Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Bening air mata Kiyai Na’im jatuh membasahi pipinya yang keriput. Hatinya yang lembut dan penuh kasih, akhlaknya yang terjaga dari dosa dan busiat, dan jiwanya yang selalu ia pautkan ke hadapan Yang Mahacinta memberinya kemampuan yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Bahwa ia—kurang lebih sepuluh tahun yang silam—memberi nama anak itu dengan nama Rahim, sebab ia telah memohon petunjuk kepada-Nya atas nama anak yang dibawa Mbok Nah dan Lik Soyi ke hadapannya. Allah pun memberinya hikmah untuk menamai anak itu dengan nama itu. Dan hikmah itu pulalah yang dapat ia sarikan dari firman-Nya yang suci:
Hai Rahim, ambillah Al Kitab itu dengan sungguh-sungguh, dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertaqwa. Dan banyak berbakti kepada dua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam: 12-15).
Tak terasa, peristiwa itu memang sudah terjadi kurang lebih sepuluh tahun yang silam, tetapi rasa-rasanya baru terjadi kemarin sore. Rasa-rasanya, baru kemarin ia melihat jabang bayi merah itu, mendengar tangisannya yang keras, melihat rambutnya yang lebat, melihat kedua matanya yang terpejam, merasai kulitnya yang lembut. Rasa-rasanya, baru kemarin ia melihat Lik Soyi dan Mbok Nah dan beberapa tetangga itu keluar dari mushola ini. Mbok Nah dan Lik Soyi membawa Rahim kembali ke pangkuan kedua orang tuanya. Tetapi oh, ternyata sudah sepuluh tahun.
Ya, sepuluh tahun.
Sepuluh tahun yang penuh dengan penderitaan yang dialami Rahim. Penderitaan yang datang dari kedua orang tuanya sendiri. Astaghfirullah. Astaghfirullah.
Rahim disia-siakan.
Rahim tak mendapatkan cinta, kasih, dan perhatian sebagaimana yang diberikan kedua orang tuanya kepada empat kakaknya. Rahim yang kelahirannya sudah tak dikehendaki ibunya, bahkan sang ibu sudah menghendaki untuk “membunuh”nya saat mengandungnya. Begitu Rahim sudah lahir, Zulfin mengacuhkannya. Zulfin tak memandangnya sebagaimana anak kandungnya sendiri. Bahkan, Zulfin menganggap kelahiran Rahim sebagai pembawa sial belaka!
Betapa tidak!
Ketika Rahim berumur satu tahun, kakaknya Musa, hampir saja celaka karena ulahnya yang menyenggol gelas berisi air panas dan tumpah di wajah Musa. Zulfin memukulinya, dan kalau Lik Soyi tak mencegahnya dan segera membawa Rahim keluar rumah, bisa jadi Rahim sudah meninggal karena dipukuli ibunya.
Ketika Rahim berumur tiga setengah tahun, para tetangga dibuat terenyuh dan hanya bisa mengalirkan air mata, melihat Rahim duduk di halaman rumah ketika waktu sudah larut malam.
“Kau kenapa, nak?” Tanya Bandi.
Rahim menangis.
“Kenapa…?”
“Aku ndak boleh masuk. Aku disuruh tidur di sini.”
Bandi pun mengetuk-ketuk pintu. Bandi memanggil-manggil, “Hai, Dlori. Wahai Zulfin—kenapa kalian biarkan Rahim ada di luar seperti ini? Kasihan dia. Malam semakin larut. Hai…tolong jangan diam.”
Tetapi tak ada jawaban.
Panggilan Bandi diacuhkan.
“Ayo kau tidur di rumahku saja, nak?” ajak Bandi.
Tetapi Rahim menggeleng.
“Kenapa? Tak baik kau berada di luar seperti ini.”
“Ndak apa-apa…ayah menyuruhku di sini.”
Bandi menggeleng-geleng.
Bandi kebingungan.
Bandi tak bisa berbuat apa-apa.
Datanglah Sri Rejeki.
“Ayo tidur di rumah Bude,” ajaknya.
“Rahim di sini saja.”
“Nanti ada hantu. Ayo, jangan menolak.”
“Rahim takut sama ibuk. Biar Rahim di sini saja.”
