Opini, esai, refleksi dari hati ke hati.
Esai
Ada sebuah ironi yang nyaris selalu hadir setiap kali kita membandingkan industri film Indonesia dengan Tiongkok. Ironi itu bukan terletak pada siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih canggih, atau siapa yang memiliki teknologi paling mutakhir. Ironi itu justru bersemayam pada sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara memandang risiko.
Di satu sisi, Tiongkok seolah memiliki keberanian yang nyaris sembrono. Mereka membangun kota-kota buatan hanya untuk kepentingan syuting. Mereka mendirikan benteng, istana, pelabuhan kuno, hingga kompleks kerajaan yang luasnya mampu menyaingi kawasan permukiman. Mereka menyewa ribuan figuran dalam satu adegan peperangan. Mereka menghabiskan jutaan dolar hanya untuk menciptakan seekor naga yang bahkan tidak pernah benar-benar ada selain dalam jutaan piksel CGI.
Semua itu dilakukan dengan satu keyakinan sederhana: bahwa sebuah cerita layak diperjuangkan semahal apa pun biayanya.
Di sisi lain, Indonesia justru tampak seperti seorang pedagang kecil yang terus-menerus menghitung untung sebelum barang dagangannya keluar dari gudang. Sebuah ide besar belum sempat lahir sudah lebih dulu dicekik oleh pertanyaan-pertanyaan yang terlalu praktis.
"Kalau rugi bagaimana?"
"Kalau penontonnya sedikit bagaimana?"
"Kalau tidak viral bagaimana?"
"Kalau kalah dengan film luar negeri bagaimana?"
Empat kalimat itu mungkin tidak pernah tertulis dalam proposal produksi. Namun hampir setiap keputusan industri kita diam-diam dikendalikan olehnya.
Ironisnya, ketakutan itu kemudian kita sebut sebagai profesionalisme.
Lucunya lagi, kita sering menyalahkan pasar.
Kalau film epik gagal, kita berkata bahwa masyarakat Indonesia memang tidak suka film sejarah.
Kalau film fiksi ilmiah sepi, kita menyimpulkan penonton belum siap.
Kalau film aksi mahal tidak balik modal, kita buru-buru mengatakan bahwa budaya kita memang berbeda.
Padahal yang sesungguhnya belum siap bukanlah penonton.
Yang belum siap adalah keberanian industrinya.
Selama bertahun-tahun kita membangun narasi bahwa masyarakat Indonesia hanya menyukai horor dan drama romantis. Seolah-olah bangsa dengan lebih dari 280 juta jiwa ini memiliki selera yang seragam. Seolah-olah seluruh rakyat Indonesia bangun pagi sambil berkata, "Hari ini saya ingin menonton hantu lagi."
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Penonton tidak pernah benar-benar memilih dari ribuan kemungkinan. Mereka memilih dari apa yang disediakan. Jika setiap bulan bioskop dipenuhi lima film horor, dua drama percintaan, dan satu komedi keluarga, lalu horor menjadi film terlaris, apakah itu berarti masyarakat memang hanya mencintai horor?
Belum tentu.
Bisa jadi masyarakat hanya membeli satu-satunya menu yang tersedia.
Ibarat sebuah warung yang selama sepuluh tahun hanya menjual mi instan, lalu pemiliknya menyimpulkan bahwa rakyat Indonesia memang tidak suka steak. Bagaimana mungkin orang memilih steak jika tidak pernah ada yang memasaknya?
Sementara itu, Tiongkok berpikir dengan cara yang hampir berlawanan. Mereka tidak bertanya apakah masyarakat siap. Mereka justru bertanya bagaimana cara membuat masyarakat siap. Perbedaan satu kalimat ini ternyata menghasilkan dua dunia industri yang sangat berbeda.
Ketika mereka ingin membuat film fantasi, mereka tidak buru-buru menghitung risiko. Mereka membangun studio. Mereka mendidik animator. Mereka melatih teknisi CGI. Mereka membuka sekolah efek visual. Mereka mengembangkan perangkat lunak. Mereka membangun ekosistem.
Kita?
Kita sibuk membuat presentasi kepada investor tentang kemungkinan kerugian.
Bukan berarti Tiongkok selalu berhasil. Justru mereka berkali-kali gagal. Beberapa serial televisi berbiaya raksasa akhirnya terkubur karena skandal artis. Ada proyek yang berhenti total akibat perubahan regulasi. Ada film yang selesai diproduksi tetapi tidak pernah memperoleh izin tayang. Ada investasi miliaran yuan yang akhirnya menguap begitu saja.
