Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

G a n d r u n g

📅 02 July 2026 📚 Anak Bungsu yang Tak Dianggap ⏱️ 20 menit baca 📑 Bab 20

Anak-anakku…
Mungkin sudah saatnya bagi ibu untuk meninggalkanmu. Sebentar lagi, Gusti Allah pasti mencabut nyawaku. Aku sudah merasakannya. Aku akan mati dengan hati yang sedih, pilu, marah, benci, dan kecewa. Kalian anak-anakku yang kuharapkan mau membelaku, tetapi tak pernah sekalipun kalian balas suratku, apalagi mau menjengukku.
Kini semua orang di Siwalan memusuhiku. Barokah mendiamkanku. Jumilah menjauhiku. Sukinah menertawakanku. Dan Surti memusuhiku. Menjelek-jelekkanku. Menghinaku. Merendahkanku. Mencaci-buiku. Zulfin dan keluarganya menari-nari di atas penderitaanku. Jika aku mati dalam keadaan seperti ini, bua itukah yang kalian harapkan sebenarnya dari ibumu sendiri?
Oh, anak-anakku.
Sebelum aku mati, jenguklah aku. Obati sakitku. Terutama kau, wahai Muniri. Kau tinggal di Jakarta. Tentu kau kenal seorang ustadz yang sangat terkenal di mana-mana. Undanglah ia. Suruhlah berceramah di rumah ibumu. Sebagaimana Zulfin yang telah mengundang dalang edan itu hanya untuk menghujat ibumu, kuperintahkan kau untuk mengundang ustadz yang terkenal untuk membalas sakit hatiku ini. Jika kau tolak permintaanku, aku tak akan lagi mengakui kau sebagai anakku!
***

Jika Sengkuni itu berjenis kelamin perempuan dan mengejawantah dalam kehidupan nyata, tak berlebihan jika perwujudan itu ada pada diri Surti sekarang. Dulu Surti adalah orang yang paling keras dan bengis menjelek-jelekkan Zulfin dan menjadi pembisik yang ulung dan licik pada Wuryani. Surti dan Wuryani seolah tak bisa dipisahkan. Di mana ada Wuryani berkata-kata buruk, di situ ada Surti yang menambah-nambahkan kata-kata buruk. Seperti orang yang mengaku sebagai penyambung lidah Soekarno, bua begitulah lidah Surti menjadi penyambung lidah Wuryani. Akan tetapi, begitu gelagat telah berubah, begitu angin telah berhembus dan berbalik arah, begitu melihat Wuryani berada dalam tekanan yang terus-menerus dan bertubi-tubi, Surti pun menjauhi Wuryani, alih-alih pergi ke teras rumah Muniri. Bahkan Surti tak sudi lagi menggubris Wuryani. Bahkan Surti kini mempengaruhi Barokah, Jumilah, dan Sukinah untuk menjauhi Wuryani dan berada di belakang Zulfin!
Zulfin memang semakin berbahagia.
Pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk beberapa waktu yang silam memang menambah-nambah kebahagiaannya. Banyak orang datang ke rumahnya setelah itu, dari desa ini, dan dari desa-desa sekitarnya. Ada saja alasan bagi mereka untuk datang. Yang kaum laki-laki datang untuk menimba ilmu pertanian dari Dlori, dan yang perempuan datang untuk sekedar berbicang dan menimba ilmu pada Zulfin tentang merawat dan mendidik anak. Filosofi banyak anak banyak rejeki menjadi sangat digemari. Semua yang datang tampak hormat dan mengagumi keluarga yang berbahagia itu. Nama Dlori melambung tinggi. Dan, seperti kata pepatah, kesuksesan seorang lelaki-laki karena ada perempuan di sampingnya, nama Zulfin pun berkibar-kibar pula.
Orang-orang yang dulu suka menggunjing-gunjing pun tak terdengar lagi pergunjingannya. Mbah Kamiyem, yang kala itu kebingungan—seperti terjebak di antara dua tempat—untuk mendukung Wuryani atau Zulfin—kini secara jelas dan terang-terangan memihak Zulfin. Barokah, Jumilah, Sukinah, dan Surti sering tampak malu-malu dengan muka memerah jika terpaksa harus berpapasan dengan Zulfin di jalan, atau di warung Mbah Kamiyem. Mereka seakan merasa malu pada diri mereka sendiri, atas ucapan dan sikapnya yang licik selama ini.
Sri Rejeki semakin terkekeh-kekeh saja.
