Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Pada bunga, kumbanglah yang mesti mengitarinya, dan bukan terjadi sebaliknya. Beberapa tahun ini, bunga yang paling indah di kampung ini bernama Latifah. Dan kumbang-kumbang pun mengelilinginya, namun bunga itu seperti tak bergeming untuk dijamahnya.
Asep-lah di antara kekumbang itu. Dengung bunyinya yang paling keras di antara kumbang-kumbang yang lain. Namun benar apa yang pernah dikatakan oleh Rudi beberapa waktu silam bahwa Asep seperti bukan laki-laki saja. Asep terlalu penakut. Seumpama kumbang yang hanya berputar-putar, berkisar-kisar, coba untuk selalu terbang mendekati Latifah, tetapi selalu saja tak berani untuk lebih dekat lagi, atau sayapnya tiba-tiba lumpuh begitu ia hendak menyentuhnya. Tak pernah terucap kata cinta keluar dari bibirnya, tetapi gerak-geriknya lebih dari sekedar cukup menyiratkan bahwa ia benar-benar mencintai Latifah.
Asep menjadi buah bibir di antara para pemuda. Ia yang paling terkenal jatuh cinta pada Latifah, tetapi paling tak berani untuk mengutarakannya.
“Apa sebenarnya masalahmu?” Rudi pernah bertanya. Pemuda itu, ternyata—setelah lulus SMA—tak jadi melanjutkan kuliah. Stroke yang dialami bapaknya mengantarkannya pada kematian, dan Rudi memilih bekerja di tempat cucian mobil di daerah Cakung.
Seperti Asep, seperti itu pula Rudi terhadap Latifah.
“Masalahku,” jawab Asep di senja itu, “sama seperti masalahmu.”
“Aku tak punya masalah dengan Latifah, Kang?”
“Tak perlulah kau tutup-tutupi hatimu—semua orang juga tahu kau jatuh cinta padanya.”
“Nggak, nggak semua orang,” Rudi membantah. “Cintaku pada Latifah tak sebesar cintamu, Kang. Yang muda harus mengalah terhadap yang tua. Untukmu Latifah, untukku cukup Shofi saja...”
“Hahahaha...”
“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?”
“Seakan-akan Shofi menyukaimu. Hahaha...”
“Hahaha...”
“Nah, kau tertawa juga, Rud?”
“Seolah-olah Latifah pun menerima cintamu, Kang!”
Tawa getir, itulah yang sebenarnya dirasakan oleh kedua pemuda itu. Pertama, karena pada kenyataannya baik Latifah maupun Shofi memang tak menyukai keduanya. Mungkin suka, ya, sebatas teman, sebatas sahabat satu kampung. Tetapi tidak dalam arti perasaan seorang gadis terhadap seorang pemuda. Kedua, kumbang-kumbang itu tak hanya bernama Asep dan Rudi saja—ada nama lain seperti Baskoro si penjual seblak di depan indomaret, Anton karyawan di Summarecon, dan Andi sopir angkot jurusan terminal Bekasi.
Tetapi jujur, sesungguhnya di antara para pemuda itu, selama ini yang paling dekat dengan Latifah adalah Asep. Bahkan, kedekatan itu sejak kedua orang tua Latifah masih hidup. Bahkan Asep pula yang pertama mengambarkan duka di pagi itu kepada Latifah dan adiknya.
“Dan ingat,” ucap Asep pada Rudi, “aku pula yang sudah lebih dari sepuluh kali selama ini mengantar jemput Latifah.”
Rudi terperanjat. Kopi hampir muncrat dari mulutnya. Ujarnya, “O, jadi—sudah sepuluh kali?”
“Lebih. Ingat! Lebih dari sepuluh kali. Kau bisa berhitung tidak? Lebih itu berarti bukan sepuluh kali. Aku antar Latifah ke tempat kerjanya. Aku jemput pula ia dari sana. Seharusnya dia mengerti. Kalau dia tak mencintaiku, kenapa dia mau aku antar jemput?”
“Kau dimanfaatkannya, Kang,” jawab Rudi.
“Dimanfaatkan gimana?”
“Jadi tukang ojeknya lah...”
“Lah aku memang tukang ojek, Rud..”
“Dan kau tak meminta bayaran?”
