Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Alkisah, satu bulan setelah Muniri dan keluarga serta adiknya pulang kembali ke Jakarta, ialah kurang lebih sebelas bulan umur anak keempat pasangan Dlori dan Zulfin dan telah memperlihatkan kemampuan untuk bisa berjalan setelah tengkurap dan mbrangkang, di desa Seworan diadakan acara yang sudah lama tak diadakan. Dulu, acara ini diadakan setiap satu tahun sekali. Namanya “Dekahan Desa”. Ini adalah suatu upara yang diadakan oleh aparatur desa beserta segenap masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Terkasih atas panen yang melimpah yang diberikan-Nya. Hasil tanaman padi yang melimpah, kacang-kacangan, jagung, singkong, sayur-mayur, juga hasil-hasil bumi lain adalah rejeki yang telah diberikan-Nya kepada warga, dan karena itu warga patut mengadakan “dekahan desa”.
Rumah joglo kepala desa menjadi pusat dari upara ini. Rasa syukur warga diungkapkan dalam berbagai bentuk, misalnya khitanan massal, pengajian akbar, hingga diadakan tanggapan Wayang Kulit semalam suntuk. Seorang dalang terkenal dari wilayah Jawa Tengah, saat ini, terpilih untuk menjadi dalang dalam pertunjukkan wayang ini. Ki Anom akan mentas nanti malam. Kabarnya ia akan membawakan lakon “Petruk Mbangun Kahyangan”. Sedang, pada siang harinya, pentas wayang kulit dengan lakon “Wahyu Buutoromo” dibawakan oleh dalang lokal, Ki Paimin Sosronegoro.
Inilah saatnya berkah bagi segenap warga. Para penjual dadakan bermunculan di jalan-jalan utama desa. Masyarakat berbondong-bondong darimana-mana, tak hanya berasal dari desa Seworan saja, melainkan juga dari desa-desa lain semisal Bolo, Ketoyan, Gagatan, Karangasem, Barukan, Karangjati, bahkan Banyusri yang letaknya sangat jauh di sana. Tentu pula, tak akan ketinggalan, warga desa Siwalan juga berduyun-duyun untuk menyaksikan pagelaran ini. Kumasi, Muh. Tohar, dan lain pun tak ketinggalan datang untuk menikmati.
Memang, pertunjukan wayang kulit di siang hingga sore hari tak semeriah diadakan di nanti malam. Saat ini, pendopo kepala desa—tempat digelarnya pertunjukkan—telah disesaki para tamu undangan. Anak-anak kecil berlarian ke sana ke mari, jajan ini atau itu, ada juga yang menangis-nangis merengek-rengek meminta ibu atau ayahnya untuk membelikan ini atau itu. Kacang rebus, jagung bakar, jagung rebus, mie rebus, adalah contoh-contoh dagangan yang laris-manis, selain juga es buah dan es lilin.
Semakin sore, orang-orang semakin berduyun-duyun. Selepas isya’, jalan utama di depan rumah kepala desa sudah sesak dan penuh. Kau akan kesulitan melewati jalan itu di saat-saat seperti ini. Orang-orang yang sudah tua, sepuh, laki dan perempuan, sepertinya mereka tahu dan sadar tidak bisa andil dalam desakan-desakan—mereka memilih duduk-duduk di kursi dan bangku di berbagai sudut yang agak jauh. Kursi-kursi dan bangku itu memang sudah disediakan panitia, mengantisipasi membludaknya para pengunjung. Bagi para orang tua sepuh itu, lelaki maupun perempuan, pengunjung yang membanjir di depannya itu—tua maupun muda, laki-laki ataupun perempuan, sendiri-sendiri atau berkeluarga atau dengan pacar masing-masing—tak terlalu menarik. Atau mungkin “sudah bosan”: Dulu kami juga seperti kalian!
