Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Baginya, dunia ini dibangun di atas kebohongan yang dijahit rapi dengan benang-benang kekuasaan. Sebuah kebenaran bisa dibelokkan, kepolosan bisa dikutuk, dan kesalahan bisa dipoles menjadi kebenaran yang mulia—selama ada cukup uang, pengaruh, dan tangan-tangan yang mau bermain dalam bayangan, ditambah kecanggihan teknologi yang dapat memanipulasi kejujuran dan kebohongan.
Di kota yang terus berkilau dengan gedung-gedung tinggi dan layar-layar iklan yang memuja gaya hidup metropolitan, keadilan seringkali hanyalah etalase. Ia dipajang agar rakyat percaya, padahal di balik kaca, boneka-boneka kekuasaan sedang menarik benang sesuai kepentingannya. Di tengah kota yang demikian inilah nasib seorang pemuda bernama Khai bin Malik hancur seketika.
Khai baru sembilan belas tahun. Wajahnya bersih, tampan, dengan sorot mata yang dalam seolah menyimpan samudera yang tak semua orang bisa baca. Lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota—ayahnya seorang lurah, ibunya seorang perempuan taat beragama—Khai tumbuh dalam didikan religius, penuh disiplin, dan cita-cita mulia. Sang ayah bermimpi anaknya bisa jadi pemimpin yang jujur, setidaknya melanjutkan jejaknya di desa.
Khai mencintai seorang gadis bernama Inara, kembang kampus yang dipuja banyak mata. Anak pengusaha kaya, cantik, modern, dan penuh cahaya. Bagi Khai, Inara adalah hadiah dari Allah SWT, Tuhan Yang Mahaadil, teman sejiwa sekaligus penguat jalan hidupnya. Bagi Inara, Khai adalah kesederhanaan yang menenangkan, lelaki tampan yang suci dalam keramaian dunia yang munafik.
Namun cinta yang indah itu mengundang api iri. Naufal, senior mereka, anak seorang pejabat tinggi, merasa dipermalukan oleh kenyataan: bagaimana mungkin seorang anak lurah kampungan merebut hati gadis kota sekelas Inara sedangkan semua mata laki-laki yang lebih layak dari Khai pasti menunggu-nunggu kedipan matanya?
Ambisi bercampur gengsi membuat Naufal bertekad merebut apa yang bukan miliknya. Dengan cara apa pun. Naufal memasang jerat. Lalu jeratnya membuahkan hasil. Pada suatu malam, di sebuah pesta anak-anak pejabat dan orang kaya, Inara kehilangan segalanya.
Naufal merenggutnya.
Khai datang terlambat untuk menyelamatkan kekasih hatinya itu. Khai mengamuk, dan hampir saja mengakhiri hidup Naufal. Naufal tak terima. Kasus pun dibawanya ke pengadilan.
Sejak saat itu, kehidupan Khai runtuh.
Naufal menjeratnya dengan pasal percobaan pembunuhan. Juga pasal pemerkosaan. Dunia diputar-balik. Khai yang berniat menolong kekasihnya, justru menjadi obyek tertuduh, tersangka, hingga terdakwa.
Persidangan demi persidangan digelar. Wartawan memenuhi halaman pengadilan, kamera-kamera memburu wajah-wajah yang terlibat. Kasus ini adalah hiburan publik, tontonan paling sensasional tahun itu.
Di ruang sidang, sebuah teknologi baru menjadi ikon modernitas: AI Lie Detector. Mesin itu berbentuk layar bening yang berdiri di samping meja hakim. Kabel-kabel halus menancap pada mikrofon, dan setiap kata saksi langsung ditimbang dalam algoritma yang konon mampu membaca pola suara, perubahan nada, bahkan denyut halus psikologis.
Hakim dan jaksa disuap ayah Naufal. Kesaksian-kesaksian palsu berhamburan. Dan di depan mesin modernitas itu, lengkaplah semua dakwaan dan membuat hakim memvonis Khai berupa hukuman penjara selama lima tahun
Sejak namanya terseret, sebenarnya masyarakat telah memberi hukuman yang lebih kejam: sangsi sosial, moral, dan etika. Tetangga-tetangga mencibir, sahabat menjauh, bahkan keluarganya sendiri membuangnya. Ayahnya yang lurah menunduk di depan masyarakat, malu, hancur, dan pada akhirnya mengusirnya, memutuskan tali darah antara dirinya dengan anaknya.
Dan penjara adalah dunia lain.
Di sana, Khai bukan hanya seorang narapidana. Ia adalah “pemerkosa”, label paling hina yang bisa melekat pada seseorang. Tahanan lain memperlakukannya seperti bangkai yang pantas dipukul, ditendang, dihina. Malam-malam pertamanya dipenuhi darah dan luka.