“Tentu saja tidak. Tentu saja aku menolak. Gengsi doong?”
“Gengsi apa cinta?”
“Apa mesti kuungkapkan lagi di depan matamu?”
“Hahaha..., pertama, jadi tukang ojek tak boleh gengsi. Gak ada gengsi di dunia ojek. Kedua, kau merayunya dengan cara mengantar dan menjemputnya. Kau sogok dia dengan caramu itu, Kang.”
“Jadi aku salah?”
“Dan selama itu kau tak pernah mengungkapkan perasaanmu padanya?”
“Aku tak berani, Rud.”
“Kau memang bukan laki-laki, Kang.”
“Kau jangan membuatku marah, Rud...”
“Tak begitu maksudku, Kang. Maafkan aku,” jawab Rudi. “Kalau boleh jujur, aku kasihan padamu, Kang. Sejujurnya—jangan marah ya—selisih umurku dan umurmu pun terpaut jauh, Kang. Kau sudah tiga puluh tahun lebih, sedang aku masih remaja. Hahaha...sudah saatnya bagimu untuk menikah. Mak Jamilah—emakmu itu—duh, aku kadang tak tega melihatmu dimarah-marahinya melulu. Kapan kawin?”
“Kau meledekku, Rud.”
“Ngga, kang....”
“Lalu apa maksudmu?”
Dengan wajah yang sangat serius, bola mata lurus memandang ke wajah Asep, seperti seorang tua kepada yang lebih muda, Rudi berkata, “Sudah saatnya, Kang. Saatnya kau nyatakan perasaanmu pada Latifah. Jangan buat ia menunggu. O, bukan. Ia tak menunggu. Jangan buat laki-laki lain lebih dahulu mendekatinya, lalu melamarnya. Itu akan menjadi malapetaka bagi hidupmu, Kang. Aku serius!! Jangan tertawa begitu...”
Rudi memang serius, amat sangat serius. Ia kasihan pada Asep. Lebih kasihan lagi bila melihat Bu Jamilah marah-marah pada Asep. Bu Jamilah sepertinya menyadari bahwa orang-orang, di kampung ini, telah meledek Asep yang mengejar-ngejar Latifah selama ini. Hati Bu Jamilah sakit.
“Saranku, sekali lagi,” ucap Rudi lebih serius lagi, “temui Latifah di rumahnya. Kalau perlu, aku temani kau, Kang, ke rumahnya. Kalau tidak, hari minggu ajaklah Latifah ke taman Harapan Indah sana. Tembak Latifah di sana. Lamar dia!”
***
Asep terguncang. Memang, umurnya dibanding umur Rudi terpaut jauh seperti halnya umur Latifah dibanding adiknya. Meski begitu, terkadang Rudi tampak bijak, terutama soal hati dan cinta, meskipun Rudi pun tak jelas rupa cintanya. Tetapi Rudi benar dalam satu hal: Jangan sampai laki-laki lain datang mengunjungi hati Latifah, lalu ia menerima kunjungan itu. Jangan sampai!
“Aku memang harus menemuinya,” ujar hati Asep. “Dia harus tahu perasaanku. Tetapi aku harus jelasin pada ibuku dulu. Ibu harus tahu. Ibu tak boleh asal-bicara.”
Bu Jamilah....
Sekiranya Tuhan memberi umur pada Bu Nurhayati, usianya sama dengan usia Bu Jamilah, ibunya Asep ini. Ketika masih hidup, di antara semua tetangga, Bu Jamilah-lah yang tampak paling akrab dengan Bu Nurhayati. Malah, bisa dikatakan bahwa Bu Jamilah amat kagum dan hormat kepadanya. Itu semata-mata karena almarhumah orangnya baik, ramah, tak pernah bikin masalah dengan tetangga, murah senyum, tak suka bergunjing, dan yang paling penting dan utama, karena Bu Nurhayati tak suka menagih hutang belanjaan kepadanya.
Sudah sejak lama Bu Jamilah punya idaman, punya harapan, punya impian. Ialah bagaimana melihat Latifah bisa bersanding dengan Asep. Siti Latifah binti Abdul Wahab dengan Asep Munandar bin Sutisna. O, betapa indahnya.
