Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Seperti yang dikatakan dalam surat singkatnya, keadaan di desa Siwalan memang sedikit banyak mencerminkannya. Sekarang, warung Mbah Kamiyem sepi dari para tetangga. Bukan, bukan warungnya yang sepi, melainkan pergunjingannya. Bilamana ada satu dua pembeli yang mengajak berbicara tentang Zulfin dan Wuryani, itu semata-mata ala kadarnya saja. Kasihan Musa. Kasihan bayi yang telah meninggal dunia. O, kasihan juga Zulfin. Zulfin kini seperti orang gila! Selebihnya, banyak orang yang tutup mulut di warung Mbah Kamiyem ini.
Akan tetapi, di saat yang sama, Wuryani memang tidak berbohong dalam suratnya. Dan ia pun tak berbohong terhadap Muniri anak kesayangannya. Hobi Wuryani yang suka berceloteh ke mana-mana dan di mana-mana hampir tak pernah dilakukannya lagi. Wuryani menepati janji. Janji berupa anggukan kepala kepada anaknya.
“Buk, di Siwalan ini kita tidak tahu siapa-siapa tetangga yang mencintai kita. Kita juga tidak tahu pasti, siapa-siapa tetangga yang membela Zulfin dan suaminya. Demi Allah, aku memohonmu, Buk. Jangan sampai terjadi salah paham lagi. Aku akan sedih bila ibuk disakiti lagi. Hatiku tak akan tenang. Tentu hal ini akan berpengaruh pada pekerjaan dan kehidupanku di Jakarta. Buk, aku mohon. Kalau memang tidak ada keperluan-keperluan yang penting, lebih baik ibuk lebih banyak di rumah saja. Supaya aku bisa tenang di Jakarta, dan supaya lebih mudah bagiku untuk menasihati Usman agar tidak melawan orang tua. Aku mohon ya, Buk?”
Tetapi, isi hati Wuryani tak mencerminkan harapan anaknya. Benar, ia tak banyak keluar rumah—seperti dulu. Benar, ia tak terdengar sering membangga-banggakan anak-anaknya—seperti dulu. Benar, ia tak mengobral kata-kata, merasa iri dan merendah-rendahkan—seperti dulu. Ia tak banyak keluar, dan tidak melakukan itu semua seperti dulu sebab beberapa tetangga, ialah “mitra”nya dulu yang suka diajak berbicara, sekarang ini justru datang mengunjunginya. Bahasa lugasnya: Bukan ia yang datang berkunjung, tetapi mereka yang mengunjunginya. Jumilah, Barokah, ditambah Surti, dan diam-diam Sukinah. Lantai teras rumah Muniri seringkali dijadikan tempat bagi mereka untuk membincangkan isu-isu lokal, dan segala sesuatu perkembangan yang paling akhir terjadi, sedangkan yang paling akhir terjadi adalah perubahan pada diri Zulfin sejak kematian anaknya itu.
“Jadi dia melabrakmu lagi, Mbok?” Surti bertanya, di sore itu, dua hari setelah Wuryani menulis surat pendeknya kepada anak-anaknya.
“Ho-oh.” Jawab Wuryani, sangat santai.
“Terus apa yang dikatakannya, Mbok?” menanggap itu orang yang bernama Sukinah.
“Ah, kamu itu mau tau saja, dik.” Jawab Wuryani, lebih santai.
“Ceritakanlah, Mbok…” pinta Surti.
“Ah, biasa saja. Dia ngomel-ngomel ndak karuan gitu. Ah, lupakanlah. Ndak baik ngomongin orang.”
Jumilah berkata, “Dia sekarang suka menangis sendiri. Aku pernah melihatnya saat mencuci di kali. Perilakunya aneh sekarang. Kadang nangis seperti itu, kadang tertawa. Kadang membentak-bentak suaminya. Itu yang dikatakan Sri Rejeki kepadaku, kemarin petang.”
“Benarkah?”
“Jangan-jangan, otaknya sudah sedeng dia.”
“Waduh, kalau begitu, bahaya. Kasihan suaminya.”