Bagi mereka, datang ke sini dan duduk-duduk di tempatnya masing-masing ini semata-mata ingin mendengarkan lakon yang dibawakan sang dalang. Dan ini yang penting. Sangat penting! Bahwa mereka tak bisa melihat secara langsung jejer-nya para wayang, mana kelompok Kurawa dan mana perwujudan dari Pandawa Lima, itu tidak terlalu disayangkan. Rata-rata, tanpa melihat wayang kulitnya, mereka akan hafal siapa yang sedang berbincang dan berhadap-hadapan di atas pagelaran. Mereka hafal hanya dengan mendengar suara sang dalang membawakan masing-masing tokoh. Tetapi karena hal itu pula, mereka akan merasa kesal terhadap seorang dalang yang tidak bisa membedakan suara Arjuna dari Nakulo, misalnya, atau Sengkuni dari Pendeta Durno. Tak heran bila tadi siang para orang tua sepuh itu tak datang ke sini, sebab mereka “tidak cocok” dengan permainan Ki Paimin Sosronegoro. Menurut mereka, dalang lokal ini masih harus belajar dengan keras agar suaranya bisa berubah-rubah seperti tokoh yang dimainkannya.
Berbeda dengan Ki Anom. Dalang yang satu ini, menurut mereka, masih “taat” pada pakem. Pembawaannya bagus. Suara-suara tokoh-tokohnya juga mudah dibedakan dan dikenali. Terlebih, saat ini Ki Anom tengah membawakan lakon Petruk—suatu karakter lucu, ceplas-ceplos, berani, nekat, tetapi seringkali mencerminkan kebenaran. Para orang tua sepuh itu pun selalu memasang telinga, menikmati setiap babak demi babak, adegan demi adegan. Mereka tak peduli terhadap orang lain. Tak peduli pula terhadap beberapa bandar judi yang menggelar perjudiannya berjejer-jejer di kanan dan kirinya. Biarlah, ujar mereka. Itu urusan masing-masing.
Buin malam, suasana buin seru. Para penonton duduk dengan khidmat. Di jalan-jalan menuju tempat pagelaran, masih juga tampak orang berbondong-bondong datang. Mereka memang tak bisa mengikuti pertunjukan dari awal mula. Mereka tidak bisa menyaksikan jejer-nya Gunungan—tanda dimulainya lakon. Mereka pun hanya mendengar sayup-sayup suara dalang yang timbul-tenggelam dihembus angin ketika Dursosono, adik dari Duryudono, sedang mendebat Patih Sengkuni tentang rencana licik dan jahat sang patih terhadap keluarga Pandawa. Sepertinya mereka tidak peduli itu. Yang mereka pedulikan, sebentar lagi Gunungan akan segera diangkat kembali oleh Ki Anom. Mereka hanya peduli pada satu babak: GORO-GORO.
Goro-goro amenangi jaman owah// den arani Kolo Babrah// lakune si Wewe Gidrah//Sasmitone jaman wis bubrah//koyo bali nyang jahiliyah/#/ Akeh wong sungkan ngibadah//kumrembyah kakehan cacah//ta betah ngampah hanjarah rayah//buaryo wegah ning golek opah//lumuh ngalah dadi wong srakah//amal jariyah wis ora diarah// obah polah kudu mamah//ora mesakke wong lagi susah. ..
Dalang Ki Anom memang sulit tertandingi. Suaranya menggegelar. NJEGLENG. Mantab. Menarik. Memikat. Mendengar Ki Anom sudah memulai babak “Goro-Goro” itu, mereka semakin mempercepat langkah, tak mau ketinggalan adegan demi adegan. Mereka tahu, saat goro-goro adalah saat yang menghibur, saat yang lucu, saat yang menggigit. Saat di mana Ki Lurah Semar akan segera gojegan dengan ketiga anaknya: Gareng, Pretruk, dan Bagong. Saat di mana rahasia-rahasia hidup, kemajuan dan kemunduran, pertikaian dan peperangan, jiwa dan nafsu, kebaikan melawan keburukan, kebenaran melawan kejahatan, dicelotehkan oleh Ki Lurah Semar dan anak-anaknya dengan cara sederhana, lucu, menghibur, dan memikat hati. Terkadang menusuk, terkadang menggigit. Terkadang hambar.
