Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Peristiwa itu telah lama berlalu. Bila mengingatnya, tumpahlah air matanya. Tangannya gemetaran. Sepucuk surat yang dulu ia temukan di bawah bantal kamar tidur ayahnya, kondisinya sudah tampak kusam. Beberapa huruf di sana-sini telah pudar warnanya sebab seringnya tersentuh dan buliran air mata jatuh menimpanya. Baginya, surat itu laksana belahan jiwanya sendiri. Tak boleh hilang, tak boleh rusak, tak boleh pula diperlakukan sembarangan. Meski ada bekas warna hitam bergaris, itu karena lipatan surat itu yang seringkali dibuka, dibaca, dan dilipat kembali. Sudah tak terhitung ia membaca surat itu selama ini, jauh lebih sering daripada sang adik membacanya.
Malam ini, ia kembali membaca surat itu. Ia tak sanggup menuntaskan hingga kalimat terakhir. Ia lipat kembali kertas surat itu pelan-pelan, sedang air mata menggenang dan alirannya jatuh di pipi. Lalu jatuh menimpa seprai putih kasur tidurnya. Sejenak, ia mendesah. Ia pejamkan matanya. Air mata justru makin meluncur deras. Peristiwa di pagi hari itu mencekam batinnya, mencekik jiwanya kembali.
Warga Kranji, terutama di seputaran rel kereta api sebelah timur, bisa jadi sudah melupakan peristiwa tragis itu. Matahari seperti masih enggan menampakkan diri di langit timur. Bekasi rupanya masih malas menggeliat. Lalu lintas di depan Grand Mall menuju arah Pulo Gadung masih tampak lengang. Lampu-lampu jalan masih menyala. Udara tetap bercampur debu seperti molekul-molekul yang terapung dipeluk cahaya lampu. Sesekali terdengar jeritan kereta dari arah Stasiun Kranji. Panjang jeritan itu dan mengiris subuh begitu rupa.
Di belakang stasiun, rumah-rumah berdiri bersejajar. Dibatasi oleh pagar tinggi yang mengurung stasiun itu, ada jalan sempit yang cukup dilalui motor namun agak sulit dilalui mobil meskipun cukup. Sepanjang pagi dan sore, hilir-mudik orang berlalu-lalang di antara pedagang kecil, motor, dan becak yang mencari penumpang. Beberapa rumah disulap menjadi tempat parkir motor. Kira-kira dua belas meter ke arah barat, sebuah rumah berukuran sedang, berdiri menghadap ke utara, membelakangi lintas rel kereta. Agak aneh sesungguhnya pemandangan ini: Ketika semua rumah menghadap ke selatan, rumah yang satu ini justru menghadap ke utara.
Namun warga tak pernah menggumamkan keanehan itu. Terlebih mereka kenal penghuninya. Kenal dengan baik sebaik para penghuni rumah itu sendiri. Pak Wahab dan Bu Nurhayati—siapa tak mengenal pasangan suami-istri ini? Lalu kedua putrinya—Latifah dan Shofi—di gang mana muda-mudi tak mengenal mereka berdua? Rasa-rasanya tidak ada. Bila terdengar bisik-membisik di antara para pemuda, angin menggiringnya dan mengabarkan tentang bahasa keindahan saja yang terdengar dari bisik-membisik itu. Tentang Shofi, dan khususnya, tentang Latifah.
“Elok benar bola mata cucu nenek Nurjanah itu!” begitu mereka akan berguman, mengagumi keindahan bola mata Latifah. “Jantungku rasanya pecah melihat senyum indahnya```.”
Latifah memang indah. Begitupun Shofi. Hanya saja, Shofi masih terlalu kecil untuk dibandingkan dengan kakaknya. Umur keduanya memang terpaut jauh, antara sembilan atau sepuluh. Latifah telah duduk dibangku SMA, dan sebentar lagi ia akan segera lulus, sedang Shofi masih duduk di bangku SD. Bagi para pemuda, keindahan Shofi adalah keindahan bidadari kecil yang menggemaskan. Muda-mudi di seputaran sini seakan-akan hendak berebutan untuk menganggap Shofi seperti adik kandung mereka sendiri. Cahaya wajah Shofi menghadirkan kegembiraan dan keceriaan.
Sementara cahaya yang terpancar di wajah Latifah mempercepat detak jantung dan memunculkan benih cinta di dada para pemuda. Tetapi cemara indah itu baru saja tumbuh, dan tak semestinya mendapat luka dari duri cinta. Terlebih, kedua orang tuanya adalah orang tua yang teramat baik di lingkungan sini. Mereka baik, ramah, santun, dan tak pernah menyakiti tetangga.
