Opini, esai, refleksi dari hati ke hati.
Opini
Kita boleh berdebat panjang tentang apa yang dimaksud dengan sastra. Sejak zaman Aristoteles, Horatius, hingga para pemikir modern seperti RenΓ© Wellek, Austin Warren, dan Teeuw, definisi sastra memang tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada ruang bagi tafsir baru. Namun di tengah segala perdebatan itu, agaknya kita akan sampai pada satu kesepakatan yang sama: sastra Indonesia hari ini sedang berdiri di bibir jurang. Sedikit lagi didorong, ia jatuh. Sedikit lagi diabaikan, ia mati.
Ironisnya, ketika sastra semakin kehilangan ruang hidupnya, justru karya-karya fiksi tumbuh seperti ilalang selepas hujan. Setiap hari ribuan cerita baru lahir di berbagai platform digital. Judul-judulnya saling berlomba memancing klik, mengejar pembaca, mengejar algoritma, mengejar iklan, mengejar koin, mengejar bonus, dan pada akhirnya mengejar uang.
Fiksi hidup. Sastra sekarat.
Tentu kalimat ini akan memancing perdebatan. Bukankah sastra juga merupakan fiksi? Bukankah novel, cerpen, roman, semuanya adalah cerita rekaan? Benar. Tetapi tidak setiap fiksi otomatis menjadi sastra, sebagaimana tidak setiap rumah yang memiliki empat roda otomatis disebut mobil mewah. Ada perbedaan antara sekadar alat transportasi dengan karya rekayasa teknologi. Demikian pula ada perbedaan antara cerita yang hanya selesai dibaca dengan karya yang selesai dibaca tetapi terus hidup dalam ingatan pembacanya.
Di situlah letak persoalannya.
Apa sebenarnya sastra itu?
Sastra bukan sekadar cerita.
Sastra adalah pengalaman manusia yang diolah melalui bahasa sehingga melahirkan makna yang melampaui zamannya.
Cerita hanyalah kendaraan. Bahasa adalah tubuhnya. Tetapi jiwa sastra adalah pencarian makna.
Novel Laskar Pelangi bukan dikenang karena kisah anak sekolahnya semata, melainkan karena ia berbicara tentang kemiskinan, harapan, pendidikan, dan martabat manusia. Novel-novel Pramoedya tidak dikenang karena kisah cintanya, melainkan karena pergulatannya dengan kolonialisme, identitas, dan kebebasan. Puisi-puisi Chairil Anwar tetap dibaca bukan karena rimanya, tetapi karena ia menyuarakan kegelisahan eksistensial yang tetap relevan hingga hari ini.
Karya sastra selalu memiliki lapisan.
Lapisan cerita.
Lapisan bahasa.
Lapisan simbol.
Lapisan filsafat.
Lapisan kebudayaan.
Lapisan psikologi.
Lapisan sejarah.
Lapisan kemanusiaan.
Karena itu, sebuah karya sastra dapat dibaca berkali-kali tetapi tetap menghadirkan penafsiran baru.
Sebaliknya, sebagian besar fiksi populer selesai bersamaan dengan halaman terakhirnya.
Ia menghibur.
Tetapi tidak menggugah.
Ia memancing rasa penasaran.
Tetapi tidak memperkaya kesadaran.
Demokratisasi yang sekaligus menjadi bencana
Internet membawa revolusi luar biasa.
Dulu seseorang harus mengirim naskah ke penerbit. Berbulan-bulan menunggu. Berkali-kali ditolak. Berkali-kali direvisi. Ada editor yang mengoreksi logika cerita, bahasa, struktur, bahkan kualitas gagasan.
Hari ini semua itu nyaris tidak diperlukan lagi.
Cukup memiliki ponsel.
Membuka aplikasi.
Menulis.
Menekan tombol "unggah".
Lalu jadilah ia penulis.
Di satu sisi, ini adalah kemenangan demokrasi. Tidak ada lagi tembok yang menghalangi orang berkarya.
