Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Sean Sang Penolong

📅 03 July 2026 📚 Perempuan yang Lupa Mencintai ⏱️ 10 menit baca 📑 Bab 7

Sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan jatuh juga. Sepintar-pintarnya menyimpang bangkai, baunya akan tercium pula. Begitulah yang dialami Asep yang telah berusaha untuk menyimpan rahasia penolakan Latifah kepadanya. Berawal dari Rudi, remaja “kecil” seumuran Shofi, yang dulu menyarankannya untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Latifah, akhirnya Rudi pun bertanya hasil dari ungkapan perasaan itu. Dan sesungguhnya, tanpa harus mendengar cerita Asep, Rudi sudah bisa menyimpulkan bahwa Asep telah ditolah oleh Latifah.
Asep meminta Rudi untuk tak bercerita kepada siapa pun, tetapi Rudi adalah pemilik lidah yang panjang. Rudi bercerita pada Anton. Anton bercerita pada Andi. Andi bercerita pada Baskoro si penjual Seblak. Maka, tak perlu waktu lama, kini terkenalah Asep sebagai “si bujang lapuk”. Sudah-lah lapuk, masih juga ditolak cintanya oleh Latifah. Asep menjadi bahan candaan. Bahan tertawaan. Namun Asep tak merasa sakit. Asep tidak sakit.
Namun kabar tetaplah kabar dan ia mudah sekali untuk menyebar. Telinga Latifah mendengar semuanya. Hari demi hari membuat Latifah merasa bersalah. Ia tidak ingin menyakiti hati siapa pun, tetapi kabar itu membuat jiwa Latifah sedikit goncang.
Goncang...
Dan, juga, bimbang.
Di tempat kerjanya, pikiran Latifah menjadi tak menentu, tak karuan. Ingatannya selalu terjadi pada keadaan rumah, juga pada para pemuda yang juga menggunjingnya. Sudah berkali-kali Latifah kena damprat atasannya oleh sebab kesalahan-kesalahan kerja yang dibuatnya.
“Lebih baik kau cuti daripada merusak semuanya,” seru Pak Prabowo.
“Maafkan saya, Pak,” Latifah menelan ludah.
“Kalau kau seperti ini terus, pabrik ini bisa bangkrut!” Pak Prabowo terlalu berlebihan dengan ucapannya itu, tetapi justru semakin membuat Latifah kalut.
Dan kekalutan demi kekalutan itulah yang tengah dialami oleh Latifah.
Sore itu, Latifah keluar dari lingkungan pabrik dengan mata sembab. Orang yang melihatnya akan mudah mengerti bahwa ia baru saja menangis. Baru saja tumpah air matanya. Ia menangis karena ia mendapatkan ancaman dari atasannya. Katanya, kalau tak becus bekerja, lebih baik baginya untuk keluar saja.
Keluar kerja sama artinya dengan membunuh hidupnya. Membunuh hidup neneknya. Pun membunuh hidup Shofi. Pekerjaan ini amatlah penting tak hanya bagi hidupnya saja.
Latifah menunduk. Ia naik angkot dengan wajah sebagian yang ia tutupi dengan ujung jilbabnya. Langit barat merah merekah, bola matahari sebentar lagi akan tenggelam di sana. Tetapi angkot tak juga berjalan. Angkot masih menunggu penumpang.
***

