Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Sungguh aneh kebanyakan manusia dengan hati dan pikirannya. Terkadang hati dan pikirannya seiring sejalan, terkadang berjalan sendiri-sendiri. Hati kepada dirinya sendiri adalah pembisik yang ulung, mengalahkan akal terhadap pikiran. Apa yang ada di pikiran memang bisa dan mudah berubah, tetapi hati yang mudah berubah menjadikan jiwa terombang-ambing dalam kekacauan yang berakibat fatal. Orang bisa menjadi gila karena pikiran kacau dan tekanan terhadapnya lebih besar daripada kemampuan untuk menghadapinya, dan Tuhan pun memaafkannya. Namun hati yang gila adalah kerugian yang sangat besar bagi pemiliknya, walau pikiran sehat, dan Tuhan pun akan melakukan perhitungan terhadapnya!
Banyak warga mencatat kejadian itu, dan menghubung-hubungkannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya dan mengira-ngira tentang apa yang bakal terjadi. Pertanian yang sukses. Panen melon yang berlimpah. Sewa sawah dan ladang dengan harga yang sangat murah. Kematian anaknya Syam dan ibunya Muji. Sengkerut hati karena iri dan dengki. Bangga-membanggakan anak. Tamparan di pipi. Caci-bui. Saling merendah-rendahkan dan mengunggul-unggulkan. Labrak 1. Labrak 2. Pertengkaran di saat suara adzan memanggil-manggil. Bintang jatuh. Kesuksesan panen jeruk. Wayang kulit. Kematian Musa.
Semuanya saling berhubungan.
Semuanya berkaitan.
Semuanya seperti seutas benang yang melilit pada satu kumparan: Jelas ujung yang satu, dan tertutup ujung yang lainnya. Yang jelas adalah fakta-fakta kejadiannya itu sendiri seperti tadi. Dan yang tidak jelas adalah akhir dari semua ini, serta hubungan antara satu kejadian dengan kejadian selanjutnya. Orang seperti Haji Mukhar dan Haji Ridlwan saja—di Siwalan ini, tak ada yang sudah menunaikan ibadah haji kecuali dua orang ini—hanya sanggup menghubungkan semua kejadian itu menurut lahiriahnya, menurut zahirnya, bahwa tak ada sebab tanpa akibat. Suatu sebab melahirkan satu akibat. Suatu sebab bisa pula melahirkan beberapa akibat. Ketika mereka mencoba menjelaskan hukum sebab akibat ini, mereka kesulitan untuk melakukannya. Mereka tak mampu menyelami hakikat di balik fakta-fakta, burifat di balik fenomena-fenomena.
Apatah lagi orang-orang lain, warga pada umumnya. Mereka hanya melihat zahir, dan justru sebagiannya terlibat dalam silang-sengkarut dan kisruh serta pertengkaran itu. Kadang mereka membela satu pihak seraya menyalahkan pihak yang satunya; dan kadang mereka melakukan hal yang sebaliknya. Di antaranya justru ada yang semakin menambah panas suasana, menyulut api, menyiram minyak, dan mengobarkannya. Padahal mereka juga menonton pertunjukan wayang kulit di Seworan itu.
Ki Paimin Sosronegoro—yang membawakan lakon “Wahyu Buutoromo”—dan Ki Anom Suroto—yang membawakan lakon “Petruk Mbangun Kahyangan”—telah menarasikan banyak pelajaran dan hikmah-hikmah yang tinggi melalui pitutur masing-masing dalam melakonkan para wayang. Warga Siwalan, ketika itu, juga banyak yang menonton pertunjukkan wayang. Tetapi mereka hanya melihat zahirnya saja—jejeran wayang, para tokoh yang saling berhadap-hadapan, ki dalang sendiri, para yogo, dan para sinden—sembari menikmati lelaguan dan suara para sinden yang mendayu-dayu. Mereka sangat menikmati adegan “Goro-Goro”, geguyonan dan gojegan antara Ki Lurah Semar dengan ketiga putranya—Gareng, Petruk, dan Bagong—tersenyum dan bertempik sorak mendengar celoteh Petruk yang banyak bicara, terkadang nyelekit, menusuk, dan memikat hati, sembari menanti-nanti permintaan lagu dari orang-orang yang pantas memintanya di pagelaran itu. Mereka lalai dari filsafat “Goro-Goro” itu sendiri, dan betapa benarnya narasi sang dalang menggambarkan kehidupan di dunia wayang itu, padahal itu mencerminkan kehidupan nyata. Kehidupan mereka sendiri. Saat ini.
