Fibozona
๐Ÿ“– BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

๐ŸŽ‰ GRATIS - Tanpa Koin

Tanah yang Dibasuh Ombak

๐Ÿ“… 29 June 2026 ๐Ÿ“š Ketika Lasem Membakar Langit โฑ๏ธ 6 menit baca ๐Ÿ“‘ Bab 2

Di atas tanah yang dibasuh ombak, dibelai angin utara Laut Jawa, di antara perbukitan kapur, Argasoka, dan lembah sungai-sungai tua, Lasem menyimpan hikayat tentang seorang lelaki yang memiliki wajah berbalut cahaya. Perawakannya tinggi semampai; ketika berjalan ia seperti ranting yang berayun-ayun dengan jubah putih melambai diterpa angin sedang kepalanya terikat sorban warna kusut dan tua.

Orang-orang memanggilnya dengan sebutan โ€œsyaikhโ€, atau umumnya memanggil โ€œkiyaiโ€. Hati yang tengah diamuk gelisah dan cemas, mendadak tenang pabila menatap mata sang syaikh yang teduh itu. Telaga bersih abadi seperti muncul dan memancar dari setiap tatapan bola matanya. Kebahagiaan yang hangat meresapi jiwa dari setiap sentuhan telapak tangannya.

Tak ada yang tahu, dan mulut semesta pun tak memberi tahu, siapa sesungguhnya lelaki itu, kapan ia lahir, dan di belahan bumi mana. Konon di angka tahun 1680-an M ia lahir. Tak jelas. Hanya remang-remang semu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ali Badawi. Cerita lisan ada yang mengabarkan bahwa ia adalah bintang timur yang menuntun arah di tengah gulita jaman. Ada yang menyebut bahwa ia adalah seorang sayyid dimana nasabnya bersambung pada Imam Husain ibn Ali. Apakah ia berasal dari Hadhramaut, Yaman, atau dari suatu lembah di India, tak ada yang pasti. Kalaulah ia dari Hadhramaut, nasabnya mustahil bersinggungan dengan nasab Mufti Betawi. Mufti ituโ€”dengan segala kebesaran dan jubahnyaโ€”telah menghambakan diri pada ketiak penguasa Kompeni.

Konon, ketika ia menjejakkan kaki di pesisir Karangturi, angin laut seketika menjadi teduh, burung-burung berputar rendah di atas kepala, seakan menyambut sang utusan langit.

Sore itu, langit Lasem menggantung rendah, berwarna tembaga, seolah matahari enggan beranjak dari ufuk barat. Angin laut mengayun lembut daun kelapa, menebar aroma asin dan tanah basah. Di dermaga Karangturi, para nelayan tengah menarik perahu. Namun perhatian mereka teralihkan pada lelaki itu yang turun perlahan dari kapal kecil berlayar satu.

Jubah putihnya sederhana. Sorban lusuh melingkar di kepala, menandakan perjalanan panjang yang ia tempuh. Ia membawa tongkat kayu yang bagian bawahnya sudah aus, seperti ia telah berjalan di atas gelombang beribu-ribu langkah. Di wajahnya terlukis kedamaian yang asing bagi orang Lasem, namun justru membuat hati yang memandangnya runtuh dan luluh.

โ€œSinten Panjenengan, kyai?โ€ tanya seorang nelayan.

Lelaki itu tersenyum, angin laut menyibak janggut putihnya.

โ€œKula namung tiyang lelampahan,โ€ jawabnya lirih. โ€œAnanging yen panjenengan sami kepengin sinau bab pamuji, mugi kula saged ngaturi.โ€

Aku hanyalah seorang musafir, begitu katanya. Namun bila kalian mengharap belajar kebajikan, aku siap melayani.

Ia pun lantas memilih tinggal bukan di tengah kota, melainkan di pinggiran, tempat para nelayan miskin dan anak-anak yatim tinggal. Ia membangun sebuah langgar kecil dari bambu dan rumbia, yang kelak kemudian menjadi Pesantren Purikawak. Para penduduk Lasem datang berbondong-bondong untuk ngangsu kawruh kepadanya, untuk mencecap manisnya iman yang meluncur dari lisannya. Tak terkecuali, datang pula penguasa Lasem saat itu, Raden Tumenggung Widyoningrat. Atau, lebih dikenal dengan nama Tionghoa-nya: Oie Ing Kiat.

Oei Ing Kiat, memang bukan asli pribumi. Darah Tionghoa mengalir dalam darahnya. Orang yang hendak menelisik nasabnya, akan menemukan kenyataan bahwa ia masih bersinambung dengan Bi Nang Unโ€”salah satu prajurit utama Laksamana Cheng Ho. Bi Nang Un menikahi Na Li Ni, dan melahirkan seorang putri bernama Bi Nang Ti. Putra Mahkota Kerajaan Lasem kala itu, Pangeran Badranala lalu menikahi Bi Nang Ti. Dari pernikahan ini lahirlah Wirabraja dan Santibadra. Oei Ing Kiat muncul dari garis ini. Dari garis yang sama pula, RM Panji Margono lahir.

