Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Bulan-bulan itulah bulan-bulan yang mengiringi kelahiran anak mereka yang kelima: Rahim. Selama sebulan lebih, Dlori tak pernah pulang. Dlori tinggal di rumah salah satu kerabatnya di Tegal Jadin. Kemarahan hatinya membuat ia melalaikan anak-anaknya. Setiap hari setiap malam, Harun dan Aisyah menangis-nangis mencari-cari ayahnya. Tetapi ibunya berkeras hati untuk tidak mau mengantarkan Harun dan Aisyah ke Tegal Jadin untuk menemui ayah mereka, untuk mengobati kerinduan mereka. Begitu Harun dan Aisyah hampir bersamaan menderita sakit, Dlori pun akhirnya pulang.
Ketika Dlori pulang, Lik Soyi bermaksud mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ada beberapa alasan ia melakukannya. Pertama, melihat kekisruhan yang terjadi antara Zulfin dan Dlori. Kedua, hatinya tak tega melihat penderitaan anak-anak Dlori. Ketiga, Dlori sendiri sudah tak sanggup membayarnya. Terngiang-ngiang kembali di benak Lik Soyi apa yang dulu dikatakan Mbah Na’im:
“Zulfin dan Dlori sedang menuju kematian!”
“Apa, Mbah?”
“Mereka mengira sedang melangkah dalam jalan kehidupan, padahal sesungguhnya mereka tengah menapaki jalan kematian.”
Merindinglah bulu kuduk Lik Soyi. Tiba-tiba hatinya membenarkan apa yang pernah dikatakan Mbah Na’im itu. Mbah Na’im ternyata orang yang wasis, bukan orang sembarangan, ngerti sak durunge winarah. Ucapan-ucapan Mbah Na’im selalu benar. Mbah Na’im sudah membaca tanda-tanda itu. Hanya saja, saat itu ia tak mempercayainya, bahkan ia justru menggeleng-gelengkan kepala.
Kini, keinginan mundurnya itu ia sampaikan kepada Mbah Na’im. Ia ingin tahu apakah Mbah Na’im memiliki pikiran yang sama dengannya atau tidak. Kehidupan rumah tangga Dlori tengah bubrah.
“Bagaimana, Mbah?” tanya Lik Soyi di depan mushola Mbah Na’im. “Aku lebih baik berhenti bekerja kan?”
Mbah Na’im hanya tersenyum. Tangannya sibuk bekerja. Menghaluskan butiran-butiran tasbih yang terbuat dari kayu sonong keling. Butiran-butiran itu tak terlalu besar, tetapi tak kecil-kecil amat.
“Bagaimana apanya, Yi?” Mbah Na’im bertanya.
“Emang tadi tak mendengar pertanyaanku, Mbah?”
“Ndak.”
“Oalah, Mbah, Mbah. Aku tanya, apakah aku harus berhenti bekerja dari rumah Dik Dlori?”
“Menurutmu?”
“Menurutku, aku harus berhenti.”
“Kalau itu baik menurutmu, ya sudah berhenti saja.”
“Tetapi aku ingin meminta nasihatmu.”
Mbah Na’im menoleh ke arah Soyi. Lalu menyuruh Soyi duduk di dekatnya. Soyi menurut. Mbah Na’im kembali pada pekerjaannya itu. Beberapa saat kemudian, ia memasukkan biji-biji tasbih ke dalam seutas benang. Benang yang terbuat dari serat kulit sebatang pohon. Lik Soyi diam memperhatikannya. Mbah Na’im menyelesaikan pekerjaannya.
“Ini untukmu,” ujar Mbah Na’im seraya memberikan tasbih yang cantik itu pada Lik Soyi, “terimalah.”
“Untukku, Mbah?”
“Iya, untukmu.”
“Tasbih ini—untukku?” Lik Soyi tidak percaya. “Untukku…untuk apa, mbah? Oalah, Mbah, Mbah. Aku itu ndak ngerti agama. Aku bukan orang yang baik. Aku ndak mau ah, aku takut, Mbah.”
