Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Rasanya ingin memekik. Rasanya ingin menjerit. Berteriak-teriak sekeras-kerasnya akan ia lakukan sepuas-puasnya. Sekencang-kencangnya. Hatinya bergejolak. Batinnya bergemuruh. Bila akal sehatnya telah sirna, rasanya ingin ia tabrakkan motor yang dikendarainya itu. Ke wajah bus atau pembatas jalan raya.
Tetapi meski perih, Asep tetap berusaha agar sehat akalnya, bersih jiwanya. Ia harus pulang, harus mengembalikan Latifah. Meski tersayat hatinya, ia tak boleh menciderai Latifah. Menjadi anehlah pemandangan itu. Latifah membonceng Asep kembali. Sepasang bibirnya lebih terkatup rapat lagi dibanding saat ia pergi ke Harapan Indah ini. Motor meliuk-liuk, terkadang berjalan cepat, terkadang lambat sekali. Ketika lambat, pikiran Asep melayang-layang terbuai harapan agar bisa lebih lama lagi membonceng orang yang begitu dicintainya itu. Saat sadar bahwa cintanya memang bertepuk sebelah tangan, batinnya bergejolak, motornya melaju kencang sekali.
“Hati-hati, kang!” seru Latifah tertahan. Wajahnya sedikit pucat.
Asep tak menggubris.
Lebih cepat sampai rumah, lebih baik.
Begitu pikirnya.
“Aku masih suka nyawaku,” batinnya berujar. Kau tenang saja.
Matahari sudah condong ke barat. Asep langsung mengantar Latifah hingga ke rumah. Sampai detik ini, bibirnya masih terkunci, meski Latifah telah turun dari motornya.
“Kang Asep tak masuk dulu?” Latifah menawarinya.
“Nggak, makasih,” jawab Asep.
“Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati ya, kang?”
“Assalamu’alaikum....”
“Wa’alaikumsalam...”
Asep melajukan motornya kembali. Nekat dia. Hampir saja terjerembab di tikungan. Latifah memperhatikannya dengan pandangan yang amat gelisah. Ia masih berdiri termangu di depan pintu rumahnya, sehingga ia tak tahu sedari tadi Shofi telah mengintipnya.
***
Malam berkecamuk bagi kedua insan itu. Latifah gelisah, teramat gelisah. Ia telah bagi kegelisahan yang menyergapnya itu dengan sang adik. Shofi menanggapinya dengan wajah datar, teramat datar.
Jika Latifah tak mengenal cinta, apalagi dengan Shofi. Tetapi Shofi juga amat tahu bahwa Asep itu pemuda yang baik. Meski kulitnya hitam, tetapi kebaikan tak diukur melalui warna kulitnya. Pabila sang kakak memang menyukai Asep, dengan sepenuh hati Shofi pun akan menerima. Menerima Asep sebagai kakak iparnya. Namun telah diketahuinya bahwa sang kakak menolaknya. Meski Shofi tidak tahu oleh sebab apa sang kakak itu menolaknya.
Akan halnya dengan Nek Janah. Nek Janah mengerti dengan gejolak yang dialami cucu sulungnya itu. Sebagai nenek yang telah kenyang asam garam kehidupan, yang semestinya lebih dahulu dipanggil Yang Maha Segala namun ternyata Dia lebih cepat memanggil anaknya terlebih dahulu, Nek Janah mengerti suasana hati cucunya itu. Usianya sudah hampir tujuh puluh. Keriput kulitnya tak menghilangkan keteduhan yang terpancar di wajahnya.
Di sudut dapur malam ini, Nek Janah mengajak cucunya itu untuk berbicara dari hati ke hati. Didapatinya bahwa makin lama Latifah seperti makin kurus saja. Daging tubuhnya seperti digerogoti umur dan pekerjaannya. Betapa iba hati sang nenek melihatnya.
“Entah darimana aku harus memulainya,” ujarnya, lirih. “Dari keadaanmu, Fah, cucuku. Lihatlah keadaanmu. Cemaraku kini bertambah kering di mataku yang telah rabun ini, sedang hujan tak kunjung membasahi jiwanya. Ifah, adakah kau tak mengasihi dirimu sendiri?”
Latifah terdiam.
Sang nenek melanjutkan, “Aku tahu, iya, aku tahu, nduk. Kau telah bekerja keras selama ini. Aku tahu apa yang kau lakukan, pekerjaanmu itu, demi nenek dan adikmu sendiri. Demi menghidupiku, nenekmu ini. Duh, Gusti...seandainya saja...”