Kerugiannya bukan miliaran rupiah. Bukan puluhan miliar. Melainkan triliunan. Namun anehnya, mereka tetap memproduksi karya besar berikutnya. Mengapa?
Karena mereka memahami satu prinsip sederhana. Sebuah industri tidak dibangun oleh keberhasilan semata. Ia dibangun oleh kemampuan menanggung kegagalan. Sayangnya, inilah yang belum menjadi budaya kita.
Di Indonesia, satu kegagalan sering kali berubah menjadi trauma kolektif. Satu film mahal gagal. Maka kesimpulannya langsung ekstrem.
"Jangan bikin film mahal lagi."
Satu film sejarah tidak laku.
"Jangan bikin film sejarah."
Satu film fantasi rugi.
"Pasar Indonesia tidak suka fantasi."
Seakan-akan satu eksperimen telah mewakili masa depan seluruh industri. Padahal di negara-negara dengan industri kreatif maju, kegagalan hanyalah biaya belajar. Di sini, kegagalan sering diperlakukan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
Masalah kita sesungguhnya bukan kekurangan uang. Masalah kita adalah kekurangan keberanian terhadap kemungkinan rugi.
Dua hal itu sangat berbeda. Ada negara yang miskin tetapi berani. Ada pula negara yang memiliki modal tetapi selalu ketakutan. Ketakutan inilah yang perlahan-lahan berubah menjadi budaya.
Budaya rapat.
Budaya presentasi.
Budaya studi kelayakan.
Budaya survei.
Budaya menghitung.
Semua itu tentu penting.
Namun ada saat ketika terlalu banyak perhitungan justru membunuh kreativitas. Karena kreativitas selalu lahir dari wilayah yang tidak sepenuhnya bisa dihitung.
Christopher Nolan tidak tahu pasti apakah Inception akan sukses. James Cameron tidak memiliki rumus matematis bahwa Avatar akan menjadi fenomena dunia. Peter Jackson tidak pernah memperoleh jaminan bahwa penonton akan bertahan menonton trilogi selama belasan jam.
Mereka hanya memiliki keyakinan.
Dan keyakinan selalu terdengar bodoh sebelum akhirnya berhasil.
Indonesia justru sedang mengalami epidemi baru. Epidemi ketakutan yang dibungkus dengan istilah "rasional." Semua harus punya data. Semua harus punya angka. Semua harus punya prediksi. Padahal sejarah menunjukkan bahwa hampir semua karya besar lahir tanpa jaminan apa pun.
Tidak ada algoritma yang mampu memprediksi lahirnya mahakarya.
Kalau ada, industri kreatif sudah lama digantikan spreadsheet.
Yang lebih ironis lagi adalah cara kita memandang biaya produksi. Ketika mendengar sebuah film menghabiskan Rp300 miliar, reaksi pertama kita sering kali adalah terkejut.
"Mahal sekali."
Sebaliknya, ketika mendengar film Hollywood menghabiskan 300 juta dolar, kita justru kagum.
"Wah, keren."
Mengapa standar psikologis kita berbeda?
Karena kita telah terbiasa menganggap investasi besar sebagai kemewahan, bukan kebutuhan. Padahal industri hiburan modern bukan lagi sekadar seni.
Ia adalah industri teknologi.
Ia adalah industri diplomasi.
Ia adalah industri ekonomi.
Ia adalah industri pariwisata.
Ia adalah industri budaya.
Ketika Tiongkok membangun satu serial kolosal, mereka sebenarnya tidak hanya menjual tontonan. Mereka menjual lokasi wisata. Mereka menjual kostum. Mereka menjual mainan. Mereka menjual permainan digital. Mereka menjual musik. Mereka menjual buku. Mereka menjual identitas nasional.
Sementara kita masih sibuk menghitung penjualan tiket minggu pertama.
Di sinilah akar persoalannya. Cara berpikir industri kita masih terlalu pendek. Film dianggap selesai ketika kredit penutup muncul. Padahal di negara-negara besar, justru saat itulah siklus ekonomi berikutnya dimulai. Karakter berubah menjadi boneka. Latar berubah menjadi taman wisata. Dialog berubah menjadi meme. Musik berubah menjadi konser. Kostum berubah menjadi fesyen. Cerita berubah menjadi serial. Serial berubah menjadi gim. Gim berubah menjadi komik. Komik berubah menjadi taman hiburan. Satu cerita melahirkan puluhan industri.
Di Indonesia?
Satu film selesai. Poster dilepas. Spanduk diturunkan. Semua pulang. Lalu beberapa bulan kemudian kita memulai lagi dari nol.
Tidak heran biaya produksi selalu terasa mahal. Karena setiap proyek diperlakukan sebagai proyek terakhir, bukan sebagai fondasi sebuah semesta ekonomi kreatif.
