Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Prolog

📅 29 June 2026 📚 Ketika Lasem Membakar Langit ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 1

Di ujung tengah tanah Jawa, di pesisir utara, di antara desir angin laut dan gemetar daun jati yang tua, berdiri sebuah kota kecil bernama Lasem. Ini adalah kota kecil, tempat bentangan laut dan lapisan langit bertemu lirih, tempat sejarah pernah menitikkan air mata. Ia bukan hanya titik pada peta—ia adalah simpul takdir, tempat di mana sejarah memilih bersuara dengan darah dan doa. Di sana, langit pernah lebih muram dari malam, dan bumi bergetar bukan karena gempa, tapi oleh dentum tekad dan air mata yang tumpah.

Pada tanah itu, malam tak sekadar gelap, tapi menyimpan zikir panjang para pejuang yang tak dikenal dunia. Malam tak sekedar gulita, namun ruang dimana bening doa dan harapan menyala. Fajar tak sekadar terbit, tapi membangunkan semangat jihad yang disulut dari surau, langgar, dan pesantren; yang disepuh dari harmoni indah kebersamaan dalam keberanekaan. Lasem adalah medan tempur tak tertulis, tempat darah lebih sering tumpah daripada tinta sejarah. Dan di sanalah seorang ulama bangkit bukan hanya dengan kitab di tangan, tetapi juga dengan keberanian yang membakar langit penjajahan: Syaikh Ali Badawi. Atau, Ki Joyotirto.

Ia bukan pangeran berdarah biru, meski sayup-sayup terdengar darahnya mengalir dan bermuara kepada Mbah Syambu. Mbah Syambu, ah, remang-remang sejarah mendedahnya sebagai Sayyid Abdurrahman yang mengalir dalam darahnya darah suci ahlul bait Nabi dari garis Sayidina Husain ibn Ali.

Syaikh ali badawi (Ki Joyotirto) hanya seorang pengasuh pesantren bernama Purikawak dimana usia pesantren segaris dengan umur kehidupannya sendiri. Ia adalah lelaki yang saban malam bersujud dengan air mata. Tapi dari doanya lahirlah gelombang, dari sabdanya tumbuh perlawanan. Syaikh Ali Badawi bukan hanya guru bagi santri, tapi pelita bagi kaum tertindas, ayah bagi rakyat yang kehilangan pemimpin, dan bayang-bayang harapan di tengah tirani.

Namun seperti semua kisah perjuangan, cinta juga hadir sebagai takdir yang lembut sekaligus tragis. Siti Mariah, istri yang tak pernah goyah di sisi Badawi, bukan sekadar pendamping—ia adalah lentera di tengah malam gelap, perempuan yang hatinya sekuat baja, tapi jiwanya selembut dzikir fajar. Dalam pelukannya, Badawi menemui damai. Dalam syahidahnya, Badawi kehilangan separuh langit hidupnya.

Lasem menjadi sumbu dari perlawanan yang lebih dalam daripada sekadar senjata: ia perlawanan batin, spiritual, dan kultural. Ketika kompeni datang dengan peluru dan pengkhianatan, rakyat Lasem menjawab dengan kesetiaan dan air mata. Santri-santri yang dulu hanya memegang pena dan kitab, kini menggenggam bambu runcing dan tekad. Tionghoa yang dulu berdagang di tepian pasar, kini berdiri bersisian dengan petani dan bangsawan yang menolak tunduk.

Namun sejarah tak selalu berpihak kepada mereka yang tulus. Lasem porak poranda. Karangturi dibakar. Cinta dikoyak. Dan satu per satu, nama-nama pejuang ditelan tanah, tanpa nisan, tanpa upacara. Tapi justru dari kehilangan itu, lahir warisan abadi: Memori.

***

Buku ini bukan hanya roman sejarah. Ia adalah kesaksian. Ia adalah ziarah batin menuju masa ketika kehormatan lebih mahal daripada hidup, ketika air mata dan darah mengalir dari luka yang sama: luka karena dijajah, dan luka karena dikhianati.

Di sini, aku mengajakmu menyusuri jalanan Karangturi yang pernah memerah oleh darah. Duduk di beranda pesantren yang kini hanya reruntuhan diam. Dengarkan gaung takbir dan tangis yang pernah membelah langit Lasem. Dan kenanglah mereka yang gugur, bukan sebagai kisah lampau, tapi sebagai cermin bagi masa depan yang masih kita perjuangkan.

Lasem, tanah kecil yang mengajarkan kita bahwa kemerdekaan bukan hadiah—melainkan warisan yang dibayar lunas oleh mereka yang tak kembali.

Romansa ini bukan sekadar kisah tentang perang. Ia adalah kidung lirih seorang suami yang kehilangan istrinya demi tanah yang dicintai. Ia adalah isak tertahan seorang santri yang menyaksikan gurunya gugur dengan nama Allah di bibirnya. Ia adalah jejak kaki yang hilang di lumpur pesawahan, tempat para petani menukar cangkulnya dengan senjata seadanya. Ia adalah cerita tentang mereka yang memilih kehilangan segalanya—kecuali kehormatan.

