Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Kelahiran Kembali

📅 02 July 2026 📚 Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 18 menit baca 📑 Bab 19

Dada Wuryani sakit. Jantungnya seakan hendak copot dari tempatnya. Akhir-akhir ini, sejak beberapa waktu yang silam, sepertinya ia mengalami sesak nafas. Tarikan dan hembusan nafasnya keras terdengar. Seperti orang sakit. Mengi. Padahal dia tidak punya riwayat penyakit seperti itu. Nenak-moyangnya juga tidak. Anak-anaknya juga tidak. Kalau sore hari, sebelum maghrib dan setelahnya, suhu badannya meningkat. Wajahnya seperti terbakar panas. Nafasnya turun naik begitu cepat, tak teratur, dan tersengal-sengal. Duh, apakah yang sebenarnya tengah dialaminya itu?
“Kau suka tidur larut, Buk,” Muhaya berkata.
“Ndak!” sanggah Wuryani. “Aku ndak pernah tidur larut.”
“Lha buktinya, kemarin malam?”
“Itu karena aku terbatuk-batuk, Pak. Masak kamu ndak paham? Tenggorokanku gatal sekali. Nafasku sesak. Di tengah malam, aku terbatuk-batuk. Kau malah menyangkaku tidur larut malam. Dasar ndak punya perhatian!”
“Sudah beli obat di warung Mbah Kamiyem?”
“Sudah.”
“Ya, sudah. Kau banyak-banyak istirahat saja. Ndak usah tidur malam-malam. Ndak usah menerima tamu lagi. Selalu duduk-duduk di lantai marmer rumah anak kita itu ndak baik buat kesehatanmu. Besok aku bilang sama Jumilah dan yang lain, agar tidak menganggumu dulu.”
Wuryani terdiam.
Terdiam bukan karena nasihat Muhaya.
Terdiam karena pikirannya melayang-layang. Melayang ke Jumilah dan teman-teman ngobrolnya itu. Ini berkaitan dengan kejadian-kejadian terbaru di Siwalan. Juga berkaitan dengan ketiadaan kabar dari semua anak-nya. wuryani tidak sadar, dada sakit, sesak nafas, dan nafasnya yang sering tersengal-sengal akibat dari pikirannya yang bersekutu dengan hatinya.
Ia telah dua kali mengirim surat untuk anak-anaknya. Bolehlah anak-anak yang lain tidak membalas suratnya itu. Namun, ia sangat mengharap balasan surat dari Muniri, anak kesayangannya di antara yang disayang-sayang. Padahal ini sudah berbulan-bulan. Rasa rindu yang menjura-jurai bertemu dengan harapan yang tak kesampaian menyebabkan hati dan pikirannya goyah.
Namun masalah itu adalah sederhana!
Itu masih bisa diatasinya.
Sesungguhnya, pikirannya kalut dan hatinya kacau karena mendengar perkataan Surti yang dikatakannya berkali-kali. Apalagi Sukinah menambah-nambah. Barokah membenarkan, dan Jumilah meng-iya-kan. Sampai dua hari yang lalu—dan hal itu sudah entah untuk keberapa kalinya dikatakan—Surti berkata seperti ini, “Zulfin telah berubah. Semuanya juga berubah. Mereka sudah tak peduli lagi. Mereka tidak memedulikan apa kata tetangga lagi.”
Menambah-nambahlah Sukinah, “Padahal aku yakin Zulfin tahu kita sering menggunjingkannya. Sepertinya kita tidak lagi dianggapnya sama sekali!”
Dan membenarkanlah Barokah, “Hmmm…, kalian benar. Saat sholat maghrib, entah sudah berapa kali aku berdiri berjajar dengannya. Aku di sebelah kiri, dia di sebelah kananku. Entah sudah berapa kali aku bersalaman dengannya setelah salam. Aku lupa persisnya berapa. Dia juga sering mengajak anak-anaknya itu ke masjid. Hmm, sekarang dia sudah hamil lagi. Musa sudah tak diingatnya lagi.”
