Fibozona
๐Ÿ“– BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

๐ŸŽ‰ GRATIS - Tanpa Koin

Surat di Bawah Bantal

๐Ÿ“… 29 June 2026 ๐Ÿ“š Perempuan yang Lupa Mencintai โฑ๏ธ 5 menit baca ๐Ÿ“‘ Bab 1

Latifah, putrikuโ€ฆ.

Roda-roda kereta yang menggilas rel di belakang rumah kita tetap akan menjerit meskipun aku sudah tak ada di sampingmu. Di keheningan subuh, Kranji tetap akan menggeliat, nafas pagi berhembus mengipasi debu-debu yang terhempas di sela-sela bebatuan kecil yang menghampar di sepanjang rel itu.

Bersama ibumu, rel itu menjadi saksi dimana kami setiap subuh mesti melintas, menoleh kanan kiri, menunggu kereta lewat, pergi ke pasar, menjemput rejeki. Mestikah rejeki dijemput? Ya, begitulah. Allah menyulam benang takdir-Nya, dan kita harus berusaha di bawah lengkung cahaya-Nya untuk mencari rejeki di tengah-tengah sulaman benangnya.

Ah, maafkan aku, nak, mengapa mesti berbicara seperti itu. Malam ini, tiba-tiba saja hadir bayang-bayang masa lalu ketika hati ayahmu ini tertambat di wajah ibumu. Kau, anakku, benar-benar mirip dia sewaktu pertama aku melihatnya. Ia tengah menyusur jalan di pinggir rel di siang itu, menunggu kereta melintas ke arah timur, arah Jawa. Matahari seakan membakar wajahnya, memberi warna hitam di atas merah pipinya. Peluh menaburi keningnya, jatuh satu-satu dari sela-sela reriak anak-anak rambutnya.

Dan rambut ibumu itu, nak. Dan rambutmu adalah citra dari rambutnya. Meski rambut ibumu warnanya pudar seperti rambut adikmu, Shofi, namun gelombang rambutmu adalah jelmaan dari gelombang rambutnya. Angin bertiup dari arah selatan menggerai-geraikan rambutnya, dan ketika bening bola matanya menabrak bola mataku, detak jantung ini berpacu kencang. Kusadari tiba-tiba aku telah jatuh cinta kepadanya.

Inilah rahasia hatiku, hati ayahmu. Kusembunyikan rahasia ini dari pendengaran semua orang. Nurhayati, ibumu, adalah cinta pertamaku. Adakah ini suatu kebetulan ketika kuketahui, beberapa waktu setelah aku dan ibumu menikah, bahwa aku ini, ayahmu, juga adalah cinta pertama bagi ibumu? Adakah hal yang bersifat kebetulan di dunia ini, nak? Tidak! Bahkan ketika sepucuk daun yang melayang dibawa angin, berpilin-pilin sebelum ia jatuh, Yang Mahasuci memerintahkan angin itu hingga menjatuhkan daun di atas tanah. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, putriku. Tak ada. Sungguh tak ada.

Dengan cinta, kuikat hati ibumu. Karena cinta, kukarungi rumah tangga bersama ibumu. Atas cinta, kau lahir dari rahim ibumu. Dan demi cinta, kubesarkan kau dan adikmu dalam kehidupan ini. Cintaku, anakku, hanya satu dan ia bernama ibumu. Begitupun sebaliknya, tak ada nama cinta yang lain di hati ibumu, kecuali namaku, ayahmu.

Inilah rahasia hatiku, yang sesungguhnya teramat malu bila kuceritakan pada putriku. Namun kepada siapa aku akan berkisah jika bukan pada putri kandungnya sendiri? Tentang perasaan hati yang mulia dan suci dimana kami selalu berharap di suatu saat nanti sang putri akan mendapatkan dan menjalani cinta yang sama seperti cinta kami? Maka sebelum ajal menjemputโ€”suatu kepastian dari Takdir Ilahiโ€”dengarlah pesan dari ayahmu ini:

Dasar rumah tangga adalah cinta, dindingnya kasih, dan atapnya adalah hati yang selalu merindu. Maka jadilah ia suatu bangunan yang utuh, kokoh, dan kuat. Ia akan menjadi laksana bahtera yang tahan terhadap serangan badai. Atau seperti pohon dengan akar yang kuat dan batangnya menjulang tinggi. Dzikir kepada Allah menjadi pupuk yang menghidupi akar, menjadi air yang menyuburkan batang dan daun-daunnya.

