Opini, esai, refleksi dari hati ke hati.
Refleksi
Pernahkah Anda duduk di tribun stadion saat pertandingan La Liga Spanyol berlangsung, atau setidaknya menyaksikan melalui layar kaca? Di sana, di tribun VVIP yang eksklusif, sering kali tersaji pemandangan yang—jika kita berhenti sejenak untuk merenung—terasa begitu janggal, bahkan absurd. Anda akan melihat dua orang pria, masing-masing adalah presiden atau pemilik dari dua klub yang sedang bertarung di lapangan, duduk berdampingan.
Di bawah sana, di atas rumput hijau, para pemain dari kedua kubu sedang berjuang mati-matian. Mereka saling menjatuhkan, saling jegal, mengejar bola seolah itu adalah harga diri, dan berusaha sekuat tenaga untuk merobek gawang lawan. Ada friksi, ada benturan fisik, ada ketegangan yang nyata. Namun, di tribun, dua "raja" yang memiliki dua pasukan yang sedang berperang itu justru duduk tenang. Mereka mungkin sesekali berbincang, atau setidaknya mempertahankan ekspresi wajah yang terkendali.
Ibarat kata: dua raja sedang menonton jalannya pertempuran untuk saling mengalahkan dan menghancurkan, sementara kedua raja itu sendiri duduk berdampingan dengan santai.
Arsitektur Perasaan dalam Formalitas
Mari kita coba masuki alam jiwa mereka. Resapi suasana batin dan perasaan yang mungkin berkecamuk di sana. Bagaimana seorang pemilik klub—yang telah menginvestasikan jutaan euro, yang mempertaruhkan nama besar, harga diri, dan emosi pendukung setianya—mengatur gejolak batinnya saat melihat timnya dibobol lawan?
Bayangkan timnya kebobolan. Bayangkan harapan yang dibangun berbulan-bulan runtuh dalam hitungan detik oleh gol lawan. Sementara itu, di sampingnya, sang lawan mungkin sedang menahan tawa kemenangan atau bersorak dalam hati. Sang petinggi klub tersebut tetap harus duduk terhormat, berusaha tetap tersenyum, menjaga gestur agar tetap elegan, meski hatinya kacau-balau dan amarah mungkin sudah sampai di ubun-ubun.
Itulah formalitas. Ia adalah tembok besar yang kita bangun untuk memisahkan apa yang kita rasakan dengan apa yang kita tampilkan. Basa-basi sikap dan penampilan ini bukan sekadar tata krama, melainkan sebuah gaya hidup yang terstruktur. Dan kita, dengan atau tanpa disadari, sering kali menjebakkan diri pada skenario serupa.
Di hadapan orang yang selama ini kita musuhi, atau setidaknya orang yang tidak kita sukai karena perbedaan prinsip, kepentingan, atau karakter, kita berlagak tak terjadi apa-apa. Kita berlagak santun, sopan setengah mati, melempar senyum yang terasa kaku dan artifisial. Namun, di balik dinding tenggorokan, hati kita mengutuk. Di kedalaman pikiran, kita mencaci. Formalitas, dalam konteks ini, telah berhasil membuat kita menjadi makhluk yang begitu munafik. Kita mengenakan topeng untuk menutupi kebenaran batin kita.
Panggung Sandiwara Birokrasi dan Politik
Jika kita beranjak dari dunia olahraga menuju panggung yang lebih besar—dunia birokrasi, pejabat, dan politisi—kita akan menemukan bahwa formalitas bukan lagi sekadar pelapis, melainkan sudah menjadi semacam "seragam" kehidupan.
Tengoklah lagak dan gaya mereka. Memang tidak elok jika kita memukul rata, karena pasti ada individu-individu yang tulus. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa formalitas sikap seolah telah mengontrol cara hidup mereka. Segala sesuatu seakan berjalan normal, biasa saja, penuh kehangatan, dan keakraban yang dipaksakan. Mereka bersalaman dengan erat, berpelukan di depan kamera, dan saling melempar pujian.
Namun, rupa-rupanya, semua keramahan itu sering kali menyembunyikan maksud terselubung. Di balik jabat tangan yang erat, ada tangan lain yang sedang menyiapkan strategi untuk menjatuhkan atau sekadar mempertahankan kepentingan dan keuntungan masing-masing. Ini adalah sebuah "perang dingin" yang dibungkus dengan rapi oleh etiket.
Kita sering melihat pertemuan-pertemuan formal yang menghasilkan janji-janji manis, namun setelah kamera mati dan pintu ruangan ditutup, realitas yang tersaji sering kali berbanding terbalik. Kebohongan yang tersistematisasi ini menjadi "basa-basi busuk" karena ia tidak lagi berfungsi sebagai jembatan komunikasi, melainkan sebagai alat untuk menipu dan memanipulasi keadaan demi tujuan pribadi.
Pura-Pura: Antara Etika dan Kebohongan
Bersikap ramah, sopan, dan penuh etika memang merupakan kebajikan yang luhur. Bahkan, hampir seluruh ajaran agama dan filsafat moral menyorongkan pentingnya sikap demikian untuk menjaga keharmonisan hidup bersama. Namun, harus ada garis tegas yang ditarik: ada perbedaan antara kesopanan yang lahir dari ketulusan dengan kesopanan yang lahir dari kepura-puraan.
Inilah persoalan mendasar kita. Bersikap seolah-olah (pura-pura) tidak sama dengan sikap yang wajar dan alamiah. Pura-pura baik tidak sama dengan menjadi baik. Pura-pura sopan tidak sama dengan menjadi sopan. Pura-pura perhatian tidak sama dengan memiliki empati yang sebenarnya.