Sri Rejeki pun tak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa tetangga dekat pun gagal membujuk Rahim. Mereka pilu melihat Rahim diperlakukan seperti itu. Mereka kesal dan marah kepada kedua orang tuanya, tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mereka hanya duduk-duduk di teras masjid. Mereka menemani Rahim dari kejauhan. Begitu waktu semakin larut, dan pagi datang mengganti malam, saat mata mereka mengantuk dan mereka hendak pulang ke rumahnya masing-masing, mereka melihat anak pertama Dlori, Harun, keluar dari pintu belakang. Mereka pun memperhatin Harun menggandeng tangan adiknya itu, lalu membawanya masuk ke dalam rumah melalui pintu di belakang itu.
Ketika Rahim berumur tujuh setengah tahun dan teman-teman sebayanya tampak riang dan senang dan sudah tidak sabar untuk bisa masuk sekolah, rengekkan Rahim yang meminta ayahnya untuk bisa sekolah dibalas dengan jeratan tali di sekujur tubuhnya dan diikatkannya tubuhnya itu di sebatang pohon di belakang rumah.
“Kau ini manusia atau bukan, Dlor!” seorang tetangga tak bisa menahan amarahnya melihat seorang ayah tega menyiksa anak kandungnya sendiri dengan cara sadis dan kejam seperti itu.
“Bukan urusanmu, Lik!” jawab Dlori. “Urus sendiri anak-anakmu.”
Akhirnya, karena rasa malu dan takut ia akan dilaporkan ke polisi, Rahim pun dibebaskannya dari jeratan tali itu. Dan sekali tending, Rahim terlempar jatuh di atas tanah. Tetapi Rahim tak menangis.
“Maafkan saya, Ayah. Saya tak akan minta sekolah lagi…”
“Masih untung kau kuberi makan!” bentak Zulfin. “Kalau tidak, kau akan kelaparan dan menjadi pengemis di luaran sana.” Kata-kata seperti itu, entahlah, sudah berapa ratus kali diucapkan Zulfin kepada Rahim. Kali ini ia ucapkan lagi menanggapi permintaan Rahim yang minta sekolah itu.
Dan ketika umur delapan tahun, saat itu sawah dan ladang Dlori tinggal setengah. Yang setengah telah ia jual untuk membiayai sekolah keempat anaknya. Saat itulah Dlori mulai menyuruh Rahim untuk mencangkul di sawah atau di lading.
“Kalau kau ingin bisa makan, kau harus mencangkul sawah dan lading!” ucap Dlori.
Rahim mengangguk.
Rahim menuruti.
Rahim takut akan disiksa lagi oleh ayah atau ibunya bila ia menolak perintah mereka.
Ketika musim lebaran tiba, dan keempat kakaknya dibelikan baju baru oleh ayahnya, Rahim tak dibelikan baju baru. Musa merasa sedih melihat adiknya seperti itu. Kakak-kakaknya yang lain pun ikut merasa sedih. Tetapi mereka lebih takut dan ngeri kepada orang tuanya daripada selalu menampakkan rasa sedih kepada adiknya.
“Kau pake bajuku ya?” ujar Musa. “Bajuku masih bagus.”
“Iya,” Rahim menjawab.
Dan ketika Dlori mengajak istri dan anak-anaknya untuk pergi liburan ke sebuah kolam wisata masih di wilayah Boyolali, hanya Rahim yang ditinggal sendiri di rumah. Kali ini Rahim ingin ikut. Rahim menangis-nangis. Sebuah tamparan keras yang dilakukan ibunya membuatnya jatuh terpojok. Rahim langsung berlari meninggalkan rumah. Para warga yang sudah tak bisa berbuat apa-apa melihat bocah itu pergi ke lading. Pergi ke bukit. Pergi ke air terjun. Beberapa orang mengikutinya, cemas jangan sampai Rahim bertindak nekat. Dan di ladang itulah, ketika semua orang tua masih berbahagia merayakan lebaran, ketika anak-anak kecil berlarian ke sana ke mari sembari bermain-main dengan petasan dan kembang api, ketika mereka mimakai baju baru dan Rahim hanya bisa memakai baju bekas kakaknya, orang-orang itu mendengar Rahim berkata:
Irikah aku bila melihat Ilham disayangi begitu rupa, seringkali disuapi, diperlakukan dengan manja, mendapatkan peluk dan cium serta kecupan di keningnya oleh ibunya, sedangkan aku seperti dia, sama-sama anak bungsu dari banyak saudara? Tak layakkah aku, menjadi seperti anak-anak ayam itu, yang mendapatkan kehangatan dan keteduhan dari sepasang sayap induknya? Harus bagaimanakah aku, ketika kau mendengar apa kata ibumu kepadamu di hadapan saudara-saudara kandungmu sendiri, sementara air matamu hanya bisa berlinangan dan sepasang bibirmu yang kering menjadi basah oleh air mata itu:
“Kelahiranmu adalah kesalahan ayahmu! Aku sudah tak menghendaki anak lagi, tetapi ayahmu tak tahu diri. Kau lahir tanpa kehendakku, dan hidupmu hanya akan menambah kesusahan kami!”
