Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Duka telah menyelimuti seiri rumah itu, juga semua rumah di kompleks itu. Dia yang di mata masyarakat diyakini sebagai yang terbaik, kini telah berpulang ke pangkuan Ilahi. Di hari itu juga, jenazah Muniri dikebumikan. Dan di hari itu juga, Selasa Kliwon, sore hari, kabar duka itu telah sampai di desa Siwalan. Reaksi pun bermunculan.
Beberapa orang yang pernah merasakan kebaikan langsung Muniri tampak menitikkan air mata. Kerabat jauh Muhaya pun tampak sangat terpukul. Hampir semua orang merasa sedih dengan berita meninggalnya Muniri di Jakarta itu. Mereka tak menyangka usia Muniri bisa sependek itu. Yang pernah merasakan kebaikan almarhum berkata kepada yang lain, “Seakan aku masih melihatnya berjalan ke rumahku. Melihat senyumnya itu. Mendengar perkataannya yang lembut dan sopan. Ketika dia pulang, dia tak pernah lupa mengunjungiku. Aku dan istriku seringkali ditinggalinya uang.”
“Orang baik,” tanggap lawan bicara, “kenapa orang baik seringkali berpulang mendahului kita?”
Dijawab, “Rencana Allah memang sulit ditebak!”
“Sejak kapan Allah punya rencana?” sanggah yang lain. “Allah tak pernah punya rencana. Allah itu bukan seperti kita, bukan seperti makhluk-Nya, Allah tak pernah memiliki rencana. Ini takdir namanya…”
“Lho karena itu,” ujar yang pertama bicara, “kalau ini takdir, kenapa Allah seringkali menakdirkan orang baik berpulang mendahului kita?”
“Ilmuku belum sampai, mas,” jawab, “aku juga ndak tahu. Tapi kamu benar, dan aku setuju. Kiyai Yazid, misalnya. Dia juga meninggal saat masih muda. Musa, misalnya: Bahkan dia meninggal saat masih bayi. Oh, entahlah. Kita memang tidak bisa memahami rahasia-Nya.”
Atas inisiatif Haji Ridlwan dan Haji Mukhtar, sebagian warga pun sore itu juga berkumpul, menyiapkan dana masing-masing, mencari mobil, lalu berangkat untuk takziyah ke Jakarta. Ikut serta dalam rombongan adalah Mbah Na’im, Kumasi, Muh. Tohar, dan juga Dlori. Zulfin tak ikut. Alasannya, Musa masih bayi, dan anak-anaknya banyak. Tetapi tanpa sepengetahuan banyak orang, dan hanya diketahui oleh suaminya, juga Lik Soyi, juga Sri Rejeki, dan tak ketinggalan pula yang empunya cerita, hati Zulfin berbunga-bunga.
Ya, hatinya bermekaran.
Bagai mawar di pagi hari.
Dlori pun, sebelum berangkat ikut rombongan, juga tampak tersenyum-senyum. Istrinya berkata kepadanya, “Syukur-lah. Biar jadi pelajaran Wuryani dan Muhaya!”
Dlori tak menanggapi.
“Kalau Muniri mati begitu,” lanjut Zulfin, “siapa lagi yang bisa dibangga-banggakannya. Tak ada kan? Syukurin.” Lalu sambil menimang-nimang Musa, dan juga di hadapan ketiga anaknya yang lain, Zulfin berkata kepada anak-anaknya itu, “Suatu saat, kalian akan menjadi kebangganku. Kalian harus bisa menjadi orang yang sukses. Ciluk-baaaa…..”
Lik Soyi yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Untuk sesaat, Lik Soyi teringat kata-kata Mbah Na’im di air terjun itu:
“Mereka mengira sedang melangkah dalam jalan kehidupan, padahal sesungguhnya mereka tengah menapaki jalan kematian.”
Entah kenapa, tiba-tiba kulit Lik Soyi merinding. Dan sekali lagi, ia geleng-geleng kepala.