“Kalau kau merasa bahwa kau bukan orang yang baik,” ujar Mbah Na’im, “lalu kenapa kau tak berusaha menjadi orang yang lebih baik, Yi. Ini, terimalah. Kau tahu kenapa ini disebut tasbih?”
Lik Soyi pun akhirnya menerima juga. Ia menggeleng.
“Ia disebut tasbih karena ia digunakan untuk mensucikan Allah, Yi. Setiap usai sholat fardlu, bacalah Tasbih az-Zahra.”
“Tasbih az-Zahra? Maksudmu, mbah?”
“Kau baca “Allahu akbar” 33 x, “Alhamdulillah” 33 x, dan “Subhanallah”, 33 x. Itulah tasbih Fatimatuz Zahra. Itulah yang dicontohkan putri dari baginda nabi.”
Lik Soyi mengangguk-angguk.
Lantas Mbah Na’im berkata, “Dan tentang keinginanmu itu, mintalah petunjuk dari Allah, Yi. Aku itu sepertimu. Aku bukan orang linuwih, pinunjul, seperti yang kau perkirakan. Cobaan dan ujian dari Allah datang silih berganti. Dan hanya kepada Allah kita memohon perlindungan, kekuatan, dan keselamatan diri. Sholatlah, dan dengarkanlah hatimu. Baru kau ambil keputusan apakah kau akan meninggalkan pekerjaanmu atau tidak.”
Lik Soyi mengangguk-angguk lagi. Setelah mengucapkan teribuasih atas nasihat Mbah Na’im, juga teribuasih atas pemberian tasbih itu, juga teribuasih atas ijazah Tasbih Fatimatuz Zahra, Lik Soyi pergi. Meninggalkan Mbah Na’im. Meninggalkan orang tua yang sekarang tampak menengadahkan kedua tangannya kembali.
***
Mengikuti saran Mbah Na’im, akhirnya Lik Soyi tak jadi memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Ia kembali ke rumah Dlori. Ia kembali ke anak-anak Dlori. Hatinya terenyuh melihat suasana dalam kehidupan keluarga Dlori saat ini. Keempat anak Dlori tampak tak terurus, terkalahkan dengan konflik kedua orang tuanya. Harun yang biasanya ceria, kini tampak sering murung. Aisyah yang biasanya centil dan periang, kini seperti sering ketakutan. Umi yang cerewet seperti telah kehilangan cerewetnya. Musa yang belum disapih, laksana kehilangan air susu ibunya. Dalam hati Lik Soyi bertekad, “Aku ndak dibayar ndak apa-apa, asal anak-anak ini sehat wal afiat.”
Keadaan di sawah dan ladang pun masih belum berubah. Musim kemarau datang menyebabkan sebagian besar wilayah ini menjadi kering dan kehausan. Ladang-ladang menjadi sulit untuk ditanami. Di saat yang sama, benih padi yang biasa ditebar sendiri kini harus beli. Dan harganya melambung tinggi. Sebagian warga telah menjerit atas keadaan ini. Dan tampak sekali Dlori di ambang putus asa. Amarah dan rasa kesal pada istrinya terkalahkan dengan perasaan sedih dan kalut memirkikan nasib diri dan keluarganya.
Suatu malam, di saat Lik Soyi sudah pulang ke rumahnya, suasana hati Dlori dan Zulfin telah mendingin. Mereka seperti sadar akan kesalahan masing-masing. Ketika anak-anak mereka telah tidur, keduanya saling mencurahkan hati, meratapi keadaan yang dirasakan amat berat dan pelik ini. Dlori mengungkapkan bahwa apa yang akan mereka hadapi adalah masa-masa yang sulit. Masa di mana, seharusnya, hatinya dan hati sang istri saling menguatkan, saling mengisi, bukan saling menyalahkan, bukan saling benci.
Zulfin luluh.
Zulfin pun merasakan sedih.
Zulfin berkata kepadanya, “Mas, walau kita kesulitan, jangan sampai anak-anak kita mengalami kesulitan pula. jangan sampai mereka gagal sekolah. Masa depan kita ada di tangan anak-anak kita itu, mas. Kau jangan menyerah. Sawah dan ladang kita masih cukup luas. Jangan sampai kita berhutang kepada siapa pun. Lebih baik kau jual sebagiannya, demi anak-anak kita.”