“Iya, kasihan anak-anaknya.”
“Ssst…, tak usah keras-keras,” Wuryani mengingatkan, “ndak usah ngomongin dia. Kasihan. Kasihan. Tak baik loh, ibu-ibu…”
“Aih, aih, Mbok Wuryani sekarang tampak lebih santun ya?” Sukinah berkata.
“Iya nih. Lebih halus budinya,” Surti.
“Kita memang tidak tahu apa yang bakal terjadi,” Barokah yang berkata, sok bijak dia. Usianya paling tua di antara mereka semua. “Rasanya baru kemarin aku masih melihat Musa dipangku Soyi. Kini anak itu sudah tenang di alam baka.”
“Menurutku,” Jumilah menanggapi, “ini kata Mas Kumasi lho—jangan diguyu. Kalau aku, pengetahuanku memang terbatas. Mas Kumasi bilang, anak yang masih bayi itu langsung masuk surga bila meninggal dunia. Ia masih suci, walau punya ibu dan bapak seperti Dlori. Masih menurut Mas Kumasi, Gusti Allah itu memanggilnya sebab Dia tahu kalau nanti anak itu besar justru akan merusak tatanan, menjadi musuh bagi sesama. Jangan sampai anak itu seperti bapak atau ibunya. Benar ndak sih, ibu-ibu?” Lalu, khusus kepada Wuryani, “Menurutmu bagaimana, Mbok?”
“Menurutku sih benar apa kata suamimu, Lah. Jadi, tolong selalu dengarkan dia.”
“O, jadi begitu ya?”
“Iya. Begitulah.”
“Aih, aih, memang Mbok Wur sekarang sudah berubah. Lebih santun, lebih halus budinya…”
“Ah, biasa saja…”
Iya, biasa aja. Itu yang dikatakannya. Itu yang diungkapkannya. Wuryani sudah berubah. Tak seperti dulu. Tak suka menghina dan merendahkan lagi, tetapi bukan karena tidak ada obyek yang bisa dihina dan direndahkan lagi, melainkan karena ia sudah merasa menang. Ia menang, dan Zulfin telah kalah. Ini membuat hati Wuryani bergeser: Dari hati yang suka membangga-banggakan kesuksesan anak-anaknya sekaligus merendahkan dan menghina orang lain menjadi hati yang sombong terhadap dirinya sendiri. Nafsunya yang dulu selalu mengajaknya pada iri dan bengki kini nafsu itu menyeretnya pada lingkaran kebanggaan terhadap diri sendiri.
Tetapi Barokah tak menyadari itu.
Jumilah juga.
Surti dan Sukinah pun begitu.
Orang-orang ini tak sanggup menyingkap hakikat di balik perubahan yang terjadi pada Wuryani ini. Sungguh, pabila mereka dapat menyingkap hakikat itu, mengintip rahasia hatinya yang tersembunyi, mereka akan dapati hati Wuryani justru lebih keruh dan gelap ketimbang sebelumnya. Jiwa Wuryani sesungguhnya berada pada keadaan yang amat berbahaya, terutama bagi ia-ia yang mencintai dan merindui cinta yang hakiki, jiwa yang suci. Ketika orang bijak dan ajaran agama yang suci mengatakan bahwa keadaan hati manusia itu mudah berubah dan bolak-balik, bua keadaan seperti itulah hati Wuryani sebenarnya…
***
Akan halnya dengan Dlori. Di dunia ini, sesungguhnya tak ada orang yang paling sedih dan menyesal atas meninggalnya Musa melebihi kesedihan dan penyesalannya. Wayang kulit itu, tak ada yang lebih dia benci saat ini sejak saat itu melebihi kebenciannya terhadap wayang kulit. Gending-gending Jawa. Gamelan. Sinden. Jajaran wayang. Ki Anom! Anaknya tercinta, anaknya terkasih, meninggal saat ia tengah tersirep omongan Petruk. Petruk-lah pembunuh anaknya—seakan-akan bila tokoh itu maujud di kehidupan nyata, si Petruk itu akan ia penggal dengan sabit-nya sendiri! Setiap kali ia mendengar gending-gending Jawa di radio, atau tembang langgam, atau pageleran wayang kulit, Dlori selalu marah sekaligus sedih dan menyesal. Padahal, sebelum meninggalnya Musa, wayang kulit adalah pertunjukkan favoritnya; wayang kulit adalah kegemarannya. Bahkan, demi memperingati kelahiran salah satu anaknya, ia sendiri pernah menanggap wayang kulit. Tentu anaknya, yang dilahirkan itu, tak tahu apa-apa tentang segala hidup dan wayang, ia menanggap wayang kulit demi memuaskan seleranya sendiri.
