Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Pesisir Lasem, Oktober 1740.
Gerimis turun perlahan, seolah langit sendiri berkabung atas luka yang terbawa angin dari barat. Udara asin bercampur amis darah yang tak sempat dicuci oleh waktu. Di kejauhan, suara debur ombak mengiringi derak perahu-perahu kayu yang datang satu demi satu, diam-diam, dari pelabuhan gelap bernama Batavia.
Orang-orang itu datang dengan tubuh lunglai, mata kosong, dan wajah tertutup jelaga. Mereka bukan pelaut, bukan saudagar, bukan pula penakluk. Mereka adalah pelarian. Anak-anak kecil memeluk erat gulungan kain berisi nama-nama yang tak sempat dikuburkan. Para perempuan menyembunyikan tangis di balik lengan suami mereka, yang lebih sibuk menguatkan dagu daripada iman. Di antara mereka, seorang pemuda bernama Tan Kee Wie berdiri di buritan, memandang daratan Lasem yang samar. Di dadanya, dendam menggumpal seperti kabut pagi.
Senja menggantung murung. Laut Jawa, yang biasanya cerah berkilau di bawah sinar keemasan, kini dibasahi awan kelabu yang menggantung rendah. Riak ombak menari pelan di tepian, seolah turut menahan napas atas kedatangan tamu-tamu tak diundang, namun tak pernah ditolak. Di pesisir Binangun, seorang lelaki berdiri tak bergeming. Jubahnya yang panjang berkibar diterpa angin, matanya menatap tajam ke utara, ke hamparan lautan yang menelan kabar buruk berbulan-bulan lamanya: Batavia terbakar oleh amarah, darah, dan peluru.
Lelaki itu, Oei Ing Kiat, putra tanah dan laut, bangsawan dan saudagar, tetapi lebih dari itu: penjaga kehormatan Lasem.
Suara genta dari klenteng tua di Karangturi berdentang pelan, menjadi gema spiritual dari desa-desa yang menanti. Dan dari balik kabut laut, perahu-perahu kecil muncul satu per satu. Kayunya tua dan lapuk, layar mereka compang-camping seperti sayap burung yang ditembaki saat terbang rendah. Di atasnya, tubuh-tubuh kurus menggigil, wajah-wajah pucat penuh luka, dan mata-mata yang kehilangan cahaya.
“Mereka sudah sampai…,” bisik seorang pengawal kepada Oei Ing Kiat.
Tapi ia tak menjawab.
Hatinya tercekat melihat perahu-perahu itu: bukan sebagai kapal, melainkan sebagai tabut-tabut duka yang membawa jiwa-jiwa yang baru saja luput dari maut.
Ketika perahu pertama menepi, seorang wanita tua terjatuh ke pasir. Ia merangkak, menciumi bumi Lasem seakan telah menemukan tanah surga. Seorang lelaki membawa bungkusan kain yang ternyata adalah jenazah bayinya, meninggal dalam perjalanan laut yang panjang tanpa air bersih. Seorang anak lelaki dengan tubuh terbakar matahari menatap Oei Ing Kiat dengan bingung dan takut, matanya mengandung trauma yang tak bisa dipahami oleh usia muda.
Oei Ing Kiat maju, berlutut di depan mereka.
“Selamat datang di Lasem,” ucapnya perlahan, nyaris berbisik. “Tak perlu bersembunyi lagi. Ini tanah yang akan memeluk kalian.”
Tangis pecah.
Tua, muda, lelaki, perempuan—semuanya menangis, bukan karena kehilangan, tapi karena akhirnya menemukan tempat bernaung. Beberapa dari mereka mengenali Oei Ing Kiat: kerabat jauh dari Fujian, saudagar-saudagar yang pernah menjual sutra dan teh kepadanya di masa lalu, bahkan mantan murid dari sang ayah di Guangzhou.