“Kau benar, dik. Aku sudah memikirkannya. Harun harus sekolah. Aisyah dan Umi pun begitu. Aku akan berusaha semampuku untuk membiayai mereka.”
“Terimakasih, mas.”
“Jadi kau memaafkanku?”
“Aku pun minta maaf, mas.”
“Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu?”
“Tetapi aku tak mau memiliki anak lagi, mas!”
“Ssst…, jangan berkata begitu.”
“Pokoknya aku tak mahu.”
“Tetapi aku mau melakukannya denganmu.”
“Tetapi jangan sampai kau hamili aku lagi.”
“Ssst…, anak-anak sudah tidur. Mari kita pindah ke ruang depan.”
***
Tetapi siapakah yang bisa mencegah takdir?
Tak ada.
Tak ada manusia yang sanggup mencegah takdir. Bila Allah telah menentukan, bua tetaplah ketentuan itu. Tak ada satu makhluk pun yang sanggup menghentikan ketentuan itu.
Ada masanya Dlori dan Zulfin saling rukun seperti itu. Ada pula masanya keduanya terlibat pertengkaran kembali. Hal-hal yang remeh, hal-hal yang sepele, kini seringkali bisa berubah menjadi bertele-tele. Ada saja pemicunya. Harun yang seringkali telat pulang dari bermain-main dengan teman-temannya, Aisyah yang seringkali berebutan piring kesukaannya dengan Umi. Umi yang beberapa kali memecahkan gelas tanpa sengaja. Harun dan Aisyah yang merengek-rengek minta jajan. Harun yang suka menghabiskan uang untuk jajan di sekolah dan tak mau membagikannya dengan Aisyah. Semua itu menjadi pemicu. Pemicu kemarahan Zulfin, pemicu pertengkarannya dengan Dlori. Belum lagi Dlori yang mengalami kesulitan menjual sebagian ladang atau sawahnya.
Di saat-saat seperti ini, siapakah yang mau membeli ladangnya?
Tak ada.
Sebab, semua orang juga mengalami kekeringan seperti yang dialaminya. Tanah-tanah di ladang menjadi tak bisa ditanami. Menjadi keras. Rumput-rumput kering membuat ladang tak menarik minat siapa pun petani. Alih-alih mau membeli.
Memang, di Seworan ada yang berminat dengan sebagian sawahnya. Orang itu bekerja di Jakarta. Tetapi Dlori tak sudi melepas sawahnya, sebab orang itu menghinanya. Menghinanya, sebab orang itu hendak membeli sawahnya itu dengan harga yang murah semurah-murahnya. Dlori merasa masih memiliki otak yang sehat untuk tidak sudi melepas sawahnya itu. Dlori sadar bahwa saat ini hanyalah saat-saat yang sulit bagi semua orang, dan kelak sawahnya itu akan kembali menghasilkan panen yang melimpah-ruah.
Dalam keadaan seperti itulah, dari hari ke hari perut Zulfin menggelembung lagi. Zulfin hamil lagi. Para tetangga sudah tidak memedulikannya, sebab mereka pun mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Para penggunjing sepertinya sudah lelah dengan pergunjingan mereka sendiri di satu sisi, dan lelah memikirkan keluarganya masing-masing di sisi lain. Mereka tidak lagi mau memperhatikan kehidupan orang lain. Mereka tak peduli hal itu. Mereka hanya peduli terhadap diri mereka masing-masing. Tetapi Zulfin di masa susah ini bukanlah Zulfin di masa senang. Baginya sekarang, kehamilannya ini adalah sebuah kecelakaan!
“Aku sudah bilang, aku tak mau hamil, tapi kau nekat menghamiliku!” pekiknya. “Keadaan kita sudah melarat seperti ini, kau malah menghamiliku.”
“Kenapa kau tak mau menerima kenyataan?” Dlori balas memekik. “Siapa suruh kamu juga mudah hamil seperti itu.”
“Apa katamu, Pak? Jadi kau merasa tak bersalah?”
“Kau memang sudah hamil, lantas apa maumu?”