Nurjanah mesam-mesem.
Dan Zulfin sendiri…?
Kini Zulfin merasakan bagaimana rasanya menang!
Ya, Zulfin merasa menang.
Dan Wuryani kalah.
Wuryani, menurut hatinya, telah dihukum oleh dirinya sendiri. Bahkan suatu ketika, di saat Surti benar-benar kepepet karena kehabisan beras di rumahnya, Surti mendatangi Zulfin, alih-alih datang kepada Wuryani.
Surti menangis-nangis.
Surti menyembah-nyembah.
Menjijikkan?
Tetapi itulah yang terjadi.
Dengan berurai air mata, Surti meminta maaf atas segala dosa dan khilaf. Surti mengakui bahwa ia bersalah selama ini. Tetapi Surti tetap membela diri bahwa ia bersalah sebab mendengar Wuryani; selalu mendengar Wuryani.
Zulfin mengangguk-angguk. Lalu seakan-akan kepada anaknya, Zulfin mendudukkan Surti di tempat duduk di hadapannya. Dengan santun Zulfin menerima permintaan maafnya. Ndak apa-apa, katanya. Setiap orang pasti melakukan kesilapan. Sebaik-baik orang adalah ia yang mengakui dan menyadari kekhilafannya dan meminta maaf. Surti mengucapkan beribu-ribu teribuasih atas kemurahan hati Zulfin yang mau memaafkannya itu.
Lantas Zulfin bertanya, “Lalu apa yang bisa aku bantu—mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan.”
Surti menjawab setelah mengusap tetes air matanya yang terakhir, “Sebenarnya saya ndak enak untuk mengatakannya, dik. Tetapi saya tidak tahu lagi harus minta tolong ke mana. Beras saya di rumah habis. Panen melon suami saya juga belum laku-laku, malah rasa-rasanya habis dimakan anak-anak. Saya bingung, dik. Sekiranya dik Zulfin bisa meminjami saya beras…”
“Ssst…,” Zulfin memotong, ”tak usah meminjam. Kebetulan persediaan beras saya masih banyak. Ya…itung-itung anggaplah sedekah gitu lah, mbak.”
Zulfin pun memanggil Lik Soyi.
Lik Soyi datang menghadapi.
Kepada Lik Soyi, Zulfin meminta diambilkan beras. Sepuluh kilo gram. Satu bojog. “Jangan lupa tambah tempe dan tahu ya, Lik?”
“Iya, dik,” jawab Lik Soyi sembari melangkah ke dapur.
“Teribuasih, dik. Teribuasih. Duh, Gusti, bagaimana saya akan bisa membalas kebaikanmu, dik.”
“Ndak usah dipikirkan, mbak. Terhadap sesama, sudah sepantasnya kita saling tolong menolong to?”
“Iya, dik. Iya, dik. Teribuasih.”
Akhirnya, Surti pun pulang dengan menggendong beras se-bojog. Hatinya berbunga-bunga. Beras itu cukup untuk satu bulan lebih. Sembari menunggu hasil jualan melon suaminya. Sepanjang jalan, rasa kagum kepada Zulfin tak habis-habisnya. Diam-diam dia menyesal kenapa dulu lebih suka mendengar celoteh Wuryani jika ternyata tak menghasilkan apa-apa.
Beberapa hari kemudian, Surti tak bisa menahan mulutnya untuk tidak bercerita kepada orang-orang tentang kebaikan hati Zulfin. Beberapa minggu kemudian, sudah ada tiga atau empat orang di dukuh Siwalan yang diberi beras secara cuman-cuma oleh Zulfin. Tak tanggung-tanggung, rata-rata sebojog. Anak-anak kecil yang bermain ke rumahnya pun tak luput diberinya uang jajan. Janda-janda yang tak mampu pun dibantunya. Beberapa bulan kemudian, nama Zulfin sudah meroket ke mana-mana. Para pengemis datang darimana-mana. Para pencari sumbangan—atas nama yayasan yatim-piatu, pembangunan masjid dan mushola, atau kegiatan amal lain—berdatangan hampir tiap hari. Terkadang mereka diberi sumbangan ala kadarnya. Terkadang ada yang diberi sumbangan dalam jumlah yang menggiurkan.
Zulfin yang dermawan.
Zulfin yang baik hati.
Zulfin yang murah hati.
Zulfin yang tak ada duanya.
Zulfin yang tak ada bandingannya.