Perjalanan Siwalan-Jakarta itu mimakan waktu kurang lebih sepuluh jam. Kalau semua lancar, para warga yang berta’ziyah ke Jakarta akan kembali tiba di Siwalan ini hari Kamis. Dan selama dua hari ini, keadaan Siwalan seperti lengang saja. Senyap. Tiga mobil mengangkut warga Siwalan yang berta’ziyah; lelaki dan perempuan. Yang tidak ikut berta’ziyah karena berbagai alasan. Tak punya uang untuk ongkos. Sedang menggarap lahan. Tak memiliki kaitan langsung dengan almarhum. Dan lain sebagainya. Tampak sekali, para pembisik ulung, tukang bergunjing, tukang mengobral kata-kata, orang-orang yang hatinya dipenuhi iri dan dengki, tak ikut berta’ziyah. Surti, Barokah, Jumilah, dan Sukinah adalah mereka yang tidak ikut ke Jakarta ini. Tetapi mereka, dalam dua hari ini, seringkali bertemu, bercakap-cakap, membicarakan almarhum Muniri, wabil khusus membicarakan Muhaya dan Wuryani.
Surti yang hatinya paling galak berkata, “Modar pora saiki! wuryani semakin kualat saja. Oh, amit-amit jabang bayi. Mudah-mudahan anak-anakku sehat selalu. Tak seperti Muniri. Heh, Mbokde, mari kita lihat, kalau Wuryani itu pulang, mau apa dia? Apalagi yang akan dibangga-banggakannya? Anaknya yang dibangga-banggakan telah modar sekarang. Hih, amit-amit jabang bayi…”
Menanggaplah Sukinah, “Dengar-dengar Muhaya dan Wuryani itu dijemput menantunya itu? Kalian lihat ndak to?”
Barokah menjawab, “Iya. Si Zaenab pulang. Hanya sehari di rumah. Lalu hari berikutnya dia ajak bapak dan ibu mertuanya itu ke Jakarta.”
Jumilah berkata, “Barangkali si Zaenab pulang memang untuk menjemput mertuanya itu?”
“Barangkali begitu…”
“Pantas saja Muhaya dan Wuryani tak tampak batang hidungnya.”
“Aku membayangkan, saat ini Wuryani pingsan-pingsan melulu di sana.”
“Ah, itu sudah pasti. Kalau ndak stress saja sudah untung!”
“Tetapi Muniri itu baik loh, selama hidup. Dia tidak seperti ibu dan bapaknya?”
“Walau dia baik, kalau punya bapak dan ibu kayak Muhaya dan Wuryani, mau jadi apa? Aku ndak peduli Muniri itu baik atau jelek. Yang aku pedulikan, kini Muhaya dan Wuryani sudah kena hukumannya. Kena bendu Gusti Allah Ta’ala. Biar mereka belajar menjadi orang yang hatinya tak jahat seperti itu.”
“Berarti selama ini mereka memang salah ya? Buktinya? Dik Zulfin dan Dik Dlori semakin sukses dan bahagia.”
“Kalau begitu, ayo-ayo kita ke rumahnya. Mumpung suaminta tak ada..”
“Ayo, ayo…”
Mereka pun pergi ke rumah Zulfin. Mengangkat tinggi-tinggi Zulfin. Memuji-muji Zulfin. Membangga-banggakan Zulfin. Mendoa-doakan anak-anak Zulfin semoga kelak menjadi anak yang kaya, yang sukses, yang membahagiakan kedua orang tua.
Zulfin pun menanggapi mereka dengan hati yang bersuka cita.
Hati yang puas.
Dan…hati yang terlena….
***
Hati yang terlena adalah hati yang lalai. Bila kau lalai, kau bisa tergelincir, sebab kelalaian itu membuatmu goyah. Seperti ujian ketika kau berpijak di atas sebongkah batu di bibir ketinggian tebing yang tinggi. Hatimu, pikiran, dan perasaanmu harus yakin dengan pijakanmu itu. Bila kau yakin, kau akan lolos ujian. Dan bila kau lalai, satu atau dua kakinya akan tergelincir dari batu itu, lalu tubuhmu melayang-layang terjun dari ketinggian tebing. Kau terjungkal.
Dan jiwanya terjungkal!