“Kau tak pernah mendengarkan omonganku, Pak. Dulu, kusuruh kau untuk tidak ngelayap nonton wayang, kau malah nekat nonton. Kau ajak Harun dan Aisyah memenuhi nafsumu sendiri. Kau pembunuh, Pak? Kau pembunuh!”
“Jaga omonganmu! Tutup mulutmu!”
“Kau membuat hidup kita menjadi susah. Kau makang uang sia-sia untuk nanggap wayang. Kau tak pernah memikirkan masa depan anak-anakmu.”
“Diam…!”
Tetapi bukannya diam, Zulfin terus mengungkit. Mengungkit dan mengungkit. Sambil mengungkit-ungkit kesalahan suaminya itu, ia pun memperlakukan kandungannya secara sembarangan. Sembrono. Dan…kejam. Ia pukuli perutnya sendiri seakan-akan ingin agar perutnya itu bisa kempes lagi. Ia benar-benar tak menghendaki kehamilan ini. Keadaan semakin memburuk manakala Dlori berusaha mencegah tindakannya yang nekat dan sangat membahayakan kandungannya itu. Zulfin berontak. Harun ketakutan dan langsung menutup pintu kamarnya. Aisyah menangis-nangis, menjerit-jerit, seraya menggedor-gedor pintu kamar itu. Umi tak dipedulikan oleh kedua orang tuanya. Zulfin jatuh lemas di atas lantai, sementara kedua pipinya merah karena tamparan kedua tangan suaminya.
***
Dan begitulah takdir menghendaki. Kehamilan anak yang terakhirnya ini, yang kelak dinamai sebagai Rahim, diiringi dengan hati yang penuh amarah, kesal, dan benci. Dari bulan ke bulan, Zulfin abai untuk memperhatikan kehamilannya. Ucapan, sikap, dan perilakunya sebagai seorang ibu tak mencerminkan sikap, ucapan, dan perilaku yang tengah mengandung amanat Ilahi di dalam perutnya. Bahkan ia selalu ingin menggugugurkan kandungannya itu, ia ingin anak yang dikandungnya itu mati saja.
Demi Allah yang jiwa kita berada di dalam genggaman telapak tangan-Nya, sungguh berbeda Zulfin ketika mengandung saat ini dengan saat ia mengandung anak-anak sebelumnya. Harun, Aisyah, Umi, dan Musa, benar-benar menikmati cinta, kasih, dan sayang dari sosok yang disebut ibu.
Ya, ibu.
I-B-U.
Bahkan sebelum ia mengandung mereka masing-masing, ia sangat mendambakan dan merindui kehadirannya. Jauh sebelum perutnya mengandung, ia dan suaminya mentautkan cinta dan kasih dalam hangatnya peluk dan lembutnya cium, hingga peluk-cium itu membuahkan benih di dalam rahimnya. Ketika itu, dari hari ke hari, dari hari ke bulan, ia merawat kandungannya dengan sebaik-baiknya. Ia selalu mengelus-elus perutnya seumpama ia mengelus-elus punggung anaknya. Ia perhatikan benar kesehatannya demi kesehatan anak yang dikandungnya. Dan ketika mereka lahir, mereka pun diperlakukan sebagaimana mestinya.
Tetapi sekarang?
Kandungannya kian besar, tetapi rasa bencinya kian menjadi-jadi. Berkali ia telah mencoba menggugurkannya, tetapi ia tak berhasil juga. Dlori, sang suami, tampak tak bisa berbuat apa pun. Dlori sudah disibukkan dengan urusan bagaimana bisa kembali menata ekonominya.
Stress melanda jiwa Zulfin, tetapi karena itu pula perutnya tiba-tiba terasa sakit, sangat-sangat sakit. Usia Sembilan bulan sepuluh hari belum sampailah, tetapi sang bayi seperti sudah tak sabar untuk keluar. Ketika Dlori tengah berada di sawah sore itu, sementara Lik Soyi sedang menggendong Musa, Zulfin menjerit-jerit di kamarnya membuat Lik Soyi ketakutan.
“Panggilkan Mbok Nah! Cepat panggil dia!” teriaknya kepada Lik Soyi.
