Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Sepasang Mata yang Curiga

📅 03 July 2026 📚 Perempuan yang Lupa Mencintai ⏱️ 10 menit baca 📑 Bab 9

Senyumnya mengembang. Seperti pagi yang cerah karena kecupan bibir matahari. Seperti malam yang terang karena lirikan mata rembulan. Meski ia tak yakin dengan ucapannya sendiri di hadapan sang mama, Sean merasa senang saat ini. Saat mobilnya meluncur keluar dari garasi rumahnya, saat satpam rumah hormat dan berseru agar ia berhati-hati di jalan.
Diliriknya jam yang melingkar di tangan kirinya itu, masih cukup pagi. Waktu menunjuk angka setengah sembilan kurang sedikit. Dari sini ke Kranji tak butuh waktu yang lama, tak perlu lewat jalur tol, tak melawan arus. Hatinya mengajaknya agar mempercepat laju mobilnya. Sean pun melajukan mobil lebih kencang, meliuk-liuk di antara kendaraan yang lain.
Sementara itu, di rumah nan sederhana itu, rumah dimana Sean hendak menuju ke sana, mendung seakan tak mau beranjak pergi dari sana, meski mentari di luar bersinar seperti biasa, debu-debu kemarau mengepul-ngepul, dan jerit suara kereta nyaring terdengar. Shofi duduk di sisi pembaringan sang kakak.
“Minum dulu obatnya, kak,” ujarnya.
Wajah Shofi sendu, sangat sendu, sendu sekali.
Latifah bangkit perlahan dari pembaringan. Wajahnya masih tampak pucat, pucat sekali. Tangannya gemetaran meraih gelas yang disodorkan sang adik. Pelan ia menelan pil-pil itu, lalu mendorongnya dengan air putih dari dalam gelas itu.
Shofi memperhatikan kakaknya dengan tatapan sendu.
Hati Shofi teriris-iris.
Sudah lima hari sang kakak tergelatak di atas pembaringan. Perban di keningnya itu sudah tak ada, memang, tapi bekas lukanya masih tampak menganga. Latifah tak bisa berangkat kerja, dan bisa jadi ini akan menjadi awal yang buruk baginya.
“Kak Ifah harus segera sembuh,” ucap Shofi.
Latifah coba untuk tersenyum. Meski hatinya sendiri terasa amat pedih.
Dari arah pintu, terdengar ada orang yang mengetuk-ketuk pintu. Mengucapkan salam, “Assalamu-alaikum...”
Shofi menjawab salam. “Sepertinya Kang Asep!”
Shofi beranjak dari bibir pembaringan. Ia melangkah keluar, mendapati nenek yang sedang duduk di ruang tengah dengan jemari yang terus memutar-mutar biji tasbih. Nek Janah, nenek berwajah teduh itu, tak henti-hentinya memohon kepada Sang Penguasa langit agar memberi kesembuhan pada cucunya yang terkasih. Kalau orang mau tahu, tak ada hari yang dilewati sang nenek kecuali ia selalu menjalankan puasa dawud. Itu sudah kebiasaan dari dulu. Dan hari ini nenek berpuasa.
“Ada kang Asep, nek,” ujar Shofi lirih.
Sang nenek mengangguk pelan.
Shofi membukakan pintu. Dan benar saja, Kang Aseplah yang bertamu.
“Ini aku bawakan buah-buahan, Fi!” ucap Asep seraya menyodorkan bungkusan plastik pada Shofi.
“Kang beli ini?” Shofi bertanya.
“Moga Latifah segera sembuh ya?”
“Kang nggak masuk dulu?”
“Nggak, dek. Nanti saja aku ke sini. Mau narik dulu...”
“Iya, Kang. Makasih buahnya.”
Asep mengangguk.
Asep memutar badan.
Asep menghidupkan motornya.
Asep kembali ke pangkalan ojek.
***

