Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Bukan Pinang yang Dibelah Dua

📅 29 June 2026 📚 Perempuan yang Lupa Mencintai ⏱️ 10 menit baca 📑 Bab 3

Lepasnya gelas dan piring dari tangan Nek Janah maupun Latifah ternyata adalah pertanda, adalah ayat Allah yang tak kuasa dimengerti keduanya. Tetapi begitulah terhadap ayat-ayat Allah tentang kematian itu. Sering terjadi, orang-orang yang ditinggalkan baru mengerti bahwa Allah telah mengirim ayat-ayat-Nya. Begitupun yang terjadi pada diri Nek Janah dan cucunya itu.

Juga tentang surat yang ditulis Pak Wahab itu. Kini, semuanya menjadi terang-benderang. Tangan takdir telah menggiring tangan Pak Wahab untuk menulis surat di malam menjelang subuh itu. Surat pertama. Pun, surat terakhirnya. Bersama dengan gelas dan piring yang berserak di atas lantai, surat itulah yang selalu membuat Latifah meneteskan air mata. Seperti malam itu, meski sepuluh tahun peristiwa itu telah berlalu.

Dari kamarnya, Shofi mendengar suara isak tangis sang kakak. Hatinya bergumam, “Kakak pasti habis membaca surat bapak lagi...” Shofi menelan ludah. Buku pelajaran Bahasa Indonesia yang terbuka di atas meja belajarnya itu ia tutup pelan. Ia menarik nafas, menghembuskannya pelan. Ia geser kursinya, lalu melangkah keluar kamar, menuju kamar kakaknya.

“Kak...,” ucapnya sedikit lirih, demi tak membangunkan tidur sang nenek.

“I..iya,” tergagap Latifah menjawab. Segera ia hapus air mata di pipi. “Apa, dek?”

“Buka pintu,” pinta Shofi.

Sebentar kemudian, Latifah membukakan pintu kamarnya.

Shofi langsung memberondong pertanyaan, “Nah, kan, kakak nangis lagi? Kemarin nangis? Kemarinnya juga nangis? Kok nangis mulu sih, kak?”

Shofi menyelonong masuk begitu saja, dan membantingkan pantatnya di atas kasur tidur Latifah. Latifah menutup pintu kembali, tak menjawab pertanyaan Shofi. Latifah lalu duduk di kursi depan meja rias. Kedua tangannya mengelus-elus rambutnya seraya ia pandangi wajahnya di cermin yang menempel di dinding itu.

“Kak Ifah baca lagi surat bapak ya?”

Dijawab Latifah dengan desahan nafas.

“Bapak dan ibu kan sudah tenang di alam baka, kak?” Shofi terus berkata, “udah sepuluh tahun. Sepuluh tahun berlalu. Kakak ini masih saja cengeng. Ah, Kak Ifah. Jangan gitu dong, kak. Bikin Shofi ikutan sedih saja. Apa surat bapak kita buang saja, kak?”

Mendengar pertanyaan itu, Latifah menoleh. Di bawah remang cahaya lampu kamar, ia pandangi lekat-lekat wajah sang adik. Ucapnya kemudian, “Buang gimana?”

“Ya daripada membuat kakak sedih terus?”

“Tapi kan ide buruk kalau membuang surat bapak?”

“Lebih buruk mana dibanding kakak yang selalu bersedih hati?”

“Nanti juga hilang sedihnya.”

“Shofi lebih sedih lagi bila dengar omongan para tetangga, kak,” balas Shofi.
“Emang kenapa tetangga?” balas Latifah.

“Iya, mereka bicara tentang kakak. Kakak selalu dibicarakan. Digunjing. Menyebalkan!” cemberutlah wajah Shofi, kini.

Latifah semakin lekat menatap wajah sang adik itu. Ia penasaran. Selama ini, waktu memang tak memberikan kesempatan padanya untuk mendengar pembicaraan para tetangga. Pagi-pagi Latifah sudah harus berangkat kerja di pabrik. Ia buruh pabrik—suatu kenyataan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan di sepuluh tahun silam. Kematian bapak dan ibunya-lah yang menjadikan sesuatu tak terbayangkan itu berubah menjadi kenyataan. Ia pulang di sore hari.

