Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
“Mak, pinjem duit,” Asep meminta.
“Pinjem duit? Buat apa?” sang emak bertanya.
“Pokoknya pinjem dulu,” jawab Asep. “Seminggu lagi Asep kembalikan.”
Meski tukang ojek pengkolan, Asep memang selalu memberikan hasil kerjanya untuk emaknya. Ia hanya butuh uang untuk membeli rokok dan minum secangkir kopi. Kulit Asep yang hitam karena terpanggang matahari, kantong matanya yang sedikit tebal, dan pemilik bibir yang warnanya juga agak menghitam ini sesungguhnya pemuda yang hatinya tulus. Ia tak suka mabuk-mabukkan, meski beberapa temannya melakukannya. Ia memang suka nongkrong-nongkrong, namun tenggorokan dan perutnya itu, hingga detik ini, masih suci dari alkohol.
“Itu uangmu, Sep. Ambil saja,” ucap sang emak.
“Nggak, pinjam saja statusnya, Mak. Nanti Asep kembalikan.”
“Terserah engkau. Kau mau ke mana?”
“Ngajak Latifah ke Harapan Indah, mak,” jawab Asep.
“Kau yakin?” sang emak bertanya.
“Mak benar,” jawab Asep, “aku tak bisa hanya diam saja. “Latifah juga mau kuajak ke sana.”
“Ya sudah,” jawab Bu Jamilah, “kau hati-hati bawa anak orang. Jangan kau lukai. Jagalah.”
“Siap, mak.”
Sebuah minggu yang tampak sempurna bagi Asep. Mengenakan jeans warna biru muda, kaos putih dan jaket kulit (?), serta sepatu kets warna putih pula. Bila sudah seperti ini, Asep tampak lebih muda laiknya mahasiswa saja, dan orang tak akan percaya bahwa dia hanyalah seorang tukang ojek pengkolan.
Seperti janjinya, Asep menjemput Latifah di rumahnya pukul 09.00 WIB. Latifah sepertinya juga sudah menunggu dari tadi, sedang Shofi sudah tiga kali menggoda kakaknya. Begitu Asep datang, Shofi menyeletuk, “Selamat berkencan, kakak...”
Dibalas Latifah dengan cibiran bibir.
Latifah memang anggun. Ia mengenakan gamis warna gelap. Tak seperti Shofi yang lebih suka memakai celana panjang, Latifah hampir tidak pernah bergaya seperti itu.
Tak banyak bicara, Asep segera menjalankan motornya. Ia memakai helm warna hijau muda, sedang Latifah memakai warna merah. Motor berjalan pelan, melintasi jalan kecil di pinggir rel kereta. Beberapa orang tampak tahu bahwa Asep tengah membonceng Latifah. Terdengar bunyi siulan dari samping kanan belakang, menyiuli Asep yang tersenyum di balik helmnya itu. Latifah diam saja.
***
“Kakakmu ke mana, nduk?” Nak Janah bertanya pada Shofi.
“Pergi, nek,” Shofi menjawab. “Dia diajak Kang Asep ke Harapan Indah.”
“Kenapa tak bilang nenek?” Nek Janah bertanya.
“Loh, kirain sudah bilang nenek.”
“Tidak, dia tak bilang nenek. Ada urusan apa Ifah diajak Asep, nduk?”
“Urusan anak muda lah, nek..”
“Hmmm...”
“Nenek kan pernah muda kan?” Shofi mulai menggoda neneknya. “Kang Asep kan suka sama Kak Ifah, nek...”
“Jadi begitu?”
“Begitulah, nek...”
“Asep itu baik,” ujar Nek Janah.
“Nenek suka ya?” Shofi bertanya, disertai tawa.
“Husy, ngomong apa kamu ini.”
“Lha itu nenek memuji Kang Asep tadi?”
“Dia memang baik. Ibunya juga baik. Apa...apa, kakakmu juga menyukainya, nduk?”
Shofi mengangkat bahu. Kedua tangan direntangkannya. Jawabnya, “Shofi nggak tahu, nek. Kak Ifah itu susah. Apa Kak Ifah tak menyukai cowok ya nek?”