Dlori sangat merasa tertekan dan juga terpukul.
Tekanan dan pukulan itu tidak hanya datang dari kedalaman batinnya saja, melainkan—dan ini justru semakin membuatnya tertekan dan terpukul hatinya—datang pula dari orang-orang di sekitarnya. Tekanan dan pukulan paling telak yang ditujukan pada ulu hatinya datang, darimana lagi kalau bukan, dari istrinya. Zulfin menyalah-nyalahkannya. Bahkan Zulfin berulang kali berucap kotor kepadanya.
“Laki-laki semuanya sama saja,” serunya, dua minggu setelah kematian Musa, “maunya menang sendiri, merasa benar sendiri, merasa dirinya Tuhan yang benar dan bisa mengatur segalanya.” Itu diucapkannya berulang-ulang.
Dua hari sebelumnya:
“Wayang lebih penting daripada nyawa anak sendiri. Oalah, Gusti. Kamu itu manusia atau Petruk?” dan ini diucapkan lebih berulang kali.
Tiga hari sebelumnya:
“Kau memang sengaja membiarkan Musa mati, Pak. Kau sengaja. Kau pembunuhnya. Pembunuh anak kita!” dan ini terus-menerus diucapkannya, sejak berkali-kali ia sadar dari pingsannya.
Dlori diam.
Dlori bungkam.
Ia harus mengakui bahwa ia memang salah. Ketika itu, beberapa jam sebelum Musa menghembuskan nafas, ia seperti pencuri yang keluar dari rumahnya sendiri, berjingkat-jingkat menuju pagelaran wayang. Ia mau mengajak Harun dan Aisyah dengan syarat tidak berlama-lama menonton wayang:
“Ssst…, apakah kalian mau melihat wayang?”
“Iya, iya. Mau…!”
“Ssst…, jangan keras-keras. Nanti didengar ibumu.”
“Aku ikut,” Aisyah merajuk.
“Iya, ayo kita berangkat. Tapi ndak usah lama-lama ya? Kita nonton sebentar. Jangan sampai ibu tahu.”
Kata-kata itu teringiang-ngiang terus di benaknya, berubah menjadi tulah yang mengiri-iris. Dalam kepedihan dan linangan air mata, ia menyesali itu. Seharusnya aku tak meninggalkan istriku, ujar hatinya itu. Seharusnya aku dengarkan apa yang dikatakan istrinya. Anakku demam. Musa panas. Bahkan aku menganggap panasnya itu pasti akan segera turun. Aku tak peduli. Yang aku pedulikan hanya wayang itu. Ki Anom itu. “Petruk Mbangun Kahyangan” adalah lakon yang memikat hati. Hatiku terpikat. Dan anakku mati. Duh, Gusti…
Lalu ia terbayang bagaimana bisa ia sampai ketiduran di tempat pertunjukkan itu, sementara ia sudah berpesan kepada kedua anaknya untuk tidak berlama-lama berada di situ? Oh…
Dlori menyesal.
Dlori sedih.
Dlori tertusuk dan tertekan.
Tetapi apa guna penyesalan jika dia datang terlambat? Musa tak mungkin bangkit dari kuburnya walau ia menangis-nangis darah dalam penyesalannya. Bua ia hanya bisa diam dan bungkam dicerca dan disalah-salahkan oleh istrinya sebab ia memang pantas untuk itu.
Dlori limbung.
Dlori gontai.