“Nenek jangan berkata begitu,” Latifah berucap. “Nenek jangan membuatku sedih. Sudah kewajibanku untuk melakukannya, nek. Nenek tak perlu begitu...”
“Karena itu maafkan aku, nduk. Tanggung jawabmu besar. Sekiranya pun tak ada nenek, masih ada Shofi yang mesti kau tanggung. Aku tahu dan sadar jalan pikiranmu: Kau bekerja demi kita semua. Demi menyambung hidup kita. Kau korbankan dirimu demi semua itu. Juga, demi adikmu. Kau cabut cita-cita dari benakmu agar cita-cita adikmu dapat ia capai. Kau korbankan umurmu untuk dua orang yang kau kasihi.”
“Tetapi, Fah,” lanjut Nek Janah, “kau layak mendapatkan hidup yang terbaik. Aku tak ingin membandingkanmu dengan anak gadis lain, sebab aku tahu dirimu tak bisa dibandingkan. Nduk, kau berhak bahagia. Berhak mengenyam kehidupan rumah tangga. Lelaki itu akan datang dalam hidupmu, menjadi kuasa bagimu, menjadi pelindungmu, menjadi tongkat kehidupanmu. Seorang nenek hanya ingin melihat cucunya berbahagia, dan tak ingin melihat cucunya menderita.”
“Nenek keliru jika mengatakan Latifah tak berbahagia. Jangan berkata seperti itu...”
“Tak bolehkah aku memberi saran bahwa sudah saatnya pula kau pikirkan hidupmu sendiri?”
“Beri aku waktu, nek, untuk memikirkannya sekali lagi...”
“Jadi benar—kata Shofi—kau tolak Asep itu?”
“Maafkan aku, nek...”
“Tentu saja, dan kau memang tak salah dengan keputusanmu itu. Kau berhak untuk menolaknya. Tetapi kau tak bisa seperti ini terus, nduk. Shofi akan mengerti, cepat atau lambat, bahwa kau juga membutuhkan seorang lelaki. Kelak, Shofi pun membutuhkannya. Jangan memaksa dirimu sendiri untuk terus bekerja kalau itu hanya akan menggerogoti tubuhmu dan menghabiskan dagingmu. Jangan memaksa Shofi untuk bisa terus sekolah kalau itu hanya akan semakin membuatmu kurus kering dan membuatmu sakit. Nenek tak sanggup untuk membayangkannya.”
“Doakan Latifah, nenek,” pinta Latifah, “doakan cucumu ini.”
“Iya, nduk. Tapi tolong pikirkan lagi apa yang telah nenekmu ini sampaikan. Mulailah memperhatikan dirimu. Cintailah dirimu. Bukalah hatimu.”
Latifah mengangguk. Lalu dengan penuh kasih, ia tuntun sang nenek dan memintanya untuk segera beristirahat. Latifah sendiri besok mesti harus berangkat pagi.
***
Hampir saja Bu Jamilah menjeritkan kemarahannya seandainya saja Asep tak mampu menahannya. Sumpah serapak hendak meloncat liar dari bibir Bu Jamilah terhadap Latifah.
“Dasar gadis yang tak tahu diri! Tak tahu diuntung! Perawan tua yang sombong!” begitu pekik yang sempat keluar dari bibirnya.
“Mak, jangan berkata begitu,” pinta Asep.
“Lihat saja, apakah akan ada lelaki yang mendekatinya. Lihat saja nanti. Aku bersumpah dengan hatiku, Latifah akan menderita!”
“Salah Latifah apa, mak?” Asep sama sekali tak mengerti jalan pikiran emaknya ini. “Apakah dia pernah melukai perasaanmu? Hatimu? Apakah dia telah mencaci-makimu, mak? Kenapa tega emak menyumpahserapahinya?”
“Kau masih membela gadis yang menolakmu, Sep?”
“Ini tidak tentang Latifah yang memang menolakku, mak. Ini tentang kau. Emakku, ibuku yang kepadanya hatiku akan sakit bila hatinya sakit. Hatiku akan perih bila hatinya perih. Ifah menolakku bukan karena ada lelaki lain yang telah lebih dahulu mendatanginya. Tak ada, mak. Tanggung jawabnya sebagai tambatan nenek dan adiknya itulah yang membuat ia mengorbankan hidupnya sendiri. Haruskan aku memaksakan perasaan pada gadis yang hatinya lembut seperti itu? Tolonglah, mak. Mak kenal almarhum Pak Wahab dan Bu Nurhayati. Mereka berdua tak pernah membuat hidup kita terluka. Tak dicintai Latifah tak mengapa bagiku sekarang. Aku memahami penolakannya itu...”
