” pesan Wuryani.
“Jangan ngebut!” pesan Muhaya.
“Ingat pesanku, Buk,” Muniri mengingatkan.
“Iya,” jawab Wuryani.
“Pak, jangan lupa sholat,” Usman berpesan.
“Pasti. Mosok bapakkmu lupa,” jawab Muhaya.
Meluncurlah mobil espass metalik itu.
Dan sekarang, sulit menggambarkan perasaan masing-masing dari perpisahan itu…

← Kembali ke Daftar Bab