Semakin banggalah orang-orang yang merasa dekat dengannya. Surti sendiri semakin merasa dekat dengannya, menjadi penyambung lidah Zulfin untuk mengabarkan pada dunia betapa baiknya Zulfin dan suaminya.
Beberapa waktu kemudian, ketika Lik Soyi bertemu dengan Mbah Na’im di dekat air terjun tanpa disengaja, Mbah Na’im mengungkapkan satu hal yang sanggup membuat Lik Soyi diam seribu bahasa. Membuat jantung Lik Soyi berdegup kencang. Membuat dada Lik Soyi seakan sesak nafas dalam seketika.
Mbah Na’im, “Zulfin dan Dlori sedang menuju kematian!”
“Apa, Mbah?” tanya Lik Soyi, hampir memekik.
“Mereka mengira sedang melangkah dalam jalan kehidupan, padahal sesungguhnya mereka tengah menapaki jalan kematian.”
Sesaat, Lik Soyi kaget. Sangat-sangat kaget. Terkejut hatinya. Shock pikirannya. Perkataan Mbah Na’im yang disampaikannya dengan wajah yang serius itu bisa membuat mulutnya diam. Diam seribu bahasa. Namun, beberapa saat kemudian, setelah menunggu-nunggu Mbah Na’im mau melanjutkan perkataannya atau tidak dan kenyataannya Mbah Na’im justru asyik membersihkan ikan-ikan yang ditangkapnya, Lik Soyi tersenyum sendiri.
Lik Soyi menggeleng-geleng.
Lik Soyi, “Mbah Na’im ini—kau sudah melampaui batas. Koyo ngerti sak durunge winarah wae. Ada-ada saja kamu, Mbah, Mbah!”
Tetapi Mbah Na’im tak memedulikan perkataan Lik Soyi itu. Dan bahkan tak memedulikan langkah-langkah Lik Soyi yang meninggalkan tempat itu, meninggalkannya. Mbah Na’im bergumam, “Andai mereka sadar adanya kematian sebelum datang kematian. Jika yang mati itu hawa nafsu sebelum datangnya kematian, jiwa yang suci dan diridloi akan kembali ke Yang Mahasuci. Tetapi jika yang mati itu jiwa sebelum datangnya mati, oh betapa celakanya diri. Na’udzubillahi min dzalik.”
Mbah Na’im menggeleng-geleng.
Ikan-ikan wader pari itu sudah bersih dari kotoran. Mbah Na’im melangkah pulang hendak segera membakar tangkapannya.
***

Sudah berbulan-bulan Wuryani lebih sering berada di atas tempat tidurnya. Segala nasihat, saran, dan petuah dari Muhaya sudah tak habis-habisnya. Anak-anak yang diharapkannya mau menjenguknya ternyata tak ada satu pun yang menampakkan batang hidungnya. Sementara di luar sana, di rumah Zulfin dan rumah para tetangga, di langit desa Siwalan dan desa-desa sekitarnya, orang-orang berteriak-teriak mengunggul-unggulkan, membangga-banggakan, dan memuji-muji Zulfin dan keluarganya. Aduh, betapa sakit penderitaan ini. Betapa sakit hati ini. Betapa tersiksa jiwa ini. Sakit yang rasanya tiada tara, tiada bandingannya.
Tubuh Wuryani yang memang kecil dan kurus itu, kini tampak semakin kecil dan mengkerut saja. Daging-daging tubuhnya seakan-akan digerogoti oleh tulang-tulangnya sendiri. Bumi berguncang-guncang dengan guncangannya yang dahsyat di hatinya. Dan langit jiwanya seakan runtuh dan menimpuk kepala dan isi pikirannya, mengaduk-aduk perutnya, menjurai-juraikan usus-ususnya.
Beratlah kedua kaki untuk melangkah, bahkan pun hanya sekedar untuk pergi ke dapur atau ke sumur. Jiwanya yang lunglai karena sakit hati yang bercampur dengan iri, dengki, marah, sedih, dan putus asa membuat seluruh persendiannya lemas. Berbaring rasanya sakit. Duduk juga sakit. Berdiri sakit. Berjalan apalagi, lebih sakit. Keadaannya ini persis seperti yang digambarkan dalam kalimat: Hidup segan, mati pun tak bisa. Tak hidup, tak juga mati. Inginnya ingin mati, tetapi masih hidup-hidup terus; dada masih kembang-kempis, nafas masih keluar masuk dari mulut dan hidungnya.