Ya, saat ini.
Dan Gareng, Petruk, Bagong, juga Ki Lurah Semar itu adalah diri-diri mereka sendiri. Juga Pandawa Lima, juga Duryudana dan adik-adik Kurawa-nya. Juga Pendeta Durna dan Patih Sengkuni! Mereka tidak sadar bahwa mereka, bisa jadi, adalah Sengkuni-Sengkuni di Siwalan ini. Atau Begawan Durno. Atau Duryudana. Mungkin mereka ingin menjadi Pandawa, tetapi, sungguh, hati mereka itu adalah Kurawa!
Bua, geger karena hilangnya Zulfin dan Dlori lalu ditemukannya mereka berada di atas tanah pekuburan, tak membuat banyak orang tersadar untuk mengambil pelajaran dari kejadian ini. Bahkan sebaliknya, pemilik hati-hati yang diselubungi angkara justru melihat kejadian ini sebagai alat untuk memukul dan menenggelamkan Zulfin dan Dlori lagi.
Lihatlah Wuryani itu. Kembali ia dikelilingi oleh para pendengar setianya. Kembali teras rumah anaknya menjadi ajang untuk membicarakannya. Wuryani yang malam itu tampak acuh tak acuh, ogah-ogahan, seakan ia sama sekali tidak peduli kejadian itu karena merasa bahwa kejadian itu tidak layak untuk dibicarakan dan tidak penting untuk ditanggapi secara berlebihan, kini ia berubah seakan-akan ia seorang ustadzah yang menggenggam kebenaran secara terang-benderang.
Ia memang tidak mengumpat-umpat.
Ia tidak menghina-dina.
Ia tidak merendah-rendahkan.
Ia tidak meleceh-lecehkan.
Bahkan yang melakukan itu semua sekarang bukan ia, tetapi mereka, mereka yang mengelilinginya itu. Surti mencecar Zulfin dan Dlori dengan hamburan kata-kata, seakan-akan pasangan suami istri itu tengah berada di hadapannya, dan sangat menyakiti hatinya. Jumilah selalu bertameng pada suaminya, Mas Kumasi, melalui petikan-petikan dan sempalan-sempalan nasihat dan petuah sang suami. Barokah justru berubah seolah menjadi Wuryani di waktu-waktu sebelumnya: Ia membangga-banggakan anak-anaknya yang sukses-sukses itu. Sukinah lebih banyak diam dan mendengarkan, walau ada kalanya dia seakan berubah menjadi gong dalam gamelan: Berbunyi terakhir kali dan keras sekali!
Terkadang Muhaya mondar-mandir di sekitar “jamaah” itu seakan hendak nimbrung dalam pembicaraan, tetapi buru-buru ia sadar bahwa ia seorang lelaki dan seorang suami. Tetapi hatinya berbunga-bunga, sangat berbunga-bunga. Ia, seperti halnya Wuryani, merasa sebagai orang—satu-satunya orang—yang menang dalam drama kehidupan ini!
Malam-malam di Siwalan selanjutnya, setelah kejadian itu, terasa aneh dan asing. Rumah Haji Ridlwan memang masih ramai didatangi anak-anak yang mengaji al-Qur’an di setiap ba’da magrib. Haji Ridlwan atau Haji Mukhtar juga masih tetap mengisi pengajian di masjid at-Taqwa setiap malam rabu. Tetapi selebihnya, apalagi setelah isya’, warga segera menutup pintu rumah masing-masing. Para pemuda yang sering berkumpul-kumpul di perempatan juga sudah tak mengurangi kegiatannya. Pintu rumah Dlori dan Zulfin juga seringkali tutup—terlebih setelah habis maghrib. Dlori jarang tampak sholat maghrib di masjid itu, walau masjid itu berada dekat dengan rumahnya. Lik Soyi tak pernah muncul di rumah itu bila malam hari.