Oleh karena itu, Latifah, putriku! Bukalah hatimu dengan cinta, dan sambutlah cinta dengan hatimu. Itulah jalan yang lurus, yang akan mengantarkanmu mengarungi bahtera rumah tangga yang selamat dan sentausa. Jangan memaksa diri untuk menerima siapa pun bila tak terbersit cinta di hatimu kepadanya, meskipun ia adalah lelaki yang gagah, kuat, perkasa, dan kaya raya. Sesungguhnya, tak ada harganya ketampanan wajah dan melimpah-ruahnya harta bila cinta tak menguasai hatinya. Betapa banyak rumah tangga menjadi hancur, meskipun harta melimpah. Sebaliknya, ketika suami-istri teguh dalam cinta, seribu kesulitan akan lari menjauh dari rumah tangganya sebab tak tahan dengan dahsyatnya kobaran api cinta di antara keduanya.
Duh, putrikuโ€ฆ

Maafkan ayahmu ini kenapa berbicara hingga sampai jauh seperti ini. Maafkan ayahmu, yang telah merenggut waktumu untuk membaca surat yang sebelum-sebelumnya tak pernah kubuat sama sekali untukmu. Jangan engkau bertanya, mengapa ayahmu menulis surat seperti ini di malam ini. Aku sendiri tak tahu alasannya. Aku tak tahu, mengapa tiba-tiba perlu menulis surat ini untukmu. Juga, terutama untuk adikmu.

Dan ini pun tentang, Shofi, adikmu. Kalian berdua, putri-putriku, adalah karunia Allah yang sangat besar dalam hidup kami. Melalui rahim ibumu, cintaku, kalian lahir, tumbuh, dan dibesarkan. Kita memang bukan orang yang punya banyak harta, banyak uang, tetapi puji bagi Allah taโ€™ala, ini tak membuat hati kita berjauhan. Tak ada kebahagian yang melebihi kebahagiaan orang tua dimana Allah telah mengaruniai anak-anak yang cantik dan baik hatinya. Yang tak pernah menjerit atas kekurangan harta atau ketiadaannya.

Umurmu, Latifah, jauh dari umur adikmu. Sebagai ayah, aku melihatmu berbeda dengan apa yang kulihat pada dirinya. Jika cinta adalah api dan air, maka Shofi laksana apinya, sedangkan kau adalah airnya. Api yang menyala, tak akan padam bila disirami minyak. Yang dibutuhkan untuk memadamkannya adalah api yang dituangkan di tengah kobarannya. Kalian, wahai putri-putriku, jadilah bumi dimana air dan api bisa hidup bersama di dalamnya.

Karena itu, Latifah, mumpung Allah masih memberiku hidup, hidayah-Nya menjadi suluh bagi kita, juga menjadi bagian dari kewajiban seorang ayah pada anaknya, aku memintamu untuk bersabar dengan sifat dan watak adikmu. Jadilah kakak yang kata-katanya menjadi penyejuk bagi jiwanya. Orang-orang berkata tentang Shofi, gadis kecilku ini, begitu berbeda denganmu. Lain darimu. Sedikit banyak, apa yang dikatakan orang-orang itu benar adanya. Bersabarlah dalam menemaninya, nak. Jika suatu saat Allah memanggilku, atau memanggil ibumu, untuk menghadap-Nya, jadilah engkau sebagai tambatan bagi jiwanya.

Jangan sampai ia lari dari rumah tersebab rumah tak memberi kedamaian bagi jiwanya itu. Oh, betapa tak sedikit terjadi anak-anak yang meninggalkan rumahnya untuk menemukan kedamaian di luar sana. Begitu ia telah keluar, kedamaian itu tak didapatkannya, dan justru cerita hidupnya adalah tentang iring-iringan kesedihan dan duka. Jagalah adikmu seperti engkau menjaga dirimu sendiri. Jangan pernah kau lupakan untuk selalu memohon kemudahan dan ridlo dari Allah, Tuhan kita. Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong bagi hidupmuโ€ฆ.

***

โฌ… Bab Sebelumnya Bab 1 dari 9 Bab Selanjutnya โžก
โ† Kembali ke Daftar Bab