Lik Soyi pun, dengan tetap menggendong Musa, pergi ke rumah dukun bayi itu. Dan beberapa saat kemudian, Mbok Nah datang tergopoh-gopoh dan segera masuk ke kamar Zulfin.
“Kau akan melahirkan, Zul,” ujar Mbok Nah. “Kau akan melahirkan.”
“Tetapi ini belum genap Sembilan bulan, Mbok?” yang bertanya ini Lik Soyi. Dia memang tidak memiliki pengalaman tentang melahirkan bayi, hanya saja dia tahu bahwa biasanya bayi akan lahi setelah umur sembilan bulan lebih sepuluh hari di dalam kandungan.
“Ssst…, aku tahu dia akan melahirkan!” jawab Mbok Nah. “Cepat, kau masak air. Siapkah air hangat. Aku akan membantunya melahirkan.”
Lik Soyi keluar kamar.
Harun dan Aisyah tampak cemas.
Zulfin masih mengerang-ngerang.
Harun dan Aisyah mengikuti Lik Soyi yang pergi ke dapur untuk masak air. Umi masuk ke dalam rumah dari pintu belakang.
“Ibu mau melahirkan,” bisik Harun pada kedua adiknya.
“Kita akan punya adik lagi?” Aisyah bertanya.
“Iya.”
“Kalian…,” ujar Lik Soyi kepada mereka, “kalian, berdoalah. Semoga adik kalian selamat.”
Mereka mengangguk.
“Harun, kau cari ayahmu ke sawah, mas. Ajak ayah pulang. Ibu mau melahirkan.”
“Iya, Lik,” jawab Harun.
“Aku ikut mas!” Aisyah meminta.
“Mbak Aisyah di rumah saja.”
Harun sudah berlari kencang ke luar rumah, membuat wajah Aisyah tampak kecewa.
Satu menit, dua menit, satu jam, dan dua jam kemudian…
Anggota keluarga itu sudah berkumpul semua di ruang tengah. Dlori dikelilingi ketiga anaknya. Wajahnya tampak cemas. Anak-anaknya diam menunggu. Lik Soyi sibuk menenangkan Musa yang sedari tadi menangis, seakan merasakan beratnya perjuangan ibu yang hendak melahirkan adiknya. Lik Soyi seakan tidak tahan mendengar erangan dan rintihan Zulfin dari dalam kamar. Kedua kakinya gemetaran. Dlori mengelus-elus rambut Aisyah. Lalu, pada detik berikutnya, terdengarlah suara itu.
Bayi itu…
Wajah Dlori langsung berubah.
Dlori hendak masuk ke dalam kamar, tetapi Mbok Nah belum memanggilnya. Ucap syukur terlantun di hati Lik Soyi, walau wajahnya masih tampak cemas. Ia tahu apa yang tidak diketahui oleh Dlori.
Beberapa saat kemudian, bukan Mbok Nah yang menyuruh mereka masuk ke dalam kamar, melainkan Zulfin yang berteriak:
“Pak…! Lik Soyi….! Masuklah…”
Mereka pun masuk.
Harun dan Aisyah dan Umi hendak ikut masuk, tetapi Lik Soyi mencegahnya. “Tunggu dulu. Kalian di sini dulu ya? Jangan ganggu ibu dan adik kalian dulu.”
Mereka menurut.
“Sudah kau siapkan airnya, Yi?” Mbok Nah bertanya, dijawab anggukkan kepala oleh Lik Soyi. Lik Soyi keluar ruangan. Ia menurunkan Musa di ruang tengah dan meminta kakak-kakaknya untuk menjaganya. Lik Soyi mengambil ember ukuran besar yang telah diisi air hangat dan membawanya ke dalam kamar.
Si jabang bayi merah itu menangis.
Menangis lirih.
Mbok Nah masih memegangnya, dan dengan caranya yang sudah sangat berpengalaman ia segera memandikan bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu.
“Aku tak mau melihatnya! Bawa ia keluar! Mandikan ia di luar sana!” Zulfin berteriak-teriak dengan sisa-sisa kekuatannya, membuat Dlori, Lik Soyi, dan Mbok Nah sendiri merasa kaget.
