Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Mimpi

📅 29 June 2026 📚 Ketika Lasem Membakar Langit ⏱️ 5 menit baca 📑 Bab 4

Angin malam membawa harum kayu gaharu dari dapur kecil di sisi pesantren. Di serambi yang menghadap ke kebun sirih, Syaikh Ali Badawi duduk bersila, menatap langit yang tertutup mendung. Di tangannya, sebuah tasbih tua berkilau lelah, manik-maniknya sudah aus, seperti jiwanya yang digerus waktu dan tanggung jawab. Malam belum larut, tapi suara desir dari selokan bambu sudah terdengar seperti bisikan ayat-ayat rahasia.

Dari dalam rumah panggung yang sederhana, langkah halus terdengar. Seorang perempuan berparas elok keluar membawa secangkir wedang jahe dan sehelai selendang. Ia adalah Siti Mariah, istri sang syaikh, perempuan yang dulu dipinangnya dengan mahar hanya selembar kitab kuning dan janji menjaga jiwa-jiwa yang terluka.

“Minumlah, Kyai,” katanya pelan. “Kau telah duduk terlalu lama di hadapan angin.”

Syaikh Ali mengangguk, namun tak langsung menyentuh cangkir. Matanya tetap terpaku ke barat laut, seolah-olah ada sesuatu di sana yang hendak dikaji lebih dalam daripada surah mana pun.

“Mereka datang, Mariah,” ujarnya lirih. “Dengan luka yang tak terucap dan mata yang kehilangan kata.”

Siti Mariah duduk di sampingnya, menyampirkan selendang ke pundak suaminya.

“Orang-orang Tionghoa itu?” tanyanya.

Syaikh Ali mengangguk. “Anak-anak yang memanggil Tuhan dalam bahasa yang bukan kita, tapi dengan tangis yang sama.”

Siti Mariah memejamkan mata, mengingat pagi itu ketika ia menyeka luka seorang ibu muda Tionghoa yang pingsan di ambang gerbang pesantren. Wajahnya pucat seperti kertas, tapi tubuhnya hangat karena demam dan ketakutan.

“Dan apakah yang hendak kau lakukan, wahai suamiku?” tanya Mariah, suaranya bening seperti air wudhu di pagi hari.

Syaikh Ali menjawab pelan, “Yang diajarkan Rasul kepada kaum Muhajirin: jangan tanya dari mana mereka datang, tapi tanya apakah kita sudah cukup menjadi rumah.”

“Wahai, guruku. Duhai suamiku,” ucap Siti Mariah dengan getaran yang mendalam, “Inikah tanda-tanda yang dibentangkan jaman? Inikah saatnya? Saat yang kau khawatirkan?

Syaikh Ali Mendesah. Ia tercenung. Lirih suara santri-santrinya terdengar mengaji, seolah berpacu dengan suara binatang-binatang malam.

Syaikh Ali ingin mengutarakan bisikan langit dengan bahasa yang paling mudah di hadapan istri terkasih, tetapi hal itu sangat sulit untuk ia lakukan.

Siti Mariah menunggu, memandangi wajah suaminya itu.

“Siti,” ujar Syaikh Ali kemudian, “beberapa malam ini aku bermimpi….”

Syaikh Ali terdiam kembali.

Cahaya pelita menggantung rendah, menerangi guratan waktu di wajah Syaikh Ali Badawi. Langit menggantungkan rembulan setengah di ubun-ubun langgar, tempat para santri siang tadi mengaji ayat-ayat peringatan dan sabda-sabda penggugah jiwa. Di sudut yang teduh, di atas tikar pandan yang mulai lusuh, Syaikh Ali Badawi dan Siti Mariah saling terdiam.

“Abi, kekasihku,” bisik Siti Mariah, suaranya bening seperti air wudhu yang menetes di ubun-ubun. Ia mengulang apa yang harus diulang, “Apakah tanda-tanda itu sudah nampak? Apakah waktu yang sering Abah sebut dalam doamu kini tengah mengetuk gerbang Lasem?”