Namun Khai bukan pemuda rapuh. Ia belajar bela diri sejak kecil. Rasa sakit menjadi guru, dan dalam hitungan bulan, ia belajar bertahan. Tangannya yang dulu halus menjadi keras. Sorot matanya yang dulu teduh berubah dingin.
Tapi lebih dari otot, penjara mengajarinya pikiran.
Di sebuah sudut, Khai bertemu seorang lelaki tua, Arman, bekas hacker yang dituduh membobol data negara. Lelaki itu terbuang seperti dirinya, tapi pikirannya tajam seperti pisau. Dari dialah Khai mengenal rahasia sistem AI Lie Detector—bahwa mesin itu tak benar-benar netral. Ia bisa dibiasakan, dilatih, bahkan dimanipulasi. Algoritmanya dibangun dari data yang tidak sempurna. Sensor suaranya membaca kecemasan, bukan kebenaran. Arman mengajarinya banyak hal, termasuk cara-cara bagaimana menjadi seorang hacker yang handal. Tak cukup sampai di situ, Arman—dengan dada ikhlas dan terbuka—bersedia membongkar kasus suap dan korupsi yang terjadi dalam persidangan.
Di samping itu, Khai melahap buku-buku yang bisa ia temui dan ia dapatkan dari sahabat setianya yang sering mengunjunginya di penjara. Dari Marcus Aurelius, ia belajar keteguhan jiwa. Dari Plato, ia mengenal dunia ide yang lebih besar dari manusia. Dari Machiavelli, ia mencuri seni kekuasaan. Dari Foucault, ia mengerti bagaimana kekuasaan membentuk kebenaran. Dari Sun Tzu, ia belajar bahwa kemenangan bukan di medan perang, melainkan di pikiran musuh. Dari Camus, ia memahami absurditas hidup.
Dari Viktor E. Frankl, ia belajar bahwa penjara tak akan bisa memenjara kebebasannya berpikir. Dari Jung, ia belajar tentang “bayangan diri” (shadow self) yang dengannya ia bisa membayangkan jiwa orang lain. Dari Robert Green, ia mempelajari hukum-hukum praktis yang menentukan. Ia juga membaca buku-buku tentang praktek hukum, hingga membaca dan menghafal ayat-ayat dalam KUHP.
Lima tahun di balik jeruji adalah universitas yang membentuknya menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pemuda. Khai berubah menjadi senjata. Dan ketika hari kebebasan tiba, Khai keluar bukan sebagai korban, melainkan sebagai penjagal yang siap menjalankan misi balas dendamnya.
Dunia luar menyambutnya dengan tatapan jijik. Label “mantan pemerkosa” melekat seperti noda yang tak bisa dicuci. Ia tak bisa melamar kerja, tak bisa kembali kuliah, bahkan sekadar membuat SKCK pun mustahil. Tapi Khai tidak butuh semua itu.
Sementara, Naufal kini sedang berkampanye menjadi walikota. Wajahnya terpampang di baliho-baliho, senyumnya disiarkan di televisi. Inara hidup sebagai single parent, membesarkan anak hasil perkosaan dengan rasa bersalah yang menjerat. Naufal mengaku pada Inara bahwa dialah pelaku sebenarnya, tetapi ia bisa tetap melenggang bebas. Bahkan menikahi seorang gadis cantik berjilbab bernama Nirmala.
Khai menatap dunia itu dengan senyum dingin.
Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia tak akan menebas dengan tangan kekerasan, tapi dengan pisau kekuatan pikiran dan perasaan. Teror psikologi dan intelektual adalah senjata pertarungannya. Ia merebut hati Nirmala, menghancurkan rumah tangga Naufal. Ia mendekati putri kecil Inara, membuat Inara hidup dalam ketakutan dan penyesalan. Ia akan menyeret teman-teman Naufal, satu per satu, hingga mereka memilih penjara daripada berhadapan dengannya. Puncaknya, ia menuntut hukum dan peradilan dan menjadikan dirinya sendiri berdiri di depan hakim-hakim Mahkamah Agung.
Dan akhirnya, ia akan membuka kembali persidangan. Kali ini, bukan untuk dirinya. Melainkan untuk menyeret Naufal ke kursi yang dulu ia duduki.
Inilah dunia “Manipulatif”. Sebuah dunia yang bukan lagi kisah cinta segitiga. Ini adalah perang. Sebuah permainan di mana kebenaran hanyalah ilusi, dan satu-satunya hukum yang berlaku adalah: yang paling pandai memanipulasi, akan bertahan. Manipulatif bukan hanya kisah tentang balas dendam, namun gabungan drama hukum, drama sosial, drama personal, drama politik, dan drama intelektual.
Dan Khai telah menjadi ahli dalam drama permainan itu.
***