“Tapi tak begitu caranya, Sep...”
“Harus dengan cara apa, mak?”
Bu Jamilah terdiam.
Tak bisa menjawab pertanyaan Asep.
“Aku mohon doa emak,” ucap Asep lagi, “untuk mendoakanku. Kuhapus nama Latifah di hatiku, mak, dan semoga Allah menghadirkan nama yang baru. Tolonglah aku, mak. Jangan lukai perasaan emak sendiri. Aku tak ingin melihat emak sakit. Tak mau. Tolonglah, jangan sumpahserapahi Latifah!”
***
Hanya dengan cara itu Asep mampu mendiamkan kegelisahan batin Bu Jamilah, meski dengan cara itu pula ia masih tak sanggup mengenyahkan kegelisahan batinnya sendiri.
Sepuluh tahun lebih cintanya untuk Latifah, tak ada nama lain, tak ada gadis lain. Cinta yang telah terpatri kuat begitu rupa, sungguh teramat sulit untuk tercabut dari tempatnya. Dari hatinya. Dari jiwanya. Meski akal sehat memerintah untuk menerima kenyataannya.
Di hadapan sang ibu, akal sehat membimbingnya. Itu ia lakukan demi kedamaian hati sang ibu itu sendiri, agar ia tak terperosok dalam sumpah serapah yang justru menciderai hati. Akalnya bekerja. Namun tatkala waktu semakin larut, nafas kehidupan seperti telah berhenti, jiwanya memberontak.
Bukan! Bukan karena ia tak bisa menerima kenyataan itu. Bahkan ia mampu merasakan seandainya ia berada pada keadaan seperti Latifah. Asep berbaring. Matanya menatap langit-langit kamar. Udara terasa pengap malam ini, lebih pengap dari suasana hatinya. Tak pernah selama ini ia mendapat senyum semanis senyum Latifah tadi, dan itu membuatnya hendak berlari saja menuju ke rumah Latifah.
Asep terperanjat.
“Iya, aku harus ke sana!” batinnya berseru. “Meski ia telah menolakku, aku ingin sekali mendengar penolakannya lagi.”
Asep menelan ludah. Didapatinya waktu telah bergerak ke angka setengah sebelas malam. Jiwa Asep menyuruhnya untuk bangkit, melepas sarungnya, memakai celana panjangnya, melangkah pelan, membuka pintu, meraih jaket di dinding ruang tengah, lalu membuka pintu rumahnya pelan-pelan.
Asep keluar.
Dan, sejenak ia ragu.
Ia bimbang.
Ia hendak menyalakan motornya, tetapi ia takut itu akan membuat ibunya terbangun. Akhirnya Asep memutuskan untuk berjalan kaki saja. Berjalan kaki ke rumah Latifah.
***
Kegelisahan yang sama menghantui Latifah. Meskipun sedari tadi berusaha untuk memejamkan mata, tetapi mata ini tak bisa terpejam-pejam juga. “Adakah aku telah melukai perasaannya?” Hatinya bertanya.
Kang Asep, maafkan Latifah...
Iya, aku tak jujur padamu, Kang. Tak jujur. Tetapi, aku takut kejujuranku akan menambah luka hatimu. Kukatakan padamu bahwa aku memang tak memikirkan diriku sendiri. Nenek benar tentang hal itu. Yang kupikirkan hanya Shofi, juga nenek. Nenek sudah tua dan tak mungkin bisa bekerja. Shofi harus sekolah. Hanya aku, Kang. Hanya aku yang bisa menghidupi diriku sendiri, juga nenek, juga Shofi, juga sekolah Shofi. Aku tak ingin dan tak mau memberati siapa pun lelaki yang menjadi suamiku, karena memang ia hanya akan menikahiku dan mengambil hidupku.
Aku tak bisa membaca hati siapa pun, terlebih laki-laki dan keluarganya sendainya aku mengajak nenek dan Shofi ke dalam hidupku nanti. Bagaimana jika lelaki itu nanti mengajakku sendirian, hidup berumah tangga dengannya, dan aku harus meninggalkan Shofi dan nenekku? Siapa yang akan menanggung hidup mereka? Jika Shofi dan nenek diijinkan untuk tinggal bersama, atau suamiku mau tinggal di rumah ini, apakah dia mengijinkanku untuk bekerja? Dan sekiranya aku tak bekerja, suamiku mau menanggung hidupku, Shofi, dan nenek, apakah itu baik bagi masa depan kita?