Ya, itulah aku. Yang kelahiranku tidak dikehendaki oleh ibuku. Yang kelahiranku adalah buah dari kesalahan ayahku. Yang hidupku hanya akan menambah kesusahan ibuku.
Inilah aku, yang setongkat jiwanya menjadi patah dan rapuh, mata kecilnya lebih redup dari waktu di ba’da asar, dan air matanya yang panas dan perih lebih hangat dari mentari di ba’da zuhur. Ketika kudapati anak elang yang melayang-layang dari pucuk pohon yang tinggi di bukit itu, sedangkan sang elang hanya melihatnya dari atas sana, aku sempat berpikir betapa malangnya anak elang itu dan betapa kejamnya induknya, dan seperti itu pulalah kemalangan yang aku alami dari elang yang bernama ibu. Ketika hampir kupejamkan mata sebab merasa sedih dan kasihan melihat tubuh mungil anak elang itu hampir saja berdebam jatuh di atas batu, tiba-tiba sang elang melesat secepat kilat, sayapnya yang terbentang hebat membawa tubuhnya menukik dan dalam sekejap cakarnya yang kuat menyambar anaknya itu dan menyelamatkan tubuh mungilnya dari hantaman ke batu. Anak elang tak jadi hancur tubuhnya. Induk elang tak kejam, ternyata.
Tak seperti ibuku.
Betapa kejamnya dia atas diriku.
Tetapi kepada siapa aku harus mengadu? Seandainya bukan karena hatiku yang selalu dihibur orang tua yang rambutnya telah memutih semua itu, Kiyai Na’im itu, lebih baik bagiku pergi sejauh-jauhnya dari rumahku, atau mencari elang yang dengan paruhnya ia sorong tubuhku, dan melayang jatuh hingga berdebam di atas batu. Jika bukan karena kiyai tua itu, kematian lebih mulia bagiku daripada hidup yang tak dikehendaki oleh ibu kandungnya sendiri, sedangkan ayahnya seakan-akan tak pernah memedulikannya, sedangkan saudara-saudaranya hanya membiarkannya seraya mendapatkan asupan cinta dan kasih yang sempurna dari kedua orang tuanya!
Duh, Ilahi…
Kepada siapa daku akan mengadu, sedangkan Engkau adalah Dzat Yang Maha Menghidupkan, dan dari daya-Mu Kau hidupkan aku melalui rahim ibuku??
Orang-orang yang mendengar rintihan Rahim itu menangis tersedu-sedu, lalu berlarian memeluk bocah itu. Mereka menghiburnya. Mereka hibur kesedihannya. Mereka memintanya untuk bersabar. Di antara mereka ada seorang pemuda yang berpendidikan tinggi, yang bercerita kepada Rahim tentang seorang anak dari negeri Cina. Beginilah ceritanya:
***
Di negeri Cina, tersebutlah anak yang bernama Zhang Da. Umurnya? Duh, umurnya hampir sama dengan umurmu, dik. Dia dua tahun lebih tua darimu. Dia adalah anak yang luar biasa. Dia berbakti kepada ayahnya.
Ketika itu ibunya pergi meninggalkannya karena sudah tidak tahan lagi hidup bersama ayahnya yang sakit keras dan miskin. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang ayah yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan.