Tetapi begitulah hidup. Hidup bukanlah angka dalam deretan hitung, berjajar satu-satu dari angka terkecil menuju tak terhingga. Kita mungkin telah sampai di angka sembilan puluh sembilan, lalu, pada tarikan nafas selanjutnya, kita akan sampai di angka seratus. Tetapi ternyata kita kembali ke angka tujuh puluh tujuh, bukan ke seratus. Dari tujuh puluh tujuh kita bisa melompat ke angka dua ratus. Begitulah hidup.
Dan jiwanya mental ke angka yang rendah kembali!
Bua demikian itulah jiwa seorang Zulfin. Dulu ia pernah menjadi sasaran kecemburuan dan iri dari orang seperti Wuryani, dan ia terpengaruh. Kesuksesan sang suami dan kenyataan sukses ini membuatnya tak tahan untuk tidak melabrak Wuryani, menampar pipi Wuryani, mencaci-bui Wuryani. Saat itu, Wuryani, pada jiwanya, adalah sesosok iblis yang hanya suka membanggakan diri, suka menyombongkan diri, membanggakan dan sombong atas kesuksesan anak tercintanya. Di hatinya, Wuryani, ketika itu, adalah perwujudan dari kalimat suci yang pernah didengarnya dari Haji Ridlwan tentang iblis itu: kholaqtaniy min naar wa kholaqtahu min thiin. Dari api aku diciptakan. Dari tanah dia diciptakan. Api lebih baik daripada tanah, bua kenapa Kau paksa aku tunduk kepadanya? Hanya iblis yang sombong dan membanggakan diri. Dan Wuryani adalah penjelmaan dari iblis itu.
Lalu, seiring dengan perjalanan waktu, Zulfin dan Dlori semakin mengukuhkan diri, meneguhkan hati. Demi membuktikan pada semua orang bahwa mereka mampu untuk menjadi orang yang sukses, Dlori pun giat bekerja. Zulfin pun memerankan diri sebaik-baiknya sebagai seorang istri sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Dlori berhasil. Anak-anak pun tumbuh dengan baik dan sehatnya. Wuryani pun merasa sakit hati, sakit yang sebenar-benarnya. Wuryani tak bisa melihat kenyataan bahwa Dlori dan Zulfin bisa sukses seperti itu. Panennya meningkat tajam. Jeruk dan melonnya membuat iri.
Bua saat Dlori dan Zulfin berada di puncak keberhasilan hidupnya itu, mereka lalai. Keteguhan hati mereka untuk tidak mereaksi sikap dan ucapan Wuryani dan orang-orang yang mengelilinginya goyah. Tuhan memberi isyarat melalui sakitnya Musa, tetapi jiwa keduanya tak bisa menangkap dan memahami isyarat itu. Bahkan sebaliknya, mereka menganggap hal itu adalah lumrah. Wajar jika seorang bayi bisa sakit. Cepat atau lambat, Musa akan sembuh. Musa pasti sembuh!
Bua terjadilah petaka itu.
Petaka di malam pertunjukan wayang dengan dalang Ki Anom Suroto itu.
Dimulai dengan pertengkaran kecil antara keduanya, dilanjutkan kebohongan Dlori kepada istrinya demi memuaskan seleranya menonton pertunjukkan wayang, Musa pun dipanggil Yang Mahakuasa. Musa yang masih suci, Musa yang telah “memperingatkan” ayah-ibunya untuk menjaga hati melalui sakit yang dideritanya dan keanehan-keanehan kecil yang sangat membedakan Musa dengan ketiga kakaknya, ternyata tak membuat Dlori dan Zulfin menyadari kelalaiannya. Dlori dan Zulfin diamuk kepedihan hati. Dan di saat yang sama, jiwa Wuryani menari-nari!
Sekali lagi, Wuryani “berhasil mengalahkan” Zulfin dan Dlori. Tetapi kali ini Wuryani tak perlu berkata-kata lagi; tak perlu mencaci, tak perlu mibui, tak perlu menunjukkan kebanggaan dan kesombongan diri. Orang-orang justru datang kepadanya untuk mewakili lidah dan ucapannya untuk mencaci, mibui, dan mengungkap kejelekan-kejelekan Zulfin dan Dlori. Hati Wuryani puas. Puas melihat Zulfin telah menjadi seperti orang gila yang tak sanggup menahan kesedihan karena kehilangan anak untuk selama-lamanya. Dlori pun limbung. Jiwa Dlori lunglai. Zulfin dan Dlori sempat membuat gempar warga hingga dicari ke mana-mana dan akhirnya keduanya ditemukan berada di dekat nisan anaknya.