Asep memarkirkan motornya di warung kopi dekat rumah Bu Hajah Sarmila. Warung kecil ini, pun sesungguhnya punya Bu Hajah itu. Hanya saja, kebaikan hatinya membuat Mak Nah-lah yang mengelola warungnya. Di kawasan sini, tukang ojek pangkalan seringkali memilih warung ini untuk menyeruput secangkir kopi. Tak terkecuali Asep itu sendiri.
Pagi menjelang siang ini, warung tampak sepi. Mang Dadang baru saja keluar warung, dan kembali pada becaknya. Rudi, di hari minggu seperti ini, biasanya nongol tapi ia sedari tadi tak juga tampak batang hidungnya. Asep masuk, memesan kopi pada Mak Nah, lalu tergerus hatinya memikirkan Latifah!
Dia teringat ucapan pada emaknya dua hari yang lalu, “Jangan sampai kau buat salah paham dengan sikapmu, Sep! Maafkan emakmu ini, selama ini selalu berburuk sangka padanya.”
Asep mengangguk.
“Semoga Allah segera mengangkat sakitnya,” ucap sang emak lagi.
Dan asep mengangguk lagi.
Tak perlulah untuk menyebut cinta di hatinya lagi pada Latifah itu—semua juga sudah tahu. Tak perlu pula untuk dijelaskan lagi bahwa Latifah sudah menolak cintanya—semua juga sudah tahu.
Tetapi soal Latifah sakit itulah yang telah merenggut siang dan malam Asep untuk selalu memikirkannya. Asep, sungguh, tak tahu apakah ada orang lain yang memiliki pikiran seperti apa yang tengah menggelisahkannya. Tentang Latifah.
Tentang Shofi.
Tentan Nek Janah....
Hampir seminggu Latifah tergolek sakit. Awal mulanya—menurut cerita Shofi—Latifah mengalami kecelakaan kerja. Mendadak air mata hendak keluar dari sudut mata Asep, tetapi ia mencegah sekuatnya. Ia tahu, hatinya tahu, Latifah telah membohongi adiknya. Asep sudah tahu dari bibir Latifah sendiri tentang peristiwa penjambretan itu.
Asep mengangguk-angguk. Ujar batinnya, “Iya, Ifah harus berbohong supaya adik dan neneknya tak cemas.” Meski Asep hanya lulusan SMA, tetapi hati menuntunnya tentang kegelisahan yang dirasakannya apabila ia ada di posisi seperti Latifah saat ini.
Latifah tak bisa kerja.
Dan, bisa jadi, gara-gara sakitnya itu, Latifah bisa dipecat dari pekerjaannya. Dan bila ia dipecat dari pekerjaannya—siapa yang akan menghidupinya, Shofi, dan neneknya?
Itulah.
Maka, demikianlah.
Iya, seseorang yang sempat melihat Asep berkali-kali datang ke rumah Latifah bisa jadi salah paham dan salah menafsirkan bahwa ia masih mengejar-ngejar Latifah. Ia masih merindui Latifah. Ia masih berusaha menanamkan cintanya di ladang hati Latifah.
Orang itu salah. Mereka salah. Hati kecilnya memang tak bisa membuang rasa cinta itu, bahkan mungkin tak akan pernah dibuangnya seumur hidup. Hati besarnyalah yang menuntun Asep untuk memperhatikan keadaan orang yang amat dikasihinya itu. Ia, sungguh, memikirkan hal yang tak dipikirkan oleh orang lain bahkan bila orang lain itu para tetangga dekat Latifah sendiri.
“Ngelamun aja, tong!” seru Mak Nah tiba-tiba. “Itu diminum kopinya...”
Asep terperanjat. Mendesah ia. “Iya, mak,” jawabnya.
“Siang udah melamun aja kamu ini. Gimana, udah dapat tarikan berapa?”
“Baru dua, mak..”
“Nah, lumayan tuch...”
“Iya, alhamdulillah...”
“Jadi kapan kau kawin, tong?” Mak Nah tiba-tiba bertanya.
Asep tersenyum. Sedikit kecut tampaknya. “Mak Nah ini, siang baru datang aja sudah tanya kapan saya kawin...”
“Biar ada yang ngurus kamu itu, tong...”
“Hehehe...” Asep menyeruput kopinya kembali.
***

