Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Surat itu masih panjang bunyinya, tetapi Muniri tidak lagi sanggup menyelesaikannya. Tangannya terkulai lemas, dan surat itu melayang jatuh ke bawah meja. Hatinya dicacah pilu; sedih dan pilu.
Usman meraih surat itu, membaca isinya, membaca hingga baris yang terakhir. Hingga titik. Titik yang terakhir. Lalu terkulai ia. Seperti kakaknya.
Ketika Zaenab masuk ke dalam rumah, menggandeng putri tunggalnya yang cantik dan jelita itu, ia dapati suami dan adik iparnya duduk dan diam. Diam dan duduk. Termangu-mangu. Didapatinya air mata mengalir deras di pipi sang suami tercinta. Zahra, putri kecilnya itu, segera menghambur ke pelukan ayahnya. Zahra ikut menangis, sebab melihat sang ayah menangis. Tangis Zahra tersedu-sedu, seraya memeluk-meluk pinggang ayahnya.
Mata Zaenab menatap sepucuk surat di atas meja. Pasti gara-gara surat itu, pikirnya. Ia pun duduk. Duduk di sebelah Muniri. Ia pun membaca surat itu. Dan ia berhenti membaca di kalimat terakhir yang dibaca suaminya. Entah bagaimana bisa. Seakan-akan hatinya dan hati sang suami terpaut, atau tersambung, atau terhubung. Zaenab tak mampu menyelesaikannya hingga baris terakhir, seperti adik iparnya.
Zaenab mendesah.
“Innalillahi wa inna ilayhi raaji’un,” ucapnya.
Zaenab mengelus wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ucapannya itu—Innalillah itu—ditujukan untuk dua perkara. Pertama, sebagai ucapan atas kematian Musa bin Dlori Ahmad. Menurut surat yang dibacanya itu, umur Musa baru sebelas bulan. Anak yang suci.
Anak yang tak berdosa.
Anak yang tak bersalah.
Anak yang tak akan pernah menanggung dosa dan kesalahan kedua orang tuanya. Anak itu telah dipanggil oleh Yang Maha Memanggil, kembali ke pangkuan-Nya, kembali ke pelukan-Nya. Kematiannya indah. Alam menyambutnya. Dedaunan akan berdendang mengiringi ruh suci yang melesat ke langit menuju ke haribaan-Nya. Musa bin Dlori Ahmad. Oh, betapa bahagianya ia.
Kedua, dia berucap seperti itu untuk kalimat-kalimat yang ditulis ibu mertuanya. Innalilah. Astaghfiruka wa atubu ilaika. Daku memohon ampun kepadamu, duhai Robbku. Daku pun bertaubat kepada-Mu.
Zaenab melipat kertas surat itu. Zahra memandangi wajah ibunya dengan wajah yang basah. Muniri belum bereaksi apa-apa. Usman menyandarkan punggungnya ke kursi—kedua matanya menerawang.
Setelah sekian lama orang-orang itu terdiam dengan pikirannya masing-masing, Muniri berkata (sepertinya terhadap dirinya sendiri), “Apa yang harus kita lakukan untuk ibuk kita?”
Diam.
Zaenab hanya bisa menunduk.
Usman mendesah.
Zahra masing memeluk pinggang ayahnya.
Dan Muniri berkata lagi, “Ibu justru tertawa ketika Musa meninggal dunia. Duh, Gusti…kenapa hati ibuk bisa sejahat ini? Ibuk tidak lagi jahat karena Mbak Zulfin dan keluarganya—ibuk jahat terhadap hatinya sendiri!”
Usman menatap wajah kakaknya. Seberkas ide muncul dalam benaknya. Ia menyondongkan badannya ke depan, ke meja, lalu bertanya kepada sang kakak tercinta, “Mas, apakah aku harus pulang?”
Muniri menjawab sambil memandanginya, “Untuk apa, dik?”
“Untuk memberi peringatan pada ibuk.”
“Menurutmu, apakah cara seperti itu yang terbaik?”
“Tak ada cara lain, mas,” jawab Usman, “Ibuk harus kita peringatkan. Kalau Mas Mun nggak tega, aku tega.”