Keadaan ini membuat Zhang Da yang belum genap 10 tahun itu untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk ayahnya dan juga untuk dirinya sendiri. Ia juga harus memikirkan obat-obat yang harus dibelikan untuk ayahnya, yang pasti tidak murah harganya.
Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah!
Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan ayahnya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, ia mulai makan dedaunan, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba mimakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan.
Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk ayahnya. Hidup seperti ini ia jalani selama 5 tahun, tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.
Ia menggendong ayahnya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan ayahnya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan ayahnya, semua ia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.
Zhang Da menyuntik sendiri ayahnya. Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Memang, sejak ia sering melewati hutan dan mimakan daun-daunan itu, ia mulai belajar tentang obat-obatan. Ia juga belajar melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa mampu, ia nekat untuk menyuntik ayahnya sendiri. Ia sudah menyuntuk ayahnya selama lebih kurang lima tahun, bua Zhang Da sudah terampil dan ahli menyuntik.
Kau tahu, dik. Selama bertahun-tahun ia bisa bertahan. Ayahnyajuga tetap hidup. Ketika pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal hadir dalam acara penganugerahan sebuah penghargaan, dan semua mata sedang tertuju kepada Zhang Dan pembawa acara (MC) bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu? Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah? Besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!”
Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa.
MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu.”
Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar ia pun menjawab, “Aku mau ibu kembali. Ibu, kembalilah ke rumah. Aku bisa membantu ayah. Aku bisa cari buah sendiri. Ibu, kembalilah!”
***
Lalu, pemuda itu berkata kepada Rahim, “Dik, jalan hidupmu memang berbeda dengan Zhang Da. Kau pun masih lebih kecil dari dia saat itu. Kau pun mengalami masalah yang berbeda. Tetapi ingatlah, masih banyak orang di desa kita yang sangat mencintaimu, sangat mengasihimu. Walau mereka kejam terhadapmu, mereka tak bermaksud seperti itu, mereka tetap ayah dan ibumu. Bila kau bisa berbakti dan tetap hormat kepada mereka, Allah akan mengangkatmu. Allah akan mengangkatmu, dik!”
***
Kata-kata yang diucapkan sepenuh hati, datang dari hati, disertai ketulusan dan cinta kasih, dapat membekas pula di hati. Cerita tentang anak Cina yang bernama Zhangda dan juga nasihat pemuda itu, begitu mempengaruhi jiwa Rahim. Dan sejak saat itu, Rahim pun menerima semua sikap, ucapan, dan perlakuan ayah ibunya.
Rahim senang bisa melihat kakak-kakanya sekolah setiap pagi, dan pulang setiap siang. Walau masih ada sebersit rasa sedih di hatinya bila memandangi kakak-kakaknya itu pergi ke sekolah, Rahim tetap mendokan mereka. Tetap berdoa yang sebaik-baiknya untuk kakak-kakaknya itu. Ketika ia harus pergi ke ladang atau sawah, dan ibunya menjanjikan agar mengiriminya makan, dan ternyata makanan yang dijanjikan itu tak datang-datang, Rahim tidak mengeluh. Rahim menerimanya. Dan ketika ayahnya tengah bekerja di sawah milik Lik Bandi, dan ia sendiri mencangkul di ladangnya, Kiyai Na’im melihatnya dan segera memberikan makanan untuknya itu.
***
Dan begitulah garis hidup yang telah ditentukan pada diri Rahim. Hari berbilang bulan, dan bulan pun berbilang tahun. Orang silih berganti datang dan pergi. Haji Ridlwan dan Haji Mukhtar telah berpulang ke pangkuan Ilahi. Mbok Wuryani dan Muhaya juga telah pulang ke pangkuan Ilahi. Para pembisik dan penggunjing pun sudah pulang juga. Sekali dua kali, Kumasi masih suka bergunjing tentang anak-anak Dlori yang justru disekolahkan di sekolah umum.
Surti masih hidup.
Tetapi entah di mana Surti kini tinggal.
Orang-orang dari desa Seworan pernah ada yang mengatakan bahwa Surti sudah menjadi seperti orang gila. Terkadang orang merasa melihat Surti berada di antara pepohonan di bukit Siwalan.
Lik Soyi, selama itu, justru sering menjadi “ibu” Rahim.