Dan meng-iya-kanlah Jumilah, “Iya, Mbokde. Kehamilannya adalah tanda bahwa dia sudah berubah. Dia sudah melupakannya.” Lalu kepada Wuryani, “Kita harus siap-siap nyumbang lagi, Mbok. Zulfin sepertinya sudah lupa bahwa dia pernah menampar pipimu keras sekali!”
Mendengar semua itu, Wuryani diam.
Wuryani bungkam.
Sepasang bibirnya yang kering dan hitam itu terkatup rapat.
Perkataan mereka itu bagai pisau yang menyayat hatinya, bagai sembilu yang menusuk jantungnya. Rasa senang dan puas diri dulu melihat kesedihan dan air mata Zulfin ditinggal mati Musa anaknya telah sirna dari hatinya, padahal ketika itu laksana ia hendak menari-nari. Ibarat kata, ia, ketika itu, seperti yang dikatakan pepatah: Menari-nari di atas penderitaan orang. Kau masih ingatkan bagaimana ia lebih sering diam, tak pernah menghujat dan merendahkan Zulfin, dan bahkan terkesan memberi peringatan pada para ibu itu agar mereka tidak menggunjing-gunjingkan Zulfin? Ingat tidak, kau? Bukankah justru saat itu para ibu sendiri yang seru menggunjingkan Zulfin? Wuryani merasa menang ketika itu. Jiwanya puas. Ia tak perlu berkata-kata menghina lagi, sebab ada lidah-lidah orang lain sebagai penyambung lidahnya yang bercabang dan mulutnya yang berbisa, untuk melakukannya.
Tetapi kini?
Sungguh, Wuryani tidak bisa menerima!
Hatinya sakit.
Pikirannya sakit.
Sepertinya, ia ingin terus melihat Zulfin dalam kesusahan, Zulfin dalam penderitaan dan kesedihan. Setelah kematian Musa, kalau perlu—hati Wuryani berharap—Umi meninggal, lalu meninggal pula Aisyah, dan disusul Harun. Ketika Zulfin berlarut-larut dalam kesedihan karena sulit menerima kenyataan hingga ia seperti orang gila, hati Wuryani padahal telah riang-gembira. Tetapi kenapa sekarang skenarionya bisa berubah begini rupa?
Bua di hari berikutnya, ketika Surti sudah lebih dulu datang dan duduk di teras rumah Muniri seakan-akan teras itu sudah seperti teras rumahnya sendiri, Wuryani tak keluar dari rumahnya. Jumilah datang. Jumilah pun segera duduk bercakap-cakap dengan Surti. Tetapi Wuryani tetap tak keluar dari rumahnya. Sukinah dan Barokah tidak datang. Dan ketika keduanya sudah berbincang agak lama, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Dua hari berikutnya, giliran Sukinah yang berkunjung. Melihat kelebatan Sukinah yang berjalan menuju teras rumah itu, Surti pun segera menyusul. Beberapa saat kemudian, Barokah sudah ikut bergabung. Tetapi Jumilah tidak datang. Tetapi Wuryani juga tak mau keluar dari rumahnya.
Dan seminggu setelah itu, Sukinah dan Surti bertemu di kali saat keduanya mencuci-cuci. Sembari kedua tangannya sibuk mengucek-ucek baju, Surti berkata kepada Sukinah, “Mbok Wur kenapa, ya?”
Surti menjawab, sembari tangannya juga mengucek-ucek celana, “Ah, entahlah. Dia sudah tak mau menemui kita lagi.”
“Kupikir juga begitu.”
“Apa dia sakit?”
“Pak Muhaya tak bilang bahwa dia sakit.”
“Terus kenapa kira-kira?”
“Ndak tahulah aku,” jawab Surti, “Mungkin dia sudah berubah.”
Sudah berubah.
SUDAH BERUBAH.