“Masalahnya tidak sesederhana itu, Us,” ujar sang kakak. Zaenab mendengarkan. Usman juga. Muniri melanjutkan, “Pertama, kita tahu tentang ibuk. Beliau mudah marah, mudah tersinggung. Ibuk seringkali salah tangkap menanggapi perkataan orang. Kalau kita bersikap keras kepada ibuk, itu akan berbahaya bagi diri ibuk sendiri, dik. Terus yang kedua,” Muniri melanjutkan, “seorang anak tidak boleh menasihati orang tuanya, terlebih ibunya. Begitu yang aku baca dari buku yang ditulis Ustadz Quraisy Shihab. Beliau ahli al-Qur’an, dik. Yang berhak memberi nasihat itu orang tua kepada anak, bukan anak kepada orang tua. Kita keliru kalau kita menasihati ibu kita.”
“Tetapi dengan cara apa lagi, mas? Dengan cara bagaimana? Kalau memberi peringatan kepada ibuk dianggap menasihati ibuk dan itu salah di mata agama, lalu dengan cara apa kita akan mengingatkan ibuk, mas?”
“Dengan cara yang santun, dan tanpa melukai hati ibuk,” jawab Muniri.
“Sekarang katakan kepadaku, mas,” bantah Usman, “cara santun dan tanpa melukai itu bagaimana?”
Muniri terdiam.
Muniri berpikir.
Zaenab terus mendengarkan perbincangan suami dan adik iparnya itu.
Melihat sang kakak belum menjawab pertanyaannya, Usman menambahkan, “Mas, aku masih ingat saat Mas meminta ibuk untuk bersabar dan nggak sering keluar rumah. Hatimu lembut, mas. Hatiku tak bisa seperti hatimu. Melalui hatimu, kau coba memberi kesadaran pada ibuk. Kau telah mencoba dengan caramu, mas. Cara halus dan santunmu itu. Tetapi surat ibuk ini, mas!” Usman memberi penekanan pada ucapannya terkemudian ini, “surat ini membuktikan bahwa caramu tak mempan. Hati ibuk yang keras tak bisa mas dekati dengan kelembutan dan kehalusan hatimu. Apa mas mau mengelak?”
Tetapi Muniri menjawab, “Dik, apa kau juga tak ingat sebelum aku mencoba menyadarkan ibuk dengan hatiku? Kau bertengkar dengan ibuk karena ucapan-ucapanmu yang keras dan tegas itu? Kau tahu akibatnya kan? Ibuk nggak mau keluar dari kamar. Ibuk menangis-nangis. Dan ibuk justru salah paham terhadapmu.”
“Lalu kita harus bagaimana, mas? Ketika caraku dan caramu tak mempan di hati ibuk?”
“Ijinkan aku menemui ibuk, mas?” kali ini, yang berkata seperti ini bukan lagi Usman atau Muniri, tetapi Zaenab. “Ijinkan aku bersua ibuk. Aku coba berbicara dengan ibuk?”
Muniri memandang istrinya itu.
Usman juga.
Usman menyahut, tertuju pada Muniri, “Iya, mas. Bila aku dan engkau tak sanggup bisa mengingatkan ibuk, barangkali melalui Mbak Zaenab ibuk akan sadar.”
Muniri mendesah.
Zaenab menunggu.
Usman pun menunggu.
Dan, akhirnya, Muniri menjawab, “Iya, dik. Aku mengijinkanmu. Aku mengijinkanmu.”
“Alhamdulillah,” Usman berucap, lega.
“Tetapi kita harus buat acara tahlilan dulu untuk Musa?”
“Untuk Musa, mas?”
“Iya, untuk Musa. Kita tak bisa datang ta’ziyah ke sana. Kita pun nggak tahu kapan persisnya Musa meninggal. Kita harus undang para tetangga untuk mendoakannya.”
“Nanti aku telpon Kardi, mas,” ujar Usman. “Aku akan tanya, kapan Musa meninggal.”
Muniri mengangguk.
Zaenab bertanya, “Kira-kira kapan kita undang para tetangga, mas?”
“Kita tunggu kabar dari kampung. Atau kalau tidak, malam Jumat besok kita undang para tetangga.”
“Malam Jumat besok ada tahlilan di rumah Haji Su’eb, mas?”
“Ya udah, malam sabtunya saja.”
Zaenab mengangguk.
Si kecil Zahra bertanya, “Ayah, tahlilan itu apa sih?”
