Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Mata Cinta

📅 03 July 2026 📚 Perempuan yang Lupa Mencintai ⏱️ 9 menit baca 📑 Bab 8

Demi waktu, begitulah Dia Yang Mahacinta bersumpah. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian nyata, kecuali ia yang beriman dan mengerjakan kebajikan dalam hidupnya. Mengalir bersama waktu suka dan duka, tangis dan tawa, sengsara dan bahagia.
Malam itu, Latifah terbanting. Tuhan mengasihinya dalam bentuk lain. Ia yang selama ini seperti tak pernah sakit, selalu segar bugar, kini sakit menjamahnya. Guncangan kecil di rumah nan sederhana itu, seperti luput dari perhatian para tetangga. Waktu seperti mengunci semua orang untuk bisa memperhatikan apa yang tengah dialaminya. Maka bersama alirannya, biarlah ia beristirahat untuk sekian lamanya.
Sementara itu, mata cinta mulai terbuka dari rumah besar nan megah di bilangan Simprug, Jakarta. Sean, pemuda baik, sang penolong Latifah, tiba-tiba merasa jiwanya terseret ke wajah gadis yang ditolongnya itu.
“Ada apa denganku?” hatinya gelisah.
Sejenak ia ingat perjalanan pulangnya malam itu. Wulan, sang teman, tak biasanya mengajak untuk mampir sejenak ke pusat perbelanjaan di pusat kota Bekasi. Biasanya, ia pulang dari kantornya di Bekasi sore hari. Sebelum maghrib, ia sudah tiba di rumah ini. dan...perasaan aneh ini bermula dari sini.
Kondisi jalan raya Bekasi-Pulo Gadung yang melintasi depan Stadion Patriot Candrabaga sediki lengang. Tapi Sean menjalankan mobilnya pelan. Ia lalu melihat seorang gadis yang wajah menunduk duduk di atas trotoar. Plastik berukuran besar berserak begitu tak jauh dari kakinya.
Seandainya Wulan pun tak meminta untuk menghentikan mobilnya, Sean pasti akan berhenti sendiri. Hatinya tergerak untuk mencari tahu kenapa gadis itu duduk seorang diri. Adakah ia sedang tertimpa musibah malam ini. Dan ternyata memang demikianlah adanya.
Latifah....
“Wajahmu,” Sean menelan ludah, “mengapa selalu tampak di pelupuk mata ini. Keningmu yang terluka dan berdarah itu. Ujung jilbabmu yang terkena bercak darah itu. Wajahmu yang sedikit pucat, dan getar suaramu seperti tengah memendam beban yang amat berat. Latifah, o, Latifah...”
Sean terjatuh dalam ingatan itu.
Tadi merupakan hari yang ke-5 Sean melintas di jalan yang sama.
“Ingat gadis itu, bang?” Wulan sudah dua kali bertanya.
“Latifah,” jawab Sean.
Dan Wulan berkata, “Iya, kasihan dia...”
“Iya, kasihan...”
“Kalau kartu kerjanya hilang, semua hilang, gimana dia bisa bekerja? Ada masalah nggak ya, bang?”
“Kau tertarik untuk mengetahuinya?” Sean bertanya.
“Kalau dengar ceritanya,” begitu Wulan menjawab, “sudah nggak punya bapak, nggak punya ibu, harus menghidupi nenek dan adiknya—apa abang gak merasa kasihan?”
Wulan menatap wajah Sean.
Sean membelas tatapan itu sejenak.
Sean tak menjawab.
Sewaktu membawa Latifah ke klinik malam itu, Sean dengan jelas bisa melihat wajah Latifah. Gadis itu, perawakannya wajar. Tak gemuk, pun tak kurus. Malah, menjurur kurus. Dibanding Wulan, tingginya sepadan. Wajah Wulan cantik, tetapi ia lincah dalam merawatnya, sedang gadis itu cantik pula, tetapi tampaknya penampilannya alakadarnya. Wajah Latifah tak banyak berpoles bedak. Alamiah. Hanya pucat yang menutupinya.
Latifah....
***