Sekali lagi, Tuhan mengasihi mereka. Tuhan memberikan kesempatan pada keduanya untuk memperbaiki diri. Melalui perantaraan Mbah Na’im, Zulfin dan Dlori pun akhirnya bisa merelakan kematian Musa. Zulfin dan Dlori menjalani kehidupan dengan normal kembali. Keduanya memang mendengar orang-orang yang sama selalu mengelilingi Wuryani untuk menjelek-jelekkan keduanya. Seiring perjalanan waktu, Zulfin dan Dlori menjadikan saran dan nasihat Nurjanah—istri dari Haji Ridlwan—sebagai jimat untuk menata hidupnya kembali:
Tidak mungkinlah orang akan selalu iri atau menggunjing seumur-umur. Kalau mereka capek, mereka akan diam sendiri. Sementara itu, lebih baik kau buktikan bahwa kau mampu! Kau mampu menjadi ibu yang terbaik buat anak-anakmu. Kelak, mereka akan terdiam manakala melihat anak-anakmu menjadi anak-anak yang baik, sukses, membanggakan, dan membahagiakan kedua orang tuanya. Bungkamlah kritikan dengan bukti. Dan buktikan bahwa dirimu mampu!”
Saran dan nasihat Nurjanah ini memasuki relung-relung keduanya, terutama Zulfin. Tak perlu membalas sakit hati pada Wuryani dan orang-orang yang mengelilinginya dengan kata-kata. Pembalasan terbaik adalah dengan bukti. Ya, mereka bersiteguh dan bersikukuh untuk membuktikan bahwa mereka mampu. Mampu menjadi orang tua yang baik. Mampu menjadi suami istri yang baik. Dan mampu menjadi orang yang sukses.
Bua tanpa memedulikan apa-kata-orang, Zulfin pun hamil lagi. Ketika Musa lahir, Dlori pun sukses dengan pertaniannya lagi. Dlori mengundang Ki Joko Edan untuk ndalang di rumahnya. Tak lupa, Dlori menyampaikan keinginan hati agar sang dalang menyentil, menyindir, dan menjewer ucapan dan perilaku orang-orang yang selama ini tak suka dan tak senang serta iri kepada keluarganya. Tontotan itu pun sukses. Ki dalang pun memenuhi keinginan hati Dlori.
Dan kali ini, angin bertiup ke arah keduanya. Wuryani tak kuat menahan rasa sakit hatinya. Wuryani sakit. Dan Wuryani lebih sakit lagi ketika mendengar kebaikan hati Zulfin yang suka membagi-bagikan beras pada orang yang membutuhkan. Nama Dlori dan Zulfin berkibar-kibar ke langit yang tinggi. Dan Wuryani semakin menderita ketika orang-orang yang mengelilinginya satu per satu meninggalkannya, dan balik menyerangnya!
Hingga datanglah Zaenab itu.
Hingga meninggallah Muniri yang tercinta.
Hati yang tulus dan selalu memasrahkan diri kepada Allah SWT yang tercermin pada diri Zaenab, ternyata berhasil mengangkat mertuanya dari lembah jiwa yang dipenuhi iri dan dengki. Dan kematian Muniri sekarang membuat Muhaya dan Wuryani menapaki jalan-jalan yang suci.
Tetapi Zulfin menari-nari.
Zulfin semakin merasa bahwa dialah sang pemenang itu. Dialah yang patut dibangga-banggakan dan dipuji-puji itu. Tanpa harus berkata apa-apa, menurutnya Wuryani telah dihukum oleh Sang Penguasa jagad raya. Yang dilakukan olehnya dan suamia hanya bukti. Bukti untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa mereka bisa dan mereka mampu. Dan mereka berhasil membuktikannya.