“Jangan su’udzon, dek,” ucap Latifah kemudian.

“Nggak, siapa yang suudzon sih, kak?” balas Shofi.

“Terus, apa yang kamu dengar dari para tetangga itu?”

“Katanya kakak gak pernah dandan,” jawab Shofi, “nggak pernah bercermin. Kakak nggak pedulikan tubuh kakak....”

Latifah tersenyum. Ucapnya, “Terus...?”

“Kakak perawan tua—aku sedih mendengarnya...,” Shofi tundukkan kepala.

Latifah menelan ludah. Ia palingkan wajahnya dari wajah Shofi. Kembali ia duduk menghadap meja, menghadap cermin rias. Ia cermati wajahnya sendiri di cermin itu. Hatinya bergumam, “Benarkah...? Benarkah aku ini perawan...tua?”

“Rasanya ingin kusobek-sobek mulut Jamilah!” pekik Shofi tertahan.

“Kamu ngomong apa sih, dek?” Latifah mengingatkan, “tak baik berkata seperti itu. Bu Jamilah itu sudah tua...”

“Tua, tapi mulutnya tak bisa diam!” bantah Shofi.

“Lagi pula, kenapa kamu mau mendengar omongannya?”

“Emang kakak ini punya salah apa pada Bu Jamilah itu?” Shofi bertanya.

“Salah? Siapa yang salah? Kakak nggak ada masalah sama Bu Jamilah. Juga sama yang lain...”

“Nah, berarti masalahnya kan Bu Jamilah. Iya kan?”

“Aku nggak tahu, dek...”

“Apa karena Kang Asep?”

“Loh, apa hubungannya dengan Kang Asep? Kok dia dibawa-bawa?” Latifah bertanya.

“Kak Ifah tuuch,” jawab Shofi, “kan udah lama Kang Asep naksir sama kakak. Kakak aja yang gak mau. Nggak ngerti. Kang Asep cinta banget sama kakak...”

Mendengar hal itu, Latifah tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak mau menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya itu. Malah, ia berkata, “Sudah sana, tidur. Udah jam berapa ini?”

Latifah melihat jam tangan yang tergeletak di sudut meja, di dekat tas kecil berisi make up-nya. Katanya kemudian, “Ini udah jam sebelas lebih, dik. Tidur sana. Ntar telat bangun lagi...”

Shofi beranjak dari pembaringan. Seraya menuju ke pintu kamar, ia masih berkata kepada kakaknya, “Hatiku sakit bila dengar Bu Jamilah nyumpahin kakak jadi perawan tua!”

***

Latifah mendesah. Lama ia tak beranjak dari tempat duduknya itu. Pikiran tentang surat dan kesedihannya karena terjerembab kembali ke alam kenangan mendadak sirna. Kata-kata Shofi tentang Bu Jamilah begitu membekas di hatinya saat ini: Perawan tua...

Benarkah, ujar batinnya, aku ini jadi perawan tua? Kenapa tiba-tiba Bu Jamilah berkata seperti itu? Ia, Bu Jamilah, apakah benar sering menggunjingku? Kenapa mesti menggunjing? Apa salahku kepadanya? Gara-gara Kang Asep.

Kembali Latifah mendesah. Ia bertopang dagu. Ia tatap wajahnya sendiri lekat-lekat di cermin itu. Bibirnya bergerak-gerak, bertanya sendiri kepada hatinya, “Benarkah aku ini perawan tua?”

Gelisah. Latifah disergap gelisah. Pikirannya berkecamuk tak menentu.

Ah, andai bapak masih hidup.
Juga ibu....
Kenapa Allah, Tuhanku, begitu cepat memanggil kedua orang tuaku?

Iya, anda mereka masih hidup...

Takdir tentu akan bergerak tak seperti gerakannya selama sepuluh tahun ini. Masih lekat di benak Latifah janji sang bapak untuk menguliahkannya di pagi itu, sehabis sarapan itu. Latifah—siapa guru SMA Satria yang tak tahu—adalah siswi yang lumayan berprestasi di sekolah. Nilai-nilainya selalu tinggi. Bahasa Indonesia adalah pelajaran favoritnya, selain sejarah dan geografi. Latifah ingin menjadi guru di suatu saat kelak, karena itu ia ingin kuliah mengambil jurusan bahasa di kampus yang diidam-idamkannya.