Tetapi, beberapa warga yang melihat peristiwa itu tampak saling berbisik kepada anggota keluarganya masing-masing. Peristiwa ini berkaitan dengan pingsannya Zulfin. Warga yang saling berbisik ini adalah mereka yang tak pernah ikut-ikutan mencampuri urusan rumah tangga orang. Mereka tak pernah terlibat dalam perseteruan terselebung antara keluarga Dlori dan keluarga Muhaya beserta para pendukungnya masing-masing. Hati mereka, memang, sangat menyayangkan hal itu terjadi. Tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena dua hal. Pertama, hidup mereka sederhana, dan dalam kederhanaan itu mereka sibuk dengan urusan keluarga masing-masing. Dalam kesederhanaan itu, mereka merasa cukup. Cukup, seperti yang dikatakan para orang tua yang bijaksana. Bagi mereka, yang penting bisa makan, bisa menghidupi keluarga, bisa menyekolahkan anak-anak mereka, bisa rutin menjalankan sholat fardlu, bisa meriuh-rendahkan malam-malam Romadlon dengan tarawih dan tadarus al-Qur’an, bisa membelikan baju baru untuk anak-anak, bisa datang atas undangan kaum kerabat atau sanak-famili atau para tetangga yang berhajat, bisa menjenguk orang yang sakit, mendoakan orang yang sakit, ikut berbelasungkawa atas terjadinya kematian, dan ikut prihatin atas kekurangan masing-masing.
Kedua, mereka lebih memilih diam dan tak mencampuri urusan orang atau rumah tangga atau keluarga yang lain sebab mereka tahu bahwa banyak orang—entah itu siapa—yang sering salah tanggap, sering salah paham, sering salah tangkap. Perkataan “A” bisa diartikan sebagai “B”, dan ucapan “C” bisa dianggap sebagai “D”. Mereka tak mau salah kata, atau salah ucap, yang ujung-ujungnya bisa saling menyakiti dan para akhirnya saling menjauhi. Bukan, bukan jauh dalam soal rumah, melainkan jauh dalam soal perasaan dan hati.
Warga yang seperti itu jumlahnya sangat sedikit, dan sangat sulit untuk dideteksi. Mungkin salah satu di antaranya Kardi yang rumahnya dekat dengan Muhaya. Atau Sholeh, yang rumahnya berseberangan dengan rumah Haji Ridlwan. Atau Mbok Fatonah, yang rumahnya paling ujung, beberapa ratus dari gubuk Kiyai Na’im. Dan seandainya saja kita tak mendengar bisik-membisik Sholeh kepada istrinya dan Mbok Fatonah kepada suaminya, tentu kita tidak akan bisa bercerita tentang kesederhanaan mereka dan pilihan mereka.
Ketika itu isya’ sudah lama berlalu. Di luar rumah, angin berhembus lirih. Di atas, seperti biasa, bintang-gemintang bertebaran berkerlap-kerlip. Kunang-kunang menari-nari. Bulan sangat indah dan bulat. Sayu-sayup, di-timbul-tenggelam-kan angin yang menyisir, Sholeh maupun Mbok Fatonah mendengar Mbah Na’im sedang bersenandung. Suaranya memang tak terlalu bening, tetapi ada bekas-bekas kelembutan dan keindahan yang masih tersisa. Di malam yang semakin sunyi, mendengar tembang Pangkur yang dinyanyikan Mbah Na’im rasanya damai sekali:
Mingkar-mingkureng ukoro
Akarane karenaning mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinubo sinukarto
Mreh ketarto kapatining ngelmu luhung
Kang tumprap ing tanah jawi
Agomo ageming ajii
Lalu Mbok Fatonah meresapi tembang yang kedua:
Basa ngelmu,
Mupangate lan panemu
Pasahe lan tapa
Yen satria tanah jawi
Kuna-kuna kang ginilut tri prakara
Lila lamun, kelangan noragegetun
Nrima yen kataman
Sak serik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing bathara.