Itulah kata kuncinya saat ini. Bila anggapan mereka benar—bahwa Wuryani telah berubah—mereka pun tak bisa berbuat apa-apa. Pada saat yang sama, perubahan itu sangat berpengaruh pada diri mereka sendiri. Wuryani tidak lagi seperti dulu. Wuryani sudah menutup pintu rumahnya seakan-akan ia menutup sepasang bibirnya. Dari mereka.
Bua dua minggu setelah itu, hanya Surti yang masih tampak klinteran di depan rumah Muniri. Dan pelan namun pasti, muncullah di hati Surti rasa tidak suka pada Wuryani!
***

Bua begitulah angin. Angin akan berhembus ke mana tekanan tinggi membawanya. Ia muncul dari atas bukit menuju lembah, lalu menyapu daun-daun ilalang. Ia menggoyang-goyangkan ranting-ranting kecil dan dedaunannya. Ia menyorong awan, membelai pepohonan dan memeluk batu. Angin tak pernah diam. Angin selalu bergerak. Terkadang berupa sepoi-sepoi hembusannya, di saat lain berubah menjadi badai yang meluluh-lantakkan.
Hati orang-orang itu seperti angin. Menclok dari satu atap lalu bertengger di atap yang lain. Menjamah satu pohon dan mendekap pohon lain. Di bulan ke tujuh kehamilah Zulfin, teras rumah Muniri sepi dari siapa pun orang. Tak ada Barokah. Tak juga Jumilah. Tak tampak batang hidung Surti. Tak jua Sukinah.
Sri Rejeki terpingkal-pingkal sendiri melihat hal itu. Hatinya mengajaknya bersendau-gurau, “Dasar para ibu yang hobi menggunjing!” Ketika tak ada lagi yang diajak berguncing, pergilah mereka. Sepilah teras rumah Muniri. Sri Rejeki tertawa-tawa. Ketika hal itu ia sampaikan pada Mbah Kamiyem, pemilik warung itu hanya mengangguk-angguk.
“Dengar-dengar sekarang Surti memusuhi Mbok Wuryani, Mbah.”
“Ah, masak?”
“Dengar-dengar begitu.”
“Kok bisa?”
“Mana aku tahu, Mbah. Dengar-dengar seperti itu.”
“Padahal Surti adalah orang yang paling dekat dengan Wuryani ya?”
“Iya—seakan-akan Surti merasa dirinya adik Mbok Wuryani.”
“Memang aneh. Dia yang paling dekat justru sekarang dia yang memusuhi.”
“Ya sudah, Mbah. Aku pulang dulu. Teribuasih lho, sudah mau dihutangi lagi.”
“Iya. Kalau sudah ada duit, jangan lupa bayar.”
“Iya, Mbah. Tenang saja…”
Angin itu memang tengah berhembus ke rumah Dlori. Bila angin bisa memihak, bua ia saat ini berpihak pada Zulfin!
Dari hari ke hari, wajah Zulfin tampak cerah dan bercahaya. Memang sih, wajahnya itu kelihatan sedikit pucat. Tetapi hal itu adalah “penampakan” yang biasa—umum terjadi pada wajah seorang ibu yang tengah hamil besar. Ia bahagia. Hatinya berbunga-bunga. Setiap Kamis sore, ia dan suaminya, dan juga ketiga anaknya, pergi ke kuburan menziarahi Musa. Dipimpin Dlori, mereka pun mendoakan Musa. Terkadang air mata Zulfin tampak menetes, tetapi air mata itu air mata pasrah, bukan sedih dan meronta. Musa telah tenang di alam baka. Haji Ridlwan mengatakan bahwa Musa meninggal dengan syahid, dan mereka percaya. Bilamana Zulfin menangis, itu semata-mata kerinduaan sesaat akan bayangan Musa dan harapan kehamilannya akan berjalan lancar, dan kelak bila anaknya lahir dan berjenis kelamin laki-laki, akan dinamai anak itu dengan nama Musa.
Ya, Musa.
Sebagai “perhomatan” atas meninggalnya Musa.
