Fibozona
πŸ“– BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

πŸŽ‰ GRATIS - Tanpa Koin

Surat Wuryani kepada Anaknya

πŸ“… 02 July 2026 πŸ“š Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 3 menit baca πŸ“‘ Bab 15

Kepada anak-anakku yang semakin kucinta, sangat kusayang. Rasanya baru kemarin kalian pulang dari rumah orang tuamu ini. Rasanya, wajah kalian masih melekat di wajahku saat ini. Tetapi ternyata sudah sebulan lebih kalian pulang ke rumah kalian masing-masing. Kepada anak-anakku yang lain, yang kemarin tidak sempat pulang, Ibuk menulis surat pada kalian semua. Surat mana yang mewakili perasaan ibu saat ini yang sangat senang, gembira, dan bahagia.
Ketahuilah, anak-anakku…
Mulanya dari pertunjukkan wayang kulit itu…
Desa Seworan yang memang warganya lebih bumur daripada warga desa Siwalan, malam itu mengadakan pertunjukkan wayang kulit dalam acara dekahan desa. Dalang-nya tak tanggung-tanggung, nak. Ki Anom Suroto! Bayangkan saja: Berapa duit yang mesti dikeluarkan untuk mengundang Ki Anom bersama sinden-sinden dan gamelan-gamelan serta nayoga-nya. Itu pasti uang yang sangat banyak. Yang tidak mampu dikeluarkan warga Siwalan seandainya hendak mengadakan pertunjukkan wayang kulit seperti itu. Paling-paling, orang-orang Siwalan hanya bisa ngundang dalang nggak terkenal seperti Paimin itu. Dalang nggak mutu!
Ibuk sendiri tak menonton pentas wayang kulit itu. Tetapi bapak kalian nonton. Katanya memang seru. Seru sekali. Ramai sekali. Tetapi saat itulah, nak, terjadi pemandangan yang memalukanβ€”suatu aib yang pasti akan ditanggung seumur-umur.
Kalian ingat Dlori kan?
Suaminya Zulfin?
Yang menampar pipi ibukmu ini?
Oalah, anak-anakku yang kusayang.
Gusti Allah itu memang adil. Memang top cer. Gusti Allah akan selalu membuka kebenaran itu. Yang salah akan salah. Yang benar akan benar. Yang salah sekarang sudah terbukti nyata. Dan Gusti Allah telah menghukumnya.
Menghukumnya, nak!
Dlori saat itu mengajak Harun dan Aisyah nonton wayang kulit. Padahal Zulfin sudah melarangnya. Musa sakit keras. Tetapi diam-diam, Dlori keluar rumah mengajak kedua anaknya yang lain. Nepsu laki-laki yang satu itu memang tak bisa ia kendalikan. Nonton wayang kulit semalam suntuk ternyata lebih utama daripada keselamatan dan nyawa anaknya! Bukankah itu memalukan, wahai anak-anakku sekalian??
Tetapi itu kabar ndak penting.
Yang penting adalah apa yang terjadi saat ini, sejak kejadian itu. Kini, semua orang tahu dan sadar betapa buruknya Dlori dan Zulfin itu. Mereka yang selama ini memusuhiku, menganggapku berlebihan, tak tahu diri dan tak tahu malu, mereka yang menghujatku habis-habisan, kini mata mereka terbuka. Melek. Sadar. Aku ndak bersalah. Zulfin lah si pembuat masalah. Kalau menuruti perasaan, aku sebenarnya kasihan sama Dlori itu. Kini dia disalah-salahkan warga. Dia dianggap lebih mementingkan tontotan daripada keselamatan anaknya. Orang-orang tidak lagi mendengung-dengungkan kesuksesan jeruk dan melon-nya. Mata mereka sudah terbuka bahwa barangsiapa yang kejam terhadap sesama, mencari keuntungan dengan menzalimi sesama, bua Gusti Allah pasti akan membalasnya.
Anak-anakku, sekalian..
Khususnya engkau, Muniri anakku.
Aku masih ingat pesanmu, nak. Kala itu kau berkata kepada ibuk:

β€œBuk, di Siwalan ini kita tidak tahu siapa-siapa tetangga yang mencintai kita. Kita juga tidak tahu pasti, siapa-siapa tetangga yang membela Zulfin dan suaminya. Demi Allah, aku memohonmu, Buk. Jangan sampai terjadi salah paham lagi. Aku akan sedih bila ibuk disakiti lagi. Hatiku tak akan tenang. Tentu hal ini akan berpengaruh pada pekerjaan dan kehidupanku di Jakarta. Buk, aku mohon. Kalau memang tidak ada keperluan-keperluan yang penting, lebih baik ibuk lebih banyak di rumah saja. Supaya aku bisa tenang di Jakarta, dan supaya lebih mudah bagiku untuk menasihati Usman agar tidak melawan orang tua. Aku mohon ya, Buk?”

Aku ingat itu, nak!
Dan kini, kau akan melihatku sudah jarang keluar rumah. Ibuk tak perlu susah-susah menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya antara ibuk dan Zulfin itu. Kini Gusti Allah sendiri yang menjelaskannya.
Sebagai tetangga, dan warga yang baik, tentu ibuk turut berbela sungkawa atas kematian Musa bin Dlori Ahmad itu. Tetapi ibuk tak bisa membohongi hati ibuk sendiri, bahwa ibuk tersenyum bahagia sebab yang benar pasti tak terkalahkan!
***

← Kembali ke Daftar Bab