Ketika mereka sudah berada di dekat tempat pagelaran di mana suara Ki Anom lantang dan keras terdengar, mereka langsung memasang telinga masing-masing seraya mencari tempat duduk masing-masing, mendengarkan sang dalang melanjutkan narasinya:
Wong dodolan wis ora laris//ati nggrantes batine nangis//mergo dagangane soyo suwe soyo nipis//saben grimis ngeyup neng tritis//ora bathi malah mringis//entek ora kalahe ngladen wong ngemis//sing mung modhal tape sak iris.
Ana maneh slogane wong wasis//gawe giris ra uwis-uwis// kareben miris njur ngengis-engis//ketoke alus nanging wengis//wong pangkat lan sugih diaku waris//lambene tipis tembunge manis//ora isa mbedakke kharam lan najis//nggolekake gaweyan nanging mung lamis// entuk ngapusi rasane esis//banjur lumaris lonjong mimis…
Tempik sorak terdengar membahana, dari sini dan dari sana, di depan maupun di belakang, di kiri dan kanan, di sini dan di sana. Di mana-mana. Suit-suitan susul-menyusul. Suara Ki Anom yang mantab, narasi yang memikat, serta tekanan-tekanan tertentu di setiap akhir kalimat, membuat semua pengunjung seakan tersirep ke dalam pagelaran dan suasana menjadi lebih nikmat.
Berbagai-bagai orang mengangguk-angguk.
Orang-orang lain tersenyum-senyum.
Yang tidak paham isi narasi bertepuk-tangan.
Dan mungkin hanya sedikit saja dari para pengunjung itu yang berusaha menangkap buna dan hakikat. Walau narasi itu terkesan lucu dan memikat, tetapi sesungguhnya isinya sangat dalam sekaligus menghujat. Menghujat keburukan sebagai keburukan; keburukan yang ditampilkan sebagai kebaikan. Dunia sudah jungkir-balik. Harta-benda dikejar-kejar. Nafsu diunggul-unggulkan. Sang dalam tengah mengingatkan kita agar kita berhati-hati. Seuntung-untungnya orang yang untung adalah dia yang selalu berhati-hati dan waspada. Jangan terjebak nafsu dunia. Jangan meributkan harta-benda. Jangan merasa unggul terhadap orang lain. Jangan mengundang bencana ke dalam hidupmu sendiri.
Sungguh tepat narasi itu, pikir beberapa orang.
Seorang warga dari Siwalan kepada tetangganya yang duduk di sebelahnya bergumam, “Harusnya Wuryani dan Zulfin mendengar apa-kata-Ki Anom!”
Si tetangga menyahut, “Betul, Pakde. Harusnya mereka malu pada ki dalang.”
“Loh kok malah malu sama ki dalang—piye to?”
“Hehe, maksudku, harusnya mereka sadar. Ini jaman goro-goro. Jaman sing kudune kito eling lan waspodo. Ojo nganti nuruti nepsu. Nepsu serakah koyo wedus lan asu!”
“Ora sah nggowo-nggowo wedus lan asu to, dik. Ndak baik itu…”
“Ssst…pakde sudah dengar kabar belum?”
“Kabar apa, dik?”
“Muniri, anaknya Mbok Wuryani, waktu itu mendatangi Dlori. Dia meminta maaf atas kesalahan Mbok Wuryani. Dia mengakui kalau Mbok Wuryani yang salah. Zulfin benar.”
“Mosok to, dik?”
“Ho-oh, Pakde. Kang Bandi yang cerita. Dia dengar sendiri di sawah Dlori. Muniri menemui Dlori di sawahnya itu.”
“Terus, tanggapan Dlori gimana?”
“Dia diam saja, katanya. Saat Muniri pergi, Dlori tersenyum-senyum. Sepertinya puas dia.”
“Zulfin sendiri?”