Keadaan sang istri membuat Muhaya sedih. Tentu saja. Walau mereka sudah berumur tua, rasa cinta dan sayang masih tetap terjaga. Mereka, memang, sering bersitegang walau untuk hal-hal yang remeh dan sepele. Tetapi hal seperti itu adalah bumbu kehidupan. Tak ada bumbu, hambar. Tetapi bumbu apa yang sanggup mengembalikan gairah dan semangat hidup sang istri tercinta ini?
Muhaya berpikir dan merenung. Di saat-saat malam dan hening, Muhaya bangkit dari pembaringan. Air matanya memang tidak bisa menetes melihat keadaan Wuryani yang menyedihkan dan menderita itu, tetapi air mata di hatinya lebih deras dari air tejun di tebing sana. Dalam pikiran dan perenungannya yang terdalam, Muhaya kembali ingat kata-kata anak bungsunya, Usman:

“Pak, jangan lupa sholat,” Usman berpesan.
“Pasti. Mosok bapakkmu lupa,” jawab Muhaya.

Muhaya mendesah. Terhadap pesan itu, disadarinya bahwa ternyata selama ini ia lebih sering lupanya daripada ingatnya. Muhaya memejamkan mata. Ketika matanya terpejam itu, hatinya bertanya kepada jiwanya, “Apakah semua ini akibat salah dan dosa kami sendiri??” Duh, Gusti Kang Mohosuci…
Kini, jebol-lah pertahannya sebagai seorang suami, ayah bagi anak-anak, dan seorang laki-laki. Kucuran air mata di hatinya itu menderai-derai keluar dari kedua bola matanya. Dengan pelan dan ringkih Muhaya bangkit dari duduknya. Ke sumur di belakang rumah Muhaya melangkahkan kaki. Ia menimba air di sumur itu, mengambil air wudlu. Sebentar kemudian, di kamarnya—yang juga kamar istrinya—ia menghamparkan sajadah, persis di sebelah tempat tidur di mana Wuryani berbaring tanpa bisa memejamkan mata. Wuryani hanya bisa menolehkan lehernya, dan dengan ekor matanya ia melihat sang suami berdiri dalam sholatnya, dan sujud sembari menahan tangis yang justru mengguncang-guncangkan tubuhnya. Wuryani tak sanggup melihat hal itu.
Wuryani memejamkan mata.
Beberapa hari kemudian, di pagi menjelang siang, kurang lebih pukul setengah sembilan, ketika Wuryani tampak lebih sehat dari hari-hari sebelumnya dan ia duduk di kursi panjang sembari menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya, berjalanlah dari kejauhan istri dari anak tercintanya.
Zaenab pulang.
Tanpa disertai suaminya.
Tanpa disertai adiknya.
Dan tanpa mengajak putrinya.
Zaenab menggendong tas punggung berwarna hitam, sedang di tangan kanannya ia membawa kardus ukuran cukup besar, membuat badannya miring-miring ke kanan. Ia melangkah dengan menundukkan kepala. Sesekali, angin yang berhembus menjamah jilbab birunya dan menderai-deraikan ujungnya.
Melihat menantunya datang, Muhaya langsung bangkit berdiri. Sementara, Wuryani tetap duduk, namun bola matanya menyambut kedatangan sang menantu itu. Muhaya tersenyum. Bola mata Wuryani tampak basah. Muhaya menjawab ucapan salam sang menantu, sedang lidah Wuryani seperti kelu dan sepasang bibirnya terkatup rapat. Zaenab menghaturkan sungkem pada bapak mertuanya. Dan hati Zaenab dicacah pilu ketika melihat keadaan ibunya dan menangkap bola matanya yang basah itu.
Zaenab mencoba tegar. Zaenab mencoba untuk tidak menangis. Zaenab memeluk ibunya dengan sepenuh kasih dan hangat. Dan pelukan kasih dan hangat itu—bagaikan jimat—membuat Wuryani membuka mulut dan menderaikan air matanya.
***

Sepanjang siang dan sore itu, Zaenab hanya banyak menemani ibunya, entah di kamar, di dapur, di halaman samping, atau di teras rumahnya sendiri. Wuryani belum banyak berbicara, kecuali menyampakan keluhan-keluhannya tas ketiadaan jawaban surat-surat yang telah ia kirim kepada anak-anaknya. Sejauh ini, Zaenab hanya diam mendengar. Tampak sekali Zaenab lebih memikirkan kesehatan ibunya daripada mereaksi keluhan-keluhannya itu. Zaenab lebih banyak mengangguk, terkadang tersenyum, dan beberapa kali mencoba mengalihkan perhatian sang ibu dari keluh-kesahnya itu.