Juga, sebagai pengobat cinta dan kerinduan kepada almarhum Musa.
Zulfin dan Dlori telah sepakat untuk itu.
Dan mereka bahagia.
Perhatian dan kasih mereka kepada ketiga anaknya pun kian besar. Harun sudah masuk TK. Harun sudah pandai menyanyi, juga sudah bisa membaca. Kini dia sedang belajar naik sepeda, walau sepeda empat roda. Berkali-kali Harun meminta ayahnya untuk melepas kedua roda kecil yang berada di sebelah belakang, tetapi sang ayah belum mengijinkan. Harun bermain-main dengan sepedanya itu di halaman dan samping rumah. Ibunya berpesan agar tidak mengayuh sepedanya di jalan. “Bahaya,” katanya. “Nanti kau ketabrak mobil.” Dan Harun patuh. Selain itu, jalan di depan rumahnya juga tidak terlalu bagus dan rata. Ada jalanan yang menanjak, terutama di depan rumah Sri Rejeki hingga depan rumahnya.
Aisyah masuk PAUD. Umi sudah berlarian ke sana ke mari—terkadang ia menangis-nangis ingin ikut kedua kakaknya pergi ke sekolah. Umi sudah tidak mau tidur dengan ibunya. Dia memilih tidur dengan Aisyah.
Lik Soyi merasa senang dengan perkembangan dan pertumbuhan ketiga anak majikannya itu. Gaji yang diberikannya tiap bulan juga lancarlah. Ketiga anak Zulfin itu juga tidak sering bikin ulah. Sangat berbeda dengan Ihsan—anak dari pasangan Kumasi dan Jumilah. Ihsan seumuran Harun. Dengan sengaja, anak ini pernah menyiram sayur bayam ke wajah ibunya. Lik Soyi sering tersenyum sendiri bila mengingat itu, dan membandingkannya dengan anak-anak Zulfin. Harun sudah bisa mandi sendiri. Aisyah masih sering berebutan ember besar dengan Ummi. “Aisyah kan sudah besar,” begitu Lik Soyi sering menasihati, “biar dik Umi yang mandi di situ ya?” Aisyah pun mengalah. Aisyah mandi di kamar mandi. Tetapi, ketika Umi selesai mandi, seringkali Aisyah menggunakan air ember besar adiknya itu untuk mandi dengan air bekas adiknya. Lik Soyi sering lupa untuk segera memmakang air itu. Tetapi ah, nggak apa-apa! Pikirnya.
Kebahagiaan memang terpancar dari keluarga itu. Dan pancaran itu tampak ke mana-mana. Seperti cahaya—orang menjadi bisa melihatnya dengan jelas. Tak lepas-lepas Sri Rejeki mengagumi kebahagiaan itu. Di beberapa kesempatan, ketika Lik Soyi mengajak Umi main di rumahnya, Sri Rejeki berkata, “Oalah, nduk-nduk,” katanya pada Umi, seakan-akan Umi mengerti, “dulu ibu dan bapakmu sering dihina-hina. Mereka yang menghina orang tuamu itu karena iri saja. Oalah…”
Lalu ucapannya kepada Lik Soyi, “Sekarang aku tak melihat mereka berkumpul-kumpul lagi, Lik. Apa kau pernah melihatnya?”
Lik Soyi menggeleng. Pikirannya ingat ke masa lalu, bua ia mengenangnya di hadapan Sri Rejeki, “Aku masih ingat, dulu Mbok Wur pernah mencegatku.”
“Wis, ceritakanlah. Ceritakanlah. Aku ingin mendengarnya…”
Bua berceritalah Lik Soyi, “Saat itu adalah hari-hari pertama aku bekerja di rumah dik Zulfin. Saat itu, telingaku sendiri sudah mendengar Mbok Wuryani suka membangga-banggakan anaknya. Ketika aku habis belanja di warung Mbah Kamiyem, dia menghadangku dan ngomong tak karuan.”
“Tak karuan gimana?”