Sebagian orang yang melihatnya dan bersimpati kepadanya mencoba untuk menghiburnya, mencoba untuk menguatkan hatinya. Haji Ridlwan berkata, “Dik, kematian Musa tak ada hubungannya dengan kepergianmu menonton wayang. Aku harus jujur kepadamu bahwa kau keliru saat kau tinggalkan istrimu di saat Musa sakit seperti itu. Aku menyesal kau melakukan itu. Tetapi sadarlah, kematian Musa tak ada hubungannya dengan wayang itu. Kematian itu sudah diatur oleh-Nya. Bisa jadi, walau kau tak menonton wayang, Musa tetap akan meninggal dunia sebab Allah mengaturnya demikian. Bua jangan terlalu merasa bersalah seperti itu, dik. Jangan berputus asa. Yang harus kau punya bukan sikap seperti itu. Pasrahlah kepada Allah. Bertawakallah. Musa telah tenang di alam baka. Bahkan dia meninggal dengan khusnul khotimah. Orang yang meninggal karena sakit adalah orang yang meninggal secara syahid. Apalagi, yang meninggal itu masih bayi seperti Musa. Allah pasti mengangkatnya. Allah pasti menempatkannya di sisi-Nya dengan sebaik-baiknya.”
Di lain waktu, Haji Mukhtar menasihati, “Kau mau menangis seumur-umur, menangis darah, berguling-guling dalam penyesalan, itu semua tidak akan merubah keputusan Allah atas diri Musa dan hidupmu. Musa sudah tenang, dan kalau kau memang mencintai dan menyayanginya, yang harus kau lakukan terhadapnya adalah mendoakannya. Dan yang harus kau lakukan terhadap dirimu sendiri adalah memperhatikan yang hidup dan menghidupinya. Lihatlah Harun, lihat Aisyah, dan pandang bola mata Umi. Mereka anak-anakmu yang masih hidup. Kalau kau seperti ini terus, gintai-lunglai-dan putus asa, sama artinya kau ingin melihat anak-anakmu yang masih hidup itu menderita? Ayah yang bagaimanakah yang seperti itu? Lihat pula istrimu. Saat ini istrimu sangat membutuhkanmu, walau sikap dan ucapannya tampak memusuhi dan membencimu. Hati istrimu rapuh, sangat rapuh. Jika hatimu juga rapuh, keluargamu memang hidup tetapi hakikatnya mati!”
Suatu saat, selepas maghrib, kedua kaki Dlori tak terasa telah membawanya mendekati mushola Kiyai Na’im yang sepi. Seakan telah menunggu kedatangannya, sang kiyai duduk di pintu mushola. Ketika Dlori langsung duduk di sampingnya tanpa sepatah pun kata, Kiyai Na’im berkata:
Sesungguhnya mati hanyalah satu perpindahan dari satu hidup menuju hidup berikutnya. Dari alam dunia, menuju alam akhirat. Mati hanyalah pintu; aku dan engkau juga akan melewatinya suatu saat nanti.
Kiyai Na’im juga berkata:
Karena itu, ringankanlah hidupmu. Tak perlu kau cari bekal sebanyak-banyak, karena bisa jadi kau akan keberatan dengan bekal yang banyak itu! Ringankanlah hidupmu, dan hidup orang-orang yang kau cintai.
Dlori hanya memandang wajah sang kiyai sebentar, lalu menatap kejauhan. Pandangannya kosong. Pikirannya juga kosong. Entahlah, apakah ia benar-benar mendengar perkataan Kiyai Na’im itu atau tidak—Oh, hanya dia yang tahu. Kita tidak akan tahu dari pandangan matanya yang kosong. Sang empunya cerita juga tak bisa menebak isi hatinya berdasarkan kekosongan isi pikirannya.
Tetapi, sekali lagi, Kiyai Na’im juga berkata:
Insyaallah, kau akan mempunyai anak lagi. Dua anak. Anakmu selanjutnya akan kau beri nama Musa. Dan anakmu yang terakhir bukan kau yang akan memberinya nama. Sekarang pulanglah. Jalanmu masih panjang, nak. Masih panjang. Cobaan ini belum seberapa untukmu. Cobaan yang lebih besar akan mendatangi hidupmu!