Menenteng plastik berukuran besar dengan tas tercangklong di pundak kanannya, Latifah melangkahkan kakinya pelan menuju arah utara, di depan Gor Patriot Candrabaga. Ia cukup jauh berjalan menunggu angkot yang ke arah Kranji tak juga lewat. Mobil dan motor hilir mudik di sampingnya, nyaris tak ada satu orang pun berjalan kaki sepertinya. Matahari telah tenggelam di langit barat, sedang ia belum sampai di rumah. Maghrib telah lewat, sedang ia belum melaksanakan kewajiban sholat. Hari ini, selama seharian, sungguh amat berat dilaluinya, sedang malam mulai membungkus dan peluh keringatnya telah membanjir di wajah dan tengkuknya.
Dari arah belakang, pengendara motor melajukan motornya pelan. Ia berboncengan. Wajahnya tak jelas sebab tertutup rapat oleh helm warna gelap. Lelaki yang memboncengnya itu sedari tadi menoleh ke kanan kiri, memperhatikan suasana. Begitu didapatinya suasana yang mendukung, si pengendara motor melajukan motornya cepat.
Lalu, tanpa diduga, tanpa banyak bicara, sang pembonceng menyambar tas Latifah yang menggantung di pinggang.
Latifah terperanjat.
Motor berhenti.
Sang penjambret berusaha terus menarik tas itu.
Latifah mempertahankannya.
Kondisi lengang.
Lelaki itu turun, lalu memukul kepala Latifah.
Latifah menjerit, “Tolong...tolong...!”
Tak ada yang menolong.
Lelaki itu segera melompat ke atas motor, dan secepat kilat motor itu pergi.
“Ya, Allah. Ya Allah...!”
Tas plastik belanjaan Latifah berserak begitu saja, sementara Latifah terus berteriak. Menoleh kanan kiri. Panik. Kepalanya sakit. Darah segar mengucur dari keningngnya. Latifah tak sanggup untuk mengejar pengendara motor itu, alih-alih ia terjatuh. Tertunduk. Meratapi apa yang baru saja terjadi.
Terbayang jelas penderitaan di matanya yang basah. Tas berwarna hitam yang telah dijambret itu berisi segalanya. KTP, sejumlah uang, kartu kerja, ATM, dan lain-lain. Sekarang sirna. Dijambret.
Latifah tersedu-sedu. Terpelanting jiwanya di atas trotoar itu...
***

Sedan warna gelap itu berjalan pelan.
“Ada apa dengan wanita itu,” Sean, sang lelaki di balik setir, berkata pada Wulan yang duduk di sampingnya.
“Entahlah, bang,” jawab Wulan.
Sean menelan ludah.
Wulan pun memperhatikan Latifah dengan seksama.
“Berhenti dulu aja, bang,” pinta Wulan. “Kasihan...”
Sean menghentikan mobilnya, beberapa meter di samping kiri Latifah. Muda-mudi ini lalu turun dari dalam mobil. Dilihat dari penampilannya, keduanya seperti pasangan yang sedang dilanda asmara, berpakaian bersih dan rapi. Keduanya berjalan ke arah Latifah yang diam menunduk. Latifah tak menyadari sedang didekati keduanya.
“Mbak....,” Wulan menyapa, berdiri sejarak sejengkal di samping kiri Latifah.
Latifah mendongak, menoleh, memperhatikannya. Wulan lalu bertanya, “Mbak kenapa...?”
“Dijambret barusan, mbak,” Latifah mengusap air matanya.
“Kening mbak berdarah?” Sean berkata.
Latifah coba untuk tersenyum, berusaha sekuat hati menguatkan hatinya.
“Kita bawa ke klinik terdekat aja, bang,” saran Wulan pada Sean.
“Iya, mbak. Ayo.”
Latifah ragu. Ia menggeleng.
“Nggak apa-apa, mbak. Mari kami antar,” Sean berkata.
“Iya, mbak. Ehm, atau—mbak tinggal di mana? Kita antar pulang?”
“Di Kranji, mbak,” jawab Latifah. “Tas saya dijambret. Semua dokumen dalam tas itu. Uang saya juga..”
“Kami mau pulang ke Jakarta. Mbak mari kita antar. Jangan menolak!” Sean meminta.
Mau tak mau, bagaimanapun juga, Latifah tak bisa menolak. Pertama, tak mungkin ia akan jalan kaki dari sini ke Kranji—itu jauh, teramat jauh. Kedua, ia tak pegang uang sama sekali.
Latifah bangkit. Wulan ikut membantu. Dirasakan Wulan tangan Latifah dingin, teramat dingin. Gadis itu berkata pada Sean, “Sebaiknya kita bahwa ke klinik dulu, bang. Mbak...siapa namanya?”
“Ifah,” jawab Latifah, “Latifah nama saya.”
“Oke, mbak Ifah. Saya bantu bawaannya,” ucap Sean sembari mengambil plastik belanjaan Latifah. Mereka lantas berjalan menuju mobil.
***