“Ya gitu-lah. Mengata-ngatai belanjaanku yang sedikit. Katanya, Zulfin itu pelit-lah. Teh yang kubeli murahan-lah. Katanya, gaji babu di rumah anaknya lima juta-lah.”
“Ah, masak?”
“Ya begitu dia ngomong padaku.”
“Ada-ada saja Mbok Wur itu. Mana ada gaji babu 5 juta?”
“Ya ndak tahu aku, Mbak…”
“Katanya Mbok Wur sakit, Lik.”
“Sakit…., sakit apa?”
“Entahlah. Dia juga tak pernah tampak di masjid.”
“Kalau itu sih dari dulu dia jarang ke masjid, mbak.”
“Sekali waktu, dia datang untuk sholat kok. Aku lihat sendiri. Hanya saja, sudah beberapa bulan ini dia tak pernah datang sama sekali. Aku tak melihatnya sendiri.”
“Ya, mungkin dia sakit.”
“Katanya bengek—sakit bengek?”
“Ya bulum-lah. Mbok Wur kan sudah tua. Darimana tahu?”
“Surti yang bercerita.”
“Oh…”
***

Menjelang hari-hari kelahiran anaknya, Dlori mendapatkan kesuksesan lagi dari pertaniannya. Dia sukses karena dia tak menanam jeruk dan melon. Dia sukses dengan hasil panen padinya, kacangnya, jagungnya, dan singkongnya. Dan seperti perkiraannya semula, saat ini harga jeruk dan melon ambruk. Guncang. Anjlok. Bahkan di luar dugaannya.
Kabar kesuksesannya, dulu, yang telah menanam jeruk dan melon ternyata memang beredar ke mana-mana. Tak hanya warga Siwalan saja yang mengikuti jejaknya itu, warga Seworan pun juga banyak yang menanam jeruk dan melon. Begitu pun warga Karangjati, Ketoyan, Gagatan, Wonosegoro, dan lain-lain. Di beberapa desa yang agak ke utara, tentu tak perlu dihitung. Wilayah utara adalah wilayah yang “kritis”. Di wilayah ini, warga sering mengalami kesulitan air. Pengairan tak lancar. Tanah-tanah seakan susah ditanami. Bua di kecamatan ini, hanya desa-desa di wilayah selatan sajalah yang lebih bumur. Ketika banyak orang memanen jeruk dan melonnya, pada saat yang sama banyak orang membutuhkan panenan padi. Bua beruntunglah ia yang menanam padi. Jeruk dan melon menjadi tidak terlalu laku. Dengan sedikit siasat dagangnya, Dlori pada akhirnya bisa menjual beras dengan harga yang relatif tinggi. Tengkulak tak bisa memainkannya—sebagaimana para tengkulak memainkan harga jeruk dan melon saat ini. Di hadapan Dlori, tengkulak terpaksa harus mengikuti permainan harga yang ditentukan Dlori!
Dan hari kelahiran itu pun tiba. Pengalaman melahirkan anak yang sudah berkali-kali membuat kelahiran Zulfin sangat lancar. Tak perlu ke puskemas. Tak perlu ke rumah sakit. Bahkan tak perlu mengundang bidan. Dukun bayi cukup-lah. Dan jenis kelamin anaknya yang baru lahir ini laki-laki. Dan langsung dinamailah sebagai Musa.
Ya, Musa.
Seakan Musa hidup lagi.
Seakan Musa mengejawantah menjadi bayi lagi—bayi yang lucu, yang menggemaskan, bahkan yang beratnya lebih berat dari berat Musa saat itu, dan rambutnya lebih lebat dari rambut kakaknya yang telah meninggal itu. Lengkap sudah rasa bahagia Dlori dan Zulfin. Rasa bahagia itu pun hendak diekspresikan mereka.
“Kita nanggap wayang ya, Bu?” usul Dlori.
“Wayang, Yah?”
“Iya, wayang.”
“Jangan Wayang dong.”
“Kenapa, Bu?”