Pagi itu adalah pagi yang teramat membahagiakan hatinya. Sebuah pagi yang begitu sangat menggembirakannya. Sebuah pagi yang tiba-tiba berubah menjadi gelap bagi jiwanya. Gelap, teramat gelap. Dengan caranya, melalui takdir-Nya, bapak dan ibunya mengalami kecelakaan. Ini seperti menyiratkan kebenaran sebuah petuah: Di balik topeng kegembiraan, mengintailah wajah penderitaan.

Maka, berubahlah haluan hidup Latifah. Terutama bapak, selama ini adalah tambatan bagi jiwanya. Bapak bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, juga untuk membiayai sekolahnya dan sekolah adiknya. Andai saja yang meninggal itu bapak, barangkali sang ibu masih bisa meneruskan pekerjaan dan citra tentang kuliah dan masa depan masih bisa dengan jelas tergambar di pelupuk matanya. Namun ibunya juga dipanggil-Nya, dengan cara yang sama. Maka sirnalah dari pikiran Latifah angan-angan untuk bisa kuliah.

Sirna sudah pikiran itu. Bersama kesedihan dan jiwa yang hampir larut dalam keputusasaan, tangan-tangan jiwa Latifah menggapai-gapai. Biarlah cita-cita bisa kuliah itu hanya menjadi cita-cita dan angan-angan belaka asalkan Shofi terus bisa melanjutkan sekolahnya. Shofi tak boleh putus sekolah. Shofi harus tetap sekolah. Bahkan Shofi harus bisa kuliah!

Pikiran seperti itulah yang dimiliki Latifah selama ini. Ketika ia lulus SMA dengan nilai yang amat memuaskan, para guru memujinya, para siswa juga mengidolakannya, memang ada kesedihan yang menjamah hatinya ketika ia berkali-kali ditanya, “Mau nerusin dimana, Fah? Nilai-nilaimu sangat bagus—kau pasti akan mudah kuliah di Depok sana. Kapan kita daftar kuliah bareng, Ifah? Aku senang berteman denganmu....”

Sepasang bibir Latifah hanya terkatup rapat. Bola matanya yang bening itu hampir saja menumpahkan air mata jika ia tak tahan sekuat-kuatnya. Hari dimana ia sangat berbahagia karena lulus sebagai juara, sekaligus menjadi hari dimana hatinya amat gelisah karena memikirkan nasib adiknya.

“Aku nggak akan kuliah,” begitu ujarnya pada Rudi, temen sekelasnya, sekaligus teman di kampung ini.

“Kenapa, Fah?”

“Kau tahu sendiri alasannya.”

“Iya,” ucap Rudi, “tapi kenapa?”
“Aku harus bekerja,” jawab Latifah. “Aku tak akan kuliah. Biarlah Shofi yang kuliah kelak. Dia harus kuliah.”

Rudi mengangguk-angguk.

Rudi tahu betul peristiwa tragis itu, seperti halnya Asep dan semua orang di kampung ini. Tetapi Rudi juga tahu betul bahwa Latifah adalah siswi terpandai di sekolahnya. Kacamata Latifah itu, setidak-tidaknya menjadi bukti betapa ia adalah seorang kutu buku. Latifah suka membaca. Hafalannya kuat. Otaknya cerdas. Rudi jatuh cinta pada kecerdasan yang dimiliki Latifah.

“Kau nerusin dimana, Rud?” tanya Latifah suatu sore, di samping stasiun kereta.

“Nggak tahu, Fah,” jawab Rudi, “semoga aku diterima di Bandung. Pengin kuliah di sana. Tapi entahlah, apa aku mampu...”

“Kau mampu, insyaallah...”

“Tapi otakku tak seperti otakmu, Fah...”

“Jangan menyerah...”

“Doain aja...”

“Rud, dimana aku bisa daftar kerja?” Latifah bertanya.

“Lha kamu mau kerja apa, Fah?”

“Apa saja, yang penting halal dan bisa kerja...”