Ketika kita bersikap sopan kepada orang yang kita benci bukan karena kita memaafkan, melainkan karena kita butuh "akses" atau "posisi aman," maka itu adalah bentuk kemunafikan yang terasah. Itu adalah sebuah "basa-basi busuk" yang mencemari relasi kemanusiaan. Kesopanan yang otentik adalah pancaran dari hati yang bersih. Sebaliknya, kesopanan yang formalistik—yang hanya digunakan untuk menutupi niat buruk—adalah sebuah racun yang perlahan mengikis integritas diri kita sendiri.
Mengapa Kita Begitu Tergila-gila pada Formalitas?
Pertanyaannya kemudian: mengapa kita begitu sulit untuk jujur? Mengapa kita lebih memilih untuk hidup dalam kepalsuan daripada menghadapi kenyataan yang mungkin pahit?
Jawaban utamanya adalah ketakutan. Kita takut akan penolakan, kita takut kehilangan posisi, dan kita takut akan konsekuensi dari kejujuran yang telanjang. Formalitas menjadi benteng pertahanan yang aman. Dengan bersikap "sopan" kepada musuh, kita merasa sedang menjaga martabat. Namun, kenyataannya, kita justru sedang kehilangan martabat itu sendiri karena kita telah menggadaikan kejujuran batin kita demi kenyamanan jangka pendek.
Masyarakat modern sering kali menghargai "kemasan" lebih tinggi daripada "isi". Seseorang yang mampu tersenyum saat dikhianati dianggap sebagai orang yang "dewasa" atau "profesional". Padahal, ada kalanya kedewasaan justru terletak pada kemampuan untuk berani berkata, "Saya tidak menyukai tindakan Anda," dengan cara yang tetap terhormat, tanpa harus memakai topeng yang membusukkan jiwa.
Membongkar Basa-Basi: Menuju Kejujuran yang Terhormat
Jika kita terus-menerus terperangkap dalam basa-basi busuk ini, kita akan kehilangan kemampuan untuk menjadi manusia yang sejati. Hidup kita akan menjadi deretan sandiwara yang melelahkan. Kita akan menjadi sangat ahli dalam berakting, namun sangat payah dalam mencintai sesama secara apa adanya.
Menjadi jujur bukan berarti menjadi kasar. Menjadi autentik bukan berarti harus mengumbar kebencian kepada siapa pun. Namun, kejujuran menuntut kita untuk menyelaraskan antara apa yang ada di dalam hati dengan apa yang keluar dari mulut dan tindakan kita. Jika kita merasa tidak nyaman dengan seseorang, kita tidak harus memusuhinya secara terbuka, tetapi kita juga tidak perlu berpura-pura menjadi sahabat karibnya. Ada jalan tengah yang disebut dengan integritas.
Integritas adalah ketika kita mampu tetap sopan dan menjaga etika kepada siapa pun, termasuk orang yang tidak kita sukai, bukan karena kita ingin menipu, melainkan karena kita menghormati prinsip diri kita sendiri. Kita sopan karena kita adalah orang yang sopan, bukan karena kita takut atau menginginkan sesuatu. Itu adalah perbedaan yang tipis, namun dampaknya sangat besar bagi kesehatan jiwa kita.
Menutup Topeng, Membuka Jendela Jiwa
Mungkin saatnya kita berhenti menjadi "penonton La Liga" dalam kehidupan kita sendiri. Kita tidak perlu duduk berdampingan dengan musuh-musuh kita di tribun kehidupan hanya demi menjaga formalitas yang menekan napas. Kita tidak perlu memupuk kemunafikan untuk terlihat elegan di mata orang lain.
Basa-basi busuk ini, pada akhirnya, akan membusukkan siapa saja yang memproduksinya. Ia memakan kejujuran, ia merusak empati, dan ia membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya. Dunia ini tidak butuh lebih banyak orang yang pandai bersandiwara; dunia ini membutuhkan orang-orang yang berani tampil jujur, meskipun kejujuran itu menuntut keberanian yang tidak kecil.
Mari kita belajar untuk sedikit lebih "berantakan" dalam kejujuran daripada harus "rapi" dalam kemunafikan. Karena pada akhirnya, saat kita menanggalkan segala jabatan, gelar, dan posisi, yang tersisa bukanlah seberapa piawai kita dalam berbasa-basi, melainkan seberapa jujur kita dengan Tuhan, dengan sesama, dan—yang terpenting—dengan diri kita sendiri.
Jangan biarkan hidup Anda menjadi sebuah panggung sandiwara yang panjang. Bukalah topeng itu. Jika ada kemarahan, biarkan ia tersalurkan dengan cara yang konstruktif, bukan dipendam di balik senyum yang munafik. Jika ada rasa tidak suka, sampaikanlah dengan cara yang elegan, bukan dengan basa-basi busuk yang melukai integritas.
Karena hidup yang bermakna adalah hidup yang tidak disesaki oleh formalitas-formalitas yang sia-sia, melainkan diisi oleh kebenaran-kebenaran yang sederhana, yang tumbuh dari ketulusan hati yang paling dalam. Bukankah lebih baik menjadi orang yang tidak disukai karena jujur, daripada menjadi orang yang dicintai karena kepura-puraan yang menyedihkan?
Pertanyaan untuk Anda: Di area kehidupan mana—pekerjaan, hubungan sosial, atau keluarga—Anda merasa paling sering dipaksa oleh keadaan untuk melakukan "basa-basi busuk" tersebut, dan apa satu langkah kecil yang bisa Anda lakukan untuk mulai lebih autentik di sana?