Maka tak kurang-kurang Bu Jamilah berusaha mendekatkan hati Asep pada Latifah. Ia tak segan-segan bercerita pada para tetangga tentang kebanggaannya terhadap Asep dan harapannya untuk menikahi Latifah. Minggu berbilang bulan, dan bulan menyorong tahun, Bu Jamilah terus berusaha, usaha, dan berusaha. Bahkan hingga kedua orang tua Latifah meninggal, usahanya tak berbuah hasil, tetapi justru mengundang malu. Di kalangan warga kampung, justru Bu Jamilah yang lebih sering dibincangkan ketimbang Asep sendiri: Bukan Asep yang hendak menikahi Latifah, namun hasrat Bu Jamilah yang terlalu besar untuk melihat keduanya menikah.
Kabar burung itu memang amat mudah berhembus. Kebiasaan ibu-ibu yang sering duduk-duduk bersama di gang-gang depan rumahnya membuat hembusannya makin menjadi-jadi. Bu Jamilah sadar bahwa ia sering digunjing-gunjingkan. Hatinya terasa sakit. Sakit itulah yang ia lampiaskan, kini, dengan cara menjelek-jelekkan Latifah.
Malam itu, dua hari setelah Asep semakin tak sabar untuk menemui Latifah, Bu Jamilah menyuruh putra semata wayangnya itu duduk di kursi penjalin. Suaminya, ialah ayah Asep, Sutisna, belum pulang dari tahlilan hajatan Hajah Syamsiah yang mengkhitankan anak bungsunya. Asep baru saja pulang dari stasiun, baru saja mandi, dan belum makan.
“Duduklah, dan dengarlah apa yang makmu hendak katakan!” ucap Bu Jamilah.
Asep menuruti.
“Matikan rokokmu!” pinta Bu Jamilah lagi.
Asep pun mematikan rokoknya, dan menaruh sisa batangan rokok itu di atas asbak.
“Ada apa sih, mak?” Asep bertanya.
“Jawablah, apakah kau cinta Latifah?” langsung saja Bu Jamilah bertanya.
“Emak ini ada apa sih? Tiba-tiba tanya begitu?”
“Jawab saja!”
“Asep bukan anak kecil, mak,” jawab Asep sedikit memekik. “Asap udah tua!”
“Karena itu kau jangan main-main, Sep! Jangan main-main dengan hidupmu. Umurmu sudah hampir tiga lima. Tapi kau tak juga menikah. Apa semua ini gara-gara kau mengejar-ngejar Latifah? Kau cintai dia? Dia mencintaimu? Kau mengharap bisa hidup dengannya? Heh? Jawab! Kenapa kau diam saja, heh? Apa kau tak mendengar omongan tetangga tentangmu? Ya, Allah, Sep! Telingaku panas. Telinga..emakmu ini panas. Hatiku mendidih. Apa kau cinta Latifah? Apa Latifah mencintaimu? Kenapa diam?”
Asep menelan ludah. Bingung dia. Bingung diberondong tanya. Maka ia berkata, “Bagaimana saya akan menjawab pertanyaan emak? Emak memberondong saya dengan pertanyaan seperti ini...”
“Jadi benar kau cinta Latifah?”
“Ayolah, mak. Jangan bicara tentang cinta. Asep bukan anak kecil lagi.”
“Kau jangan mengelak, Sep? Apa kau tak ingin menikah?”
“Siapa yang tak ingin, Mak? Tapi siapa yang mau dengan bujang lapuk seperti Asep yang hanya seorang tukang ojek di belakang stasiun, Mak? Iya. Asep mencintai Latifah. Emak sudah tahu itu. Mak jangan membuatku malu. Asep juga tahu banyak orang mengejar-ngejar Latifah. Asep ingin menikahi Latifah. Dan Asep ingin segera menemuinya untuk mengatakannya, Mak. Mak puas?”
Sejenak, Bu Jamilah terdiam. Bola matanya saja yang tampak berputar-putar tak menentu. Diperhatikannya wajah putranya itu dengan seksama. Dicobainya dengan hatinya untuk memahami perasaan putranya. Lalu, ditemuinya bahwa sang putra, Asep, memang benar-benar mencintai Latifah.
Bu Jamilah tercenung.