Zaenab menceritakan kemajuan-kemajuan Zahra. Dia juga ceritakan tingkah-laku cucu dari mertuanya itu yang lucu-lucu. Zaenab juga mengatakan kepada ibu mertuanya itu bahwa sang cucu ingin sekali sang nenek berkunjung ke Jakarta. Tak hanya berkunjung untuk sehari barang dua hari, melainkan sebulan, atau bahkan selamanya. Selamanya tinggal di Jakarta.
Ketika malam, sehabis isya’, Zaenab membimbing ibu mertuanya itu masuk ke dalam kamar. Zaenab mencium keningnya. Zaenab merebahkannya di atas ranjang. Zaenab berkata, penuh santun dan lembut, tetapi juga hormat, “Istirahatlah, Ibu. Istirahatkan pikiran ibu. Jangan banyak berpikir dulu ya? Biar ibu lekas sembuh. Biar ibu lekas sehat. Aku sayang ibu. Mas Muniri dan dik Usman juga sangat menyayangi ibu.”
Wuryani mengangguk-angguk. Kata-kata menantunya yang penuh santun, lembut sekaligus tetap hormat itu membuat sedikit banyak jiwanya tenang, pikiran dan hatinya tenang. Seiring Zaenab menutup pintu kamar sang ibu itu, Wuryani mencoba memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, nafasnya tampak turun naik degan teratur. Wuryani tertidur.
Ketika Zaenab telah duduk di hadapan sang ayah mertua, mendadak tumpahlah air matanya, segenap air matanya, menggenang di kedua pipinya. Berkali-kali, dengan ujung jilbabnya, Zaenab menyeka air matanya itu.
Muhaya memperhatikan.
Muhaya berkata lembut, “Anakku, aku tahu kau menyimpan sesuatu. Kau sembunyikan sesuatu itu dari ibumu, sebab kau tak ingin menambah beban pikiran yang dialami ibumu. Tetapi oh, anakku. Kau tak bisa berbohong dariku. Ada sesuatu yang kau sembunyikan. Katakanlah, anakku. Aku siap mendengarmu.”
Untuk beberapa saat, Zaenab mencoba menenangkan hatinya. Disekanya lagi air matanya. Diaturnya nafasnya. Dikuat-kuatkannya hatinya. Beberapa saat kemudian, dia berkata kepada ayah mertuanya itu, “Pak, maafkan kami. Maafkan saya, Mas Mun, dan dik Usman…”
Zaenab terdiam sejenak.
Muhaya mengangguk-angguk. Itu belum kalimat intinya, hatinya berujar. Bua dia diam menunggu.
Zaenab pun berkata lagi, “Seminggu setelah ibu mengirim surat yang panjang itu, saya dan Mas Mun serta Dik Usman sebenarnya sudah memutuskan untuk pulang menjenguk ibu.” Air mata Zaenab meleleh lagi, tetapi kali ini dia membiarkannya, lalu melanjutkan perkataannya, “sebenarnya, saya-lah yang akan pulang. Saya sendiri, tidak dengan Mas Muniri. Terus-terang, isi surat yang ditulis ibu begitu mempengaruhi batin Mas Mun, Pak. Mas Mun sedih, sangat-sangat sedih, membaca surat itu. Hati saya dan dik Usman pun begitu. Kenapa masalah dengan Mbak Zulfin itu bisa berlarut-larut seperti itu, sedangkan menurut kami—anak-anak Bapak—yang bodoh dan belum banyak makan asam garam ini, masalah itu bukan masalah yang besar. Kalau saya boleh jujur, dan itu tak melukai hati Bapak, saya sendiri merasa tak enak hati bila Ibuk sering membangga-banggakan kehidupan kami di Jakarta. Demi Allah, Mas Muniri menyayangkan hal itu, Pak. Sungguh tak ada yang bisa kita banggakan di hadapan Allah, apatah lagi harta benda. Kami selalu berdoa semoga Allah melapangkan dada kita. Benar bahwa Mbak Zulfin mungkin pernah bersikap kasar dan keterlaluan pada ibu. Mungkin ada kata-kata kasar dan keras dari Mbak Zulfin yang telah melukai hati ibu. Dan tamparan di pipi itu, astaghfirullah, seakan-akan juga kami rasakan sendiri. Tetapi kami berpikir, jangan-jangan ibu juga secara tak langsung atau langsung pernah melukai hati Mbak Zulfin dan keluarga, Pak. Maksud kami, alangkah lebih indah pabila kita mengoreksi diri kita juga.”