Tetapi itulah kesalahan yang paling fatal bagi keduanya. Itulah saat di mana setan dan iblis dengan mudah menyusup kembali ke pori-porinya, menggerayangi relung-relung hatinya, mendekap dan memeluk jiwanya. Ketika kau melakukan kebaikan, mencari penghidupan, mengasuh anak, membesarkan anak, berbuat baik pada sesama, membagi-bagi rejeki pada yang membutuhkan, tetapi semua yang kau lakukan ini hanya demi membuktikan bahwa kau mampu melakukan semua itu agar kau tak dihina-dina, dicaci-bui, dan direndah-rendahkan oleh orang lain, hingga kau lupa bahwa seharusnya kau lakukan semua itu untuk mendekati dan berada dekat dengan Allah SWT, bua kesuksesan yang kau raih itu, impian dan harapan yang kau capai itu, hanyalah cara yang lurus yang akan mengantarkanmu ke lembah kematian!
***
Hari pun berganti, dan bulan pun berbilang. Tiga bulan setelah kematian Muniri, dengan diantar Usman dan Zaenab, dengan mengajak serta si kecil Zahra, Muhaya dan Wuryani kembali ke Siwalan untuk menemui Zulfin dan Dlori. Ketika itu, beberapa orang tengah berkumpul di rumah Dlori. Bua dengan terbata-bata, dengan sepenuh tulus, sepenuh sadar, baik Muhaya maupun Wuryani meminta maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf, atas segala salah.
Tanpa banyak tanggapan, Dlori pun memaafkan mereka. Tak lupa pula, Dlori menyelipkan pesan agar keduanya—Muhaya dan Wuryani—tak mengulang lagi kesalahannya.
Lain halnya dengan Zulfin.
Di mata Zulfin, Muhaya dan Wuryani, walau usia keduanya sangat jauh lebih tua darinya, saat ini tak ada harganya sama sekali. Saat ini, baginya, adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan segala gundah-hatinya, segala kemuakan dan ke-jijik-an yang dirasakannya, segala kebencian dan kemarahan yang ditahannya atas keduanya. Ini adalah saat yang tepat baginya untuk mengingatkan siapa aku dibandingkan kalian!
“Kalian berdua itu orang-orang yang sudah tua. Umur kalian seharusnya membuat kalian berdua pantas menjadi orang tua saya. Tetapi watak kalian seperti setan yang bersekutu dengan iblis. Kalian adalah cermin dari orang yang hatinya dipenuhi iri dan dengki!”
“Tak sadarkah kalian berdua, heh?” Zulfin terus berkata, “kalian merasa susah melihat orang lain senang, dan merasa senang melihat orang lain susah dan menderita. Itulah dengki. Itulah iri. Dan itulah hati kalian selama ini. Ketuaan kalian ternyata tidak membuat hati kalian sadar, malah justru semakin menjadi-jadi.”
“Heh, Mbok Wur!” teriak Zulfin, “kau ini punya hati atau tidak? Dulu orang-orang ini mengelilingmu. Orang-orang ini, semuanya, telah bercerita padaku bagaimana kau menjelek-jelekkanku, kau merendah-rendahkanku. Sekarang, lihatlah dirimu. Kau datang ke sini ngemis-ngemis maaf dariku. Dan orang-orang ini yang dulu mengelilingimu sudah meninggalkanmu. Aku telah memafkan mereka sebab mereka sudah lama menyadari kesalahannya padaku. Dan setelah anak yang kau bangga-banggakan itu mati, kau baru sadar dan akhirnya mau datang ke rumahku mengemis maafku. Sekarang, apa lagi yang bisa kau bangga-banggakan? Tak ada kan? Anakmu sudah mati, dan selamanya kau tak akan bisa menghidupkannya lagi walau dengan tangis darahmu. Kau baru menyesal kan sekarang? Heh, kenapa kau diam?”