Barangkali inilah ironi terbesar industri kita. Kita memiliki begitu banyak cerita, tetapi terlalu sedikit keberanian. Kita memiliki sejarah yang luar biasa, tetapi lebih suka mengulang formula yang sama.
Kita memiliki talenta yang diakui dunia, tetapi bekerja dalam sistem yang terus-menerus mengingatkan mereka agar jangan bermimpi terlalu tinggi. Dan ketika Tiongkok membangun istana raksasa demi satu adegan berdurasi lima menit, kita masih memperdebatkan apakah membuat satu set tambahan akan membuat anggaran membengkak.
Perbedaannya bukan semata soal uang. Perbedaannya adalah cara memandang masa depan. Mereka menganggap biaya sebagai benih. Kita sering menganggap biaya sebagai luka.
Selama cara berpikir ini tidak berubah, kita akan terus menghasilkan karya-karya yang lahir dari rasa takut, bukan dari keberanian. Padahal sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani membangun sesuatu yang pada awalnya dianggap mustahil. Dan mungkin, sebelum kita kekurangan modal, yang lebih dahulu habis adalah keberanian untuk bermimpi sebesar bangsa lain.
***
Ada satu kesalahan yang terus-menerus kita ulang ketika memandang industri film Tiongkok. Kita mengira mereka hanya sedang membuat hiburan. Padahal mereka sedang membangun negara.
Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah film bisa membangun negara? Bukankah negara dibangun oleh jalan tol, pelabuhan, bendungan, kawasan industri, atau pabrik-pabrik baja?
Ya, semua itu memang penting. Namun sejarah modern menunjukkan bahwa sebuah negara tidak cukup hanya kuat secara ekonomi. Ia juga harus mampu mengendalikan imajinasi dunia.
Dan imajinasi, pada abad ke-21, jauh lebih mahal daripada minyak bumi.
Dulu bangsa-bangsa berlomba menguasai jalur rempah. Setelah itu mereka berebut ladang minyak. Hari ini, mereka berebut sesuatu yang tidak terlihat: perhatian manusia.
Siapa yang menguasai perhatian, ia menguasai pasar. Siapa yang menguasai pasar, ia menguasai selera. Siapa yang menguasai selera, perlahan-lahan akan menguasai cara berpikir.
Inilah yang dipahami Tiongkok jauh sebelum banyak negara berkembang menyadarinya.Mereka tidak sedang berlomba membuat film paling bagus. Mereka sedang berlomba membuat dunia terbiasa melihat wajah Tiongkok.
Hollywood pernah mengajarkan dunia bahwa Amerika adalah pusat alam semesta. Kita tumbuh dengan mempercayai bahwa pahlawan super berbicara bahasa Inggris. Kita percaya bahwa kiamat selalu dimulai dari New York. Kita percaya bahwa ilmuwan paling hebat tinggal di California. Kita percaya bahwa tentara paling heroik mengenakan seragam Amerika.
Padahal semua itu hanyalah cerita.
Namun cerita yang diulang ribuan kali akhirnya berubah menjadi kenyataan psikologis. Itulah kekuatan industri budaya. Ia tidak memaksa. Ia tidak mengancam. Ia tidak menginvasi.
Ia hanya membuat orang jatuh cinta.
Dan orang yang jatuh cinta akan membeli tanpa disuruh.
Ia akan meniru tanpa diperintah.
Ia akan membela tanpa dibayar.
Maka jangan heran jika Tiongkok kini menggelontorkan dana yang luar biasa besar untuk industri kreatif. Mereka sedang belajar dari guru terbaiknya: Hollywood. Bedanya, mereka datang dengan kesabaran yang jauh lebih panjang.
Lihatlah bagaimana mereka membangun studio-studio raksasa. Mereka tidak sekadar membangun lokasi syuting. Mereka membangun kota. Di dalamnya terdapat jalan-jalan kuno, istana kekaisaran, benteng, desa-desa Dinasti Ming, pelabuhan zaman Song, bahkan padang rumput Mongolia lengkap dengan bentang alam yang dirancang untuk puluhan produksi sekaligus.
Hari ini dipakai membuat film perang.
Besok menjadi serial romantis.
Lusa berubah menjadi drama politik.
Minggu depan menjadi lokasi iklan.
Bulan depan menjadi objek wisata.
Satu investasi melahirkan pendapatan berkali-kali.