Pertanyaan yang keluar dari bibir mungil Zahra membuat ketegangan mencair. Muniri mencium kening putrinya itu, sepenuh kasih, sepenuh cinta. Usman memandangi keponakannya itu, yang sangat menggemaskan. Zaenab membelai-belai rambutnya yang panjang.
“Tahlilan itu,” jawab Muniri, “baca doa kepada Allah, dari surah al-Fatihah hingga ayat kursi. Kamu udah hafal kan ayat kursi?”
“Iya.” Si kecil Zahra menjawab.
“Alhamdulillah….”
“Musa itu siapa?”
“Musa itu putranya Pakde Dlori.”
“Pakde Dlori itu siapa?”
“Pakde Dlori itu tetangga kita di kampung.”
“O.”
***
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari Sabtu legi malam minggu pahing, tiga puluh lima hari kematian Musa bin Dlori Ahmad, Muniri benar-benar mengundang para tetangga di kompleks tempat tinggalnya di bilangan Jakarta Selatan itu untuk mengirin tahlil dan membaca surah Yasin. Kepada hadiran, ia menjelaskan tentang Musa bin Dlori Ahmad. Muniri tak menutup-nutupi bahwa Musa almarhum, atau kedua orang tuanya, tak ada pertalian darah dengan keluarganya. Tetapi Musa memang layak untuk dikirimi bacaan-bacaan doa. Para tetangganya pun tak mempermasalahkan soal itu. Bahkan, di dalam ceramah singkat pengantar tahlil bersama, Haji Su’eb menjelaskan tentang hikmah di balik kematian seorang anak, terlebih anak itu masih balita, belum genap satu tahun.
Acara sukses.
Tetapi tidak demikian dengan hati Muniri.
Sang istri memang telah diijinkannya untuk menjenguk ibuk di kampung, tetapi Muniri tidak terlalu yakin tentang hal itu. Muniri benar-benar bingung dan sedih mencari cara bagaimana menyadarkan sang ibuk. Usman benar, ternyata sarannya yang datang dari hati untuk menyapa hati ibuknya tidak mempan. Usman sendiri dengan caranya yang berbeda, juga tidak mempan.
Lalu harus dengan cara apa?
Jika dari anak kandungnya sendiri ibuk tak bisa diberi masukan, bua apatah lagi dari orang lain, walau itu menantunya sendiri? Menyadari sifat, watak, dan karakter ibunya yang sangat dikenalinya itu, Muniri memang benar-benar tidak yakin sang ibuk akan sadar bila diberi saran atau masukan oleh Zaenab, istrinya.
Lantas harus bagaimana?
Muniri tidak bisa tidur.
Sementara Usman sangat yakin terhadap kakak iparnya.
Muniri pun menjadi gelisah di siang dan malamnya. Pikirannya hanya memikirkan sang ibuk. Pikirannya terus mencari-cari cara yang harus ia tempuh untuk menyadarkan sang ibuk. Muniri menjadi abai memperhatikan dirinya sendiri, juga pekerjaannya.
Zaenab menyadari hal itu. Istri tercinta ini coba terus memberi dorongan untuk sang suami.
“Kalau mas seperti ini terus, mas bisa sakit,” ujarnya. “Mas tak boleh seperti ini. Mas harus segera mengijinkanku untuk menjenguk ibuk.”
Muniri menanggapi, “Di dunia ini, pernahkah kau mendengar seorang ibuk, yang memiliki sifat seperti ibuk, menyadari kekhilafannya setelah diberi saran dan masukan oleh anaknya, dik? Adakah buku yang pernah kau baca tentang hal ini? Adakah kiyai atau ustadz yang pernah kau dengar petuah-petuahnya mengenai masalah ini? Kenapa ini sangat berat bagiku, dik?”
Menjawab Zaenab, “Aku belum pernah mendapatkannya, mas. Tetapi aku takut terhadap pikiranku sendiri tentang hal ini.”
“Apakah yang kau pikirkan? Barangkali itu jalan yang terbaik. Terbaik buat kita, juga terbaik untuk ibuk dan bapak.”
“Maafkan aku jika aku keliru dengan pikiranku.”
“Katakanlah.”