Pagi itu, seperti biasa, para penghuni rumah sarapan bersama-sama. Bunga-bunga bermekaran di wajah Latifah ketika telah mendengar janji ayah yang diucapkan di sela-sela sarapan.
“Ya, insyaallah engkau akan kuliah, seperti keinginanmu.” Begitu ucapnya. “Semoga Allah memudahkan kita.”
“Jadi Ifah boleh kuliah, yah?” Latifah bertanya, masih tak percaya.
Sang ayah mengangguk, dan menjawab, “Jangan di Bandung. Itu kejauhan. Kau pilihlah di Jakarta saja. UNJ atau UI.”
“Shofi juga mau kuliah, ayah!” si kecil Shofi menyeletuk, memburatkan senyum di wajah ibunya.
“Shofi kan masih kecil, nak,” sang ibu menanggapi dengan lembut. “Belajar yang rajin, biar seperti Kak Latifah ya?”
Shofi mengangguk. Tangan kecilnya memainkan sendok di atas piring.
Sarapan itu berakhir dengan wajah ceria, buncahan bahagia.
Di Pasar Kranji Pak Wahab dan istrinya berdagang. Tiap pagi seperti ini, ia akan segera melintasi gang. Menebarkan senyum pada orang-orang, memberikan sapaan. Mesin motor sudah dipanasi sejak tadi, dan telah siap untuk ditunggangi. Hadiah kecupan telah mendarat di kening Shofi dari ibunya, dan pelukan hangat telah ia terima dari ayahnya. Sang ayah, pagi ini, di teras rumah, rasanya memeluk Shofi lama sekali. Demikian halnya Shofi, seperti tak ingin lepas dari pelukan ayah.
“Hati-hati, ayah,” Latifah berujar, dibalas sang ayah dengan anggukkan kepala.
“Jaga adikmu, Ifah,” balas sang ayah. “Jangan main jauh-jauh hari ini.”
Latifah mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Pak Wahab menjalankan motornya, dibonceng istrinya tercinta. Latifah dan Shofi memperhatikan keduanya, hingga motor hilang di tikungan gang. Latifah pun menggandeng Shofi masuk ke dalam rumah. Shofi telah mengenakan sepatunya, telah siap untuk berangkat sekolah di dekat Kantor Kelurahan. Nanti dia akan berangkat bareng sang kakak, sedang sang kakak hendak membantu nenek untuk mencuci piring dan gelas terlebih dahulu.
“Shofi baca aja dulu ya?” pinta sang kakak. “Kakak bantu nenek dulu di dapur.”
Dijawab Shofi dengan senyum dan anggukan kepala.
Ketika Latifah melangkah melintasi ruang tengah menuju dapur, terdengar denting suara piring atau gelas terpelanting pecah. Latifah tak jelas benda apa yang jatuh itu.
“Astaghfirullah!” seru Nenek Janah dari dapur.
“Ada apa, nek?” Latifah memburu, setengah berlari ke arah dapur. Sesampai di dapur, ia melihat sang nenek tengah memunguti pecahan-pecahan beling yang berserak di lantai. Nenek baru saja menjatuhkan sebuah gelas dari dekat westafel.
“Duh, nek, hati-hati,” ucap Latifah seraya berjongkok ikut memunguti serpihan-serpihan beling gelas tadi.
“Nenek sudah hati-hati,” ucap sang nenek, “biasanya juga tak terjadi seperti ini. Gelasnya tadi kesenggol lengan nenek.”
“Biar aku aja yang nyuci, Nek. Nenek istirahat saja..”
“Ayahmu sudah berangkat?”
“Sudah dari tadi, nek,” menjawab Latifah.
Nenek terdiam. Latifah mengambil alih pekerjaan nenek, sedang nenek duduk di atas kursi plastik yang berada di sudut ruang. Wajahnya tampak menyesal, menyesali kenapa ia bisa menjatuhkan gelas itu di pagi ini. Jika wajahnya itu diperhatikan lebih seksama, tampak sedikit pucatlah wajah itu. Mata nenek menerawang.
Dengan cekatan, Latifah sendiri menyuci piring, gelas, dan sendok itu. Juga mangkuk tempat sayur berukuran tanggung. Ini ia lakukan sekian lama seiring detik menyorong menit.