Di rumah besar dan megah ini, Sean tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia anak tunggal. Tentu saja akan menjadi pewaris dari kekayaan orang tuanya. Tetapi Sean bukanlah sejenis pemuda yang suka mengandalkan siapa-orangtua-nya. Ia pekerja keras. Ia tekun. Ia cakap. Ia membangun dan mengelola kantornya sendiri di Bekasi. Ia aktif dalam Lembaga Swadaya Masyarakat, mendampingi masyarakat pinggiran. Perasaannya mudah tercabik melihat warga yang hak-haknya dizalimi. Ia akrab dengan masyarakat kelas bawah, disukai anak-anak kecil, dan seringkali blusukan ke pinggir kali.
Sean sangat menyenangi kegiatannya, pekerjaannya, namun sudah beberapa bulan ini ia membuat hati kedua orang tuanya, terutama ibunya, selalu bertanya-tanya.
“Sampai kapan kau seperti ini terus, Sean?” ini terjadi seminggu lalu, mamanya bertanya.
“Maksud mama?” Sean bertanya, pura-pura.
“Kau jangan pura-pura...”
“Biar jelas, ma...”
“Apa masih tak jelas, Sean? Berapa umurmu?”
“Ah, mama. Jangan itu lagi-itu lagi.....”
“Tiga puluh enam, Sean!” potong sang mama.
“Apa kau pikir—kau masih muda? Masih remaja? Bebas berkeliaran? Tak memikirkan masa depan?”
“Iya, ma. Iya,” ucap Sean, “nanti kalau pekerjaanku sudah beres, aku turutin apa kata mama...”
“Siapa bilang menikah menghalangi pekerjaan, Sean?” mama bertanya, “kau mau melihat mamamu sakit-sakitan, baru kau berpikir menikah, gitu?”
“Menikah tak gampang, ma,” jawab Sean.
“Apa yang menghalangimu?”
“Ya sama siapa, ma?”
“Jelas-jelas kau tiap hari bersama gadis itu, kan? Kurang apa lagi?”
“Wulan maksud mama?”
“Siapa lagi? Kau mau cari gadis yang bagaimana lagi, Sean? Apa kau tak bisa? Baiklah, kalau memang begitu, sebaiknya kau segera nikahin Wulan. Mama setuju. Papamu lebih setuju lagi..”
“Ma...?”
“Apa?”
Sean menelan ludah. Diam sejenak, lalu berkata, “Bukannya aku tak ingin menikah, ma. Sean ingin. Tetapi belum ada yang aku mau, ma...”
“Wulan? Siapa lagi, Sean?”
“Wulan itu teman baikku, ma. Teman kerjaku. Iya, dia memang baik dan mama suka itu. Tapi apa aku suka dengannya? Ma, tolonglah.”
“Jadi kau tak mencintai Wulan?”
“Tak ada perasaan itu, ma...”
“Tetapi kau sadar kan Wulan mencintaimu?”
Dan Sean tak bisa menjawab.
Dan sang mama terus berkata, “Kau itu lugu, Sean, dan cinta itu amat sederhana. Keluguanmu lebih dari cukup hatimu akan segera jatuh cinta kepadanya...”
Sean tetap mengiyakan mamamnya, namun juga tak membantahnya. Wulan itu baik, gadis yang amat baik, itu ia akui sebenar-benarnya. Tetapi, kebaikan tidak serta-merta memunculkan rasa cinta, dan Sean tak merasakan hal itu dalam hatinya. Ia tak ingin lebih jauh berdebat dengan mamanya menyadari bahwa ia sendiri telah cukup usianya untuk memikirkan rumah tangga.
Di satu sisi, Wulan juga sadar diri. Sebagai seorang gadis, ia bukanlah kumbang yang hendak mengejar bunga sebab itu bukan takdirnya. Takdir bagi sang kumbang adalah mendekati bunganya, bukan sebaliknya. Sebagai bunga, Wulan menjaga perasaannya meskipun perasaan itu selalu bocor melalui sikap dan perhatiannya.
***

Siapa, di jaman ini, yang tak suka pada Sean? Ia pemuda baik. Hatinya baik. Perhatiannya pada rakyat kecil tak dibuat-buat. Ia tak sombong. Tak pernah menyombongkan kekayaan orang tuanya. Ia lembut. Sudah begitu, wajahnya, tentu saja, tampan. Ibarat cahaya, kediriannya sanggup membuat kunang-kunang mendekati karena cahayanya itu. Namun Sean belum merasakan keindahan itu.
Keindahan apa yang disebut sebagai cinta...
Suatu ketika, dulu, ia pernah jatuh cinta pada teman kuliahnya, namun perasaan itu tak bertahan lama seiring ia dan ia sama-sama selesai kuliah. Gadis Sumatera itu pulang ke rumahnya, dan Sean kembali kepada hatinya sendiri. Dan sejak saat itu, perasaan cinta selalu asing bagi hati dan jiwanya. Sean tak pernah jatuh cinta lagi.
Hingga malam itu....
***