“Aku jadi ingat Musa.”
“Tetapi kita kan sudah punya Musa lagi.”
“Ya, ya. Kau benar!”
Zulfin setuju.
“Dalangnya siapa, Yah? Ki Paimin Sosronegoro?”
“Ah—dalang itu,” sergah Dlori. “Dia tak patut untuk didengar, Bu. Tentu saja bukan dia.”
“Terus siapa? Jangan Ki Anom. Terlalu mahal harganya.”
“Bagaimana kalau ke Joko Edan?”
“Yang dari Pudakpayung (Semarang) itu, Yah?”
“Iya, dia. Dia kalau sudah maen “Goro-Goro”, bisa membuat grr-grran, Bu!”
“Mantap, Yah. Iya, aku setuju. Tetapi harganya mahal ndak, Yah?”
“Cukuplah uang kita untuk mengundangnya.”
“Aku ikut saja.”
“Melalui Ki Joko, kita bisa menyampaikan uneg-uneg kita tentang warga Siwalan ini, Bu.”
“Ya, ya, ya. Cepat undanglah.”
Persiapan pun secara cepat dan kilat diadakan. Toh Dlori juga sudah berpengalaman mengundang dalang. Walau begitu, ia tetap melibatkan orang-orang tertentu, tokoh masyarakat, sesepuh desa untuk diajaknya bermusyawarah. Bua tercapailah mufakat. Toh yang mendanai juga Dlori. Para orang tua itu hanya bisa mengamini.
Dlori pun akhirnya berangkat ke Semarang. Ada dua misi yang diembannya. Pertama, mengundang Ki Joko untuk ndalang di rumahnya dalam rangka walimatul maulid Musa Ahmad bin Dlori Ahmad. Kedua, menyampaikan pesan-pesan yang “harus” disampaikan oleh ki dalang nanti ketika manggung di Siwalan. Ketika Dlori telah bertemu dengan Ki Joko, menyampaikan maksud kedatangannya, menyepakati harganya, menyepakati waktu pertunjukkannya—dan ini berjalan dengan mulusnya—Dlori segera menyampaikan misi hatinya. Ujarnya pada Ki Joko, “Ki, kalau tidak keberatan, saya mohon Ki Joko menyenthil kebiasaan buruk yang terjadi di desa saya.”
“Oh, tentu, tentu!” jawab Ki Joko. “Hal seperti itu sudah menjadi bagian dari pekerjaanku, mas. Mendalang itu tidak hanya soal bagaimana kita membawakan sebuah lakon, mas, tetapi bagaimana menjadikan lakon itu sebagai cermin dari kehidupan sehari-hari.” Ki Joko juga menambahkan, “Wayang itu sarana dakwah, mas. Kanjeng Sunan Kalijogo dan para sunan yang lain sudah mencontohkannya secara bagus. Benar bahwa wayang itu awal mulanya termasuk dalam kebudayaan Hindu-Budha. Dalam kepercayaan Hindu, epos Mahabharata juga dikenal sebagai kitab Weda yang ke-V (Rigweda ke-I, Samawda ke-II, Yayurweda ke-III, dan Atharwaweda ke-IV), lebih-lebih karena mengandung Bhagawadgita, yang dipandang sebagai a-l-Qur’an atau kitab Injil-nya penganut agama Hindu. Tetapi wali songo, lebih khusus Sunan Kalijogo telah membuat pakem yang baru. Unsur-unsur Islam dimasukkan dalam pagelaran wayang.”
“Iya, Ki.”
“Lakon Jimat Kalimosodo, misalnya,” Ki Joko membedar contoh lagi, “atau Jamus Kalimosodo, itu kan dari kanjeng Sunan Kalijogo, mas? Itu tidak ada sebelumnya dalam wayang Hindu-Budha. Melalui tokoh Yudhistiro, kanjeng Sunan mengajarkan ilmu dan hikmah Keislaman agar mudah dipahami dan diserap masyarakat tanpa terasa. Juga lakon “Bhima Suci”—lakon yang kamu pinta untuk saya mainkan itu. Tokoh sentralnya memang Bhima, atau Werkudoro. Tetapi kanjeng sunan memberikan wacana Bhima sebagai orang yang mengikuti ajaran Tauhid, mempercayai keesaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, ya Gusti Allah SWT itu. Gitu mas, kira-kira…”
“Iya, ki.”