Zaenab melanjutkan, “Ketika saya sudah bersiap-siap hendak pulang menjenguk ibu dan bapak, tiba-tiba Mas Mun sakit, Pak. Dan saya tahu, sakit yang dialami Mas Mun adalah sakit karena tekanan batin. Saya istrinya, Pak. Saya mengerti sekali bagaimana sikap Mas Mun. Saya mengerti hatinya sebagaimana Mas Mun juga mengerti isi hati saya. Mas Mun mengalami kesedihan yang berlebihan oleh sebab memikirkan bagaimana agar Ibu…, maafkan kami, agar ibu…sadar. Agar ibu tak terpengaruh lagi dengan omongan orang. Agar ibu tidak dicaci-bui orang. Agar ibu tenang hatinya. Agar ibu bahagia jiwanya.”
“Demi Allah, saya dan dik Usman sudah berusaha menguatkan hati Mas Mun. Keluarga kita, sesungguhnya, tengah dicoba oleh Allah SWT. Saya sudah berikhtiar semampu saya. Beberapa dokter sudah kami datangi. Mas Mun juga sudah rutin meminum obat, Bapak. Tetapi obat apa yang sanggup menyembuhkan hati yang sedih karena memikirkan dan mencemaskan keadaan batin ibu dan bapaknya, Pak? Kami tidak tahu. Yang bisa kami lakukan hanya berdoa dan terus berdoa, memohon kepada Allah agar Allah memberikan kekuatan kepada kita. Beberapa bulan kemudian, ketika keadaan Mas Mun mulai pulih, saya pun bersiap-siap lagi hendak menjenguk ibu dan bapak. Hingga, datanglah surat ibu yang kedua itu.”
Sampai di kalimat itu, semakin basah kedua pipi Zaenab. Ujung-ujung jilbabnya juga semakin basah. Beberapa kali ia harus memenangkan hatinya terlebih dahulu, membuat sepasang bibirnya itu bergetar. Lalu ia melanjutkan, “Bapak, maafkan kami. Maafkan kata-kata saya yang barangkali membuat hati Bapak merasa tidak nyaman. Surat kedua ibu itu…, oh, Bapak, kembali mengguncangkan hati kami. Kini keadaan Mas Mun kritis. Harusnya saya pulang menjenguk Bapak dan Ibu memenuhi surat ibu. Tetapi saya pulang sekarang hanya untuk memohon pada Ibu dan Bapak, agar Ibu dan Bapak bersedia ikut saya ke Jakarta. Mas Mun ingin melihat ibu dan bapak. Mas Mun tak bisa pulang. Mas Mun titip pesan pada saya agar saya mengatakan pada Ibu dan Bapak, ‘Dik, sepertinya hidupku tak akan lama lagi. Aku ingin bertemu bapak…dan ibu…”
***

Bagai hujan yang deras mengucur dari langit, Zaenab tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya oleh sebab derasnya air mata dan pedihnya jiwa yang dialaminya. Zaenab jatuh di kedua kaki ayahnya itu. Punggungnya berguncang-guncang. Dan mendadak, di luar, rintik-rintik hujan mulai bercucuran. Di kamarnya sendiri, lihatlah, Wuryani jatuh di sebelah pintu. Ternyata, ia diam-diam telah bangkit dari pembaringannya, dan mendengar semua yang dikatakan menantunya. Sepasang bibirnya bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia bangkit, membuka pintu, lalu keluar dan mendapati sang menantu bersimpuh di hadapan bapak mertuanya.
Muhaya sendiri tak bisa berucap sepatah pun kata. Air matanya juga berlinangan. Pada saat yang demikian itulah, cahaya Allah masuk ke dalam hati Wuryani. Cahaya suci. Cahaya cinta. Wajahnya yang selama ini tampak murung, gelap, dan kusam, mendadak berubah cerah. Hawa buruk meninggalkan jiwanya, pergi entah ke mana.
Zaenab pun menubruk ibunya, berlutut di hadapannya.
Wuryani berujar pelan, dan sangat lembut, dan kata-katanya bergetar, “Anakku, Demi Allah aku telah keliru. Demi Allah akulah yang berdosa, duh anakku. Kalian tak salah….”
“Ya, Allah. Ya Allah….,” Muhaya menjeritkan zikir.