Ya, Allah.....
Latifah beringsut bangun dari pembaringannya. Gelap memang telah menyelimuti kamarnya, tetapi air matanya jatuh membasahi pipi. Ia merasa tidak hanya telah melukai hati Asep, tetapi ia juga terjerembab ke dalam bayangan yang amat buruk seandainya ia memilih untuk menikah.
“Satu hal lagi, Kang,” lirih hatinya berucap, “aku tak mungkin mengatakannya langsung di hadapanmu, bahwa aku menolakmu karena aku merasa tak ada cinta di hatiku kepadamu.”
Inilah nasihat ayahku, kang. Petuahnya. Bahkan, wasiatnya. Aku tak mungkin bercerita tentang surat yang ditulis ayah kepadamu, sebab surat itu memang ditujukan hanya kepadaku. Kau ingin tahu, apa isinya? Bahkan aku telah hafal bertahun-tahun yang lalu:
Dasar rumah tangga adalah cinta, dindingnya kasih, dan atapnya adalah hati yang selalu merindu. Maka jadilah ia suatu bangunan yang utuh, kokoh, dan kuat. Ia akan menjadi laksana bahtera yang tahan terhadap serangan badai. Atau seperti pohon dengan akar yang kuat dan batangnya menjulang tinggi. Dzikir kepada Allah menjadi pupuk yang menghidupi akar, menjadi air yang menyuburkan batang dan daun-daunnya.
Aku tak punya dasar itu, Kang, kepadamu. Tentangmu. Perasaan suka yang terbenam di dasar hatiku kepadamu adalah seperti perasaanku pada semua orang. Bila ku anggap kau seperti kakakku, karena itulah derajat tertinggi dari rasa suka itu.
Bukan sebagai seorang kekasih. Tak ada denyut nadi yang kurasakan tentang cinta seorang gadis kepada seorang pemuda. Tak ada, Kang. Tak juga ada kurasakan hal yang sama terhadap lelaki lain; Baskoro, Anton, Andi, atau teman lelakiku di pabrik sana.
Maka jika dasar itu tak punya, bagaimana aku akan membangun kehidupan rumah tangga? Ayah dan ibuku adalah teladan bagi hidupku, Kang. Mereka mengajariku cinta, dan dengan mata hatiku aku melihat kasih antar keduanya. Tahukah engkau, selama hidupku, selama ayah dan ibu masih hidup, tak sekalipun aku mendengar mereka bertengkar? Bukankah cinta membuat hati menjadi lembut, dan pertengkaran tak akan menjadi warnanya?
Itulah rahasiaku, kang. Rahasia mana yang tak akan kukatakan kepadamu. Aku tak ingin menambah luka di hatimu. Maafkan aku. Aku berdoa kepada Allah semoga engkau akan mendapatkan cinta sejatimu...”
***
Asep mengendap-endap laksana pencuri. Iya, Latifah telah lama mencuri hatinya. Semakin dekat jarak rumah Latifah, semakin berat langkah kakinya. Seperti melayang. Seperti mengambang. Perasaannya yang menggebu-gebu hendak melihat Latifah, membuatnya tiba-tiba disergap malu. Ketika ia sampai di depan pintu rumah Latifah, tangannya tak kuasa untuk mengetuk pintu rumah itu.
“Ifah—aku mencintaimu,” bibirnya bergumam.
Dan Asep memutar badan.
Melangkah pelan. Membungkuk.
Asep tak menyadari bahwa dari ruang tamu yang telah gelap itu, Latifah tercekat menyadari kedatangannya. Jiwa Latifah melayang. Mengambang. Terombang-ambing antara hendak membukakan pintu atau berlari ke dalam kamarnya kembali.
“Maafkan aku, Kang,” bibirnya bergumam.
“Iya, aku tahu, aku tahu,” bibir Asep pun bergumam seraya menunduk dalam jalannya itu.
“Kelak, akan datang dalam hidupmu gadis yang mencintaimu, Kang.”
“Tidak, Ifah. Yang kutahui tentang cinta ialah ia hanya satu, tak berbagi, tak berbilang. Dan cinta itu bernama engkau, Fah. Engkau telah memutuskan. Maka begitulah aku pun memutuskannya. Langit malam ini menjadi saksi bahwa Asep tak akan menikah selama hidupnya...”
***