“Terus, pesan apa yang harus aku sampaikan nanti? Ada masalah apa yang terjadi di Siwalan sana?”
Dlori pun bercerita singkat, agak malu-malu, “Begini, Ki. Ada ‘penyakit’ yang masih terus menjangkiti masyarakat Siwalan. Penyakit itu penyakit iri dan dengki. Saya dan keluarga telah menjadi korban-nya, Ki.”
“Weeeladalah….!!” Seru Ki Joko Edan.
Lalu Dlori menceritakan detil-detilnya, dan Ki Joko mendengarkan dengan seksama. Bua setelah Ki Joko memberikan janji akan mengungkap masalah itu dan membuat hati Dlori merasa senang, Dlori pun segera pamit pulang. Hati Dlori berbunga-bunga.
***

Dan pertunjukkan itu tibalah pada waktunya. Bagi warga Siwalan dan sekitarnya, nama Ki Joko Edan memang cukup populer, tak kalah jauh dibandingkan Ki Anom Suroto atau Ki Manteb Sudarsono. Seminggu sebelum pagelaran itu dilaksanakan, masyakarat Siwalan dan sekitarnya seakan sudah tak sabar untuk melihat pertunjukkan itu.
Tak heran bila jalan-jalan utama di Siwalan pun sesak. Tak ubahnya ketika Ki Anom mentas di acara Dekahan Desa di bumi Seworan kala itu. Warga Siwalan sendiri—laki-laki dan perempuan, tua maupun muda—hampir semuanya keluar dari rumah. Tak terkecuali pula Kiyai Na’im itu. Tak terkecuali pula Muhaya, Muh. Tohar, Haji Ridlwan, Haji Mukhtar, Kardi, dan lain sebagainya. Kumasi tidak mau datang menonton pertunjukkan itu, entah apa alasannya. Dia, diam-diam, lebih memilih mendengar lakon itu dari rumahnya.
Malam itu, ketika bulan bersinar cerah, langit cerah dengan gemerlap bintang-bintang, Ki Joko benar-benar membawakan lakon “Bhima Suci”. Sebuah lakon yang juga sangat disukai dan digemari banyak orang. Tampak sekali di antara jubelan para penonton yang hadir, para pemuda-pemudi berduyun-duyun dan duduk-duduk di tempatnya masing-masing. Pemandangan ini sedikit berbeda dengan pertunjukkan wayang di Seworan. Beberapa pemuda yang, kala itu, tak melihat pertunjukkan Ki Anom dan memilih menunggui telik-telik untuk menjebak ikan, malam ini mereka datang bersama para pemuda yang lain. Ki Joko, bagi mereka, lebih menarik untuk dilihat penampilannya daripada Ki Anom. Ki Anom terlalu sesuai pakem, sedang Ki Joko sering keluar dari pakem, dan itu sangat memikat hati para pemuda dan pemudi desa.
Kita tak perlu mengikuti pagelaran wayang semalam suntuk itu dari awal cerita hingga subuh. Yang terpenting saat ini bukan itu bagi kita. Kita ingin melihat dan mendengar, apakah pesan-pesan hati yang dimintakan Dlori untuk disampaikan Ki Joko benar-benar disampaikan atau tidak. Sebab janji adalah janji. Seorang muslim tak boleh ingkar janji! Kita juga akan melihat bagaimana reaksi orang-orang tertentu mendengar Ki Joko menyentil, menyindir, dan bahkan mendamprat orang-orang yang memili watak dan tabiat suka menggunjing, mengumpat-umpat, membangga-banggakan dirinya sendiri, merendahkan orang lain, menyalah-nyalahkan, dan membenar-benarkan sendiri.