Rasa marah, pelan-pelan, berubah menjadi rasa kasih dan kasihan. Ia mengasihani Asep, mengasihani putra semata wayangnya itu. Bu Jamilah mendesah. Sepasang bibirnya terkatup rapat.
Asep pun diam membisu. Pikirannya berkecamuk tak menentu.
Beberapa detik kemudian, sang emak berkata dengan nada pelan dan tertahan, “Sep, maafkan emakmu ini. Maafkan emakmu yang telah ikut membuatmu malu. Bila para tetangga berkata yang tidak-tidak tentangmu, itu karena aku turut andil sehingga kamu dipergunjingkan seperti itu. Maafkan kesalahanku, nak.”
“Aku hanyalah seorang ibu,” lanjut Bu Jamilah, “dengan hati yang terluka melihat jiwa anaknya tersakiti. Cintamu, nak, harapanmu, bisa membuat jiwamu sakit. Aku tak ingin melihat kau sakit karena Latifah. Karena itu...”
Bu Jamilah melanjutkan, “Kalau kau memang benar-benar mencintainya, segera temui ia dan katakan perasaanmu itu. Kau tak boleh hanya diam saja dengan perasaanmu sendiri. Latifah bukan seperti emakmu ini, nak sedangkan kau seperti ayahmu saja. Dulu, bukan ayahmu yang menyatakan perasaannya padaku. Dia seorang pemalu. Tapi aku tahu dia mencintaiku. Aku yang mengalah. Kuketuk hatinya, kuucapkan salam, lalu kita menikah. Kau persis ayahmu. Sedang Latifah tak sepertiku. Dia menunggumu dengan pernyataanmu, Sep. Nyatakanlah. Dan jangan terluka hatimu bila ternyata dia tak mencintaimu. Kau berhak hidup lebih baik, sedang dia pun berhak dengan pilihan hatinya. Kau mengerti?”
***
Kata-kata seorang ibu adalah jimat. Benar bahwa yang berkata-kata itu adalah bibirnya, tetapi asal dari perkataan itu adalah hatinya. Seorang anak harus merasa khawatir mendengar rintihan hati seorang ibu. Apakah jimat itu akan menjadi kekuatan baginya, atau justru menggiringnya ke jurang hina.
Berbekal hati yang dibesarkan oleh emaknya, Asep memantas-mantaskan dirinya di depan cermin. Ia ingin menemui Latifah yang diketahui hari ini libur kerja. Asep yang tak pernah memakai parfum untuk mengharumkan tubuhnya itu, kini telah membeli minyak seharga sepuluh ribu rupiah di dekat alfamart. Ia gosok-gosok parfum itu di ketiak bajunya, juga di sebelah dadanya. Ia sisir rambutnya begitu rupa, antara ke kiri dan ke kanan, lalu memilih ke belakang saja. Jarak rumahnya dengan rumah Latifah tak begitu jauh, hanya beda gang saja, tetapi ia ingin ke rumah Latifah dengan menunggang motor kesayangannya.
Malam belum larut sebab baru jatuh membungkus langit. Kerlap-kerlip bintang bertebaran seperti pernak-pernik yang menghias angkasa. Bulan bersinar terang, tetapi lebih terang lagi nyala lampu-lampu di depan rumah warga. Malam ini tak tampa muda-mudi yang bercanda-tawa di sembarang gang, dan tampak hanya tiga anak kecil yang masih bermain-main di luaran.
Asep memarkir motornya persis di mulut pintu rumah Latifah. Pagar rumah berukuran rendah masih terbuka, pertanda sang tuan rumah masih terjaga. Ditingkahi jantung yang berdetak kencang, Asep mengetuk-ketuk pintu. Ia ucapkan salam. Ia menunggu.
“Assalamu’alaikum,” sekali lagi Asep ucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,” terdengar suara Shofi yang menjawab salamnya.
Jantung Asep berdetak lebih kencang. Bisa jadi jantungnya akan lepas dari tempatnya pabila yang menjawab salamnya itu adalah Latifah. Beruntung, Shofi lah yang menjawabnya.
“Duuh, Kang Asep!” celetuk Shofi. “Tumben-tumbenan...”
“I..iya, Latifah ada?” Asep sedikit tergagap.
