Ketika sejarah nyaris melupakan Lasem, roman ini menghidupkannya kembali dengan darah, doa, dan cinta.
Tahun 1740. Setelah pembantaian besar terhadap etnis Tionghoa di Batavia, ribuan pengungsi berlayar menuju pesisir kecil bernama Lasem. Mereka datang bukan membawa harta, melainkan luka, kehilangan, dan harapan terakhir untuk tetap hidup. Di tanah itulah mereka disambut bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai saudara.
Di tengah badai zaman berdiri seorang ulama kharismatik, Syaikh Ali Badawi, pengasuh Pesantren Purikawak. Dengan tasbih di tangan dan keberanian di dada, ia menyalakan bara perlawanan yang tak hanya membangkitkan santri-santrinya, tetapi juga para bangsawan, petani, nelayan, hingga saudagar Tionghoa. Di bawah bimbingannya, perbedaan suku, darah, dan asal-usul melebur menjadi satu ikrar: mempertahankan kehormatan tanah air dari kerakusan Kompeni.
Namun jalan perjuangan tak pernah mudah.
Di tengah kobaran perang, pengkhianatan mengintai dari dalam. Persahabatan diuji. Kota-kota dibakar. Kitab-kitab dilalap api. Para pemimpin gugur satu demi satu. Dan yang paling memilukan, Siti Mariahβistri tercinta Syaikh Ali Badawiβharus menjemput syahid demi melindungi anak-anak dan rakyat kecil. Sejak saat itu, perjuangan bukan lagi sekadar mempertahankan tanah, tetapi juga menjaga cahaya iman agar tidak padam oleh penjajahan.
Bersama RM Panji Margono, Oei Ing Kiat, Tan Kee Wie, Kapiten Sepanjang, dan ribuan rakyat biasa, Syaikh Ali Badawi memimpin perlawanan besar yang mengguncang pesisir utara Jawa. Dari Welahan, Demak, Juwana, hingga Semarang, mereka menghadapi pasukan VOC yang bersenjata lengkap dengan keyakinan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan amanah yang harus ditebus dengan pengorbanan.
Bara di Langit Lasem bukan sekadar roman sejarah. Ia adalah kisah tentang cinta yang tetap hidup di tengah peperangan, persaudaraan yang melampaui batas suku dan agama, pengkhianatan yang melukai bangsa sendiri, serta keberanian orang-orang sederhana yang memilih mati terhormat daripada hidup berlutut di hadapan penjajah.
Di balik setiap dentuman meriam dan setiap tetes darah para syuhada, tersimpan satu pertanyaan yang terus bergema hingga hari ini:
Masihkah kita pantas menikmati kemerdekaan, jika telah melupakan mereka yang membayarnya dengan seluruh hidupnya?