Bathara gung ing nguger jroning jejantung
Jenek hyang wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara.
Setelah itu, Mbok Fatonah berkata kepada suaminya, “Oalah, pakne-pakne. Jadi orang seperti Mbah Na’im itu rasanya damai sekali. Tak ada beban. Adem-ayem. Tentrem uripe. Hmm…, kalau ndak salah, tembang yang barusan dinyanyikan itu Pocung yo, Pakne?” Lalu seakan kepada Mbah Na’im, “Oalah, Mbah, mbah…, malem-malem begini kok yo nyanyi Pocung segala. Bikin miris atiku.”
“Miris kenapa to, Mbok?” sang suami bertanya. “Cocok sekali yang dinyanyikan Mbah Na’im itu. Pocung. Pada akhirnya semua orang akan jadi pocong. Mbah Na’im itu lagi nyindir kita semua dengan tembangnya itu, Mbok.”
“Ah, masak iya?”
“Lagu Pangkur yang dinyanyikannya juga bagus. Saat Ki Anom menyanyikan lagu itu di pertunjukan kemarin dulu, hmmm…, rasa-rasane kulitku yo merinding.”
“Mbah Na’im ki titis, Pakne. Titis ucapane. Aku yakin itu. Aku yakin.”
“Aku juga merasa seperti itu—tetapi siapa yang peduli?”
“Kalau orang mau mendengar apa yang dikatakannya, aku yakin orang akan selamat, Pakne. Mbah Na’im itu tak banyak omong, tetapi sekali omong yang diucapkannya benar. Kamu masih ingat kejadian dulu?”
“Yang mana?”
“Dia ngobati anak’e Rodhiyah yang kesurupan itu?”
“Hmmm…, iya, iya. Aku ingat…”
Mereka terus bercakap.
Dan di saat yang hampir sama, berkata Sholeh pada istri dan anak-anaknya, “Entah akan terjadi apalagi di Siwalan ini. Mbah Na’im tak pernah nembang-nembang seperti itu sebelum-sebelumnya.”
“Menurutmu apa, Pak?” bertanya istrinya.
“Ah, aku ndak tahu. Aku ndak punya ilmu untuk itu. Banyak orang menganggap Mbah Na’im itu orang biasa, lelaki tua yang hidup sendiri dan tak jelas asal-usul dan keluarganya. Tetapi dia tak bisa membohongi mataku, dik.”
“Maksudmu?”
“Aku lihat sendiri apa yang dia lakukan terhadap Zulfin dan Dlori, dik. Kau ingat, Zulfin saat itu tak sadar-sadar, padahal segala bidan, mantri, bahkan seorang dokter telah berusaha menyadarkannya. Zulfin memang sadar, tetapi terjatuh lagi. Itu terjadi berkali-kali. Kulihat Mbah Na’im memandangi wajahnya, memejamkan mata, mengangkat kedua tangannya. Coba, kalau orang melakukan sikap yang seperti itu sikap apa kalau bukan berdoa? Mbah Na’im mendoakan Zulfin. Zulfin sadar seketika, dan tak pernah terjatuh lagi. Dlori pun begitu.”
“Ah, mungkin itu kebetulan, Pak. Ndak usah diperpanjang.”
“Aku yakin,” ujar Sholeh tak memedulikan perkataan istrinya, “Mbah Na’im bukan orang sembarangan. Kita harus lebih menghormatinya, dik.” Lalu kepada anak-anaknya, “Kalian juga begitu. Kalian kan sering main ke rumah Mbah Na’im. Ingat, beliau orang tua. Hormati beliau. Dengarkan setiap ucapan beliau.”
Anak-anaknya itu mengangguk-angguk.
