Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Mencabut Keraguan

📅 29 June 2026 📚 Ketika Lasem Membakar Langit ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 5

Pagi berikutnya, di bawah langit abu yang menahan matahari, Oei Ing Kiat menaiki kudanya pelan-pelan, menuju pesantren Purikawak. Ia datang tanpa iring-iringan, hanya ditemani pikiran yang berat dan surat yang masih terlipat di dalam lengan bajunya. Wajahnya tak serupa bangsawan, tapi lebih mirip ayah tua yang tersesat di simpang jalan moral.

Di depan pesantren, santri kecil berlarian, menyambutnya dengan senyum tulus. Tapi ia hanya membalas dengan anggukan datar. Ia mencari satu sosok—orang tua dengan sorban putih yang tenang seperti danau tanpa riak.

Syaikh Ali sedang menyapu halaman pesantren dengan tangan sendiri ketika Oei Ing Kiat tiba.

“Tumenggung,” sapa Syaikh sambil tersenyum, “apa yang bisa dibersihkan lebih dalam dari tanah ini, kalau bukan hati manusia?”

Oei Ing Kiat turun dari kudanya dan membungkuk hormat, seperti anak yang datang menghadap ayah.

“Aku membawa keraguan, Kyai,” katanya. “Dan aku tak tahu harus menaruhnya di mana.”

Syaikh Ali menuntunnya ke serambi. Siti Mariah diam-diam menyiapkan minuman, lalu kembali ke dapur, membiarkan dua lelaki itu berbincang dalam cahaya remang dan aroma kayu.

“Aku menerima surat dari Semarang,” ucap Oei Ing Kiat setelah diam cukup lama. “Mereka ingin kita menyerahkan para pelarian.”

“Dan kau ingin menyerahkan mereka?” tanya Syaikh, tenang seperti angin sawah.

“Aku… aku ingin menjaga rakyatku. Lasem bukan kota besar. Kalau mereka datang menyerbu, siapa yang akan melindungi rumah-rumah nelayan? Anak-anak yang belum tahu arti perang?”

Syaikh Ali mengangguk pelan. “Kau benar. Tapi, Tumenggung, rakyatmu bukan cuma yang lahir dari rahimmu. Mereka juga yang datang dengan luka, dan berharap tanah ini jadi rumah terakhir.”

“Tapi VOC punya pasukan. Mereka punya senjata, kapal, pengaruh!”

“Dan kita punya doa, Tumenggung. Kita punya kehormatan.”

Oei Ing Kiat menunduk, hampir menangis. “Aku bukan Nabi, Kyai. Aku takut salah. Salah melindungi, salah memilih.”

Syaikh Ali bangkit perlahan, mengambil kitab kuning dari rak, lalu menyerahkannya.

“Bacalah halaman terakhir ini,” katanya. “Imam Ghazali pernah menulis, 'Orang yang memilih kebaikan walau melawan arus dunia, akan dihitung lebih mulia daripada seribu yang tunduk pada takut.'”

Sang Tumenggung memejamkan mata. Di dalam dadanya, surat dari Kompeni masih berdetak, tapi surat dari langit baru saja dibacakan dalam bahasa yang lain.

***

Malam itu, di pesantren, Siti Mariah duduk bersama beberapa perempuan pengungsi. Ia mengajari mereka cara menanak nasi dalam periuk bambu, mengajari beberapa kata Jawa halus, dan menyulam nama-nama anak dalam lembar kain. Ia tak tahu politik. Tapi ia tahu luka seorang ibu, dan ia tahu bahwa tempat terbaik bagi luka adalah pelukan.

Dan di kejauhan, di markas VOC di Semarang, sebuah surat balasan sedang ditulis. Kali ini bukan hanya ancaman, tapi ultimatum. Dan Lasem, kota kecil yang mencintai manusia lebih dari kekuasaan, bersiap menyambut badai.

***

Penghujung tahun 1740.

Langit mendung, menggantung kelabu di atas pesisir utara Jawa. Angin laut berembus dingin, membelai daun jati yang menguning, seolah turut berduka atas nasib negeri yang terjajah. Di kejauhan, lampu-lampu pelabuhan menyala muram, mengabur diterpa kabut asin. Suasana pasar sudah lengang, kecuali suara debur ombak dan bisik doa dari surau-surau yang bersahaja.

Di pendopo rumah adipate Lasem, Oei Ing Kiat duduk membisu. Sorot matanya menembus jendela kayu jati, memandang ke arah bukit-bukit di selatan, tempat para pelarian Tionghoa berlindung bersama rakyat jelata. Di hadapannya, sepucuk surat dari penguasa VOC di Semarang terbentang di meja, tintanya masih segar, nadanya keras dan memerintah:

“Dengan ini kami tegaskan: bila para pelarian tidak segera diserahkan, maka Lasem akan kami anggap wilayah pembangkang dan layak dihukum sebagaimana hukum pemberontak.”