“Almarhum abah pernah bercerita tentang seorang ibuk yang disadarkan anaknya.” Tutur Zaenab, “Kira-kira, ibuk dalam cerita abah itu hampir sama dengan ibuk kita, mas. Dia memiliki seorang anak yang kaya-raya. Anaknya juga berbakti kepadanya. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ke mana-mana, ibuk tersebut selalu membangga-banggakan anaknya itu. Dan anak itu sepertimu, mas. Anak itu tidak senang dibangga-banggakan seperti itu. Tetapi dia juga tidak ingin menyakiti hati ibuknya. Dia berpikir dan terus berpikir bagaimana cara menyadarkan ibuknya. Pada saat yang sama, ibuknya semakin menjadi-jadi. Orang-orang justru semakin tak simpatik dan mengabaikannya. Belum lagi, si ibuk ini dianggap sombong dan angkuh. Lama kelamaan, orang-orang menjauhinya. Ibuk menjadi terkucilkan. Dan itu justru membuatnya tertekan. Dalam keadaan seperti itu, si anak tadi menjadi sakit. Sakit karena pikiran. Sakit karena memikirkan ibuknya. Dan dalam keadaan sakit itu, si anak mendapatkan ide: Ia harus memmakang seluruh kekayaannya, hingga yang dibangga-banggakan ibuknya itu sirna.”
“Bua dimakanglah seluruh kekayaannya,” Zaenab melanjutkan, “ia berikan seluruh harta-benda yang dimilikinya itu pada orang-orang yang membutuhkan. Bua dalam keadaan telanjang kaki, ia pergi ke rumah ibuknya. Bajunya compang-camping. Wajahnya pucat. Keadaannya sangat memprihatinkan. Ia menangis di hadapan ibuknya yang sudah dikucilkan itu.”
‘Buk, lihatlah aku sekarang,’ ujarnya, ‘lihatlah anak yang kau bangga-banggakan selama ini. Tak ada harta-benda lagi yang tersisa dalam hidupku. Harta-bendaku sudah habis. Sudah sirna. Tak ada yang kekal. Patutkah ibuk membangga-banggakan sesuatu yang bisa hilang? Kalau sudah begini, apalagi yang akan ibuk banggakan dari anakmu? Jika ibu mau mibusaku agar aku bisa kaya-raya lagi, lalu dengannya ibuk bisa membangga-banggakan aku lagi, sungguh aku tak mampu lagi melakukannya. Buk, aku mohon, demi Allah Ta’ala, janganlah membangga-banggakan lagi. Lihatlah orang-orang itu, mereka justru mengucilkan ibuk karena ibuk seperti itu. Aku tak mau ibuk dikucilkan seperti ini. Sungguh, orang-orang akan mencintai dan menyayangi ibuk dan mereka akan mengelilingi ibuk dan mendengarkan petuah-petuah ibuk, jika ibuk datangi mereka dengan hati dan cinta, dengan selalu mengharap ridlo dan cinta-Nya.’
“Berkata begitu,” Zaenab melanjutkan, “si anak lagi jatuh pingsan. Dan tak lama setelah itu, Allah SWT memanggilnya. Singkat cerita, ibuk tadi menjadi sadar sesadar-sadarnya.”
Zaenab menghela nafas, memandangi wajah suaminya dengan kasih dan lembut. Ia menggeleng-geleng. Ia hendak menangis. Ia melanjutkan, “Itulah pikiranku yang kutakutkan, mas. Terkadang, seseorang harus benar-benar kehilangan segalanya untuk bisa menyadarkan orang yang dikasihinya. Terkadang, orang bisa menjadi sadar setelah dikucilkan dari masyarakatnya. Dua pilihan yang sangat sulit, dan aku tak mampu memilihnya.”
Tercenung Muniri mendengar kisah Zaenab. Kedua matanya terpejam. Pikirannya melayang-layang. Cerita itu begitu menggoda. Menggoda untuk diikuti. Menggoda untuk ditirunya. Tetapi haruskah ia menjadi anak dalam cerita itu—terhadap ibuknya??
“Ijinkan aku menyampaikan kisah itu di hadapan ibuk, mas?” pinta Zaenab. “Mas telah mencoba. Dik Usman juga telah mencoba. Kini, ijinkan aku untuk mencobanya dengan caraku. Mungkin ibuk melihat mas dan dik Usman sebagai anak laki-lakinya, dan hatinya belum bisa menerima. Barangkali, sebagai anak perempuannya, walau aku hanya seorang menantu, ibu akan tersentuh hatinya.”