Oei Ing Kiat menyambut kehadiran Syaikh Ali Badawi (Ki Joyotirto) dengan tangan terbuka. Dengan sepenuh hormat. Dengan takdzim dan tawadhuโ€™. Sebagai saudagar kaya raya sekaligus Tumenggung Lasem kala itu, keberadaan Syaikh Ali Badawi laksana mentari yang menerangi gulita Lasem, seperti curahan hujan ketika kemarau menghajar buminya. Meski Oei Ing Kiat juga seorang muslim yang taat, tetapi ia menyadari bahwa yang duduk dan berdiri di hadapannya adalah seorang wali, yang kepadanya jiwa harus diserahkan, harus dilaruti dan dibaluri manisnya iman.

***

Bersama aliran waktu, Purikawak pun makin menggeliat dan padu. Santri-santri datang dari berbagai kalangan, dari rakyat jelata, priyayi, abangan, dan peranakan. Kerika malam, orang-orang datang berbondong-bondong, bahkan kaum Tionghoa dari perkampungan Pecinan pun turut duduk bersila, menyimak kalimat-kalimat yang mengalir lembut namun menghunjam:

โ€œRoso kang jembar dudu saka kasugihan, nanging saka welas asih. Sing sugih atine, bakal menang ngadepi donya.โ€

Seorang pemuda Tionghoa, Lim Han Sing, suatu malam menghampirinya. Matanya sembab, membawa kecemasan karena mimpi yang ia alami tiga malam berturut.

โ€œAku diparingi mimpi, pak tua berjubah putih ndhawuhi aku ngucap kalimah...โ€

Syaikh Ali Badawi hanya tersenyum. Ia meraih tangan pemuda itu dan menggenggamnya erat.

โ€œMimpi iku layang kang asale saka langit. Yen atimu wus resik, Gusti paring piweling liwat lintang. Mangkono wewalerรฉ. Han Sing: trilah saking pangeran, lumantar ati kang legi.โ€

Pada malam yang sama, Han Sing bersyahadat. Namanya berubah menjadi Muhammad Hanif. Ia menjadi santri pertama dari kalangan Tionghoa, kelak menjadi penghubung harmoni antara dua dunia: Jawa dan Tionghoa, Islam dan leluhur, bumi dan langit.

Malam-malam berikutnya, semakin banyak yang datang. Dan bersama aliran waktu, santri-santri utama dan pertama lahir dari Purikawak. Di antara mereka adalah Sholeh dan Sulaiman Karangturi, Kholil Babagan, Syafii Binangun, Yasin dan Syakur, Soditan, Maโ€™sum Lasem, dan Shodiq Ngemplak. Di antara semua santri, Panji Margono dan Oei Ing Kiat adalah dua orang yang terbilang sering berbincang dan bercakap dengan Syaikh Ali.

Tentang ilmu agama.

Tentang semesta.

Juga, tentang tanda-tanda jaman.

Di luar itu, kehidupan warga Lasem terus berjalan dalam damai dan ketenangan. Rumah-rumah Tionghoa berdiri kukuh di dalam benteng-benteng panjang yang dibuat secara turun-temurun. Benteng-benteng itu membentang ke sekeliling, sedang pintu-pintu dengan ukiran khas perpaduan Tiongkok dan pribumi Lasem seringkali terbuka ketimbang tertutup rapat. Anak-anak bermata sipit dengan bebas dan merdeka bisa bermain bersama ana-anak dengan bola mata besar, anak-anak pribumi asli. Terkadang mereka bermain di sungai Lasem yang membelah kota, jernih airnya, dan perahu-perahu dagang lewat dengan anggunnya.terkadang, mereka berlarian di pantai, menunggang riak-riak gelombang yang memukuli pasir-pasir putih.

Pada ketika malam, nyala lilin warna-warni bertebaran di setiap sudut benteng dan rumah warga Tionghoa, mengayun menari-nari bersama lentera-lentera kecil dari nyala api buah jarak yang ditancapkan di rumah-rumah warga pribumi.

Derap kaki-kuda dari prajurit-prajurit mataram terdengar, menyiramkan perasan tenang dan aman di tengah gulita malam. Iya, Lasem saat ini, memang masih ada di bawah kekuasaan Mataram dengan Sunan Pakubuwono II yang memimpin di atas tahtanya di Kartasura.

Malam itu tiba-tiba pecah.

Angin laut yang berhembus membawa aroma darah dri kejauhan.

Tanda-tanda perubahan jaman semakin mendekat. Membawa hatr yang diliputi cemas, Oei Ing Kiat membuka pintu istana ketemenggungan, dan dengan langkah kaki ringan, ia berjalan menuju ke Purikawak.

***

โ€ƒ

โ† Kembali ke Daftar Bab