“Aku ndak tahu, Pakde. Tetapi, kalau Dlori menyampaikan hal itu pada istrinya itu, aku yakin Zulfin akan besar kepala.”
“Berarti Mbok Wuryani sudah sadar kalau gitu…”
“Sadar gimana maksudmu, Pakde?”
“Lha itu buktinya, anaknya menemui Dlori untuk meminta maaf.”
“Ya kalau skenarionya seperti itu, Pakde. Ini jaman goro-goro, Pakde. Jangan lupa. Siapa tahu Muniri diam-diam menemui Dlori tanpa sepengetahuan Mbok Wuryani.”
“Wah, wah, bakale seru lan rame iki?”
“Iyo, Pakde. Jaman goro-goro…”
“Ssstt…, mending kita dengarkan Ki Anom saja.”
“Okelah, Pakde. Sipp!!”
***
Besar kepala…
Itulah kesimpulannya.
Lebih tepatnya, seperti itulah yang ada di benak orang itu. Juga di benak beberapa warga Siwalan yang lain. Dlori memang telah menceritakan pertemuannya dengan Muniri kepada istrinya. Dan dugaan dan kesimpulan sebagian orang itu pun benar adanya. Besar kepala!
Kepala besar…
Angkuh.
Sombong.
Bangga.
Ujub.
Pamer.
Zulfin sudah tak sabar hendak mengatakan kepada orang-orang tentang permintaan maaf Muniri atas kedua orang tuanya. Muniri, dengan mulutnya sendiri, telah bilang bahwa ibunya yang salah. Bapaknya juga keliru. Ibu dan bapaknya berada pada pihak yang sesat. Zulfin memang, selama ini, merasa tak pernah bersalah. Tak pernah membuat ulah dan mencari perkara pada Wuryani. Hanya saja, selama ini tak ada yang mengakui kebenaran ini. Perlu orang lain untuk mengakui. Dan pengakuan Muniri adalah sangat penting. Penting sekali, di hadapan warga Siwalan semuanya.
Zulfin tertawa bangga.
Tersenyum puas.
Bola matanya memandang kejauhan, lalu senyumnya semakin mengembang. Di kejauhan itu, dia melihat Wuryani menangis-nangis menyesali diri. Wuryani dihukum Tuhan untuk merasa malu sendiri.
Tetapi Zulfin harus merasa lebih sabar dulu. Ada saatnya dia akan berkata-kata tentang permintaan maaf Muniri itu. Konsentrasi Zulfin saat ini masih terus tertuju pada kesehatan Musa.
Ya, Musa.
Anak keempatnya.
Sudah berhari-hari Musa suka menangis. Badannya seringkali panas. Tidurnya tak bisa lelap. Entah kenapa. Lik Soyi sudah berusaha mengobatinya dengan berbagai ramuan. Tetapi tak manjur. Bidan desa juga sudah dipanggil. Tetapi juga tidak ada perubahan. Zulfin bingung.
Zulfin cemas.
Zulfin takut.
Zulfin menjadi gampang naik pitam, terutama ketika tengah berusaha menenangkan Musa, anak-anaknya yang lain ikut-ikutan rewel. Begitu malam ini ada pertunjukan wayang kulit di Seworan, tangis Musa justru menjadi-jadi. Padahal, suaminya tercinta, suaminya terkasih, sudah bersiap-siap untuk berangkat melihat pertunjukkan—seperti yang lain.
“Dalangnya Ki Anom, Bu,” Dlori berkata, hatinya sudah tak sabar mengajak kedua kakinya keluar rumah, “Masak aku tak boleh melihat wayang.”
“Anakmu lebih penting daripada wayang, mas!” seru Zulfin. “Bukannya berusaha menghentikan tangisannya, malah mau ngelayap nonton wayang.”
“Bu, kita tidak selalu bisa menyaksikan Ki Anom manggung, Bu. Tolonglah. Nanti juga tangis Musa berhenti sendiri. Itu sudah biasa, Bu. Musa paling lagi ndak enak badan. Sudah diberi minyak kayu putih to?”
“Pak!” Zulfin menjerit.