Tetapi di sisi lain, demokrasi tanpa kurasi melahirkan banjir.
Banjir tulisan.
Banjir cerita.
Banjir novel.
Banjir penulis.
Dan seperti banjir pada umumnya, air yang terlalu banyak justru menenggelamkan sawah yang baik.
Editor perlahan kehilangan perannya.
Kritikus sastra makin tidak terdengar.
Dosen sastra makin sedikit dibaca.
Yang menentukan kualitas kini bukan lagi kritik, melainkan statistik.
Berapa view.
Berapa follower.
Berapa pembaca.
Berapa komentar.
Berapa hadiah virtual.
Algoritma menggantikan estetika.
Ketika algoritma menjadi editor
Platform digital memiliki satu kepentingan utama: mempertahankan perhatian pembaca selama mungkin.
Karena itu cerita yang paling sering direkomendasikan bukanlah cerita terbaik.
Melainkan cerita yang paling membuat pembaca ketagihan.
Muncullah pola-pola yang berulang.
Mertua melawan menantu.
Pelakor melawan istri sah.
Suami miskin berubah menjadi konglomerat.
Istri dihina lalu menjadi miliarder.
Lelaki biasa ternyata pewaris kerajaan.
Perempuan miskin dinikahi CEO.
Atau judul-judul yang sengaja memancing rasa ingin tahu seperti:
"Kulelang Rumah Termasuk Para Pelakornya."
"Satu Miliar untuk Semalam."
"Suamiku Menyuruhku Menjual Diri."
"Mertuaku Ternyata Mantan Kekasihku."
Judul-judul seperti ini tidak lahir karena kebutuhan artistik.
Ia lahir karena kebutuhan algoritma.
Semakin mengejutkan judulnya, semakin besar kemungkinan diklik.
Semakin sensasional konfliknya, semakin panjang waktu membaca.
Semakin banyak pembaca, semakin besar pendapatan.
Logika pasar akhirnya menggantikan logika kesusastraan.
Krisis yang diam-diam sedang terjadi
Sekarang bayangkan sebuah ruang kuliah sastra Indonesia.
Seorang dosen berdiri di depan kelas.
Mahasiswa diminta mendiskusikan unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Tema.
Sudut pandang.
Simbol.
Konflik.
Nilai budaya.
Nilai kemanusiaan.
Lalu teks yang dibedah berjudul:
"Kulelang Rumah Termasuk Para Pelakornya."
Apakah mungkin?
Mungkin saja.
Tetapi jika itu dianggap sebagai standar baru sastra Indonesia, kita patut bertanya: ke mana perginya fungsi sastra sebagai wahana pembentukan nalar, rasa, dan kebudayaan?
Sastra selama ini menjadi laboratorium batin.
Ia mengajarkan empati.
Mengajarkan keraguan.
Mengajarkan ironi.
Mengajarkan kesunyian.
Mengajarkan kompleksitas manusia.
Sebaliknya, sebagian besar fiksi algoritmik justru bekerja dengan rumus sederhana.
Tokoh baik.
Tokoh jahat.
Konflik.
Balas dendam.
Kemenangan.
Selesai.
Tidak ada ruang abu-abu.
Tidak ada kedalaman psikologis.
Tidak ada pergulatan moral.
Yang penting pembaca terus membuka bab berikutnya.
Sastra membutuhkan waktu, pasar menuntut kecepatan
Sastra lahir dari perenungan.
Fiksi digital lahir dari produktivitas.
Penulis sastra rela menghabiskan waktu bertahun-tahun menyelesaikan satu novel.
Penulis platform digital sering dipaksa menghasilkan beberapa ribu kata setiap hari.
Bukan karena mereka tidak ingin menulis lebih baik.
Melainkan karena sistem ekonominya memang demikian.
Jika berhenti mengunggah bab, pembaca pindah.
Jika pembaca pindah, penghasilan turun.
Jika penghasilan turun, penulis kehilangan nafkah.