“Kakak! cepaaat!” terdengar Shofi berteriak.
“Iya, iya,” Latifah menjawab tak kalah keras.
“Nanti Shofi telat, kakak!”
“Iya, dek.”
Tinggal gelas terakhir yang hendak dicuci Latifah. Kedua tangannya berlumuran busa. Entah karena teriakan Shofi atau memang waktu semakin beranjak siang, gelas yang ada di pegangan Latifah lepas. Latifah terpekik seiring denting gelas menghajar lantai.
Senyampang dengan itu, suara lengkingan kereta terdengar amat keras. Bunyi peluitnya menghajar gendang telinga. Nenek bangkit dari duduknya. Sepasang bibirnya terkatup rapat, bola matanya memandangi Latifah yang sekarang berwajah pucat sedang tangannya memunguti pecahan beling, seperti tadi.
“Kau yang tak hati-hati, nduk,” lirih sang nenek berucap.
“Maafkan Ifah, nek,” Latifah menyesal.
“Sudah, sudah. Biar nenek saja. Itu adikmu sudah tak sabar. Sana berangkatlah sekolah.”
Latifah tak tega. Ia tak mau meninggalkan nenek dengan pecahan beling yang berserak itu. Ia harus membersihkannya terlebih dahulu, baru kemudian berangkat sekolah. Toh, waktu masih cukup, Shofi sajalah yang sudah tak sabar untuk segera berangkat.
***
Latifah tengah memakai sepatunya sebelah kiri, sedang Shofi sudah berdiri menunggui. Ada cemberut di wajah Shofi kala memandangi sang kakak yang begitu lama berdandan dan memakai sepatunya.
“Kakak, lama banget. Telat nih…”
“Iya, iya. Ini lho lagi pake sepatu,” jawab Latifah.
Dari arah Timur, motor melaju kencang, meliuk-liuk membelah gang. Hampir saja pengendaranya itu terjerembab jatuh di tikungan di samping rumah Latifah. Terdengar makian kecil keluar dari mulut pemuda berusia satu tahun lebih tua dari Latifah itu. Asep namanya. Satu di antara penggemar wajah Latifah.
Shofi dan Latifah memperhatikan pengendara itu, yang secara spontan berhenti di depan rumah Latifah. Motor tergeletak begitu saja, tak di-standarkannya. Asep memburu Latifah dan adiknya.
“Ifah…,” Asep menelan ludah, membasahi kerongkongannya sebelum melanjutkan perkataannya.
“Iya, Kang Asep,” jawab Latifah. “Ada apa?”
“Ayahmu, Ifah. Ayahmu. Juga…ibumu, Fah!” Asep tak mampu meneruskan kalimatnya.
“Ayah, ibu, ada apa, Kang?” wajah Latifah berubah.
“Ayo ikut aku,” ucap Asep. “Adikmu juga. Nek Janah mana?”
“Nenek di dalam, Kang,” jawab Latifah. “Ada apa sih?”
“Ayahmu kecelakaan!”
Sepasang bola mata Latifah membelalak, membeliak. Bibirnya terkatup rapat. Sesak dadanya seketika.
***
Awan berarak menutupi wajah matahari. Langit berubah sendu, menaungi ramai orang yang berkerumun di seputaran perlintasan rel kereta api.
“Ya, Allah…!”
“Astaghfirullah….!!”
“Masyaallah….”
Ucapan-ucapan itu berhamburan dari mulut ke mulut. Kereta itu berhenti sejarak kurang lebih lima ratus meter sebelum tiba di stasiun Kranji. Para penumpang kereta pun berloncatan, keluar dari dalam kereta. Mereka yang tadinya tak tahu menahu kejadian apa yang menyebabkan kereta mendadak berhenti seperti ini, sekarang jadi mengerti. Makin lama, seiring matahari muncul dari sergapan awan, makin ramai saja suasana. Orang-orang itu, seperti kerumunan yang telah terbentuk, memandang ke arah yang sama.
Arah itu. Arah dimana Asep membelah lautan orang yang berkerumun, meminta orang-orang untuk memberi jalan pada Latifah dan adiknya.
Shofi direnggut begitu saja oleh seorang ibu berjilbab biru usia separuh baya. Bu Jamilah, ibunya Asep, berleleran air mata.
“Jangan ke sana, nak. Ayo aku gendong saja,” ucapnya, terbata-bata.