Dari kaca spion, berkali-kali Sean memperhatikan Latifah yang duduk di jok belakang. Latifah telah bercerita pada para penolongnya itu tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Tentang pekerjaannya. Tentang keadaan buruk yang dialaminya sepanjang hari. Juga tentang pentingnya tas yang dijambret itu.
Bergantian, Wulan dan Sean memberi saran pada Latifah, terutama untuk menyelamatkan barang-barang berharga yang dijambret. Atas saran keduanya, Latifah telah menghubungi pihak bank via telepon genggamnya—ia masih bersyukur hp itu ada di saku bajunya—untuk memblokir ATM.
“Jadi Mbak Ifah ini tinggal sama nenek dan adik mbak aja?” Wulan bertanya.
“Iya, mbak...”
“Shofi kelas berapa?”
“Kelas tiga. Sebentar lagi lulus, mbak.”
Lalu kepada Sean, “Itu klinik. Kita ke sana dulu, bang.”
Sean berbelok ke kiri. Latifah merasakan keningnya sakit sekali. Darah masih keluar dari lukanya.
***

Latifah telah mendapatkan perawatan. Keningnya diperban. Rasa lelah itu begitu kuat menyelimuti jiwanya. Sean sedari tadi memperhatikan betapa pucat wajahnya. Didorong rasa kasihan, juga kutukan terhadap dua penjambret itu, Sean mengantar Latifah hingga sampai di Kranji, berputar melewati bawah flyover, menyusuri jalan di pinggir rel kereta api.
Mobil melaju pelan, sedang isyak telah lama berlalu.
“Sampai di sini saja, mas,” ucap Latifah terbata. “Mobil nggak bisa sampai depan rumah saya...”
Sean memarkirkan mobil di tanah yang sedikit lapang, di jalan depan rumah Hajah Sarmila. Wulan dan Sean meminta untuk mengantarkan Latifah hingga sampai di rumah. Lagi-lagi, Latifah tak kuasa menolak. Ya, dia tak mungkin menolak kebaikan hati kedua penolongnya itu.
Mereka pun berjalan ke rumah Latifah. Melewati gang satu, berputar ke kanan, lalu masuk gang dua. Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Latifah.
“Ini rumah saya,” ucap Latifah. Lalu ia menawari keduanya untuk masuk.
Sean dan Latifah menolak halus.
“Terimakasih, mbak Ifah,” ucap Sean. “Yang terpenting mbak udah sampai.”
“Iya, mbak,” imbuh Wulan. “Lain kali hati-hati ya?”
“Terimakasih,” jawab Latifah, pendek.
“Assalamu’alaikum,” ucap Sean.
“Wa’alaikumsalam,” balas Latifah.
***

“Kakak kenapa? Kak Ifah ada apa? Kenapa kening kakak dibalut perban begini? Ceritalah, kakak...,” Shofi cemas. Sangatlah cemas. Bidadari berambut sebahu itu matanya sembab. Sang kakak tak juga menjawab pertanyaannya, kecuali sesungging senyum yang tampak ia paksakan.
“Nggak apa-apa, dek,” Latifah menjawab. “Tadi kena besi di pabrik.”
Latifah berbohong.
“Terus, tadi itu siapa?”
Lagi-lagi Latifah berbohong, “Oh, mereka. Teman kerja kakak, kok.”
“Kok tumben diantar?” Shofi memburu.
“Kan tahu sendiri,” jawab Latifah, “kakak baru pulang. Biasanya kan sore. Iya kan?”
Shofi terdiam.
“Sudah, bawa belanjaan ke belakang. Nenek udah tidur?”
“Tadi nungguin kakak,” jawab Shofi. “Sekarang udah tidur.”
“Ya sudah, kakak bersih-bersih dulu...”
“Tapi kak Ifah nggak kenapa-kenapa kan? Itu kening kakak...”
“Nggak apa-apa. Nanti juga sembuh...”
Shofi lalu membawa tas belanjaan itu ke belakang. Beberapa langkah ia meninggalkan Latifah, Shofi berhenti. Ia menoleh ke arah kakaknya lagi, lalu bertanya, “Tas kakak dimana?”
Latifah tercekat. Secepat kilat ia berbohong lagi, “Kakak tinggal di pabrik. Udah sana, beresin barang-barangnya.”
Shofi mengangguk-angguk. Setengah percaya. Menggeleng-geleng.
***