Dari arah kanan, sedan berwarna hitam pekat itu meluncur pelan. Sean, sang pengemudi, sedikit bingung. Sedari tadi dia sudah bertanya-tanya di dalam hati, “Tampaknya ini tak salah? Aku gak salah kan?”
Yang ia ingat hanya tanah yang sedikit lua—semacam pekarang—untuk bisa parkir mobil. Dan ia melihat tanah lapang itu, pekarangan sedikit luas itu. “Kayaknya di sini dech malam itu aku parkir,” ujar hatinya. Ia melihat rumah Bu Hajah Karmila, lalu mengangguk-angguk. Tak salah lagi, di sinilah parkirku malam itu.
Sean memakirkan mobilnya. Ia mengeluarkan parfum dari dashboard, lalu menyemprot ketiaknya dengan parfum itu. Sejenak, ia melihat wajahnya sendiri di cermin, menyisir rambutnya dengan jemari-jemari tangan kirinya...dan, mendesah.
“Rumahnya dimana ya?” Sean lupa! Lupa rumah Latifah.
Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya pelan-pelan. Ia menelan ludah. Ia pun membuka pintu, lalu keluar dari mobilnya.
Ia melangkah pelan menuju warung kopi Mak Nah.
Dan Asep sedari tadi memperhatikannya. Sepasang bola matanya menatap curiga pada pemuda asing bermobil bagus itu.
“Ehm, maaf bang,” sapa Sean ramah pada Asep. “Mengganggu...saya pengin tanya.”
“Iya, bang,” jawab Asep, tak kalah ramah. “Nanya apa?”
“Ehm...,” Sean sedikit ragu, tetapi segera lawan keraguan itu, dan berkata, “Rumah...rumah Latifah dimana ya?”
“Latifah...” Asep tak percaya.
“Yang lagi sakit itu ya, bang?” Mak Nah menimbrung dengan pertanyaannya.
“Sa..sakit...?” Sean tak percaya.
“Latifah cucu Nek Janah maksud abang?” Asep bertanya, “kakaknya Shofi?”
“Iya, betul bang!” raut wajah Sean berubah cerah.
Sejenak, Asep menatap wajah Sean. Menelan ludah.
“Oh iya, benar itu,” Mak Nah yang berkata ini, “anak itu sedang sakit, bang. Ada apa mencari Ifah?”
Pertanyaan Mak Nah membuat Sean bingung untuk menjawabnya.
“Iya, dia sakit,” Asep yang berkata seraya berdiri dari tempat duduknya itu, “Mak, saya antar dulu abang ini ya?”
“Iya, sono, antar!” seru Mak Nah
“Bayar ntar saja ya, mak?”
“Biasanya juga gitu kamu, tong.”
Asep nyengir.
“Ayo, bang, saya tahu rumahnya. Naik motor saya aja. Gratis, bang. Gak usah bayar.”
“Terimakasih, bang,” jawab Sean.
***

“Assalamu’alikum...! assalamu’alaikum!” dua kali Asep ucapkan salam. Menunggu sejenak. Sean berdiri di sampingnya.
“Wa’laikumsalam,” Shofi yang menjawab.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Shofi muncul.
“Kang Asep lagi?” Shofi berkata.
“Hehe, iya,” jawab Asep, “aku mengantar abang ini.”
“Ooh,” Shofi memperhatikan pemuda yang datang bersama Asep itu.
“Ini, Shofi kan?” langsung saja Sean bertanya.
“Loh, kok tahu?” Shofi terkejut.
“Dia mau bertemu Latifah, Fi. Dia tadi kebingungan mencari rumah ini, terus aku mengantarkannya ke sini.”
“O, gitu. Silahkan masuk,” ucap Shofi.
Sean melepas sepatunya.
“Kang Asep nggak ikut masuk?” Shofi bertanya.
“Nggak, Fi. Ntar-ntaran aja. Aku narik dulu,” jawab Asep. “Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Sean dan Shofi berbarengan.
Asep pergi.
Sean segera masuk, lalu duduk di ruang tamu.
Hati Asep bertanya-tanya.
Hati Shofi pun bertanya pula tentang pemuda yang duduk di hadapannya itu.
“Kak Ifah lagi sakit, bang...” ucap Shofi. “Abang ini siapa? Teman kerja Kakak?”
“Aku yang mengantar Latifah malam itu, dek,” jawab Sean.
“O, berarti teman kerja kakak. Sebentar, saya panggilin Kak Ifah.”
Sean mengangguk.
Shofi masuk ke dalam. Lalu, ke dalam kamar kakaknya. Lalu, didapatinya sang kakak tengah terlelap. Wajah Latifah masih tampak pucat. Shofi tak tega sebenarnya untuk membangunkan kakaknya itu, tetapi di depan ada tamu yang mencari kakaknya. Barangkali penting. Terlihat dari penampilan pemuda itu.
“Kakak...,” lirih Shofi menyapa kakaknya, sembari tangannya menyentuh tangan Latifah.
Latifah membuka matanya. Menoleh ke arah sang adik.
“Ada tamu, cari kakak,” ucap Shofi.
“Si..siapa?”
“Shofi nggak tahu. Kayaknya teman kerja kakak dech.”
Mendadak muncul kekuatan pada diri Latifah untuk bangkit. Ia menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang terasa amat kering. Ia meminta adiknya itu untuk mengambilkan jilbab birunya di atas meja. Shofi pun lalu mengambilkannya. Latifah lalu mengenakan jilbabnya.
“Kakak kuat berjalan?” Shofi bertanya.
“Iya, kuat. Tolong buatin minum untuknya.”
“Iya, kak.”
Latifah lalu melangkah pelan ke ruang tamu.
***