“Seluruh keluarga mereka telah dibantai, Tuan Oei,” ujar Singseh pemimpin yang telah mengobarkan api di Batavia. “Saudara-saudara mereka digiring ke kali Angke, lalu ditembak seperti hewan. Anak-anak dilempar ke dalam sumur. Mereka lari dengan pakaian di badan, dan dosa karena masih hidup,” ujar Shingshe yang bernama asli Tan Sin Kho.
Oei Ing Kiat memeluknya.
“Tidak ada dosa dalam bertahan hidup. Dosa adalah membiarkan saudara kita menderita sendirian,” ujarnya mantap menahan pedih.
Hari itu, pantai Lasem menjadi pelabuhan air mata. Warga pribumi berdatangan dari desa-desa sekitar: Gedongmulyo, Soditan, Dorokandang, Sumurtawang. Mereka membawa air minum, ubi rebus, tikar, dan selimut. Mereka tidak tahu siapa orang-orang ini, tetapi tahu satu hal: mereka adalah manusia. Dan manusia yang terluka, wajib disembuhkan oleh sesama.
***
Di malam pertama, langit Lasem dipenuhi suara-suara isak dan doa. Di tepi pantai, obor menyala—bukan untuk mengusir kegelapan, tetapi sebagai tanda: bahwa di sini, harapan masih ada.
Beberapa hari kemudian, Oei Ing Kiat mengumpulkan para pengrajin dan tukang bangunan. Ia menunjuk sebidang tanah di Karangturi untuk dibangun pemukiman. Di sana kelak berdiri rumah-rumah beratap genteng merah bergaya Hokkian, dengan altar-altar kecil di halaman, dan jendela-jendela yang menghadap ke matahari pagi. Ia menunjuk bagian lain di Babagan dan Dasun untuk berdagang dan bersekolah. Ia menulis surat kepada para ulama dan santri dari pesantren Purikawak, agar para pelarian diberi ruang belajar dan ketenangan rohani.
“Takkan ada kampung tanpa cinta. Takkan ada cinta tanpa rumah,” ucapnya di depan para pengungsi.
Dalam bulan-bulan berikutnya, kampung-kampung baru tumbuh di Lasem. Wajah-wajah yang dulu ditandai duka kini mulai menampakkan warna. Anak-anak mulai bermain di pelataran, para ibu mulai menanam cabai dan daun bawang di halaman rumah. Lelaki-lelaki membuka bengkel batik, mencampur pewarna alam dari Lasem dengan motif-motif warisan Tiongkok. Sebuah budaya lahir bukan dari kemenangan perang, melainkan dari luka yang dibalut kasih sayang.
Dan dalam setiap doa yang terucap dari klenteng, langgar, hingga surau-surau kecil, nama Oei Ing Kiat disebut. Sebagai jembatan. Sebagai penyelamat. Sebagai putra Lasem yang membuktikan bahwa tanah ini bukan hanya tempat, tetapi jiwa.
Sunggupun demikian…
Nafas busuk selalu akan berhembus bersama dentingan waktu. Seturut jiwa yang kembali merekah pada jiwa-jiwa pelarian Tionghoa itu, jiwa-jiwa busuk mengirim kabar buruk pada pejabat Kompeni yang ada di Semarang.
***
Di Pendapa Kadipaten Lasem, beberapa bulan kemudian, lampu minyak menyala redup, menari dalam angin. Di balik meja kayu jati tua, Tumenggung Widyoningrat, yang oleh sebagian orang tetap dipanggil dengan nama aslinya, Oei Ing Kiat, membolak-balik surat dengan mata merah dan jari gemetar:
Kepada Yang Mulia Tumenggung Lasem,
Kami menerima kabar bahwa sejumlah besar orang Tionghoa pelarian dari Batavia telah mendarat di wilayah Tuan. Berdasarkan ketetapan Raad van Indie, pengumpulan dan penahanan mereka dianggap perlu untuk mencegah pembentukan gerombolan pemberontak. Kami menuntut daftar nama dan keputusan pengusiran dalam waktu sepuluh hari.”
Atas nama stabilitas dan loyalitas kepada Kompeni,
Residen Semarang, G.W. van Aken.”