Wuryani menunduk. Tetapi hatinya berpaut pada Yang Ilahi. Hatinya ikhlas dikata-katai seperti itu. Hatinya menerimanya. Ia pun berkata pelan, “Dik, Demi Allah saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan dan kekhilafan saya. Saya mengakui dan menyadari kekhilafan saya.” Lalu kepada orang-orang yang dulu mengelilinginya dan sekarang mengelilingi Zulfin, Wuryani berkata, “Saya juga meminta maaf kepada Mbok Barokah, dik Surti, dik Sukinah, juga dik Jumilah. Maafkan atas kekhilafan saya.”
Zulfin ingin masih ingin memberondong Wuryani dengan kata-katanya lagi, tetapi Dlori langsung mencegahnya. Dlori tidak ingin mempermalukan Wuryani di hadapan suaminya, anak, dan menantu, dan cucu, dan semua orang yang ada di situ.
Dan Usman sendiri, atas nama bapak dan ibunya, juga almarhum kakaknya, dan semua anggota keluarganya, sekali lagi meminta maaf kepada mereka. Usman pun membantu ibunya bangkit dari tempat duduk. Sebentar kemudian, mereka keluar dari rumah itu. Dlori mengantarkan mereka sampai di pintu. Orang-orang di dalam rumah itu saling mencibirkan bibir. Memandang rendah dan hina Wuryani dan keluarganya. Zulfin sendiri masih mendengus-dengus tak karuan.
“Sekarang mereka sudah kena batunya!” Surti berseru.
Ditanggapi Sukinah, “Iya, biar mereka mengambil pelajaran.”
“Aku kagum kepadamu, dik,” berucap Barokah.”Kau telah mewakili suara hatiku dengan peringatanmu pada Wuryani.”
Zulfin hanya mengangguk-angguk.
Dan Zulfin masih mendengus-dengus.
***
Muhaya dan Wuryani pulang memang bukan untuk kembali lagi ke rumahnya, melainkan, utamanya, meminta maaf kepada Dlori dan istrinya. Rumahnya sendiri—juga rumah almarhum Muniri—diserahkan pada dua orang yang paling miskin di desa Siwalan untuk ditempati. Pak Kusnan dengan ketiga anaknya yang masih kecil diminta menempati rumah Muniri, sedang Mbok Parsinah dan suaminya yang sudah renta menempati rumah Muhaya. Mereka berdua diminta menempati sekaligus menjaga kedua rumah itu. Muhaya dan Wuryani pun pergi lagi ke Jakarta. Mereka berangkat kembali ke Jakarta setelah meminta maaf pada tetangga-tetangga terdekat pula, seakan-akan mereka tak akan kembali lagi ke Siwalan ini.
Bua kini, tak ada lagi cerita tentang Muhaya dan Wuryani beserta kesuksesan-kesuksesan anaknya. Sejalan dengan waktu yang terus bergerak maju, siang berganti malam, malam berganti siang, Dlori dan keluarganya merasa sudah terbebas dari intrik-intrik yang dilakukan oleh seorang tetangga yang paling iri. Hati mereka puas. Pikiran mereka plong. Orang-orang yang selama ini sangat gemar berkasak-kusuk pun seakan sudah kehilangan “lawan tanding” yang sepadan dengan keluarga Dlori. Dlori dan Zulfin melenggang kangkung.
Tetapi alam tak pernah memihak pada keburukan dan kejahatan. Alam itu suci walaupun dihuni oleh para penjahat yang paling kejam sekalipun. Alam selalu tunduk kepada Tuhan Yang Mahasuci, dan tak pernah sedikit pun bergeser dari ketundukkan ini. Bahkan sebaliknya, kuasa Tuhan melalui kekuatan alam akan senantiasa menghukum manusia-manusia yang diperbudak oleh nafsunya sendiri.
Bua begitulah alam terhadap keluarga yang satu ini. Suatu sore, ketika Lik Soyi telah pulang ke rumahnya, ketika Musa sudah bisa berdiri dan berjalan satu-satu, Dlori baru tersentak dan baru tersadar. Seakan-akan selama ini ia hidup dalam mimpi-mimpi, atau mimpi-mimpi yang membuai kehidupannya. Harun telah berumur tujuh tahun dan siap untuk masuk di kelas 1 SD. Aisyah telah siap duduk di bangku TK. Dan Umi telah siap masuk PAUD. Dlori berkata kepada istrinya, “Bu, ternyata aku baru sadar bahwa kita hampir kehabisan uang. Duh, Bu…ternyata pengeluaran kita selama ini sudah banyak.”
