Fibozona
📖 BacaRasa

Baca Detail

Opini, esai, refleksi dari hati ke hati.

Opini

Tetap Waras Dalam Kondisi yang Memaksa Gila

📅 26 Jun 2026 âœī¸ Ki Sudrawira

Tetap menjadi waras, rupa-rupanya, kini bukan lagi perkara mudah. Ia telah berubah menjadi kemewahan yang diam-diam semakin mahal harganya. Di tengah dunia yang berlari begitu cepat, kewarasan justru tampak seperti sesuatu yang aneh, bahkan terkadang dianggap sebagai kelemahan.

Ironisnya, kita hidup di zaman ketika banyak orang merasa harus ikut arus agar tidak dianggap ketinggalan. Padahal, arus itu belum tentu mengarah kepada kebaikan. Bahkan, sering kali arus itu justru membawa manusia menjauh dari dirinya sendiri.

Perubahan manusia memang sesuatu yang wajar. Tidak ada orang yang hidup tanpa mengalami perubahan. Akan tetapi, yang patut menjadi renungan adalah ketika perubahan itu justru mengikis nilai-nilai yang dahulu menjadi fondasi kehidupannya.

Kita sering menyaksikan kisah seperti ini.

Dulu, seseorang dikenal rajin ke masjid. Ia menjadi penggerak pengajian, mudah tersenyum, ringan membantu tetangga. Lalu ia merantau ke kota besar. Bertahun-tahun kemudian ia pulang dengan pakaian mahal, kendaraan mewah, dan telepon genggam terbaru. Akan tetapi, sesuatu yang dulu melekat kuat pada dirinya justru menghilang.

Ia kini lebih sibuk mengejar rapat daripada salat berjamaah. Lebih hafal jadwal pertemuan bisnis daripada jadwal pengajian. Lebih mudah menjawab panggilan klien daripada panggilan azan.

Yang berubah bukan hanya tempat tinggalnya.

Yang berubah adalah pusat hidupnya.

Kota memang tidak selalu salah. Pendidikan pun tidak selalu keliru. Lingkungan juga bukan satu-satunya penyebab. Sebab ada pula orang-orang yang tinggal di kota tetapi tetap menjaga integritasnya, tetap sederhana, tetap rendah hati, tetap dekat kepada Tuhan.

Namun tidak dapat dimungkiri bahwa lingkungan memiliki daya tekan yang luar biasa besar. Ia perlahan-lahan menggeser standar, mengubah ukuran, bahkan mendefinisikan ulang apa yang disebut sebagai keberhasilan.

Di sinilah persoalan besar itu bermula.

Ukuran keberhasilan manusia perlahan mengalami pergeseran.

Jika dahulu orang tua berkata kepada anak-anaknya, "Jadilah orang baik."

Kini yang lebih sering terdengar adalah, "Jadilah orang kaya."

Kalimat pertama berbicara tentang karakter.

Kalimat kedua berbicara tentang hasil.

Padahal, hasil tanpa karakter sering kali melahirkan petaka.

***
Lihatlah fenomena yang begitu dekat dengan kehidupan kita.

Seseorang merantau selama belasan tahun. Tidak seorang pun mengetahui secara pasti apa pekerjaannya. Bahkan keluarganya sendiri hanya mengetahui bahwa ia "kerja di kota."

Kemudian ia pulang.

Rumahnya menjulang tinggi. Bertingkat dua atau tiga. Halamannya luas. Mobilnya lebih dari satu.

Seketika kampung memberikan penghormatan.
Ia dipanggil ke depan ketika ada acara desa.
Pendapatnya didengar.
Kedatangannya disambut.
Anak-anak diminta meneladani keberhasilannya.
Hampir tak ada yang bertanya dari mana semua itu berasal.

Tak banyak yang peduli apakah kekayaan itu diperoleh melalui jalan halal atau haram.

Apakah lahir dari kerja keras atau permainan proyek.
Apakah berasal dari kecerdasan atau justru dari korupsi.
Yang dilihat hanyalah hasil akhirnya.
Rumah besar.
Mobil mewah.
Pakaian mahal.
Seolah-olah kemewahan telah menjadi sertifikat kehormatan.

Padahal sejarah manusia berkali-kali mengajarkan bahwa tidak semua kekayaan lahir dari kemuliaan.

Sayangnya, masyarakat modern semakin sulit membedakan antara kaya dan mulia.

Seolah-olah keduanya adalah hal yang sama.
Padahal tidak.
Orang kaya belum tentu mulia.
Sebaliknya, orang mulia tidak selalu kaya.

***
Perubahan standar ini merembet ke hampir seluruh sendi kehidupan.

Anak-anak yang dahulu bermain layang-layang, gobak sodor, petak umpet, kini tumbuh bersama layar.

Dunia mereka bukan lagi sawah, sungai, dan lapangan.
Dunia mereka adalah algoritma.

Apa yang mereka lihat bukan lagi nasihat orang tua, melainkan rekomendasi media sosial.

Mereka belajar bukan hanya dari guru, tetapi dari siapa saja yang berhasil muncul di beranda.

Di sinilah bahaya itu bekerja secara halus.
Media sosial tidak selalu mengajarkan mana yang benar.
Ia lebih sering mengajarkan mana yang viral.
Yang penting ramai.
Yang penting ditonton.
Yang penting menghasilkan uang.
Akibatnya, batas antara benar dan salah menjadi kabur.