“Kamu ini ngomong apa to?”
“Heheh...”
“Sudah sana, belajar. Atau kau juga mau pergi, apa-istilah-nya, kencan, ya kencan—seperti kakakmu?”
“Kencan sama kucing, nek. Hahah...”
“Shofi!!”
***
Motor yang ditunggangi Asep berboncengkan Latifah meliuk-liuk membelah jalan arah Pulo Gadung. Sepanjang jalan, kedua muda-mudi itu hanya saling diam, diam dengan pikirannya masing-masing. Yang ada di benak Latifah adalah tanya, tentang apa maksud dan tujuan Asep mengajaknya. Lebih dari itu, ia teringat kembali kata-kata Shofi yang menceritakan sikap Bu Jamilah yang tampak kurang baik terhadap dirinya.
Sementara, Asep sedari tadi mencari kata, menyusun kalimat, merangkainya menjadi suatu jalinan bahasa yang hendak ia ungkapkan kepada gadis yang tengah diboncengnya itu. Bagaimana harus mengatakannya? Aku mencintaimu dan kau tidak? Apa seperti itu? Apakah kau tidak tahu betapa selama ini hanya kamu yang kupikirkan, Fah? Hanya kau yang menghuni hatiku?
Hatimu untuk siapa?
Adakah laki-laki yang telah menawanmu selama ini?
Asep cemas.
Motor telah berbelok ke arah kanan, memasuki kawasan Harapan Indah. Asep terus berpikir hendak membawa Latifah ke mana. Apakah di pinggir kali, dekat para penjual kopi? Atau akan ia ajak Latifah ke warung makan khas bebek goreng di sana?
Mahalkah bebek goreng di warung mewah seperti tempat ini?
“Kau udah sarapan?” Asep berteriak pada Latifah.
“Belum, kang,” jawab Latifah.
“Kita cari bebek goreng di sana. Mau?”
“Terserah Kang Asep aja.”
Asep menelan ludah.
Duh, Gusti—semoga uang yang kubawa cukup untuk mentraktirnya.
Pekik hati Asep.
***
Menu itu telah lama habis. Yang tinggal hanyalah piring-piring berisikan tulang-tulang bebek, sambal lombok ijo, dan lalapan. Teh dalam gelas Latifah masih setengah, sedang kopi Asep sudah habis tak tersisa. Muda-mudi itu duduk berhadap-hadapan, sedang sedari tadi bibir keduanya terkunci rapat.
“Aku siap mendengarnya, Kang,” akhirnya Latifah membuka suara. “Kang Asep mau ngomong apa?”
Seribu kekuatan telah dimiliki Asep untuk membuka hatinya, mengungkapkan perasaannya. Susunan kata yang di sepanjang jalan ia cari-cari tadi tak juga ketemu, tetapi hati membimbing pikirannya untuk memerintah bibirnya berkata dengan cara yang baru.
“Jadi kau tak bohong, Fah?”
“Aku bohong apa, Kang Asep?”
“Bahwa tak ada lelaki di hatimu itu.”
Latifah tersenyum.
Latifah menggeleng.
Latifah lalu berkata, “Sebenarnya Kang Asep ini hendak berkata apa. Kenapa tanya laki-laki di hatiku? Tidak, Kang. Tak ada lelaki di hatiku.”
“Benarkah itu?”
“Iya, benar.”
“Jadi jika aku mencintaimu, kau akan menerima cintaku?”
Bola mata Latifah membelalak, membeliak. Bibirnya terbuka sedikit. Latifah terkejut. Kejutnya itu membuatnya tak bisa berkata-kata.
Asep lalu memberondongkan kalimat-kalimatnya, “Ifah, maafkan aku. Maafkan hatiku. Maafkan kelancanganku. Orang-orang berkata tentang perasaan suci bernama cinta, sedang perasaan seperti itu telah lama hadir di hatiku, telah lama berjumpalitan memenuhi rongga-rongga dadaku. Umurku kian bertambah, dan betapa sudah lama perasaan ini berkecambah, subur, menyubur, tumbuh bersama umurku.”