Mbah Na’im pun akhirnya mengajari Rahim mengaji al-Qur’an, mengaji kitab-kitab kuning, mengajari hikmah dan lain sebagainya. Jiwa Rahim melesat dan terbang tinggi. Sementara kakak-kakaknya sekarang sudah meninggalkan rumah, mengejar cita-citanya.
Dan kini, sawah dan ladang milik Dlori tinggal sepetak-sepetak. Yang lain sudah habis dijual untuk membiayai kuliah dan sekolah keempat anaknya. Sikap mereka terhadap Rahim tampak tak berubah sedikit pun, walau mereka tahu dan sadar bahwa di rumah hanya ada Rahim yang selalu setia menemani mereka di siang dan malamnya.
***
Dua belas tahun kemudian, ketika umur Rahim telah mencapai dua puluh dua, tampaklah Dlori dan Zulfin yang telah dimakan usia. Kulit mereka sudah mengeriput. Sisa-sisa kesuksesan dan kejayaan di masa lalu telah sirna dari pelupuk matanya. Bila ada satu hal yang dapat membuat mereka merasa senang dan bahagia, adalah kenyataan bahwa mereka berhasil mengantarkan keempat anaknya mencapai sukses dan cita-cita.
Harun telah bekerja di sebuah perusahaan yang bonafit di Jakarta.
Aisyah telah menjadi dosen negeri di Bandung.
Umi hampir menyelesaikan kuliahnya di kedokteran, dan tengah bersiap-siap mengerjakan skripsi. Walaupun begitu, beberapa rumah sakit maupun klinik kesehatan telah siap menerimanya nanti.
Dan Musa, kini dibiayai Harun dan Aisyah sekolah di luar negeri.
Dan hanya Rahim.
Ya, hanya Rahim yang tidak bisa sukses dan membanggakan di mata Dlori dan Zulfin. Pemuda itu setiap hari hanya bergelut dengan sawah dan ladang. Bergelut dengan al-Qur’an dan kitab kuning. Bergelut dengan segenap perasaan selalu dipingggirkan, mendapatkan ketidakadilan cinta, kasih, dan sayang dari kedua orang tuanya.
Tetapi apalah artinya kesuksesan dan kebanggaan itu, orang-orang yang kepada mereka kesuksesan dan kebanggaan itu hendak ditunjuk-tunjukkan, kini telah berkalang tanah?
Kumasi telah meninggal.
Jumilah pun telah meninggal.
Surti telah gila dan entah dia berada di mana.
Barokah telah menyusul Muh Tohar ke alam baka.
Sukinah ikut anaknya tinggal di Magetan, Jawa Timur.
Mbah Kamiyem telah lebih dahulu meninggal dari banyak orang itu.
Dan kini, yang hidup di Siwalan hanya generasi baru. Generasi yang tak tahu apa-apa tentang kerisuhan, kisruh, dan percekcokkan di masa lalu. Generasi dengan pikiran-pikiran baru dan lebih maju. Tetapi mungkin, suatu saat kelak, akan kembali mengulangi sejarah dari orang tua dan nenek-moyangnya sendiri-sendiri, tentang silang sengkarut kehidupan yang saling iri dan dengki, memuji dan merendahkan, menginjak-injak dan membangga-banggakan, antara satu keluarga dengan keluarga yang lain.
“Oh, andaikan mereka masih hidup!” ujar Zulfin kepada suaminya. “Mereka akan mengakui bahwa kita mampu membuat anak-anak kita sukses seperti sekarang.”
“Iya, Bu. Sayang mereka sudah meninggal semua.”
“Kita hanya gagal terhadap satu anak kita saja.”
“Iya, Musa. Biarlah. Biarlah dia menjadi anak yang memalukan seperti itu. Toh sudah tidak ada lagi yang akan menjelek-jelekkan dan merendah-rendahkan kita, Pak.”
“Iya, Bu.”
***
Dan tibalah saat itu.
Saat di mana baik Dlori maupun Zulfin sangat merindui dan mengharapkan anak-anaknya bisa pulang. Sudah bertahun-tahun mereka tak pulang menjenguk orang tuanya. Ketika mereka dihubungi, mereka selalu saja memiliki alasan yang tidak bisa dibantah-bantah.