Lelaki tua itu menarik napas dalam. Jari-jarinya menyentuh surat seolah kertas itu bisa dibakar dengan kehendak hati. Namun ia tahu, ini bukan pertama kalinya Lasem diancam. Ia memanggil ajudan dan memerintahkan pengiriman balasan.
“Lasem bukan batu mati di bawah sepatu Kompeni. Kami menghormati stabilitas, tapi lebih dari itu, kami menghormati kehidupan.”
***
Di serambi pesantren Purikawak, Syaikh Ali Badawi duduk bersila bersama beberapa santri senior. Di hadapannya, seorang pria Tionghoa bersurban tampak ragu membuka suara. Ia adalah Tan Kee Wie, yang kini menjadi penghubung antara pelarian dan rakyat Lasem.
“Engkau tahu, Tan,” ujar Syaikh Ali lembut, “orang-orang besar tidak lahir dari darah bangsanya saja. Mereka lahir dari rasa luka yang dalam, dan kesediaan menyembuhkan luka orang lain.”
Tan Kee Wie menunduk. “Aku ingin menebus darah keluargaku dengan api. Tapi apakah tanah ini akan terbakar juga karenanya?”
“Tanah ini adalah tanah para wali. Kau lihat, langit Lasem tak pernah murka, meski pelabuhan ini menyimpan beribu zikir dan tangis,” jawab Syaikh Ali. “Kami bukan pasukan Kompeni, tapi kami juga bukan pengecut. Kami punya hati. Dan kami tahu siapa saudara, siapa musuh.”
***
Hari itu, pendapa Lasem ramai. Bangsawan, saudagar, petani, bahkan nelayan memenuhi ruang rapat rakyat. Suara-suara bertabrakan, saling menuduh, saling menuntut. Ada yang takut, ada yang marah.
“Kalau kita melindungi mereka, kita menantang Kompeni!” seru seorang lurah tua.
“Kalau kita mengusir mereka,” sahut RM Margono, “maka kita bukan manusia.”
Oei Ing Kiat berdiri, menggenggam keris kecil di pinggangnya.
“Aku tahu betul apa arti pelarian. Leluhurku juga pernah dibuang dari tanah leluhurnya. Lasem tidak dibangun oleh rasa takut, tapi oleh pilihan: Pilihan untuk berdiri di sisi yang benar. Dan aku tidak akan menyerahkan satu pun nyawa ke tangan Kompeni, selama darahku masih hangat.”
Sejenak hening menyelimuti pendapa. Lalu, suara tepuk tangan muncul, diikuti teriakan: “Hidup Lasem! Hidup Tumenggung!”
Malam itu, surat balasan dari Lasem dikirim ke Semarang. Isinya tegas:
“Orang-orang itu datang ke kami bukan sebagai pemberontak, tapi sebagai manusia. Jika Kompeni ingin menjemput mereka, datanglah sendiri, dan lihat siapa yang berdiri di depan mereka.”
Tumenggung Widyoningrat, Lasem.
Di kediaman Residen VOC, G.W. van Aken menghantam meja dengan tinjunya. “Bangsat! Tionghoa satu itu lupa bahwa dirinya pernah diangkat karena kemurahan Kompeni!”
Seorang perwira Belanda di sampingnya berkata, “Ia tak lupa, Tuan. Ia hanya sudah terlalu berakar pada tanah ini.”
“Kalau begitu,” desis van Aken, “kita cabut akarnya.”
Di Lasem, gerimis belum berhenti. Tapi langit tampak berbeda. Seolah-olah langit Lasem sedang bersiap menyambut badai. Di tengah pekat malam, suara genderang kecil terdengar dari arah pesantren. Santri-santri bergantian membaca manakib, sementara di luar pagar, rakyat membakar obor.
Dan Tan Kee Wie berdiri di antara dua dunia: antara dendam dan harapan. Di sampingnya, Oei Ing Kiat meletakkan tangan di pundaknya.
“Tak semua peperangan dimulai dengan senjata, Nak. Tapi semua kemerdekaan selalu lahir dari keberanian.”
***