Akibatnya, kualitas menjadi korban pertama.
Tetapi jangan salahkan penulisnya
Menyalahkan penulis online sepenuhnya juga bukan sikap yang adil.
Mereka hanya menjawab kebutuhan pasar.
Mereka menulis apa yang dibaca.
Mereka bertahan hidup dari apa yang laku.
Jika pembaca lebih menyukai kisah CEO jatuh cinta kepada gadis miskin daripada novel filosofis tentang keterasingan manusia, apakah salah penulis mengikuti selera itu?
Barangkali yang lebih tepat dipersoalkan adalah ekosistemnya.
Kita hidup dalam masyarakat yang semakin terburu-buru.
Video harus pendek.
Tulisan harus ringan.
Cerita harus cepat.
Semuanya harus instan.
Dalam masyarakat seperti itu, sastra memang kehilangan habitat alaminya.
Apakah semua fiksi online buruk?
Tentu tidak.
Generalisasi adalah bentuk kemalasan berpikir.
Di antara jutaan cerita digital tetap lahir penulis-penulis berbakat.
Ada yang memiliki kemampuan membangun karakter yang kuat.
Ada yang piawai memainkan bahasa.
Ada yang menghadirkan kritik sosial.
Ada pula yang perlahan tumbuh menjadi novelis serius.
Artinya, masalahnya bukan terletak pada medianya.
Masalahnya adalah ketika popularitas dijadikan ukuran mutu, dan ketika angka pembaca menggantikan kualitas estetik.
Media digital hanyalah alat.
Ia dapat melahirkan karya besar, tetapi juga dapat melahirkan banjir karya yang dangkal.
Menghidupkan kembali sastra
Mungkin kita tidak bisa memutar waktu.
Platform digital tidak akan hilang.
Algoritma tidak akan mati.
Fiksi populer akan terus berkembang.
Tetapi sastra juga tidak harus ikut mati.
Yang perlu dilakukan adalah mengembalikan penghormatan terhadap kualitas.
Sekolah harus kembali mengajarkan apresiasi sastra, bukan sekadar teori.
Kampus perlu menghidupkan kritik sastra.
Media harus memberi ruang bagi resensi karya-karya bermutu.
Penerbit perlu lebih berani menerbitkan karya yang menawarkan gagasan, bukan hanya sensasi.
Dan para penulis sendiri perlu terus mengingat bahwa menulis bukan semata-mata pekerjaan menghasilkan uang. Menulis juga merupakan ikhtiar menjaga peradaban.
Karena sebuah bangsa tidak hanya dikenang oleh gedung-gedung pencakar langitnya.
Bukan pula oleh jumlah aplikasi digitalnya.
Melainkan oleh karya-karya yang sanggup menjelaskan siapa manusia di zamannya.
Penutup
Fiksi online tidak perlu dimusuhi. Ia telah membuka pintu yang dulu tertutup rapat bagi banyak orang untuk menulis dan dibaca. Ia menghadirkan demokratisasi yang patut disyukuri.
Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap konsekuensinya. Ketika algoritma lebih menentukan daripada estetika, ketika sensasi lebih dihargai daripada kedalaman, ketika jumlah pembaca menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, maka sastra kehilangan tempatnya sebagai ruang kontemplasi dan pembentuk peradaban.
Sastra tidak mati karena hadirnya teknologi.
Sastra mati ketika masyarakat berhenti menghargai kedalaman berpikir.
Sastra mati ketika bahasa hanya dipakai untuk menjual rasa penasaran.
Sastra mati ketika cerita kehilangan keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar tentang manusia.
Dan bila suatu hari nanti perpustakaan kita dipenuhi ribuan cerita yang laris tetapi tak satu pun mampu bertahan melampaui zamannya, barangkali saat itulah kita benar-benar menyadari bahwa yang hidup hanyalah fiksi online, sementara sastra telah lama dikuburkan tanpa pernah kita sempat mengucapkan belasungkawa.