Sang istri berkata, “Tetapi, mungkin kau memang benar, Pak. Bila kuperhati-hatikan, Zulfin dan Dlori kini sudah berubah. Terutama Zulfin—dia tak seperti waktu-waktu sebelumnya.”
“Semoga keadaan akan menjadi lebih baik, Bu.”
“Amin, amin. Ya Rabb al-‘alamin.”
Dan anak-anak itu pun segera masuk ke kamar. Dan sebentar kemudian lampu-lampu di dalam rumah itu sudah dipadamkan.
***
Seandainya tidak ada Allah melalui perantaraan Kiyai Na’im, entah apa jadinya jiwa Zulfin dan Dlori saat ini. Hanya saja, baik Zulfin maupun Dlori sama-sama tidak tahu, apalagi menyadari, “pertolongan” Kiyai Na’im itu. Mereka tidak merasakan perubahan pada dirinya sendiri, dan hanya orang-orang tertentu di Siwalan yang merasakan perubahan itu. Terkadang di antara kita, memang, seperti Dlori atau Zulfin itu. Oleh seseorang, atau oleh suatu keadaan, atas ijin Allah, kita sebenarnya berubah. Kita menapaki langkah yang “berbeda” dari langkah-langkah sebelumnya. Kita masuk ke dalam suatu lingkungan “yang baru”. Kita tidak seperti kemarin atau masa lalu. Hanya saja, kita tak tahu, atau kita tak menyadari.
Tak terdengar lagi teriakan-teriakan Zulfin. Tak terlihat lagi air matanya yang meleleh-leleh. Hatinya pun tak merasakan sakit atas hinaan dan caci-bui Wuryani. Bahkan ketika ia tahu, menurut Sri Rejeki—yang memberitahunya bahwa Jumilah, Barokah, Surti, dan Sukinah seringkali datang ke rumah Wuryani hanya untuk menggunjing-gunjingnya—masih ada orang-orang yang menggunjing-gunjingnya, ia tampak tidak peduli.
Ia kelihatan pasrah.
Ia tidak merespon.
Ia membiarkannya.
Tanpa caci-bui.
Tanpa merendahkan.
Tanpa balas menggunjingkan.
Pintu rumahnya lebih sering ditutup daripada dibuka. Bahkan ia yang selama ini jarang sholat berjamaah di masjid—tak sebanding dengan kedekatan rumahnya dengan masjid itu—sekarang sering datang untuk sholat berjamaah. Ketiga anaknya pun diajak serta ke masjid. Dan, tentu saja, para penggunjingnya juga sering tampak sholat berjamaah di masjid. Barokah adalah ibu yang paling rajin sholat berjamaah di masjid dibandingkan dengan Wuryani, Jumilah, Surti, dan Sukinah. Hanya saja, Barokah akan ikut sholat berjamaah di masjid ketika sholat maghrib dan sholat subuh saja. Bahkan, tak jarang ia sebelah-menyebelah dengan Zulfin, menjadi bumum bersama-sama. Aduhai, terkadang aneh pemandangan ini: Selepas salam dan mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, para bumum saling berjabat tangan. Barokah dan Zulfin pun begitu, seakan dosa dan kesalahan lebur seketika itu juga, tetapi setelah keluar masjid, dosa dan kesalahan pun diulangi oleh satu atau keduanya. Selesai sholat berjamaah, ketika sebagian jamaah putri saling bersitanya basa-basi, Zulfin langsung mengajak ketiga anaknya pulang ke rumah.
Dlori pun tak jauh beda.
Istrinya tak lagi menyalah-nyalahkannya. Sejak sadar dari pingsannya yang terakhir, tak sekali pun terdengar Zulfin mengumpatnya. Air mata istrinya terkadang memang mengalir ketika anak-anak sudah tidur dan ketika ia tak bisa memejamkan mata. Dlori sebenarnya juga sama. Saat-saat seperti itu, gambaran wajah Musa sangat jelas di pelupuk mata. Oh, siapakah dia yang sanggup menahan air matanya bila teringat anaknya meninggal dunia? Anak yang terkasih, anak yang tersayang, bayi yang sedang lucu-lucunya dan sangat menggemaskan, aduh, siapakah dia yang mampu menahan air mata ketika mengingatnya??