Harun masuk ke dalam kamar ibu dan adiknya itu. Anak sulung ini belum tidur rupanya. Ia juga ingin melihat wayang kulit. Teman-temannya tadi siang juga bilang begitu, ingin menonton wayang bersama orang tuanya. Harun mendengar bapaknya ingin melihat wayang, karena itu Harun berucap, “Pak, ikut.”
“Ikat-ikut-ikat-ikut!” Zulfin menjerit. “Sudah, tidak sana. Sudah malam begini mau ikut nonton. Tidur!”
“Pak…,” bola mata Harun menatap sang bapak. Mengiba.
Dlori mendesah.
Dlori bingung.
Serba salah.
Bunyi gamelan itu memang terdengar cukup jelas hingga ke sini, seakan-akan bunyi itu berbunyi, “Mas Dlori, sayang. Segera datanglah. Lihat Petruk sedang mengumpat Sengkuni!”
Tangisan Musa mereda.
Aisyah tiba-tiba masuk ke dalam kamar, berdiri sebelah-menyebelah dengan kakaknya. Aisyah memegangi lengan kakaknya. Bola matanya menabrak bola mata kakaknya, seakan berkata pula, “Aku juga mau ikut nonton Petruk, mas.”
Hening.
Yang terdengar hanya desahan nafas Dlori. Zulfin sendiri berusaha untuk menidurkan Musa lagi. Isyarat tangannya menyuruh Harun dan Aisyah untuk kembali ke kamarnya lagi. Begitu melihat suaminya hendak keluar dari kamar, Zulfin berkata, “Mau ke mana?”
“Ndak ke mana-mana,” Dlori menjawab. “Keluar aja, cari angin.”
“Awas kalau sampai nonton wayang!”
“Ndak-ndak…”
Pintu ditutup pelan.
Di ruang tengah, Dlori berkata lirih kepada kedua anaknya, “Ssst…, apakah kalian mau melihat wayang?”
“Iya, iya. Mau…!” seru Harun.
“Ssst…, jangan keras-keras. Nanti didengar ibumu.”
“Aku ikut,” Aisyah merajuk.
“Iya, ayo kita berangkat. Tapi ndak usah lama-lama ya? Kita nonton sebentar. Jangan sampai ibu tahu.”
Mereka mengangguk.
Mereka keluar rumah.
Pelan-pelan.
Aisyah digendong di punggung bapaknya. Dlori menuntun Harun. Mereka bersicepat menuju Seworan.
***
Aisyah terlelap di pangkuan bapaknya setelah kekenyangan makan bakso. Harun duduk terkantuk-kantuk. Terkadang, Harun mau roboh tak kuat menyangga kepalanya. Melihat hal itu, Dlori mengapit lehernya dengan lengannya. Tak berapa lama kemudian, Harus terlelap dalam tidurnya.
Di atas panggung pertunjukkan, seorang sinden sedang menyanyikan lagu atas permintaan pak camat. “Caping Gunung”—itulah judul lagu itu. Suara sang sinden melengking-lengking mendayu-dayu. Ki Anom melalui mulut Bagong terkadang mencandai sang sinden dengan candanya yang membuat para penonton bertempik sorak tersenyum dan tertawa. Sinden, Bagong, Petruk, dan Gareng memang merupakan perpaduan yang menghanyutkan, melarutkan. Banyak para penonton, khususnya yang tua-tua, larut dan hanyut dalam gojegan. Asap rokok mengepul-kepul di mana-mana. Penonton yang muda-muda tampak mulai beringsut-ingsut meninggalkan tempat duduk. Yang anak-anak sudah banyak yang tertidur di pangkuan ibu atau bapaknya masing-masing seakan terbuai oleh alunan gending dan suara sinden serta ocehan Petruk.