“Aku mencintaimu, dek,” lanjut Asep, “tetapi ketakutanku selalu membelengguku selama ini untuk mengungkapkan perasaan ini padamu. Cintaku, padamu, lebih nyaring daripada jerit kereta malam, pun lebih panjang daripada rel-nya. Oh, aku tak tahu perumpamaan yang tepat bagaimana untuk menggambarkan cintaku ini. Tetapi, memang, selama ini aku tak pernah berani mengungkapkannya padamu, menyatakan langsung di hadapanmu. Sedangkan aku tahu, ada Baskoro, ada Anton, ada Andi juga, dan entah ada siapa lagi yang selama ini diam-diam mencintaimu.”
“Apa yang menahanku untuk tak juga mengungkapkan perasaan ini adalah kesadaranku bahwa aku tahu siapa aku di hadapanmu dengan segenap kelebihanmu. Seorang tukang ojek yang tak punya masa depan, dan barangkali tak layak untuk mencintai dan dicintai. Yang kuketahui tentang hidup hanyalah motorku itu, tiap pagi siang maupun petang ditumpangi oleh orang-orang yang membutuhkan. Debu-debu jadi saksi cintaku, juga kopi yang selalu saja kuhirup tiap pagi di sudut stasiun Kranji.”
“Baru sekarang, Fah,” lanjut Asep, “baru saat ini kuberanikan diriku untuk mengungkapkannya. Di hadapanmu. Ya, langsung di hadapanmu. Aku mencintaimu, dek. Dan, insyaallah, aku siap meminangmu!”
***
Awalnya, mata bersitabrak mata. Sepasang bola mata Asep yang menatap lekat dibalas dengan tatapan pula oleh Latifah. Dengan segenap hati dan jiwanya, Latifah mendengar semua yang dikatakan pemuda yang duduk di hadapannya itu. Ia cerna kata per kata satu per satu. Seiring itu, wajahnya menunduk dan bola matanya tak sanggup lagi membalas tatapan matanya.
Keadaan rumah makan khas bebek goreng ini masih agak sepi, tetapi kini kesepiannya laksana kian menjadi-jadi. Asep masih tak melepaskan tatapannya ke wajah Latifah. Sepasang bibir Latifah masih terkunci.
“Katakanlah, Fah,” Asep berucap setengah tertahan, “apa pun yang hendak kau katakan, apa pun keputusanmu, aku siap mendengarkan. Aku siap menerimanya. Seandainya pun itu penolakanmu...”
Setelah menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan, Latifah mengangkat wajah, namun tetap tak berani bersitatap langsung dengan Asep. Pandangannya menatap piring kosong di depan Asep, seraya berkata, “Kang Asep, maafkan Ifah. Demi Yang Menguasai hidupku dan hidupmu, tak ada niat, maksud, dan tujuan dariku untuk menyakiti hati dan perasaanmu.”
“Pertama, terimakasihku padamu,” lanjut Latifah, “sebab engkau telah menyatakan dan mengungkapkan perasaanmu padaku. Percayalah, Kang. Selama hidupku, baru kamulah lelaki yang menyatakan perasaan cinta kepadaku. Tak ada Anton, tak ada Andi, tak ada Baskoro, tak ada siapa pun.”
“Yang kedua, kang,” lanjut Latifah lagi, “kau salah menimbang dirimu dengan pekerjaanmu. Yang kutahu, Allah membentangkan jalan-Nya, membebaskan hamba-hamba-Nya untuk berikhtiar secara baik dan halal. Tak ada yang buruk bagi seorang tukang ojek karena keburukan terletak pada kezaliman pekerjaannya, bukan jenisnya.”