Luka di keningnya itu kini teramat pedih ia rasakan. Bukan karena sakitnya yang muncul oleh sebab tinju dan sabetan pisau dari penjambret tadi, melainkan rasa sakit itu kian bertambah karena beratnya hari yang telah ia lalui.
Latifah terpaksa membohongi Shofi agar sang adik tak merasa cemas dengan apa yang baru saja menimpanya. Bila Shofi cemas, bila Shofi khawatir, itu akan bisa berdampak buruk baginya. Latifah tahu bagaimana jiwa adiknya itu. Di balik riang dan murah senyumnya itu, di balik sifatnya yang seperti laki-laki, Shofi memiliki hati yang mudah tersentuh. Latifah tak ingin mengajak sang adik ke dalam lingkaran kesedihan yang dialaminya. Karena itu, ia memilih berbohong kepadanya. Nenek pun akan dibohonginya, besok, besok, dan besok, bila sang nenek bertanya. Latifah memilih ingin menanggung nasibnya sendiri.
Tetapi sekuat apakah hati yang seperti kayu yang mudah lapuk? Latifah bisa menyimpan air matanya di hadapan Shofi, tetapi air mata itu tumpah ruah dalam kesendiriannya di malam ini. Di kamarnya. Di atas pembaringannya.
Jiwanya rapuh malam ini. Ia merasa seperti terjepit pada jeruji besi, tak mampu melepaskannya sedangkan ia ingin bisa terlepas darinya namun justru makin terjepit karenanya. Atau ia merasa seperti burung yang ada dalam sangkar, terbang berputar-putar berkisar-kisar demi terlepas dari sangkar itu, namun justru lelah yang didapatinya.
Lelah sudah Latifah. Bayang-bayang buruk menjelajahi jiwanya kembali. Ah, andai saja ayah dan ibuku masih hidup, begitu hatinya memekik kembali. Andai saja ayah dan ibu masih ada, tentu ia tak harus bersusah payah bekerja membanting tulang seperti ini. Mungkin saja ia sudah menikah, hidup bahagia dengan suami, memiliki bayi yang amat lucu, hiburan bagi pandangan matanya, belahan bagi jiwanya.
Andai mereka masih ada, tentu ia tak akan mengalami kejadian yang hampir saja merenggut jiwanya.
Pisau itu....
Latifah tercekat kembali. Lelaki berhelm penjambret itu mengancamnya dengan sebilah pisau. Bagaimana seandainya tadi tak hanya keningnya yang dilukai? Tetapi perutnya yang ditusuk? Bagaiman seandainya jiwanya melayang? Gimana nasib nenek dan adik?
Mereka dihidupi siapa?
O, Tuhan..
Allahi Rabbi.
Lalu tentang barang-barang berharga yang ikut terjambret itu. Uang. Di dalamnya ada sejumlah uang. Bagi orang kaya, jumlahnya pasti tidak seberapa. Tetapi uang itu adalah uang belanjaan untuk menghidupi dirinya, nenek, dan adiknya—sisa dari gajinya yang masih ada. Lalu, KTP, kartu kerja, ya Rabi....
Latifah mengusap air matanya yang membanjir di pipi. Makin diusap, makin berat rasa yang menimpuk bahu jiwanya. Latifah bangkit perlahan dari pembaringan. Tubuhnya gemetaran. Dengan langkah terhuyung, ia buka pintu kamarnya pelan-pelan. Ia ke dapur untuk berwudlu, dan setelah sekian menit berlalu, ia kembali dengan wajah yang masih berbercak air itu. Wajah itu tampak sedikit pucat.
Latifah mengambil sajadah di atas tumpukan baju, menggelarnya, memakai mukenanya, lalu larut dalam sholat malam, merebahkan diri di kebesaran-Nya. Punggungnya berguncang menahan luapan jiwanya. Air matanya deras mengucur hingga ia menengadahkan kedua tangannya, merintihkan keadaan jiwanya:

Ilahi, bagaimana aku meminta kepada-Mu sedangkan aku adalah aku? Tetapi bagaimana aku akan memutuskan harapanku kepada-Mu sedangkan Engkau adalah Engkau?
Kuasa-Mu meliputi segala sesuatu. Keadilan-Mu melingkupi segala sesuatu. Kasih sayang-Mu mengalir ke segala sesuatu. Ke-Maha-an-Mu menyentuh segala sesuatu.
Dengan kemuliaan utusan-Mu dan keluarganya, aku memohon pada-Mu, Ya Rabbi. Kuatkanlah hatiku untuk menanggung cobaan yang Engkau beri. Kekuatkanlah hati orang-orang yang aku cintai. Selamatkan kami. Ridloi kami....
***

← Kembali ke Daftar Bab