Zaenab memeluk ibunya.
***

Jakarta, 22 Januari.
Sebuah rumah berlantai dua. Bercat hijau muda, menghadap utara. Di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Kursi berjajar-jajar di halaman rumah. Sebuah terpal warna biru dipasang di atas halaman itu hingga sampai di jalan. Di jalan di depan rumah itu pun kursi-kursi berjajar-jajar. Beberapa orang laki-laki duduk-duduk di atas kursi masing-masing. Mereka mengenakan peci putih atau hitam, memakai celana panjang atau kain sarung. Di ujung gang, dua orang warga menghalau kendaraan yang hendak lewat, dan memindahkannya ke jalan yang lain.
Di dalam rumah berlantai dua itu sendiri, ruangan tampak penuh dan sesak. Laki-laki dan perempuan. Mereka khidmat membaca ayat-ayat al-Qur’an, membaca surah Yasin. Mereka—termasuk kaum laki-laki yang duduk di halaman dan di jalan di depan rumah—adalah para tetangga dan para warga yang tinggal di kompleks itu. Kebaikan hati, ketulusan, kedermawanan, sikap dan akhlak yang terpuji, yang dimiliki dan ditunjukkan Muniri dan keluarganya sanggup mengundang kehadiran hampir semua orang. Sejak mereka mendengar dan melihat Muniri sakit keras, dengan suka rela dan ikhlas, mereka mengalir berdatangan ke rumah ini, menjenguk dan mendoakan Muniri.
Dan hari ini adalah hari Selasa Kliwon, seminggu setelah Muniri jatuh sakit lagi. Tadi pagi, sekitar pukul setengah lima, Zaenab telah pulang dari kampung disertai bapak dan ibu mertuanya. Usman menyambut kedua orang tuanya itu dengan linangan air mata. Hati Usman berguncang hebat, dan bergemuruh. Gemuruh hatinya itu adalah karena bercampurnya perasaan syukur dan sedih secara sekaligus. Kepada Allah Dzat Yang Mahasuci, Usman bersyukur, sebab kehadiran bapak dan ibunya di rumah kakaknya ini adalah bukti keberhasilan kakak iparnya. Tanpa harus berkata apa-apa, bapak dan ibunya mau datang ke Jakarta ini sudah lebih dari cukup bahwa keduanya telah berubah. Cahaya suci dan cinta dari Ilahi Rabbi telah terbit di hati keduanya. Tetapi Usman juga sangat sedih hatinya sebab keadaan sang kakak semakin lama semakin kritis. Tangan-tangan sang maut seakan telah membentang di mata Usman dan siap memeluk jiwa kakaknya.
Di kamarnya yang berukuran agak luas itu, bapak, ibu, Usman, Zaenab, si kecil Zahra, dan seorang ustadz mengelilingi Muniri yang pucat dan lemah berbaring. Muhaya menderaskan bacaan surah Yasin-nya. Sang ustadz tampak berkomat-kamit membaca-baca doa. Zaenab menggenggam tangan kanan suaminya, sedang tangan kiri Muniri masih tampak menggerak-gerakkan biji-biji tasbih. Si kecil Zahra tak lepas-lepas memandangi wajah sang ayah—sesekali, ia terlihat memijit kaki, tangan, atau anggota badan. Sesekali, lirih ia memanggil-manggil sang ayah.
Wuryani duduk di bawah ranjang, di dekat kepala Muniri. Sudah sejak tadi Muniri berusaha mengenali wajah ibunya itu. Wuryani merasakan hatinya seakan hancur sebab anak tersayangnya itu sangat kesulitan mengenali wajah ibunya sendiri, seakan-akan antara ia dan anak terkasihnya itu adalah dua orang asing yang belum pernah bertemu sama sekali. Entah sudah berapa kali antara anak dan ibunya ini terlibat dalam pembicaraan yang berulang-ulang berikut ini:
“Kau-siapa?” Muniri bertanya, terbata-bata.
“Aku ibumu, nak. Aku ibumu,” Wuryani menjawab.
“Ibu—ibu—siapa?”
“Aku Wuryani, nak. Aku ibumu.”
“Wuryani—siapa?”
Sang ibu tak sanggup menjawab lagi pertanyaan putranya itu. Dan tanya jawab itu sudah terjadi entah berapa kali. Muniri pingsan. Lalu sadar. Lalu pingsan lagi. Ketika sadar, tiba-tiba ia menyuruh adiknya yang kebingungan dan basah bola matanya, “Usman! Makanglah sampah itu. Jangan kau taruh di situ.”