Dlori memandangnya sekali lagi.
Tetapi pandangannya seperti semula.
Kosong.
Dan kosong.
Lalu Dlori beranjak dari duduknya itu dengan sepasang bibirnya yang terkatup rapat. Sebentar kemudian, tubuhnya sudah hilang, hilang di balik pepohonan dan redupnya malam. Sementara Kiyai Na’im tampak memandang ke atas. Memandang ke langit. Dilihatnya bulan dan bintang, tetapi yang tampak bukan bulan dan bintang. Dilihatnya Sang Penguasa jagat raya di wajah bulan dan bintang itu. Lalu diangkatnya kedua tangannya. Mulutnya berkomat-kamit. Tak jelas apa yang tengah dibacanya itu. Beberapa lama ia melakukan doa itu, hingga tiba-tiba ia mendengar suara kentongan bertalu-talu….
***
Warga Siwalan gempar. Bunyi kentongan itu masih bertalu-talu. Dari berbagai arah. Dari berbagai sudut. Di pos ronda (di Siwalan ini ada tiga pos ronda sesuai dengan jumlah RT) orang-orang saling berkumpul, saling bertanya.
“Zulfin hilang…!”
“Zulfin hilang…!”
“Hilang ke mana?”
“Ayo kita cari.”
“Ayo kita cari.”
Menyusul dengan suara-suara itu, di sudut yang lain, terdengar orang juga berteriak-teriak:
“Dlori hilang…!”
“Dlori hilang…!”
“Hilang ke mana?”
“Ayo kita cari.”
“Ayo kita cari.”
Rumah Dlori dijejali warga. Ketiga anaknya menangis. Harun sesenggukkan. Aisyah menjerit-jerit. Umi ketakutan. Ketiga anak itu saling berangkulan, saling berpelukan. Kedatangan orang-orang yang mengelilingi mereka justru menambah rasa takut itu. Aisyah memanggil-manggil ibunya. Harun bertanya-tanya ayahnya.
“Ibuuukkkkk….”
“Bapaaaak…”
“Ibuuukkkk…”
“Ayahnya ke mana?” seseorang bertanya. “Aku juga tak tahu,” yang lain menjawab. “Tadi kulihat dia pergi ke rumah Mbah Na’im,” yang lain menyahut. “Ayo kita ke sana,” ajak yang lainnya.
“Terus anak-anak ini gimana?” tanya seseorang.
“Ini kan rumahnya?” tanya.
“Ibunya ke mana?” tanya.
“Zulfin di mana?” tanya.
“Siapa yang tadi melihat Zulfin?” tanya.
“Nggak tahu,” jawab.
“Terus siapa yang tahu?”
“Ayo, ayo kita cari.”
“Cari di mana?”
“Di mana saja.”
“Ya okelah kalau begitu!”
Obor-obor dinyalakan. Senter-senter dihidupkan. Semua orang membuka pintu rumah masing-masing. Begitu pun Muhaya. Moh. Tohar. Kumasi. Bandi. Haji Ridlwan. Dan lain sebagainya. Wuryani yang ketiduran dan belum menjalankan isya’, tergeragap bangun dari pembaringannya. Ia menuju ke pintu. Bertanya kepada suaminya, “Ada apa to, Pak?”
“Zulfin hilang. Dlori juga hilang!”
“Hilang gimana?”
“Ndak ada di rumah. Orang-orang sedang mencarinya.”
“Oh…” hanya itu. Hanya kata “oh” itu. Wuryani kembali ke dalam. Kembali ke kamarnya. Berbaring lagi. Kantuk benar-benar menyerang matanya. “Oh”, ya, hanya itu komentarnya.
“Duh, Gusti—kenapa ia bikin ulah lagi,” ini kata-kata Jumilah kepada Kumasi, di halaman rumahnya, di waktu yang sama dengan pertanyaan Wuryani kepada Muhaya. “Ya, Allah…astaghfirullah…”
“Dlori juga hilang,” Kumasi menimpali.
“Apa mau mereka sebenarnya, Mas?”