Dan kini, Muniri memiliki kemantapan hati. Tanggapnya, “Baiklah, dik. Berangkatlah hari sabtu besok. Insyaallah, nanti aku dan Usman akan menjemputmu. Kalau toh caramu tak berhasil juga, lebih baik kita pikirkan untuk memindahkan ibuk dan bapak agar tinggal bersama kita. Di sini tempat yang asing. Insyaallah, ibuk tak akan bisa sembarangan berkata-kata.”
“Iya, mas.”
“Sekarang mari kita sholat, mohon petunjuk yang sebaik-baiknya kepada Allah SWT.”
“Iya.”
***
Empat hari kemudian, yakni dua hari sebelum Zaenab pergi ke kampung mengemban misinya, datang lagi surat Bu Wuryani. Yang menerima surat itu Zaenab. Muniri dan Usman masih berada di pasar. Surat itu tak sepanjang surat sebelumnya. Hanya setengah halaman. Ditulis dengan pencil, dan tulisan ibuk agak acak-acakan.seperti tulisan orang yang terburu-buru. Zaenab pun segera membaca surat itu:
Dan kepada anak-anakku…
Semakin lama, ibuk semakin sadar betapa Gusti Allah itu memang benar-benar adil. Setelah Zulfin seringkali bertengkar dengan suaminya, selalu menyalah-nyalahkan suaminya oleh sebab kematian Musa, kini Zulfin seperti orang gila.
Ibuk sebenarnya tidak ingin mengabari kalian dengan kabar yang seperti ini. Tetapi beberapa hari yang lalu, Zulfin datang ke rumah melabrak ibu. Dia benar-benar telah gila. Dia menuduh ibu mengobral-obral kata-kata lagi, padahal ibu tidak seperti itu. Para tetangga-lah yang datang ke rumah ibu, mendukung ibu, berbicara kebenaran soal Zulfin, dan ke-kenthir-annya itu. Ee…malah Zulfin menuduh ibu mempengaruhi mereka.
Gila kan?
Tetapi tenang saja, nak.
Ibu ndak apa-apa.
Ibu sudah bisa menghadapi perempuan seperti dia.
Zaenab mengucap istighfar. Berkali-kali. Jiwanya mengatakan kepadanya bahwa kondisi ibu semakin memprihatinkan. Hati ibu mertuanya itu telah bergeser. Tetapi Zaenab berpikir cepat mengenai surat itu. Mas Muniri tidak boleh tahu. Dik Usman pun tak boleh membacanya. Lebih baik aku bakar saja surat ini, pikirnya.
Bua pergilah Zaenab ke dapur. Di tempat sampah, dan bersama sampah-sampah yang lain, Zaenab pun membakar surat itu. Dia harus melakukan itu sebab dia merasa khawatir kepada suami dan adik iparnya. Jangan sampai isi surat ibunya itu membuat hati suaminya semakin dicacah sedih. Dan jangan sampai pula isi surat itu membuat adik iparnya tak bisa menahan diri lagi.
“Maafkan aku, mas,” ucapnya, lirih, “tanpa seijinmu, terpaksa aku bakar surat ibu.”
Siang menjelang sore, Muniri pulang dengan dipapah adiknya. Kesehatannya nge-drop. Wajahnya pucat pasi. Langkah kakinya gontai. Dari gelagatnya itu, tampak sekali Muniri kelelahan, kecapekan. Capek karena kerja. Lelah hatinya. Capek dan lelah jiwanya. Zaenab tergopoh-gopoh menyambutnya.
“Kau sakit, mas. Badanmu panas sekali,” ujar Zaenab.
“I-ya.” Jawab Muniri. Singkat.
“Tadi pingsan di pasar, mbak,” Usman menambahkan.
“Astaghfirullah, mas,” cemas sekali Zaenab ini. “Mari, mari istirahat.”
“Mbak jangan pulang dulu,” kata Usman sembari membawa kakaknya itu ke kamar. “Kesehatan mas lebih penting dari pulang ke kampung, mbak. Aku khawatir dengan mas.”
“Iya, dik.”
“Ayah, ayah…,” si kecil Zahra berlari-lari masuk ke kamar.
Dan memeluk sang ayah.
***