Shofi kebingungan. Sepasang bibirnya yang mungil itu terkatup rapat. Bola matanya menyiratkan hatinya yang bertanya “mengapa”. Bu Jamilah, disertai beberapa orang, menjauhkan Shofi dari tempat kejadian perkara. Sedang Latifah berdiri mematung seakan kedua kakinya tertancap kuat di dalam tanah. Sepasang bola matanya memandang dua sosok tubuh yang ditutupi kertas dan daun pisang itu.
Tubuh ibunya.
Tubuh ayahnya yang terkasih.
Yang tercinta…
***
Orang-orang bercerita tentang peristiwa yang baru saja terjadi, baru saja merenggut nyawa Pak Wahab dan istrinya. Memang, di perlintasan ini, tak ada portal penghalang. Hanya ada dua atau tiga orang pemuda tiap hari yang menjaga perlintasan ini. Motor akan menumpuk di kanan kiri rel kereta, dan dua atau tiga orang pemuda tadi-lah yang mengatur agar para pengendara berhenti dulu menunggu kereta melintas.
Namun kerling mata takdir terkadang tampak aneh dan mengejutkan. Tak ada yang bisa merubah apa yang telah ditentukan-Nya, meskipun peristiwa itu tak disukai oleh makhluk-Nya. Pemuda-pemuda yang biasanya menjaga perlintasan, sedari tadi tak tampak batang hidungnya. Para pengendara motor dan mobil hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman melintas rel sedemikian rupa sehingga sempat mencipta kegaduhan.
Di akhir kegaduhan itu, motor yang dikendarai Pak Wahab dan sang istri terjebak di tengahnya, di atas rel kereta. Mesinnya tiba-tiba saja mati. Pak Wahab berusaha menghidupkannya. Mesin motor tak bisa hidup di-staternya.
“Pak, minggir!” teriak orang-orang.
“Bu, turun buuu! Cepatlah!” teriak yang lain.
Kesadaran terkadang datang terlambat, atau bisa pula ia sadar tetapi ia tak ingin meninggalkan suaminya. O, hanya Allah Yang Mahatahu, Yang Mahakuasa, Yang Maha Perkasa. Bu Nurhayati seperti tak tega melihat perjuangan sang suami menghidupkan mesin motornya sendirian. Begitu ia sadari ia harus turun dari boncengan, nafasnya seakan berhenti seketika seiring sambaran kereta cepat yang meluncur kencang dari arah Jakarta.
Jerit-menjerit melengking.
Motor, dan tubuh Pak Wahab, dan tubuh Bu Nurhayati tanpa ampun tersambar, terseret, tercabik roda kereta. Kata tak lagi mampu untuk menggambarkannya. Kalimat semestinya tak melukiskan keadaannya…
***
Entah sudah berapa kali Latifah pingsan. Bahkan, pingsannya itu tak hanya terjadi di hari yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Nenek Nurjanah tak mampu berucap sepatah pun kata. Bahkan ia tak ingin orang-orang menceritakan keadaan dan kondisi anaknya yang tergilas kereta.
Menjelang sore, di hari itu juga, sepuluh tahun yang lalu dari hari ini, jenazah Pak Wahab dikebumikan berdampingan dengan jenazah istrinya. Mendung duka berubah menjadi hujan tangis dan air mata.
“Ayah, ibu….,” hanya itu.
Iya, hanya itu kata yang bisa dijeritkan Latifah. Juga, adiknya. Mengapa harus terjadi seperti ini? Mengapa Allah tega memanggil kedua orang tua mereka di saat mereka masih sangat membutuhkan kehadirannya?
“Apa salah kita di mata-Nya, Nek?” sudah berpuluh kali Latifah menanyakan hal ini kepada sang nenek. Nenek Janah sendiri tak mampu untuk menjawab pertanyaannya.
Bidadari kecil Shofi justru tampak lebih tegar daripada Latifah sendiri. Dengan caranya sendiri, ia mengerti bahwa kini ia tak lagi memiliki orang tua. Ia sempat menangis sesenggukkan di hari itu. Ia sempat terisak-isak. Tetapi jiwanya amatlah kuat, bertolak belakang dari sang kakak yang sering jatuh pingsan.
Di hari ketiga, tepatnya malam ketika warga kampung datang untuk mengirim bacaan Yasin dan tahlil di rumahnya, Shofi mengangkat bantal sang ayah. Ia temukan sepucuk surat dan ia berikan surat itu kepada kakaknya.
Dengan tangan gemetar dan air mata yang mengalir deras, Latifah membaca surat itu. Usai membacanya, Latifah pingsan kembali.
***