“Maaf ayah, saya sedang sangat sibuk. Bos meminta saya mengurus bisnis di Kalimantan. Maaf ya. Nanti kalau sudah tak sibuk, saya akan pulang.” Ini alasan harun.
Aisyah pun begitu, “Ibu, Sebentar lagi saya akan mewakili kampus untuk kerjasama dengan universitas dari Amerika. Saya akan berangkat ke Amerika. Sekarang saya harus mempersiapkan semuanya dulu. Maaf ya, Bu. Saya belum bisa pulang.”
Umi pun begitu, “Bu, Pak. Saya baru saja kerja di rumah sakit ini. Tak enak rasanya bila saya harus mengambil cuti. Lain waktu, saya akan menjenguk Bapak dan Ibu.”
Musa tak bisa dihubungi sebab ia berada di luar negeri.
Gagal.
Mereka tak pulang.
Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Satu setengah tahun kemudian, ketika kondisi kesehatan Dlori dan Zulfin semakin memburuk, mereka mencoba berbagai cara menyuruh anak-anaknya pulang. Tetapi apa kata Harun? Aisyah? Umi? Dan Musa?
Harun menjawab melalui suratnya, “Sekarang saya di Papua, Ayah. Dua bulan lagi, saya akan pulang.”
Aisyah berkata, juga dalam suratnya, “Iya, ayah. Saya akan segera pulang. Saya pulang diantar calon suami saya. Calon menantu ayah. Sekarang dia masih di luar negeri. Ketika nanti kembali, saya akan pulang.”
Umi tak ada kabar. Bua kita tak tahu alasannya kenapa ia tak bisa pulang memenuhi panggilan ayah dan ibumu.
Begitu Musa dikabari sakit ayah dan ibunya, Musa berkata melalui surat singkatnya, “Ayah, di rumah kan ada dik Rahim. Semoga dik Rahim bisa merawat sakit ayah dan ibu dulu, sebelum saya bisa pulang ke Siwalan yang tercinta. Titip salah buat dik Rahim. Tolong suruh dia menjaga ayah dan ibu.”
Bua benarlah apa yang dikatakan Musa dalam suratnya itu.
Bertahun-tahun, hanya Rahim yang senantiasa menjaga ayah dan ibunya. Bertahun-tahun, hanya Rahim yang bekerja untuk makan dirinya sendiri, ayah, dan ibunya. Dan bertahun pula, hanya Rahim yang merawat sakit stroke yang dialami ayahnya. Ketika ibunya sakit, dengan tulus, ikhlas, penuh bakti, dan selalu menghotmati, Rahim merawat ibunya. Terkadang Rahim memandikan ayah dan ibunya. Seringkali Rahim menyuapi ayah dan ibunya itu.
Tanpa mengeluh.
Tanpa berputus asa.
Tanpa mengharap imbalan apa-apa.
Dan isi surat Musa yang singkat itu, sekarang membuka mata kedua orang tuanya itu, menyadarkan hatinya, menyadarkan jiwanya. “Ternyata anakku yang kubenci sejak kukandung, justru dia yang merawat dan menjagaku. Justru dia yang mendengarkan permintaanku. Justru dia yang melayaniku. Anak-anakku yang kubanggakan, justru tak ada yang mau menjengukku. Mereka sibuk dengan urusannya. Mereka telah lupa bahwa aku adalah ibunya.”
Perkataan terenyuh seperti itu pun diucapkan Dlori di kedalaman hatinya. Ia tak mampu mengucapkannya secara langsung melalui kata-kata di bibirnya. Bola matanya basah melihat Rahim membaringkan tubuhnya, menyelimuti tubuhnya, lalu berkata lembut dan hormat kepadanya, “Ayah, istirahatlah. Mudah-mudahan Allah segera mengangkat sakit ayah.”
Kepada ibunya pun ia berkata begitu.
Membuat hati sang ibu merasa sedih dan malu.
“Nak,” ucap Zulfin, dengan bibir gemetar. “Maukah engkau melakukan satu hal untukku?”
“Iya, ibu. Akan aku lakukan. Ibu mau aku melakukan apa?”
“Maukah kau memaafkan Ibu…”
“Oh, ibu. Ibu….,” Rahim menubruk ibunya.
***
T A M A T