Dan janji itu ditepatinya.
Di beberapa bagian, Ki Joko menyentil, menyindir, dan mendapratnya. Misalnya ketika Bhima kebingungan terhadap soal yang ia buat sendiri tentang sangkan paraning dumadi, lalu ia menemui gurunya—Pendeta Durna—dan merasa kesal kepada sang guru—sebab seakan-akan sang guru mempermainkannya—bua Ki Joko pun menyindir orang-orang tertentu tentang tabiat buruk manusia. Lalu, ketika Sengkuni menyampaikan siasat liciknya untuk menjebak Bhima agar Bhima mengurungkan niatnya menemukan kesejatian diri, Dhurmogati malah mengajak Paman Patih Sengkuni-nya itu untuk berdebat. Melalui lidah Dhurmogati, Ki Joko menyindir perilaku orang yang berwatak rakus, serakah, licik, mau memang sendiri, suka menjelek-jelekkan orang lain, dan sebagainya. Lalu, ketika Bhima dicegat oleh ibu dan saudara-saudara Pandawa-nya, dan juga dihadang Hanuman agar menghentikan niatnya untuk mendapatkan Tirto Pawitro di Samudera Minangkalbu, Ki Joko pun “mendamprat” orang-orang yang munafik—kelihatannya baik, tetapi buruk; kelihatannya memihak, tetapi memusuhi. Dan puncak dari sindiran, sentilan, dan dampratan Ki Joko pada orang-orang yang buruk wataknya adalah saat dia sampai di bagian “Goro-Goro”.
Gayeng. Rame. Seru. Tempik-sorak. Suit-suitan. Siul-menyiul. Senyum. Tawa. Angguk-angguk kepala. Geleng-geleng kepala. Meriah sekali. Para pemuda seakan tak mau beranjak sedikit pun dari duduknya. Sesekali, ada di antara mereka yang berteriak, “Betul! Betul”, dan di lain waktu, ada juga yang mulutnya usil dan berteriak “Di Siwalan ini banyak yang seperti itu ki Dalang!”
Yang lain menyahut, “Tul, kayak Mbok Wur.”
“Mbok Wur…!!”
“Lanjut ke Dalang!!”
Bua begitulah.
Lakon yang dibawakan Ki Joko sangat memuaskan hati. Sangat menarik. Sangat menghibur. Sangat memikat. Dan sangat sesuai dengan kenyataan. Khususnya, kenyataan di Siwalan ini.
Ketika pagelaran usai, orang-orang pun bangkit dari duduknya masing-masing. Mereka berjalan tegak, menahan kantuk, tetapi dengan hati yang puas. Mereka saling berbisik dan saling mengagumi penampilan Ki Joko dan lakon yang dibawakannya, terutama sindiran-sindirannya yang di beberapa bagian sangat terasa pedas. Namun, di antara mereka ada yang pulang dengan wajah yang lesu, wajah yang menunduk, wajah yang kusu. Yang pulang dengan wajah yang demikian ini, yang paling memilukan, tentu saja Muhaya sendiri. Duh, kasihan sekali.
Suara pertunjukkan wayang yang didukung soudsytem kelas wahid itu memang terdengar membahana ke mana-mana. Dan…di kamarnya yang gelap itu, Wuryani yang tak pernah bisa memejamkan mata barang sekejap saja, wajahnya seakan berubah menjadi hancur dan pucat-pasi. Terkadang merah seakan dilalap api. Di pendengaran telinganya, di pikirannya, di perasaannya, dan di hatinya, lakon Bhima Suci yang dibawakan Ki Joko Edan dari awal hingga akhir adalah tentang dirinya. Semua-muanya menyambar hatinya. Jiwa Wuryani pun menggelepar-gelepar. Kobaran api amarah membakar seluruh relung-relung jiwanya saat ini—api yang bersekutu dengan sakit hati, benci, dan dendam.
***

← Kembali ke Daftar Bab