Lalu muncullah fenomena yang dahulu hampir tak pernah kita bayangkan.
Judi online masuk hingga pelosok desa.

Remaja yang bahkan belum memiliki penghasilan sudah mengenal taruhan.

Anak sekolah mengenal pinjaman digital.
Mahasiswa belajar cara menghasilkan uang instan tanpa memahami risiko.
Semua itu datang melalui layar yang sama.
Teknologi sesungguhnya netral.
Yang tidak netral adalah cara manusia memanfaatkannya.

Namun ketika seluruh lingkungan ikut menganggap sesuatu yang salah sebagai hal biasa, menjaga kewarasan menjadi jauh lebih sulit.

***
Perubahan paling menyedihkan justru terjadi pada cara masyarakat memberikan penghormatan.

Dahulu, seseorang dihormati karena ilmunya.
Karena kejujurannya.
Karena kebijaksanaannya.
Karena akhlaknya.
Kini ukuran itu semakin bergeser.

Orang yang berwawasan luas tetapi hidup sederhana sering kali hanya dianggap sebagai orang biasa.

Sebaliknya, orang yang dangkal ilmunya tetapi kaya raya bisa mendapatkan tempat paling terhormat.

Undangan datang kepadanya.
Kursi paling depan disediakan.
Pendapatnya dianggap paling penting.
Bukan karena kebijaksanaannya.
Melainkan karena kekayaannya.
Seolah-olah saldo rekening telah menggantikan kedalaman ilmu.
Ini bukan sekadar perubahan sosial.
Ini adalah perubahan cara berpikir.

Dan perubahan cara berpikir jauh lebih berbahaya daripada perubahan perilaku.

Sebab ketika cara berpikir telah rusak, manusia akan menganggap kerusakan sebagai sesuatu yang normal.

***

Barangkali, inilah yang dimaksud ketika kondisi memaksa orang menjadi gila.

Bukan gila dalam pengertian medis.
Melainkan gila karena kehilangan ukuran.
Ketika yang salah dipuji.
Yang benar dicibir.
Yang jujur ditertawakan.
Yang licik dipromosikan.
Yang sederhana dianggap gagal.
Yang bermewah-mewah dipuja.
Lama-kelamaan orang baik merasa asing.
Orang jujur merasa sendirian.
Orang yang istiqamah merasa tertinggal.
Tekanan semacam ini sangat nyata.

Tidak sedikit orang yang akhirnya ikut berubah hanya karena tidak ingin dianggap berbeda.

Padahal keberanian terbesar justru lahir ketika seseorang mampu tetap menjadi dirinya sendiri di tengah lingkungan yang mendorongnya menjadi orang lain.

***

Tetap waras berarti tetap mampu membedakan mana nilai dan mana harga.

Harga bisa dihitung dengan uang.
Nilai tidak selalu demikian.
Harga rumah bisa miliaran.
Nilai kejujuran tidak bisa dibeli.
Harga mobil terus berubah.
Nilai amanah tidak mengenal inflasi.
Harga jabatan bisa naik turun.
Nilai integritas tetap sama sepanjang zaman.

Tetap waras berarti tidak membiarkan ukuran hidup ditentukan oleh tepuk tangan manusia.

Sebab tepuk tangan sangat mudah berpindah.
Hari ini mereka memuji.
Besok mereka mencaci.
Hari ini dielu-elukan.
Besok dilupakan.

Karena penghormatan manusia selalu berubah mengikuti kepentingan.
Sedangkan nilai yang benar tidak berubah hanya karena zaman berganti.

Pada akhirnya, tantangan terbesar manusia modern bukan sekadar mencari nafkah.

Bukan pula sekadar mengejar pendidikan setinggi mungkin.
Tantangan terbesar adalah mempertahankan hati agar tidak ikut hanyut.
Tetap bisa membedakan mana keberhasilan dan mana keserakahan.
Mana kemajuan dan mana kemerosotan.
Mana kebutuhan dan mana nafsu.
Mana kehormatan dan mana pencitraan.
Sebab dunia memang akan terus berubah.
Teknologi akan terus berkembang.
Standar sosial akan terus bergeser.
Tetapi satu hal tidak boleh ikut berubah: hati nurani.

Karena ketika hati nurani telah kehilangan suaranya, manusia masih bisa berjalan, berbicara, bahkan memimpin banyak orang. Namun sesungguhnya ia telah kehilangan arah.

Maka, tetap waras hari ini bukan berarti menolak kemajuan. Bukan pula memusuhi kekayaan, kota, atau teknologi. Tetap waras berarti menempatkan semuanya pada posisi yang semestinya: harta sebagai alat, bukan tujuan; jabatan sebagai amanah, bukan kemuliaan; ilmu sebagai cahaya, bukan sekadar gelar; dan agama sebagai penuntun, bukan pelengkap identitas.

Di tengah dunia yang semakin gemar mengukur manusia dari apa yang dimilikinya, keberanian terbesar adalah tetap mengukur diri dari apa yang kita lakukan dan siapa diri kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Sebab sejarah tidak pernah benar-benar dikenang oleh mereka yang sekadar paling kaya, melainkan oleh mereka yang tetap lurus ketika dunia mengajarkan untuk berbelok, tetap jujur ketika kebohongan menjadi kebiasaan, dan tetap waras ketika keadaan seakan memaksa semua orang menjadi gila.