“O, cari Kak Ifah. Ada kok. Kak Ifah, ini Kang Asep!” seru Shofi. Lalu kepada Asep, “Ayo, kang. Silahkan masuk..”
Asep masuk. Shofi menyuruhnya duduk. Asep pun duduk. Shofi menawarinya secangkir teh.
“Kopi, kalau ada, Fi,” Asep menjawab.
“Idih, tamu kok minta,” canda Shofi.
Asep nyengir tak keruan.
Latifah keluar. Ia kenakan jilbab warna biru, lengkap kaca mata yang menghias di wajah. Ia tersenyum ramah, lalu mengambil duduk di depan Asep. Ruang tamu rumah Latifah ini memang tak berkursi. Sebagai gantinya, karpet berrwarna merah menghampar seluas ruangan.
“Kang Asep cari saya?” Latifah bertanya.
Pertanyaan yang sederhana ini justru membuat Asep salah tingkah. Tergagap. Tak bisa menjawabnya. Matanya juga tak mampu bersitabrak dengan mata Latifah yang tengah memandangnya itu. Asep sedikit tertunduk.
“Kang Asep...!” Latifah berseru.
“Oh, ehm, i..iya, Fah. Iya...”
“Iya apa?”
“Iya, benar.”
“Apanya yang benar, Kang?”
“Aku tak mengganggu nih?”
“Nggak kok, memang ada apa?”
“Ya..pengin ketemu saja...”
“Ini udah ketemu.”
“Iya...”
“Kok iya-iya melulu sih?”
“Aku tak menganggumu ya, Fah?”
“Idih, kan tadi Ifah sudah bilang.”
“Maksudku,” tiba-tiba meluncur ide di benak Asep, “Hari Minggu, kau libur kan?”
“Iya, Kang, aku libur. Kenapa?”
“Aku pengin mengajakmu, Fah.”
“Kemana? Ngajakin Ifah? Kemana, Kang?”
“Mau tidak?”
“Ke mana dulu? Untuk apa?”
“Ke Harapan Indah, Fah.”
“Ngapain, Kang?”
“Pokoknya mau tidak, Fah?”
“Ehm, gimana ya? Emang ada apa sih?” Latifah bertanya.
Sebelum Asep menjawab, Shofi keluar membawa secangkir kopi. Ia letakkan cangkir kopi itu di depan Asep, seraya berkata, “Ini, Kang. Kopi pesananmu. Diminum.”
“Makasih, Shofi..”
“Aku dengar tadi, Kang Asep mau ngajakin Kak Ifah ya?”
Asep menelan ludah.
“Ajak aja, Kang. Biar Kak Ifah gak di rumah mulu. Hehe..”
“Apa-apaan sih kamu, dek?” Latifah menggerutu.
“Aku boleh ikut, Kang?” Shofi tak menggubris perkataan kakaknya, dan justru bertanya begitu pada Asep.
“Yaah, gimana, Fi. Kan cuman pake motor. Gak mungkin bertigaan. Ntar ketilang lagi.”
“Hehehe, bercanda kok,” ujar Shofi.
“Gimana, Fah?” tanya Asep. “Mau ya? Ada sesuatu yang amat penting di sana.”
Meski dipenuhi tanda-tanya, Latifah mengangguk. Toh, Shofi benar juga. Selama ini, Latifah tak pernah keluar rumah jika tengah libur. Minggu besok ia libur. Ia mau diajak Asep ke Harapan Indah.
“Makasih, Fah,” ucap Asep. Lalu kepada Shofi, “Aku minum ya kopinya?”
“Minum aja. Udah dihidangin juga.”
Asep meminum. Meski panas, entah kenapa secangkir kopi itu langsung habis diminum semua.
“Terimakasih kopinya, Shofi. Terimakasih kesediaanmu tuk aku ajak ke Harapan Indah, Fah. Jam sembilan pagi aku jemput ya? Jangan siang-siang.”
“Iya, Kang. Insyaallah.”
“Ya, udah. Aku pamit. Assalamu’alaikum...” Asep berdiri.
“Wa’alaikumsalam...”
Shofi menggeleng-gelengkan kepala. Batinnya merasa lucu melihat tingkat Asep. Bola mata Shofi berbinar-binar.
***