Bandingkan dengan kita. Banyak set megah di Indonesia dibangun hanya untuk satu produksi. Setelah syuting selesai, bangunannya dibongkar. Kayunya dijual. Sengnya dilepas. Tiangnya dicabut. Lalu enam bulan kemudian kita membangun set baru dari nol. Ironinya, kita menyebut pembongkaran itu sebagai efisiensi. Padahal sesungguhnya kita sedang mengulang biaya yang sama berulang-ulang.
Cara berpikir jangka pendek inilah yang menjadi penyakit kronis industri kreatif kita. Segala sesuatu diukur berdasarkan laporan keuangan bulan depan. Bukan lima tahun lagi. Apalagi dua puluh tahun. Kita seperti petani yang setiap pagi mencabut bibit untuk memastikan apakah akarnya sudah tumbuh. Tentu saja tidak pernah tumbuh. Karena setiap kali akar mulai menjalar, kita sudah lebih dulu mencabutnya.
Yang lebih menarik, Tiongkok tidak hanya membangun film. Mereka membangun ekosistem mimpi. Satu karakter film bisa berubah menjadi permainan daring. Permainan itu melahirkan jutaan pemain. Para pemain membeli kostum digital. Kostum digital berubah menjadi pakaian sungguhan. Pakaian menjadi tren. Tren menjadi gaya hidup. Gaya hidup berubah menjadi identitas.
Semuanya berawal dari sebuah cerita.
Di Indonesia, kita sering kali berhenti tepat ketika cerita selesai diputar di bioskop. Seolah-olah ekonomi kreatif berhenti bersama lampu studio yang kembali menyala.
***
Ada ironi yang hampir lucu. Kita sangat bangga mengatakan bahwa Indonesia kaya akan cerita.
Kalimat itu benar.
Mungkin terlalu benar.
Kita memang memiliki ribuan legenda, ratusan kerajaan, ratusan bahasa, jutaan kisah rakyat, dan sejarah yang tidak kalah dramatis dibandingkan negeri mana pun. Tetapi kekayaan cerita tidak otomatis melahirkan industri.
Persis seperti seseorang yang memiliki tanah ribuan hektar tetapi tidak pernah menanam apa pun. Ia tetap miskin. Cerita hanyalah bahan mentah. Yang menciptakan nilai ekonomi adalah keberanian mengolahnya.
Ironi berikutnya lebih menyakitkan.
Indonesia sering mengatakan bahwa kita tidak punya dana sebesar Tiongkok. Pernyataan itu benar. Namun tidak sepenuhnya benar. Karena yang kita bandingkan selalu angka akhirnya.
Kita melihat produksi mereka yang mencapai triliunan rupiah. Lalu kita menyerah sebelum bertanding. Padahal tidak semua proyek besar Tiongkok lahir dalam semalam.
Mereka memulai dari pembangunan studio. Lalu membangun sekolah perfilman. Lalu memperkuat teknologi animasi. Lalu membentuk tenaga ahli. Lalu memperbesar pasar domestik. Lalu memperluas distribusi digital.
Semuanya bertahap.
Yang kita lihat hanyalah puncak gunung es.
Yang tidak kita lihat adalah puluhan tahun investasi yang terkubur di bawah permukaan.
Kita justru sering terjebak pada budaya instan. Ingin langsung memiliki film kelas dunia. Tetapi enggan membangun fondasi kelas dunia. Ingin CGI setara Hollywood. Tetapi laboratorium animasi dianggap terlalu mahal. Ingin aktor berkelas internasional. Tetapi sekolah akting kekurangan dukungan.
Ingin penulis hebat. Tetapi profesi penulis masih dianggap pekerjaan sampingan. Ingin film kita mendunia. Tetapi membaca buku saja belum menjadi kebiasaan nasional. Bukankah ini ironi yang nyaris sempurna?
Kita menginginkan buah tanpa pernah benar-benar merawat akarnya.
***
Ada satu hal yang jarang dibahas ketika membicarakan keberhasilan industri kreatif Tiongkok. Mereka tidak membiarkan rasa takut menjadi budaya. Mereka tentu menghitung risiko. Mereka tentu melakukan riset. Mereka tentu membuat proyeksi bisnis. Tetapi semua itu dilakukan untuk memperbesar kemungkinan berhasil, bukan untuk mencari alasan agar tidak memulai.
Di Indonesia, analisis sering kali berubah menjadi rem tangan. Semakin banyak rapat. Semakin banyak presentasi. Semakin banyak studi kelayakan. Semakin kecil keberanian mengambil keputusan. Seolah-olah kita percaya bahwa sebuah industri dapat tumbuh hanya dengan PowerPoint.
Padahal sejarah tidak pernah ditulis oleh slide presentasi.
Sejarah ditulis oleh orang-orang yang akhirnya berkata, "Kita coba."