Syaikh Ali Badawi (Ki Joyotirto) bukan tokoh mitos. Ia manusia biasa dengan cinta luar biasa. Cintanya kepada Rabb-nya, kepada tanah yang melahirkannya, dan kepada mereka yang memanggilnya Kiyai. Dalam dirinya berkumpul langit dan bumi: zikir dan pedang, air mata dan api, harapan dan pengorbanan.

Buku ini adalah upaya menafsirkan kembali nyala yang sempat menyala terang di Lasem. Nyala yang tak padam meski ditiup badai sejarah. Kami menuliskannya bukan untuk mengulang dendam, tetapi untuk menghidupkan ingatan. Karena selama ada yang mengingat, maka para syuhada tak pernah benar-benar mati.

Lasem, tanah kecil yang menjadi saksi bahwa cinta dan kemerdekaan pernah menyatu dalam satu kata: perlawanan. Lasem, tanah kecil yang juga menjadi saksi kan selalu ada anak-anak negeri yang menyimpang, memilih untuk berkhianat dan mengkhianati saudaranya sendiri: Jiwa-jiwa mereka tergadai dan digadaikan pada penjajah, tersebab nafsu serakah dan nafsu untuk berkuasa sendiri. Pada batin mereka, cahaya kalam-kalam suci redup dan terkurung dalam pelita harapan palsu dan duniawi sehingga rela mengobarkan api kebencian, dendam, dan permusuhan, hingga peperangan dengan sesama bangsa pribumi sendiri harus terjadi.

***

Dalam setiap bangsa yang besar, selalu ada ruang-ruang sunyi yang disisihkan dari kitab sejarah. Di sela nama-nama besar dan angka-angka pertempuran, terdapat kisah-kisah kecil yang nyaris terhapus, tapi justru menyimpan inti dari makna kemerdekaan: air mata rakyat, luka di dada seorang ibu, doa di langgar-langgar kecil, dan cinta yang gugur tanpa pernah dikenal dunia.

Lasem adalah salah satu ruang itu.

Tanah kecil di pesisir Jawa ini barangkali tak masuk dalam peta besar kolonialisme seperti Batavia atau Semarang. Namun di sanalah bara api perlawanan pernah menyala, bukan oleh pasukan resmi atau raja besar, melainkan oleh seorang ulama yang memilih sujud daripada tunduk, Syaikh Ali Badawi (Ki Joyotirto). Dari pesantrennya yang sederhana, dari mihrab dan mimbar yang basah oleh air mata, ia meniupkan nyala jihad yang merambat ke sawah, ke pasar, ke kampung-kampung sunyi di kaki pegunungan Muria.

Namun buku ini bukan sekadar catatan perlawanan. Ia adalah roman dari luka dan harapan, dari cinta yang tak sempat selesai, dari para santri yang belajar mengaji sekaligus bertempur, dan dari rakyat jelata yang diam-diam lebih mulia daripada para elit yang bersorak di istana.

Di dalamnya, kita menemukan Siti Mariah—perempuan tabah yang menjadi belahan jiwa seorang pejuang, yang cintanya membungkus luka-luka perjuangan dalam selimut doa. Kita menemukan Tan Liong Hwat—saudagar Tionghoa yang lebih memilih mati bersama rakyat daripada hidup sebagai boneka penjajah. Kita menemukan Ahmad—santri muda yang menyimpan cinta diam-diam dan akhirnya mewarisi semangat gurunya dengan dada yang remuk. Kita menjumpai Hanif—santri Tionghoa yang kelak menjadi salah satu pelita kedamaian, pewaris dan penjaga keharmonisan.

Dan kita akan mendapati, bahwa kemerdekaan tidak hanya ditebus dengan darah, tapi juga dengan kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh. Dalam menyusun roman ini, penulis tidak hanya menyusun fakta sejarah yang tercecer dalam naskah kuno, babad, dan ingatan rakyat. Tapi juga membangunnya kembali sebagai ziarah naratif—menghidupkan kembali suasana, tokoh, dan perasaan yang pernah mekar di tanah Lasem, lalu luruh dalam amarah sejarah.

Setiap bab dalam buku ini adalah doa. Setiap tokohnya adalah cermin dari jiwa bangsa yang luka namun tak pernah menyerah. Dan setiap peristiwa adalah pengingat bahwa perlawanan tidak selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi bisa melahirkan martabat yang lebih agung daripada kekuasaan. Semoga buku ini menjadi lentera kecil untuk generasi hari ini, agar mereka tak melupakan jalan pulang: Jalan di mana darah dan cinta pernah tumpah bersama.

***

⬅ Bab Sebelumnya Bab 1 dari 5 Bab Selanjutnya ➡
← Kembali ke Daftar Bab