Seraya berlinangan air mata, Zulfin sering mengungkapkan kerinduannya tentang Musa kepada Dlori, “Seakan aku masih mendengar tangisannya. Seakan aku masih melihat dia merangkak-rangkak mengejar kakak-kakak yang menggodanya. Oh, anakku Musa. Wahai belahan jiwaku…”
Ketika itu Dlori hanya bisa mengatakan untuk menguatkan hati, “Kerinduanmu adalah kerinduanku juga, duh istriku. Tetapi anak kita sudah tenang di alam baka.”
“Betapa pendek umurnya. Oh, buah hatiku…”
“Marilah kita bersabar, sayang. Kita selalu berdoa untuk kebahagiaannya di sisi Allah SWT.”
“Mas, maafkanlah aku karena telah menyalah-nyalahkanmu…”
“Iya. Mas juga minta maaf sebab telah melukai hati dan perasaanmu.”
“Aku seringkali sedih melihat Harun seperti mencari-cari Musa…”
“Aisyah pun begitu. Ia masih sering bertanya-tanya tentang adiknya.”
“Mas, Wuryani masih sering menggunjing kita. Juga Barokah, Surti, Jumilah, dan Sukinah. Mereka sering berkumpul-kumpul di rumah Muniri.”
“Biarlah itu dilakukannya, dik. Bahkan seandainya Wuryani hendak menari-nari atas musibah yang kita alami, kita seharusnya memang tak perlu peduli.”
“Iya, mas. Aku juga sudah tak peduli. Aku sudah kebal dengan segala hinaan dan pergunjingan ini. Kasihan anak-anakku. Oh, dia melihatku sering bertengkar dan mengomel-ngomel sendiri.”
“Mulai saat ini, marilah kita memikirkan diri kita saja, dik. Kita fokus pada hidup kita, pada anak-anak kita. Kita ndak usah pedulikan orang lain. Kita tak perlu menanggapi perkataan orang lain. Aku akan kembali ke sawah dan ladangku. Aku akan bekerja lebih giat lagi. Demi anak-anak kita.”
“Iya, mas. Demi anak-anak kita. Akan aku ajari mereka berbagai hal. Mereka adalah masa depan kita.”
“Masih ingatkah engkau akan apa yang pernah dikatakan Mbah Nurjanah, sayang?”
“Perkataan yang mana, mas?”
Jadikanlah anak-anakmu sebaik mungkin. Tidak mungkinlah orang akan selalu iri atau menggunjing seumur-umur. Kalau mereka capek, mereka akan diam sendiri. Sementara itu, lebih baik kau buktikan bahwa kau mampu! Kau mampu menjadi ibu yang terbaik buat anak-anakmu. Kelak, mereka akan terdiam manakala melihat anak-anakmu menjadi anak-anak yang baik, sukses, membanggakan, dan membahagiakan kedua orang tuanya. Bungkamlah kritikan dengan bukti. Dan buktikan bahwa dirimu mampu!
Lalu Dlori menambahkan dan menekankan, “ Kau pasti mampu, istriku. Kau mampu menjadi ibu yang terbaik.”
“Kau juga akan menjadi ayah terbaik buat mereka, mas.”
“Iya, kita akan berusaha sekuat tenaga.”
“Aku mencintaimu, mas…”
“Aku juga, dik.”
“Aku sangat mencintaimu…”
Mereka pun berpelukan.
Saling menguatkan.
Bua benang-benang takdir pun kembali terpintal. Di siang-siangnya. Di malam-malamnya. Dari dua hati yang sama-sama sedih, sama-sama kehilangan, sama-sama pasrah akan segala pergunjingan, sama-sama menguatkan untuk menjadi orang tua terbaik buat anak-anaknya, luapan cinta dan kasih antar keduanya, eratnya pelukan, bersekutu dengan dinginnya malam dan hembusan angin yang masuk melalui celah-celah dinding, perut Zulfin pun mulai terisi lagi….
***