“Wallahu a’lam. Jangan tanya aku. Aku akan ikut mencari.”
“Ndak usah, Mas!” Jumilah mencegah.
“Kenapa?”
“Ndak usah ikut-ikutan.”
“Hush…jangan begitu. Betapapun, kita sebagai sesama tetangga, harus peduli. Kasihan anak-anaknya.”
“Tapi, jangan ikut-ikutan yang ndak-ndak loh, Mas.”
Kumasi tak menjawab.
Jumilah menutup pintu rumahnya kembali.
Percakapan sebentar dan tak terlalu beda isinya pun terjadi antara Muh. Tohar dan Barokah di rumahnya. Sri Rejeki panik, dan cepat-cepat menenangkan anak-anak Dlori. Mbah Kamiyem membuka kembali warungnya yang tadi sudah ditutup—entahlah, jangan ditanya apa hubungan ia membuka warungnya itu dengan hilangnya Zulfin dan Dlori. Yang jelas, satu dua orang pemuda membeli rokok ke warungnya itu. Beberapa yang lain memesan teh panas dan kopi. Mungkin pemandangan ini seperti yang dikatakan pepatah: Memancing di air keruh. Hanya saja, tak jelas siapa yang memancing dan yang keruh itu juga siapa!
Benarkah Zulfin menghilang?
Benarkah Dlori juga menghilang.
Yang terjadi sesungguhnya seperti ini:
Ketika Dlori meninggalkan mushola Kiyai Na’im, hatinya masih galau. Pikirannya masih linglung. Potongan kata dan kalimat terakhir yang diucapkan Kiyai Na’im memang sempat masuk ke dalam pikirannya, lalu mendekam di dalam hatinya.
Anak—Musa—Dua—cobaan—masih panjang….
Dlori tidak bisa mengeja kalimat-kalimat yang diucapkan Kiyai Na’im dengan benar dan sempurna. Rasa bersalah dan sesal masih menyelimuti hatinya. Juga sedih dan kasihan kepada istrinya. Ia melangkah pelan menapaki jalanan setapak dan menurun dari mushola itu. Beberapa kali, kakinya hampir tergelincir. Jalanan licin. Kaki kanannya terantuk batu. Normalnya, sepuluh atau lima belas menit ia akan sampai di rumah. Tetapi, dalam sepuluh atau lima belas menit ini, ia seperti baru berjalan beberapa langkah. Lalu terdengarlah suara kentongan yang bertalu-talu itu. Di mana-mana. Lalu, terdengar orang-orang berteriak tentang istrinya. Istrinya hilang. Zulfin pergi. Istrinya minggat. Zulfin meninggalkan anak-anaknya. Begitulah yang ia dengar dari teriakan orang-orang itu.
Dlori pun terperanjat.
Kesadaran menyentak pikirannya, juga hatinya.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tergeragap, pucat wajahnya, dan tersambar panik. Seketika ia melompat dalam gerakan-gerakan yang mencerminkan kekuatan yang berlipat-lipat, setelah pulih dari linglungnya.
Matanya nanar memandang ke sana-kemari. Ia pun berlari ke sana ke mari. Mencari istrinya. Di balik pohon, gundukan tanah, atau sibu belukar. Ia menaiki jalan ke bukit, mengobrak-abrik pohon-pohon kecil, menyibak dedaunan, menginjak-injak daun-daun ilalang. Ya, Allah…Ya, Allah…hatinya berseru. Di manakah istriku?
Ketika nafasnya hampir habis dan Zulfin belum diketemukannya, ia jatuh lemas bersandar di pohon trembesi. Seketika ia teringat anak-anaknya di rumah. Dan…Musa!
Ingatan terhadap anak yang sudah meninggal dunia itu membuka pikirannya kembali. Secercah sinar terang menyelusup di hati. Seketika itu juga kekuatannya memulih. Ia tahu ia harus mencari istrinya di mana. Dan di mana lagi istrinya saat ini kalau bukan di kuburan anaknya!