“Banyak gimana, Pak?” bertanya Zulfin. Zulfin tak percaya. Ujarnya lagi, “Aku ndak boros. Kita juga makan dengan lauk-pauk seperti biasa. Anak-anak juga ndak terlalu suka jajan. Soyi juga kita bayar seperti biasa. Boros bagaimana?”
Dlori tak bisa langsung menjawab pertanyaan istrinya itu. Bukannya ia tak bisa menjelaskan, tetapi ia diam karena ia memang terkejut terhadap dirinya sendiri. Selama ini, ternyata ia tak terlalu memikirkan berbagai pengeluaran tak terduga—hal-hal yang bisa dihindari untuk pengeluaran. Ia baru sadar ketika ia memikirkan masa depan anak-anaknya itu (Harun telah berumur tujuh tahun dan siap untuk masuk di kelas 1 SD. Aisyah telah siap duduk di bangku TK. Dan Umi telah siap masuk PAUD). Ia juga baru sadar ketika ia menyadari hasil panennya menurun drastis. Syam dan Muji tidak lagi menyewakan sawah dan ladang mereka. Hama tikus dan wereng menyerang padi di sawahnya. Hama yang satu ini memang tidak hanya menyerang sawahnya saja, melainkan menyerang sawah-sawah milik warga yang lain.
Memang, setelah warga mengalami gagal panen jeruk dan melon karena harga yang jatuh, mereka pun ramai-ramai kembali menanam padi. Di saat padi siap di panen, hama tikus dan wereng tiba-tiba datang seperti dari suatu lorong yang besar dan gelap untuk menghabiskan padi-padai milik warga semuanya. Dlori ikut menjadi korban tikus dan wereng.
“Kok diam, Pak?” Zulfin bertanya lagi. “Boros gimana?”
Dlori mendesah. Kedua matanya menerawang sejenak, lalu memandang wajah istrinya itu. Ada sesal yang menggantung di bola matanya itu. Tanyanya, “Berapa ongkos Harun masuk kelas 1?”
“Aku belum jelas, Pak. Tapi, dengar-dengar sekitar satu jutaan. Kamu harus menyiapkannya. Aisyah 500-an ribu untuk masuk TK. Umi 300-an ribu. Bulan depan mereka sudah siap berangkat ke sekolah. Kamu masih ada uang kan, Pak?”
“Masih, Bu…”
“Lalu apa yang kau maksud boros itu?”
“Tetapi uang kita akan habis untuk ongkos masuk sekolah anak-anak, Bu.”
“Maksudmu gimana to, Pak?”
Dlori tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Alih-alih, dia melangkah keluar. Melangkah dengan hati yang mulai didatangi rasa bingung dan cemas. Zulfin memanggil-manggilnya, meminta suaminya itu masuk kembali ke dalam rumah, tetapi Dlori sudah keluar dari halaman rumahnya, entah menuju ke mana.
***
Musim sekolah pun tiba. Dlori memang masih mampu membayar uang masuk ke sekolah untuk anak-anaknya. Tetapi, seperti yang dikatakannya sendiri kepada istrinya, ia tak lagi memiliki uang. Dlori mulai terjerat pada keadaan di mana ia belum pernah mengalaminya: Kehabisan uang. Dan ia tak bisa menyembunyikan hal itu dari istrinya.
Di bulan keempat ketiga anaknya masuk sekolah, ketika Musa sudah pandai berjalan ke sana ke mari, mulailah terjadi percekcokan antara Zulfin dan Dlori. Zulfin menyalahkan Dlori. Dlori menyalahkan Zulfin.
“Kaulah yang boros, Pak. Kau hambur-hamburkan uang untuk nanggap wayang. Uang sebanyak itu—oh, 40 juta lebih—hanya untuk menyenang-nyenangkan hatimu sendiri.”
“Menyenangkan gimana to, Bu? Itu juga demi anak. Demi kelahiran Musa.”