“Yang ketiga, Kang Asep-ku,” lanjut Latifah lagi, “selama ini aku memang telah merasakan perhatianmu. Kudengar dari orang-orang bahwa engkau memang mencintaiku. Kau baik, Kang. Teramat baik. Tak pernah aku lupa engkaulah orang yang pertamna-tama memberitahuku takdir yang telah merenggut kedua orang tuaku. Bagi jiwaku, Kang, kau sudah seperti kakak kandungku sendiri. Kau adalah kakakku. Sesungguhnya amat bodoh bila seorang adik bersikap zalim kepada kakaknya. Tadi kau bertanya tentang adakah lelaki yang mendekam di hatiku. Kukatakan bahwa lelaki itu adalah kau, Kang. Kau yang bagi jiwaku sudah kuanggap seperti kakakku.”
“Dan tentang cintamu,” lanjut Latifah, “bukannya aku menolakmu. Tetapi bukan pula aku menerimamu. Sesungguhnya aku belum pernah mengungkapkan rahasia ini, rahasia mana yang barangkali akan menjadi aib dan menjadi bahan bakar bagiku untuk selalu dipergunjingkan. Umurku, Kang, umurku sudah tak lagi muda. Sebagian orang malah menganggapku sebagai perawan tua. Aku tak sakit dengan anggapan seperti itu, Kang. Tak sakit. Seandainya mereka yang berkata seperti itu tahu tentang hidupku, duduk di kedalaman jiwaku, dia akan menyadari bahwa Latifah hanyalah seorang gadis yang teramat rapuh, yang kepadanya Tuhan menitipkan hidup seorang nenek dan seorang adik.”
Sampai di sini, Latifah menundukkan kepala. Tertunduk. Bola matanya mulai basah. Ia sedikit tergagap. Ia berusaha untuk menguasai dirinya, sebelum ia melanjutkannya, “Latifah tak akan menyalahkan takdir. Allah telah memanggil kedua orang tua Latifah dengan cara-Nya sendiri. Dan dengan takdir-Nya pula, Allah menghendaki Latifah menjadi tumpuan hidup bagi nenek dan adiknya. Itulah yang ada di jiwa Latifah, yang telah menahan Latifah dari apa yang disebut cinta. Bila ada cinta di hati ini, cinta itu bernama Nenek dan Shofi. Tak lebih. Aku harus bekerja, dan terus bekerja. Sebab aku hidup bukan untuk diriku sendiri. Bila di tahun-tahun lalu aku gagal untuk kuliah, ketahuilah kang, aku memang siap untuk tidak menikah.”
***
“Jadi itu yang memberatkanmu, Fah?”
“Iya, kang. Tak ada yang lain,” jawab Latifah.
“Shofi akan tetap sekolah, akan kuliah, meskipun kau menikah...”
“Seorang gadis yang menikah ada dalam kuasa dan perlindungan suaminya, dan dia tak bisa memasukkan adiknya ke dalam lingkar rumah tangganya.”
“Aku tak paham maksudmu, Fah. Maafkan aku....”
“Kalau aku menikah,” jawab Latifah, “siapa yang akan menghidupi nenek dan adikku? Siapa yang akan menguliahkan Shofi?”
“Aku sanggup melakukannya, Fah—jika engkau menerimaku.”
“Kau sanggup, Kang. Insyaallah, sanggup. Hatiku yang tak sanggup.”
“Jadi kau akan selamanya untuk tidak menikah, Fah?”
“Aku tak tahu, kang,” jawab Latifah, “sampai kumelihat Shofi berhasil mewujudkan cita-citanya...”
“Dan selama itu,” potong Asep, “bolehkah aku menunggumu?”
“Kang, jangan kau siksa jiwamu sendiri dengan penantian panjang...”
“Apakah kau pikir aku tersiksa dengan cintaku selama ini yang bertepuk sebelah tangan?”
“Kau orang baik, Kang. Kau layak mendapatkan yang terbaik. Jangan tambah beban hidupku dengan cara engkau menungguku. Kuharap kau mengerti, Kang.”
“Barangkali aku tak akan menikah saja, Fah...”
“Jangan membuatku sedih, Kang...”
“Jika memang itu keputusan yang terbaik bagimu, demi Allah, aku tak akan memaksamu. Meski berat, aku tahu batasan untukku. Terimakasih, dek. Terimakasih....”
***