Tangannya menggenggam surat itu, gemetar. Sebatang dupa menyala di pojok ruangan, wanginya samar menyusup ke rongga dada, seolah mengantar kenangan: jerit bayi-bayi yang kehilangan ibu, api yang melalap rumah-rumah di Batavia, dan langkah-langkah kaki berdarah yang menyeberang ke Jawa Timur untuk menghindari pembantaian.

Oei Ing Kiat sudah berusaha mencabut akar keraguan dari jiwanya, dengan mendatangi Syaikh Ali Badawi di Purikawak. Namun, hingga malam ini, keraguan itu laksana zirah besi yang menempel di dadanya, sulit untuk dilepas.

Tiba-tiba, terdengar langkah masuk. RM Panji Margono, bangsawan muda dari keturunan darah Mataram, memasuki ruangan dengan raut wajah tegas namun letih. Tak lama berselang, Tan Kee Wie, saudagar Tionghoa berjiwa pemberani, menyusul dengan napas masih memburu. Shingshe, pengungsi Tionghoa dari Batavia, tertunduk bergabung masuk.

“Apa kau akan tunduk, Ing Kiat?” suara Margono mengiris hening. “Apa kau akan biarkan kehormatan Lasem dibeli dengan ancaman tinta Kompeni?”

Oei Ing Kiat tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada surat itu. “Aku diangkat Pakubuwono II atas restu mereka. Lasem aman sejauh aku menjaga keseimbangan...”

“Lalu bagaimana dengan keadilan?” sergah Tan Kee Wie, suaranya parau namun dalam. “Bagaimana dengan air mata para perempuan yang kehilangan suami? Dengan rakyatmu sendiri yang bersembunyi di ladang tebu, tak tahu kapan mati menjemput?”

Oei Ing Kiat mendesah panjang. Di dadanya, gemuruh perasaan bertempur.

Antara tanggung jawab pada jabatan yang disandang, dan jerit nurani yang kian menusuk.

Lalu suara lain muncul dari luar pintu. Lembut, namun tegas dan menyapu hati.

“Bila engkau ragu, carilah suara dari bumi. Suara para petani, nelayan, santri, dan anak-anak yang belajar mengaji di bawah obor.” Syaikh Ali Badawi melangkah masuk, jubahnya berkibar, sorot matanya setajam pedang dan seteduh langit subuh. “Mereka tak meminta banyak, hanya satu: Keadilan.”

Sunyi menyergap ruangan. Hanya suara angin yang masih bermain di sela genting. Oei Ing Kiat bangkit perlahan. Langkahnya menuju pintu. Di luar, puluhan rakyat telah berkumpul, sebagian adalah pelarian Tionghoa, sebagian pribumi Lasem, sebagian lagi para santri yang menggenggam tasbih dan bambu runcing.

“Lihat mereka,” bisik Syaikh Ali. “Mereka tak butuh penguasa. Mereka butuh pemimpin.”

Oei Ing Kiat menatap mereka lama, lalu membalikkan tubuh menghadap dua sahabatnya.

“Maka malam ini, hilanglah keraguanku,” katanya lirih. “Aku bukan lagi sekadar adipati yang diangkat atas restu kompeni. Aku kini putra Lasem. Bila darah harus tumpah, biarlah darahku yang lebih dahulu!”

RM Panji Margono tersenyum lirih. Tan Kee Wie mengangguk dalam. Tiga jiwa dari latar berbeda, bersatu dalam satu ikrar.

Seseorang dari pemimpin pengungsi Tionghoa, lalu diminta masuk ke dalam pendopo, dan bergabung dengan ketiga pimpinan Lasem itu. Ia adalah Kapiten Sepanjang.

Syaikh Ali Badawi mendekat, meletakkan tangannya Oei Ing Kiat, RM Panji Margono, Tan Kee Wie, dan Kapiten Sepanjang. Ikrar jihad lalu diucapkan oleh Syaikh Ali Badawi kemudian diteruskan dengan ucapan, “Maka biarlah sejarah mencatat: Lasem tak tunduk pada ketamakan. Dan dari Lasem, cahaya akan menyala menuju jantung kekuasaan di Semarang.”

Kecerdasan jiwa Oei Ing Kiat menyambut perkataan Syaikh Ali Badawi itu, membuat sang adipati tersenyum dan mengangguk. Balasnya, “Iya, Kyai. Bukan Bumi Lasem yang akan menjadi medannya. Tapi Semarang.”

“Semarang…?” RM Panji Margono dan Tan Kee Wie saling menatap. Tak mengerti.

Syaikh Ali tersenyum.

Malam itu, di bawah langit berawan dan pelita rakyat, mereka menyusun rencana. Bukan untuk bertahan, melainkan menyerang. Lasem bukan medan akhir. Semarang—jantung kompeni—harus digetarkan.
Dan dalam gulita yang menyelimuti, di antara desir dedaunan dan wangi tanah basah, Lasem bersiap melahirkan perlawanan. Bukan dari pasukan raja, bukan dari kekuatan luar, tapi dari hati—hati tiga serangkai yang telah menemukan keberaniannya dalam cinta pada rakyat.

***

⬅ Bab Sebelumnya Bab 5 dari 5 Bab Selanjutnya ➡
← Kembali ke Daftar Bab