***
Obor-obor itu masih menyala terang, di jalan-jalan, di sudut-sudut rumah, bahkan di sekitar air tejun di lereng bukit sana. Senter-senter juga masih menyorot tempat-tempat gelap, tempat-tempat tersembunyi. Tetapi siapa yang menyangka bahwa dua orang yang tengah menghebohkan dan dicari ke sana ke mari itu berada di atas tanah kuburan ini?
Zulfin memeluk-meluk nisan Musa. Tangisannya amat pedih dan menyayat hati. Dlori memeluknya—air matanya membanjiri punggung istrinya itu.
“Dik, istighfar, dik. Astaghfirulllah…astaghfirullah…”
“Anakku, anakku. Bangunlah kau, wahai anakku,” Zulfin semakin erat memeluk nisan Musa seakan ia tengah memeluknya erat. Seakan Musa tengah tersenyum dengan senyumnya yang lucu. Seakan Musa tengah tengkurap dan berjalan dengan tangan dan kakinya. Seakan Musa tengah mengoceh dengan bola matanya yang besar dan berbinar-binar. Seakan Musa tengah haus dan lapar. Seakan Musa tengah menangis. Seakan Musa minta digendongnya. Seakan Musa minta dipeluknya. Bua ia peluk anak itu erat, walau yang ia peluk hanyalah nisannya.
Sekeping hati Dlori terasa hancur sehancur-hancurnya, merasakan kepedihan istrinya itu, merasakan kesalahannya sendiri. Semakin erat ia memeluk istrinya itu seakan ia melihat istrinya itu sedang mendekap Musa.
Pemandangan yang seperti itu terjadi sekian waktu. Ketika tiba-tiba Zulfin menjerit dengan jeritan keras memanggil Musa, beberapa orang yang kebetulan melintas di dekat tanah kuburan itu terperanjat.
“Itu suara Zulfin!” ujar seseorang.
“Iya, aku juga mendengarnya,” imbuh yang lain.
“Darimana datangnya?”
“Dari kuburan.”
“Astahfirullah. Ayo kita masuk.”
“Aku takut…”
“Kita masuk bareng-bareng.”
“Kita undang orang-orang dulu.”
“Ah, kelamaan.”
Tiga orang akhirnya memasuki lingkup pekuburan. Seorang berlari sembari berteriak-teriak mengabarkan pada orang-orang bahwa Zulfin telah ditemukan. Zulfin berada di kuburan. Zulfin masih hidup! Ayo kita ke kuburan!!
Sebentar kemudian, orang-orang pun berlarian dan berduyun-duyun ke kuburan. Ke Buam “Pilang” itu.
***
Tubuh Zulfin diangkat beberapa orang. Dan Dlori pun dipapah dua orang. Dan bersama semua orang, keduanya dibawa ke rumahnya. Zulfin pingsan. Dlori lunglai. Di bawah terangnya senter dan obor-obor, tampak tiga orang meneteskan air mata, dan beberapa orang menahan-nahan agar air matanya tak jatuh. Sebagiannya, mengatupkan bibir. Dan sebagian kecilnya, justru saling berbisik seperti ini:
“Bikin ulah saja!”
“Ssttt….”
“Jengkel aku!”
“Jangan keras-keras…”
“Pakek acara meluk-meluk nisan lagi. Huft…”
“Namanya saja gak bisa nerima kematian…”
“Tapi kan nggak segitunya kaleeee…”
“Ssst…sudahlah.”
“Besok bikin ulah apalagi itu orang?”
“Sstt…kita lihat saja.”
“Jangan-jangan, besok dia akan nyusul Musa.”
“Sstt…jangan mendahului takdir-lah. Selain itu, nggak enak didengar sama yang empunya cerita…”
“Ups…, maaf!”
Mereka terus mengikuti iring-iringan itu. Sebentar kemudian, mereka telah sampai di rumah Dlori. Dan obor-obor pun dipadamkan. Dan senter-senter pun dimatikan. Di rumahnya sendiri, beberapa laki-laki tampak berkerumun dengan beberapa ibu, dan langsung mengerubuti keduanya. Dan Lik Soyi menjerit keras sekali.
***