Mengetahui siapa tamunya itu, Latifah kaget. Tak menduga ia. Tak menyangka. Tak terlintas dalam benaknya ia akan dikunjungi oleh sang penolongnya malam itu.
“Ifah, apa kabar?” Sean tersenyum. Terenyuh hatinya.
Latifah tak langsung menjawab pertanyaan Sean, tapi ia teringat sesuatu. Ia menengok ke belakang, lalu kembali memperhatikan wajah Sean dan bertanya, “Abang bilang apa pada Shofi tadi? Teman kerjaku kan?”
“Aku nggak bilang, Ifah...”
“Jadi, abang telah ngomong ke Shofi?”
Sejenak, Sean justru bingung. Mulutnya terkunci dalam kebingungan ini.
“Aku gak jujur sama adikku, bang,” dengan cepat Latifah menjelaskan, “aku bilang, malam itu aku mengalami kecelakaan kerja. Lalu diantar abang dan mbak Wulan. Maafkan saya, telah berbohong. Tak ada pilihan lain..”
Pikiran Sean langsung bekerja, berusaha mencari maksud dan tujuan kenapa Latifah berbohong.
“Demi kebaikan adikku, bang,” maafkan saya.
Sean paham.
Sean mengerti.
Sean makin terenyuh.
Sean tak menanggapi, tapi justru bertanya, “Kenapa kau tak bilang-bilang kalau kau sakit, Ifah?”
Kini, Latifah yang justru kebingungan.
“Kalau dari awal aku tahu kau sakit begini,” tampak sekali Sean memang merasa cemas, amat cemas, cemas sekali, “tentu aku sudah datang jauh-jauh hari.”
Sepasang bibir Latifah yang kering itu terkunci rapat. Ia menunduk. Bingung. Tak tahu harus berkata apa.
“Ifah—sudah periksa ke dokter?” Sean bertanya.
“Sudah ke puskesmas, bang...”
“Kau sakit apa?”
“Demam.”
“Kau belum ke dokter?”
Latifah mengangguk.
“Kau harus ke dokter! Aku akan mengantarmu!” Sean berkata sepenuh mantap.
Dan Latifah semakin bingung.
Ia bingung dengan apa yang dikatakan Sean.
Ia bingung dengan tawaran Sean.
Ia bingung sebab ia tak pernah memikirkan Sean.
Ia bingung, kenapa Sean tiba-tiba datang seperti ini.
“Tahu saya sakit darimana, bang?” Latifah bertanya.
“Dari ibu-ibuk warung kopi tadi, Ifah.”
“Terimakasih, bang. Sudah mau datang...”
“Kau tahu, kenapa aku datang kemari?”
Latifah menggeleng. Sedikit tersipu dia.
“Karena tiap hari aku selalu memikirkanmu, Ifah. Selalu, dan selalu. Semalam aku bermimpi buruk tentang kamu. Aku takut kamu terjadi apa-apa. Maafkankan aku, Ifah. Perasaanku yang telah mengajakku untuk bisa bertemu denganmu.”
Latifah terbengong.
***

HP Sean berbunyi.
Sean mencermati.
Wulan menelpon.
Sean berkata pada Latifah, “Sebentar, aku angkat dulu.”
Latifah yang bibirnya masih terkunci rapat itu hanya mengangguk.
“Haloo...” sapa Sean.
“Kau dimana, Sean?” Wulan bertanya dari ujung sana. “Aku dari rumahmu ini.”
“Aku di Kranji, Wulan.”
“Ngapain?” Wulan bertanya.
“Ini, di rumah Latifah,” jawab Sean. “Dia sakit...”
“Ya, sudah, aku ke sana!” Wulan lalu mematikan ponselnya.
***

⬅ Bab Sebelumnya Bab 9 dari 9 Bab Selanjutnya ➡
← Kembali ke Daftar Bab