Usman bingung.
“Usman, Usman, apakah kau tak mendengarku?”
“Sampah, apa mas?”
Muniri menunjuk-nunjuk.
Semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk Muniri.
Di situ, padahal, tak ada sampah. Tak ada apa-apa.
Meloncatlah, tiba-tiba, perkataan Muniri kepada istrinya yang terkasih, “Duh, ibu dari anakku—kenapa kau biarkan dia tak segera masuk?”
Zaenab bingung.
Semua orang juga bingung.
Hanya Sang ustadz yang tampak mengerti. Tetapi ia memejamkan mata.
“Si—siapa, mas?”
“Kau tak dengar apa kataku?” Muniri setengah mengeluh, setengah tak sabar. “Suruh dia masuk. Jangan sampai dia menunggu seperti itu…”
Sang Ustadz tampak berbisik ke telinga Muhaya, membuat Muhaya semakin menunduk dalam bacaan-bacaannya. “Kuatkan hatimu, Pak,” ujarnya, “sepertinya waktunya sudah dekat.”
Dan lihatlah Zahra!
Lihatlah si kecil itu.
Tiba-tiba si kecil itu bangkit dari pembaringan. Ia melangkah ke luar kamar. Ia pun menyibak orang-orang yang duduk tafakkur di ruang tengah, lalu terus melangkah. Ia menuju ke pintu. Dan persis di tengah pintu itu, ia berdiri. Lihatlah wajah bocah itu.
Si pemilik hati yang masih suci itu…
Bola matanya tampak memandang sesuatu. Atau seseorang. Atau entah. Beberapa orang yang duduk di halaman memandangnya, tak mengerti. Mereka mengira bahwa Zahra tengah memandangnya. Hati mereka terenyuh melihat anak itu. Tetapi mereka mencoba tersenyum kepadanya, berharap-harap senyum mereka itu dapat meringankan kesedihan Zahra. Tetapi sungguh, demi Dia yang menegakkan langit dan memancang bumi, Zahra sedang tidak memandang mereka.
Zahra sedang berkata-kata, “Tunggu sebentar ya?”
Lalu Zahra membalikan badannya kembali, melangkah menuju kamar lagi. Orang-orang yang memandangnya itu terheran-heran.
“Anak itu kenapa?” seseorang bertanya pada lain.
“Entahlah,” jawab yang lain.
“Kok dia berkata seperti itu? Kepada siapa dia berkata?”
“Aku nggak tahu.”
Mereka pun saling menggeleng.
Ketika Zahra telah kembali pada ayahnya, malaikat kecil ini langsung mencium kening ayahnya. Membuat kedua mata ayahnya terbuka. Zahra tersenyum kepadanya. Lalu kepada ayahnya, Zahra berkata, “Ayah, ini nenek.”
Berkata begitu, Zahra menunjuk sang nenek.
Dan, ajaib, Muniri pun langsung mengenalinya, “Ibu…”
“Anakku, oh anakku…”
“Kenapa—ibu—duduk—di situ?”
Wuryani bangkit, lalu duduk di tepian pembaringan, di dekat kepala anaknya.
“Ibu telah datang…”
“Iya, nak. Ibu telah datang.”
“Dan ayah?”
“Itu ayahmu.”
Muhaya mendekat.
Lalu Muniri berkata lagi, “Ayah, apakah ibu telah kembali?”
Muhaya menjawab, sepenuh mengerti, “Iya, ibumu telah kembali. Insyaallah, aku pun kembali, putraku.”
“Alhamdulillah. Alhamdulillah…” ucap Muniri.
Lalu kepada si kecil Zahra, “Kau jangan bersedih, Zahra. Jangan lupa sholat. Jaga sholatmu. Jaga ibu, nenek, kakek, dan om, dengan hatimu. Kau mengerti, nak?”
“Aku sayang ayah. Aku sayang ayah…,” ujar Zahra.
“Ayah harus berangkat terlebih dahulu, anakku. Suatu saat kelak, kita akan bertemu lagi. Ayah menunggumu.”
Zahra mencium kening ayahnya kembali. Dan kali ini, air matanya meleleh, sepasang bibir mungilnya terkatup rapat. Bersama dengan itu, kedua mata Muniri terpejam.
Terpejam untuk selama-lamanya.
Innalillah wa inna ilayhi raaji’un.
***

← Kembali ke Daftar Bab