Waktu terus saja bergerak maju. Di langit, bulan purnama telah miring ke barat dan hampir jatuh ke peraduan. Bintang-gemintang memang masing berkerlap-kerlip. Di sungai serang, beberapa anak muda yang tampaknya tak tertarik dengan pertunjukan wayang kulit itu tak bisa memajamkan mata. Mereka berjumlah empat orang. Mereka tiduran di atas pasir halus di antara bebatuan besar. Mereka ngobrol seraya gelisah. Mereka khawatir terhadap apa yang dikatakan para orang tua: Di malam pertunjukan wayang seperti ini, ikan-ikan akan malas bergerak masuk ke perangkap yang dipasang. Bunyi kecipak air kali Serang, memang, terdengar mesra di telinga. Ikan-ikan seakan-akan tengah menyusur kali, dan terperangkap ke telik-telik yang mereka pasang. Suara sinden timbul tenggelam dibawa angin, menabrak bunyi kecipak air. Di saat yang demikian itulah tiba-tiba mereka mendengar sebuah suara.
Sebuah pengumuman.
Pengumuman dari speaker.
Di waktu menjelang pagi ini.
“Arahnya darimana?” seseorang bertanya.
“Sepertinya bukan dari desa kita, Man.”
“Ssst…, kita dengarkan dulu pengumumannya.”
Dan beginilah bunyinya:
Innalillahi wa inna ilyahi raa’jiun.
Diberitahukan kepada warga desa Siwalan dan sekitarnya. Bahwasanya, tadi, tepat pukul 02.50 WIB, telah meninggal dunia dengan tenang, Musa bin Dlori Ahmad, RT 002 RW 003. semoga arwahnya diterima di sisi Allah dengan sebaik-baiknya.
Pengumuman itu diulang dua kali.
Membuat para pemuda itu saling pandang. Dlori? Anaknya Dlori? Dlori Ahmad?
“Penyewa sawah Lik Syam itu?” seseorang bertanya.
“Iya, kali. Yang menyewa ladang punya Mas Muji juga kan?” yang lain menambahkan.
“Innalillah wa inna ilayhi raaji’un…” hampir berbarengan.
“Terus kita gimana?”
“Gimana—gimana maksudmu?”
“Melayat tidak?”
“Malam-malam begini?”
“Ini kan udah pagi, bukan malam?”
“Itu kan di Siwalan, bukan di Seworan.”
“Ah, peduli amat.”
“Katanya kalau ada orang yang meninggal, ikan-ikan akan banyak. Benar nggak sih?”
“Katanya sih begitu…”
“Tetapi kan ada pertunjukkan wayang—katanya kalau ada pertunjukkan wayang, ikan-ikan pada lari.”
“Katanya juga begitu.”
“Jadi yang benar yang mana?”
“Yang benar: Ikannya pada stress. Bingung.”
“Hahaha…”
Dan di seputar arena pertunjukkan wayang kulit, kehebohan pun mulai terjadi. Orang yang kebetulan duduk di sebelah paling barat menangkap suara pengumuman itu. Beberapa orang lain pun demikian. Dan beberapa saat kemudian, telah menyebar berita kematian Musa bin Dlori Ahmad itu. Satu per satu, warga Siwalan pun meninggalkan tempat itu. Tetapi pertunjukkan wayang kulit justru semakin seru. Adegan goro-goro sudah sudah selesai. Gunungan sudah digerak-gerakkan kembali. Saatnya adegan peperangan. Pandawa melawan Kurawa. Yang haq melawan yang batil.
Dan entah sejak kapan, Dlori duduk menundukkan kepala. Telah sekian lama dia tertidur di tempatnya. Aisyah semakin pulas tidur di pangkuannya. Begitu pula Harun, terkulai di lengan kanannya.
“Mas Dlori, Mas Dlori,” seseorang membangunkannya.
Dlori tergeragap.
“Mas, anakmu meninggal, mas. Musa meninggal…!”
Dlori semakin tergeragap.
Ketika kesadarannya pulih benar, Dlori tak percaya. Wajahnya berubah pucat. Mulutnya bertanya, lalu menganga, “Apa kau bilang?”
“Anakmu, mas. Musa meninggal. Kenapa kau masih di sini??”
***