Syaikh Ali masih terdiam. Kedua matanya memandang ke kejauhan, seakan menembus dinding langgar, menembus kampung yang tenang, hingga sampai ke batas antara langit dan bumi yang tak kasat mata.

“Aku telah bermimpi, Nyi…” ucapnya lirih, suaranya berat dan sarat dengan makna yang tak mudah diungkap. “Tiga malam berturut-turut. Setiap kali aku terlelap dalam dzikir, datanglah cahaya dari langit—berkilat, lalu berubah menjadi bara, menyapu pegunungan, menyentuh laut dan menyentuh tanah ini, tanah Lasem.”

Siti Mariah menunduk, kedua tangannya menggenggam ujung selendang yang telah lama menemani musim-musim perjuangan. “Apa makna semua itu?”

Syaikh Ali menghela nafas panjang.

“Malam pertama, aku melihat sekumpulan burung merpati putih beterbangan dari arah barat, tapi sayap mereka terbakar. Mereka jatuh ke bumi Lasem, dan di antara kepakan terakhirnya, terdengar jeritan dalam bahasa yang tak kupahami, namun ruhku mengerti—itu jeritan orang-orang yang terusir dan mencari suaka. Malam itu, aku tahu, para pelarian Tionghoa akan datang. Dan lihatlah… mereka kini telah ada di bawah naungan kita.”

Siti Mariah mengangguk pelan, matanya berkaca. “Dan malam kedua?”

“Aku melihat pohon jati tua, besar, menjulang ke langit. Tapi akarnya tidak lagi mencengkeram tanah—ia melayang, menggantung antara langit dan bumi. Di bawahnya, seekor ular raksasa menggeliat, menyeringai, mencium-cium akar itu, menunggu waktu untuk menggigit. Aku tahu itu lambang negeri ini—yang akarnya mulai goyah, dan ada kekuatan jahat yang hendak mencaploknya.”

Ia menatap istrinya dalam-dalam, seakan ingin mengukirkan firasat itu di dasar jiwanya.

“Dan malam ketiga?”

Syaikh Ali menunduk. Suaranya nyaris berbisik.

“Aku berdiri di atas bukit Argopuro, sendirian, menghadap ke Laut Jawa. Langit robek, dan dari celahnya turun cahaya seperti tombak-tombak. Tapi bukan untuk membunuh, melainkan untuk membangunkan. Dari bawah tanah, muncul orang-orang yang lama tertidur—para leluhur, para wali, para pejuang. Mereka tak berkata-kata, tapi tangan mereka menunjuk ke arah Lasem. Lalu api menyala dari perbatasan utara, menjalar ke tengah kota. Bukan api penghancur, tapi api penyucian.”

Siti Mariah mengatupkan tangan di dada. “Apakah ini pertanda bahwa bumi Lasem akan menjadi medan takdir?”

Syaikh Ali mengangguk perlahan.

Kini, sepasang bola mata Siti Mariah basah. Berlumuran air mata.

“Ya, Nyi,” jawab Syaikh Ali, “Lasem akan berguncang. Kompeni tak sekadar datang membawa senapan dan meriam, tapi juga hendak merenggut ruh tanah ini. Tapi dari Lasem juga akan bangkit bara perlawanan. Jiwa-jiwa akan menyatu—pribumi, santri, bangsawan, bahkan para pelarian yang tertindas. Aku tak tahu kapan, tapi waktu itu akan datang. Dan langgar kecil ini, Purikawak ini, akan menjadi salah satu pangkal bara.”

Kini, tangis Siti Mariah benar-benar pecah.

Isak tangisnya membumbung ke langit tinggi.

“Ya, Ilahi. Duh, Gusti…..”

Malam pun semakin hening. Di luar langgar, dedaunan bergetar ringan diterpa angin, seolah ikut mendengarkan percakapan dua jiwa yang telah dipilih langit untuk menjaga cahaya di tengah gelap. Dan dari dalam langgar, tak hanya zikir yang naik ke langit malam itu, tapi juga tekad yang mulai ditempa oleh isyarat-ilahi.

***

← Kembali ke Daftar Bab