Singkat cerita, dibantu Rudi dan teman-temannya yang lain, Latifah memasukkan lamaran pekerjaan ke mana-mana, di seputaran Bekasi ini. Pada akhirnya, di sebuah pabrik di bilangan Bekasi Timur, Latifah diterima bekerja. Dan sejak saat itu, hidup Latifah rasa-rasanya hanya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja saja. Latifah seperti tak memperhatikan penampilannya. Wajahnya. Harum tubuhnya. Dan, laju usianya...

***

Akan halnya dengan Shofi. Di kampung ini, Shofi bagai bunga yang sedang mekar-mekarnya. Kulitnya putih, bersih, dan wajahnya cantik. Meski ia tak memakai jilbab seperti sang kakak, itu justru menampakkan rambutnya yang hitam pekat bagai malam, dan senyumnya yang selalu merekah mampu menyesakkan dada orang-orang yang memandangnya.

Shofi lain.

Ya, teramat lain...

Bila itu dibandingkan dengan Latifah.

Umur Shofi dan sang kakak memang terpaut jauh. Lebih dari sepuluh tahun. Tepatnya, 13 tahun. Kini Shofi menginjak umut delapan belas, sedang sang kakak berumur 31 tahun. Dulu, tak ada pemuda yang tak mengagumi kecantikan Latifah, keelokan wajah yang dibalut jilbabnya itu.

“Bila Ifah mengenakan kerudung biru,” ucap Asep kagum, “meledaklah jantungku.”

“Kau ini bukan laki-laki!” seru Rudi padanya.

“Jangan sembarangan kau bicara, dek,!” seru Asep.

“Kalau Kang Asep laki-laki,” ujar Rudi, “sudah sejak lama aku mendengar kau dan Latifah saling jatuh cinta. Hahaha...”

Latifah memang berjilbab. Kulitnya memang tak seputih kulit sang adik, tetapi kecantikan Latifah tampak begitu alami. Sifatnya pun seperti bertolak-belakang dengan watak Shofi.

Latifah lembut bak sutra yang teduh. Sedang Shofi keras bagai kayu yang kokoh. Latifah jarang tertawa lepas, sementara Shofi suka terbahak-bahak. Latifah lebih sering menahan untuk tidak banyak berbicara, sedang Shofi ceplas-ceplos seperti ada saja kata-kata yang hendak meloncat semua dari sepasang bibirnya. Latifah cenderung pemurung, sedang Shofi amatlah periang. Latifah adalah air, sedang Shofi seumpama api.

Seperti itulah gambaran yang dikenal oleh orang-orang di kampung ini tentang dua gadis itu. Muda-mudi seringkali terjebak untuk membanding-bandingkan kakak-beradik ini, bagaimana bisa saudara kandung memiliki watak yang saling bertolak belakang seperti itu.

“Shofi kan masih kecil,” begitu ucap Pratiwi, seumuran dengan Latifah, yang sudah menikah tiga tahun dan kini sudah punya seorang putri. “Jangan dibandingkan dong dengan Latifah.”
“Tapi keduanya memang berbeda kok, teh?” ucap Nindi, adik Pratiwi, seumuran dengan Shofi.

“Maksud teteh,” jawab Pratiwi, “Latifah kan harus menanggung hidup Shofi sepeninggal Pak Wahab dan istrinya, dek. Coba lihat, kasihan kan mereka? Nek Janah itu, coba perhatikan. Dulu, Latifah juga periang seperti Shofi. Kalau sekarang tampak sering murung, ya karena tanggung jawab yang harus dilakukannya itu, dek.”

“Kok Mbak Latifah tak juga menikah ya, teh?”

“Hushh! Jangan ngomongin itu.”

“Kenapa, teh?”

“Kau masih kecil bertanya tentang itu.”

Dan sesungguhnya Pratiwi sendiri tak tahu jawaban dari pertanyaan adiknya itu. Sebagai teman seumuran dengan Latifah, yang tak jarang pula saling mencurahkan hati bersama Latifah, Pratiwi benar-benar tak mengerti kenapa Latifah tak juga menikah. Padahal, kumbang-kumbang itu banyak. Kumbang-kumbang itu mengelilinginya. Latifah seperti tenggelam dalam dirinya sendiri....

***

← Kembali ke Daftar Bab