Mereka memandingi Zulfin.
“Bawa keluar….!” Ucapan Zulfin lagi.
“Bawa ember itu keluar, Lik,” Dlori meminta dengan bahasa yang agak lembut, membuat Lik Soyi segera mengangkat ember itu ke luar ruangan. Mbok Nah mengikutinya sembari mendekap si jabang bayi.
“Bawa pergi bayi itu. Aku tak mau melihatnya. Bawa pergi!” Zulfin masih berteriak-teriak.
Mbok Nah diam.
Mbok Nah tak menjawab. Tak mau menjawab. Ia segera memandikan bayi tak berdosa itu.
Dlori memanggil Lik Soyi agar Lik Soyi masuk ke dalam kamar.
“Iya, dik?” Tanya Lik Soyi.
“Bawa bayi itu ke Mbah Na’im!” seru Dlori.
“Kenapa, dik?”
“Pokoknya bawa ke sana. Mintakan nama untuknya.”
“Kau kan ayahnya?” Lik Soyi melawan. Ada rasa jengkel dan sedih dalam ucapannya ini.
“Pokoknya bawa ke sana. Setelah itu, kau boleh bawa dia ke sini lagi.”
Lik Soyi tak menjawab, ia hanya mengangguk-angguk saja. Ia keluar dari kamar lagi dengan hati dan pikiran yang tak mengerti.
***
Bersama Mbok Nah, akhirnya dibawalah sang jabang bayi ke rumah Mbah Na’im. Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan beberapa tetangga yang wajahnya terheran-heran melihat Lik Soyi dan Mbok Nah itu. Mereka bertanya hendak ke mana. Lik Soyi pun menjawab, hendak ke rumah Mbah Na’im. Apakah Zulfin sudah melahirkan. Iya, jawab Lik Soyi. Bukankah usia kandungannya belum genap sembilan bulan? Iya, jawab Lik Soyi lagi. Lalu kenapa bayi itu di bawa ke rumah Mbah Na’im? Disuruh Dlori, jawab Lik Soyi. Para tetangga itu saling berpandangan. Saling kebingungan.
Ada apa?
Kenapa?
“Aneh…., tak seperti dulu,” ujar seseorang.
“Sejak Dlori cekcok dengan istrinya itu, mereka memang menjadi keluarga yang aneh. Dlori kan pernah minggat dari rumah hampir sebulan?”
“Tetapi kenapa bayinya itu disuruh dibawa ke Mbah Na’im?”
“Itu dia yang membingungkanku.”
“Apa kita ikut ke rumah Mbah Na’im saja?”
“Ayo….!”
Tanpa dikomando, beberapa tetangga itu pun menyusul Lik Soyi dan Mbok Nah ke rumah Mbah Na’im.
Beberapa saat kemudian, Mbok Nah dan Lik Soyi sudah sampai di rumah Mbah Na’im. Mereka melihat Mbah Na’im sedang turun dari musholanya. Mbah Na’im duduk, seperti biasa, di pintu masuk mushola. Wajahnya tampak tegang melihat kedatangan kedua orang itu. Dan Mbah Na’im memang sudah menunggu kedatangannya, tetapi keduanya tak tahu-menahu soal itu. Mbah Na’im pun sudah mempersiapkan ember dan sudah diisi dengan air panas di samping selatan mushola. Air panasnya itu sekarang sudah menjadi hangat.
“Aku datang di suruh Dlori, Mbah. Aku datang membawa anaknya yang kelima. Oalah, Mbah, Mbah. Aku bingung dengan mereka itu. Ini bayinya, tetapi seakan-akan mereka tak mau mengakuinya.” Ucap Lik Soyi, hampir menangis.
Mbah Na’im berkata pada Mbok Nah, “Mbok, mandikan bayi ini.”
“Tadi sudah aku mandikan, Mbah.”
“Mandikan lagi. Di dalam ember sana, di samping selatan mushola.”
Anehnya, Mbok Nah mengikuti saja permintaan Mbah Na’im ini. Dan untuk sekali lagi, si jabang bayi itu dimandikan.