Malam itu, dengan cara yang telah diatur Tuhan sedemikian rupa, Sean mulai merasa aneh dengan hatinya, dengan rasa yang ada di dalamnya.
Apakah nama perasaanku ini? Hatinya bertanya, bertanya, dan selalu bertanya.
Malam kedua, hati itu berkata, “Aku yakin, ini hanya perasaan sesaat saja. Latifah layak dikasihani.”
Iya, seperti yang dirasa Wulan juga—kasihan Latifah. Allah masih sayang pada gadis itu sehingga meski tasnya dijambret, nyawanya tetap selamat. Jambret kurang ajar. Tapi untung hanya jambret—bagaimana seandainya mereka begal? Kisah perempuan dibegal hingga nyawa melayang bukan omong kosong. Pernah terjadi. Bahkan tak jarang terjadi. Namun Allah masih menyayangi Latifah, meski tasnya melayang. Kasihan Latifah.
“Aku hanya mengasihaninya saja,” seru hati Sean di malam kedua. “Tak lebih.”
Akan tetapi, di malam ketiga, wajah Latifah kembali menari-nari di pelupuk matanya, di benaknya. Malam menjadi amat gelisah bagi jiwanya. Terbayang Sean cerita Latifah yang harus menghidupi nenak dan adiknya. Dia jadi tulang punggung tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun bagi dua orang yang amat ia cintai. Ayahnya telah meninggal. Ibunya juga meninggal. Dan cara meninggalnya itu...
“Ya, Allah,” mendadak Sean terpekik. “Tak jarang aku mendengar cerita kecelakaan. Tapi aku tak sanggup membayangkan ada sepasang suami istri yang sama-sama meninggal terseret kereta api. Dan aku kenal anaknya...”
Sean mendesah.
Hatinya semakin gelisah.
“Harushkah aku mengasihani gadis yang seperti dia?” malam ketiga, Sean diamuk pertanyaan ini. “Sepuluh tahun. Dia bilang telah sepuluh tahun ayah dan ibunya tiada. Dia ingin kuliah, dan pagi itu sang ayah telah menjanjikan kuliah untuknya. Dan pagi itu pula sang ayah diambil-Nya. Dia sadar tak akan bisa meraih mimpinya. Dia memilih bekerja. Dia merasa bertanggungjawab atas hidupnya dan hidup dua orang yang dicintainya. Sungguh kejam bagi hatiku bila hanya mengasihaninya saja. Dia tak pantas untuk dikasihani. Dia pantas untuk mendapatkan perasaan yang lebih terhormat dan mulia.”
“Dan apakah ini cinta...” akhirnya di malam keempat Sean bertanya pada hatinya sendiri, seiring wajah Latifah yang selalu muncul.
Di hari kelima senja hari, itulah saat mamanya memberondong hatinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar rumah tangga itu. Sang mama ingin Sean segera menikah. Agar rumah ini tak sepi, selalu sepi, terus saja sepi. Mama sepertinya sudah mengharap ada cucu di rumah ini. Mama memilihkan Wulan untuk Sean.
Malam harinya, Sean bermimpi, bukan mimpi Wulan, namun Latifah-lah yang hadir dalam mimpinya itu. Ia melihat Latifah berkerudung biru, membawa tas plastik berukuran besar dan tampak ia keberatan. Sean memandanginya dari jarak sekian.
Seorang pemotor membonceng laki-laki yang mengacung-acungkan pedang. Dalam sekian detik kemudian, motor itu melintas di depan Latifah seraya sang pembonceng mengibarkan pedangnya ke arah Latifah.
“Ifaah....!” Sean berteriak.
Tapi terlambat.
Pedang itu membabat lengan Latifah yang memegang plastik.
“Ifah...Ifah...!” Sean berlari memburu. Tapi tak bisa.
Sean terperanjat.
Terbangun dari tidurnya.
Keringat membasahi kening dan tengkuknya. Matanya basah. Bening air mata mengalir di pipinya. Mimpi itu seraya begitu nyata.
“Aku harus menemuinya,” setelah sadari, hatinya berucap. “Aku harus! Aku harus pergi ke wajahnya!”
***

Minggu pagi...
Sean telah berdandan rapi. Hatinya telah kukuh saat ini. Kukuh mengungkapkan dirinya di hadapan sang mama. Mama sedang duduk menonton siaran ceramah di layar kaca, dan Sean mendekatinya untuk mengajaknya bicara.
“Kau mau pergi?” sang mama bertanya.
“Iya, ma,” jawab Sean.
“Pergi ke mana? Sama Wulan?”
“Ke Bekasi, ma. Sendiri.”
“Kenapa nggak sama Wulan?”
“Bukan acara kantor, ma. Dan ini hari minggu...”
“Sekali-kali,” ucap sang mama, “ajaklah Wulan di waktu kantormu libur. Kau harus mulai belajar memahami hatimu, Sean...”
“Justru itu, ma...”
“Maksudmu?”
Dan Sean menjawab, “Mama ingin Sean segera menikah kan? Ke Kranji-lah Sean akan pergi hari ini, ma...”
“Mamamu ini tak jelas Sean,” sang mama tampak mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh putra tunggalnya itu. “Tolong perjelas apa maksudmu? Ehm, ada gadis yang telah membuatmu tertambat?”
“Iya, ma...”
“Bukan Wulan?”
“Bukan, ma.”
“Kenapa kau tak cerita?”
“Ini aku sedang menceritakannya, ma.”
“Cepatlah!” ujar sang mama, “dan segera bawa gadis itu kemari.”
***

← Kembali ke Daftar Bab