“Tapi kau tak pakek pertimbangan. Memang laki-laki ndak pernah pakek perhitungan. Uang sebanyak itu lebih dari cukup untuk biaya anak-anakmu. Kalau sudah seperti ini, mau apa coba?”
“Kau juga salah, Bu…”
“Loh, kok aku disalah-salahkan juga, padahal kau yang boros..”
“Apa kau lupa, dengan entengnya kau bagi-bagikan beras kita? Apa kau lupa, dengan mudahnya kau keluarkan uang untuk kau berikan pada orang-orang?”
“Loh, itu kan baik? Sedekah? Apa kau lupa nasihat Haji Ridlwan agar kita banyak mengeluarkan sedekah.”
“Kau tidak bersedekah. Kau hanya ingin semua orang melihat bahwa kau orang yang hebat.”
“Kenapa aku yang dipojokkan seperti ini, Pak? Kenapa?”
Dan semua memang ada awalnya. Dan percekcokan itu adalah tanda. Tanda-tanda keretakan hati mereka. Tanda-tanda keretakan harmonisasi mereka. Dan semakin lama, seiring hari demi hari, percekcokan itu justru melebar ke mana-mana. Zulfin menyalah-nyalahkan Dlori. Dlori pun menyalah-nyalahkan Zulfin. Dan di saat yang sama, kesulitan demi kesulitan pun datang beriring-iring. Persis sebagaimana dikatakan dalam kalimat bijak: Bila seseorang sedang mendapatkan kesulitan, lalu setelah itu ia mendapatkan kesulitan-kesulitan baru, bua sesungguhnya kesulitan-kesulitan itu telah diundangnya sendiri untuk masuk ke dalam hidupnya.
Satu setengah bulan kemudian, pertengkaran antara Dlori dan Zulfin sanggup membuat anak-anaknya mengalami ketakutan yang luar biasa. Aisyah menangis-nangis, memeluk Harun yang duduk di pojok ruangan. Umi menangis-nangis memegangi pinggang ibunya. Musa menangis di tempat tidur. Sementara gelas dan piring sudah pecah berkeping-keping, berserakan di atas lantai. Wajah Zulfin merah padam karena marah dan takut. Nafas Dlori mendengus-dengus. Umpatan dan caci bui yang keluar dari bibir keduanya bersaling-silang, bertabrakan, bertubrukan. Teriakan dan jerit tangis Zulfin terdengar hingga keluar rumah.
Hingga menyebabkan satu per satu tetangga dekat keluar dari pintu rumahnya masing-masing. Ini terjadi setelah isya’. Ketika mendengar pertengkaran itu semakin sengit, dan suara gelas dan piring yang pecah membuat khawatir beberapa tetangga, akhirnya mereka mendatangi rumah Dlori, dan berupaya melerai pertengkaran itu.
“Dik, sabar, dik. Sabar…nyebut, dik,” ucap Barokah kepada Zulfin.
“Mas, lebih baik kau menyingkir dulu dari rumah. Tenangkan hatimu dulu. Jangan seperti ini. Kasihan anak-anakmu,” nasihat Kumasi pada Dlori.
Tetapi pasangan suami istri dan orang tua dari keempat anaknya ini seakan tak mendengar saran dan nasihat itu. Bila Dlori berteriak keras, Zulfin pun melawan teriakan itu dengan keras pula. Bila Dlori kembali menyalah-nyalahkan Zulfin, bua Zulfin pun balas menyalah-nyalahkannya. Harun semakin pucat. Aisyah semakin menjerit. Lik Soyi menggendong Umi, dan segera membawanya keluar rumah. Ketika Dlori sudah tak tahan lagi, dan tangannya meraih sebuah gelas di atas meja dan siap dilemparkan ke arah Zulfin, beberapa laki-laki segera mencegahnya, lalu menyeretnya keluar rumah. Lalu Dlori pun melangkah pergi. Hatinya marah. Pikirannya kacau. Perasaaannya sakit. Tanggul jiwanya sebagai seorang laki-laki, suami, dan ayah bagi anak-anaknya pun jebol sudah. Dlori pulang ke Tegal Jadin, meninggalkan istri dan anak-anaknya.
***