Ketika itu, para tetangga sudah sampai di depan mushola. Sesampai di sini, tampak sekali mereka kebingungan. Kenapa kita ke sini? Ada apa ini? Kenapa kita hendak ingin tahu? Mereka saling bertanya sendiri, dalam hati. Mereka akhirnya hanya duduk-duduk saja, di dekat Mbah Na’im. Mbah Na’im tak menyapa mereka, tetapi membiarkan saja mereka berada di sini.
Setelah sang jabang bayi itu dimandikan, ia dibawa kembali ke hadapan Mbah Na’im. Mbah Na’im bangkit dari duduknya, dan mengajak Lik Soyi dan Mbok Nah masuk ke dalam mushola.
Para tetangga itu pun ikut-ikutan masuk, seakan mereka sudah menjadi bagian dari kejadian yang tak direncanakan ini.
Di dalam mushola, ternyata Mbah Na’im sudah menyiapkan tikar yang dilapisi selimut yang agak tebal. Sejenak, Lik Soyi dan Mbok Nah merasakan keanehan dari pemandangan yang dilihatnya ini, tetapi perasaan yang seperti ini hanya terjadi sesaat saja, tergantikan oleh perasaan lain untuk segera melihat sang jabang bayi diperlakukan sebagaimana seorang bayi yang lahir dari orang tua yang muslim.
Mbok Nah meletakkan bayi itu di atas tikar berlapis selimut. Mbah Na’im pun segera menyenandungkan adzan di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya. Setelah itu, ia mengangkat kedua tangannya, berdoa: “Ya Allah, kumohon perlindungan kepada-Mu untuk anak ini dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan dan kesusahan, dan dari pandangan mata yang menyakitkan.”
Ilahi amin.
Amin, amin, ya Rabb al-‘alamin.
“Mbah, tangisannya keras sekali!” Mbok Nah berkata.
Seorang tetangga yang ikut masuk langsung berkata seakan dia orang yang berilmu, “Itu karena setan sangat keras menusuk lambungnya.”
Yang lain berkomentar, “Iya, kecuali Isa putra Maryam.”
Mbah Na’im menggeleng-geleng mendengar penuturan kedua orang tua. Dan Mbah Na’im menatapnya tajam, seraya berkata, “Darimana kalian tahu seperti itu?”
“Haji Ridlwan pernah menerangkannya, Mbah. Kata nabi, begitu.”
“Nabi siapa?”
“Ya nabi Muhammad lah, mbah. Nabi Muhammad bersabda seperti itu: Bayi itu menangis karena lambungnya ditusuk setan, kecuali Isa bin Maryam.”
“Jadi kau pikir,” bantah Mbah Na’im, “lambung Rasulullah saw ketika beliau dilahirkan, juga ditusuk setan gitu?”
“Ya kalau menurut riwayat itu ya seharusnya begitu, Mbah…”
“Istighfar-lah kalian!” seru Mbah Na’im.
“Kenapa, Mbah?”
“Karena kalian menganggap Rasulullah saw ditusuk lambungnya oleh setan ketika lahir!”
“Saya kan hanya mengatakan apa yang dijelaskan Haji Ridlwan, Mbah.”
Mbah Na’im menggeleng-geleng, tetapi ia tak memedulikan perkataan orang-orang itu. Ia menyuruh Lik Soyi masuk ke dalam rumahnya, mengambil kurma yang telah ia siapkan di atas piring di atas meja. Lik Soyi pun segera keluar dari mushola. Dan kepada Mbok Nah, dan para tetangga yang masih mengelilingi bayi itu, Mbah Na’im berkata, “Bayi ini aku beri nama Rahim. Dialah Rahim. Semoga Allah mengaruniai jiwanya sebagaimana yang dikaruniakan-Nya kepada Rasulullah Rahim as.”
Amin.
Amin.
Mereka mengaminkan.
Ketika Lik Soyi masuk kembali ke dalam mushola, salah seorang tetangga itu berkata kepadanya, “Mbah Na’im telah memberinya nama Rahim.”
“Alhamdulillah,” ujar Lik Soyi sembari menyerahkan kurma itu pada Mbah Na’im. Lalu, dengan kurma itu, Mbah Na’im men-tahnik Rahim.
***